An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [CENTRAL] I Have Never Ever!

Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4  Next
AuthorMessage
Líadan Ní Súilleabháin

Líadan Ní Súilleabháin

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime19th October 2009, 18:17

Quote :
"Never have I ever... Slept with the opposite sex."

Mendengar pernyataan selanjutnya yang meluncur dari mulut Shrei, Lia merasa darahnya mengalir terbalik. Ia menatap General-nya itu dengan tatapan kaku. Wajahnya pucat pasi, tidak tahu tindakan apa yang harus ia lakukan. Hei, meski dulu ia kurang fasih berbahasa Inggris, sekarang ia sudah jauh lebih pintar sejak diajari oleh Leon. Dan pemuda itu juga mengajarinya kata-kata berkonotasi duluan, supaya tidak terjadi kesalahpahaman di sana-sini.

Lagipula, Lia yakin seorang Shreizag pasti pernah tidur bersama dengan 'ibu'-nya, membuat apa yang dikatakan pria itu pastinya berkonotasi. Ada yang tersirat di sana. Dan, jujur, Lia tidak suka itu.

Salah seorang peserta acara itu menenggak minumannya duluan. Dilihat dari bagaimana gadis itu berbicara, Lia mengambil kesimpulan bahwa Allegra cukup bodoh untuk tidak mengerti arti yang tersirat dalam kalimat yang dilontarkan oleh Shrei. Ataukah Disciple dari Francis itu memang sama tidak sucinya dengan dirinya? Entahlah. Lia tidak berani menghakimi orang lain lebih lanjut lagi.

Gadis Irlandia ini kembali menimang-nimang botol miras yang ada di tangannya itu. Tidak akan ada yang tahu kalau ia berbohong atau pura-pura polos. Yang tahu paling-paling hanya dirinya sendiri dan Tuhan. Tapi, untuk apa memikirkan soal Tuhan kalau toh ia memang benar-benar pernah 'tidur' dengan kakak sepupunya sendiri. Siapa yang dia cemaskan? Siapa yang tidak ia inginkan untuk tahu kenyataannya?

Shreizag Erstad Halverson

Lia kembali membeku mengingat nama itu. Kenapa lagi-lagi nama orang itu yang muncul. Ia melirik ke arah Masternya itu, yang tampaknya sedang menyusuri wajah para peserta acara laknat itu dengan tatapannya yang sedingin es. Lia menghela nafas panjang, lalu membuka tutup botol minumannya dengan agak keras. Dan dalam satu gerakan cepat, ia kembali meneguk seperlimanya tanpa komentar setitikpun.

Ia menutup dan meletakkan botol itu dengan agak keras di sebelahnya, lalu melotot ke arah Shrei dengan tatapan yang jelas mengatakan 'kau puas sekarang?!'. Ia memeluk erat Babog Liath-nya sambil menekuk lututnya dan memeluk lututnya juga. Sebuah isakan pelan lolos dari bibir mungilnya, bersama dengan air mata yang bergulir perlahan di pipinya.

Ia tidak tahu, ekspresi macam apa yang harus ditunjukkannya pada Shrei nanti, setelah malam itu berlalu. Sekarang ia hanya bisa berharap semoga pria Norwegia itu akan cukup mabuk nantinya, dan melupakan apa yang pernah terjadi malam itu.
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime19th October 2009, 18:24

A--

Apa-apaan ini?


Giraile mendesis, tutup botol Brandy de Jerez tetap di tempat, walau jarinya mengetuk-ngetuk botol kaca itu dengan geram. Sesungguhnya, ia hanya berharap 'menembak' Ravel Kohler dan Francis Karlsen dengan pernyataan itu; dengan status 'telah menikah' Ravel dan status 'pria cabul' Francis, mustahil jika mereka tidak pernah berciuman. Mengingat ucapan sang 'pria cabul', "Kau harus melangkahi mayatku sebelum kamu bisa mencuri kesempatan lagi," balasnya tajam, dengan bibir yang menipis akibat senyuman lebarnya.

Yang mengagetkan, justru dua Disciple wanita muda dalam permainan itulah yang pertama mengakui pengalamannya. Giraile menyipitkan mata; umur mereka tidak mungkin lebih dari dua puluh tahun--minimal, mereka sudah pasti lebih muda dari dirinya. Tetapi, mereka sudah lebih 'berpengalaman' dari dirinya, betapa ironis. Terutama, karena mereka bertampang polos.

Ingressa meneguk Pedro Ximenez; Giraile mengangkat alis. Ia memang tidak menspesifikasikan jenis ciuman apa yang dimaksudnya; wajar saja jika Ingressa, wanita berjiwa Italia itu, meneguk minumnya. Kecupan di pipi adalah suatu sapaan wajar baginya. Yang mengejutkan lagi, justru Glaucio, lelaki non-jenderal satu-satunya, yang sama bersihnya dengan dirinya.

Yang paling mengejutkan; Shreizag turut meneguk alkoholnya. Giraile tentu sudah memvonisnya sebagai pembohong seandainya ia tidak ingat bahwa tidak ada keuntungan yang diraup lelaki Norwegia itu dengan berbohong. Inilah yang membuatnya paling geram. Didahului dua wanita muda itu, bolehlah. Tetapi, pria kaku itu... "Di luar dugaan, Shrei. Ternyata kamu tipe penyayang juga," gumamnya pelan, tidak terlalu berharap lelaki itu akan mendengarnya.

Lalu, pernyataan berikutnya.

"Lolos," gumamnya. Tampaknya, saat mencicipi Brandy de Jerez belum tiba. Pernyataan yang sangat provokatif, tetapi... mencium saja tidak pernah, bagaimana dengan itu? Sekali lagi, dua Disciple wanita berparas polos itu mendahuluinya di bidang itu. Malah, salah satunya menganggapnya sebagai hal enteng. Giraile mendengus. 'Anak perempuan jaman sekarang...'

"Berikut, darimu, Karlsen." Kira-kira, pernyataan apa yang akan dilontarkan jenderal ini? Paling tidak pernyataan itu tidak akan bersifat seksual; ia yakin, hampir segala yang seksual telah dijelajahi lelaki itu.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime19th October 2009, 19:08

"Heran... Allegra?"

Well, it's look like...

--Glug--tegukan berisi udaranya kosong, oh--betapa ia mengharapkan air mineral sekarang; memintanya pada Giraile pada saat seperti ini justru membuatnya semakin beresiko untuk mendapati campuran benda-apalah-itu di dalam gelasnya.

...Glaucio Marino tidak ikut menghitung berapa jumlah kecupan di pipi yang ia terima.

Hahaha.

Kasar; ya, ia tahu itu. Bagaimana tatapan keheranan dari Allegra, serta Michelli--dua orang laki-laki yang lain tampaknya tidak begitu peduli soal itu setelah seperlima bagian gelas meluncur ke dalam tenggorokannya masing-masing--tertuju jelas ke arahnya. Yea, beda pandangan hidup, visi, opini pribadi--akan mempengaruhi hasil akhirnya juga. Ia hanya sedang kebetulan lupa untuk memikirkan kemungkinan seperti itu; dan dalam permainan seperti ini yang diperlukan hanyalah naluri untuk bertahan hidup--

--dan mempertahankan alibi; sampai sejauh mana ia bisa bertahan. Kissing, hmm... Lips to lips? Haha, dan dilakukan dengan sepenuh raga dan hati--Glaucio Marino tidak punya hati, dan tidak membiarkan siapapun mencium dirinya--meski hanya di pipi, dan tak lebih dari sentuhan antar pipi sekalipun. Ia bukan laki-laki lembek yang menyukai perhatian dan kemesraan dari orang lain, hmm... Tak ada yang lolos lagi dari jeratan pertanyaan 'setan' dari si nona general rupanya, haha. Satu kali pertama, ia lolos. Akan berlanjut sampai berikutnya... Atau memang hanya sampai di sini saja nasib baiknya?

