An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [CENTRAL] I Have Never Ever!

Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4  Next
AuthorMessage
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime11th October 2009, 22:13

Ah. Ia melupakan gadis berambut pirang yang menjadi murid didik Shreizag.

Lia, begitulah setidaknya ia mengenal gadis ini dari nama, masih berdiri memegangi boneka yang biasa ia bawa. Nona yang selalu memberikan kesan gugup tersebut lolos dari pandangan jendral satu ini. Mungkinkah ia sendiri kurang perhatian? Baiklah, dahaga yang perlahan muncul merayapi bagian belakang tenggorokannya memang mampu menyita segala perhatiannya—dan semua itu tertuju pada satu botol brandi milik seorang jendral yang baru saja ia berikan sebagai hadiah tadi pagi.

…Seharusnya ia membeli tiga botol.

Giraile yang menyambutnya dengan sebuah desis (tanda peduli?) membuat alis kanan naik. Seorang Giraile sampai harus bernada demikian, hanya karena dirinya terlambat sekitar lima menit? Baiklah, memang dalam tata krama ada yang namanya aturan tepat waktu dan sebagainya. Sayangnya, sejauh pengetahuan Ravel Kohler, wanita berdarah Armenia ini mungkin tidak memedulikan kualitas yang satu itu. Kenyataan bahwa dirinya memang benar ditunggu membuktikan bahwa jendral wanita ini tengah merencanakan sesuatu—atau paling tidak, wanita tersebut memiliki sebuah rencana yang mungkin tidak membahayakan khalayak ramai.

….tunggu, tidak membahayakan? Coret kata-kata tersebut dari pikiran Jendral berambut pirang ini, karena Giraile Arevig Asdvadzadour tidak mungkin melakukan hal-hal yang aman terhadap khalayak ramai.

Ia memilih untuk mendiamkan mulutnya, karena ketiga orang yang ada di depannya (termasuk di antaranya Shreizag, Lia, dan Giraile) sedang ada… diskusi? Menonton kelihatannya lebih mengasyikkan bagi pria ini, karena ia akhirnya menyadari bahwa Shreizag, meskipun dengan reputasi seorang Jendral jarang berekspresi, juga memiliki rasa… apa itu namanya? Kebapakan? Yang pasti, satu hal yang belum pernah ia saksikan dengan mata kepala sendiri. Ditutup dengan keputusan bulat dari Lia, Ravel Kohler hanya menggelengkan kepala dengan miris. Perasaan buruknya tetap naik, dan keputusan Lia seakan memperburuk status tersebut.

Sadar bahwa dirinya hanya memblokade satu-satunya jalan masuk menuju kamar Giraile, ia segera pindah ke tempat kosong (yang tak nyana di sebelah Shreizag, agak ke belakang karena menyender dinding). Alasan? Tidak ada yang spesial; lebih ke arah, karena ia dapat melihat seluruh pemandangan kamar setelah berpindah lokasi. Seiringan dengan itu, Giraile mulai menjelaskan agenda mereka semua malam ini. ‘Permainan’ ini tampaknya melibatkan pernyataan ‘Never Have I Ever…’ secara ekstensif. Kreatif, di saat yang sama membahayakan.

Menyadari pengetahuan ini, sepasang alis pirang beradu—gurat rasa terganggu. Di saat yang sama, Ravel Kohler ingin mengutuk lidahnya sendiri yang telah mengucapkan janji untuk datang malam ini. Oh, mengapa khawatir dengan pertanyaan ini? Jangan anggap jendral yang satu ini bodoh—pengakuan di sini sama saja dengan menyebar aib!

…bukan berarti ia harus mengakui beberapa aib, bukan?

Tangan beradu, tersilang di depan dada sang jendral berambut pirang ini. Mata kuning kecoklatan menatap tajam Giraile, seakan ia ingin menggilas wanita itu di tempat karena permainan yang mungkin akan berbuah menjadi sumber pengakuan terbesar dan terkeji baginya. Apa yang bisa ia lakukan juga, toh dirinya sudah memberikan sebuah janji untuk datang bukan? Hanya bisa pasrah, dan menunggu perkataan Giraile selesai hingga—

—dagu pria berkebangsaan Jerman-Prancis ini turun beberapa senti dari mulutnya yang tersegel rapi, membentuk sebuah vokal ‘O’ pada bibirnya. Slaah satu dari jendral melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan di ruang privat, tentunya dengan persetujuan wanita yang bersangkutan dan dengan manner yang tepat.

Demi Tuhan, apa-apaan tindakan senonoh yang dilakukan Francis U. C. Karlsen!

Dobrakan keras pada pintu, dan seorang exorcist berambut pirang segera berteriak melihat bagaimana ia melihat tindakan sang jendral. Mulut sudah mengatup tutup, sementara telinganya serasa berdering karena suara Allegra yang terdengar melengking. Amat. Sangat. Michelli juga tampak histeris—sesuatu yang wajar, apalagi beliau teman dekat dari Giraile?—sementara Shreizag…

"Anda yakin dengan apa yang Anda lakukan tadi? Giraile bukan wanita, lho."

Sontak, pria ini tidak bisa menahan hasrat untuk menepuk dahi tanda tidak percaya. Jujur saja, Ravel menerjemahkan hal ini sebagai sebuah sindiran dingin, meskipun kurang ekspresif. Kapan pula pria berambut putih itu bersikap ekspresif? Hampir tidak pernah, setidaknya di saat mereka bertemu.

“…Ehm.”

Sebuah dehaman, keras. Dengan tindakan ini, Ravel sendiri berharap beberapa kepala berpaling ke arahnya. Siapapun sadar akan gurat kesal, heran, bête, dan percuma-kalian-membuang-buang-waktuku-kalau-kita-tak-memulai-agenda yang jelas-jelas terlukis dalam air mukanya.

“…Lebih baik kita mulai saja.” Usul Ravel singkat, seakan tidka mengacuhkan apa-apa yang telah terjadi dalam ruangan. Hei, ia tidak datang untuk pernak-pernik acara ini—setidaknya ia hanya perlu memenuhi janjinya, tak kurang dan tak lebih. Mata kuning kecoklatannya menyorot figur Jendral yang baru saja membuat sensasi di ruangan tersebut.

“Jendral, kebiasaan semacam itu hanya akan membawa sulit daripada mudah.” Ravel hanya berujar singkat, tidak menambahkan saran atau pernak-perniknya. Tidak perlu—anggapannya yang satu ini pasti akan masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

..Oh, ralat. Informasi ini pasti mental.




OOT: Rekap. Pos terpanjang saya di sini mungkin?

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Francis U. C. Karlsen

Francis U. C. Karlsen

Posts : 96
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 27

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime12th October 2009, 06:04

Tonjokan atau tendangan? Biasa. Makian dan sumpah serapah? Lebih biasa lagi.

Setidaknya itu dua hal yang diperkirakan Francis sebagai respon dari Asdvadzadour, menilik sikapnya yang barbar dan tubuhnya yang berotot. Kedua hal itu sudah merupakan respon umum dari korban-korbannya sehingga Francis sudah siap siaga setiap saat—anggaplah latihan serangan Akuma mendadak, lumayan kan' kalau bisa mendapatkan latihan sparring gratis? Nah, tapi jelas saja kalau Francis tidak akan menyangka respon Asdvadzadour yang sati ini.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"

Bukan jeritan dengan penuh kesan kewanitaan ini. Kalau Francis bukan pelakunya, pasti yang keluar dari mulutnya adalah 'Wah, bisa juga berteriak seperti itu?', bahkan setidaknya ia pikir teriakan yang keluar akan menyamai dengan hewan buas, bukan sesuatu yang membuat Francis percaya bahwa Asdvadzadour adalah perempuan selain dari bagian yang tadi disentuhnya.

Oke, berhenti dengan keheranan diri sendiri dan kembali ke situasi yang sebenarnya. Tiba-tiba saja ada suara melengking yang masuk ke dalam—agak familiar, namun Francis belum bisa menebak siapa yang mengeluarkan suara itu. Yang ia tahu hanyalah tiba-tiba dirinya merasa ditarik ke belakang. Bisa saja Francis menahan tubuhnya agar tidak bergerak—namun serangan tiba-tiba ini lagsung membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang, ke arah yang menariknya.

"A-apa yang anda lakukan?!"

"Kenapa? Kau juga mau?" Tanya Francis yang malah tidak memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri—dan ingat, Francis bukan tipikal penakut yang akan bertekuk lutut minta ampun ketika dimarahi—malah sebaiknya hati-hati apabila berinteraksi dengan Francis, usahakan bagian-bagian yang menggoda itu ditutupi, sebab...

...bahkan sekarang kedua tangannya mendarat di dada Mlynarikova, disciplenya.

Kriett

"Maraschine kelihatannya menunggu anda di luar, tuan."

"Eh?" Tiba-tiba saja Marino masuk dan menyampaikan bahwa disciplenya yang terakhir—selain Mlynarikova dan Marino sendiri—menunggunya di luar, dan jelas ada sosok cantik sepertinya tengah kebingungan. "Masuk saja—Asdvadzadour sepertinya sedang ingin membuat 'pesta'." Ujarnya polos, melepaskan cengkraman dari kedua dada Mlynarikova. Maafkan sikap General yang satu ini, sepertinya dia memiliki kebiasaan yang tidak mungkin dihilangkan.

"Jendral Karlsen,"
"Anda yakin dengan apa yang Anda lakukan tadi? Giraile bukan wanita, lho."


Dan Halverson angkat bicara.

"Tenang saja—menurut yang tadi kupegang, dia wanita. Ah—Asdvadzadour, coba kau buka celanamu, supaya Halverson bisa yakin kalau kau wanita."

Percayalah, kalimat itu sepenuhnya candaan—walaupun wajahnya tidak menunjukkan guratan rasa bercanda sekalipun, tapi tetap saja Francis maunya bercanda, meskipun ia tidak menolak andaikan Asdvadzadour benar-benar membuka celananya di sana.

“Jendral, kebiasaan semacam itu hanya akan membawa sulit daripada mudah.”

"Jendral Kohler—tenang saja. Sampai saat ini aku belum mendapatkan masalah karena itu." Yap, kalau kalimat itu bisa membuatnya bertobat, maka ia seharusnya sudah bertobat dari entah berapa tahun yang lalu, sayangnya Francis terlalu bebal untuk itu. Oke, kapan permainan dimulai?

