An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [ONE-SHOT] Mothú

Go down 
AuthorMessage
Líadan Ní Súilleabháin

avatar

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

PostSubject: [ONE-SHOT] Mothú   14th September 2009, 18:22

Note : Ini semacam kelanjutan dari 'Merry Christmas' dan 'Difríocht'. Ditulis dengan sisa-sisa efek lagu 'Si Volvieras A Mi'. Untuk rating, saya bingung ini R-15 ato R-18 ' 'a (kalo ternyata R-18, jangan langsung ban saya, bu Chief *sujud sembah* nanti biar langsung saya delete aja fic nya...). Harap hati2 membacanya, soalnya 'adegan' nya saya taroh di agak awal...

Credits to Sacchii (Shrei) n bu Chief (Giraile)


Mothú

Tanggal 28 Desember 1879, pagi hari…

Ruang staff diplomatik masih agak lengang karena sebagian anggotanya masih banyak yang mengambil cuti sampai tahun baru. Tetapi seperti biasa, Leon masih duduk di balik meja kerjanya, menerjemahkan beberapa surat yang ditulis dalam bahasa yang hanya bisa dibaca oleh staff diplomatik dan si penulis surat itu sendiri.

Lia berjalan perlahan mendekati meja kerja pria itu dengan langkah yang sangat pelan, hampir tak bersuara. Leon sendiri, jika tidak disapa langsung oleh gadis itu, tidak akan pernah sadar kalau ia ada di ruangan tersebut. Dan seperti biasa, Leon menjawab sapaan datar Lia dengan sebuah senyuman lebar, yang terbaik yang dimilikinya.

“Temui aku di kamarku nanti malam.” Hanya itu kalimat yang dibisikkan Lia sebelum gadis itu kembali berjalan keluar dari ruangan tersebut. Leon bahkan tidak sempat bertanya ada urusan apa Lia memanggilnya seperti itu. Tetapi firasatnya mengatakan bahwa ada baiknya ia tidak datang, setelah apa yang sempat terjadi beberapa malam sebelumnya.

Namun meski firasatnya menahannya untuk pergi, ia tetap pergi ke kamar gadis Irlandia itu malam harinya. Baginya tidak sulit untuk menemukan kamar Lia, karena ia sudah beberapa kali mengunjungi kamar gadis itu. Tetapi khusus malam itu, ia merasa berada di depan pintu yang salah, meski ia tahu bahwa itu adalah pintu kamar Lia.

Ia mengetuk pintunya pelan, namun tidak ada jawaban. Leon menunggu, namun tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia mencoba untuk membuka pintu tersebut, yang ternyata tidak dikunci. Leon akhirnya membuka pintu itu perlahan, lalu masuk ke dalam kamar tersebut tanpa bersuara.

Suasana kamar itu lain dari biasanya. Semuanya tampak gelap, tanpa ada cahaya. Ia juga tidak bisa merasakan tanda-tanda kehidupan, sampai akhirnya sepasang tangan mungil menutup matanya. Sebelum ia bahkan sempat berteriak kaget, si pemilik tangan itu sudah menyuruhnya diam. Dari suaranya, Leon tahu bahwa orang itu Lia.

“Tutup matamu sampai kuperbolehkan untuk membukanya, dan jangan berani mengintip…” bisik Lia pelan di telinganya, dengan nada yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Tetapi Leon tidak berani bertanya apapun, dan hanya menuruti apa yang dikatakan gadis itu. Ia dapat merasakan tangan Lia turun dari matanya, tapi gadis itu masih belum menyuruhnya untuk membuka mata, jadi ia tetap menutup matanya.

Dirasakannya tangan gadis itu meraih tangannya, lalu menariknya, mengajaknya menuju suatu tempat. “Berbaliklah, tapi jangan buka dulu matamu,” bisinya lagi. Leon menuruti perintahnya dan berbalik, dengan mata masih terpejam. Ia lalu bisa merasakan sebuah dorongan pelan di dadanya, menyuruhnya untuk duduk. Ia lalu duduk, dan ia bisa langsung tahu bahwa ia sedang duduk di tepi tempat tidur gadis itu.

Apa yang sebenarnya ia inginkan?!

