An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [ONE-SHOT] Beneath the Silence, Lies the Beast

Go down 
AuthorMessage
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: [ONE-SHOT] Beneath the Silence, Lies the Beast   27th September 2009, 11:47

Author's Note:
Spoiler:
 




Beneath the Silence, Lies the Beast
by masamune11 / Ravel Kohler / Rieska Verriert

*~*~*~*~*~*~


Setan.
…Bukankah kau sudah lama menghilang.



Ravel Kohler kembali menghela napas panjang.

Jangan salah, bahkan Jendral tersabar sekali pun memiliki masanya untuk merasa tidak percaya, bukan? Apalagi dengan kelakuan anaknya yang kini makin menjadi—keusilan mengenai Heidrich Kohler di markas Black Order cabang Asia cukup membuatnya pusing bukan kepalang. Pada dasarnya, ia memang tahu bahwa anaknya yang satu itu memang sering mencari sensasi; mencari perhatian. Cukup berefek sebenarnya, karena bocah itu kali ini hampir tewas di tangan Jendralnya sendiri. Informasi tersebut merupakan salah satu sumber akan helaan napasnya yang berat.

Pria ini berhadapan dengan Ezekiel Wright—yang sebenarnya tengah sibuk mengerjakan tugasnya. Tumpukan tugas yang ada mejanya memang tidak berbohong, belum lagi kantung mata yang dimiliki oleh Chief Supervisor tersebut—pastinya, belakangan ini mereka semua bekerja sangat keras. Risiko menjadi bagian dari staff Black Order bagian manajemen, bukan petugas lapangan? Setidaknya lebih aman, daripada dirinya yang harus berkonfrontasi dengan maut dalam berbagai bentuk.

Oh, atau justru pekerjaan Ezekiel malah terlihat lebih menyiksa?

Pria berambut pirang ini memandang sekeliling kantor yang menjadi tempat bekerja salah satu petinggi organisasi pemberantas akuma. Dialah orang yang bertanggung jawab akan kelangsungan setiap elemen yang hidup di bawah naungan organisasi… baik mereka yang hidup sebagai pendukung gereja, ataupun mereka yang telah dikutuk sekalipun oleh gereja yang sama. Kantor dari seorang Ezekiel Wright; pribadi yang dirumorkan memiliki hubungan asmara dengan exorcist paling unik yang ada di sana—Theodora Xena—dan memiliki etos kerja dan rasa kepedulian, serta standar yang bisa dibilang tinggi.

Lantas, mengapa dirinya, Ravel Kohler, salah satu dari Jendral cabang sentral, berada di kantor orang ini sekarang?

Untuk sebuah kantor yang cukup luas dan elegan karena perabotan mahogani di sana sini, kantor Ezekiel kehilangan citra tersebut mengingat banyaknya tumpukan kertas tugas dan laporan yang lebih banyak menggunung daripada selesai dikerjakan. Berantakan? Bukan, namun impresi tersebut wajar didapat apabila seseorang melihat tumpukan kertas rapi di sisi-sisi ruangan, bukan?

Tangan kanannya yang menopang dagu kini teralih. Tangan tersebut meraih cangkir teh yang isinya telah lama dingin. Jari-jarinya bermain dengan bibir cangkir; bosan. Helaan napasnya yang terakhir ditujukan karena ia kira sang Chief Supervisor sudah siap membeberkan informasi lainnya—selain kabar mengenai anaknya itu. Yah, Ezekiel Wright sudah berhasil membuatnya yakin bahwa sang Supervisor sudah siap mengakhiri tugasnya (yang tak jauh berkaitan dengan tumpukan kertas yang ada di mejanya itu), sebelum yang bersangkutan mengambil selembar lagi dari tumpukan tugasnya. Di waktu yang sama, dagu sang jendral bergeser; jatuh dari lokasi awalnya.

Sampai akhirnya, gerakan pria yang lebih tua darinya berhenti. Mata coklat-kuning Ravel menyadari hal ini kemudian yang bersangkutan menarik tangannya dari bibir cangkir, sementara postur tubuhnya menegak—sedikit menyender pada tempat duduk, namun tetap tegap.

Ezekiel Wright berdiri pada tempatnya; matanya tidak berhenti memindai ruangan. Di setiap waktu, ia melewatkan pandangannya pada jendral di tempat—ia sudah tahu bahwa sang Jendral sudah menunggu agak lama. Baiklah, mungkin tidak lama—sangat lama. Meski demikian, mata tersebut seakan memastikan kalau mereka memang sedang berdua. Pembicaraan yang akan mereka mulai, menurutnya, bukanlah pembicaraan yang pantas didengarkan oleh orang lain. Terlalu privat? Bukan, justru karena pembicaraan ini mungkin akan membuat gempar satu markas, setidaknya begitulah komentar yang tengah ia pendam untuk saat ini.

Lantas, pria berbusana hampir serba putih ini pun menghampiri jendral yang duduk di kursi tunggu ruangannya. Duduk di seberang dari jendral tersebut, Ezekiel menyatukan kedua tangannya, sementara matanya menatap tajam Ravel, meniti setiap gerakan yang diciptakan oleh pria yang sudah ia kenal sejak lama.

Ravel Kohler bukanlah orang yang mudah terintimidasi bahkan oleh atasannya. Hei, ia sendiri sudah mengenal dekat orang yang menjadi atasannya, mengapa ia perlu takut pada dia? Justru bukan rasa takut yang menderanya sekarang, namun rasa penasaran tentang apapun yang ingin ditanyakan oleh pria tersebut.