_________________
Want my Cigarette?
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 205we9s
-Maraschine...a french kiss for you-
Ang || Lint
Back to top Go down
View user profile
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime12th October 2009, 08:58

Quote :
"Kenapa? Kau juga mau?"

Untuk pertanyaan ini jelas saja kan jawabannya itu tidak. Tidak yang besar dan tebal. Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tak ada gunanya kau menjawab pertanyaan macam itu dari general macam dia. Karena sekarang kedua tangannya yang telah memakan banyak korban mendarat di dadanya sendiri.

Dada...?

. . . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . Da-dadanya sendiri?!

Allegra terkesiap, reaksi yang tercetak di wajahnya sangat ekspresif. Bibirnya merengut, urat nadi kekesalan berkedut-kedut di dahinya sementara kedua pipinya malah membulat. Suara geraman terdengar dari bibirnya, geraman kesal sekaligus menyesali kebodohannya sendiri. Telapak tangannya mengepal lho, siap melayangkan hook kanan atau jab kiri bak petinju profesional jika saja pria yang di depannya itu bukanlah Generalnya sendiri, yang mesum. Atau mungkin Francis ingin tahu rasanya dicekik dengan syal dari bulu Flamingo yang ia pakai sekarang?

Untungnya kedua telapak tangan Francis sudah menyingkir di saat yang tepat.

Oke sudah berapa kali sih bagian tubuhnya yang satu itu –dan yang lain – dijamah seenaknya oleh Generalnya sendiri? Sekali dua kali? Puluhan atau ratusan? Berapapun itu Allegra sudah tak sanggup untuk menghitungnya –dan seharusnya demikian juga dengan Izarra – .

Kenapa sih dia tidak melakukan hal yang sama pada Glaucio?!, Allegra membatin kesal.

Demi Tuhan dia bahkan belum pernah menjalin hubungan bersama pria manapun dan ia-pun belum pernah menyerahkan dirinya pada siapapun itu. Tapi.. tapi? Sensasi pertama yang dia rasakan bukanlah dari pria yang ia harapkan.... Oh Mama oh Papa....

Mujurnya Francis terdistraksi oleh kedatangan rekan-rekan lainnya yang baru datang. Allegra –dengan telapak tangan yang masih mengepal kuat – menatap mereka, matanya seolah-olah menyerukan 'Kenapa kalian baru datang?!' dengan ekspresi yang garang sekaligus memelas.

Akhirnya Allegra tak bisa melakukan apapun, dia menggeram kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya. Tatapannya tajam pada Francis, Generalnya. Oh ya, hal itu mengingatkan gadis yang mengoleksi berbagai macam syal bulu itu mengingat sesuatu, dia sedang berada di dalam kamar seorang General lain!

Dan seperti biasa Allegra kembali mendapatkan manner-nya sebelum dia melakukan tindakan destruktif. Mata birunya sekarang memandang orang-orang disana dengan tatapan yang melunak, General Halverson dan General Kohler tampaknya menegur Francis. Yang ternyata memang cukup gila dari cara dia menjawab kedua general itu.

Apapun kalimat yang tadi dilontarkan mereka gadis berusia 20 tahun itu tidak dapat mendengarnya. Bagaimana kau bisa berkonsentrasi pada suara-suara di sekitarmu jika batinmu sendiri menjerit-jerit? Sinar matanya berhenti pada General wanita korban Francis, sorot matanya mengeras namun suara yang terlepas dari bibirnya –yang tersenyum – tetap terdengar lembut.

“Maaf karena saya masuk tanpa permisi General Asdvadzadour ... Anda boleh melakukan apapun pada General Karlsen jika anda mau”

Dan saya siap membantu Anda.

Kalimat terakhir tidak dia ucapkan, namun dia berharap Giraille bisa menangkap arti sorot matanya.
Back to top Go down
View user profile
Ingressa Michelli

Ingressa Michelli

Posts : 77
Umur : 27
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime12th October 2009, 12:58

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"

Dugaan Ressa tidak banyak meleset, Giraile berteriak. Tapi, ayolah, apa gunanya tubuh sebesar Giraile kalau bukan untu melindungi diri sendiri? Tinggal tonjok saja si General kurang ajar itu, sudah beres kan? Tapi ini malah..

"Jendral Karlsen,"
"Anda yakin dengan apa yang Anda lakukan tadi? Giraile bukan wanita, lho."


Ok, Halverson, aku tahu kau berusaha membela Giraile, tapi bukan begitu caranya. Ressa sungguh sudah berada pada ambang batas kesabarannya.

"Tenang saja—menurut yang tadi kupegang, dia wanita. Ah—Asdvadzadour, coba kau buka celanamu, supaya Halverson bisa yakin kalau kau wanita."

General sialan ini lagi-lagi bicara sembarangan. Ressa berdiri. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, berupaya menahan diri. Sekali lagi kau bicara sembarangan,pikirnya.

“Jendral, kebiasaan semacam itu hanya akan membawa sulit daripada mudah.”

"Jendral Kohler—tenang saja. Sampai saat ini aku belum mendapatkan masalah karena itu."


Ya, kau akan dapat masalah SEKARANG! Ya, Ressa tanpa basa-basi mendekati sang General tak beradab itu.

“Maaf karena saya masuk tanpa permisi General Asdvadzadour ... Anda boleh melakukan apapun pada General Karlsen jika anda mau”

Mungkin Giraile masih, shok, jadi kuambil alih ini! Masih dengan mata terbuka lebar ia merunduk di dekat Francis, dan berbisik.

"Mungkin kau lebih tertarik dengan yang ini!"

Dan sebuah tamparan yang keras mendarat di pipi sang General. Mungkin Giraile lebih suka menunggu sampai sang General mabuk untuk menghajarnya, tapi Ressa bisa melakukannya sebelum dan sesudah. Bukankah itu lebih baik, hmm? Dengan itu Ressa kembali ke posisinya semula dan melayangkan pandangannya pada Giraile, sahabatnya itu.
Back to top Go down
View user profile http://sereisa.multiply.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime12th October 2009, 16:24

@ Michelli: Bwakakakakkk, pengen menggambar adegan Ncis digampar sama Ressa *digampar juga*




Giraile baru menyadari bahwa mungkin Shreizag membantunya menenangkan dirinya dengan menepuk pundaknya pelan, namun itu bukan sesuatu yang ingin diakuinya; bahkan, bisa dibilang hal itu tidak tersaring ke alam sadarnya. Dalam kepala, ia masih menimang-nimang urutan prioritasnya. 'Tunggu. Sepertinya target ketiga terlalu ringan. Mungkin digeser ke urutan kedua saja... atau satu? Tetapi--'

Oh, tampaknya Shreizag hendak berbicara. Apa gerangan yang akan dikatakannya?

"Anda yakin dengan apa yang Anda lakukan tadi? Giraile bukan wanita, lho."

Oh, demi Tuhan Yang Maha Kuasa. Baiklah, pikirannya sudah bulat. Mengenai siapa yang patut dijatuhkannya pertama, Francis Karlsen atau Ravel Kohler, bisa dipertimbangkannya nanti. Jendral Norwegia yang satu ini patut untuk menempati urutan pertama selamanya. Ia mengepalkan tangan kanannya, namun terhenti dari meluncurkan tonjokan spontan pada lelaki yang umumnya tidak berekspresi itu; tidak baik menakuti 'tamu'. "Bangsat kamu, Shrei! Memangnya kamu pikir yang ada pada dadaku itu apa--"

Ia mendengar suatu usul dari jendral yang kini sudah menzhalimi wanita lain, muridnya sendiri. "Ah—Asdvadzadour, coba kau buka celanamu, supaya Halverson bisa yakin kalau kau wanita."

Seandainya ia tidak terprovokasi, mungkin ia tidak akan semudah itu menerima usul yang bersangkutan. Tetapi, dengan kepala yang sudah panas dan siap menghasilkan umpatan apapun untuk membuktikan bahwa Shreizag salah, "Benar itu! Kamu masih tidak percaya?!" Dan, ketika ia sudah siap memberikan akses, dehaman keras dari Ravel Kohler menyadarkannya. Ia menoleh ke arah pria Jerman itu. Yang bersangkutan angkat suara. “…Lebih baik kita mulai saja.”

"... Ide bagus," gumamnya pelan, terpaksa menyetujui. Untuk kali ini, jendral tertua di cabang Eropa tidak salah. Baru kemudian, ia menyadari bahwa Ingressa berjalan mendekati Francis. Hatinya yang berkecamuk memerintahnya, dengan tidak sukses, untuk berteriak 'Kau gila, Michelli?! Kau tidak lihat apa yang telah ia lakukan pada dua wanita lain sebelummu? Jangan mendekaaaaat', namun tampaknya ia tidak perlu melakukannya--PLAKKKK. Suatu tamparan yang cukup mantap mendarat pada wajah pria Perancis itu.

Ingressa menatapnya, dan Giraile merespon dengan senyum yang cukup memamerkan kepuasannya terhadap tindakan wanita pirang itu. Seusai itu, matanya bertemu dengan sorotan lembut Allegra, sesama korban tindakan nista Francis. “Maaf karena saya masuk tanpa permisi General Asdvadzadour ... Anda boleh melakukan apapun pada General Karlsen jika anda mau.”

"Ahh, itu tidak perlu~" Mungkin suara manisnya terlalu dibuat-buat, tetapi apa boleh buat. Ibu jarinya menunjuk pada pameran botol miras yang ada pada meja kerjanya. "Barangkali kau tertarik untuk bergabung dalam permainan kita? Kau tahu cara main Never Have I Ever?" Sejujurnya, Giraile malas menjelaskan ulang. Walau demikian, ia tahu Allegra juga pasti tidak akan sungkan-sungkan 'membantu' menjatuhkan Francis dalam permainan ini, di mana hal yang paling kau tidak inginkan, jika kau masih ingin menjaga rahasiamu, adalah musuh. Ia pun mengalihkan pandangannya ke Ravel, dengan senyum terlampau 'manis' yang sama. "Dikau juga belum mengambil jatahmu, Ravel Kohler. Ingin Calvados itu?"

