An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
Home­FAQ­Calendar­Search­Memberlist­Usergroups­Register­­Log in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Januari 1880

[CENTRAL] musim dingin, dingin moderat

[ASIA] musim dingin, kering, matahari terik

[AMERICA] musim dingin, sedikit salju

[AFRICA] musim dingin, curah hujan tinggi

Acara mendatang:

- Perayaan Tahun Baru

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Latest topics
» Gathering Perdana Black Order HQ
by Fides Shayneward Yesterday at 16:46

» [ASIA] We Met Tonight
by Brian Selvatine 23rd November 2009, 18:20

» Hiatus Notification
by Tek Xiao Ling 23rd November 2009, 17:03

» Free Talk
by Li Lian Jie 23rd November 2009, 13:55

» Theme Song Karakter
by Li Lian Jie 23rd November 2009, 11:25

Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass Esper Society

World of Cantabile

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Don't be shy, affiliate with us!
Post new topic   Reply to topicShare | 
 

 [ASIA] We Met Tonight

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : 1, 2  Next
AuthorMessage
Silverius Girlani



Posts: 82
Umur: 16
Lokasi: Sitting under the blood drenched sky

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: [ASIA] We Met Tonight   5th November 2009, 19:32

Settings:
Time: at night
Place: Infirmary and the corridors nearby
Special Note: Invited Only




Seorang pria muda berjalan terhuyung menyusuri koridor dengan pencahayaan yang cukup buruk. Lelaki itu mengusap keringat dingin dari dahinya yang kembali basah beberapa detik kemudian sambil meraba-raba dinding koridor dan sesekali tersandung namun selalu bisa menguasai dirinya sebelum dia terjatuh. Matanya yang redup terpaku pada sebuah ruangan di ujung koridor dengan tulisan "INFIRMARY" pada pintunya, dan akhirnya tangannya mampu menjangkau gagang pintu itu dan mendorongnya ke dalam.

KRIIITT!

Suara daun pintu yang bergesekan dengan lantai batu yang belum dipoles itu membuat telinga Silverius sakit, tetapi setidaknya dia telah sampai di tempat yang hendak ditujunya dengan selamat. Dan kalau Silverius tidak terlalu lemah untuk berekspresi, mungkin dia sudah tersenyum ramah - untuk ukuran seorang antisosial - kepada dokter setengah baya yang langsung menyambutnya - dan mungkin juga kepada satu-satunya paramedis yang sedang berada di dalam Infirmary. Sebenarnya Silverius juga sedikit heran mengapa hanya ada seorang paramedis yang menemani dokter setengah baya itu, tetapi dia tidak ingin - atau lebih tepatnya tidak bisa - menanyakannya sekarang. Dia butuh diagnosa dan solusi secepatnya dan dengan begitu hal-hal remeh lainnya bisa menunggu.

"Hei, ada apa, Silverius? Siapkan dipan segera!" perintah dokter setengah baya tadi yang disusul oleh peralatan-peralatan yang biasanya digunakannya untuk memeriksa keadaan Silverius. Dan selagi satu-satunya paramedis yang ada sibuk berlari ke sana ke mari untuk mengambil barang-barang tersebut, sang dokter pun mendudukkan Silverius di sebuah bangku lalu meletakkan punggung tangannya pada dahi pria berambut hitam itu.

"Apa yang terjadi? Bukankah kau baik-baik saja beberapa jam yang lalu?" tanya sang dokter.

Silverius tidak merespon - atau lebih tepatnya, tidak bisa merespon dengan baik. Pikirannya berusaha membuka mulutnya untuk berkata, "aku sendiri tidak tahu. Efeknya terlambat. Aku baru mulai kejang-kejang beberapa menit yang lalu," tetapi yang keluar hanyalah celotehan tak bermakna. Untungnya sang dokter telah menangani Silverius sejak tahun 1866, sehingga dia sedikit banyak mengerti apa yang terjadi pada pasien setianya itu.

"Baiklah, coba buka mulutmu," pinta sang dokter sambil menarik rahang bawah Silverius dan menahan lidah Silverius dengan sebuah alat, "sekarang coba bilang, 'aaa...' bisa, kan?"

"Aaa..." Silverius bergumam dan sebuah suara serak basah terdengar dari dalam tenggorokan pria itu. Meskipun begitu sang dokter tampak cukup puas dengan suara itu - yang sebenarnya tidak jauh berbeda dari suara Silverius yang asli - dan menarik kembali penahan lidahnya.

KRIIITT!

Suara decitan pintu kembali terdengar, dan mungkin hanya Silverius yang tidak menoleh untuk melihat siapa yang baru saja membuka pintu - atau mungkin masuk ke dalam - Infirmary...

_________________
"If I forgot the past, will I be forgotten in the future?" Silverius asked.


Benjie's 3rd character - The Dying Space Master


Last edited by Tek Xiao Ling on 5th November 2009, 19:38; edited 2 times in total (Reason for editing : Menambahkan setting. Menambahkan tag cabang.)
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 80
Umur: 19
Lokasi: Dwells in silver coffin

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   5th November 2009, 20:45

Ruangan pribadinya, ruangan yang kosong dan tak terisi apapun kecuali barang-barang vital untuk menunjang kehidupan. Tak ada penerangan, satu-satunya jendela tertutup rapat oleh gorden lusuh berwarna gelap. Lembab dan pengap, seolah tak mengijinkan siapapun untuk dapat bernafas di dalamnya, di udara yang seolah bertekanan lebih besar.

Blanka Ormondi Demetros, seorang wanita berusia 22 tahun. Menatap dirinya yang telanjang di hadapan cermin, rambutnya platinanya berantakan. Tatapannya kosong, seolah jiwa sang pemilik telah pergi dari jasad. Kepalanya tertunduk ke samping sementara tangannya menyusuri kulit pucat yang ia miliki, kulit pucat yang membalut posturnya yang langsing. Kulit yang tipis, yang memperlihatkan jalur peredaran darahnya, tidak terlalu terawang, namun juga tidak bisa disebut normal.

Jemari lentiknya menyusuri bagian abnomennya. Luka-luka sayatan kecil memanjang dari berbagai arah tertoreh disana, terbuka, segar. Ia dapat merasakan syaraf-syaraf tubuhnya mengalirkan impuls-impuls penanda rasa sakit. Tapi ia tidak peduli, ia sudah terlalu lama terbiasa dengan semua rasa sakit itu. Rasa sakit yang menjalar sampai ujung-ujung jari. Yang sensasinya selalu ia butuhkan lagi dan lagi... karena... ia tak pernah hidup tanpa rasa sakit.... dan tak bisa membayangkan dirinya lepas dari semua itu.

Tanpa senyum atau ekspresi apapun Blanka mengangkat belati perak yang berkilat dengan warna merah, merah gelap dan tubuhnya mulai bergetar lagi. Belati imajiner mulai menghunjam ke dasar hatinya, dan ia tak dapat menahannya. Ia tak dapat menahannya kecuali dengan satu hal...

Sayatan.

Cipratan kental merah gelap menempel di permukaan cermin, darah itu akan segera hilang... namun tidak dengan apa yang ia rasakan... tidak.






Kali ini ia berdiri di tempat yang klise, tempat yang selalu dikunjunginya . Infirmary... dan ia kesini bukan tanpa alasan. Blanka membutuhkan pengobatan untuk dirinya sendiri, tanpa pelayanan orang lain. Luka-lukanya telah tersembunyi rapat-rapat di balik seragam Exorcistnya dan terkadang ia dapat merasakan darah merembes keluar dari abnomennya sendiri. Ia membutuhkan kasa sebelum rembesan darah mulai membanjiri tubuhnya.


