An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [ONE-SHOT] Brionglóid

Go down 
AuthorMessage
Líadan Ní Súilleabháin

avatar

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

PostSubject: [ONE-SHOT] Brionglóid   21st August 2009, 09:14

Note : credits untuk Shrei n Shu untuk karakter Shreizag E. Halverson dan Nikolai Mikhailov (meski mereka nggak ngomong juga, dan kemunculannya juga nggak begitu banyak OTL *dihajar).

Cerita ini terjadinya nggak jelas kapan, tapi yang pasti setelah Lia diterima di Black Order dan sudah menjadi Disciple dari Shrei.

Terjemahan :
Brionglóid : Mimpi
Athair : Ayah
Mathair : Ibu



Brionglóid

Kalau ada hari di mana Lía pernah menunjukkan luapan perasaannya, itu adalah hari di mana ibunya meninggal. Air matanya seolah tidak pernah berhenti saat ibunya dibawa pergi untuk dikuburkan dengan bantuan beberapa mantan pelanggan tetap toko roti miliknya. Dan kalau ada hari di mana Lía mulai berhenti berekspresi, itu adalah sehari setelah hari kematian ibunya.

Sejak hari itu, Lía berhenti menangis, tetapi ia juga berhenti tertawa. Ia berhenti mengekspresikan perasaannya, seolah tidak ada lagi yang harus diekspresikan. Ia berubah menjadi seperti boneka, seperti Bábóg Liath peninggalan kedua orang tuanya yang selalu dipeluknya dengan erat. Lía seolah telah kehilangan jiwanya di hari ibunya meninggal.

---

Entah sudah malam keberapa Lía menghabiskan harinya di Black Order Headquarter. Perasaan Lía tentang tempat itu masih sama, sebuah tempat yang dianggapnya asing dan tidak menyenangkan. Satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan di sana adalah karena Masternya, Shreizag E. Halverson, juga berada di sana. Shreizag bukan hanya penyelamat nyawanya, tapi juga orang yang dianggapnya ‘ayah’ yang tidak pernah dimilikinya.

Tapi Shreizag bukan athair-ku yang asli… Bagaimanapun, aku hanyalah penipu bagi diriku sendiri…

Lía masih tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana ia telah menipu dirinya sendiri, berusaha menghibur dirinya sendiri untuk mencari ayahnya yang entah masih hidup atau sudah mati. Ia menghibur dirinya sendiri, agar ia bisa terus bertahan hidup, dan tidak berusaha mengakhiri nyawanya sendiri karena kesedihan dan kesepian yang begitu mendalam.

Lía berusaha memejamkan matanya, berusaha menghilangkan semua pikiran buruk yang menghantui dirinya. Bagaimanapun ia butuh istirahat setelah seharian berlatih dan berpikir. Namun tetap saja, bayangan samar tentang ayah kandungnya terus terbayang di benak gadis itu.

---

Saat Lía membuka matanya, yang dilihatnya adalah langit-langit kamarnya di rumahnya di Irlandia dulu. Ia mengerjapkan matanya pelan, lalu menoleh untuk melihat di mana ia sebenarnya. Saat matanya menelusuri tempat di mana ia berada, ia menemukan bahwa ia benar-benar berada di rumahnya di Irlandia. Tak salah lagi, karena wangi roti khas buatan ibunya menguar sampai kamarnya, seperti dulu.

Lía kembali mengerjap pelan, lalu bangun sambil meregangkan tubuhnya. Dilihatnya Bábóg Liath yang dibaringkannya di sebelah bantalnya, lalu diangkatnya boneka itu dan dipeluknya erat sambil berjalan ke arah pintu, lalu membukanya perlahan. Saat pintu kamarnya dibuka, wangi roti yang baru saja selesai dipanggang menguar makin kuat. Sebuah senandung kecil pun terdengar, sebuah lagu yang selalu disenandungkan oleh ibunya saat sedang membuat roti.

Lía berjalan keluar dari kamarnya, menuju dapur dengan wajah yang masih sangat mengantuk. Setibanya ia di dapur, ia menemukan ibunya sedang sibuk di depan oven, dan… seorang pria berambut pirang pucat seperti dirinya dengan mata biru cemerlang seperti mata kancing Bábóg Liath sedang duduk sambil menyeruput teh di meja makan. Lía hanya menatapnya bingung, karena ia tidak mengenali siapa pria itu.