“Kau tahu, menatap seperti itu takkan membuatku berjengit, kawan.” Ravel hanya mendengus; bukan karena kesal, namun karena heran dengan prilaku atasannya yang tampak tidak beralasan. Tangannya kembali menyentuh bibir cangkir the yang telah lama terhidang. Refleksi cahaya matahari sore terpampang pada cangkir berisi penuh, menampakkan sebuah waktu untuk mengakhiri aktifitas yang tidak berguna—sudah saatnya Ravel mendengarkan menu terakhir; informasi milik atasannya untuk dibeberkan. Maaf saja, bahkan seorang Ravel pun memiliki batas kesabaran.

Ezekiel berdeham sekali; tangannya terletak di depan mulut—sebuah gestur untuk memulai pembicaraan. “Maaf, kalau kau menganggap tatapan saya demikian,” Ezekiel berujar datar sebelum meletakkan kedua tangannya kembali ke posisi semula—saling menyatu satu sama lain dan membuat benteng antara sang Supervisor dengan pria berambut pirang yang ada di hadapannya. Sekali lagi, pasangan mata tersebut menatap tajam Ravel Kohler. “Ini soal laporanmu.”

Tangan kanan masih bermain dengan bibir cangkir the miliknya, bahkan di saat tatapan tajam sang pemilik otoritas. Cuek terhadap lingkungan sekitar; tidak, justru Ravel Kohler tengah berada dalam sebuah status di mana segalanya tidak bisa lolos dari observasinya. Ia bisa membaca ke mana arah pembicaraan ini membawanya…

…selalu tentang itu.


“Ada apa dengan laporanku?” Pria ini mendongak, memberikan sebuah tatapan polos. Ravel Kohler mengerti maksud dari apa yang disampaikan pria ini, namun ia sendiri hanya ingin memastikan kalau memang ia berbicara mengenai itu.

Ezekiel, entah karena melihat Ravel, turut bermain dengan cangkir teh miliknya. Hanya saja, tidak seperti Ravel yang melakukannya karena bosan, pria ini berhenti pada putaran pertama sebelum akhirnya mengambil cangkir dan meminumnya sisip demi sisip. Pria ini membiarkan rasa dingin teh menempel pada indra pengecapannya, toh memang itulah yang terjadi kalau membiarkan teh hangat mendingin.

Ezekiel menghela napas panjang. Dirinya sudah mengantisipasi bahwa Ravel akan kembali bermain-main lagi. Oh. Apakah frase tersebut lebih baik diganti dengan satu kata, seperti menghindar atau ngeles? Sungguh, kata tersebut tidak cocok untuk mendeskripsikan sosok Ravel yang lebih sering menghadapi masalah langsung dari depan, tanpa basa-basi—tanpa kompromi.

“Innocencemu... tidak, kau sendiri menunjukkan tanda-tanda adanya penurunan tingkat sinkronisasi. Mulai dari kelalaian tingkat kecil, sampai batas lepas kendali.” Pria berotoritas di atas jendral tersebut mengambil cangkir miliknya dan meminum sesisip; matanya sempat lepas kontak dengan sang jendral karena terbawa kenikmatan harum teh. “Tolong jelaskan, Jendral Kohler.”

Sang jendral berambut pirang tersebut diam membisu. Inilah hal yang paling tidak ia ingin diskusikan, setidaknya sampai ia sendiri menemukan alasan yang jelas dan logis dibalik fenomena ini—bukan alasan kabur yang ujung-ujungnya menyalahkan hilangnya eksistensi istrinya atau karena nafsu membunuhnya makin lama makin tak berbendung—

“Jendral, kuharap ini tidak terkait dengan permasalahan enam tahun lalu.”

Mata kuning-kecoklatan itu menutup beberapa lama sebelum menatap tajam supervisor sentral. Dibalik kilatan kuning terdapat sebuah pernyataan jelas: jangan hina dirinya dengan anggapan seperti itu. Nicola Tchaikova sudah tiada. Tidak ada yang bisa membangkitkannya, tidak ada yang bisa mengembalikan sosok tersebut ke pangkuannya, tidak ada yang bisa mengembalikan ibu dari anak berumur 12 tahun ke dunia, tidak ada yang akan berharap bahwa wanita tersebut akan berjalan menuruni salah satu tangga dalam tembok-tembok markas ini kemudian menebarkan senyum pada mereka yang melewatinya.

Sosok tersebut sudah tiada. Waktunya untuk melanjutkan hidup.

Pria ini mengenyakkan dirinya pada tempat duduk, tangannya melipat di depan dada. Telinganya dapat menangkap helaan napas Ezekiel—setiap kali Ravel Kohler melipat tangannya, ini berarti kesabaran jendral tersebut sudah berada di ambang. Tidak seperti Giraille yang mungkin akan berkoar-koar sesukanya apabila dikonfrontasi dengan cara seperti ini, Ravel lebih memilih diam dan mengamati bagaimana lawan bicaranya menyikapi tindakan yang diambil sang jendral. Sebagai seorang yang sudah mengenal pria yang ada di depannya sejak ia masih menjadi seorang finder, tentu saja ia mengenal bagaimana pria yang ada di hadapannya bereaksi.

“Tak usah khawatir.” Ravel berujar datar. Tak ada ekspresi jelas yang terpampang di wajahnya—sekali lagi, sebuah tameng yang ia gunakan agar yang lain tidak bisa ‘membacanya’. Mata kuning kecoklatan tersebut kembali bersembunyi di balik pelupuk matanya. Tangan kanannya meninggalkan cangkir, kemudian menopang pipinya yang terkulai—terkesan tidak peduli. “Tidak ada kaitannya dengan insiden tersebut.”

