An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
Home­FAQ­Calendar­Search­Memberlist­Usergroups­Register­­Log in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Januari 1880

[CENTRAL] musim dingin, dingin moderat

[ASIA] musim dingin, kering, matahari terik

[AMERICA] musim dingin, sedikit salju

[AFRICA] musim dingin, curah hujan tinggi

Acara mendatang:

- Perayaan Tahun Baru

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Latest topics
» Hiatus Notification
by Tek Xiao Ling Today at 17:03

» Gathering Perdana Black Order HQ
by Tek Xiao Ling Today at 14:41

» Free Talk
by Li Lian Jie Today at 13:55

» Theme Song Karakter
by Li Lian Jie Today at 11:25

» Afiliasi Forum
by Li Lian Jie Yesterday at 12:00

Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass Esper Society

World of Cantabile

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Don't be shy, affiliate with us!
Post new topic   Reply to topicShare | 
 

 [AU] Firstly First

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2
AuthorMessage
Audric Knight



Posts: 2

Biodata
Posisi:
Cabang: Asia
Umur: 18

PostSubject: Re: [AU] Firstly First   5th November 2009, 21:28

Audric menguap lebar sambil merebahkan badannya di kursi Kafetaria yang masih kosong pada jam itu. "Benar-benar membosankan.." Ucap Audric yang menggigit pena dengan tatapan ke arah langit-langit. "Mungkin menarik kalau tokoh utamanya ku buat sengsara sampai akhir cerita..." Keheningan kemudian menguasai tempat itu. Hanya ada Audric dan suara-suara kecil lainnya(yang entah apa itu) disana.


"Haha.." Audric bangun dan membuka buku di atas meja Kafetaria melanjutkan menulis sesuatu.


Tap Tap Tap


"!!!"

Audric terkejut mendengar adanya suara langkah kaki lewat tengah malam ditempat seperti ini. Refleks Audric langsung menutup bukunya dan bersembunyi ke bawah meja panjang Kafetaria sembari menunggu suara langkah kaki itu menjauh. Audric kemudian mendengar suara langkah kaki itu semakin mengecil dan mengecil. Meski sudah tidak mendengar apa-apa lagi, Audric tidak keluar dari bawah meja dan malah melanjutkan kegiatannya di bawah situ.


Sret,Sret,Sret


Dikarenakan senyapnya malam, suara torehan pena Audric-pun jadi terdengar jelas. "Ketika sendirian di Mansion Ravpire, Lheo mengendap-endap..." Batin Audric melanjutkan menulis cerita dengan asyik. "Dan saat melangkah Lheo tidak menyadari bahwa Ravpire mengikuti dibelakangnya...". Semakin asyik Audric menulis semakin tampak mimik tegang diwajahnya, padahal dia sendiri yang menciptakan cerita itu benar-benar orang yang aneh,haha.


"Lalu Lheo merasa bulu kuduknya berdiri... Perlahan ia menoleh kebelakang dan..." Tanpa Audric sadari kalau ada secercah cahaya yang berasal dari sampingnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya seorang staff dengan rambut acak dan wajah pucat seperti mayat berjongkok di samping Audric. Tampaknya salah satu staff lembur yang sedang cari angin.



Karena merasa ada yang menyapa Audric terkejut dan langsung menoleh.

"RAVPIRE!!"

Teriak Audric kencang membuat malam itu tidak sunyi seperti sebelumnya lagi.
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller



Posts: 11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AU] Firstly First   8th November 2009, 19:20

Mata biru menatap lurus pintu kayu.

Vanya Muller, putri dari seorang pengurus sampah, berdiri di depan pintu kamarnya sendiri. Sudah tiga tahun ia dididik menjadi seorang Finder yang dapat diandalkan dan mampu menjadi motor dalam pencarian Innocence. Tidak, tugas mereka bukanlah mengalahkan akuma; dia memiliki peran kecil dalam perang yang sudah berlangsung ribuan tahun lamanya, sama dengan mereka yang berniat menjadi Finder. Peran mereka mungkin kecil, namun penting.

Tangan kanan sang gadis menenteng tas yang berisi baju dan perlengkapan mandi. Di samping kiri, beberapa kardus berisi buku cerita, lembaran teka-teki kata-kata, dan seperangkat peralatan teh miliknya tertata rapi. Tangan kirinya mengepal; kulit bersentuhan dengan kunci besi dari ruangan yang ada di depannya.