KRIIITT!


Pintu Infirmary terbuka, wanita berusia 22 tahun itu melenggang dengan tenang ke dalam ruangan. Tatapan lurusnya tertuju pada seorang paramedis.

"A... aku minta kain kas... lagi..." Suara yang begitu pelan terucap dari bibirnya, nyaris tak terdengar, wajahnya pun tak menunjukkan ekspresi yang sepatutnya dimiliki seseorang yang mulai merasakan rasa sakit dari bagian kulit yang terbuka.

"Maaf, Nona?" Seorang paramedis yang tak ia kenal bertanya padanya. Blanka tidak memberikan perubahan nada dan kembali meloloskan kalimatnya dengan volume yang sama seperti barusan.

"Ka... ssa..."

"Maaf, Nona? Kas-sa? Maksud anda kasa - kain kasa?" paramedis itu kembali bertanya.

Tak ada jawaban, ia rasa apa yang ia inginkan sudah cukup jelas. Ia hanya menatap lurus pada sang paramedis –yang sekarang mulai berjalan ke gudang dan menuju ke dokter jaga beberapa detik kemudian. Berbisik-bisik, dan selagi mereka berbisik-bisik rasa perih yang ia rasakan semakin menggila.

"Bagaimana mungkin? Baru saja dua hari yang lalu aku mendapat pesan kalau stok kain kasa telah ditambah " Suara sang dokter terdengar jelas, tampaknya dokter itu tidak sendirian. Pria paruh baya itu memeriksa seseorang. Seseorang yang tak ia kenal dan tak pernah ia ketahui. Maklum, baru genap sebulan wanita berambut platina itu menetap di cabang Asia.

“Maaf, nama anda siapa, ya, Nona?" tanya sang Dokter.

"Dem...tros, Blan...a Ormo...di..."

Suaranya terlampau kecil untuk dapat didengar orang, menimbulkan distorsi, hanya memunculkan beberapa penggal suku kata yang tak terlalu membantu. Namun wanita berkulit pucat itu tak akan mengulanginya dan ia juga tak ingin beramah tamah, ditambah, sekarang bukan saatnya bertindak demikian.

"Mungkin aku boleh tahu mengapa anda sangat membutuhkan kain kasa, Nona?" sang dokter kembali bertanya.

Sungguh apakah mereka ingin Blanka kembali menyayat kulitnya kembali dengan mengungkit-ungkit pertanyaan macam itu? Bisakah mereka menghargai privasi? Bahkan belatinya saja belum cukup kering.

Blanka hanya mendesis pelan, manik ambernya menatap mereka seolah-olah mendesak.

Cepat...”






Ok sy juga main kopi paste dan webe gara mainan baru itu 8DD jadi maaf y klo sy g kreatif bgt malam ini ||ORZ

_________________
-



“...I bleed just to know I'm alive...”
– Blanka Ormondi Demetros –



7th character of Psychephilia™ : The Blood Heiress


Last edited by Blanka Ormondi Demetros on 5th November 2009, 21:23; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Brian Selvatine



Posts: 19
Lokasi: Where do you want me to be? =D?

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   5th November 2009, 21:19

Malam yang pantas baginya untuk istirahat sejenak, bukan?

Brian Selvatine sudah menyelesaikan segala macam tugasnya dalam menjaga infimari, dari pagi hingga sore. Memang sudah menjadi jadwalnya. Namun, untuk kali ini, bau-bau khas infirmari mampu membuatnya terlelap dalam istirahatnya--tepat di belakang meja kerjanya. Meskipun infirmari merupakan area untuk mengbati orang sakit, di sana juga terdapat beberapa meja kerja dari dokter bersangkutan, bukan?

Maka itu, ketika sepasang mata kebiruan memperlihatkan diri setelah tersembunyi beberapa lama dibalik pelupuk mata putih pucat. Hidung mencium sesuatu yang sudah terasa familiar baginya; darah. Telinganya memang tidak menangkap empat decitan pintu yang membuka dan menutup. Telinganya memang tidak dilatih untuk ketajaman, namun hidungnya cukup ampuh untuk membedakan mana ramuan yang pantas dikonsumsi dan mana yang memang berbahaya. Hubungannya dengan darah? Hei, Bria pun juga seorang petugas medis--bagaimana mungkin ia bisa melewatkan bau besi, meskipun sedikit, seperti ini?

Sontak, pria yang masih terduduk pada kursi jaga favoritnya segera berdiri. Ah, biliknya memang cukup kecil--hanya memiliki satu tembok, sementara sisanya dibatasi dengan kain gorden. Karena itu, sang pria segera menempel pada gorden terdekat. Tangan kanan menyingkap sebagian kecil gorden, sementara matanya menelusuri apa yang ada di luar biliknya. Mata biru segera menangkap keberadaan rekan staff bagian medis juga...

...dua exorcist. Hei, salah satu dari mereka tengah didiagnosis lebih lanjut. Bukan bidangnya, jadi ia akan menghampiri dokter yang tengah memeriksa exorcist pria tersebut. Ia lebih ahli dalam peracikan obat daripada diagnosis.

Perhatian mata biru segera melayang ke arah sang exorcist wanita yang tampaknya kelihatan tidak sabaran. Sang dokter yang melayaninya pun tampak... terintimidasi? Salah; bukan kata yang tepat. Sang wanita hanya memberikan penekanan urgensi bahwa ia membutuhkan kassa--secepatnya. Pria ini menghela napas panjang; mengapa beberapa rekan kerjanya harus mempersulit keadaan?

Dengan cepat, pria berambut pirang ini mengambil beberapa gulung kassa dari persediaan infirmari. Baginya, exorcist wanita yang mungkin sepantaran dengannya ini tidak akan mengacau--tidak seperti seorang disciple muda yang tampaknya mencintai kekacauan dengan sepenuh hati. Ah, kembali pada bocah itu lagi...

Tangan kanan menggenggam dua gulung kain kassa medium, melewati beberapa pihak paramedis dan dokter yang tengah menanyakan detil-detil birokrasi whatever-the-heck-it-was. Tangan tersebut segera menyerahkan kain kassa kepada sang wanita. Senyum ramah--hampir menyerupai cengiran--menghiasi wajah sang pemuda. "Ini untukmu nona. Kuharap bisa membantu."

"Selvatine! Kau tahu kalau persediaan barang harus didata secara akurat!" Dokter yang tadinya menanyakan nama dari exorcist wanita ini beserta segala macam detil dan sebagainya. Refleks, tangan kanan entah bagaimana segera menggaruk-garuk bagian kepala--meskipun tidak gatal.

"Yaaaaaaaah... anggap saja itu jatah kain kassaku, kok dibuat sulit?" Brian berdalih untuk mendiamkan dokter sok pembuat ribet. Matanya segera terarah pada sang gadis berambut platina yang... meminta kain kassa tersebut. "Hanya itu saja, nona... umm... Ormondia?"

...

Baiklah, jumlah exorcist yang ada di cabang Asia memang tidak terlalu banyak--bisa dihitung jari, setidaknya. Namun, mengapa Brian Selvatine harus memilih waktu yang sulit untuk salah melafalkan nama seseorang?

_________________
"It won't hurt much, seriously."
"Oh brother, how many times have you said it again? To convince me?"
"But it's true! I mean, well... maybe a little hurt... still..."
"...I am the unluckiest man alive, to have you as my big bro.