’...tidak, semuanya bersarang dari sana.’

“Meskipun harus kuakui...” Mata coklat-kekuningan tersebut kembali muncul dari persembunyian, menyiratkan sebuah rasa tidak tenang. “Belakangan ini banyak akuma yang bermunculan serempak di berbagai tempat. Hal tersebut cukup membuat saya khawatir.”

‘...khawatir, karena keinginan membunuh yang meningkat.’

“Tak ada yang bisa kita lakukan soal itu, bukan?” Jendral tersebut mendongak, mengamati figur yang duduk di depannya sembari mencerna respons yang baru saja dikeluarkan. Tangan kanan pria yang mengaku sebagai Chief Supervisor tersebut membawa cangkir tersebut ke mulut, menegukkannya sesisip teh yang masih tersisa di dasar cangkir. Ravel hanya menyunggingkan senyum miris; pada kenyataannya, komentar yang baru saja diberikan oleh pria yang lebih tua beberapa tahun darinya memang ada benarnya. Millennium Earl terus bergerak, meskipun mereka berdua tengah duduk-duduk di dalam tembok-tembok besar markas Black Order. “Yang bisa kita lakukan hanya menekan jumlah mereka—setidaknya sampai kita menemukan cara untuk mengalahkan The Earl.”

Ravel mengangguk tanda setuju. Tangan kanannya meraih cangkir tehnya yang setengah habis. Matanya melirik isi dari cangkir tersebut, sebelum ia menghabiskan isinya. Dingin; rasa dari teh tersebut sudah menjadi hambar sejak lama. Kesunyian yang merayapi ruangan tidak terasa menenangkan; Ravel Kohler tahu bahwa pria yang duduk di depannya ingin bertanya lebih banyak. Di antara pertanyaan tersebut, pasti ada salah satu yang mempertanyakan salah satu penyebab lepas kendalinya. Lantas, ketika mulut dari pemuda tersebut kembali terbuka untuk melantunkan ceramah lanjutan, pandangan mata pria berambut pirang ini mengeras.

“Melaporlah pada Xena. Ia lebih tahu soal kemunduran sinkronisasi Innocencemu.”

Hanya satu kalimat itu, kemudian Ezekiel meneguk tehnya sekali lagi—menghabiskan cairan coklat keputihan untuk menutup sesi tanya-jawab di antara mereka berdua. Alis Ravel terangkat, resultan dari rasa tidak percaya. Tentunya, sang Supervisor memiliki berbagai macam pertanyaan yang seharusnya keluar di saat itu juga, bukan? Lantas, mengapa menahan pertanyaan tersebut sekarang? Mengapa malah menyudahinya kali ini? Ia belum tentu mendapat kesempatan untuk menanyakan apapun yang ada dalam benaknya, bukan?

Pandangan mata Ravel melunak—percuma mempertanyakan hal yang mungkin hanyalah asumsi. Mungkin saja Ezekiel Wright memiliki beberapa pertanyaan tambahan mengenai fenomena ini. Mundurnya sinkronisasi seorang exorcist terhadap innocencenya masing-masing merupakan kabar buruk. Jika hal ini terjadi pada Jendral... hal tersebut bisa melemahkan moral pasukan. Ezekiel memiliki ratusan alasan untuk bisa menggali informasi darinya, namun ia memilih untuk diam dan menyuruh jendral tersebut untuk mengobrol dengan salah satu exorcist unik—penjaga daripada innocence yang lain.

Maka, pria ini pun berdiri—Wirksame Wille dan Claymore kesayangannya tergaet rapi di belakang punggung—dan memberikan hormat, sepantasnya seorang Exorcist yang hendak pergi setelah menyampaikan laporannya. Kemudian, pria bermata coklat kekuningan ini berbalik arah; punggungnya menghadap Ezekiel, sementara pandangannya hanya terpusat pada pintu kantor yang mungkin dimasuki oleh salah satu staff Black Order setelah dirinya keluar dari kantor tersebut. Kakinya melangkah dan mendekatkan dirinya pada pintu keluar. Langkah tersebut tidak sekalipun berhenti. Kepala berambut pirang tersebut bahkan tidak menengok ke arah sumber suara ketika Ezekiel menggumamkan sebuah pernyataan yang menurutnya cukup menyindir.

May you find peace in your mind, my friend.

Pintu kantor tersebut menutup. Bunyi pintu kayu berbenturan dengan kusennya meninggalkan gema, bahkan dalam kantor Ezekiel yang mulai menyempit karena tumpukan kertas.




Lioret Ifrit Shirogane.

Bukankah itu adalah nama yang diberikan ayahnya?

Sang pemberi nama sudah agak lama hilang dari dunia; mati. Beliau tewas dalam kecelakaan yang mengubah hidupnya. Berlebihan? Tidak, karena pada saat yang sama ia menemukan dirinya dilatih menjadi seorang Exorcist, dalam naungan seorang pria berumur 36 tahun yang telah menyelamatkannya dari kecelakaan tragis tersebut.

Pria yang menyelamatkannya itu sekarang berdiri di sebelah kanannya.

Pemuda berambut hitam ini hanya terdiam, tidak bisa mengatakan apa-apa. Mungkinkah pengaruh tidak langsung dari keberadaan pria pemegang Wirksame Wille ini? Jawabannya adalah tidak; pemuda berumur 18 tahun ini memang menaruh respek pada pria yang telah membawanya ke Black Order cabang Eropa, namun pria tersebut tidak mampu membungkam mulut pedas miliknya. Mengapa harus diam sekarang, kalau begitu?