Giraile menatap kerumunan Disciple yang kini ada di kamarnya dan sekitar; cider apel itu dengan mudah bisa ia berikan pada salah satu. Tetapi... "Kau!" Ia pun menunjuk pada satu-satunya Disciple lelaki Francis. "Gabung!" Dan mungkin, Maraschine yang dari tadi disebut-sebut namanya itu juga bisa turut berpartisipasi. The more, the merrier... selama tambahan itu tidak memiliki rasa dendam pada dirinya sendiri, tentunya, oho.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime12th October 2009, 16:57

Oh, rupanya statement yang baru dikatakannya mengundang berbagai reaksi dari semua penghuni kamar; apa ia mengatakan hal yang aneh? Seorang Ravel Kohler saja tak mampu menahan hasratnya untuk menepuk dahi; sebuah pemandangan yang langka bagi Jendral berkebangsaan Jerman tersebut. Namun, reaksi yang dikeluarkan oleh orang yang dituju malah jauh lebih santai:

"Tenang saja—menurut yang tadi kupegang, dia wanita. Ah—Asdvadzadour, coba kau buka celanamu, supaya Halverson bisa yakin kalau kau wanita."

Alis pria Norwegia ini terangkat sedikit, sementara tangannya turun dari pundak Giraile, "Tidak, yang saya maksud bukan itu--" fisiknya mungkin iya, tapi dalamnya? Namun wanita di sebelahnya tak memberinya waktu untuk menjelaskan lebih lanjut, "Bangsat kamu, Shrei! Memangnya kamu pikir yang ada pada dadaku itu apa--"

"Ah—Asdvadzadour, coba kau buka celanamu, supaya Halverson bisa yakin kalau kau wanita."

"Benar itu! Kamu masih tidak percaya?!"


Seandainya seorang Shreizag Halverson adalah orang yang ekspresif, barangkali ia sudah tertawa geli sekarang, mendengar reaksi Giraile yang seperti sudah kehilangan akal sehatnya akibat terprovokasi. Namun karena ia bukan orang yang seperti itu--bertolak belakang, malah--, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Menatap dengan tenang segala keunikan yang terjadi di hadapannya.

Ravel mendeham keras, mengalihkan segala keributan padanya, namun keheningan itu tidak berlangsung lama karena seorang wanita pemberani maju, dan melakukan hal yang spektakuler.

"Mungkin kau lebih tertarik dengan yang ini!"

Astaga, Ingressa. Ingressa Michelli. Shreizag sangat tidak mengharapkan Ressa melakukan hal nekat itu; kenapa? Karena besar kemungkinannya Francis akan menjadikan wanita Italia itu sasarannya juga. Ressa adalah temannya selama hampir 10 tahun dan--demi Tuhan--Shreizag sangat tidak menginginkan hal itu terjadi. Daripada mengikuti jalannya permainan, prioritas pria Norwegia ini berubah, tampaknya ia harus melindungi Ressa dan Lia dari segala macam bentuk bahaya yang bisa menyerang mereka.

Karena itulah sekarang ia berjalan mendekati Ressa, dan berdiri di sampingnya. Tangan kanannya menepuk pundak Ressa pelan, menenangkan emosi wanita itu yang baru meledak barusan. Mata biru mudanya beradu dengan mata biru tua milik wanita itu; tidak, ia tidak akan menambahkan kalimat macam Ressa bukan wanita atau sejenisnya, karena Shreizag tahu bahwa Ressa adalah seorang wanita seutuhnya.



[OOC: Setelah saya baca postingan di atas dan reply sendiri... Ngerti deh kenapa pada ingin menumbangkan Shrei =)) ]

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime12th October 2009, 21:35

Terdapat jeda sebelum General wanita itu menimpali perkataannya. Jeda dimana seorang wanita yang dia kenal sebagai Section Leader mendekati Francis dan melayangkan tamparan pada Francis. Yang Allegra kesalkan adalah; kenapa Francis tidak melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada gadis berusia 20 tahun itu tadi padahal mereka sama-sama mencegah jamahan-jamahan buas Francis.

Oke bukannya Allegra mengharapkan hal seperti itu tapi tetap saja kan jika kau saja yang mendapatkan hukuman itu terasa tidak adil! Tolong maklumi caranya berpikir, sungguh gadis ini masih belia dan tidak senang berpikir terlalu panjang.

Quote :
"Ahh, itu tidak perlu~"

Suara General Wanita itu mengalihkan perhatiannya, wajahnya kembali menoleh pada Giraille yang ternyata membalas dengan cukup ramah untuk hitungan wanita yang memiliki lebih banyak otot daripada dirinya. Dan Allegra sama sekali tak memiliki keinginan untuk menambah guratan-guratan ototnya. Lengannya yang terlihat kokoh –yang selalu ditutupi dengan seragam exorcistnya yang berlengan panjang – sudah lebih dari cukup. Setidaknya dia masih ingin mempertahankan lekuk-lekuk wanitanya; atas-depan dan bawah-belakang yang cukup mengundang serta pinggang ramping.

Quote :
"Barangkali kau tertarik untuk bergabung dalam permainan kita? Kau tahu cara main Never Have I Ever?"

Alis gadis Praha itu meninggi, “Sejujurnya saya pernah melakukan permainan itu, beberapa kali...” bibirnya menutup. Berusaha melupakan suatu fakta mungkin? Ah apapun dosa yang dia perbuat tidak akan keluar, belum.

Bola matanya yang berwarna biru cerah mengikuti arah jari Giraille menunjuk, beberapa botol tertata indah di meja kerjanya. Hmm mungkin kau penasaran bagaimana Allegra yang selalu diawasi ketat oleh kedua orang-tuanya tampaknya cukup familier dengan permainan yang melibatkan konsumsi alkohol berlebih seperti 'I Have Never Ever'? Seperti gadis lainnya tentu saja, dia dan almarhumah kakaknya tentu pernah mengelabui orang tua mereka beberapa kali. Toh semakin ketat kau diawasi semakin ingin kau kabur. Lagipula terlihat kan kalau Allegra bukan tipe gadis yang benar-benar penurut?

“Panggil saya Allegra, Nona Asdvadzadour,” bibirnya mengatup sejenak, “umm.. Estrella Damm saja kalau begitu,” ucap Allegra, sedikit terseret di akhir kalimat.

Ya, ia rasa bir pilseneer yang sudah lama tidak dia cicipi itu adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Pandangannya kembali melirik Francis dan teman-temannya yang kemudian diajak Giraille untuk bergabung. Tangannya mencengkeram botol miras asal Spanyol itu kemudian menempatkan diri tak terlalu jauh dari Giraille – jelas-jelas membelot–.

Setidaknya ini cara satu-satunya aku bisa membalas dia.... , desis gadis itu di dalam hatinya.

Ya apapun deh asal bisa meruntuhkan tirani Francis U C Karlsen.
Back to top Go down
View user profile
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime13th October 2009, 16:55

Francis Karlsen, hanya kelewat jantan… Atau mesum… atau nekat? Dan terlalu berani menantang ‘bahaya’, entahlah. Entah bagaimana juga Griselda bisa tahan berbulan-bulan jadi anak didiknya. Glaucio memang masih ada di bawah didikan orang itu, tentu. Tapi bukan berarti ia betah—apalagi kalau membuatnya terus-terusan berpikir apa isi otak pria itu selain kekuatan dan wanita. Dia guru dan atasan yang baik, tentu… Sepertinya, tapi kalau sudah menyangkut alasan dan kecintaannya pada kaum hawa… Glaucio ragu apa ia harus mengakuinya, lagi.

Pintu itu menjeblak, dan memperlihatkan pemandangan tersebut dengan jelas di depan matanya. Izarra masih berdiam di luar, entah karena tidak punya keberanian untuk masuk atau bagaimana. Senior wanita yang satu itu imannya memang kelewat bersih; dan baku. Meragukan bagaimana wanita itu akan bersikap lebih easy going dan tenang, seperti Allegra yang masih mampu bertahan dengan wajah dingin di dalam. Di dalam ruangan yang isinya tak lebih dari para general barbar--dan tanpa kacamata pun Glaucio mampu melihat wujudnya dengan jelas. Itu botol minuman keras, berkadar alkohol lebih dari 20 persen. Haha, tak perlu tanyakan dia apa saja jenisnya satu-satu--karena ia memang tidak pernah tahu.

Waktu 20 tahun tidak pernah cukup memberinya sedikit keberanian untuk mencicip seperempat isi botol milik sang ayag--haha, lagi. Untuk seorang bocah Glaucio Amadeus masih tergolong ras-nya yang pengecut; yang menyentuh kaleng wine saja tidak pernah. Yang mencium asap rokok sebentar saja langsung asma.

--bertolak belakang dengan sang general, yang sekalipun seolah tidak menularkan 'ilmu'nya, tidak pernah sekalipun memberinya pelajaran mengenai menyentuh... Menyentuh, euh, tubuh perempuan.

Kepalanya pusing, otot matanya berkedut pelan lagi. Bukan semata-mata karena lupa memakai kacamata atau sebagainya. General Asdvadzadour menjerit; reaksi khas yang ditunjukkan sebagian besar wanita--diiringi reaksi yang sama ditunjukkan oleh Mlynarikova.

"Masuk saja—Asdvadzadour sepertinya sedang ingin membuat 'pesta'."

"HAHH?"


--setelah rabun, kayaknya sekarang si Marino juga tuli.

Diiringi berbagai saran, pembelaan--dan celaan dari para general pria yang ada di sekelilingnya. Glaucio tak begitu menaruh perhatian. Si gadis pirang mengkerut, Maraschine juga mungkin sudah beku di sebelahnya. Menarik napas tertahan kembali, mundur selangkah--merasa telah mengerjakan hal-hal yang tak berguna selama beberapa menit terakhirnya, memutuskan untuk keluar. Lagipula tidak sopan untuk masuk kamar seorang general wanita seenaknya langsung saja--

)PLAKK.

Oke, keluarnya sebentar lagi saja--boleh kan?

Tidak ada yang salah jika pemandangan seperti ini mampu menarik perhatiannya.

"Mungkin kau lebih tertarik dengan yang ini!"
"Barangkali kau tertarik untuk bergabung dalam permainan kita? Kau tahu cara main Never Have I Ever?"
"...Anda boleh melakukan apapun pada General Karlsen jika anda mau”


Celoteh, dan celotehan. Lagi. Berikutnya juga.

"...Kenapa harus menugaskannya pada orang lain kalau kau mau melakukannya sendiri, Mlynariko--"

"Kau!"

"--Va."
Tssk.

"Gabung!"

