| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [CENTRAL] Problem Solving | |
| |
| Author | Message |
|---|
Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: [CENTRAL] Problem Solving 28th September 2009, 20:04 | |
| Timeline: Setelah Winter Nap Lokasi: Kamar Ravel Status: Closed Teh. Secangkir teh hangat dapat menghangatkan tubuh, apalagi di tengah musim dingin seperti ini. Memang, jika dibandingkan dengan daerah regional bagian utara Inggris, musim dingin di London tidaklah separah di sana. Syukurnya, ia tidak perlu pergi ke sana untuk musim ini; namun, dirinya terpaksa diam di kamarnya menikmati hangat ruangan di mana mungkin saja seorang anak di Italia sana--negeri yang baru saja ia kunjungi dalam misinya--tengah kesusahan hanya untuk mendapat kehangatan ruangan ini. Pria ini menghirup tehnya. Aroma cairan kecoklatan itu mampu membuat pikirannya tenang. Setidaknya pikiran tentang apa yang telah ia lihat di sekeliling dunia--terutama yang negatif--bisa diusir terlebih dahulu. Mata kuning kecoklatannya pun tampak hilang dari pandangan, sementara dirinya terbawa dalam aroma tersebut. Duduk. Ia harus duduk. Pria ini sudah berdiri di depan perapian cukup lama hingga kakinya terasa tegang. Karena itulah, pria ini berjalan ke tempat duduk terdekat--sebuah kursi panjang dengan kayu pesanan dari Hindia-Belanda. Kayu berkualitas disertai dengan ukiran tak tertandingi--kadang ia berpikir, berapakah imbalan yang didapat para pengrajin. kursi yang ia duduki. Tubuhnya menyender pada sudut kursi, sementara tangan kanan menyangga kepala yang perlahan mulai jatuh. Kalau tadi ia merasa nyaman setelah minum teh, tidur menjadi opsi yang tampaknya cukup baik di sini.
OOC: Closed. Only for Lioret, thank you  _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 29th September 2009, 14:41 | |
| AAAAAAARGH!
Rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya, sekuat yang ia bisa di tempat itu dan waktu itu juga. On the spot. Berasa sekali lehernya gatal sementara isi kepala tidak tahan ingin meledak. Apa istilahnya--berat?
Berkeringat dingin dan membiarkan dirinya terpaku di koridor yang gelap itu. Sementara pintu di depannya membisu, menunggu untuk diketuk atau justru dibuka dengan paksa oleh kestresan sang pemuda. Ah--kenapa ia harus takut dengan Masternya padahal kemungkinan penghuni kamar yang tertutup di depannya itu hanya akan menceramahinya--plus bogem mentah, kali? Nyalinya menyusut dalam opininya sendiri dan seberapa keras kepalanya ia dalam menilai semua orang adalah sama, tetap saja dengan kasus yang satu ini--
ah lupakan.
Sekeras apapun dampratan yang diterimanya, mungkin Master Ravel akan menambahkan sedikit ceramah nasihat. Mungkin. Kau tahulah, orang dewasa.
Punggung tangannya mengetuk lapisan keras pintu, "Excusez-moi, Maître?" dan menunggu exorcist di dalamnya menjawab.
((OOC: "Excusez-moi, Maître?" : " excuse me, Master?" in French
CMIIW =)) )) |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 30th September 2009, 13:46 | |
| Bunyi ketokan pintu, diiringi dengan Francais yang lancar.
Sontak, pria berambut kuning ini membuka mata. Pemandangan akan perapian segera masuk ke dalam wilayah penglihatan--tidak membutakan, toh cahaya remang-remang tersebut hanya mampu membuatny membuka mata lebar-lebar. Otaknya kembali memutar suara yang tadi memanggilnya. Kata-kata berbahasa ibunya; hanya beberapa orang yang memanggilnya dengan bahasa tersebut.
Juga, bagaimana kata Maître tersebut dilantunkan. Ravel Kohler tahu siapa yang telah memanggilnya.