Kita tunggu pernyataan seperti apa yang keluar dari Halverson berikutnya.

"Never have I ever... Slept with the opposite sex."

Kalau Tuhan memang tidak mengizinkannya untuk menginjakkan dosa, menenggak minuman keras; Ia pasti akan bekerja untuk mencegahnya.

Bagaimanapun caranya.

Pfft--oh, oke, Glaucio menahan tawa. Tidak kedengaran kan? Bagus; siapapun akan tahu bahwa kata 'slept' yang ada di sini hanya semacam kiasan belaka... Jika ditekankan hingga sedemikian rupa seperti itu. Glaucio Amadeus Marino tidak bodoh, tuan; tidak juga anak bayi. Dia juga belajar ilmu pengetahuan alam; dan berbagai bahasa slang yang beredar di sekitarnya. Kali ini seharusnya Glaucio katakan pada sang tuan general, jika ingin menjerat lebih banyak 'korban' dalam permainan--maka pilihlah pertanyaan yang 'bersifat' lebih umum. Yang seperti ini paling-paling yang pernah melakukannya hanya tuan Kohler... Dia tidak memikirkan Francis akan masuk kok, sungguh--sebuaya apapun orang itu, pastinya akan ada satu sisi kepolosan dalam batinnya. Dan tidak yang lainnya, ha--

"Astaga, hal remeh seperti itu...”

Refleks menyuruhnya untuk mengucap vokal A tanpa suara sedetik setelahnya. "Kau rupanya... Melakukan lebih banyak daripada yang pernah kukira." Ujarnya, setengah membatin dan ditujukan kepada dirinya sendiri--tak lama setelah gadis itu menandaskan segelas bir-nya. Gadis itu tak perlu dengar, kalau itu berpotensi membuatnya meninju si pria tak lama sesudahnya. Ogah.

Para wanita di sini rupanya memang melakukan lebih banyak hal daripada yang pernah ia pikirkan. Si pirang itu mulai menenggak gelasnya, sementara satu-satunya nona general di sini kembali jadi orang pertama yang lolos setelah itu. "Tidak pernah."

Raut wajah dan suaranya datar, sesaat kemudian kembali menyimak pernyataan seperti apa yang akan keluar dari mulut sang general--apapun yang tidak pernah dilakukan orang itu, kelihatannya otomatis tidak akan pernah dilakukan olehnya juga--sepertinya. Benarkah ia telah diberkati?
Back to top Go down
View user profile
Francis U. C. Karlsen

Francis U. C. Karlsen

Posts : 96
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 27

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime19th October 2009, 20:35

"Kau harus melangkahi mayatku sebelum kamu bisa mencuri kesempatan lagi,"

"O—ow~ Galaknya." Francis malah menggoda Asdvadzadour dengan nada suara yang dibuat-buat, rasanya senang sekali menggoda General yang satu ini—merangsang adrenalin Francis yang menyukai tantangan, sepertinya menyerang Asdvadzadour bisa memberikannya kepuasan terbesar karena sulitnya itu. Haha~ Rasanya di otak Francis muncul bayangan-bayangan yang membuatnya menyunggingkan senyuman yang terlihat agak menyeramkan.

Hati-hati, para wanita yang ada di sini.

"Never have I ever... Slept with the opposite sex."

"FFFFF****CKKK!!! Kalian mengerjaiku ya?!" Seru Francis yang terpaksa harus menegak seperlima botolnya, sengaja sekali sih untuk memilih pernyataan yang jelas-jelas pernah dilakukan olehnya? Tidur dengan lawan jenis—wanita? Tentu saja pernah! Memangnya Francis ini tipikal orang setengah-setengah yang hanya berani menyentuh wanita yang terbalut di balik pakaian? No, ia melakukan segala sesuatunya secara tuntas dan tidak jarang membawa mereka semua ke tempat tidur.

Dan lihat saja—ternyata Mlynarikova bahkan sampai meminumnya! Akibat sensasi panas di tubuhnya serta rasa 'melayang', kata-katanya yang memang tidak pernah disaring kini keluar lebih gamblang lagi. "Mlynarikova! Ternyata kau sudah tidak perawan lagi?!" Tanyanya dengan suara keras, terlihat jelas wajahnya yang agak memerah dan senyumannya yang mengembang makin lebar ketika menatap Mlynarikova dengan pandangan yang tidak percaya.

"Kalau begitu mau 'tidur' denganku saja malam ini?" Tawarnya, ditambah tawa keras dari Francis—ups, sepertinya tegukan kedua sudah mulai membawanya ke dekat-dekat mabuk, semoga saja ia tidak mengamuk di sini dan melakukan berbagai hal yang tidak akan pernah bisa dibayangkan orang lain. Francis bukan tipikal orang yang tahan akan minuman keras, malah ia lemah dan bisa mabuk dengan cepat kalau dicekoki setengah botol saja, tapi kelakuannya saat mabuk dan tidak mabuk tidak berbeda jauh.

Manik obsidiannya tiba di sosok Marino—yang botolnya masih penuh. Tsk—dasar gila, mau sampai mana lagi sosok tersebut tetap tidak meminumnya? Dasar orang suci, pasti Marino tipikal orang yang akan teriak-teriak apabila diserang secara seksual—naay...tidak semua perempuan itu manis dan suci seperti disciplenya yang berambut hitam, terkadang salah satu dari mereka bisa jauh lebih ganas dari Francis. Apakah Francis pernah menemui tipe seperti itu atau tidak adalah sebuah rahasia~

"Berikut, darimu, Karlsen."

"Tunggu sebentar." Francis beranjak, lalu mencari sosok yang tadi berani-beraninya menampar pipinya. Lalu Francis memberikan senyuman timpang untuk sang gadis Itali tersebut sambil melipat tangannya> "Anyway..." Ia agak menyeret kata-katanya. "Kukembalikan tamparanmu yang tadi." Lanjutnya yang langsung mendaratkan tangannya ke bagian dada Micheli—dan turun ke pinggang, matanya sedikit mengobservasi pinggulnya. "Pinggulmu kecil, ya?" Sedikit rasa kecewa muncul di pertanyaan Francis.

Francis langsung berdiri menjauh sebelum dihajar oleh Micheli dan melakukan pose berpikir—tentu saja pura-pura, ia sudah tau apa yang harus dikatakannya untuk memeriahkan suasana. "Nah—giliranku... Never have I ever—sexually harassed by a man!" Pembalasan harus lebih kejam dan ia yakin tiga dari antaranya akan segera meminum alkoholnya. Aha~ Francis memang pintar, itu sebabnya sebelum menyatakan itu ia harus membalas Micheli.

Nah—Francis menjilat bibirnya—Siapa di sini yang masih suci? Suilleabhain? Masih bocah sih, nanti sajalah kalau ia sudah mulai bosan~

"Hic."

_________________
Want my Cigarette?
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 205we9s
-Maraschine...a french kiss for you-
Ang || Lint
Back to top Go down
View user profile
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime19th October 2009, 21:16

Nah, jadi... Bagaimana reaksi para peserta menyangkut pernyataan yang dilontarkannya? Mari kita absen satu persatu. Reaksi pertama datang dari murid Francis berambut pirang; “Astaga, hal remeh seperti itu...”

Dahi Shreizag mengerut. Wah, anak muda zaman sekarang... Rupanya hal itu sudah dianggap sebagai hal yang remeh ya? Kemajuan zaman terasa terlalu cepat akhir-akhir ini. Oh Tuhan, ampunilah hamba-Mu ini.