--pesta minuman keras? Fine, "Tidak--terima kasih." Kalau memang begitu jawabannya, seharusnya ia mundur sekarang, kan? ...Kakinya terpaku, oh demi Tuhan dan santo--Allegra saja sudah pesan sebotol--mohon berkati dia. Dalam diam tubuhnya, ia terpaku.

...Permainannya belum mulai?
Back to top Go down
View user profile
Francis U. C. Karlsen

Francis U. C. Karlsen

Posts : 96
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 27

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime13th October 2009, 20:20

Sepertinya sekarang seluruh tatapan yang mengarah kepadanya adalah tatapan ngeri atau jijik—tentu saja karena keaktifan tangannya yang merangsang otak para wanita untuk mengikatnya dan tidak akan melepaskannya lagi daripada mengorbankan bagian tubuh mereka pada cengkraman Francis. Membalas semua hal itu, ia malah tersenyum tipis—agak timpang, seperti telah 'memenangkan' sesuatu, entah sesuatu itu apa, tidak akan ada yang tahu selain Francis sendiri. Hanya dia seorang dengan otaknya yang ajaib.

"Benar itu! Kamu masih tidak percaya?!"

"NAH!"

Dan apabila ini adalah sebuah gambaran tangan imajinatif, bayangkan ada kilatan cahaya yang keluar dari manik obsidian Francis—mengharapkan pemandangan yang akan dipertunjukkan Asdvadzadour selanjutnya. Namun sepertinya ada yang mengganggu momen-momen penting itu, merusak kesenangannya—membuat General Asdvadzadour tidak lagi menurunkan celananya dan malah memulai permainan. Ckckck, tidak bisakah membiarkan General satu ini bersenang-senang?

"Mungkin kau lebih tertarik dengan yang ini!"

Suara seorang wanita terdengar—dilanjutkan dengan sebuah gerakan yang sama sekali tidak dapat dihindari Francis. Bukan karena cepat, jiwa petarung Francis pasti memiliki kemampuan untuk menghindarinya—tapi hari ini entah kenapa ia agak lengah karena barusan mendapatkan dua korban sekaligus, salah satunya adalah Asdvadzadour—yang baru saja ia sentuh pertama kalinya, sebab sebelumnya ia hanya mengincar para Exorcist atau Section Staff, tidak berani dengan General.

Tapi siapa sangka rasanya akan lebih 'memuaskan'?

Kembali ke gerakan tersebut yang serupa dengan tamparan. Oh no, bukan serupa—melainkan tamparan sungguhan! Kecepatan ditambah massa tangan membuat momentum sehingga menimpulkan rasa sedikit pedih dan panas di pipi Francis. Ia terbengong sesaat, mengikuti sedikit arah gerakan tangan Michelli untuk mengurangi rasa perihnya, namun tamparan begini sih tidak ada apa-apanya—sudah langganan dapat dari korban-korbannya kok.

"Astaga, tamparan tadi membuatku panas." Godanya ke Section Leader yang satu ini—cemburu karena tidak diperlakukan sama dengan yang lainnya? Lihat saja nanti, setiap orang akan dapat BAGIANNYA.

Lalu Asdvadzadour melirik ke arah pintu—menampilkan dua sosok yang sedaritadi bengong di ambang pintu. D'oh, mereka sedang apa sih? Bengong di depan pintu, menyaksikan Generalnya ditampar oleh seorang Section Leader? Langsung saja Francis beranjak dari tempatnya dan mengarah ke ambang pintu. "Kalian ngapain?" Tanpa mendengarkan penolakan dari Marino, tangannya menarik masuk Marino dan juga satu disciple lagi—Maraschine, atau Izarra untuk lebih akrabnya.

"Suka-suka yang ini mau diapakan, tapi yang milikku ini jangan diapa-apakan." Lanjutnya sambil mendorong Marino ke arah Asdvadzadour, lalu 'menyimpan' Maraschine dengan merangkul tubuh mungilnya. Biarlah apa reaksi dan respon Izarra tentang ini, yang pasti—di dalam timnya, jangan ada yang melanggar perintahnya, period. Walaupun prinsip itu sering tidak berlaku semenjak Francis sendiri sifatnya ogah-ogahan.

_________________
Want my Cigarette?
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 205we9s
-Maraschine...a french kiss for you-
Ang || Lint
Back to top Go down
View user profile
Ingressa Michelli

Ingressa Michelli

Posts : 77
Umur : 27
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime14th October 2009, 17:12

Betapa puasnya hati Ressa, setelah ia berhasil mendaratkan telapak tangannya dengan telak ke pipi sang General mesum itu. Yah, ia butuh rasa puas itu, karena ia sadar bahwa baik Shrei maupun Giraile sendiri tidak bisa menanggapi sikap Francis dengan tanggapan yang 'normal'. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya ketika ia melihat Giraile tersenyum. Itu untukmu!

Ressa merasakan tepukan di pundaknya. Ia menengok dan melihat Shrei di sana. Hmm, tepukan ini mungkin berarti Shrei memasukkan Ressa ke dalam daftar perlindungannya, atau mungkin Shrei tidak suka melihatnya menampar General sejawatnya itu. Ah, sudahlah. Saat ini kepuasan pribadi lebih penting di atas segalanya.


"Astaga, tamparan tadi membuatku panas."

Apa?! Mata Ressa terbelalak tidak percaya. Apa General satu ini ingin lebih? Oh, Tentu saja Ressa masih punya banyak tenaga untuk memberikan 'lebih' pada Karlsen. Tapi Ressa tahu bahwa waktu perlu diberi kesempatan. Ia akan menunggu samapi saat yang tepat.

"Tenang saja, Karlsen,"
katanya perlahan, dengan tatapan mengancam. "Aku masih bisa memberimu 'lebih' banyak lagi."

Giraile melirik ke arah pintu, dan masuklah dua orang. Miynarikova dan Marino. Miynarikova sudah jelas-jelas bergabung dengan mereka, tapi Marino tampak enggan. Ah, tidak apa, sebaiknya Ressa memang menyapa rekan senegaranya terlebih dahulu.

"Marino, come stai?" sapa Ressa. "Si dovrebbe unirsi alla fiesta." Ya, kau harus ikut pesta ini.

Namun lagi-lagi si General mesum itu meraih tubuh disciple kecilnya dan merangkulnya. Tapi kini Ressa telah belajar untuk sedikit lebih tenang. Mungkin tepukan Shrei tadi cukup manjur, atau mungkin karena ia merasa Izarra bisa mengatasi semuanya sendiri.

-------------------------------------

"Apa kabar? Kamu seharusnya ikut pesta ini."
Back to top Go down
View user profile http://sereisa.multiply.com
Líadan Ní Súilleabháin

Líadan Ní Súilleabháin

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime14th October 2009, 17:39

Kacau.

Satu kata itu langsung terlintas di kepala gadis Irlandia itu saat ia melihat rentetan kejadian selanjutnya. Seolah belum cukup menggerayangi tubuh Giraile, Francis langsung melakukan hal yang tidak kalah senonohnya pada Disciple-nya sendiri (dan Lia sangat bersyukur bahwa Shrei bukan pria semesum itu). Dan seolah semua itu belum cukup juga, dialog seputar apakah-Giraile-adalah-seorang-wanita malah agak menjurus ke arah mari-kita-semua-striptease.

Dan, meski satu orang ini sempat agak luput dari perhatiannya, Michelli langsung menampar Francis dengan bunyi yang cukup keras... meski tampaknya si General mesum satu itu malah tampak semakin 'tersulut' oleh tamparan keras itu. Lebih kacau lagi, saat dua orang Disciple dari General tersebut datang, ia langsung 'membuang' yang pria dan menyimpan yang wanita untuk dirinya sendiri.

Menghadapi itu, Lia hanya bisa mendekap Babog Liath-nya semakin erat, dan bersiap untuk mengaktifkannya kapan saja kalau-kalau Francis tampak akan menyentuhnya.

Ia lalu melirik ke arah General yang berambut pirang--Ravel Kohler namanya, kalau ia tidak salah ingat--dan teringat pada kata-kata General tersebut untuk segera memulai permainan. Ingat bahwa ia belum memilih minumannya, Lia berjalan perlahan dan mengambil salah satu botol minuman keras yang sudah disediakan oleh Giraile secara acak.

Sambil kembali ke posisinya tadi, Lia membaca label yang tertera di botol tersebut. Blanca de Daroca. Lia berani sumpah, ia belum pernah tahu nama minuman itu sebelumnya.

Setelah mengambil bagiannya, ia menatap ke arah semua 'peserta' yang ada dengan tatapan datar--sambil menghindari tatap muka dengan Francis, tentu saja--lalu berkata dengan nada yang sama datarnya, "Ayo kita mulai saja..."
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime15th October 2009, 14:15

Tiba-tiba, seorang pria muda berambut abu didorong ke arah Giraile oleh Francis Karlsen, yang juga mengklaim murid wanita yang satunya sebagai miliknya. Bukan urusan Giraile juga, sih, selama bukan asetnya yang dijarah. Namun, apa gunanya bocah Portugis-Italia itu untuknya? Apa hanya karena ia memiliki seorang Disciple lelaki muda yang tidak sungkan mengikuti tiap perintah kecilnya layaknya seorang pelayan orang beranggapan dirinya tante girang yang suka menggerayangi lelaki muda?

Oh, tidak. Giraile Asdvadzadour masih suci, minimal untuk perihal itu. Dan dia tidak memiliki kesukaan terhadap lelaki muda, ya.

Ia mengingat ucapan Francis yang seenaknya. "Suka-suka yang ini mau diapakan, tapi yang milikku ini jangan diapa-apakan." Ya, paling tidak, ia bisa memanfaatkannya. Dengan seringai picik yang melebar, ia menarik lengan Glaucio. "Hm. Kata master-mu, suka-suka aku kau diapakan--buruk untukmu," awalnya, menarik paksa Glaucio untuk mendekati meja pameran miras. "Mujur untukku. Mau tidak mau, kau harus bermain, Tuan."

Tangannya mengitari udara, selayaknya burung elang yang mencari-cari mangsa yang tepat, dan mata amber tajamnya pun berusaha menetapkan minuman apa yang cocok untuk murid dari Francis ini. Estrella Damm dan Blanca de Daroca sudah diambil oleh dua peserta wanita baru. Yang tersisa? Westons, cider apel itu, dan produk apel satunya...

"Calvados," ujarnya, dengan bibir yang menipis akibat senyumannya yang hanya bertambah lebar. Ia menatap Glaucio. "Barangkali kau tertarik dengan spesimen ini? Enak lho," ujarnya, matanya yang berpaling ke Ravel Kohler mengkhianati arah wajah menatap. "Apel kualitas papan atasnya benar-benar terasa."