Kepalanya segera berpaling ke pintu kantor. Mata kuning kecoklatannya memberikan sebuah tatapadn datar pada pintu kayu tersebut; dibaliknya, pria ini tahu seorang dari disciplenya tengah berdiri di depan pintu.
"S'il vous plaît entrent en jeu.*)" Ravel berkata agak keras, agar suaranya bisa keluar dari ruangan
OOC: Another shortcake reply.
*) Please come in._________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 30th September 2009, 16:03 | |
| Ia diijinkan masuk, berarti sisanya hanya bisa diserahkan pada takdir. E—eh, memangnya Master Ravel mau mendengar ‘curhat’nya? Semoga. Ia bukan pemuda cengeng yang menulis segala masalah dalam diari seperti anak perempuan dan mogok makan karena alasan yang kurang bisa diterima seperti ini. Bodoh. Mencoba bersikap dewasa, eh?
Spontan ia mendorong pintu tersebut agar dirinya tampak masuk—dan masternya, duduk di sebuah kursi panjang yang tampak terbuat dari kayu dengan pandangan datar terarah ke pintu tempatnya berdiri sekarang. Apa ia mengganggu?
“Err—Master tidak sedang sibuk? Saya ingin berbicara sebentar,” berusaha menatap iris kuning kecoklatan lawan bicaranya walaupun ia bisa merasakan wajahnya berubah memerah. Masalahnya ia cukup gila untuk menerobos masuk ke kamar orang hanya untuk curhat tralalatrilili. Blah. Blah. Peduli setan. Guru-murid harus saling terbuka, kan? Harusnya sih.. (==)
pendek sajalah =w= *webe parah* |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 6th October 2009, 13:52 | |
| Kuning kecoklatan bertemu hitam.
Baiklah, perkiraan Ravel Kohler akan siapa yang telah mengetuk pintunya tepat; memang hanya Lioret yang biasa memanggiknya dengan kata Maître. Pemuda tersebut tampak sedikit tersipu-sipu--satu hal yang membuat alis kanannya naik. Apa yang bisa membuat anak didiknya yang bermulut pedas hingga bisa terlihat seperti ini?
Sontak, pria ini pun mengganti posisi duduk, kali ini tidak menyender pada sudut kursi.
“Err—Master tidak sedang sibuk? Saya ingin berbicara sebentar,”
"Tidak." Ravel hanya mengerjapkan matanya, masih sedikit heran. "Tidak, saya sedang tidak sibuk. Duduklah dulu." Ravel menunjuk kursi kayu dengan ukiran jepara yang berada di seberang tempat ia duduk, tepat di depan meja. Dirinya sendiri berdiri dan berjalan menuju jendela, mengambil satu set peralatan teh yang ada di atas meja kemudian membawanya ke tempat tadi. _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 29th October 2009, 20:53 | |
| Seperti yang tampak pada pribadi sang Master. Lio cukup menyukai atmosfer yang tercipta dalam ruangan ini, sedikit tenang dan agak—ehem—klasik menurutnya. Beginikah selera desain seorang Jerman? Melirik kamarnya sendiri yang tidak ia berikan furnitur apapun. Siapa bilang seorang Prancis harus berjiwa mode? Bohong itu. Buktinya seragamnya sendiripun tidak ia modifikasi, apalagi kamarnya. Pria itu menggeser posisi duduknya, menyatakan dirinya tidak sedang sibuk sebelum mempersilahkannya duduk—di sebuah kursi kayu di depannya. Tidak boleh bimbang sedikitpun, kan? Menegakan tubuhnya pada kursi kayu berukiran. Matanya tertunduk ke bawah, tidak berani menatap sang master yang tampak menyiapkan peralatan teh. Ia merasa seperti seorang bocah kecil yang baru saja memecahkan piring kesayangan ibunya lalu meminta maaf pada ayahnya. ..tidak nyambung. “Itu—sebenarnya, tidak begitu penting sih,” katanya, angkat bicara setelah diurungkan begitu lama. “tapi tidak bisa terlepas dari pikiranku, dan jujur saja—itu sangat..sangat..” mulai tergagap. Ia sendiri berpikir bagaimana masalah ini akan selesai, “..sangat mengganggu dan agak aneh.” Memalingkan wajah, Lio merasa sangat bodoh, bagaimanapun ia telah memutuskan untuk membicarakannya, tapi— “tadi aku..” –kenapa kata-katanya tidak bisa keluar?