'Between Brothers' -- Brian and Vincent

[right]Ravel Kohler's 5th ID -- The Carelessly Lucky Man
Back to top Go down
View user profile
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 80
Umur: 19
Lokasi: Dwells in silver coffin

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   5th November 2009, 21:55

Blanka tidak habis pikir. Apa susahnya memberikan kasa pada dirinya? Dia Exorcist disini dan pengobatan yang layak adalah haknya. Ya pengobatan atas luka apapun, baik yang timbul dalam pergulatannya dengan Akuma, atau karena dirinya sendiri. Yang ia tahu ia membutuhkan kasa, untuk menutupi luka-luka abnomennya, cepat, karena bisa saja Ia melakukan tindakan agresif hanya untuk mendapatkan kain putih tipis itu. Wanita Hungaria itu mungkin tak dapat disebut pendiam –karena ia lebih dari sekadar pendiam, tapi ia bisa benar-benar bertindak demikian kalau ia merasa terancam, entah dengan alasan apa.

"Ini untukmu nona. Kuharap bisa membantu."

Seseorang tersenyum padanya, seorang pria dengan rambut kuning dan senyuman hangat. Tapi apakah Blanka akan melunak dengan senyuman macam itu? Tidak, ia sudah belajar terlalu banyak dan mendapatkan bahwa senyuman tak selalu berarti indah, almarhum suaminya saja selalu tersenyum ramah saat pertama melihatnya lalu kau lihat kan sekarang apa yang terjadi pada Blanka? Bekas luka melintang di pergelangan tangan kirinya sudah menceritakan lebih dari cukup.

Wanita berambut tergerai hingga pinggang itu mengangguk pelan, anggap saja itu sbeagai ucapan terimakasih. Sungguh langka kalimat-kalimat bisa terlepas secara utuh dari bibir wanita itu serta iapun tak akan melakukannya jika tidak dalam keadaan yang mengharuskannya berperilaku demikian, dan masalah kasa ini termasuk di dalamnya. Ia menerima kasa itu dan memegangnya erat, tatapannya tertunduk ke bawah, tak mempedulikan sang dokter yang tampaknya tidak cukup iklas, setidaknya ia lebih tenang sekarang.

"Hanya itu saja, nona... umm... Ormondia?"

Blanka sadar bahwa staff medis itu salah mengucapkan namanya, walaupun demikian ia tidak mempersoalkannya. Bahkan ia tak mempersoalkan apakah pria itu mengetahui namanya. “Ya..” sekelumit kata pendek lolos dari bibirnya. Tidak ada jawaban lain yang perlu diutarakan.

Jadi apa sekarang? Apa ia harus menunggu Dokter atau staff-staff medis mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan? Tidak, ia tak akan membiarkan mereka bertindak demikian. Ia akan keluar sebelum mereka semua bertanya-tanya atau malah nekat menghalangi jalannya.

_________________
-



“...I bleed just to know I'm alive...”
– Blanka Ormondi Demetros –



7th character of Psychephilia™ : The Blood Heiress
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani



Posts: 82
Umur: 16
Lokasi: Sitting under the blood drenched sky

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   5th November 2009, 22:35

Silverius sama sekali bergeming mendengar suara pintu yang memilukan hati itu. Katakan saja dia seorang anti sosial akut, tetapi memang begitulah keadaannya. Baginya sekarang dia membutuhkan diagnosa sang dokter secepatnya, dan mungkin beberapa racikan obat, lalu dia akan kembali ke kamarnya nanti.

"A... aku minta kain kas.. lagi..." Sebuah suara terdengar dari belakang Silverius yang sepertinya tetap tidak terusik mendengar kalimat patah-patah yang masuk ke dalam telinganya. Karena berarti sudah jelas bahwa kemampuan mendengarnya belum kembali normal sepenuhnya, dan mungkin beberapa menit lagi dia akan bisa mendengar dengan normal melihat dia mendengar sebagian dari kalimat yang diutarakan suara itu.

"Maaf, Nona?" Suara lainnya terdengar, kali ini berasal dari satu-satunya paramedis yang terlihat tadi.

"Ka... ssa..." Suara pertama mengulang permintaannya, yang masih belum bisa didengar Silverius dengan jelas.

"Maaf, Nona? Kas-sa? Maksud anda kasa - kain kasa?" si paramedis kembali bertanya, dan kali ini Silverius yakin bahwa pendengarannya sudah pulih. 'Cepat juga,' gumam Silverius sambil memeriksa inderanya yang lain. Matanya sudah bisa melihat dengan jelas dan dia sudah bisa menggerakkan jemarinya dengan leluasa.

Pendapat Silverius tadi diperkuat secara tidak langsung ketika sang dokter bertanya balik kepada si paramedis yang mengatakan kalau stok kain kasa sudah habis dan kemudian menanyakan nama seorang perempuan - yang mungkin merupakan pemilik suara pelan tadi.

"Dem...tros, Blan...a Ormon..di..."

'Nama yang aneh,' timpal Silverius. Baiklah, dia tahu bahwa namanya sendiri tidak umum, tetapi berapa banyak orang yang bernama Demtros Blana Ormon - tunggu dulu! Pendengaran Silverius telah kembali barusan, dan dia masih belum bisa mendengar dengan jelas jawaban perempuan pemilik suara kecil tadi? Sebuah kerutan terbentuk di dahi Silverius, tetapi itu masih belum cukup untuk membuatnya berpaling.

Malahan kedua mata hitam Silverius bergulir mengelilingi ruangan Infirmary dan menangkap sesosok pria berambut pirang yang mengambil beberapa gulung kasa untuk Nona Demtros - atau siapapun namanya - tadi yang langsung mendapatkan hardikan dari sang dokter. Silverius memutar matanya - yang jelas tidak terlalu terlihat karena kelopak matanya yang redup - ketika Selvatine - nama pria berambut pirang itu - merespon dengan santai dan salah melafalkan nama perempuan yang tengah dihadapinya.

'Yang benar itu Ormondi, Selvatine,' gumam Silverius dalam hati. Kedua matanya pun kembali menatap sang dokter yang kelihatannya masih tidak percaya dengan perbuatan Selvatine dan telah melupakan salah satu pasien langganannya.

"Dokter, aku rasa aku sudah baikan," kata Silverius sambil bangkit berdiri dari kursi besi dingin tempat dia didudukkan sebelumnya. Dia menggerakkan jemarinya sekali lagi dan sebuah senyum tipis yang muncul di wajahnya telah mengklarifikasikan keadaannya sekarang. Dia telah kembali prima, tanpa perawatan apapun - yang biasanya sangat jarang terjadi - dan karena tujuannya di sini ruangan ini telah selesai, maka seharusnya Silverius juga meninggalkan ruangan berbau obat ini dan kembali ke kamarnya. Dia harap teman sekamarnya masih tertidur sehingga dia tidak perlu dihujani pertanyaan sok akrab tentang dari mana dia barusan.

Silverius pun membalikkan badannya, dan matanya langsung menangkap sosok wanita berambut pirang putih panjang yang hendak berjalan keluar dengan gulungan kain kasa di tangan.

'Hmm, jadi itu wanita yang bersuara lemah tadi,' gumam Silverius di dalam benaknya, 'tapi apa peduliku? Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, demikian juga denganku,' tambah Silverius lagi sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu. Di dalam benaknya sebuah perintah telah muncul supaya dia cepat-cepat kembali ke kamarnya atau dia akan diinterogasi oleh teman sekamarnya yang terkadang sering ikut campur urusan orang lain. Dan perintah itu menggerakkan otot-otot tubuh Silverius yang telah kembali normal dengan cepat sehingga lelaki itu sampai di pintu Infirmary kurang dari beberapa detik kemudian.

Tangan Silverius yang terbungkus sarung tangan hitam terulur untuk membuka pintu Infirmary yang akan segera mendecit pada tarikan berikutnya, dan tiba-tiba Silverius kehilangan keseimbangannya. Matanya kehilangan fokus selama beberapa saat akan tetapi kakinya segera menjejak ke lantai Infirmary untuk menjaga keseimbangannya.