Namun tampaknya pria tersebut menyadari kehadiran Lía, karena ia berhenti minum teh dan menatap ke arah gadis itu sambil tersenyum lebar, lalu berdiri dari kursinya. Pria itu berjalan ke arah Lía, lalu mengusap-usap kepalanya lembut.

“Líadan White, putriku yang manis. Apa kabarmu pagi ini?” sapa pria tersebut sambil tersenyum lembut pada Lía. Lía merasa kaget luar biasa. Pria tak dikenalnya ini memanggilnya ‘putriku’, mengimplikasikan bahwa ia adalah ayah dari Lía.

“William, jangan buat putri kita kaget begitu. Setelah lama pergi, kamu baru pulang hari ini, ‘kan? Kasihan Lía, mungkin ia sudah agak lupa dengan wajahmu,” timpal Dáirine sambil melemparkan senyum ke arah Lía sekilas, di sela-sela kesibukannya memanggang roti.

Lía menatap pria di hadapannya ini lekat-lekat. Rambutnya pirang pucat seperti Lía. Matanya biru cerah seperti Bábóg Liath. Wajahnya tampak sudah sangat tua, mungkin 30 tahun lebih tua daripada Lía. Tetapi senyumnya begitu hangat dan menentramkan hati.

“Athair…?” panggil Lía ragu. William tersenyum semakin lebar pada Lía, dan Lía merasakan kebahagiaan meluap di dadanya. Begitu menyesakkan, sampai air mata Lía mengalir begitu saja. William tampak terkejut melihat Lía yang mendadak menangis begitu.

“Waduh, Lía? Kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanya William panik. Lía menggeleng pelan sambil terus menangis, lalu memeluk William erat.

“Lía rindu…” bisik Lía di sela-sela tangisnya. William terdiam, lalu ia mengangkat tangannya untuk memeluk putri satu-satunya itu. Dáirine pun berhenti dari pekerjaannya untuk bergabung dengan keduanya.

“Mulai sekarang, kita akan terus tinggal bersama-sama. Kami tidak akan pernah meninggalkanmu, Lía,” bisik William lembut di telinganya.

Namun begitu ia mendengar kalimat itu, entah mengapa ia teringat pada sosok dua orang yang selama ini selalu bersamanya. Sesosok pria berambut putih dengan mata biru cemerlang, Shreizag E. Halverson, dan sesosok anak lelaki berambut putih dengan mata abu-abu, Nikolai Mikhailov, melintas di pikirannya. Lía segera melepaskan pelukannya, lalu mundur perlahan. Dilihatnya Dáirine dan William tampak terkejut dan sedih melihat reaksi Lía, yang seolah menolak keduanya.

“Ada apa, Lía?” tanya Dáirine lembut. Lía menggelengkan kepalanya pelan, sambil memeluk Bábóg Liath semakin erat.

“Lía harus kembali ke Shreizag dan Nikolai. Mereka butuh Lía. Lía tidak bisa pergi meninggalkan mereka begitu saja, karena keduanya adalah keluarga Lía yang baru, setelah…” Lía terdiam, tertegun karena ia teringat pada kenyataan yang sebenarnya. Tetapi ia melanjutkan dengan tegas, “Setelah athair menghilang dan mathair meninggal.”

Suasana lalu berubah gelap. Di sebelah William dan Dáirine, muncul Shreizag dan Nikolai. Keduanya tidak mengatakan apa-apa, tapi kedua sosok itu tampak jauh lebih nyata dibandingkan William dan Dáirine, yang menunjukkan ekspresi sedih dan kecewa.

“Maafkan Lía, athair, mathair… Lía tidak akan pernah melupakan athair dan mathair,” kata Lía lagi sambil tersenyum lembut, lalu berlari ke arah Shreizag dan Nikolai.