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime15th October 2009, 18:49

"Jendral Kohler—tenang saja. Sampai saat ini aku belum mendapatkan masalah karena itu."

Alis kanan naik; ia memang sempat memikirkan opsi tersebut keluar dari mulut sang jendral. Hai opsi-opsi gila, kau bisa saja keluar dari bibir dang jendral pria berambut hitam pekat tersebut, namun mengapa jawaban yang ia dapat hanyalah jawaban biasa demikian?

"Jendral--"

Satu kalimat yang hendak keluar dari mulut jendral berambut pirang ini kembali terpotong dengan sebuah adegan. Bibir menipis, membentuk sebuah cibiran kasat mata. Ingressa Michelli baru saja menampar jendral yang hendak ia ceramahi, namun tak jadi.

"Dikau juga belum mengambil jatahmu, Ravel Kohler. Ingin Calvados itu?"


Kepala segera berpaling ke arah Giraile yang baru saja menyebutkan sebuah produk brandi apel kebanggaannya. Mata coklat kekuningan menyipit--siapapun belum pernah melihat Ravel Kohler yang mungkin akan menggila karena tidak diberi dosis apel? Liriklah anaknya yang memegang ciri khasnya; itu seudah menjadi bukti bahwa Ravel Kohler memang gila apel.

Entah bagaimana, pria ini kehilangan kemampuan untuk berkata-kata, karena kepalanya hanya bisa mengangguk tanda setuju.

Kepala segera berpaling ke arah Francis dan Ingressa... yang sekarang malah saling pacaran memanas. Oh, ia bisa melihat bagaimana Francis berperilaku, atau bagaimana api kekesalan mulai membara dari sekeliling Ingressa... kalau saja mereka berada dalam sebuah animasi dua dimensi.

...

Perasaannya saja, atau memang situasi makin memanas?

Yang jelas, kilatan berapi-api pada mata kuning kecoklatan seakan mengatakan segalanya ketika Giraile mengatakan salah satu isi pikirannya, pada seorang lelaki berambut abu-abu:

"Calvados, barangkali kau tertarik dengan spesimen ini? Enak lho, apel kualitas papan atasnya benar-benar terasa."

Giraile Arevig Asdvadzadour, itu langkah buruk.

Dengan cepat, pria ini segera menghalangi pandangan Asdvadzadour, kilatan mata penuh nafsu jelas-jelas terlihat. Sementara itu, tangannya dengan sigap memegang mulut botol. Otot pipi menarik, membentuk sebuah senyum sok ramah.

"Boleh untukku saja, Jendral?"

....

Siapa bilang Ravel Kohler bisa bersikap tenang melihat apapun-yang-apel dirampas darinya?

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime15th October 2009, 22:57

Senyuman picik terpampang pada Giraile. Ia sudah melihat Ravel 'mengawasi' produk itu dari awal, dan ia tidak berniat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan bebas dari siksaan batin bagi jendral itu. Jelas, apa lagi selain produk apel yang bisa membuat jendral itu kehilangan sebagian dari akal sehatnya?

Dan, ucapannya terhadap anak buah Francis itu membuahkan hasil. Minimal, satu hal berjalan sesuai rencana.

"Apapun untukmu, Ravel Kohler." Senyuman sok ramah lelaki itu dibalasnya dengan senyuman yang sama, ditambah dengan bungkukan sopan dan gerakan tangan yang halus--tangan kanannya mengarah ke botol Calvados itu, memberikan izin bagi Ravel untuk mengambilnya--serupa dengan dilakukan Orion terhadapnya. Ternyata Giraile bisa belajar sesuatu juga dari lelaki yang maniak bergaya pelayan itu.

Ia mengevaluasi kembali lelaki asal Italia yang didorong dengan seenaknya ke arahnya. Tampaknya, dari tolakannya terhadap ajakan (tepatnya, paksaan) main sebelumnya, Glaucio bukan tipe yang terbiasa minum-minum dan melakukan tindakan maksiat lain seperti master-nya. Ia menatap satu-satunya botol miras yang belum diambil, Westons. Cider apel itu tidak terlalu kuat, cocok untuk pemula. Ia melemparnya ke arah lelaki itu. "Nih, Westons. Aku tidak tahu, sih, soal kualitasnya, tetapi minum saja."

Daripada terus menunda... "Ah, sudah! Mari kita mulai permainannya! Aku kaji ulang urutannya; aku, Shrei... Karlsen, Michelli, Kohler, muridnya Shrei, murid Karlsen yang dipegang dadanya tadi, murid Karlsen yang ini..." Ia pun terdiam, usai menatap Glaucio, mengalihkan pandangannya pada satu lagi Disciple yang diseret kemari, Izarra. Giraile menjalin kontak mata dengan Francis, jari telunjuk mengarah pada wanita yang konon dimiliki lelaki itu. "Dia bagaimana, ikut juga tidak?"

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime16th October 2009, 13:11

"Multa... Ok, forse no"

Masih berharap kabarnya baik-baik saja setelah ini? Iya, sulit--makanya ia sendiri ragu. Dengan sedikit koreksi pada kalimat 'oke, mungkin tidak'nya, ia kembali menghela napas tertahan. Dan ketika berusaha menarik napas guna mencari setitik lahan relaksasi, yang ditemukannya hanya aroma essens alkohol. Anggur, dan sari apel... Buah manis kemerahan itu selalu jadi jenis buah favoritnya.

"Dan, euh... No. Grazie, devo fare più cose dopo questo."

'Ia harus kerjakan banyak hal setelah ini', sungguh. Seperti mencuci muka, menyantap makan malam dan ditutup pengobat pusing sesuai dosis dari Gabriella, dan tidur... Lalu keesokan harinya kembali bertemu dengan generalnya seperti biasa; seolah apa yang dilihatnya pada malam ini tidak pernah diingatnya--karena jujur saja, kalau begini terus respeknya bisa jadi akan semakin turun... Lalu turun... Dan turun lagi, seterusnya sampai habis. Oh ya, baru sdar juga ia kalau nona Michelli itu juga orang kewarganegaraan Italia--

oh, tunggu, tunggu.

Sejak kapan badannya pindah tangan, dari cengkraman besar tubuh Francis Karlsen--ke dalam ruangan yang semakin identik dengan jurang kenistaan tersebut. General Giraile--sebelah tangannya aktif merapikan dan menata ulang susunan botol semi bening yang beberapa tampil berantakan setelah aksi spektakuler tamparan Ingressa Michelli. Dan satu tangannya lagi--ada di lengan si pemuda.

"Suka-suka yang ini mau diapakan,"

"&^*&$#@!*"

"Hm. Kata master-mu, suka-suka aku kau diapakan--buruk untukmu,"

"Euh, tolong--lepaskan tanganku, nona. Atau kugigit," rawr--kau... Kelihatan norak sekali barusan, Marino. Dan semakin norak, tak kala matanya melotot--bukan karena kaget, tapi karena tidak bisa melihat dengan baik tanpa kacamatanya dalam waktu malam seperti ini--mendapati susunan botol yang ada di salah satu sudut meja.

Mereka memang serius, untuk permainan ini. "--tapi yang milikku ini jangan diapa-apakan."

"Dasar general tukang pilih-pilih kasih, shcnwmkljasdfg--AKH!" "Barangkali kau tertarik dengan spesimen ini? Enak lho," Yang baunya apel itu... Kelihatannya enak, cough.

Matanya tertunduk malas, seketika tertuju kembali kepada susunan benda-yang-tidak-pernah-dicicipinya-seumur-hidup dan sekarang-sudah-ada-di-depan-matanya. Menarik napas kembali, selanjutnya kembali mencium bau sari apel tersebut--bosan. Untuk melarikan diri. Izarra saja sudah berada dalam rangkulan Karlsen dalam keadaan tak berdaya. Setidaknya kali ini Glaucio Marino masih sedikit lebih beruntung...

"Boleh untukku saja, Jendral?"

"Err--Ya, untukmu saja, tuan general--" Tersenyum kecut dengan manisnya, setidaknya kali ini alasan ia untuk tidak minum telah tereliminasi dengan sendirinya, general Kohler kelihatannya lebih membutuhkan, ya... Ya. Tinggal duduk manis, sambil tunggu permainannya mulai. ...Tunggu, pemainan apa dulu?

"Nih, Westons. Aku tidak tahu, sih, soal kualitasnya, tetapi minum saja."

Satu tangkapan sigap menangkap benda lemparan pemberian dari si nona general--menimangnya dengan tak berdaya, jemarinya lemas. Refleks membuka tutup gabusnya dan mencium samar-samar baru aroma cidar apel--yang memang tidak sekuat tadi. ...Aman untuk pemula, semoga. Cess, yak, tegukan pertamanya untuk sepanjang hidup, moga masih kuat untuk tegukan kedua dan selanjutnya, Tuhan memberkati--

"--muridnya Shrei, murid Karlsen yang dipegang dadanya tadi, murid Karlsen yang ini..."

PFFFFFT--God bless, tegukan pertama, sekaligus semburan akibat sedakan pertamanya. "Sejak kapan aku ikut main???"
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime16th October 2009, 13:27

Giraile menoleh ke sisinya, menemukan Glaucio yang telah meminum sebagian dari cider apelnya. "Hoi! Itu buat permainan nanti, abu-abu!" Ia sempat mempertimbangkan mendaratkan tangannya ke atas kerah baju lelaki blasteran itu, tetapi memutuskan untuk sekadar memaparkan senyuman lebar pada bibir tipisnya. "... Kita tidak ingin kamu mabuk sebelum saatnya, kan?"

Ia pun meletakkan tangannya di punggung Glaucio, membawanya ke dekat Allegra. "Duduklah di sebelah dia." Mata ambernya beralih, menatap Allegra. "Ajari temanmu ini cara mainnya. Sekalian saja dengan pernyataan pertama yang kuberikan." Singkat kata, Giraile sudah tidak sabar memulai permainan; malam memang masih panjang, tetapi waktu tidak akan menunggu, dan ia tidak suka membuangnya.

Wanita Armenia itu membuka tutup botolnya sendiri, menghirup aroma manis Brandy de Jerez yang telah diproses dengan metode solera selama sepuluh tahun. Puas dengan yang didapatkannya, ia berharap akan ada gilirannya meneguk minuman juga... selama tidak sampai taraf ia mabuk. Ia memasang kembali tutup botol, siap memulai permainan.