Sebelum Leon sempat menanyakan apa yang ada di pikirannya, ia bisa merasakan bahwa kancing kemejanya sedang dibuka satu per satu. Leon baru saja membuka mulutnya untuk protes, tapi Lia sudah menyentuhkan jarinya ke bibir pria itu, menyuruhnya diam tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.

“Jangan buka matamu dan jangan melawan…” bisik Lia lagi. Leon hanya bisa mematung. Jantungnya berdetak kencang memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi, termasuk kemungkinan yang paling tidak diinginkannya untuk terjadi.

Setelah Leon merasakan bahwa kemejanya sudah ditarik lepas dari dirinya, Lia memperbolehkannya untuk membuka matanya. Dan jantungnya serasa melompat keluar dari dadanya saat ia melihat keadaan Lia yang berada di hadapannya, yang duduk di pangkuannya sambil menatap langsung ke matanya dengan tatapan yang begitu… dingin dan kosong.

“Lia, kamu—“

“Kamu menginginkanku, bukan… Leon?” desah gadis itu. Tangannya yang mungil menelusuri leher pria di hadapannya itu, lalu terus ke kedua bahunya, dan akhirnya ke kedua tangannya. Ia mengangkat kedua tangan pria itu, yang masih terpaku menatapnya, lalu menyentuhkan kedua tangan itu ke pipinya. Ia lalu menggerakkan kedua tangan itu, seperti sedang bermain boneka. Ia membiarkan kedua tangan itu menelusuri pipinya, lalu turun ke lehernya… dan terus turun ke dadanya.

Leon merasa tidak hanya jantungnya yang berdetak lebih cepat. Ia juga merasakan nafasnya menjadi lebih berat, seolah tidak ada cukup oksigen untuknya di ruangan itu. Matanya secara otomatis mengikuti ke mana tangannya yang dituntun oleh Lia, sementara ia sendiri masih tetap membatu, terlalu terkejut akan semua yang terjadi. Ia dapat merasakan kelembutan kulit Lia saat gadis itu menuntun tangannya menelusuri tubuhnya sendiri.

Lia lalu melepaskan salah satu tangannya dari tangan Leon, lalu membelai pipi Leon lembut. Matanya terus menatap mata Leon, membuat pria itu akhirnya mengangkat pandangannya dan menatap balik ke mata gadis itu. Dan saat ia menatap kedua matanya itu, Leon kembali kehilangan akal sehatnya, sama seperti beberapa malam sebelumnya.

Salah satu tangannya berpindah ke pinggang gadis itu, sementara yang satunya lagi ke belakang bahunya. Lia sendiri kini melingkarkan kedua tangannya di leher Leon, lalu mendekatkan dirinya ke arah pria tersebut. Ia dapat merasakan nafasnya, yang begitu keras dan berat.

Lia menutup kedua matanya pelan, untuk merasakan sensasi yang hampir tidak diingatnya dari malam sebelumnya. Dan ketika ia merasakannya, ia merasa seperti meleleh dalam dekapan kakak sepupunya itu. Ia membiarkan tangannya menelusuri punggung Leon, seperti Leon menelusuri punggungnya juga. Ia mendekap pria tersebut lebih erat, seperti pria itu mendekapnya lebih erat. Ia dapat merasakan kerasnya detak jantungnya dan detak jantung pasangannya, serta panas tubuh dan keringat yang mengalir di tubuh mereka.

“…Lia, kita bisa hentikan ini…” desah Leon pada akhirnya, sambil mendorong Lia agak menjauh dari dirinya. Meski ia sempat terbawa suasana, tapi ia berhasil mengumpulkan kembali seluruh kesadarannya. Tapi Lia seolah tidak ingin mendengarkan apapun yang ingin dikatakan oleh pria itu, dan langsung membungkamnya dengan sebuah ciuman. Tetapi sekali lagi, Leon mendorongnya.

“Lia, pikirkan lagi baik-baik… Apakah kamu benar-benar menginginkan ini?” tanya Leon lagi, dengan nada terlembut yang pernah didengar Lia. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu, sampai dahi dan ujung hidung keduanya bertemu. Leon dapat merasakan nafas Lia di wajahnya, seperti Lia bisa merasakan nafas Leon di wajahnya.

