| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Januari 1880 |
| | | [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) | |
| |
| Author | Message |
|---|
Shreizag E. Halverson Vatican Central

Posts: 497
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 29
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 1st October 2009, 22:45 | |
| Sementara menunggu sang pendeta yang diyakininya palsu, dan yang juga ia yakini sebagai muridnya keluar, ia mendapatkan laporan dari gadis Exorcist berambut pirang tadi.
"Nama saya Allegra Růžena Mlynarikova, disciple dari General Karlsen. Seperti yang anda lihat memang terjadi kekacauan kecil disini, General Halverson. Namun, saya dapat menjelaskannya. Jadi setelah melakukan pengakuan dosa di bilik itu, eh apa saya bilang cara pendeta menanggapi pengakuan dosa saya agak gila? Dan... Pria bernama Avedisian itu masuk ke dalam. Saya tetap berada di kapel sambil duduk di kursi deret ini dan hampir tertidur. Tetapi saya dikejutkan oleh suara ribut, dan begitu saya tersadar ada suara yang menyebut-nyebut dirinya sebagai Tuhan dan melaksanakan penghukuman dengan sekali lagi mengatas namakan Tuhan, dia menarik A-Avedisian yang malang ke langit-langit kapel saat itulah saya mulai geram dan mengaktifkan innocence saya untuk menjangkau Avedisian, mencoba melakukan pertolongan. Dan pemilik suara itu adalah exorcist yang innocencenya sekarang anda sita..."
Baik, penjelasan yang cukup jelas, dan Shrei akhirnya tahu identitas gadis itu tanpa perlu kontak dengannya langsung. Pria Norwegia itu menyimpan fakta yang dikemukakan Allegra dalam benaknya, ia tinggal melakukan cross-check dengan cerita versi Abisak nanti. Dan sesuai dengan dugannya... Kalau Exorcist dengan Innocence berbentuk jubah itu juga bertanggung jawab atas kekacauan ini. Itu saja sudah cukup untuk memasukkan Exorcist muda itu ke dalam list 'orang-yang-patut-dihukum' miliknya. Bisa-bisanya mereka bermain-main dalam kapel?
Penantiannya tidak berlangsung lama, anak yang ditunggunya akhirnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan sosok yang ia cari sejak tadi, namun, dengan air muka yang jauh berbeda.
"Kenapa kau bisa tahu kalau itu dia?"
Karena selama 5 tahun bersamamu, aku sudah cukup mengenal seluk-beluk sikapmu.
"Kami hanya bermain, bukan Shu yang salah telah mengobrak-abrik tempat ini. Oke, aku menyerah... silakan tangkap."
Pria Norwegia ini menghela nafas kecil, kemudian melangkahkan kakinya untuk meraih tangan anak didiknya itu, "Aku tidak mempermasalahkan kerusakan; tapi perbuatan yang telah kau lakukan." katanya pelan, layaknya seorang guru yang sedang menasehati muridnya, "Вы понимаете? *" tanyanya dalam bahasa yang paling dimengerti anak itu, memberikan penekanan dalam kalimatnya.
Kini tangan anak itu telah ada dalam genggamannya, ia menariknya keluar dari bilik pengakuan dosa; memperlihatkan sosok pendeta palsu yang menjadi pangkal dari permasalahan ini.
Shreizag menatap orang-orang di depannya satu persatu, memerhatikan ekspresi wajah masing-masing. Sebagian besar, menunjukkan ketidakpercayaan; wajar karena ternyata sang biang masalah masih bocah kecil. "Aku minta maaf atas kelakuan muridku." ujarnya pendek, namun serius. "... Akan kuberikan hukuman yang pantas." lanjutnya, dengan suara yang sangat pelan, nyaris tidak terdengar.
Ia menolehkan kepalanya pada Abisak, korban dengan nasib sial--ralat, selalu sial--hari ini. "Avedisian, aku mau minta tolong." mulanya, dengan raut wajah lebih serius, "Tolong kau bawakan satu baskom air hangat, dua kain lap bersih... dan beberapa meter tali tambang." titahnya pada pria keturunan Armenia itu. "... Dan kau," ia beralih pada Benjamin, "... Ikuti aku." akhirnya, sambil berjalan keluar dari kapel menuju taman yang ada di luarnya. Fyodor yang sejak tadi tangannya dipegangi oleh Shrei hanya bisa mengikutinya dari belakang, begitu juga dengan Timcanpi yang masih mengigit Innocence milik Benjamin, ikut terbang keluar. Memangnya apa yang akan Jendral ini lakukan di taman? Oh, lihat saja nanti.