Anehnya, tidak terdengar suara derap boot yang menghantam lantai batu Infirmary. Tidak juga terasa permukaan batu kasar yang telah akrab ditapaki permukaan kaki Silverius. Bola mata hitam Silverius berputar untuk melihat apa yang baru saja terjadi dan wajahnya mengeras setelah mengetahui apa yang baru saja diinjaknya.

_________________
"If I forgot the past, will I be forgotten in the future?" Silverius asked.


Benjie's 3rd character - The Dying Space Master
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 80
Umur: 19
Lokasi: Dwells in silver coffin

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   5th November 2009, 23:55

Kali ini sesosok pria menampakkan diri, tampaknya Exorcist yang barusan ditangani oleh Dokter itu. Seorang pria yang tentu saja tak ia kenal –yang tampaknya tak peduli juga dengan kehadirannya. Exorcist berambut hitam itu hanya mengoreksi nama tengahnya yang salah diucapkan oleh Selvatine –ia dengar begitu – dan langsung berbalik menuju arah yang sama dengannya, pintu keluar-masuk infirmary.

Pria itu menghalangi jalannya, tak bermaksud begitu mungkin tapi tetap saja punggungnya yang tegap membuat Blanka harus menunda kepergiannya beberapa detik. Sampai tiba-tiba...

Pria di hadapannya ini mulai oleng.

Blanka dapat melihat kalau pria Asia itu kehilangan keseimbangannya dan pastinya posisi wanita Hungaria itu –yang cukup dekat dengan Silver – tak menguntungkan. Sebaiknya ia menghindar beberapa langkah ke belakang, mengantisipasi hal yang terburuk, namun kemampuannya menghindari malapetaka selalu mendekati nol.

Ia dapat merasakan sesuatu menimpa kakinya yang hanya dilindungi oleh sepatu boot kulit dengan model hak. Ya, Silverius Girlani telah menambah daftar kemalangan Blanka Ormondi Demetros dengan sukses. Suara bertubrukan antara boot Silverius dan telapak kaki Blanka tak bisa dibilang pelan, malah begemeletukan dan terdengar sakit.

Bagi Blanka, apa yang dilimpahkan Silverius padanya tidak berarti sama sekali. Tubuhnya terbiasa dengan kemalangan-kemalangan yang lebih luar biasa daripada itu selama hampir 23 tahun.

Manik ambernya lurus menatap sosok pria yang membungkuk di depannya –dengan sepatu boot tebalnya yang masih menempel, ia tak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti ataupun bergerak mundur. Kedua telapak tangannya masih menggenggam kassa putih yang diberikan Selvatine dan kali ini sekelumit kalimat utuh akhirnya terucap.

“.....kau... sakit..” ucapnya pelan, sama sekali tak mengindahkan fakta bahwa seharusnya Silverius-lah yang bertanya demikian padanya. Bola matanya masih menyorot pria bermata gelap itu dengan cara yang sama serta tak menunjukkan reaksi apapun selain menunggu pria tersebut mengangkat sendiri sol bootnya –ia tak bisa berjalan ke luar kalau begitu kan?.

Mungkin memang benar apa yang dilakukan Girlani secara tidak sengaja tak memberikan efek yang berarti, tapi tetap saja wanita itu terkejut –tak terlihat tentunya – mendapati hal demikian. Rasa perih kembali mengalir dari abnomennya... telapak tangannya menyentuh bagian itu, tidak lembab, tapi lukanya kembali terbuka. Kali ini perubahan ekspresi tampak di paras wanita berkulit putih pucat itu, dahinya mengernyit untuk waktu sepersekian detik. Entah Silverius sempat melihatnya atau tidak dan jika pria berparas oriental itu memang melihatnya kemungkinan besar ia akan mengira ekspresi itu sebagai buah dari injakannya barusan.

_________________
-



“...I bleed just to know I'm alive...”
– Blanka Ormondi Demetros –



7th character of Psychephilia™ : The Blood Heiress
Back to top Go down
View user profile
Brian Selvatine



Posts: 19
Lokasi: Where do you want me to be? =D?

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   6th November 2009, 05:53

Sepertinya tidak ada masalah lagi.

Lagipula, dokter yang sempat melayani gadis exorcist tersebut... mengapa pula harus melalui persoalan ribet untuk urusan logistik? Baiklah, itu memang prosedurnya, namun tidak bisakah prosedur tersebut dilakukan setelah pertukaran dilakukan, untuk menghindari hal-hal yang membahayakan? Hei, ketika seseorang meminta kain kassa, berartia ada yang sedang terluka. Apa dokter ini tidak sadar akan logika sepele seperti itu?

Tangan kiri pria berambut pirang ini menggaruk-garuk kepalanya, padahal lokasi yang ia garuk terasa tidak gatal. Mata menunjukkan sorot heran--tidak ada yang bisa menangkap logikanya kah?

Suara kecil yang bahkan sayup-sayup terdengar olehnya sempat menghilangkan senyum ramah yang sempat muncul. Bukan, tidak berarti bahwa Brian Selvatine tidak menjadi seorang bermuka bastard karena tidak mendengar suara tersebut. Alih-alih, senyum ramah tersebut sedikit menipis karena merasa bersalah; dia...merasa bersalah karena tidak bisa mendengar ucapan sang nona. Suara nona Ormondia ini memang terlampau kecil--salahkah dia bila tidak mendengarnya?

"Dokter, aku rasa aku sudah baikan,"

Kepala ingin sekali berpaling untuk menghadap exorcist yang sempat dilayani oleh rekan sesama staff medis. Serius, memangnya tuan tersebut tidak mendapatkan semacam preskripsi obat atau bagaimana? Bahkan sebuah racikan vitamin sekalipun? Orang datang ke ruangan ini ketika mereka memiliki keluhan fisiologis... meskipun memang ada yang melayani keluhan psikologis. Hei, ilmu kedokteran tidak hanya untuk keluhan fisik bukan?

Belum lama, pria tersebut sudah bangkit dari dipan tempatnya diperiksa kemudian beranjak pergi melewatinya dan Blanka. Tampak sang exorcist pria sudah siap menarik gagang pintu kemudian keluar dari tempat berbau obat ini... sebelum yang bersangkutan oleng.

Sebagai seorang staff paramedis yang baik, Brian Selvatine sudah siap untuk menghampirinya dengan cepat. Bagaimanapun juga, exorcist pria tersebut datang dengan (seharusnya) dengan keadaan tidak terlalu fit, dan akan pergi tanpa resep obat... atau setidaknya multivitamin penambah tenaga. Apakah ini salah dokter yang memberikan pelayanan tidak memuaskan? Ah, namun rekan dokter yang tadi pun sudah siap untuk menarik pria bermata kemerahan tersebut kembali ke dipan.

"Astaga tuan, kau bahkan belum mendapat resep dokter atau semacamnya!" Brian mendecak kesal--satu hal yang sebenarnya hampir tidak mungkin dilontarkan seorang happy-go-lucky seperti dirinya. Namun, kalau ada satu hal yang tidak bisa ia toleransi, maka itu adalah ketika pasiennya tergesa-gesa keluar dari infirmari. Bagus kalau ia sudah mendapat saran dari dokter; exorcist yang satu ini belum mendapatkan apapun berbau itu.

“.....kau... sakit..”