Beralih pada peserta yang lain, kali ini muridnya sendiri, Lia. Terlihat gadis Irlandia itu tengah mengalami konflik batin, kenapa? Tangan gadis yang mungil itu menyentuh botol, gesturnya seolah menunjukkan bahwa ia akan kembali meneguk isi botol tersebut. 'Jangan,' Shrei bergumam dalam hati. Namun terlambat, tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, Lia menenggak seperlima dari minumannya.

Melihat pemandangan itu, hati Shreizag seakan tertusuk belati. Sebuah ciuman masih bisa ditoleransinya, tapi... Tidur dengan lawan jenis? Matanya melebar, ekspresinya yang semula datar dan tenang, kini berubah drastis menjadi ekspresi yang... bercampur-campur antara terkejut, sedih, dan kecewa.

God,

"Lia..." gumamnya pelan, suaranya kental akan nada sedih dan penyesalan.

Where did I go wrong?

Gagal. Shrei telah gagal menjadi figur guru sekaligus ayah bagi gadis itu.

Shreizag menutup matanya, mencoba menahan emosi keluar dari dalam dirinya. Mengapa ia tidak berpikir kalau Lia salah mengintepretasikan pernyataannya? Tidak mungkin. Lia adalah gadis yang cerdas, ia pasti bisa langsung bisa menangkap makna tersirat dari pernyataan itu. Lagipula, dari isak tangis Lia yang terdengar sekarang, alasan di balik tindakannya barusan sudah jelas.

Gagal, eh?

Pria Norwegia ini menghela napas panjang, kemudian ia menatap lurus pada sang gadis Irlandia, "Lia, kita akan bicara nanti." daripada tegas, nada bicaranya lebih kepada ayah kepada anak gadisnya yang hendak memberi nasehat. Mungkin suaranya tidak terlalu besar, namun ia yakin Lia dapat mendengarnya. Entah besok atau beberapa hari lagi, ia harus membangun percakapan empat mata dengan gadis itu. Menilik apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya. Mencari di mana letak sebuah lubang besar yang entah bagaimana, luput dari pengamatannya.

Hei, sekaku-kakunya dia, Shreizag Halverson adalah manusia yang memiliki emosi. Emosi untuk menyayangi.

Ia menghela napas lagi, kali ini lebih pendek, "Tim, ikke glem å minne mig av denne situasjonen senere." titahnya pada Timcanpi yang sedari tadi bertengger di pundaknya, sang golem perak memberi tanda mengerti. Bila ia lupa akan segala hal yang terjadi di sini, maka golem perak ini akan menjadi saksi dari semua yang akan terjadi.

Saking fokusnya pada Lia, Shrei sampai tidak memperhatikan kalau Francis berjalan mendekatinya--Ressa, lebih tepatnya. Ia baru tersadar ketika Jenderal itu berucap, "Kukembalikan tamparanmu yang tadi."

For Gud skyld, 'kembalikan' katanya? Pria ini sungguh kurang ajar. Francis, kau benar-benar mencari masalah. Shreizag tidak peduli dengan wanita lain yang 'diganggu' oleh pria satu itu, tapi bila ia berani menyentuh Ingressa, atau Lia, sebuah segel tak akan cukup untuknya.

Demi menenangkan emosi Ressa yang hampir meledak, Shrei mengenggam satu tangan wanita Italia itu, memandang wajahnya, kemudian menggeleng pelan. Jangan. Jangan sekarang, dear.

"Nah—giliranku... Never have I ever—sexually harassed by a man!"

Lewat. Memangnya dia ini pria macam apa?

Lihat saja Francis, kau akan mendapat balasan yang setimpal nanti karena sudah berani mengusik wanita yang disayanginya. Ressa bukan orang sembarangan, oke? Sudah hampir satu dekade Shrei mengenalnya, dan banyak berhutang budi padanya, maka dari itu perbuatan Francis tidak bisa dibiarkan begitu saja. Apalagi bila nanti ia berani menyentuh Lia juga...

Francis Ulysses Christian Karlsen, dengan ini kau resmi menyatakan perang pada Shreizag Erstad Halverson.



[OOC: Kasihan Shrei... Jangan jatuhkan dia doooms~ TwT]

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Izarra O. Maraschine

Izarra O. Maraschine

Posts : 28
Pemilik : jingsgirl
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 25 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime20th October 2009, 03:35

“Euh... Maraschine, ya?”

Tepat ketika satu suara terdengar menyapanya, Izarra menoleh. Didapatinya sosok pemuda dengan surai perak semi panjang, dengan pincingan matanya yang sewarna orb. Oh, Izarra mengenalnya. Dia Marino, disciple yang sama dengannya—sama-sama berada satu pangkat di bawah general-ya-kau-pasti-tahu-siapa. Mengangguk tanpa respon suara yang pasti, dan hanya melempar pandangan mata sekilas tanpa arti. Pihak seberang bertanya kembali, apa maksudnya dirinya datang kemari.

“Seperti biasa, mencari general kita.” Tukasnya pendek. Terkadang gadis ini tak terlalu senang membicarakan soal generalnya—dalam berbagai arti. Sumpah, dahulu saat pertama kali bertemu dan direkrut dalam Black Order, yang Izarra tahu ia adalah orang berkharisma tinggi. Kenyataannya malah...ah sudahlah.

Bunyi decit pintu dibuka, Marino tanpa enggan membuka pintu yang dari dalamnya terdengar suara yang begitu ramai tadi, membuat Izarra mencegahnya. “Kenapa kau buka? Memangnya ini kamar—”

Ujarnya terhenti ketika...ia dapati suasana yang tengah terjadi di dalam sana. Di luar dugaan. Layaknya seperti pesta lajang (ia hanya meminjam istilah di sini), suasana dalam kamar itu amat lebih dari itu. Kuar bau minuman amat menyengat, membuat Izarra reflek menutup hidungnya. Uh, bagaimana mungkin mereka semua berkumpul di sini? Egh—agaknya memusingkan. Izarra tak tahan berlama-lama di sini, hendak memutar arah untuk kembali setelah berulang-ulang membatin kalimat takjub bukan kepalang melihat hal tersebut (terlebih kau lihat bagaimana kemesuman generalmu lagi kali ini, malang benar Allegra), hal itu terpaksa terhenti ketika ia sadar tangannya tertarik oleh...sang general sendiri.

“General—lepas atau saya memukul anda.” Pekiknya tak main-main, enak saja. Jangan mentang-mentang anda general anda mudah menyeret Izarra dalam hal-hal tak baik seperti ini, tuan. Terima kasih.

Meski tak khayal, sudah berkali-kali Izarra gagal. Ya Tuhan, lindungilah Izarra apapun yang akan terjadi di dalam ruangan ini. Suasana yang kurang Izarra busa terima dalam pikirannya adalah; apa yang sebenarnya dilakukan mereka di sini. Meski ia tadi turut mendengar tuturan Allegra, tetap saja. Uhk, dia hanya berdiri termangu di salah satu tempat dalam ruangan tersebut, tak nyaman. Merasa memang tak bisa berlama-lama di sini, ia memutuskan...

“Se-sebaiknya saya tak turut.” Ya, itu lebih baik. Lagipula apa yang bisa kau dapat dalam ruangan dimana orang-orang tengah minum-minum? Berikutnya kau juga yang akan minum!


Last edited by Izarra O. Maraschine on 20th October 2009, 15:59; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Líadan Ní Súilleabháin

Líadan Ní Súilleabháin

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime20th October 2009, 06:29

Quote :
"Lia, kita akan bicara nanti."