"Baiklah. Pernyataan pertama..."

Ia mengevaluasi peserta permainan yang ada; satu pernyataan terlintas di pikiran, siapa saja yang akan 'kena'? Dari tabiatnya, jelas Francis akan, dan dari status dudanya, tidak mungkin Ravel Kohler tidak kena, lihatlah buah hatinya di Asia. Untuk murid-murid wanita Francis dan Shrei, walau gurunya seperti itu (untuk Francis), tampaknya mereka cukup polos--Giraile tidak berniat menjatuhkan mereka. Ia tidak tahu soal Michelli. Lalu, lelaki muda yang berambut abu itu juga tampaknya tidak terlibat banyak maksiat. Tetapi, target utamanya, 'Shrei...' Ada kemungkinan pernyataan ini tidak kena sasaran untuk kasus itu.

Ya, minimal ia bisa mengenai dua target. "Never have I ever... kissed anyone."

Matanya menyapu seisi ruangan, mendata siapa saja yang telah melakukan apa yang tak pernah dilakukannya--mencium seseorang. Adakah seseorang yang senasib dengannya?

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime16th October 2009, 14:29

Oke, kali ini seseorang yang dia kenal bergabung dengannya. Glaucio Marino rekan sesama disciplenya yang terbuang begitu saja dari sang Master, General Francis. Sungguh di antara trio tiga dara disciple si Kulit Badak, pria berambut abu cepak itu paling sering dibiarkan tanpa belaian kasih sayang Francis dan ... hei, mungkin itu bisa jadi alasan kenapa Glaucio menarget Francis? …. karena kurang kasih sayang?

Allegra mendengus pelan pada Glaucio yang seolah-olah segan bergabung bersamanya walaupun pada akhirnya pria Italia itupun memilih –atau dipaksa memilih – sebotol alkohol. Gadis Praha itu melirik rekannya yang terlihat canggung, wajahnya sendiri tidak lebih baik, bibirnya merengut, jelas-jelas masih sebal.

Quote :
"Ajari temanmu ini cara mainnya. Sekalian saja dengan pernyataan pertama yang kuberikan."
Titah Giraille padanya sambil-lalu dan seketika itu juga Allegra mendesah lemah.

“Kau kuno, Glau..” ucap gadis berambut pirang sebahu sambil berkacak pinggang dan memandang wajah Glau lurus dengan mata biru beningnya.

“Ok, ini permainan simpel kok jadi....”

Bibir Allegra komat-kamit, sesekali jari telunjuknya bergoyang di wajah Glau. Terdengar decakan pelan dari gadis yang menyematkan syal bulu flamingo di sekitar leher-bahunya, “.... begitulah kau mengerti kan? Ingat ya jika kalimat itu berbalik dengan kenyataan kau harus meminum seperlima bagian. Seperlima!” suara Allegra menebal di bagian akhir kalimat.

Dia kembali mengarahkan pandangannya ke General wanita –yang turut menjadi korban tindakan asusila Francis – yang sepertinya sudah siap memulai permainan ini. Gadis bermata biru itu melemparkan tatapannya pada Glau, memberi tahu kalau permainan akan segera dimulai. Allegra menepuk-nepuk kedua daun telinganya seolah-olah tindakan itu bisa membantu indra pendengarannya menjadi lebih peka.

Quote :
"Never have I ever... kissed anyone."

Hee..?

Mencium seseorang....?


Dalam hitungan detik otaknya dipenuhi bayangan akan keluarganya yang berada di Ceko; ayah, ibu dan alamarhumah kakak perempuannya yang cantik. Sebuah ciuman? Ciuman kan hal yang biasa dan selalu dia dapatkan di saat hendak tidur, bangun pagi, atau saat mereka duduk bersama mengitari perapian dalam ruang keluarga yang hangat. Sungguh pemikiran polos ala Allegra Růžena Mlynarikova yang kontadiktif dengan perilakunya saat ini...

Dicium atau mencium bukan hal yang besar kan?


Jadi Allegra membuka bibirnya yang bersemu merah muda dan mengucapkan kalimat berikut dengan enteng dan wajah tanpa dosa, “Aku pernah”.

Voila! Berkat kekuatannya yang cukup berlebih terbukalah Estrella Damm itu dengan mulus, membuat aroma khasnya menyusup ke penciuman Allegra. Kemudian ia meraih sebuah gelas yang tertata rapi di meja kerja Giraille berikut botol-botol miras koleksinya.

Sorot matanya menatap mulut botol itu, dia memejamkan matanya seraya mendaratkan pinggulnya ke karpet ruangan Giraille.

Ayah, Ibu, maafkan Allegra... setidaknya kalian tidak tahu jadi kalian tak akan sakit hati.


Suara cairan mendesis keluar, mengisi gelas kaca.

Menerapkan manner yang tepat dan tanpa kecanggungan sama sekali gadis yang memiliki hobi mengoleksi aneka bulu hewan itu meminum seperlima bagian Estrella Damm-nya.

Jadi bagaimana dengan yang lain?


Last edited by A. Růžena Mlynarikova on 16th October 2009, 14:38; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Líadan Ní Súilleabháin

Líadan Ní Súilleabháin

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime16th October 2009, 14:33

Lia memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya dalam diam. Ternyata, General kalem yang duduk di sebelahnya tadi itu bisa jadi agak 'liar' juga kalau menyangkut minuman keras. Buktinya saja ia berani merebut minuman keras yang sepertinya sudah diincarnya dari tadi. Ah, Lia jadi merasa agak kurang aman duduk di sebelah pria tegap itu. Tapi, semoga saja, Ravel Kohler bukanlah pria semesum Francis.

Akhirnya, permainan dimulai setelah si 'Rambut Abu' diberi botol minuman yang lain oleh Giraile dan dijelaskan tentang peraturan permainannya oleh gadis dengan syal bulu. Dan, tanpa banyak basa-basi, Giraile langsung mengajukan pernyataan pertamanya.

Quote :
"Never have I ever... kissed anyone."

Lia terdiam sejenak, memikirkan arti kalimat itu. Terlintas di benaknya, ia pernah menanyakan satu-dua hal tentang kata-kata yang memiliki artian mirip pada Leon. Seingatnya, kalau hanya mengecup di pipi atau dahi, namanya 'peck'. Kalau sampai mencium di bibir, barulah namanya 'kiss'.

...dan terlintas juga di ingatannya, bagaimana kakak sepupunya itu langsung memberikan contoh nyatanya kepada gadis itu, mentang-mentang keduanya pernah berbuat yang lebih jauh daripada itu.

Wajah Lia langsung berubah merah, meski ia belum meneguk minumannya setetespun. Dengan suara yang sangat pelan, ia berbisik, "A... aku pernah..." Dan dengan gerakan cepat, ia membuka botol minumannya dan langsung meneguk seperlima isinya, lalu menutupnya lagi.

Dapat dirasakannya kini dadanya ikut terasa panas karena minuman itu. Berapa sih kadar alkoholnya? Tapi Lia sudah tidak memikirkannya lagi. Nasi sudah menjadi bubur, ia sudah meneguk seperlima isinya. Mata hijaunya menatap sisa orang yang belum menjawab, mencari kira-kira siapa yang pernah dan belum pernah mencium seseorang.
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime16th October 2009, 18:00

[OOT: Anggap sudah ada gelas wine yang telah tersedia? *atau semacamnya lah* *shot*]

Dan permainan pun dimulai.

Pria berkebangsaan Jerman-Perancis ini tidak mengacuhkan sikap sok ramah yang keluar dari sang jendral wanita ataupun respon dari pria berambut abu-abu yang menandakan rasa setujunya akan tindakan Ravel. Ia tidak pernah ramah tho, apalagi saat ketika dia menawarkan Calvados tersebut pada orang lain. Perlukah ia bersikap ramah pada wanita tersebut.

...Tentu saja perlu. Ia diajarkan untuk ramah pada semua, kecuali pada akuma.

...

Cukup berpikirnya, Ravel Kohler. Permainan akan dimulai.

Lantas, ia sendiri pun mengambil tempat duduk, sekiranya sampai ia sendiri berhadapan dengan jendral wanita tergahar se-Eropa. Matanya menyipit, sementara telinganya berusaha untuk menangkap pertanyaan yang keluar dari sang jendral wanita--

"Never have I ever... kissed anyone."


Dahi mengerut. Pernyataan tersebut merupakan pernyataan paling picik, dan hal tersebut keluar pertama. Tentu saja Ravel Kohler pernah mencium seseorang! Memangnya ia tidak mencium Nicola Tchaikova di hari pernikahannya?!

Pria ini membenturkan dasar botol ke lantai--gusar--sebelum menuang Calvados yang dengan baik hati diberikan oleh Giraile, seperlima dari isinya. Mata menutup saat bibir menyentuh mulut gelas sementara cairan tersebut turun memasuki rongga mulutnya kemudian melalui saluran tenggorokannya.

Siapa pula yang tidak tahu bahwa orang yang sudah menikah pasti telah berciuman? Ravel Kohler tidak menyatakan bahwa dia pernah berciumam--dirinya sudah keburu menyapu seisi ruangan. Alis sempat terangkat ketika mengetahui bahwa Allegra--benarkah itu namanya?--dan murid Shreizag--yang memegangi boneka?--mengaku sudah pernah berciuman.

...Perlukah ia bereaksi? Sepertinya tidak. Umur mereka sudah cukup matang untuk berciuman... bukan? Ah, entahlah. Yang pasti, ia tidak akan membiarkan anaknya sendiri melakukan hal itu, setidaknya sampai ia bisa menjaga sikapnya sendiri.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime16th October 2009, 19:45

"Hoi! Itu buat permainan nanti, abu-abu!"

"UHUK--oh, belum ya--UHUK."

Satu [cough] lagi, seiring tepukan pelan di punggungnya dengan gerakan setengah mendorong yang dilakukan nona Giraille padanya--menjauh dari sudut meja untuk selanjutnya beranajk, meringsutkan diri malas-malasan pada karpet empuk milik si tuan rumah. Tepat di sebelah Allegra; dengan botol Western--Westok? Westorn? Yang mana saja lah--masih tergenggam di tangan kanannya. Belum lepas--tssk, ya. Membuka botol, lalu menenggaknya sebelum waktunya eh? Tipikal orang yang terlalu bersemangat, memang. Euforia akan perasaan merasakan minuman keras untuk yang pertama kalinya--wow. Dia tidak ingin mabuk sebelum 'saatnya', tentu--tidak, dia tidak akan mabuk meskipun 'saatnya' bahkan sudah lewat. Tidak akan.