Mata hitam Lioret menangkap bagaimana jendralnya berjalan, Wirksame Wille dikenakan pada punggungnya bersamaan dengan claymore kesayangannya. Punggung dari orang yang menjadi gurunya sama sekali tidak terlihat, sementara kepala tersebut seakan terpaku ke depan—tidak peduli dengan siapa atau apapun yang ada di belakangnya, namun jelas sadar bahwa keberadaan yang ada di sana memang ada. Lioret—berdiri dan menyusul figur Ravel dari belakang—pun mengerti gestur yang keluar dari jendralnya ini. Ravel Kohler pasti sudah lama menyadari keberadaan akan disciplenya yang mengikuti dari belakang dan tidak memintanya untuk berhenti mengikuti; seakan jendral ini menginginkan agar pemuda tersebut dapat melihat sesuatu yang hendak ia tunjukkan.

Langkah orang yang ada di depannya berhenti, memaksa sang pemuda untuk berhenti di tempat. Dengan cepat, matanya menerawang daerah tempat mereka berada sekarang—sebuah koridor tua yang cukup terawat. Lioret memang mengikuti jendralnya sampai ke bawah tanah tanpa alasan. Lagipula, ia hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah; kakinya menyuruh untuk melangkah mengikuti Ravel Kohler, jadi apa pedulinya dengan ruang bawah tanah ini?

...Baiklah, memang ada beberapa hal yang mengganjal perasaan Lioret saat ini. Pertama, ia jarang sekali menjelajah daerah bawah tanah; meskipun dirinya berpangkat sebagai anak didik dari seorang jendral, para staff pengurus di sini (langsung di bawah pimpinan sang Chief Supervisor) selalu melarangnya untuk masuk dan mengeksplorasi daerah ini. Kedua, Jendralnya sepertinya juga jarang mengajaknya menjelajahi tempat ini.

“Masih sama seperti yang kau ingat bukan, Lioret?”

Pemuda berambut hitam tersebut segera mengarahkan perhatiannya pada Ravel. Ia tidak melihat tatapan mata, atau gurat dahi yang biasa mengerut kalau-kalau melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya. Lioret tidak menangkap keberadaan sebuah tatapan sabar, karena Ravel Kohler tidak memalingkan wajahnya kepada pemuda tersebut ketika untaian kata bergema di sekitar dinding koridor. Barulah sebuah memori kembali bermain, layaknya sebuah video lama terkuak dari memorinya—ia pernah melewati tempat itu. Kali pertamanya ia menginjakkan kakinya di sini ialah setelah memperoleh innocence yang kompatibel dengannya.

Pintu besi yang berdiri di depan mereka merupakan batas terakhir antara ruangan paling sakral dalam markas Black Order cabang sentral dengan dua sosok—seorang jendral dan muridnya. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di ruangan tersebut, pemuda ini menemukan sebuah sosok yang berada di luar interpretasi otaknya—sebuah bukti yang ada di dunia bahwa innocence... tidak selamanya berlaku adil terhadap pemiliknya.

Pintu besi terbuka. Mata obsidian Lioret pun kembali terfokus pada apapun yang ada dibalik pintu besi tersebut. Pemandangan putih—pemandangan yang sama ia dapatkan ketika melihat apa yang ada di belakang pintu tersebut—kembali tersaji. Kabut putih yang tampak pekat, namun tidak berdifusi keluar dari ruangan. Pemandangan tersebut tidak gagal untuk membuatnya terdiam bertanya-tanya di tempat, bahkan ketika ia tahu akan isi yang ada di dalamnya. Langkah kaki jendralnya sekali lagi membuatnya tersadar dari jeda waktu yang ia ambil untuk berpikir—Ravel Kohler sudah keburu masuk ke dalam ruangan tersebut.

Sontak, pemuda ini pun juga mengikutinya dari belakang. Mata obsidian tersebut menyipit ketika sekujur tubuhnya mendapatkan kontak dengan substansi paling asing yang pernah ia temukan. Kalau kabut memiliki hawa yang berat dan mampu membuat lidahnya mengecap rasa air, kabut putih yang menerpa wajahnya terasa ringan dan mati—namun hidup di saat yang sama—dan tidak terasa seperti air.

Kemudian, mata obsidian tersebut kembali melebar ke semula; ruangan yang ada di depannya masih sama seperti dulu, seakan tidak pernah menua akibat torehan waktu. Laboratorium lama yang ditutup sejak 21 tahun yang lalu masih memiliki pesona lamanya... dan terjaga. Segala perabotannya sudah dipinggirkan ke sekitar ruangan, meninggalkan sebuah ruangan kosong dan luas... berukiran sebuah gambar besar—sebuah lingkaran, lengkap dengan ornamen-ornamen sebuah lingkar magis.

Lioret tahu bahwa itu—lingkaran tersebut—tidak terkait dengan magis. Ia tahu hal itu karena sesosok gadis yang berdiri di tengahnya menjadi sebuah bukti konkrit dari pengetahuannya. Setelah bertemu gadis tersebut di kali pertamanya, Lioret Ifrit Shirogane mengenal seberapa besarnya pengorbanan yang rela diberikan oleh seseorang untuk menjadi salah satu tulang punggung dari organisasi yang menaungi profesinya.

...atau sejauh manakah sebuah benda sakral bisa bertindak jauh, sampai harus mengorbankan pemiliknya.





Wilkommen, Herr Kohler... und Herr Shirogane.