Pelan. Begitu pelannya sampai kalimat itu hampir lolos dari pendengarannya. Tapi tidak, kalimat itu tidak lolos sama sekali. Malahan, kalimat itu terdengar dengan sangat jelas di telinganya. Pengaruh alkohol? Lia sendiri tidak mengerti. Ia mengangkat kepalanya sedikit, masih dengan mata berkaca-kaca dan pipi yang basah. Manik hijaunya melirik ke arah sang General, yang kini tampak sedang melindungi dan menenangkan sahabat wanitanya, Ressa.

"Tak ada yang perlu dibicarakan..." bisiknya lirih sambil kembali menenggelamkan kepalanya di balik kedua lengannya yang terlipat.

Quote :
"Nah—giliranku... Never have I ever—sexually harassed by a man!"

Rasanya Lia ingin segera mengaktifkan Babog Liath dan menghajar semua orang yang ada di ruangan itu. Kenapa dari tadi pernyataan yang dikeluarkan selalu bersifat seksual? Memangnya tidak ada hal lain yang bisa dikatakan? Misalnya, tidak pernah makan cabai, tidak pernah menampar atasan, tidak pernah pergi ke suatu tempat, atau pernyataan-pernyataan umum semacam itu? Bukankah hal itu justru akan menjaring lebih banyak orang untuk minum, tanpa harus membongkar aib orang tersebut, dan acara malam itu akan menjadi lebih penuh canda tawa?

Masih menangis, Lia kembali mengambil botol Blanca de Daroca miliknya, dan kembali meminum seperlimanya. Rasa manisnya anggur yang bercampur dengan pahitnya alkohol sekali lagi meluncur melewati kerongkongannya, membuat dadanya yang sesak karena kekesalan yang bertumpuk semakin terasa menyakitkan oleh panasnya miras tersebut.

Sambil meletakkan botol minumannya ke lantai, ia memindahkan bonekanya ke sebelahnya dan membisikkan nama Innocence-nya pelan. "Babog..." Boneka itu segera membesar sampai seukuran manusia, lalu merangkul gadis itu dengan tangan kapuknya.

Setidaknya, sekarang Lia merasa jauh lebih nyaman karena ada yang mau merangkulnya sampai ia tak sadarkan diri nanti.


Last edited by Líadan Ní Súilleabháin on 20th October 2009, 14:52; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime20th October 2009, 06:42

“Se-sebaiknya saya tak turut.”

Salah satu alis Giraile meninggi; baru saat itu, ia kembali mengingat keberadaan si Mara--apa itu yang dirangkul Francis dengan demikian mesranya. "Ah, kalau mau gabung juga tak apa," ujarnya santai. Jika ia mengobrak-abrik tumpukan jarahannya, ia bisa, minimal sekali lagi, mengeluarkan satu botol alkohol yang tak disukainya untuk ditumbalkan malam ini.

Giliran Francis. Baiklah, semakin ke sini tema seksual semakin jelas. Terlihat jelas bahwa jenderal itu berniat balas dendam.... tetapi, memangnya Ingressa sudah pernah digerayangi lelaki? 'Seharusnya ia meraba dada Michelli dulu sebelum mengucapkan itu,' batinnya dengan senyum miris, namun ia tidak mengharapkan terjadinya hal itu. Cukup dengan dirinya dan Disciple lelaki itu saja. Bibirnya menipis, sembari senyumnya melebar. "Sialan kamu, Karlsen."

Minimal, kini ia mendapatkan kesempatan perdana mencicipi minuman beraroma lezat itu. Ia menempelkan bibirnya pada mulut botol, membiarkan cairan yang telah diproses a la solera itu turun ke dalam mulutnya, membasahi kerongkongannya. Mata ambernya mengevaluasi isi gelas; ia pun berhenti meneguk Brandy de Jerez-nya seusai seperlima isi botol telah dikonsumsinya.

Giraile mengelap pinggir mulutnya dengan punggung tangannya. Nikmat, walau ia berharap ia tidak akan mengikuti rombongan mabuk. Ia menatap Shreizag dan Liadan, yang tampaknya memiliki atmosfer tegang di antara keduanya. Matanya melebar melihat Liadan meneguk alkohol lagi, jangan bilang gadis ini yang akan tumbang pertama?

"Babog..." Melihat gadis Irlandia itu, Giraile merasa agak miris, tetapi... Mata ambernya menatap tajam Shreizag. "Those who enter the game, stay in the game," komentarnya, seraya ia menutup botol mirasnya dengan rapat. Matanya menyapu seisi ruangan, melihat respon dari yang lain. Mungkin kali ini Ravel Kohler bisa berbahagia?

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime20th October 2009, 11:54

Dua pernyataan, disertai dengan gelagat beberapa peserta permainan akan meneguk seperlima isi botol.

Pernyataan yang pertama ia anggap cukup menyudutkan dirinya sebagai seorang duda. Shreizag Erstad Halverson, sepertinya ia memang mengincar hal tersebut sebagai ujian apakah ada salah satu dari mereka--terutama yang memang belum menembus umur nikah--sudah pernah melakukannya. Gelagat dari beberapa orang yang seharusnya belum melakukan hal tersebut membuat mata kuning-kecoklatan milik sang pria menyipit--pengecualian untuk Francis, yang sudah ia duga pernah melakukan demikian.

...'Anak-anak zaman sekarang...'

Ingatkan dirinya untuk lebih protektif terhadap anaknya sendiri.

Satu tegukan untuk menghabiskan seperlima botol Calvados. Seharusnya kali ini gilliran Jendral Francis--yang sempat membuat matanya membesar karena kali ini melakukan hal tidak senonoh, lagi.

Never have I ever—sexually harassed by a man!


....

Serius, mengapa topiknya tidak jauh dari seksualitas?

Dahi mengerut, mata menyipit. Perlukah ia minum lagi? Tentu saja tidak. Karena itu lah, tangan tersilang di depan dada sementara senyum tipis yang biasa terukir pada fitur wajahnya hilang, digantikan dengan sebuah senyum bangga. "Tidak. Tidak pernah, sama sekali."

Ada yang sadar kalau warna mukanya kini perlahan memerah? Baru 3/5 botol... Baiklah, bagi Ravel Kohler, itu bukan 'baru'. "Selanjutnya..."

Mata kuning kecoklatan menerawang sekitar--memang seharusnya gilirannya, bukan?

"Never Have I ever..." waktunya merubah tema. "...saw someone so much alike with whoever you love."

Yap. waktunya mengubah tema. Tidak pernah, karena itulah pria ini tidak menyentuh Calvadosnya lagi.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General


Last edited by Ravel Kohler on 21st October 2009, 11:58; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime20th October 2009, 15:27

“Kau belum pernah ya? Mau mencoba sekali denganku?” timpal gadis bermata biru itu pada Glau. Iya syaraf-syaraf kewarasan otaknya sudah mulai mengendur berkat dua tegukan yang sebelumnya. Dalam keaadaan normal ia tau kok kalau tidur dengan pria lain yang bukan anggota keluarga, kekasih atau suaminya adalah hal yang tabu.

Jadi bagaimana kau akan menanggapi tawaran murah hati ini?

Quote :
"Mlynarikova! Ternyata kau sudah tidak perawan lagi?!" 

“Hah apa kata Anda? Keluargaku tak pernah berjualan perabot tauu!”

Ucapnya sambil menggoyang-goyangkan botol Estrella Damm miliknya, jelas-jelas tak menangkap suara Francis dengan benar. Sekali lagi Allegra berusaha mempertajam penglihatannya dan memperhatikan Generalnya yang berlagak seperti pemikir besar dari abad ini. Tiba-tiba dia terkekeh pelan, geli dengan fakta bahwa ternyata Francis memang bisa berpikir. Oke mari kita dengarkan pernyataan selanjutnya.