* = Kau mengerti? _________________ "l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour First. The Silver Ice |
|  | | Abisak Avedisian

Posts: 49
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 25
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 6th October 2009, 20:27 | |
| Baiklah; hanya satu momen yang lalu, ia merasa begitu tercerahkan, beban yang dipikulnya akibat emosi yang tak jelas pun telah diangkat dari punggungnya, dan seandainya ia tidak masih memiliki akal sehat mungkin ia sudah melompat dengan riang saat mengeluari ruang pengakuan dosa, tetapi... ... hanya satu momen berikutnya, ia sudah terangkat oleh tangan entah-berantah ke atas udara. Wajahnya mulai bersemu ungu karena kesulitan bernapas. "Aaaaaakhhh--""Kau harus menjaga mulutmu baik-baik, Janitor, kalau kau tidak ingin bertambah sial"Bertambah sial? Memangnya ia bisa lebih sial dari ini? Puji syukur. Gila; itu satu-satunya kata yang dapat mendeskripsikan situasi yang dialaminya. Bukankah tadi ia sudah menerima siraman rohani dari pendeta itu? Mengapa tiba-tiba muncul makhluk aneh ini? Ya, bukan saatnya untuk berkontemplasi, karena yang ia butuhkan saat itu adalah oksigen. Ia pun digoyangkan ke kanan dan kiri oleh tangan misterius itu. Abisak mengutuk dirinya yang masih sadarkan diri juga; untuk kasus seperti ini, tampaknya lebih mudah jika ia pingsan saja. WHUUUUSH. Tiba-tiba, suatu bola berduri raksasa melewatinya. Hampir saja ia terkena oleh besi padat itu. Abisak melakukan hal yang akan dilakukan pria normal manapun. "AAAAAAAAAAAAAAARGHHH!!!" Ia tidak tahu mana yang lebih baik, mati kekurangan oksigen akibat cekikan tangan itu, atau mati dihantam morning star gadis bulu yang tadi. "Turunkan pria malang itu!" "N-Nona, tolong jangan ayunkan benda berbahaya itu..." gumamnya pelan, walau ia tidak memiliki pilihan pada saat itu. Sebenarnya, yang ingin diucapkannya adalah: 'Nona, kau gila?! Kau mau membunuhku atau menyelamatkanku? Jatuh dari ketinggian ini tidak setara dengan digigit semut, lho.' Ack! Hanya dalam beberapa saat, dirinya sudah dililit erat rantai besi Innocence gadis itu. Bagus, sekarang bukan hanya lehernya, tetapi badannya juga yang terbelengu. "Hentikanlah itu wahai anakku! Apalah yang sedang kalian perbuat di rumah Tuhan ini?!"Ah! Satu-satunya orang waras di kapel selain dirinya, pendeta yang berjaga! "Bapak, selamatkan saya--" Ia ingin mengucapkan itu, namun kata-katanya sulit dikeluarkan dari tenggorokannya, terutama karena Allegra mempererat rantai yang melilit badannya. Ia melihat sosok berbaju hitam dengan rambut serba putih di bawah, seorang jendral. Mata hazelnya membelalak begitu mengenal sosok di bawah. Jendral Halverson bukan tipe orang yang menoleransi kekacauan, mungkin ia bisa selamat dari kematian hari ini. Benar saja, lelaki Norwegia itu menegur baik Allegra maupun sumber tangan itu, yang merupakan seorang Exorcist juga. Perlahan, kakinya kembali berpijak di atas tanah. "Fiuhh...""Avedisian, tolong jaga dia agar tidak ke mana-mana. Kau juga harus menjelaskan semua ini nanti.""Er, baik," responnya singkat, sembari ia mengusap-usap lehernya yang kini sudah bebas bernapas. Pengalaman tadi bukan sesuatu yang ingin diulanginya. Namun, yang lebih mengejutkan hingga membuatnya melongo adalah yang terjadi berikutnya. "Shu, panggilnya pelan, "Kau ada di situ? Keluarlah."Muncullah sosok asli dari pendeta yang kata-katanya begitu dipercayainya, Nikolai Mikhailov; atau, Fyodor Mikhailov, atau--ah, Abisak tidak begitu mengerti. Allegra mulai memberikan penjelasan panjang tentang insiden kacau tadi dan sang jenderal mulai menegur muridnya, namun Abisak tidak begitu memperhatikan, kata-kata bijak Nikolai masih terngiang di kepalanya. Sampah yang diucapkan seorang bocah, dan ia mempercayai tiap kata... "... Bodoh.""Aku minta maaf atas kelakuan muridku... Akan kuberikan hukuman yang pantas."Abisak tersadar dari renungannya oleh permintaan maaf Shreizag, mewakili sang murid. "Ah, tidak. Ini semua, mungkin... suatu kesalahpahaman. Hanya sewajarnya bagi anak-anak untuk bermain-main." 