Kepala segera berpaling ke arah Blanka. Namun, sebelum matanya menemukan wajah dari sang wanita, ia dapat melihat bagaimana Silverius menginjak kaki sang wanita muda--tak sengaja sepertinya. Boot tersebut seakan menempel pada kaki sang gadis. Sebelum bisa berkomentar lebih lanjut, Brian segera menarik paksa kaki yang telah menginjak nona muda ini, setidaknya sampai kaki sang gadis tidak tertimpa berat kaki dan boot.

"Ini yang terjadi kalau kau tergesa-gesa keluar dari infirmari, tuan." Brian menukas, cepat. "Bisa merepotkan orang lain."

Dahi sempat mengerut... sebelum kembali lurus; senyum ramah kembali menampakkan diri--perubahan mood yang drastis bukan? "Tolong ceritakan keluhan anda dulu. Bagaimanapun juga, seorang dokter--" sebuah lirikan tajam dan singkat pada rekan dokternya, "--tidak boleh meninggalkan pasiennya tanpa rekomendasi obat ataupun langkah-langkah yang perlu dilakukan."


OOC: Webe di paragraf terakhir Neutral *blasted*

_________________
"It won't hurt much, seriously."
"Oh brother, how many times have you said it again? To convince me?"
"But it's true! I mean, well... maybe a little hurt... still..."
"...I am the unluckiest man alive, to have you as my big bro.


'Between Brothers' -- Brian and Vincent

[right]Ravel Kohler's 5th ID -- The Carelessly Lucky Man
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani



Posts: 82
Umur: 16
Lokasi: Sitting under the blood drenched sky

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   6th November 2009, 15:35

Quote:
Astaga, Tuan. Kau bahkan belum mendapat resep dokter atau semacamnya!


Jangan tuduh Silverius tidak mendengar hal itu. Dia mendengar kata-kata Selvatine dengan jelas, tetapi dia sudah tidak membutuhkan resep dokter yang sepertinya terlihat terganggu dengan tingkah Selvatine barusan.

'Aku tidak apa-ap-'

Deg!

Pria itu pun kehilangan keseimbangannya. Untung saja tubuhnya masih bisa merespon dengan cukup cepat untuk menyeimbangkan postur tubuhnya kembali. Akan tetapi alih-alih derap boots yang beradu dengan lantai batu kasar, sebuah bunyi gemeletuk yang menyakitkan terdengar. Kedua mata hitam Silverius mencari tahu apa yang baru saja terjadi, dan wajahnya mengeras begitu dia mengetahui bahwa kakinya menginjak kaki Nona Ormondi.

"...kau... sakit..."

Tidak ada yang bisa berbicara dengan gaya seperti itu selain pemilik kaki yang diinjak Silverius, dan sebelum Silverius sempat bereaksi - bahkan untuk melihat wajah perempuan berambut nyaris putih itu - Selvatine sudah memindahkan kaki Silverius. Cepat tanggap, memang, pria berambut pirang satu ini - tidak seperti sang dokter yang malah terbelit dalam prosedur penggunaan inventaris logistik barusan - tetapi juga cepat berbicara.

"Ini yang terjadi kalau kau tergesa-gesa keluar dari infirmari, Tuan. Bisa merepotkan orang lain."

"Ya, bicaralah sesukamu," balas Silverius tak kalah cepatnya sambil menegakkan badannya, "dan maaf untuk yang tadi," tambah Silverius cepat tanpa memandang Nona Ormondi.

Dengan satu tangan Silverius menarik pintu Infirmary terbuka diikuti oleh suara decitan yang akrab di telinga para staff medis...

KRIIITT!

Silverius menutup satu matanya sejenak ketika suara tadi terdengar, dan mendengus pelan mendengar suara lainnya yang menyusul bunyi decitan tadi.

"Tolong ceritakan keluhan anda dulu. Bagaimanapun juga, seorang dokter tidak boleh meninggalkan pasiennya tanpa rekomendasi obat ataupun langkah-langkah yang perlu dilakukan." Suara Selvatine, tentunya, dan Silverius pun langsung merespon kalimat-kalimat Selvatine barusan.

"Kau ini staff pindahan, ya? Masak kau tidak kenal penyakitku?" Memang respon Silverius cukup ketus, apalagi mengingat Selvatine bertanya dengan sopan, tetapi seperti inilah dia. 'Kalau kau mau tahu mengenai penyakitku, tanyakan saja kepada staff medis dan dokter yang lain!' ujar Silverius di dalam benaknya.

"Periksa saja laporan kesehatanku, Dr. Selvatine. Mungkin kau..." Kalimat Silverius terhenti ketika dia berbalik untuk melihat Selvatine. Bukan, bukan dokter berambut pirang itu yang menghentikan kalimat satu-satunya pria berambut hitam di dalam ruangan itu - tetapi sosok perempuan berambut nyaris putih di hadapannya.

Silverius tidak menyangka bahwa dia ternyata berdiri sangat dekat dengan Nona Ormondi. Pria Jepang itu merasakan sebuah gelombang kejut ketika kedua mata hitamnya bertemu dengan sepasang mata amber yang mungkin sudah menatapnya sedari tadi. Gelombang kejut lainnya muncul dalam bentuk kilatan pada manik hitam Silverius yang kelam ketika dia melihat refleksi kegelapan yang kental pada mata wanita berkulit tipis itu. Dari sudut matanya Silverius bisa melihat tangan Nona Ormondi bergerak menyentuh perutnya dan wajah yang tenang dan tanpa ekspresi itu berjengit sesaat kemudian. Mata Silverius pun meredup kembali saat beberapa pertanyaan muncul mengenai penyebab ekspresi singkat tadi, akan tetapi entah mengapa pikirannya selalu teralih setiap kali dia mencoba menduga jawabannya.

"Perutmu... bermasalah?" Silverius menyerah dan mengutarakan pertanyaan utama dalam benaknya saat itu. Dia tidak bermaksud untuk meniru gaya bicara wanita di hadapannya, tetapi entah mengapa giginya seolah-olah menahan suaranya yang biasa.

_________________
"If I forgot the past, will I be forgotten in the future?" Silverius asked.


Benjie's 3rd character - The Dying Space Master
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 80
Umur: 19
Lokasi: Dwells in silver coffin

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   6th November 2009, 17:56

Manik Obsidian Silverius menatapnya. Penuh dengan keterkejutan, entah apa yang membuatnya begitu terkejut. Blanka tak mengatakan apapun, atau bereaksi terhadap sorot mata yang tertuju ke wajahnya. Jemari lentiknya beralih menyentuh luka di pergelangan tangan kirinya, menyembunyikannya? Entahlah ia sendiri tak mengerti tentang refleknya yang satu itu.

Keterkejutan macam apakah barusan? Bayangan seperti apa yang terrefleksi di iris matanya sehingga pria itu menatapnya sedemikian rupa...? Ataukah ia melihat hal lain?

Seperti refleksi kegelapan dalam dasar hatinya...?


Semua pikiran itu sontak membuat Blanka teringat sesuatu....

'Kau sumber malapetaka!'

Raungan alamarhum ayahnya bergema di benaknya. Pria yang mengantarnya ke dunia hanya untuk memberikan pengetahuan akan kerasnya kehidupan Seorang pria yang hanya bisa berlaku destruktif padanya. Seorang ayah.... yang menukarl anak gadisnya dengan sejumlah harta.

Iris matanya melebar, ia menarik nafas dalam. Genggaman atas telapak tangannya sendiri mengerat. Bersamaan dengan itu ia merasakan perih kembali merambat dari torehan merah melintang di abnomennya.

"Perutmu... bermasalah?" 

Suara itu menariknya kembali ke alam sadar, membuat semua ekspresi kelam di wajahnya memudar secara singkat, kembali ke wajah dingin dan pucat yang selalu tersemat bak topeng. Blanka hanya menatap lurus ke wajah pria itu, namun dengan tekanan yang berbeda. Sekali lagi ia tak mengatakan apapun, ataupun menunjukkan gesture yang mengisyaratkan jawaban.