Sebuah kalimat standar yang muncul dari bibir tersebut. Kata-kata tersebut tidak berbunyi Yunani, seperti negeri ibunya. Kata-kata dari bahasa Jerman, yang sempat diajarkan oleh jendral bersangkutan (meskipun pada akhirnya ia hanya bisa sebaris kalimat tersebut). Meskipun bibir kemerahan tersebut mengatup-ngatup, suara yang dihasilkan tidaklah berasal dari pita suara sosok gadis ini. Alih-alih berasal dari sosok tersebut, suara yang ada muncul dari sekeliling mereka—menegaskan bahwa ia berada di sekeliling mereka, memandangnya dari berbagai arah.

Mengawasi.

Sosok gadis tersebut, Theodora Xena, hanya mengerling ke arah dua exorcist yang datang dari pintu depan ruangannya. Kabut putih yang menjadi tabir antara dirinya dengan dunia luar kembali mengisi ruang kosong tabir yang terkoyak—tabir yang mereka tak sengaja rusak ketika keduanya melangkahkan kaki di tempat sakral tersebut. Theodora hanya tertawa miris dalam pikirannya; entah bagaimana, innocence miliknya, yang memilihnya membuat ruang laboratorium yang menjadi tempat favoritnya, mengangkat strata ruang tersebut dari sekedar ruang lab seorang staff menjadi salah satu ruang paling sakral yang ada dalam bangunan tersebut.

Di saat yang sama, Guardian merampas tubuhnya.

Lingkaran pada lantai ruangan berpendar ketika mata dari sosok Theodora Xena terfokus pada kedua figur. Kemudian, tidak jauh dari tempat gadis ini berdiri—di sekitar pusat dari lingkaran tersebut—beberapa potongan lantai mulai naik, menampilkan lubang-lubang keputihan dengan sebuah case berbentuk bola; sebuah tempat untuk menyimpan innocence dalam waktu lama. Tujuan dari gadis ini membuka kotak-kotak ini? Ia hanya bersiap kalau-kalau pria dan pemuda yang ada di depannya—setidaknya mereka berdiri di depan sosok dirinya berumur 18 tahun—datang ke tempatnya dengan sebuah innocence di tangan.

Potongan lantai tersebut melayang di udara sebelum kembali ke tempatnya semula; Theodora menyadari gestur tangan yang dilakukan sang jendral—sebuah lambaian tangan tanda ‘tidak usah repot’ dan gelengan kepala disertai sebuah senyum ganjil. Alis wanita ini sempat naik sebelum menutup kembali tempat penyimpanan innocence. Bila mereka berdua tidak datang untuk melaporkan penemuan innocence, maka apa maksud dan tujuan dari kunjungan dua orang ini?

“Kalau begitu...” Potongan lantai yang ada di ruangan tersebut—tepat di belakang Ravel dan Lioret—naik selevel dengan kursi standar. “...silakan duduk. Ada yang mau kalian bicarakan?”

Bagi wanita asal Yunani ini, kunjungan semacam ini bukanlah hal yang sering. Ia lebih sering melihat berbagai macam exorcist masuk ke dalam ruangannya—kini juga tubuh tempat jiwa dan rohnya bersemayam—kemudian memintanya dengan sopan untuk menyimpan beberapa buah innocence. Lalu, sosok-sosok berbaju kehitaman tersebut akan pergi meninggalkan ruangan, sementara potongan-potongan lantai yang dipergunakan untuk menutup tempat penyimpanan innocence kembali pada tempatnya. Theodora Xena pun kembali ditinggalkan di tempat; sendiri.

Ravel berdeham tidak tahu harus memulai dengan apa, sebelum akhirnya duduk di tempat yang telah disediakan. Disciplenya masih tampak mengobservasi sekeliling—penasaran dengan sekelilingnya meskipun ia sudah pernah ke sana. Namun, ketika mata obsidian menangkap tindakan gurunya, Lioret pun berhenti celingukan sebelum akhirnya duduk. Potongan-potongan lantai yang menjadi tempat duduknya terasa aneh—keras, namun terasa dapat melantunkannya ke udara jikalau ia melompat di sana. Ide usil sempat terbesit pada pemuda ini namun segera hilang ketika melihat gurunya melipat tangan.

“Lioret tidak ada urusan di sini.” Suara Ravel, seperti biasa, terdengar datar. Namun, konteks yang ada dalam kalimat itu membuat Lioret segera berpaling ke arah gurunya, memberikan sebuah tatapan ‘kalau gitu ngapain guru gak bilang!’. Sayang, kata-kata kesal tidak keluar dari mulutnya, karena Ravel segera melanjutkan kata-katanya kembali. “Ia di sini hanya menjadi saksi, bahwa pembicaraan ini memang ada dan terjadi.”

Mata hitam yang terarah pada figur gurunya menyipit, mencoba untuk memfokuskan pandangannya pada wajah pria tersebut. Itukah alasan mengapa gurunya tidak melarangnya untuk ikut?

“...Baiklah. Kalau begitu, apa yang ingin anda bicarakan, Jendral?”

Sontak, mata hitam kepunyaan Lioret segera berpaling pada figur wanita. Raut gadis tersebut menunjukkan rasa penasaran. Sayangnya, ia bisa melihat bagaimana rasa khawatir mulai merayapi pandangan sang gadis—gadis muda yang mungkin terlihat seumuran dengannya.

Bunyi gesekan besi dengan lantai. Lioret segera memalingkan pandangannya pada gurunya dan melihat tangan kiri sang pria berambut pirang tersebut menaruh perisai kebanggaannya di depan, seakan mempersembahkannya pada exorcist wanita tersebut. Alis Theodora terangkat; perisai tersebut mengambang di udara, sekitar dua-puluh senti dari tanah. Innocence yang ada di tengah perisai menyala terang—sesuatu yang jelas sudah dilihat berkali-kali oleh sang jendral, namun baru pertama kali oleh anak didiknya.