'Bermain-main dengan perasaan orang, termasuk...' pikirnya miris, namun ia hanya memberikan suatu senyum simpul pada pria Norwegia di hadapannya. Yang diucapkan Shreizag berikutnya tidak terduga. "Tolong kau bawakan satu baskom air hangat, dua kain lap bersih... dan beberapa meter tali tambang."Pria berambut coklat itu mengangkat alis. Yang diminta jendral tersebut bukan hal yang sulit didapatkan dari gudang Black Order, terutama atas permintaan seorang jendral. Sepintas, terlintas keinginan menanyakan 'Untuk apa?', namun kali ini, Abisak memutuskan untuk membungkam mulutnya. Ia yakin benda-benda itu akan ada hubungannya dengan 'hukuman' tadi. "Segera, Jendral."[Abisak OUT sementara] |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 91
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 1st November 2009, 22:13 | |
| Ah oke akhirnya Allegra bisa melihat wajah dari pendeta tak waras barusan, jadi seperti apa sih orangnya? Pasti gendut, botak dan ompong atau malah mungkin bau badan pendeta itu tak sedap? Ewh. Oh, Tuhan maafkanlah putri kedua Tuan Drahomir tersebut...General berambut putih itu merunduk menghampiri bilik pengakuan dos a –yang setengah hancur – dan memanggil seseorang di dalam. Dalam hatinya tentu saja Allegra membayangkan sosok yang kebapak-bapakan dan berumur namun ternyata, tubuh kecil Nikolai – anak yang diketahuinya adalah disciple dari si Halverson . Dalam hitungan detik telapak tangan Allegra mengatup di kedua pipinya yang kemerahan, sedangkan bibirnya sendiri –yang biasanya tertutup dengan baik – melengkung, membentuk huruf 'O' yang bulat dan besar. “Ti-tidak mungkin...” gadis Praha itu terkesiap, manik birunya menatap Nikolai dengan rasa tidak percaya sebelum kemudian beralih secara perlahan ke General Halverson. "Aku minta maaf atas kelakuan muridku.... Akan kuberikan hukuman yang pantas." Allegra menghentakkan kakinya, tangannya mengepal. Bibirnya merengut, jelas-jelas kesal dan tak terima bahwa ia ternyata berbicara kepada orang yang lebih buruk daripada sekedar pendeta yang hilang akal. Ya, orang yang menolak tawaran murah hatinya seolah-olah... dia menawarkan mayat!. Manik biru milik Allegra mendarat tepat ke wajah Shreizag, menggeram murka. Terserah deh dia mau dibilang tak sopan atau bagaimana tapi yang mencari keributan pertama bukan dia kan? Yang jelas gadis dengan umur di awal 20 itu berharap Shreizag benar-benar menghukum sikap Nikolai yang sangat tidak patut untuk dilakukan oleh seorang exorcist, apalagi dicontoh. Gadis dengan postur badan semampai itu melengos kesal dan melirik ke seorang pria lainnya yang terkekeh sedari tadi, terus terang saja Allegra tidak menyukai nada tertawanya yang seperti mencibir. Ia mendelik padanya sambil berkacak pinggang. "Ada yang lucu heh?" bibirnya merengut, tak mempedulikan Abisak yang keluar atas perintah Halverson. _________________  ▬ Allegra Růžena Mlynarikova▬ 3rd char of Psychephilia™ : The Uptown Girl |
|  | | | | [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) | |
|
| Page 3 of 3 | Goto page : 1, 2, 3 |
| | Permissions of this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|