Pemilik iris amber itu meremas kain kassa di genggamannya. Yang ia rasakan hanya darah yang mulai menyeruak dari pori-pori yang terbuka. Wanita Hungaria itu melewati pintu keluar-masuk dengan licin dan melangkahkan kakinya tanpa mengucap sepatah katapun pada salah seorang dari mereka, bahkan kontak mata pun tidak. Langkahnya terdengar bergema di koridor luar, sedikit tergesa-gesa. Hendak kembali ke ruangan pribadinya dan membereskan semua luka itu sendirian. Yang sekarang –tanpa melihatpun – ia tahu cairan merah kental yang mengucur dari tubuhnya telah membuat kain seragamnya tidak lagi berwarna hitam, titik-titik merah pekat mulai bermunculan....perlahan tapi pasti.

Namun tetap saja, langkah kakinya --dalam pace seperti itu sekalipun-- tak dapat dikatakan cepat.

_________________
-



“...I bleed just to know I'm alive...”
– Blanka Ormondi Demetros –



7th character of Psychephilia™ : The Blood Heiress
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani



Posts: 82
Umur: 16
Lokasi: Sitting under the blood drenched sky

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   6th November 2009, 18:58

Kedua mata Silverius bergerak turun menatap pergerakan kecil yang dibuat oleh Nona Ormondi pada pergelangan tangannya yang terlihat kurus ringkih. Dan ketika Silverius kembali menatap kedua mata amber yang kelam itu, dia bisa mengatakan dengan jelas bahwa ada sesuatu di balik mata Nona Ormondi. Mungkin sebuah jawaban yang hendak melompat keluar tetapi tertahan oleh mulut kecil yang tertutup di dekat hidung wanita berambut nyaris putih itu. Atau mungkin kalimat putus-putus lainnya yang tidak jadi diutarakan karena Silverius mungkin menyindirnya sesaat yang lalu. Apapun itu, Silverius ingin tahu, dan apabila dia bisa mendapatkannya dengan adu mata, maka dia akan melakukannya.

Akan tetapi sepertinya Nona Ormondi tidak berniat menantang pria berambut hitam di hadapannya karena beberapa saat kemudian Nona Ormondi malah melangkahkan kakinya begitu saja tanpa bersuara menuju pintu Infirmary yang sudah dengan "baik hati" dibukakan oleh Silverius barusan. Mata Silverius bergulir mengikuti wanita itu, diikuti oleh lehernya ketika Nona Ormondi telah berjalan keluar wilayah pandangnya, dan akhirnya keluar ruangan Infirmary. Saat ini, Silverius sudah benar-benar menoleh tanpa menggerakkan satu sendi pun pada pinggangnya sehingga - jujur saja - posisinya sekarang bukanlah posisi yang enak. Akan tetapi dia masih belum bisa melepaskan matanya dari punggung wanita itu... sampai wanita itu menghilang dimakan kegelapan koridor.

KRAK!

Leher Silverius bergemeretak ketika dia mengembalikannya ke posisi semula. Silverius menggerakkan lehernya beberapa kali ke kanan dan ke kiri, lalu menghirup nafas dalam-dalam untuk melegakan tenggorokannya yang terasa tercekat beberapa saat yang lalu. Saat itulah Silverius mencium sebuah bau yang sudah tidak asing bagi indera penciumannya yang sering menghabiskan waktu di ruangan Infirmary setelah dia menjalankan misi. Bau darah. Silverius kembali memenuhi paru-parunya dengan udara dan bau yang sama menyerang sensor-sensor penciumannya. Jelas bau ini bukanlah bau yang baik untuk dicium - bahkan di dalam Infirmary. Mata Silverius menjelajahi ruangan dan menemukan jejak darah sangat dekat dengan tempatnya berdiri. Matanya langsung mengikuti jejak ceceran darah itu, yang bergerak keluar ruangan Infirmary. Dan hanya satu orang yang berjalan melewati pintu ruangan ini sejak Silverius membuka pintunya. 'Si nona bersuara lemah,' Silverius menyimpulkan hipotesisnya barusan.

"Si nona bersuara lemah," ulang Silverius, dan ketika dia mengalamatkan wanita berambut nyaris putih tadi dari mulutnya, sebuah pikiran merasuki benaknya.

'Berarti dia berdarah - oleh karena itulah dia meminta kain kasa, bukan? Apakah itu karena perutnya tadi? Atau karena pergelangan tangannya?

'Peduli amat!' Silverius menyahut di dalam benaknya untuk mengusir pertanyaan-pertanyaan yang bergantian menghujam benaknya. 'Dia berdarah - itu yang penting - dan dia yang perlu dibawa kembali ke ruangan ini!' Silverius kembali menyimpulkan. Tudinglah pikirannya yang sederhana dan tidak mau repot, tetapi seperti itulah dia. Dalam kelas-kelas teori, dia tidak pernah mendapatkan nilai yang tinggi, tetapi dia bisa mengungguli kebanyakan Exorcist-exorcist sebayanya dalam masalah kekuatan - bukan ketahanan - fisik.

Masih membisu, Silverius melangkahkan kakinya keluar. Meninggalkan ruangan Infirmary yang terang benderang ke dalam koridor yang remang-remang. Pencahayaan yang buruk ini mungkin membuat Silverius tidak bisa melihat jejak darah yang berceceran dengan jelas, tetapi dia tahu bahwa koridor ini adalah koridor lurus dan jika dia berlari cukup cepat, mungkin dia bisa sampai di akhir koridor ini tak sampai setengah menit.

_________________
"If I forgot the past, will I be forgotten in the future?" Silverius asked.


Benjie's 3rd character - The Dying Space Master
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 80
Umur: 19
Lokasi: Dwells in silver coffin

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   6th November 2009, 22:11

Bagi Blanka sendiri suara napasnya terdengar lebih berat, sekilas mungkin tapi tetap saja tidak biasa, dan rasa perih di kulit abnomennya semakin menjadi-jadi begitu dia melenggang ke luar infirmary.

Tampaknya memang sedikit kelewatan dengan sayatan terakhirnya.

Ia menghentikan langkah. Sorot manik ambernya merunduk, memperhatikan sisi bagian dalam telapak tangannya yang sedari tadi tertempel di perutnya, secercah rembesan merah kental dan segar mewarnai kulit pucat tersebut. Yang tanpa ia sadari darahnya telah menetes di koridor. Tetesan yang tak terlalu besar, namun tetap saja jika yang menetes itu darah siapapun tak akan menganggapnya sepele.

'... bukan saatnya mencemaskan itu...'


Wanita yang paras cantiknya tertutup oleh bayangan kelam itu kembali memfokuskan tatapan lurusnya ke ujung koridor. Ia tahu gerakan yang ceroboh hanya akan membantu lukanya semakin melebar dan begitu juga dengan volume darah yang mengalir. Tapi apa ia punya pilihan lain kecuali pergi secepatnya dari sana?

Sekali lagi Blanka menyeret kakinya untuk melangkah dengan lebih cepat, tak peduli akan rasa perih yang gatal dan menusuk. Satu gerakan ceroboh terjadi, Blanka tersandung oleh telapak kakinya sendiri dan jatuh terjerembab dengan posisi layaknya orang bersujud, salah satu tangannya menahan berat tubuh. Suara erangan terlepas, sementara noda merah pekat mulai meluas dari bagian yang sama, menimbulkan genangan beraroma nyiyir di lantai batu nan dingin itu.

'...harus...cepat kembali...'