“Aku menginginkanmu, Leon…” bisiknya pelan pada pria itu. Dan dengan satu jawaban itu, Leon mendorong Lia ke tempat tidurnya, lalu mulai mencicipi seluruh tubuh gadis itu. Sesekali, waktu Leon menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif, Lia akan mengeluh dan mendesah, membuat Leon semakin bergairah dan ingin membuat Lia terus mengeluarkan suara seperti itu.

Tapi saat Leon menyentuh pipi Lia untuk kembali mengecup gadis itu, ia dapat merasakan air mata mengalir perlahan di pipinya. Nafas gadis itu terdengar sangat berat, seolah baru saja berlari mengelilingi markas selama seharian penuh. Air mata bergulir pelan di pipinya, yang berkilau bagaikan permata di bawah cahaya yang remang.

“Lia… aku sudah keterlaluan, ya?” bisik Leon pelan di telinga gadis itu. Dapat dirasakannya gadis itu menggeleng keras, lalu mengangkat kedua tangannya dan melingkarkannya di pundak pria itu.

“Te… teruskan saja… Aku tidak apa-apa… Hanya terasa agak sesak… Mungkin karena baru pertama…” bisik Lia dengan nafas yang agak terputus-putus. Tapi Leon justru menarik tangan Lia perlahan, melepaskan pelukan gadis itu. Ia lalu mengambil kemejanya yang terjatuh di lantai dan memakainya untuk menutupi tubuh Lia.

“Rasanya sesak bukan karena ini yang pertama. Rasanya sesak karena aku bukan General Halverson, bukan?” tanya Leon sambil tersenyum pahit. Tatapan Lia berubah kosong, bagaikan boneka porselain yang siap pecah kapanpun juga. Leon turun dari tempat tidur itu, lalu berjalan ke arah kamar mandi. “Pinjam kamar mandimu sebentar…” gumamnya sambil menutup pintu kamar mandi di belakangnya.

Rasanya sesak karena aku bukan General Halverson, bukan?

Kata-kata pria itu seolah menusuk langsung jantungnya. Ia tidak lagi mengerti apa yang dipikirkannya ataupun apa yang diinginkannya. Semuanya terasa begitu samar. Ia sendiri akhirnya tidak mengerti, apakah yang dilakukannya tadi adalah sesuatu yang benar-benar diinginkannya, atau hanyalah suatu pelampiasan atas apa yang sebenarnya diinginkannya.

Rasanya sesak karena aku bukan General Halverson, bukan?

Bayangan pria Norwegia itu terlintas di pikirannya. Seorang dengan ekspresi yang begitu kaku, dengan tatapan yang sedingin es, dan sikapnya yang cenderung anti-sosial… seseorang yang entah bagaimana bisa membuat hatinya tersayat-sayat hanya dengan berdiri di dekatnya saja. Tapi Lia tidak mengerti, dan menolak untuk mengerti, perasaan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya itu.

Tepat saat ia merasa bingung, Leon keluar dari kamar mandi. Ia sepertinya baru saja mencuci mukanya dan mengguyur kepalanya dengan air dingin untuk mengembalikan kewarasannya. Lia hanya menatap kosong ke arah pria itu, dengan kemejanya masih dipeluk erat-erat. Leon lalu berjalan ke arah tempat tidur, dan duduk di tepinya, di sebelah Lia.

“Aku tidak mengerti…” gumam Lia pelan. Tanpa harus menjelaskan lebih lanjut apa yang sebenarnya ingin dikatakannya, Leon sudah mengerti apa yang Lia maksud. Ia hanya menghela nafas pelan, lalu menepuk kepala gadis itu pelan.

“Dadamu terasa sesak, dan kamu rasanya ingin terus menangis. Jantungmu serasa ditusuk-tusuk setiap kali menatap General Halverson, apalagi kalau ia sedang bersama wanita lain. Lalu kamu mencari aku, menggodaku, mencari pelampiasan padaku, tapi kamu justru merasa semakin sakit… Aku benar?” tanya Leon. Lia hanya mengangguk pelan sebagai balasannya.

“Itu artinya kamu mencintai General Halverson,” kata Leon, tegas dan serius. Lia hanya bisa terdiam mendengarnya. Matanya membelalak, dan otaknya serasa tidak mampu mencerna apa yang baru saja dikatakan pria itu.