((OOC: Maap baru rep, salahkan sekolah  *dikemplang* )) |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 5th November 2009, 19:18 | |
| Tangan masih mengurus peralatan perak yang kini mulai terisi oleh cairan bening kecoklatan--teh dengan basis rasa yang kuat, langsung dari India. Sebenarnya, ia lebih menyukai teh dari Hindia-Belanda karena harumnya yang... memang tak dinyana. Tastenya memang demikian, jadi jangan pertanyakan lebih lanjut.
Dengan gerakan luwes nan cepat, dua cangkir teh sudah siap di atas nampan perak. Sang Jendral membawa nampan tersebut--bersama dengan dua cangkir tehnya, tentu saja--menuju arah tempat duduk. Lioret tampaknya berusaha mati-matian untuk berbicara, karena--
“Itu—sebenarnya, tidak begitu penting sih,”
--ketika kalimat itu keluar dari disciplenya, berarti ia sedang berada dalam keadaan yang... cukup memalukan. Hei, ia sudah menjadi pengganti ayahnya entah sejak berapa lama... baiklah, mungkin tidak terlalu lama. Namun, orang yang mungkin penting dalam kehidupan sang pemuda; Ravel Kohler mungkin masuk dalam lingkaran tersebut. Gelas-gelas teh pada nampan mendarat dengan gemulai di atas meja--dua gelas perak yang katanya bisa mendeteksi keberadaan racun pada minuman.
“tapi tidak bisa terlepas dari pikiranku, dan jujur saja—itu sangat..sangat..”
Di tengah racauan pendek milik disciple-nya, pria ini pun duduk di kursi kayu ukiran jepara kesayangannya. Bola mata kuning kecoklatan menatap tajam mulut dari sang pemuda berambut kehitaman, sebelum alisnya naik heran karena Lioret memalingkan wajah. Dan... salahkah matanya ketika ia melihat sedikit perubahan warna muka dari Lioret?
“..sangat mengganggu dan agak aneh.”
Tangan kanan Jendral tersebut meraih cangkir teh, mendekatkan cangkir perak tersebut ke mulutnya, dan meneguk sedikit cairan yang ada di dalam. "...untuk menceritakan kejadian itu, hal tersebut merupakan pilihanmu, Lioret."
Mata coklat kekuningan tampak bertanya-tanya akan apa yang ada di benak disciplenya yang satu ini. _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 5th November 2009, 21:39 | |
| Matanya memang tidak memperhatikan gerakan sang master yang menyiapkan teh untuk mereka, tapi hidungnya dapat menangkap bau yang agak—menurutnya—menyengat penciumannya yang bahkan tidak dalam keadaan optimal. Dapatkah sang master menebak bahwa ia sedang dalam masalah yang sangat—memalukan? Setidaknya ia mengharapkan demikian, sebagai seseseorang yang telah ia anggap ayah selama bertahun-tahun, di satu sisi ia mengharapkan kebalikannya.
Dan yang dikatakan Master-nya memang benar, ingin mengatakannya atau tidak itu memang keputusannya. Maka ia harus mengatakannya, hal memalukan itu, setelah menerobos masuk kamar Master Ravel—dengan bonus dua cangkir teh berbau tajam. Kembali menundukan kepalanya seolah tertarik dengan pergerakan lembut permukaan teh di depannya, ia berkata, “aku—aku—“
“mencium Shion. Benar-benar tidak sengaja,”
Keluar sudah. Kata-kata itu meluncur sangat cepat dari mulutnya, yang sekarang terkatup rapat menunggu reaksi dari lawan bicara. |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 8th November 2009, 15:10 | |
| Tangan yang memegang cangkir teh terasa kaku.
