Salju putih bertebaran di mana-mana. Tebalnya membuat setiap langkah kaki melesak ke dalamnya. Ke manapun mata memandang, yang terlihat hanyalah warna putih seperti hamparan kapas yang dingin. Tak hanya di jalanan, salju juga menyelimuti atap dan beberapa bagian gereja tua St. Antony yang bersebelahan bangunan dengan panti asuhan. Pohon-pohon cemara tua sedang dipelihara dengan baik untuk kelak dihias dalam Hari Natal yang semakin dekat.
Dinginnya udara yang dihirup seolah mencengkeram paru-paru. Lalu dalam tiap hembusan nafas, tercipta kepulan asap putih yang hangat. Lou merapatkan mantel kulit beruangnya dan menghangatkan kedua tangannya ke dalam sakunya. Ia melirik kesal pada Golem hitam yang terus mengepakkan sayapnya tanpa peduli bahwa ia membuat udara semakin terasa dingin di tengkuk Lou. Sepatu botnya terbenam di dalam salju sampai di atas mata kakinya, membuatnya tak bisa berjalan cepat-cepat. Dengan Raphael's Requiem seberat 7 kg di punggungnya, rasanya seperti berjalan di tengah kubangan lumpur saja. Dia mengangkat pandangannya ke arah anak-anak panti yang berlari berkejaran sambil tertawa riang beberapa meter di depannya. Tersenyum sambil menghembuskan nafas panjang, Lou diam-diam iri pada kelincahan dan ketangkasan mereka.
Berusaha melupakan kertas-kertas laporan yang tertunda di kamarnya, Lou melihat seorang anak perempuan terjatuh ketika berusaha mengejar teman-temannya. Tak ada yang menoleh ke belakang. Mereka semua terlalu sibuk bermain lempar-leparan salju, sementara si anak perempuan mulai menangis di tengah usahanya berdiri.
Lou berjalan mendekatinya dan menariknya berdiri sambil kemudian dia berjongkok di depannya dan menyapanya dengan senyuman ramah, “Kau tidak apa-apa?”
Anak perempuan itu mengerutkan mukanya, berusaha keras tidak menangis. Wajah manisnya seketika merona merah. Dia bukannya bisu, tapi rasa sakit dan perih di lutut kanannya seakan menyumbat kerongkongannya.
“Coba lihat,” Lou menemukan sayatan agak parah di lutut kanan anak itu yang sedikit mengeluarkan darah. “Heee, hebat, ya, kamu tidak menangis!” Lou berseru takjub pada anak itu sambil menurunkan Innocence-nya dari punggungnya.
Anak perempuan itu merona merah. Lalu ia nyengir lebar membalas rasa takjub Lou padanya yang sebenarnya hanya sebuah hal yang remeh.
Lou mencabut sapu tangan dari saku kemejanya, lalu membebat lutut anak itu dengan lembut penuh kasih sayang. Kemudian dia menepuk kepala anak itu, memberinya sedikit usapan, seraya nyengir dan berkata, “Nah, sekarang sudah beres. Temui Suster Rossie untuk minta obat darinya, ya?” Dia menambahkan ketika Golem-nya memberi isyarat telah diterimanya sebuah pesan.
Anak perempuan itu mengangguk kuat-kuat. Dia berlari kembali ke panti asuhan setelah melambai pada Lou sambil berteriak, “Makasih, Kakak!”
Lou berdiri dan tersenyum sambil membalas lambaian tangan itu, lalu berpaling pada si Golem. “Apa?”
“Ada panggilan. Anda diminta bersiap-siap untuk misi. Segera!” begitu kata si Golem.
“Oke!” Lou memberi hormat pada Golem itu, lalu berjalan pulang ke Black Order dengan penuh semangat. Mungkin karena terlalu semangat, ia sampai lupa kalau ia sedang berjalan di atas salju sambil memikul beban Innocence di punggungnya. Ia menyandung gundukan salju kecil yang ia buat dengan langkah kakinya sendiri dan jatuh terjerembab dengan hidung menghantam tanah bersalju. Berat Innocence di punggungnya semakin membenamkannya. Seluruh tubuhnya dengan sendirinya segera terlumuri oleh salju, bahkan ketika ia bangun.
Tak dinyana, seorang anggota staf BO berani mengomentarinya melalui Golem yang menyertai Lou itu, “Haih, benar-benar masih bocah. Makanya punya Innocence jangan berat-berat begitu. Lihat, kau jadi tidak bisa tumbuh...”
“BERISIK! TIDAK USAH PROTES!” amuk Lou, melemparkan segenggam salju ke arahnya yang membuat si Golem bereaksi menghindar secara otomatis.