“Yang kamu inginkan untuk mendekapmu, menciummu, memilikimu seutuhnya bukanlah aku, tapi General Halverson. Akui sajalah,” kata Leon lagi. Ia lalu berdiri dari tempat tidur, lalu memungut selimut yang juga terjatuh ke lantai. Ia menariknya menutupi tubuh Lia, lalu mengambil kembali kemejanya dengan selembut mungkin.

“Aku kembali ke kamarku dulu. Sebaiknya kamu mandi untuk menyegarkan pikiranmu,” kata pria itu sebelum akhirnya ia keluar dari kamar gadis itu. Sementara itu, Lia hanya terus terdiam, dan terus terjaga sampai matahari terbit.

Setelah semalaman tidak tidur, akhirnya Lia memutuskan untuk mandi, seperti yang disarankan Leon. Saat ia membilas tubuhnya, ia bisa melihat bekas-bekas lebam yang ditinggalkan pria itu di tubuhnya. Yang Lia syukuri, semua bekas itu bisa ditutupi dengan seragamnya. Ia tidak ingin memperlihatkan bekas-bekas lebam tersebut, apalagi pada—

Shreizag.

Lia kembali terdiam begitu nama itu terlintas di pikirannya. Mengapa ia tidak ingin semua bekas itu terlihat oleh General-nya sendiri? Toh ia cukup yakin, Shrei tidak akan peduli tentang hal itu. Baik ia menunjukkan bekas-bekas itu, atau menyembunyikannya, Shrei pasti akan bereaksi sama seperti biasanya, dengan ekspresinya yang kaku dan tatapannya yang dingin.

Lia menghela nafas pelan, lalu kembali membilas tubuhnya. Setidaknya ia harus bisa terus bangun sampai matahari terbenam hari itu. Suka tidak suka, ia masih Disciple dari Shrei, dan adalah tugasnya untuk mengerjakan hal-hal sepele yang sering malas dikerjakan General satu itu. Setelah selesai mandi, ia mengeringkan tubuhnya dengan cepat dan mengenakan seragamnya, lalu turun ke ruang umum setelah ia mengambil Babog Liath yang digeletakkannya di salah satu kursi di kamarnya.

Namun begitu Lia sampai di pintu ruang umum dan melihat Shrei sedang bersama-sama dengan Giraile, Lia hanya bisa berdiri mematung sambil menatap keduanya dengan tatapan kosong. Ia lalu segera berbalik dan berjalan entah ke mana, dengan air mata yang terus bergulir dari matanya yang berwarna hijau cemerlang, yang menatap ke depan dengan tatapan kosong.

“Babog…” panggilnya pelan. Boneka kelinci itu langsung berubah menjadi seukuran manusia dan berjalan di belakang Lia. Tapi gadis itu tidak memberikan perintah apapun lagi pada bonekanya itu, dan terus berjalan tanpa tujuan.

Dan meski ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, dalam hatinya ia menjerit, Ionsaigh…


Last edited by Líadan ó Súilleabháin on 14th September 2009, 20:10; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
avatar

Posts : 580
Umur : 26
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mothú   14th September 2009, 18:44

2 karya dalam sehari, salut, nona! *applause*

Err... Me-memang 'lebih' daripada yang Merry Christmas itu ya... *glegh*

...... *speechless*

Rasanya ingin mencabik-cabik Shrei karena pria satu itu nggak sensitif sama sekali :-w Pertama Estrella, lalu Lia... *sigh* Maafkan karakter saya yang satu itu m(_ _)m

Ada yang sedikit mengganjal sebenarnya, kenapa Lia mengira Giraile yang lebih dekat dengan Shrei? Karena yang sebenarnya lebih dekat dan lebih lama mengenal Shrei (8 tahun) itu Ressa... ' 'a Tapi karena ini dari sudut pandang Lia, ya saya serahkan saja pada penilaiannya.

Sama ini, nggak penting sih,
Quote :
[...] Akuilah saja."
Mungkin maksudnya, "Akui sajalah."?