---

Saat Lía membuka matanya, kali ini ia melihat langit-langit kamarnya di Black Order. Ia memandang situasi sekelilingnya, dan menemukan bahwa ia memang masih berada di Black Order. Lía lalu bangun sambil meregangkan tubuhnya, lalu menatap Bábóg Liath yang dibaringkannya di sebelah bantalnya. Kali ini, semuanya terasa jauh lebih nyata. Lía lalu menyentuh pipinya, hanya untuk menemukan bahwa ia pun baru saja menangis di dunia nyata.

“Tadi itu… mimpi…” bisik Lía pelan. Ia berusaha kembali mengingat wajah kedua orang tuanya, tapi ia tidak lagi bisa mengingatnya sejelas ia melihatnya di dalam mimpi.

“Hanya mimpi…” bisik Lía lagi. Tak lama, ia mendengar suara nyanyian aneh, yang tak lain pasti dinyanyikan oleh Nikolai. Lía segera menghapus air matanya dengan lengan gaun tidurnya, mengambil Bábóg Liath, lalu berjalan keluar dari kamarnya.

“Nikolai…” panggilnya datar. Tapi sebelum Lía sempat melemparinya, Nikolai sudah keburu lari sekuat tenaga sambil berteriak keras-keras.

Dan tanpa ada seorangpun yang melihat, Lía tersenyum tipis.

Inilah kenyataan. Aku punya Nikolai sebagai ‘adik’-ku, dan Shreizag sebagai ‘ayah’-ku. Aku tidak butuh mimpi.
Back to top Go down
View user profile
Abisak Avedisian

avatar

Posts : 77
Pemilik : Chief
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Brionglóid   21st August 2009, 16:51

Ceritanya so sweet~~~ Embarassed Lalu, moralnya juga bagus; kadang, tidak baik kalau terlalu bermimpi hingga melepaskan apa yang sudah ada di genggaman... Bagus, cuma rasanya pendek banget. Dan mungkin karena ceritanya juga dari sudut pandangnya Lia, kesannya agak kaku. Mungkin bakal lebih menyentuh kalau ditambahin benda macam flashback atau apalah yang memicu emosi orang... (???)

Ditunggu karya berikutnya lho~ :x
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Brionglóid   21st August 2009, 18:41

Quote :
Bagus, cuma rasanya pendek banget.
Kalo segitu dibilang pendek, yang panjang gimana? Laughing *dilempar tomat busuk*

Kisah tentang Lia sementara ini aja... Karakter yang lainnya juga masih nyusul, mau ngerjain ceritanya Bianca dulu :x sama mau ngerancang cerita Xiao Ling - Dai Fong versi AU Laughing
Back to top Go down
View user profile
Lim Jeong Hu

avatar

Posts : 172
Pemilik : Cairy
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 33 tahun

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Brionglóid   21st August 2009, 22:46

*usep air mata ala Nikolai*

LIAAA~! Ternyata Lia itu sosok kakak juga ya, walau suka lempar-lempar boneka sembarangan *dilempar lagi*

uhuhu ceritanya keren, jadi ingin bikin cerita Nikolai juga, dipikir-pikir kan dia anak ilang juga --a

_________________
Credits : pastelgraffity@LJ



Back to top Go down
View user profile http://cairy.deviantart.com
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
avatar

Posts : 580
Umur : 26
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Brionglóid   23rd August 2009, 00:09

Putriku~~~ *peluk-peluk*

Ahh, ya, ceritanya memang mengharukan. Bagus! Cuma, seperti yang dikatakan Chief, kurang puas soalnya kurang panjang Laughing *digetok* Barangkali bisa ditambahkan lagi deskripsi mengenai perasaannya Lia, agar tidak terasa kaku atau begimana... :-?

Jadi ingin mengembalikan senyum di wajah Lia...

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Sponsored content




PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Brionglóid   

Back to top Go down
 
[ONE-SHOT] Brionglóid
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Vexen *The Guy Who Gets Shot By An AirSoft Gun And Makes A Big Deal About It*
» Gazzy X Nudge One-shot
» Trick Shot Gun Magic done W.I.P.
» Work In Progress Oneshot (RATED M, to warn)
» dual 15 shot revolver type flintlocks

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Non-Roleplay :: Exhibition Room :: Literature Exhibit-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com