Quote :
"Nah—giliranku... Never have I ever—sexually harassed by a man!"
Beuh!

Allegra berdiri dari posisi duduknya sambil mengepalkan telapak tangannya yang bebas ke Francis, posisi tubuhnya sedikit tak stabil. “Arh andai saja kau bukan Generalku!” serunya sambil membuka tutup Estrella Damm, kali ini langsung meminum alkohol tersebut dari mulut botolnya dan menghabiskan seperlima lagi. Gadis Praha itu mengakhiri tegukannya dengan duduk –sedikit terjerembab – di atas karpet milik Giraille. Lengannya memeluk botol alkoholnya sementara tatapannya tidak lepas dari wajah Francis, meluncurkan ekspresi kekesalan tersembunyi yang sekarang meluap berkat pengaruh buih-buih alkohol.

Si rambut pirang sebahu itu kembali bersedekap –sedikit cegukan – memperhatikan sosok pirang lainnya yang sedang menjalani gilirannya.

Quote :
"Never Have I ever...saw someone so much alike with whoever you love."

Hmm...

Allegra terdiam sebentar, berusaha memikirkan maksud pernyataan Ravel, matanya menyipit dan sesekali dia cegukan.

Seseorang yang mirip orang yang kucintai disini...

Ia mencoba mengingat-ingat, rasanya tidak ada kok seorangpun yang mirip anggota keluarganya dan ia juga tak punya orang yang ditaksir, jadi Allegra menghela nafas sambil menggeleng wajahnya pelan. “Pass...” ucapnya dengan wajah yang memerah.

Ahh kenapa panas sekali ini...?

Lengan gadis itu meraih syal bulu Flamingo yang tersemat di lehernya, mencoba membuat dirinya lebih sejuk. Sorot matanya kemudian melirik ke Glaucio dan bibirnya kembali membuka, “Heii Glauuu, rasanya kau pantas memakai ini...” Allegra mengalungkan –dengan kekuatan yang dapat mencekik – syal miliknya ke leher Glaucio sambil terkikik pelan.

Tingkah orang mabuk memang tak dapat dikontrol...


Last edited by A. Růžena Mlynarikova on 21st October 2009, 18:54; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
Ingressa Michelli

Ingressa Michelli

Posts : 77
Umur : 27
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime21st October 2009, 12:21

"Never have I ever... Slept with the opposite sex."

Francis, kena lagi kau!!

Ressa tersenyum miris sembari melirik makhluk yang mampu membuatnya kesal hanya beberapa menit setelah mereka bertemu. Ya, jangan salahkan Ressa soal Karlsen yang kini sudah meminum seperlima..ups..dua perlima isi botolnya. Bukankah si Gy dan Shrei yang membuatnya menengguk isi botolnya?

Mata Ressa berputar melihat sekelilingnya. Allegra minum? Ya Tuhan, apa yang sudah diperbuatnya? Tapi itu belum seberapa dibanding keterkejutan Ressa saat Lia kembali menenggak isi botolnya. Ressa hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Dia sih, belum pernah melakukan hal semacam itu, jadi ia bisa tenang..

"Lia, kita akan bicara nanti."

Ya, itu tindakan yang wajar dari Shrei, seorang general yang tergolong bertanggung jawab di Black Order, dibanding... Ujung mata Ressa memperhatikan seraya Karlsen menenggak kembali seperlima isi botolnya. Tunggu. Apa yang pria itu lakukan? Apa ia berjalan ke arahku?

"Kukembalikan tamparanmu yang tadi."

"Kurang ajar! KYAAAA!!!" teriak Ressa. Ia memang berniat menghajar pria itu, tapi.. Sudahlah, ia kini masih shock dan terengah-engah, dan Karlsen sudah pergi menjauh. Sial!

Sebuah sentuhan kini terdeteksi oleh indra peraba sang wanita Italia itu. Shrei.. Ressa memandang Shrei dan mencoba untuk tersenyum. Tentu saja ia akan menunggu waktu yang jauh lebih tepat untuk membunuh si Karlsen bodoh itu!

"Nah—giliranku... Never have I ever—sexually harassed by a man!"

Oh, balas dendam rupanya? Bagus sekali! Ressa segera mengambil botol
minumannya dan menenggak kembali seperliam bagian minuman memabukkan itu.

Ya, bayangkan panas yang Ressa rasakan di dalam dadanya. Panas karena amarah dan panas karena alkohol bisa menjadi sesuatu yang sangat mengerikan bila dikombinasikan. Kini Ressa nyaris tidak tahan lagi panasnya. Tangannya menggenggam ikatan rambut yang ada di punggungnya dan melepasnya. Rambutnya yang pirang terurai di dadanya.. Huff, sedikit lebih nyaman bukan?

"Never Have I ever saw someone so much alike with whoever you love."

Ressa hanya tersenyum kecil. Siapapun orang yang ia sayangi tidak mungkin punya wajah sepasaran itu. Dengan rasa aman ia pun menggenggam botol sherry yang kini tinggal 3/5nya.

“Heii Glauuu, rasanya kau pantas memakai ini...”

Allegra sudah mulai mabuk rupanya. Semoga ini jadi pelajaran baik baginya bahwa bermain dengan sekumpulan orang dewasa yang doyan minum bukanlah tindakan yang bijaksana.

Baiklah. Sekarang giliran Ressa untuk memaksa orang-orang meminum 1/5 lagi. Apa ya, sesuatu yang kemungkinan besar pernah dilakukan Giraile dan Francis, tapi tidak pernah dilakukan oleh gadis-gadis manis seperti Allegra dan Lia? Hmm.. Mungkin...

"I have never ever physically abused any of my subordinates."

Ayo, makhluk-makhluk kejam, tunjukkan diri kalian.


Last edited by Ingressa Michelli on 22nd October 2009, 10:26; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile http://sereisa.multiply.com
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime21st October 2009, 18:03

"TI--TIDAK!"

[cough]"Err, tidak usah, trims. Bisa-bisa kau menyesal... Hanya karena mabuk sedikit saja."

Menanggapi orang mabuk, terlebih dengan emosi tidak akan memberikan hasil apapun--ia memang tidak berpengalaman dengan soal seperti ini, namun hanya dengan akal sehat pun si pria keturunan Italia tersebut saja bisa tahu. Mereka tidak punya akal lagi ketika alkohol yang menyusup ke kerongkongan itu satu-satu mulai menyusup ke otaknya, membakar syaraf-syarafnya. Melihat saja pasti sulit... Kelihatannya; dia juga tidak pernah coba. Allegra Mlynarikova; harus diakuinya--bahkan olehnya yang tidak punya perasaan sekalipun--cukup menarik; dan laki-laki normal di manapun pastinya tidak akan menolak 'tawaran' itu begitu saja. Tapi Glaucio... Ehem, berbeda, oke? Biarkan dia menjaga... 'Keperawanannya', paling tidak sampai malam ini selesai.

Konyol benar. Dihilangkannya pikiran-pikiran tersebut, selagi ia masih punya pikiran dan konentrasi penuh untuk menjaganya; sembari memperhatikan situasi-situasi yang ada di sekitar. Halverson pass, Francis kembali menenggak isi botolnya--tidak lagi mengejutkan, meski tetap saja mampu membuat sikapnya semakin antipati--sembari menjaga sang disciple wanita kesayangan dalam dekapannya. Diarahkannya satu tatapan, sorot mata orb hijaunya tajam menuju ke arah seorang Izarra Maraschine.

'Tenang, dan diam dulu untuk sementara ini sampai situasinya dingin. Berontak-nya nanti saja kalau dia sudah makin ganas.'

Jangan salahkan Glaucio kalau wanita yang bersangkutan tidak paham--bahasa isyarat memang tidak akan bisa digunakan hanya dengan satu kontak mata dalam sepanjang sejarah dunia. Tssk, lanjut.