Wirksame Wille mengambang di udara kemudian mendarat dengan mulus di atas salah satu meja (yang merupakan bagian dari lantai yang meninggi), sebelum nyala dari innocence tersebut hilang dari pandangan. Di saat yang sama, pemuda berambut kehitaman melihat adanya kerutan dahi pada ekspresi gadis yang masih berdiri di tengah lingkaran; sebuah ekspresi tentang ketidakpuasan dan permintaan akan penjelasan.

“Kohler, sinkronisasimu—dengan Wirksame Wille—turun. Lagi.”

Tidak ada tambahan kata ‘Jendral’ di depan nama, ataupun rasa hormat pada yang lebih berkuasa eksekutif dalam organisasi. Apa yang dikatakan wanita ini adalah sebuah fakta yang lebih mencengangkan Lioret daripada sang gadis. Sebuah hentakan kaki pada lantai, dan Lioret pun berdiri. Ekspresi Lioret jelas terbaca pada wajahnya—kesal, kecewa, dan meminta penjelasan.

“Master! Apa maksudnya ini!?” Kata-kata yang mungkin kurang pantas diucapkan dari seorang anak didik. Namun Lioret sudah tidak bisa diam di tempat, merasa penasaran hingga waktunya harus terbuang di liang penyimpanan Innocence. Gurunya diam; wajahnya tidak berpaling pada pemuda yang darahnya sudah mulai panas. Malah, Ravel hanya melemparkan sebuah pandangan agar Lioret kembali duduk. Sebuah pandangan aneh, penuh dengan amarah, rasa dingin, serta segala sesuatu yang bukan Ravel Kohler—

—Lioret bersumpah bahwa yang duduk di sampingnya bukanlah gurunya.

Kaki terpaku ke lantai. Lututnya entah bagaimana tidak berani menekuk, supaya ia bisa kembali duduk di tempat duduknya. Obsidiannya menatap butir coklat kekuningan, mencoba untuk tetap tenang meskipun fokus dari butir coklat kekuningan tersebut terasa menusuk, tidak sama dengan apa yang pernah disaksikan oleh butir obsidian tersebut selama berpetualang bersama gurunya.

“Kohler!”

Kontak mata terputus. Lutut pemuda itu akhirnya menekuk, membuat sang pemilik terenyak di kursinya—agak syok, bukan karena aura yang dipancarkan oleh gurunya, namun karena tidak percaya bahwa sisi seperti itu ada pada gurunya. Matanya sekali lagi terarah pada figur wanita yang ada di dalam lingkaran. Kerutan dahi kembali bertambah. Guru dari pemuda ini hanya menghela napas panjang. Butir coklat kekuningan tersebut kembali menyelubungi diri dengan bantuan pelupuk mata yang kembali terbuka, bertemu dengan mata coklat sang gadis.

“Lioret, jadilah saksi dari pembicaraan ini. Yang tenang.” Pria berambut pirang tersebut tidak sekalipun memalingkan pandangannya pada Lioret. Pandangannya jelas tertuju pada sosok wanita yang masih berdiri sejak tadi. “Tentang itu...” pria tersebut menghela napas kembali, entah yang keberapa kalinya sejak dini hari. “...tak perlu kuberitahu pun kau lebih tahu, bukan?”

Theodora Xena mengangguk. Setidaknya ekspresi wajahnya sudah jauh pergi, sayangnya digantikan oleh ekspresi cemas. “Kalau begini terus, Wirksame Wille bisa menganggapmu tidak pantas, Ravel. Di saat itu...” personifikasi dari exorcist ini berpaling pada innocence yang bersemayam di depannya, tepat di atas lantai yang ditinggikan. “..kau bisa berubah—”

“—menjadi salah satu dari Fallen Ones, ja?”

Untuk seseorang yang baru saja mengungkapkan kemungkinan paling buruk yang dapat terjadi, Ravel mengemukakan kelanjutan cerita sang exorcist wanita seakan sudah biasa. Ocehan tersebut tidak pernah terdengar di telinganya, namun Wirksame Wille seakan sudah memperingatkannya berkali-kali; kemungkinan terburuk itulah yang akan ia dapatkan kalau ia tidak mampu mengendalikan hawa membunuhnya.

Wirksame Wille tidak kompatibel dengan tipikal orang seperti itu.

Sosok gadis exorcist itu menggigit bibir. Reaksi non-chalant yang ia dapatkan dari jendral yang satu ini jelas tidak biasa. Apa sang jendral sudah menyerah? Masalah seperti ini biasanya berakhir dengan Theodora merampas innocence tersebut, hanya untuk menyelamatkan nyawa exorcist bersangkutan. Xena tidak ingin masalah ini menjadi landasannya untuk melakukan hal yang sama.

Seakan sesuatu membisikkannya sebuah hal yang sudah sangat jelas.


“Kohler.” Theodora Xena memulai lagi, kali ini sosok tersebut berjalan mendekati Innocence kepunyaan jendral tersebut. Mata coklat kekuningan mengikuti perpindahannya sembari menunggu suara—mungkin solusi dari masalahnya—sang pemilik Guardian. Kursi yang ia duduki mulai terasa tidak nyaman, entah karena firasat buruk yang mulai menyelimuti, atau karena Theodora menghendaki demikian. “Apa yang kau lihat, ketika Wirksame Wille mencabik musuh yang menghalangimu?”