Menahan rasa sakit adalah keahlian wanita berusia 22 tahun tersebut. Blanka meremas abnomennya untuk menahan darah yang merembes –tak peduli dengan rasa sakit yang timbul. Di koridor gelap tersebut yang terlihat jelas hanyalah warna platina terang dari rambutnya yang bergelombang.... warna terang yang janggal untuk dimiliki wanita seperti Blanka Ormondi Demetros.

Wanita yang merefleksikan kepedihan dari tiap pori-pori kulitnya.

_________________
-



“...I bleed just to know I'm alive...”
– Blanka Ormondi Demetros –



7th character of Psychephilia™ : The Blood Heiress
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani



Posts: 82
Umur: 16
Lokasi: Sitting under the blood drenched sky

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   7th November 2009, 11:56

Ternyata meskipun panca indera Silverius telah kembali pulih, tetapi staminanya masih merepet di dalam kegelapan benaknya. Dia memang bukan seorang pelari maraton, dan karena itulah dia sedikit bersyukur memiliki Silvery Ouroburos yang bisa membawanya ke mana saja melebihi kecepatan sprinter manapun dalam jarak 20 meter. Tetapi bahkan jika dia membawa sepasang rantai perak itu, dia tidak akan berani menggunakannya sekarang - saat tubuhnya masih memulihkan diri dari efek penggunaan Innocence-nya yang entah bagaimana bisa datang terlambat.

Dan dia masih berlari mengikuti koridor lurus dengan pencahayaan yang buruk ini. Terus terang saja, rasanya seseorang harus melaporkan masalah pencahayaan ini kepada Supervisor cabang Asia. Ya, seseorang, karena Silverius cukup malas untuk melaporkan hal remeh seperti ini, apalagi ketika nafasnya sudah mulai kacau. Sebagai seorang sprinter, kecepatannya tidak berkurang, hanya saja kemampuan melihatnya lah yang mulai meredup dan kepalanya mulai berdenyut kembali. Kekurangan oksigen memang bukan sesuatu yang baik, dan pria berambut hitam itu berharap dia tidak akan kembali kejang-kejang atau pingsan sebelum dia mencapai wanita berambut nyaris putih tadi - siapa namanya? Oh, iya, Nona Ormondi.

Sepertinya harapan Silverius terkabul ketika dia mendengar suara erangan. 'Tidak jauh lagi,' Silverius menyemangati dirinya dan menambah jangkauan langkahnya. Dan tak sampai sepuluh langkah, dia mendengar suara kecipak dari lantai yang diinjaknya. Wajah pria Jepang itu kembali mengeras ketika dia melihat genangan warna merah tua samar di dekat sepatu boots-nya. Dia merasakan perutnya mulai mual ketika aroma amis darah menusuk hidungnya, tetapi dia sadar kalau dia benar-benar dekat dengan sasarannya, wanita berambut nyaris putih itu. Ya, matanya bisa melihat pantulan cahaya remang-remang pada rambut nyaris putih yang sekarang terlihat bercahaya seperti emas putih itu. Dengan perlahan Silverius mendekati sosok berambut gemerlap yang kelihatannya sedang bersujud di lantai, entah apa maksudnya.

"Hei, kau," ujar Silverius tanpa bermaksud menyapa sambil berjalan mendekati Nona Ormondi. Dia bisa merasakan gemerlap kilatan yang terpancar dari mata hitamnya ketika dia sudah berada di sebelah orang yang dikejarnya sekian belas detik yang lalu, dan dengan satu gerakan, dia menyambar pergelangan tangan kiri Nona Ormondi yang tadi disentuh sang Nona ketika mereka berdua beradu mata, yang menurut Silverius adalah tempat semua tetesan darah ini berasal.

Yang terbukti salah ketika Silverius mengamati pergelangan tangan ringkih. Memang dia menemukan sebuah bekas luka melintang, tetapi bekas luka itu sudah tertutup, menyisakan sebuah garis keputihan pada permukaan kulit Nona Ormondi yang tipis. Secercah emosi mewarnai wajah Silverius dalam bentuk kerutan pada dahinya ketika pria Jepang itu menatap wanita berambut nyaris putih itu. Kebingungan melanda Silverius ketika dia tidak menemukan asal tetesan darah tadi. Apakah dia salah orang? Tidak, dia yakin dia tidak salah orang.

"Kau... di mana lukamu?" Suara Silverius terdengar aneh dengan campuran kekhawatiran dan ketidakpeduliannya yang biasa, tetapi dia tidak begitu peduli. Entah mengapa dia merasa perlu mengetahui jawabannya dari mulut mungil wanita yang sedang menjadi pusat fokusnya sekarang. Mungkin pria Jepang itu akan menemukan jawabannya apabila kedua matanya tidak menatap dalam-dalam kepada sepasang mata amber gelap itu.

_________________
"If I forgot the past, will I be forgotten in the future?" Silverius asked.


Benjie's 3rd character - The Dying Space Master
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 80
Umur: 19
Lokasi: Dwells in silver coffin

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   7th November 2009, 15:22

Wanita Hungaria berusia 22 tahun itu terduduk di atas lantai batu yang dingin. Sebelah tangan menekan abnomen, pelupuk matanya mengernyit bersamaan dengan serangan sinyal-sinyal sakit ke sekujur tubuhnya. Ia menghela udara malam dalam-dalam, berusaha mengatur laju napasnya. Entah kenapa sebuah senyuman terulas di bibir pucatnya begitu ia melihat cairan merah gelap membasahi permukaan lantai batu, dan telapak tangannya sendiri. Senyuman yang miris, manik ambernya yang redup menyiratkan campuran emosi yang tak dapat dimengerti. Pedih, sakit, sesal. Perasaan-perasaan macam itulah yang bercampur aduk. Menciptakan manifestasi yang hanya terdapat di sosok wanita ringkih bernama Blanka.

"Hei, kau,"

Blanka terkesiap, dan langsung menoleh ke asal suara. Sosok pria yang tadi telah berdiri tepat di dekatnya dan tampaknya menyadari genangan darah yang menetes dari tubuhnya, menyesali keputusannya untuk berhenti sejenak di koridor gelap tersebut.

Ia masih bisa mentolerir penguntit tapi tidak dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan pria Jepang itu selanjutnya. Menyambar pergelangan tangannya dan memperhatikan torehan putih melintang di sana, penuh rasa ingin tahu serta menatap matanya lekat-lekat.

Sontak iris mata wanita itu melebar, napasnya mulai berpacu lebih cepat.

Blanka benar-benar tak menyukai ini, sangat.

"Kau... di mana lukamu?"

Kali ini ia tak dapat tinggal diam, pria yang bahkan tak ia ketahui namanya itu telah terlalu jauh melangkah ke dalam teritori pribadi Exorcist wanita itu, namun ia tetap tak mengatakan apapun. Blanka menarik pergelangan tangannya, tanpa sengaja menampar punggung tangan Silverius –yang menggenggam pergelangannya erat – dengan cukup kencang. Membuat pola basah berwarna merah tercetak di punggung tangan pria itu serta kembali berusaha menegakkan punggungnya –membelakangi Silverius, perlahan tapi pasti. Gerakan yang sekali lagi membuat syaraf-syarafnya kembali mengirimkan sensasi gatal menyakitkan.

Tangannya yang sedikit bergetar menarik tudung berwarna hitam –bagian dari seragam Exorcistnya, membenamkan visualisasi rambutnya yang berpendar keperakan. Mengisyaratkan kalau sang pemilik innocence berwujud Iron Maiden itu tidak ingin diganggu lebih jauh lagi.