"Never have I ever—sexually harassed by a man!"

Ha--yang ini bahkan lebih mudah! "Never." Tak sampai satu detik dibutuhkan hanya untuk menjawab pertanyaan tersebut; sesaat melirik pelan ke arah sang general--harus tetap diaku olehnya sampai detik ini--dengan wajah puasnya, tatapannya setengah tak fokus setelah menimpali sang disciple wanitanya yang seorang lagi--dibalas dengan setengah tak nyambung oleh yang bersangkutan.

Kali ini, Glaucio Marino tahu benar mengapa ia selalu bersyukur dilahirkan jadi laki-laki.

Satu tamparan dari Michelli bahkan tak cukup ampuh untuk mengerangkaikannya, alih-alih justru jadi semakin bertambah ganas setelah satu sentuhan darinya kembali menyentuh tubuh si wanita. Kasihan sekali, sungguh--kali ini simpatinya sungguh nyata; tertuju ke arah wanita itu. Tak lama setelah tatapannya tertuju kembali ke arah si pirang disciplenya Halverson, kembali memadatkan 'babog'nya dalam ukuran besar. Ucapan Giraille tanpa sadar pun telah diiyakannya.

"Those who enter the game, stay in the game,"

Di-iyakannya barusan? Cck, ya--kalau keluar dia dianggap pecundang. Tapi kalau tinggal... Ia bisa jadi ikut sinting.

"Never Have I ever..."

Entah kenapa kali ini si pria berharap pernyataannya tak jauh beda dari yang berbau seksualitas...

"...saw someone so much alike with whoever you love."

...Jelas karena dalam bidang itu putra sulung Amadeus Marino tersebut bisa dinyatakan cukup 'bersih'.

Cck, oke kali ini bukan tentang tema yang berlangsung sejak sebelum-belumnya lagi, tapi tetap saja... "Pass." Ia bersih, tssk. Glaucio Marino, si loveless--dan whoever he "love"? Haha, salah besar. Ia yakin tidak pernah mengingat wajah ibunya lagi meski dari foto sekalipun, sementara memori tentang Griselda seolah tak membekas lagi keculi tatapan... Dengan mata berdarah itu. Oke, bukan sesuatu yang patut diingat? Yang lainnya, si.... Euh, 'dia', tidak punya kembaran, atau anggap saja begitu; intinya dia tidak pernah lihat. Bebas untuk keempat kalinya, nasib si pria lajang berumur puluhan pertama itu jelas sungguh ber--

“Heii Glauuu, rasanya kau pantas memakai ini...”

untung? BLEH. "Euh, Alle--" Serius, ia tersedak oleh bulunya. Dan napasnya... Tak jauh beda dengan orang-orang peminum alkohol itu, tersendat-sendat. "KAU SAJA YANG PAKAI INI, OKE? KELIHATANNYA MALAM INI DINGIN SEKALI."

Dingin? Tssk, yang benar saja? Alkohol itu menghangatkan, loh.

"I have never ever physically abused any of my subordinates."

Michelli pass, selanjutnya memberikan pernyataan barunya. Menjawab sembari mencoba melepaskan syal bulu yang membuat kepalanya seolah makin sesak tersebut; susah payah. Well, well, Glaucio Marino... Yang seperti orang-orang sudah pernah ketahui... Hanya menyerang secara 'mental'? Pernah dengar idiom yang bilang kalau lidah manusia lebih tajam daripada pisau? "....Never ever." Ya; jika sudah begitu maka kekerasan secara psikis tidak perlu dilakukan lagi, merepotkan saja.

Mari kita lihat pernyataan yang akan terlontar setelahnya. "Nih, ambil barangmu--uhuk."

_______________
*ngerekap 3 pernyataan sekaligus*


Last edited by Glaucio A. Marino on 22nd October 2009, 15:27; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime21st October 2009, 18:05

Jujur saja, pikirannya masih kalut akibat mengetahui fakta tak terduga yang dikeluarkan oleh muridnya sendiri. Napasnya terasa berat, satu tangannya yang dibalut kain hitam memegangi dahinya, dalam upaya menahan emosinya keluar. Sejak 9 tahun, baru kali ini lagi ia mendapatkan pukulan mental yang terasa sangat berat.

Ia menghela napas panjang lagi. Tuhan, kuatkanlah hamba-Mu ini.

"Never Have I ever... saw someone so much alike with whoever you love."

Seseorang yang mirip... dengan orang yang Shrei cintai?

Seseorang yang memiliki rambut coklat muda panjang yang indah, yang memiliki mata hazel yang terlihat teduh sekaligus tegas, yang mempunyai sisi keibuan sekaligus Jenderal yang disegani... Seseorang yang mirip dengan Raquel Erstad? Tidak ada.

Baginya, sosok ibu hanyalah satu, dan tidak ada yang bisa menggantikan wanita itu. Walau kadang, ia mengharapkan sosok yang sama muncul dalam kehidupannya--ahh, kau bukan anak kecil lagi, Shreizag.

"I have never ever physically abused any of my subordinates."

Kali ini pernyataan yang keluar dari wanita yang duduk di sebelahnya, Ressa. Hmm, menyiksa rekan secara fisik? Rasanya tidak pernah... Err, memang sih Shrei kerap melepaskan segelnya pada Shu bila anak itu sudah keterlaluan, tapi... Bukan itu kan yang dimaksudkan oleh Ressa? Lagipula bentuk hukuman lain yang pernah Shrei berikan tidak menyangkut fisik; paling-paling hanya dandanan super 'wah' yang tidak akan hilang berhari-hari.

Giliran ini ia tak menyentuh Real Sangria-nya. Baru meminum 1/5 dari sangria khas Spanyol itu, tak banyak mengubah situasi fisik maupun mentalnya, kalau tidak mau dibilang tidak ada yang berubah dari dirinya. Hei, pria Norwegia ini memiliki toleransi alkohol yang tinggi, walaupun bukan kegemarannya untuk mengkonsumsi miras tersebut.

Masih pemanasan, eh? Baru ada seorang yang terlihat mabuk dengan jelas, muridnya Francis, yang dengan riangnya mencekik sang rekan berambut abu dengan syal bulu. Shrei sendiri tidak tahu bagaimana kalau ia mabuk, karena sebelumnya ia tidak pernah mabuk. Perlahan, ia melirik Lia dari ujung matanya, gadis itu tengah dipeluk oleh Innocence-nya sendiri. Baiklah, setidaknya ada satu hal yang membuat gadis itu merasa lebih nyaman.

... dan itu membuatnya merasa semakin tidak berguna.


God,

... Tell me what should I do.

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice


Last edited by Shreizag E. Halverson on 22nd October 2009, 23:51; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Líadan Ní Súilleabháin

Líadan Ní Súilleabháin

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime22nd October 2009, 11:15

Setelah beberapa saat dipeluk oleh Innocence-nya sendiri, Lia merasa jauh lebih baik. Mungkinkah roh sang ayah benar-benar bersemayam di sana? Tidak mungkin. Sang ayah yang tidak pernah dilihatnya itu meninggal belum lama, sementara Babog Liath sudah ada bersamanya sejak ia lahir. Mungkin semua kenyamanan yang ia rasakan sekarang hanyalah sugesti, tapi itu pun sudah cukup baginya.

Takut kehabisan stamina di tengah permainan, Lia kembali menginaktifkan Innocence-nya, lalu kembali memeluknya di pangkuannya. Giliran siapa sekarang?

Quote :
"Never Have I ever... saw someone so much alike with whoever you love."