Cough--ia memang tidak mengerti apa-apa di sini.

"I am, yea--" menyahut pelan tatapan kristal bening kebiruan dengan sorot sedikit 'merendahkan'--pada seorang pria kuno dan ketinggalan jaman yang bahkan tidak tahu caranya bermain I Have Never Ever, atau I Never Ever have dan sejenisnya itu. Oh, suaranya serak--sungguh, sesesap 'westerns' yang meskipun sudah terbuang sia-sia lewat satu semburan tertahan itu masih tetap terasa pahit di lidahnya.

“.... begitulah kau mengerti kan? Ingat ya jika kalimat itu berbalik dengan kenyataan kau harus meminum seperlima bagian."

Seperlima... Mengangguk-angguk kecil, sok paham. Selanjutnya kembali memperliarkan matanya ke arah sekitar; mempertanyakan barangkali Giraile masih menyimpan sebotol air mineral hambar atau apapun itu yang tanpa bau alkoholik maupun anggur. "Oke... Gampang."

Seperlima!”

Gampang dari Guangzhou--masih bisa bertahan untuk tidak mabuk setelah gelasnya yang pertama saja ia masih ragu. Tenggorokannya panas.

"Never have I ever... kissed anyone."

Suara tenang dari si nona general, selanjutnya mengarahkan pandangannya ke arah seluruh orang yang ada di dalam ruangan--agak lama bertumbukan dengan Halverson. Ya, permainannya sudah mulai--dan yang harus ia lakukan hanyalah membuat kenyataan yang terjadi tak jauh berbeda dengan yang diucapkan si general. Mirip permainan truth or dare, namun kali ini mengandalkan variasi diantara keduanya--truth sendirian saja jelas lebih gampang, ingat bagaimana satu kejujuran bisa menyelesaikan semuanya dengan lebih enteng. Dan yea, mari kita lihat...

“Aku pernah”.

Allegra bangkit dari sebelahnya, membuka tutup botolnya dengan perlahan--tidak peduli akan kejujuran yang telah diungkapkan gadis rekan se-disciple Francis tersebut, melainkan keluarnya aroma khas minuman keras yang menyusup keluar tersebut... Tajam, huekk. Semoga ia tidak harus muntah waktu membuka botolnya sendiri.

"A... aku pernah..."

Ciumannya... Ia bukan orang yang menyukai perhatian berlebih dari orang lain; tidak menyukai perhatian dalam wujud aksi secara nyata--pelukan, belaian, atau ciuman--jelas tidak berlaku dalam hal ini. Perhatian dalam bentuk tindakan dan perbuatan, kan? Haha--klise. Tapi kalau boleh jujur memang diakui banyak kebenarannya. ...Ya, ya, terbengong lagi karena si bocah pirang berboneka itu rupanya sudah berbuat 'lebih banyak' daripada yang pernah si abu lakukan, ya? Haha, terserah.

Suara tuangan liquid meluncur mulus dari botol ke arah gelas kaca Kohler.

--dan tiada ambil pusing lagi mengingat kalau orang setua dan sedewasa itu sudah pasti pernah merasakan 'pengalaman' dan asam garam dunia yang lebih daripadanya. Ciumannya, hem... Keluarganya?Ia tidak pernah menemui ibunya lagi sejak usianya 3 tahun--dan setahunya orang itu tidak pernah memberikan ciuman. ...Atau mungkin pernah, pada detik-detik setelah kelahiran si anak laki-laki yang ditunggu-tunggu tersebut, dan si Glaucio lah yang memang tidak ingat [laughing]. Griselda tidak pernah memeluknya, merangkul, bahkan merasa risih hanya untuk memanggilnya dengan sebutan 'adik' di depan semua orang. Dan ayahnya... Tak perlu diingat-ingat, karena JELAS tidak pernah--membayangkannya saja si pemuda sudah mual.

Dan pacarnya yang pertama--umur 13 tahun pada waktu itu--adalah anak seorang pastor di gereja depan jalan. Ia hanya begitu polos dan berhati bersih untuk melakukan sebuah perbuatan bernama kemesraan tersebut. Lalu... Siapa lagi? Ga--Gab--ogh tidak, jelas tidak--mengingat bahkan sesuatu yang 'resmi' seperti itu saja memang bel... ^&*)(!,bagaimana ia bisa jawab dengan tenang kalau mata semua orang seolah menunjuknya dengan tatapan setajam itu?

"Tidak. Tidak pernah."

--diiringi satu sentakan kecil dari pantat botol, setengah menokok ke arah permukaan karpet. God bless him, hallelujah.
Back to top Go down
View user profile
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime16th October 2009, 21:03

Baiklah, sementara dirinya menghindar dari 'keramaian' bersama Ingressa, beberapa hal seru untuk dilihat terjadi di depan matanya. Belum apa-apa tapi keadaan sudah panas. Yang paling seru adalah penolakan dari murid Francis yang berambut abu-abu, tentu saja, ia sudah tidak bisa menghindar ketika sang tuan rumah telah memutuskan bahwa ia harus ikut serta dalam acara malam ini.

Ia juga, mungkin, akan bernasib sama bila menolak ajakan dari Jenderal berkebangsaan Armenia tersebut. Ya sudahlah. Yang penting ia bisa segera menagih janjinya pada Giraile setelah semua ini berakhir. Oh, jangan lupa ia masih harus melindungi dua orang wanita dari cengkeraman buaya darat; Francis Karlsen.

Sudah lewat kira-kira lima belas menit, kapan sih dimulainya? Jangan-jangan akan terjadi kekacauan terlebih dahulu sebelum permainan utamanya dimulai... Seakan mewakili perasaan pemiliknya, Timcanpi mulai gelisah dan terbang tidak karuan di sekitarnya. Sabar. Tunggu sebentar lagi.

Setelah keadaan menjadi lebih tenang, akhirnya permainan benar-benar dimulai. Ini dia yang ditunggu-tunggu, kira-kira pernyataan macam apa yang akan dikeluarkan oleh Jenderal gahar tersebut? "Baiklah. Pernyataan pertama..."

Kedua mata biru esnya memandang Giraile baik-baik, memerhatikan kata demi kata dengan seksama.

"Never have I ever... kissed anyone."

Matanya berkedip. Tidak salah dengarkah ia?

Shreizag pikir Giraile akan melontarkan pernyataan yang lebih 'menantang', rupanya sebarbar-barbarnya ia, masih wanita juga. Bukan berarti Shrei mengakuinya sebagai wanita, ya. Giraile masih belum masuk kualifikasi Shrei dalam masalah yang satu itu. Jadi, apa tadi? Mencium seseorang?

... Ciuman seperti apa? Kalau ciuman sayang dengan Raquel sih, sudah tidak terhitung banyaknya. Ia juga pernah--atau sering?--mencium Ressa di pipi. Apa itu dihitung?

Sementara ia menimbang-nimbang keputusannya sendiri, beberapa peserta sudah melakukan aksi. Termasuk di antaranya, muridnya sendiri. Wah, tampaknya pengamatan Shrei masih banyak yang luput, eh? Pria Norwegia ini hanya bisa mengangkat alis, agak tidak percaya dengan fakta bahwa Lia telah mencium seseorang... siapapun itu. Yah, bukan haknya untuk mengganggu privasi orang lain, walaupun itu muridnya sendiri.

Kembali pada diri sendiri; bagaimana dengannya? Shreizag menatap botol Reál Sangria di tangannya, setelah menghembuskan napas ia membuka penutup botol tersebut dengan tangannya yang berbalut sarung tangan--hei, mudah juga membukanya. Sudah lama ia tidak menenggak alkohol, toh itu bukan minuman favoritnya. Dan sekarang, ia harus meminum seperlimanya.

Sensasi dingin meluncur ke tenggorokannya, liquid itu, Reál Sangria, terasa segar dan... penuh cita rasa buah-buahan. Hmm, lumayan. Shrei menutup kembali botol itu setelah memastikan ia telah meminum seperlimanya, sementara napasnya membuat ia lebih merasakan Sangria khas Spanyol itu memasuki tubuhnya. Oke, tugas pertama selesai.

Selanjutnya, gilirannya untuk mengajukan pernyataan ya?

... Sejujurnya, ia masih belum tahu akan mengajukan pernyataan macam apa.

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Francis U. C. Karlsen

Francis U. C. Karlsen

Posts : 96
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 27

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime17th October 2009, 18:39

"Sudah—mulai saja." Francis sudah bosan dengan intermezzo yang terlalu lama, nanti jangan-jangan malah tidak jadi karena tempat ini keburu menjadi medan perang yang diakibatkan oleh gerakan tangan Francis yang menggila. Francis masih ingat dendamnya untuk Micheli, manik obsidiannya melirik Micheli untuk bersiap-siap agar tidak mati kaget ketika tubuhnya disentuh oleh Francis—namun mana mungkin tersampaikan?

"Dia bagaimana, ikut juga tidak?"

"Tidak perlu. Milikku biar aku yang urusi." Lanjutnya sambil mengeratkan pelukannya pada sang disciple, tidak membiarnya disciple yang suci ini malah tenggelam pada kenikmatan alkohol yang bisa merusaknya—walau sebenarnya dia sudah merusak Izarra sejak lama karena perbuatannya, bukan? Tapi ia selalu merasa paling benar, tidak mempedulikan takaran-tarakan benar-salah yang dibuat oleh entah siapa. Menurutnya apa yang dilakukannya adalah apa yang dianggapnya benar.

"Dasar general tukang pilih-pilih kasih, shcnwmkljasdfg--AKH!"

"Sana ubah kelaminmu kalau mau kusayang." Lanjutnya sambil menyeringai melihat Marino yang sudah sepenuhnya disewakan ke Asdvadzadour. "Biayanya semalam jadi pacarku ya." Lanjutnya dengan nada iseng, tentu saja ia tidak serius dengan bayaran itu namun tidak akan menolak apabila Asdvadzadour mau membayarnya. Yah asalkan ia dapat kesenangan—tidak apa-apa, kan'? Toh yang diapa-apakah bukan Izarra yang merupakan disciple kesayangannya ini.

"Sejak kapan aku ikut main???"