Dengan sebelah tangan tertempel di abnomennya ia mulai berjalan walaupun dengan tertatih, tak mengindahkan keberadaan Silverius di balik punggungnya, juga tak mempedulikan titik-titik merah gelap yang kian melebar. Satu hal yang wanita itu mengerti dengan baik ialah aliran emosinya yang sekarang lebih terasa dibandingkan luka-luka yang ia miliki dan akan berakibat fatal jika dibiarkan atau dipancing meluap.

In case you don't know,

Her passive-aggresiveness can be devastating....






last sentence taken from the song Everything by: Alanis Morisette

_________________
-



“...I bleed just to know I'm alive...”
– Blanka Ormondi Demetros –



7th character of Psychephilia™ : The Blood Heiress
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani



Posts: 82
Umur: 16
Lokasi: Sitting under the blood drenched sky

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   9th November 2009, 19:10

"Kau... di mana lukamu?"

Pertanyaan itu terasa menggema selama beberapa saat di koridor gelap itu sebelum menguap laksana embun yang mencair ditimpa cahaya mentari; entah karena jawaban yang ditunggu tak kunjung tiba, atau karena luapan emosi yang cukup padat yang mengisi atmosfir lembab koridor tersebut.

Dan ketika pertanyaan itu menguap, Silverius dikagetkan oleh sebuah tamparan pada punggung tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Nona Ormondi yang berhiaskan sebuah bekas luka keputihan, seperti bekas usaha bunuh diri. Pemilik pergelangan tangan yang kurus itu memanfaatkan kesempatan itu dan menarik kembali pergelangan tangannya, lalu segera menegakkan tubuhnya dan berbalik membelakangi pria Jepang yang tadi berbuat lancang kepadanya.

Tentu saja Silverius tidak beranggapan demikian. Bahkan seorang Jenderal pun jarang mendapatkan respek dari pria Jepang itu. Baginya itu adalah sebuah tindakan yang cukup wajar mengingat semua yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Pria Jepang itu melihat wanita berambut nyaris putih itu menarik tudung hitam dari seragamnya sehingga rambutnya yang kemilau keperakan itu perlahan-lahan menghilang ditelan kegelapan temporer itu. Ya, temporer, karena Silverius berniat untuk menyibakkan tudung itu dan membalikkan tubuh Nona Ormondi. Tidak bermaksud kasar, tetapi seharusnya seorang wanita yang baik menjawab pertanyaan, kan? Silakan uji kemampuan intrepetasi Silverius, kalau dia mau, tetapi setidaknya jawab saja. Apa salahnya mengatakan, "di sini," atau, "di sana?"

Akan tetapi sepertinya wanita itu memang menjawab - tanpa membuka mulutnya sedikitpun. Jawaban itu tercantum dengan jelas pada noda darah yang tampak pada punggung tangan Silverius yang ditampar Nona Ormondi beberapa detik yang lalu. Mata Silverius mengamati noda darah itu selama beberapa saat, sementara pikirannya memindai memorinya untuk menemukan jawaban yang tidak tersurat itu.

Ketika pikiran pria Jepang berambut hitam itu menemukan jawabannya, tubuhnya langsung bereaksi. Digenggamnya bahu wanita bertudung hitam di hadapannya dengan niat hendak membalikkan tubuh Nona Ormondi. Silverius telah menemukan jawabannya, memang, tetapi pria Jepang itu hendak memastikan apakah dugaannya benar atau salah. Mata hitamnya yang biasanya terlihat redup melebar ketika cahaya remang-remang yang ada menunjukkan sebuah noda yang agak terang pada bagian perut Nona Ormondi. Bagaimana dia tidak ngeri melihat noda sebesar itu? Apalagi ketika sebuah dugaan bahwa luka itu masih terbuka dan mengeluarkan darah!

"Ikut aku ke Infirmari, sekarang!" ujar Silverius dengan nada yang sama anehnya dengan nada bicaranya yang sebelumnya. Memerintah, tetapi terdengar sedikit menggelikan dengan campuran kelembutan dan rasa cemas. Tetapi pria Jepang itu tidak memedulikan hal itu sekarang, yang penting adalah seorang Exorcist terluka - cukup parah - di hadapannya, dan itu berarti Exorcist itu perlu dibawa ke Infirmari.

'Oh, apakah dia berpikir dia bisa mengobati lukanya sendiri... hanya dengan kain kasa?!' Silverius meludah di dalam benaknya.

Dan tanpa basa-basi lagi, Silverius menarik tangan wanita itu, yang entah mengapa mulai terasa dingin di kulit Silverius yang sepertinya sudah pulih total. Pria Jepang itu berharap Nona Ormondi tidak akan melawannya kali ini, atau mungkin dia akan mengambil langkah drastis.



Spoiler:
 

_________________
"If I forgot the past, will I be forgotten in the future?" Silverius asked.


Benjie's 3rd character - The Dying Space Master
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 80
Umur: 19
Lokasi: Dwells in silver coffin

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   10th November 2009, 01:58

Seharusnya wanita Hungaria itu sudah bisa pergi dari koridor lembab itu secepatnya. Ya, jika saja dia tidak merasakan sentuhan pada bahunya yang membuatnya terpaksa menoleh. Sentuhan itupun memiliki intensitas yang cukup untuk membuat siapapun berbalik. Dan siapa lagi yang dapat menyentuhnya disana selain pria yang sama.

Blanka mengerutkan alisnya, ditangkapnya iris mata pria itu tidak menatap langsung ke wajahnya seperti tadi, gerakan matanya liar, tampak mencari-cari sesuatu dan berhenti dengan tatapan janggal saat Silverius melihat bagian yang mengalir dan merembes merah.

Ok, sudah cukup usaha mencari taunya. Sekarang kau sudah mengetahui muara semua genangan di lantai jadi tolong lepaskan dia...

Atau sebaliknya,

"Ikut aku ke Infirmari, sekarang!"

Sebuah tarikan di tangan terasa, tampaknya pria asing itu benar-benar akan menyeret Blanka ke ruangan barusan. Bagi Blanka tindakan itu adalah tindakan agresif yang tak ia perlukan, tindakan yang membuat dirinya merasa terancam. Manik amber miliknya yang mengilat melebar menatap Silverius , bibir wanita itupun terbuka tipis. Ia mendesis pada Silverius sebuah kalimat utuh akhirnya lolos.

“Ka-kau, hentikan...!” dua kata barusan keluar dengan nada suara yang lebih keras daripada yang terdengar di infimary -- beserta penakanan pada suku kata terakhir. Ekspresi Blanka pun mengeras, menatap sosok pria di depannya dengan geram. Blanka menggigit bibir bawahnya sendiri.

Ikut ke infirmary? Yang benar saja Silverius kau pikir kau sedang berbicara pada siapa? Pada wanita yang akan berkata iya begitu saja dan pasrah? Tidak, kamu salah, setidaknya Blanka Ormondi Demetros yang sekarang tidak akan menurut seperti sapi yang dicolok hidungnya.

Blanka tidak mau bergeming. Ia berusaha menarik lengannya, dengan lengan satunya masih menyentuh abnomen. Dan jika itu belum cukup sekarang pun ia berontak, menarik dirinya ke arah yang berlawanan. Kuku jemari Blanka yang lentik menancap dan menggores tangan Silverius secara tidak sengaja, meninggalkan jejak berbentuk lengkung sabit berwarna kemerahan.





Spoiler:
 

_________________
-



“...I bleed just to know I'm alive...”
– Blanka Ormondi Demetros –



7th character of Psychephilia™ : The Blood Heiress
Back to top Go down
View user profile
 

[ASIA] We Met Tonight

View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 2Goto page : 1, 2  Next

Permissions of this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Branches :: Asian Branch-
Post new topic   Reply to topic