Lia menghela nafas lega. Setidaknya kali ini pernyataannya tidak berbau seksual. Ia berpikir keras, adakah orang yang mirip dengan seseorang yang ia cintai? Tidak, sepertinya tidak ada. Kalau ada, dari dulu ia tidak perlu menyakiti dirinya sendiri seperti ini.

"Never..." gumamnya pelan. Ia lalu melirik sekelilingnya, mencari kira-kira giliran siapa kali ini. Ressa lah yang kali ini mengeluarkan pernyataannya.

Quote :
"I have never ever physically abused any of my subordinates."

Lia terdiam sejenak. Ia butuh berpikir sejenak untuk kata 'subordinates'. Kata itu artinya 'bawahan' bukan? Ia teringat pada Nikolai (Shu) yang sering ia lempari boneka setiap kali orang yang bersangkutan mulai bawel, tapi Nikolai itu kan rekan sekaligus rivalnya, bukan bawahan. Mengambil kesimpulan demikian, Lia angkat bicara;

"Never."

Ia kembali terdiam, menunggu kira-kira giliran siapa sekarang. Ia mengingat-ingat sejenak, giliran siapa seharusnya sekarang? Menghitung urutan hadir, akhirnya ia sadar bahwa sekarang adalah gilirannya. Gadis Irlandia itu menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan pernyataannya.

"Never have I ever... met my father."

Siapa yang akan minum kali ini? Mata hijaunya menelusuri seluruh ruangan, sambil berusaha menghindari kontak mata dengan Shrei. Ia sedang tidak mau menatap Shrei secara langsung, karena ia takut kalau sampai ia menatap kedua manik biru itu, hatinya akan hancur seketika.
Back to top Go down
View user profile
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime25th October 2009, 19:34

Allegra lebih membutuhkan benda itu darinya; makanya Glaucio berikan balik. Tidak; ia tidak butuh pinjaman syal bulu itu setidaknya untuk saat ini, malam yang panas itu... Akh. Err, ya, setidaknya walaupun ia memang butuh, Glaucio yang sekarang tidak akan menerimanya dengan lebih mudah--bulub-ulu seperti itu akan membuatnya tampak lebih kecewekan. Dan Allegra juga tak perlu tahu kalau seorang Glaucio-pun alergi debu kering dan partikel-partikelnya; "Hacchi!"

Waw, dia masih mampu berpikir dengan sewajarnya sampai detik ini, disaat Allegra Mlynarikova pun tidak. Satu lagi alasan yang cukup untuk membuatnya mempertahankan argumen seputar mengapa ia tidak mau mabuk, kan? Err, ya, alkohol akan membuatnya kehilangan daya berpikir otaknya. Dan buat seorang Glaucio Marino selaku tipe pemikir; itu adalah suatu kehilangan yang sangat besar.

Pemuda itu kembali memperbaiki posisi duduknya, setengah paksa kembali membelitkan kelumunan benda tebal berbulu (hachi!) tersebut balik ke leher sang nyonya-nya; kalau begini terus bisa-bisa ia tak tahan untuk duduk lama-lama di sebelah sang rekan Disciplenya. Aroma alkohol yang menguar itu, dan tingkah-tingkah mengejutkannya--yang tidak membuatnya mati karena shok saja sudah cukup bagus--membuat berpikir seolah sudah cukup. Eugh, dan diantara kerumunan orang-orang yang tampak menunjukkan gejala mabuk; termasuk generalnya sendiri itu membuat berpikir seandainya posisinya disini digantikan oleh seorang Izarra Maraschine. Bahkan di dalam pelukan Francis saja tetap lebih aman daripada di natara 'lingkaran setan' itu...

Jatah keberuntungannya malam ini sudah habis, ia tahu itu benar.

Diliriknya pelan botol utuh berisi westons tersebut, cairan kekuningannya seolah tampak begitu transparan dari balik botol berwarna gelapnya. Tutup gabusnya setengah terbuka, lalu ia pilih balik untuk melepaskannya--tindakan antisipatif seandainya nanti-nati ia harus minum dan semoga kadar alkoholnya sudah uckup menguap pada saat itu tiba. Suilleabhain, bocah perempuan pirang itu yang akan menentukan nasibnya berikutnya.

Hidup atau mati.

"Never have I ever... met my father."

Menang atau kalah.

......HAHAHA, hoi--orang-orang yang ada di sini, memangnya Glaucio merasa pernah punya ayah? Pernah tinggal bersama ayahnya? Pernah bertemu dan bicara dengan ayahnya? HAHAHAHA, oh ya! DIA PERNAH.

Bahkan Santo sekalipun patut berpikir ulang kalau-kalau keberuntungan yang diberikannya pada si pemuda berdosa itu sudah terlalu banyak dari yang semestinya.

Refleks memasang muka cemberut ala-ala straight face--ia juga sudah tahu kalau seperti itu refleks membuatnya kelihatan kekanakan sekali--sembari selanjutnya mengambil gelas kaca itu perlahan; penuh keengganan. Menuangkan seperlima dari cairan keemasan di dalam botol itu kedalamnya. Lancar dan cukup bersih. Lalu meminumnya dengan cepat. Sesekali mengaku-ngaku seolah-olah dia tidak pernah punya ayah, itu yang sangat diinginkannya sesekali... Meski melakukannya pada saat ini, justru akan membuktikan sifat kepengecutannya--yang sok mengaku-aku 'tidak pernah' hanya demi menghindari segelas cider.

Jangan dirasa-rasakan... Jangan dirasa-rasakan..

Puas sudah merusak kesucian si abu-abu itu heh, pirang?

Hoi, kenapa semuanya melihatinya begitu? Ngomong-ngomong, cider ekstrak buah itu rasanya tidak terlalu buruk juga--hic.
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime26th October 2009, 18:09

"I have never ever physically abused any of my subordinates."

"...Nope. Never." Ravel melepaskan genggaman tangannya dari mulut leher Calvados, sementara matanya menerawang seisi ruangan. Ada yang pernah? Sepertinya tidak nampak. Hmm, bicara soal pertanyaan Ressa, sepertinya pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya tidak menuai korban. Bagus untuk mereka, kalau begitu. Pertanyaan miliknya memang dimaksudkan sebagai bentuk intermezzo sesaat.

Dilihatnya sesaat gadis yang sudah mulai agak mabuk, karena ia sudah mengaktifkan innocence miliknya--Babog Liath tengah memeluk Lia, seakan ia sudah tidak memiliki tameng lain untuk melindunginya. Sang guru--ah, Shreizag... tampaknay ia belum siap untuk mabuk, ya?

"Never have I ever... met my father."

Mata segera tertuju pada Liadan, dan entah bagaimana, ia teringat akan anaknya. Tatapan datar yang seakan menusuk, sebelum tangannya menuang Calvados pada gelas. Mata mulai terasa kunang-kunang, sementara tangan kiri mengambil gelas. "I have."

Dengan satu frase kata tersebut, pria berambut pirang ini mengeuk isi Calvados, seperlima dari botolnya; sesuai dengan perjanjian bukan? Ah, kepalanya jadi sedikit pusing. Mungkin... melepaskan ikatan rambut dapat membuat pikirannya lebih jernih?

Sebelum pikiran logisnya membuat rebuttal logis, tangan kanan pria ini melepas ikat rambut miliknya. Mata kuning kecoklatan kembali menyapu seisi ruangan. Eh, kepalanya terasa lebih ringan...?

"Lanjut, ayo cepat."

...Tidak ada cekukan yang keluar dari mulut pria ini, namun sikapnya saja sudah menandakan bahwa Ravel Kohler... sudah mulai mabuk.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime26th October 2009, 19:03

Quote :
. "KAU SAJA YANG PAKAI INI, OKE? KELIHATANNYA MALAM INI DINGIN SEKALI."