"...Ah, hari pertama di sini." Gadis berambut hitam ini hanya berujar pelan. Gugup; suatu hal yang wajar bagi seorang yang mungkin akan diberi tugas keesokan harinya. Kesialan? Tidak, ia melakukan ini karena memang mau, Apa yang sial dari semua itu?

Tangn kiri sang gadis memasukkan kunci, langsung ke dalam lubang kunci yang tampak agak usang. Mungkinkah kunci ini masih bisa berfungsi? Bagaimanapun juga, lubang kunci tersebut tampaknya sudah berkarat. Meski dengan tampak luar demikian, tangan gadis ini tetap memutar kepala kunci... dan berhasil. Sebuah bunyi 'klik' kecil dapat terdengar, sementara Vanya mendorong pintu tersebut--terbuka, menampilkan kamarnya yang baru.

...

Baiklah, mungkin bukan kamarnya semata.

Ruangan kosong yang ada di hadapannya seakan merindukan banyak hal. Mungkin pemilik awal dari kamar ini cukup malas untuk mendekorasi ruangan... atau memang Hakizi Mana sudah memberikan mandat pada bagian kebersihan untuk mengembalikan bentuk kamar seperti semula. Yang pasti, ruangan yang ada di depannya ini tampak sepi akan dekorasi.

Gadis ini tersenyum sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan. Tangan kirinya tidak lupa menggeret sebuah tas yang lebih kecil--tas yang berisi identitas dari kamarnya.

"Baiklaaaah! Saatnya bekerja!"

Saatnya mendekor ruang tempatnya beristirahat.

_________________
"Have the thought of me ever crossed your mind?"
"No. Never."
"...Why?"
"You never crossed my mind, Vanya. You're just simply there, inside my heart."



"Tagelied; dawn has came" --- Between Vanya and Leon


Ravel Kohler's 6th ID, The Overshadowed Chaser
Back to top Go down
View user profile
Louis Eastwood



Posts: 14
Umur: 20

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 16

PostSubject: Re: [AU] Firstly First   9th November 2009, 19:15

Salju putih bertebaran di mana-mana. Tebalnya membuat setiap langkah kaki melesak ke dalamnya. Ke manapun mata memandang, yang terlihat hanyalah warna putih seperti hamparan kapas yang dingin. Tak hanya di jalanan, salju juga menyelimuti atap dan beberapa bagian gereja tua St. Antony yang bersebelahan bangunan dengan panti asuhan. Pohon-pohon cemara tua sedang dipelihara dengan baik untuk kelak dihias dalam Hari Natal yang semakin dekat.

Dinginnya udara yang dihirup seolah mencengkeram paru-paru. Lalu dalam tiap hembusan nafas, tercipta kepulan asap putih yang hangat. Lou merapatkan mantel kulit beruangnya dan menghangatkan kedua tangannya ke dalam sakunya. Ia melirik kesal pada Golem hitam yang terus mengepakkan sayapnya tanpa peduli bahwa ia membuat udara semakin terasa dingin di tengkuk Lou. Sepatu botnya terbenam di dalam salju sampai di atas mata kakinya, membuatnya tak bisa berjalan cepat-cepat. Dengan Raphael's Requiem seberat 7 kg di punggungnya, rasanya seperti berjalan di tengah kubangan lumpur saja. Dia mengangkat pandangannya ke arah anak-anak panti yang berlari berkejaran sambil tertawa riang beberapa meter di depannya. Tersenyum sambil menghembuskan nafas panjang, Lou diam-diam iri pada kelincahan dan ketangkasan mereka.

Berusaha melupakan kertas-kertas laporan yang tertunda di kamarnya, Lou melihat seorang anak perempuan terjatuh ketika berusaha mengejar teman-temannya. Tak ada yang menoleh ke belakang. Mereka semua terlalu sibuk bermain lempar-leparan salju, sementara si anak perempuan mulai menangis di tengah usahanya berdiri.

Lou berjalan mendekatinya dan menariknya berdiri sambil kemudian dia berjongkok di depannya dan menyapanya dengan senyuman ramah, “Kau tidak apa-apa?”

Anak perempuan itu mengerutkan mukanya, berusaha keras tidak menangis. Wajah manisnya seketika merona merah. Dia bukannya bisu, tapi rasa sakit dan perih di lutut kanannya seakan menyumbat kerongkongannya.