Yang dirasakan Lia complicated sekali... Crying

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Chief Supervisor
Admin


Posts : 418

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mothú   14th September 2009, 20:04

Ternyata Shrei populer... *tepok jidat* Sorry, ladies, he's with Giraile-- *dilempar karena seenaknya*

@ Shrei: K-Karena kalau Shrei dan Giraile itu kesannya lebih melengkapi (opo iki maksud e)

Engg, nggak kok, belum masuk R-18, karena belum eksplisit. Cantumkan peringatan saja di awal, kalau dirasa memang udah rada-rada condong ke arah sana lebih baik peringatannya bold dan BESAR. Kita memiliki beberapa anggota yang masih SMP dan polos-polos kayaknya... :p (yang SMA kayaknya udah pada nggak polos, tapi jaga-jaga juga deh)

Berarti cukup jelas, perasaan Lia terhadap Shrei ternyata tidak hanya sebagai 'athair'... Ukhuu... *turunkan bendera Shu/Lia*

_________________
Name? My name is not important. My job is.
Back to top Go down
View user profile http://blackorder.web.id
Líadan Ní Súilleabháin

avatar

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mothú   14th September 2009, 20:25

@sacchii : lagi kebanjiran ide... udah lama ga ngucur begini ide. biasanya kering sampa mau nulis apa juga bingung...

ah... Lia menganggap Shrei dan Giraile itu dekat karena kesamaan nasib (?), sebagai orang yang sama2 kehilangan keluarga (atau yang dianggap keluarga). Orang yang memiliki kesamaan nasib biasanya cenderung lebih dekat (hati-ke-hati) daripada yang sekedar 'kenal' biasa tanpa adanya kesamaan nasib.

*harusnya saya masuk psikologi ato filosofi ya*

@chief : anak2 jaman skarang mana ada sih yang polos *sok tau* *omongan orang yg sjak umur 13 udah baca konten R-18* *dibejek*

Shu itu masih bocaaaaaahhh!! Sikapnya pun masih bocaaaahhh!! Lia itu mendambakan sosok yang dewasa, yang bisa jadi ayah/kakak baginya, bukan jadi target dart-boneka!! *dihajar*
Back to top Go down
View user profile
Chrysalis vi Scheziel

avatar

Posts : 145
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 25

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mothú   14th September 2009, 20:31

Hoo~

nayz nayz ~

mbak akira produktif bgt tapi ya.. saya jadi kagum..

eke aj satu gag selese" ini.. @__@

ahh bagi otaknyaaaa! D8 *dibekep*

_________________
1st char of DPNK: Mademoiselle Monsieur
Back to top Go down
View user profile
Andrei V. Morozov

avatar

Posts : 25
Pemilik : Issei Akira
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 24

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mothú   14th September 2009, 21:00

saya juga kalo lagi ga ada ide ga balakan bisa nulis secepet ini... *berkat Si Volvieras A Mi?* *dihajar*

Jangaaaaaaaaannn!! Otak saya terlalu penuh diisi hal2 mesum n ga guna!! *dibekep*
Back to top Go down
View user profile
Nikolai Mikhailov

avatar

Posts : 183
Pemilik : Cairy

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 15

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mothú   16th September 2009, 19:31

Uwaaah~ *saya pake ID Shu seharusnya tidak boleh membaca ini -ngaco-*

Shu Mode:
oh... rasanya jadi harus beneran menculik Shrei ke suatu tempat yang jauh dari Lia sebelum digrepe-grepe *dilempar*

dan yang terakhirnya itu, kirain babognya mau dilemparin juga, ternyata boneka itu hanya dilempar untuk dear Nikolai saja ya *sedih deh*

Ah... tulisan yang bagus xD~b
Back to top Go down
View user profile http://tokyorevelations.wordpress.com
Sponsored content




PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mothú   

Back to top Go down
 
[ONE-SHOT] Mothú
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Vexen *The Guy Who Gets Shot By An AirSoft Gun And Makes A Big Deal About It*
» Gazzy X Nudge One-shot
» Trick Shot Gun Magic done W.I.P.
» Work In Progress Oneshot (RATED M, to warn)
» dual 15 shot revolver type flintlocks

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Non-Roleplay :: Exhibition Room :: Literature Exhibit-
Jump to:  
Create a forum on Forumotion | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com