Mata coklat kekuningan kembali bersembunyi di balik pelupuk mata. Bahkan Lioret yang sempat tertegun tadi sempat merasa penasaran dengan jawaban sang jendral. Hingga beberapa lama, pelupuk mata tersebut terbuka, menampilkan hawa amarah dingin di belakang tegasnya coklat. Terbesit dalam benaknya sebuah sosok badut berkacamata, dengan senyum sinister yang khas, disertai dengan payung nan ajaib miliknya—

“Earl.”

—tentu saja, ia adalah sumber penderitaannya. Karena perbuatannya, anaknya tidak mungkin menjadi seperti dulu. Heidrich Kohler akan terus mengingat hari ketika ia meminta bantuan dia untuk mengembalikan sosok ibunya ke dunia. Ibunya kembali, namun dalam bentuk yang paling dikutuk. Kemudian, Ravel Kohler harus menghabisi istrinya dengan tangannya sendiri. Ia melakukan apa yang diinginkan istrinya, apa yang telah menjadi tugasnya, dan apa yang memang harus dilakukan—setidaknya untuk membiarkan mendiang istrinya kembali beristirahat dengan tenang.

Anaknya tidak mungkin berhenti menyalahkan dirinya sendiri—tidak sampai ibunya datang kepadanya, kemudian berkata dengan tegas bahwa itu salahnya dan ia tidak boleh mengulanginya lagi. Heidrich Kohler tidak berhenti, karena tak ada ibunya yang akan memberitahunya sekarang.

Hal ini membuat Ravel Kohler menderita.

“Katakan, Kohler...” Helaan napas panjang. Sosok gadis ini berjalan, menuju Ravel Kohler. Coklat bertemu coklat, seakan Xena tidak ingin jendral ini diam-diam berbohong di belakang datarnya tatapan sang Jendral. “Bahwa masalahmu ini tidak jauh terkait dengan Nicola dan Heidrich.”

Xena sempat melihat adanya sebuah retakan, sebelum keduanya melepas kontak mata. Bulls eye; Perkataannya ada benarnya. Pria yang duduk di depannya hanya memalingkan wajah, sebelum akhirnya menunduk. Wajah tersebut kembali menghadap Xena, kali ini rona sedih—bercampur dengan amarah dan dendam—muncul dibalik manik coklat.

“Ja.”

Sebelum pria ini mengakhiri bunyi dari jawabannya, sosok Xena sudah keburu berpaling dari pria tersebut, kemudian mendekati tameng yang terletak tidak jauh dari mereka. Innocence yang ada di tengah tameng berpendar sekali untuk beberapa lama, sebelum akhirnya meredup dan hilang. “Kohler. Kita tidak diajarkan untuk mendendam.”

Pria yang dimaksud tidak menunjukkan respons, menunggu dari sosok gadis yang berdiri di samping innocencenya untuk berpaling padanya lagi.

Tangan Xena mengelus Innocence yang ada pada Wirksame Wille. “Dendam bukanlah sumber kekuatan. Justru dendam perlahan akan menghabisimu dari dalam.” Mata coklatnya kembali terarah pada Ravel beserta Lioret. “Kau tidak cocok mendendam, Ravel. Setan itu tidak pantas melahapmu dari dalam.”

Alis Ravel terangkat, tercengang mendengar bagaimana kata-kata tersebut bisa keluar dengan sangat mudah. Benarkah, bahwa dalam waktu singkat tersebut, Theodora Xena bisa mengerti tentang apa yang ingin disampaikan oleh innocence-nya sendiri? Atau justru ini adalah kata-kata seorang yang lebih tua darinya, dalam segi umur?

“...Bahkan pada Earl sekalipun?” Tawa sarkas terpaksa keluar dari sudut mulutnya. Theodora Xena memintanya agar tidak mendendam pada orang yang menjadi sumber penderitaannya? Sebuah hal yang terlampau lucu, baginya. Sorot manik coklat yang dimiliki sosok wanita tersebut tampak tidak gentar.

“Bahkan pada entitas yang menjadi sumber penderitaan banyak orang.” Senyum sedih merayapi wajah sang pemilik Guardian. Matanya kembali menyorot sosok jendral yang masih membisu; sorot matanya menunjukkan rasa tidak percaya—telinganya baru mendengar seorang Theodora Xena berkata bahwa Earl of Millennium tidak pantas untuk didendam? Banyak orang yang hidupnya berubah karena tindakannya dan mesin penghancur buatannya, namun Xena berpesan agar mereka ikhlas?

“Itu tidak mungkin.”

Ravel dan Xena berpaling, tepat ke arah pemuda yang baru saja melontarkan isi pikirannya dalam satu kalimat singkat penuh prejudice. Lioret yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan antara masternya dengan Xena hanya menundukkan kepala. Manik obsidian miliknya mungkin tidak tampak dari pandangan, namun dua insan yang lain bisa merasakan adanya hawa tidak percaya dari exorcist muda tersebut. Barulah, ketika Lioret mendongak, ekspresi wajah miliknya yang tidak percaya muncul; terlihat jelas.

Senyum miris muncul pada wajah akomodator Guardian, mengerti maksud dari pernyataan exorcist muda itu. “Kalau itu tidak mungkin, Earl sudah menang—bahkan sebelum ia membentuk tentaranya.”

Dua insan yang duduk di atas potongan lantai tersebut kembali membisu. Pikiran Ravel Kohler hanya melayang pada apa yang dikatakan sang gadis. Mata coklat kekuningannya kembali bersemayam di balik pelupuk mata, sebelum melirik anak didiknya yang tampak bisu setelah perkataan Xena yang terakhir—suara yang dikeluarkan oleh exorcist wanita itu tidak keluar dari dirinya, namun langsung menggema dalam ruangan; seakan bukan hanya Xena lah yang berbicara, namun Guardian itu sendiri.