Mata kuning kecoklatan segera terpaku ke arah figur pemuda yang masih tampak... penuh malu luar biasa amat sangat. Berlebihan? Tidak, memang inilah sosok yang tesedia di depannya sekarang; sebuah ekspresi jujur akan rasa malu yang mungking tengah memakan sekujur tubuh Lioret, hingga akhirnya pikirannya berharap agar bumi menelannya.
Ravel Kohler bahkan tidak menurunkan cangkir tehnya ketika manik miliknya menatap tajam sang disciple. Benarkah kisah ini? Bahwa kedua anak didiknya tidak sengaja berciuman? Astaga, mereka masih muda, namun kenapa sudah bisa melakukan hal seperti itu--
Ravel menghela napas panjang. Pikirannya kembali memutar kata-kata dari sang pemuda--tidak sengaja. Baiklah, itu setidaknya masih bisa ditolerir. Dipertanggungjawabkan? Yah, menurutnya, jika Shion ternyata tidak bisa memaafkan tindakan dari pemuda ini... yah, Lioret harus memberikan kompensasi--sepadan dengan apa yang ia lakukan, meskipun sengaja.
Tangan kanan menaruh cangkir teh di atas meja, sementara kepalanya menggeleng. Ravel Kohler tidak boleh melihat pernyataan ini dari satu sisi. Bagaimanapun juga, ia belum mengetahui seluk beluk kejadian. Tidak mungkin ia bisa mengambil kesimpulan dari satu pernyataan semata, bukan?
"...Comment est-ce arrivé?" Mata kuning kecoklatan terkunci pada manik hitam milik Lioret. "Expliquez-vous."
Kedua tangan sudah tersilang rapi di depan dada, sementara tatapan Ravel Kohler terasa sangat meminta--memerintah, malah. Menurutnya, mereka belum cukup umur bahkan untuk melakukan kontak fisik semacam itu.
...
Katakanlah ia kuno, namun seperti itulah karakternya. _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 8th November 2009, 21:07 | |
| Ahahahah, keluar juga. Jadi sekarang ia hanya bisa menunduk dan berusaha keras untuk menatap iris emas di depannya yang menatap sosoknya tajam. Apa ia akan dibunuh, diusir, tidak dianggap disciple-nya lagi? Atau ia akan diumpankan ke Akuma level 1 yang kelaparan menunggu level 2?
Kemudian ia mendengar Master Ravel menghela nafas, suara yang membuatnya makin merinding dan berkeringat dingin. Lio membayangkan kepalanya terpisah dari tubuh oleh Claymore besar pria di depannya. Mengerikan. Paling tidak ia lebih memilih mati dalam pertarungan daripada mati konyol seperti ini. Kembali obsidiannya melihat cangkir teh di depannya mendarat di atas meja, pria itu menggelengkan kepalanya.
Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menjelaskan—hal yang—sumpah—tidak nyambung itu. “Eh bien, nous jouons la neige est tombée, et si,” ya, sesimpel itu sebenarnya. Sekarang ia bisa membayangkan ekspresi seseorang yang merasa ditipu.. “Au lieu de cela elle a continué avec un.....” terhenti sebentar. Apa namanya, ciuman itu? Sesuatu yang tampak lazim dilakukan oleh orang dewasa, seperti ayah dan ibunya, tapi tidak olehnya, ”..français kiss”
Tapi kemudian ia mengangkat kepalanya, berusaha menatap mata sang Master, “Mais c'est de ma faute, à rêver à cette époque.”
Benar, kan?
((OOC:
Eh bien, nous jouons la neige est tombée, et si: Well, we play the snow fell, and so
Au lieu de cela elle a continué avec un.....: Instead she continued with a .....
Mais c'est de ma faute, à rêver à cette époque: But it's my fault, to daydreaming at that time)) |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 10th November 2009, 06:37 | |
| Hanya dua patah kata yang sempat terbesit dalam benak pria ini: Ya Tuhan.