"Sejak kuperintahkan—"

"Never have I ever... kissed anyone."

Gluk!

Langung saja Karlsen meneguk seperlima botol Tequilla yang ada di tangannya tanpa perlu berpikir barang lima detik, siapa yang akan percaya kalau Karlsen tidak pernah mencium orang lain sebelumnya? Menurutnya ciuman di bibir itu hanya sekedar sapaan—dan hal yang setimpal dengan 'ciuman' bagi masyarakat banyak adalah bercinta. "Next statement?" Tagihnya, menjilat lidahnya yang terasa pahit-manis karena Tequilla yang enak.

Namun yang diterimanya malah keheningan dari Halverson—seharusnya kan gilirannya. "Halverson—cepatlah, atau kau mau memberikan giliran itu langsung kepadaku?" Ujarnya yang mulai tidak sabar, menunjuk Halverson dengan botol Tequilla yang dipegannya. Dasar—lama sekali. "Oh iya Asdvadzadour—kau tidak pernah mencium seseorang? Mau kucium sebagai pengalaman?" Tanyanya ke arah general barbar tersebut.

_________________
Want my Cigarette?
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 205we9s
-Maraschine...a french kiss for you-
Ang || Lint
Back to top Go down
View user profile
Ingressa Michelli

Ingressa Michelli

Posts : 77
Umur : 27
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime19th October 2009, 15:43

"Dan, euh... No. Grazie, devo fare più cose dopo questo."

Dasar! Masa sih seorang disciple punya pekerjaan lebih banyak daripada generalnya? Lihat saja si Karlsen yang kerjaannya leyeh-leyeh di markas dan menggoda semua wanita yang bisa ia temui -- setidaknya yang menurutnya cantik, atau mungkin, semua wanita baginya sama saja?

"Marino, Non posso credere che hai più posti di lavoro rispetto il tuo padrone," kata Ressa, sekedar mengungkapkan pikirannya.

Tapi, mungkinkah Karlsen memberi Marino lebih banyak pekerjaan daripada seharusnya? Sudahlah, tidak baik berburuk sangka pada orang lain.

"Suka-suka yang ini mau diapakan,"

"&^*&$#@!*"

"Hm. Kata master-mu, suka-suka aku kau diapakan--buruk untukmu,"

"Euh, tolong--lepaskan tanganku, nona. Atau kugigit,"

"--tapi yang milikku ini jangan diapa-apakan."

"Dasar general tukang pilih-pilih kasih, shcnwmkljasdfg--AKH!"

"Barangkali kau tertarik dengan spesimen ini? Enak lho,"

"Nih, Westons. Aku tidak tahu, sih, soal kualitasnya, tetapi minum saja."


A, ternyata memang sudah jodoh Marino ikut acara maksiat ini. Dan bagiannya...Westons!

Ok, permainan akhirnya dimulai. Dengan penuh antusiasme Ressa menunggu Giraile mengucapkan sesuatu. Apakah ia akan terkena imbasnya?

"Baiklah. Pernyataan pertama... Never have I ever... kissed anyone."

Deg! Tangan Ressa menggenggam erat botol Pedro Ximénez yang ada di tangannya. Tunggu! Ciuman macam apa yang Giraile maksud?

“Aku pernah”.

"A... aku pernah..."


Baik, dua peserta sudah mengkonfirmasi pengalamannya dalam hal menyentuhkan bibir mereka pada tubuh orang lain. Hanya saja yang masih membuat Ressa bingung, bagian tubuh yang mana? Maksudnya, kalau dia seorang pria gentle yang pernah mencium jemari pasangan dansanya apakah itu dihitung kissed?

Tunggu! Apa ia tidak salah dengar? Yang barusan bicara itu Lia dan Allegra kan? Masa sih mereka sudah pernah berciuman? Ressa saja...

"Tidak. Tidak pernah."

Marino! Marino belum pernah. Tapi bukankah ia orang Italia? Dia kan seharusnya mengucapkan salam dengan mengecup pipi teman-teman dan keluarganya.. Orang Italia macam apa dia itu?

Jadi kesimpulannya, apakah Ressa harus minum? Ravel menenggak seperlima dari isi botolnya, demikian pula Francis, yang jelas tidak ragu untuk menenggak isi botolnya. Ayolah, dia yang paling tidak bisa mengelak soal ini. Shrei...juga minum. Kalau Shrei saja minum, kenapa Ressa tidak? Dia pasti pernah sekali dua kali mengecup pipi Shrei..

Ressa membuka tutup botol mirasnya dan menenggak seperlimanya. Panas, tapi ini belum seberapa.

"Oh iya Asdvadzadour—kau tidak pernah mencium seseorang? Mau kucium sebagai pengalaman?"

Ya, menenggak minuman beralkohol sambil mendengar kalimat seperti itu sungguh tidak menyenangkan hati. Tapi, mungkin Giraile memang perlu dicium sekali-sekali, supaya ia juga meminum brandynya.

----------------------------

OOT: panjang tapi dialognya cuma sedikit..
Back to top Go down
View user profile http://sereisa.multiply.com
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime19th October 2009, 15:47

"Halverson—cepatlah, atau kau mau memberikan giliran itu langsung kepadaku?"

Suatu permintaan tak sabar datang dari Jenderal pecinta wanita, Shrei merasa terlalu malas untuk merespon. Bukan masalah ia cepat atau tidak, tapi apa semua orang di sini sudah siap untuk mendengarkan tugas selanjutnya?

"Oh iya Asdvadzadour—kau tidak pernah mencium seseorang? Mau kucium sebagai pengalaman?"

Hmph. Nyaris saja Shrei melemparkan senyum geli mendengar kalimat ini. Seribu tahunpun, seorang Giraile Arevig Asdvadzadour tidak akan menyerahkan ciumannya pada pria sembarangan, apalagi pada pria seperti Francis, bukan begitu? Lagipula, harga diri wanita Armenia itu memang sangat tinggi.

Ia menyapu pandangan ke sekelilingnya, tampaknya semua sudah selesai, eh? Ressa juga sudah meminum seperlima Pedro Ximenez miliknya. Ah, jadi sekarang gilirannya, ya?

...

Kira-kira, hal seperti apa yang belum pernah dilakukan oleh Shrei, namun sudah dilakukan oleh orang lain? Ia belum pernah mempelajari Bahasa Zulu... Ah, tapi siapa juga yang di ruangan ini yang pernah mempelajari bahasa suku itu? Lewat.

... Apa sebaiknya pertanyaan yang lebih umum? Tapi... Apa? Tentang bepergian ke suatu tempat? ... Tapi Shrei sudah menjelajahi separuh isi bumi, jadi rasanya itu pertanyaan yang kurang tepat juga. Ahh, berpikirlah, Shreizag.

Ia mengambil napas dalam-dalam, seraya menatap 'lawan main'nya dengan mata biru esnya. Beberapa detik, kemudian pria Norwegia ini angkat bicara dengan suara datarnya, "Never have I ever... Slept with the opposite sex."

Pernyataan yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Ya, ia tidak pernah 'tidur' dengan lawan jenisnya; walaupun ia hanya menyebutkan 'tidur' namun ia rasa orang-orang di sini mengerti maksud sebenarnya bukan? Benar, itu hanya istilah halus dari sesuatu yang kita sebut hubungan suami istri. Dan ya, Shreizag Halverson belum pernah melakukan hal semacam itu dalam 29 tahun hidupnya di dunia.

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice


Last edited by Shreizag E. Halverson on 19th October 2009, 18:38; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime19th October 2009, 17:47

Ok jadi siapa saja yang meminum, eh?


Bola mata bening milik gadis praha itu dapat menangkap beberapa sosok yang meminum botol-botol alkohol yang telah mereka pilih, termasuk General Kulit Badak itu yang sekarang mendaratkan tangan ke Izarra, disciple favoritnya. Setidaknya pria itu sudah menemukan targetnya yang lain. Dan, Allegra tentu saja –berkat kepolosannya – tidak menganggap berarti pengakuan yang dituturkan seorang demi seorang.

Quote :
"Tidak. Tidak pernah."

Allegra –yang duduk sambil bersedekap – menoleh ke Glaucio, "Hah, kau tidak pernah?” tanyanya dengan nada heran sekaligus iba. Tatapan yang sama terlempar pada siapapun yang tidak meminum alkoholnya.

Ah, kasihan sekali mereka ini....


Back to the game.

Tampaknya General Halverson –yang ditemuinya beberapa waktu yang lalu di kapel – siap memberi pernyataan kedua. Kali ini gadis Praha tersebut menginginkan sesuatu yang 'lebih' daripada sekedar pengakuan hal-hal normal yang remeh seperti barusan. Jadi Allegra menempatkan indra penglihatannya, menatap Shreizag lekat-lekat.

Quote :
"Never have I ever... Slept with the opposite sex."


Beuh!

Hei aku sering tidur bersama Ayah-Ibu dan Pavla di kasur yang sama!


Maklumlah, ingat poin-poin intelijensi gadis itu tidak setinggi sang pria berambut putih itu dan memang ia tidak berbakat mengetahui maksud-maksud tersirat. Harusnya Shreizag mengucapkan pernyataannya tanpa konotasi agar gadis –yang tak pernah berpikir panjang tersebut – itu mengerti.

Ah, tapi kali ini Allegra tidak mengeluarkan pandangan belas kasihnya –oh ya dia masih punya sifat-sifat keibuan di balik lengannya yang kokoh itu – ia sudah mengerti terlalu banyak kalau para penghuni markas ini kebanyakan tidak memiliki latar belakang keluarga yang utuh dan bahagia, seperti dirinya. Allegra memejamkan matanya untuk beberapa detik seraya berdoa, mensyukuri apa yang dia miliki sekaligus memohon ampunan untuk tegakan alkohol yang akan datang Akhirnya bibir mungilnya kembali terbuka. Kalimat berikut terlepas dengan sangat enteng tanpa beban apapun.

“Astaga, hal remeh seperti itu...”

Dituangkanlah Estrella Damm lagi dan gadis berrambut pirang sebahu itu meminum bir-nya dengan cepat. Tak menyadari reaksi atas perkatannya barusan.

Ah kali ini dadanya mulai terasa panas....


Last edited by A. Růžena Mlynarikova on 19th October 2009, 18:18; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 2 I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[CENTRAL] I Have Never Ever!
Back to top 
Page 2 of 4Go to page : Previous  1, 2, 3, 4  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com