“Coba lihat,” Lou menemukan sayatan agak parah di lutut kanan anak itu yang sedikit mengeluarkan darah. “Heee, hebat, ya, kamu tidak menangis!” Lou berseru takjub pada anak itu sambil menurunkan Innocence-nya dari punggungnya.

Anak perempuan itu merona merah. Lalu ia nyengir lebar membalas rasa takjub Lou padanya yang sebenarnya hanya sebuah hal yang remeh.

Lou mencabut sapu tangan dari saku kemejanya, lalu membebat lutut anak itu dengan lembut penuh kasih sayang. Kemudian dia menepuk kepala anak itu, memberinya sedikit usapan, seraya nyengir dan berkata, “Nah, sekarang sudah beres. Temui Suster Rossie untuk minta obat darinya, ya?” Dia menambahkan ketika Golem-nya memberi isyarat telah diterimanya sebuah pesan.

Anak perempuan itu mengangguk kuat-kuat. Dia berlari kembali ke panti asuhan setelah melambai pada Lou sambil berteriak, “Makasih, Kakak!”

Lou berdiri dan tersenyum sambil membalas lambaian tangan itu, lalu berpaling pada si Golem. “Apa?”

“Ada panggilan. Anda diminta bersiap-siap untuk misi. Segera!” begitu kata si Golem.

“Oke!” Lou memberi hormat pada Golem itu, lalu berjalan pulang ke Black Order dengan penuh semangat. Mungkin karena terlalu semangat, ia sampai lupa kalau ia sedang berjalan di atas salju sambil memikul beban Innocence di punggungnya. Ia menyandung gundukan salju kecil yang ia buat dengan langkah kakinya sendiri dan jatuh terjerembab dengan hidung menghantam tanah bersalju. Berat Innocence di punggungnya semakin membenamkannya. Seluruh tubuhnya dengan sendirinya segera terlumuri oleh salju, bahkan ketika ia bangun.

Tak dinyana, seorang anggota staf BO berani mengomentarinya melalui Golem yang menyertai Lou itu, “Haih, benar-benar masih bocah. Makanya punya Innocence jangan berat-berat begitu. Lihat, kau jadi tidak bisa tumbuh...”

“BERISIK! TIDAK USAH PROTES!” amuk Lou, melemparkan segenggam salju ke arahnya yang membuat si Golem bereaksi menghindar secara otomatis.


Last edited by Louis Eastwood on 11th November 2009, 18:16; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile http://inyourheart.playblogger.com/index.htm?mod=profile
Philander Granville



Posts: 7

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 26 y.o.

PostSubject: Re: [AU] Firstly First   9th November 2009, 19:54

Matanya menatap menara gelap di depannya, sebuah pemandangan abstrak yang membuat senyumnya merekah, menipis, lalu menghilang, digantikan kemantapan sinar matanya. Ia akan menjadi bagian dalam organisasi itu dan tidak pernah terpisah dari Magna yang mendahuluinya tahun lalu. Mungkin bukan sebagai Exorcist seperti Carol, tetapi asal ada gadis yang dicintainya itu, menjadi tukang pel pun dia tidak masalah

Así que esto es?” katanya dalam bahasa Spanyol kepada Carol—yang memang asli warga kelahiran Venezuela—dan ditanggapi dengan sebuah anggukan kecil gadis itu. Ia tidak membawa apapun selain apa yang melekat pada tubuhnya sekarang. Bagaimanapun, statusnya sekarang adalah ‘pelayan yang kabur dari rumah majikannya’; entah bagaimana keadaan kediaman Aspinella sekarang. Tapi ia tidak peduli, karena yang ada di pikirannya hanya Magna.

Senyum kecil mengembang, menatap Carol yang sekarang memerah—mungkin karena malu, “Muchas gracias por la me,” tambahnya yang dibalas dengan senyum. Entah apa ia akan diterima jika ia mempromosikan kemampuan berbahasanya.

Phil melipat tangannya di depan dada, memandangi menara itu dengan bingung sementara sepatunya mengetuk-ngetuk tanah dengan berirama. “Hei,” katanya, “A dónde iremos a través?




(OOC:
Así que esto es?: There it is?
Muchas gracias por la me: Thank you for showing me
A dónde iremos a través?: Where will we go through?)
Back to top Go down
View user profile
 

[AU] Firstly First

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 2Goto page : Previous  1, 2

Permissions of this forum:You can reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Noncanon Roleplay-
Post new topic   Reply to topic