Dengan segala macam keanehan yang mengherankan, anak didiknya--keduanya malah!--tidak sengaja berciuman! Keduanya memang mengawali semua itu dengan sebuah permainan kecil di padang kosong bersalju.
”..français kiss”
Siapapun bisa melihat bagaimana jari dari pria berambut kuning ini mencengkram kulit pipi. Français Kiss? Ya Tuhan, bila mereka sudah merasakan yang seperti itu di usia muda mereka, mau jadi apa dunia ini!
Lioret mengakhiri ceritanya. Matanya sudah melepaskan kontak dari mata kuning kecoklatan milik Ravel; salah tingkah? Bukan. Malu setengah mati? Wajar. Ravel Kohler masih menatapnya dalam-dalam; otaknya mencoba memformulasikan sebuah jawaban yang... sekiranya tidak menyakitkan. Bagaimanapun juga, kisah ini masih satu pihak dan terjadi karena unsur ketidaksengajaan bukan?
...
Ia yang akan menilainya nanti, setelah mengobrol dengan anak didinya yang satu kagi; orang yang katanya mencium Lioret duluan.
Ravel menghela napas panjang. Mata kuning kecoklatan itu sempat menghilang dibungkus daging sebelum muncul kembali. Mulut menyuarakan beberapa patah kata. "Bagaimana dengan Shion? Apa yang ia lakukan setelah... insiden itu?" _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 11th November 2009, 15:13 | |
| Memang wajar jika sang Master kaget mendengarnya, apa yang telah dilakukan anak didiknya tanpa sepengetahuannya. Apalagi mereka memang tidak pernah diajarkan hal seperti itu olehnya. Kenapa? Karena mereka memiliki orang tua sebelum menjadi Exorcist. Lio tahu Shion yang polos, tidak menyadari kelakuannya.
Begitupula pemuda itupun akan menerima segala bentakan dari Master Ravel, jika pria itu bukan Master Ravel yang sekarang. Benarlah General di depannya tampak terdiam sebelum melontarkan satu pertanyaan.
Obsidian-nya merespon kaget. Tangannya mencengkram lutut celana panjangnya, tampak gelisah. Seingatnya Shion pergi, berlari, setelah mengatainya bodoh dan setelah itu ia tidak pernah bertemu dengan gadis itu lagi.
"Aku tidak tahu," kira-kira apa itu jawaban yang benar? |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 13th November 2009, 16:02 | |
| "Aku tidak tahu,"
Saat pemuda berambut kehitaman--anak didiknya--memberikan jawaban, tangan Ravel Kohler sudah meraih cangkir teh miliknya, mendekatkannya ke mulut, dan menghirup aroma teh untuk menenangkan dirinya. Sisi iblis dalam dirinya--sisi yang selalu muncul ketika ia berhadapan dengan alat dari Earl--menghasutnya untuk menyiram teh tersebut, langsung ke arah sang pemuda.
Ia tidak melakukan hal tersebut.
Untuk apa menyiram sang anak didik bila hal tersebut tidak membuahkan pelajaran? Di saat yang sama, hawa tersebut hilang. Heran; kadang-kadang ia sendiri heran dengan dirinya sendiri yang bisa berpikiran ekstrem seperti ini.
Aroma teh membuatnya sedikit santai. Sedikit; tidak ada perubahan signifikan dalam kekagetannya setelah mengetahui perbuatan tidak sengaja dari pemuda tersebut. Oh, mata kecoklatan tersebut sempat menghilang dari pandangan untuk beberapa saat, sementara kaki kanannya tersilang pada kaki kiri.
Kemudian, sebuah sorot kebapakan.
"Lioret, kau sadar bahwa hubungan demikian lebih baik dilakukan saat dua orang menjalin hubungan sebagai suami-istri." Tangan kanan menaruh cangkir. "Tanpa sengaja, kau melakukannya--dengan Shion pula. Semuanya adalah kecelakaan."
Ravel Kohler sudah berusaha untuk membuat kata-katanya terdengar datar, karena ia hanya membeberkan fakta yang ia dapat.