Setan.
Selubungmu tidak menyeramkan.
Namun, selubungmu terlalu menarik, hingga banyak orang jatuh ke dalam perangkapmu.





“Kau belajar sesuatu hari ini, Lioret?”

Exorcist muda berambut hitam yang kini berdiri di sampingnya tetap diam. Pintu besi di belakang mereka tertutup. Sosok wanita yang berada di dalam ruangan tersebut sudah lama hilang ditutup kabut putih, ditambah dengan beratnya besi yang akhirnya kembali menjadi penghalang mereka berdua dengan sosok paling dilindungi dalam markas. Sementara itu, Lioret menggeleng—sebuah pernyataan jujur, sebenarnya.

Ravel hanya mengangkat alis. Tangan kirinya kini memegang Wirksame Wille. Tameng tersebut terasa lebih nyaman, setidaknya dari beberapa waktu lama. Sempat pita suara ingin menyampaikan sesuatu pada anak didiknya, namun segalanya tertahan. Pikirannya serasa bekerja dua kali lipat, karena sebelum kata-kata ceramah itu keluar, seulas senyum yang biasa ia berikan kini merayapi wajahnya.

“Kau akan mengerti, dalam waktu dekat.”

Sudut matanya dapat menangkap bagaimana dahi Lioret mengerut. Jendral ini tidak bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi, karena apa yang baru saja ia dapatkan belum bisa dicerna seratus persen. Kata-kata Theodora Xena ada benarnya, namun dendam yang sudah mengikatnya selama enam tahun tidak bisa hilang hanya dengan seuntaian kata-kata bijak.

Kata-kata miliknya sepertinya tak hanya ditujukan untuk anak didiknya.

Pria berambut pirang ini pun melangkahkan kakinya, di setiap langkah penuh dengan pikiran tentang apa yang harus ia lakukan. Gema bunyi langkah kaki memenuhi koridor, dua pasang yang tampak meninggalkan ruangan paling sakral yang ada di markas.

Mungkin setelah ini, semuanya akan terlihat lebih baik.

Setan.
Kau berada di sana, bukan?
Karena itu, Tuhan...
Tolong hindarkan aku dari perangkapnya.
...Amen.


[--[FIN]--]

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Tek Xiao Ling
Vatican Central
avatar

Posts : 330
Umur : 26
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 23

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Beneath the Silence, Lies the Beast   27th September 2009, 12:03

huaaa, huaaa, huaaaa
baguuuuuuuuuussss ;___;

*ja.. jadi pengen bikin semacem follow-up nya*
*dibejek*

gaaah, harus segera kebut fic Xiao Ling kirim surat ke Ravel!! *ngibrit*

_________________

"My battle, my rule. Do not protest."
-Tek Xiao Ling-


Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Back to top Go down
View user profile http://china-rollz.livejournal.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central
avatar

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Beneath the Silence, Lies the Beast   27th September 2009, 12:42

Kok tahu sih saya suka sama perabot mahogani? Memang rencananya kantor Ezekiel bakal dipenuhi mahogani lho *dilempar*

Saya jadi merasa iba terhadap Ravel... Kalau misalnya nanti muncul kontradiksi, labelkan saja [NONCANON] pada judul cerita. Untuk saat ini kan belum tampak kontradiktif-tidaknya *siyul-siyul*

Komentar lebih seriusnya nanti deh...

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Beneath the Silence, Lies the Beast   28th September 2009, 05:54

@Ling: Bagus? Bagus? Terim kasih atas komentarnya, nona Very Happy

Sebernarnya ingin menjelaskan lebih jauh kondisi mentalnya Ravel sih, tapi malah kecampur sama perspektif karakter lain ||oTL. Saya memang sedang mencoba cerita multi-POV... yang jadinya rada merepotkan kalau blending per karakter kurang pas Sad

Follow-upnya ditunggu B-) *omake ini sudah menjadi canon =))*

@Giraile: Lucky win description? =w=?

Gak tahu juga, bukannya abad 19an memang sedang populer ya, perabotan dari mahogani? =))

Nah, omake ini sudah saya tetap canon saja deh. Ufufufufu~

*digeplak karena niru ketawa orang*

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
avatar

Posts : 580
Umur : 26
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Beneath the Silence, Lies the Beast   11th October 2009, 12:15

w00t. Maafkanlah saya yang belum komen juga, padahal udah baca dari jaman kapan .__. *digetok*

Masmun, seperti biasa, berhasil menggambarkan cerita lewat kalimat-kalimat deskriptif dan kosa kata yang luas. Ceritanya dibuat mengalir dan membuat pembaca dapat memvisualisasikan setiap adegannya di benak masing-masing. Tapi... Saya merasa begitu masuk ke bagian Xena, justru ceritanya terasa sangat lambat... Mungkin karena minimnya dialog? :-? Hati-hati, itu bisa membuat cerita jadi monoton. Terus endingnya, kurang gress! *digaplok* Rasanya ada suatu penyelesaian yang kurang, gitu...

*digebukkin rame-rame karena komentar ga jelas*

Ayo, Masmun, bikin lagi! 0w0)~

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Sponsored content




PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Beneath the Silence, Lies the Beast   

Back to top Go down
 
[ONE-SHOT] Beneath the Silence, Lies the Beast
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Vexen *The Guy Who Gets Shot By An AirSoft Gun And Makes A Big Deal About It*
» The Monstrous Beast; Naga
» Gazzy X Nudge One-shot
» Beast Boy
» Beast-Man

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Non-Roleplay :: Exhibition Room :: Literature Exhibit-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com