"Kau sudah meminta maaf padanya?"
Akhirnya, sebuah pertanyaan beresensi. _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 29th November 2009, 08:02 | |
| Ya, semuanya adalah kecelakaan. Lioret Ifrit Shirogane mengetahui fakta itu sejak tadi tapi tidak bisa menghilangkan perasaan kesal dan bersalah darinya. Walaupun ia tahu sifat Shion yang polos seperti anak kecil mungkin saja tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Tapi itu membuatnya sedikit kesal. Pertanyaan Master Ravel benar, apakah Shion—dengan sifat kekanakannya itu—marah padanya dan tidak akan memaafkannya? Dalam benaknya Lio memutar kembali adegan saat gadis pirang itu pergi tanpa berkata apapun kecuali ‘Lio bodoh’ apa itu berarti ia marah? Mungkin.
“Aku sudah meminta maaf,” dan seingatnya ia hanya menjawab ‘tidak bisa bernapas’. “Dan jawabannya bukan ‘tidak masalah’,” artinya ia tidak dimaafkan? Seperti yang dikatakan Master-nya, memang sewajarnya dilakukan oleh suami istri—bahkan ia sering menyaksikan adegan itu 10 tahun lalu antara ayah dan ibunya—dan usia 18 tahun mungkin saja belum mencukupi walaupun usia se‘tua’ itu dapat dikatakan dewasa.
Obsidian-nya terpaku pada cangkir teh yang tampaknya sudah dingin, melemparkan pandangannya dari mata emas Master Ravel yang menurutnya mirip milik ayahnya. “Sebenarnya...” akhirnya ia mulai bicara, “arti ciuman itu apa?”
Pertanyaan bodoh remaja 18 tahun. |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 4th December 2009, 17:44 | |
| “Sebenarnya... arti ciuman itu apa?”
'Masih pemuda, 17 tahun dan... tidak mengerti kesakralan dari sebuah hubungan intim.' Sebersit senyum lega; setidaknya, dengan begini Ravel bisa berasumsi bahwa muridnya memang masih... suci? Lebih baik bukan, daripada memiliki anak didik bejat yang kerjanya menjatuhkan harga diri wanita lain? Kalau... Lioret seperti Francis, entah dengan apa ia akan mengajarkan moral pada pemuda tersebut.
...namun, karena masih suci... Ravel Kohler sendiri harus berhati-hati menjelaskan dan berkata-kata. Salah kata, maka katakan selamat tinggal pada muridnya yang sedikit kasar, namun menghargai harga diri orang lain. Oh? Memang sejak awal, Ravel Kohler bertujuan mendidik anak murid menjadi orang semacam itu, bukan?
Mata coklat kekuningan menatap datar mata hitam yang ada di seberang meja. Apakah ada rasa bersalah di sana? Atau justru rasa penasaran karena pertanyaannya belum terjawab?
"Ketika kau mencintai seseorang..." Dalam pikirannya, terbesit bayangan Nicola beserta dengan keanggunannya; segalanya mengenai wanita tersebut selalu membuatnya gembira di setiap saat. Hanya karena pikiran tersebut, senyum tipis kembali memperlihatkan diri. "...pastinya kau akan melakukan apapun, asalkan ia tetap selamat--gembira, belajar... dan agar ia terus tampak tersenyum, agar ia juga selalu bisa jujur--karena kau tahu bahwa kau adalah pilihannya, seperti ia adalah pilihanmu."
Kedua tangan menyatu. Jari-jari Ravel Kohler terpaut sedemikian rupa di depan mulutnya, menutupi senyum pria yang perlahan melebar.
"Ciuman... merupakan salah satu ekspresi untuk melampiaskan perasaan tersebut. Sesuatu yang sakral... bukan hanya sesuatu yang pantas dimainkan dan diberikan pada sembarang orang."
Mata coklat kekuningan tersebut mengawasi Lioret; mencoba untuk mengantisipasi reaksi dari anak didiknya. _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | | | [CENTRAL] Problem Solving | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|