Seru Glaucio Marino –salah seorang dari bagian Karlsen's Brigade, satu-satunya yang memiliki kromosom XY di antara disciple pria berkulit badak itu. Allegra terkekeh geli melihat tingkah pria berambut abu tersebut yang bersin-bersin –sambil berusaha mengembalikan syalnya – karena syal bulu Flamingonya yang berwarna pink. Ya, Glaucio memakai syal bulu berwarna pink, seharusnya kejadian langka seperti itu diabadikan dalam jepretan kamera kan?

Allegra menepuk pipi Glau sambil menatapnya lurus –dengan wajah merah – bibir mungilnya terbuka dan berbicara pada pria yang sepantaran dengannya tersebut.”Pakai! Kalau tidak aku akan menyuruhmu memakai syal bulu landak!” ucapnya dengan bibir yang merengut. Oh itu sebuah ancaman tentu saja. Tunggu, syal bulu landak? Memangnya Allegra punya? Yah sudahlah kalaupun gadis Praha itu tak memilikinya bukan berarti dia tidak bisa memilikinya kok.

Gadis berambut pirang itu kembali ke posisi semula, mencoba memperhatikan sosok-sosok yang mengajukan pernyataan -pernyataan berikutnya. Sesekali matanya melirik pada Glaucio, mengecek apakah syal itu masih berada di lehernya.

Pernyataan pertama dari seorang wanita berambut panjang.

“Err.. lewat.. eh, hic” Ucap gadis itu pelan sambil berusaha menahan cegukannya.

Oke lanjut, kali ini sorot mata Allegra terarah ke seorang gadis berambut pendek dan sedikit bergelombang.

Quote :
"Never have I ever... met my father."

“Idih kalian menjebakku yaaa!?”

Allegra berseru sambil menggoyang-goyangkan botolnya, tinggal 2/5 bagian. Kali ini ia langsung meminum Estrella Dammnya, tanpa gerakan yang tidak perlu dan mengakhirinya dengan suara 'phuaah' pelan. Gadis itu berdiri –sedikit terhuyung-huyung – dan memancarkan sorot manik birunya ke seisi ruangan.

“Uhm oke,” lengan Allegra bersedekap, alisnya berkerut seraya berpikir akan pernyataan yang akan ia tuturkan. Berpikir dalam keadaan mabuk itu hal yang susah lho, jadi maklumi Allegra yang mendengung selama beberapa saat sebelum akhirnya sebuah senyuman lebar terulas di paras manisnya. Jemari lentiknya berjentik seru.

“I.. have never ever fallen in love with someone in Black Order~”

Allegra mendengus pelan –menunjukkan kepuasannya – seraya kembali ke posisinya semula, duduk di atas karpet, bersebelahan dengan Glaucio. Senyuman simpul terlihat di wajahnya, kali ini ia akan mendengarkan dan mengingat semua yang dikatakan mereka dengan baik, benar-benar baik.
Back to top Go down
View user profile
Francis U. C. Karlsen

Francis U. C. Karlsen

Posts : 96
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 27

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime28th October 2009, 21:03

PUAS!

Memang ia sengaja mengeluarkan pernyataan itu—setidaknya akhirnya Asdvadzadour minum juga dan juga Micheli yang menamparnya, ingin ia buat mereka menghabiskan seluruh minumannya dan pastilah mereka mabuk. Setelah mabuk biasanya orang akan melemahkan pertahanannya—dan saatnya Francis membalaskan dendamnya yang sesungguhnya. Waow, sebuah rencana menyenangkan yang sempurna! Ia sampai tidak sabar untuk menunggu saat-saat itu walaupun pastinya botol minumannya akan habis duluan.

"Never Have I ever..."
"...saw someone so much alike with whoever you love."


"Pass." Jawabnya singkat sambil melirik Kohler yang sepertinya sudah mulai menunjukkan gejala-gejala masa depan suram, dengar-dengar pria itu duda—C'MON! APA ENAKNYA SIH MENIKAH? Terikat dengan satu wanita, dicurigai setiap kali pulang lebih telat atau bahkan terlihat sedang berduaan dengan wanita lain walau ternyata wanita itu hanyalah kolega. Makanya Francis benci sekali untuk mejalin hubungan yang melibatkan perasaan, para wanita sering kali merepotkan mereka.

Itu mungkin sebabnya ia lebih suka hubungan main-main, terlebih perasaannya yang tidak sensitif ini mendukungnya. Soalnya toh wanita yang dicintainya adalah seseorang yang tidak mungkin digapai dengan sepasang tangannya, bahkan untuk menyentuhnya saja mustahil.

"I have never ever physically abused any of my subordinates."

"Pass~"

Ya, Francis memang merasa tidak pernah menyiksa bawahannya secara fisik—bukankah menyentuh saja tidak termasuk menyiksa? Serta beberapa 'sentuhan' yang lain, maka dari itu ia menganggap kali ini ia mendapatkan kesempatan istirahat untuk tidak meminum tequila yang sekarang berada di tangannya, sayang—masih tiga per lima dari seluruh isi botolnya karena sudah ada dua pernyataan yang membuatnya harus meneguk minumannya.

Haha. Menyenangkan rasanya—terlebih Izarra yang berontak ketika dipeluknya, mungkin malu-malu? Ayolah, bukannya narsis—wajah Francis cukup tampan, sehingga sepertinya beberapa wanita tidak akan keberatan dengannya. Oh, sayangnya wanita-wanita naif yang berkata bahwa sifat lebih penting dari wajah itu selalu menolaknya—padahal mereka sendiri memilih laki-laki pendamping hidupnya berdasarkan wajah mereka, serius. Ia memiliki kenalan yang dipacari oleh wanita naif dan akhirnya diputuskan karena wantia naif itu beralih ke laki-laki dengan wajah lebih tampan darinya.

Terbukti juga, kan'?

"Never have I ever... met my father."

Sisa dua per lima. Seperlimanya sudah masuk ke lambungnya melewati batang tenggorokkannya—mengingat sosok yang membuangnya sebelum ia diambil oleh mantan Generalnya yang sudah meninggal. Huh, sepasang manusia sialan yang bahkan hanya membesarkannya sampai umur lima belas dan di saat-saat krusial itu, Innocencenya bangkit dan orang tuanya membuangnya karena mereka mengira Francis dikutuk oleh Tuhan akibat dosa-dosanya—menyebalkan. Tidakkah alasannya cukup untuk membenci sosok tinggi yang mereka puja?

"I wish I haven't." Gumamnya pelan.

“I.. have never ever fallen in love with someone in Black Order~”

Astaga, botol tequila milik Francis sisa seperlima—seperlimanya lagi masuk ke dalam mulutnya, tapi Francis sudah mulai mabuk. Bagaimana ini?

Dieratkannya pelukannya pada disciplenya, lalu dengan kurang ajarnya Francis menempelkan bibirnya pada bibir Izarra—tequila yang tersimpan di mulutnya dikeluarkan, dipindahkan ke dalam mulut Izarra. Seluruh penonton permainan ini jelas dapat melihat bagiamana Francis melecehkan salah satu bawahannya secara seksual—ada yang masih berani menjadi disciple Francis? Botol tequila yang tinggal seperlima itu dipegangnya erat, begitupula dengan tubuh Izarra.

"Hic. Jatuh cinta? Sekarang aku jatuh cinta dengan—hic—discipleku." Ujarnya setelah melepaskan ciumannya pada Izarra yang pasti akan shock, Francis menjilat bibirnya sendiri lalu tersenyum timpang. "Ciumannya manis."

Jatuh cinta? Sering. Walaupun hanya ke tubuh mereka.

Namun biarpun dia brengsek, ia memiliki perasaan sentimentil.

Perasaan yang pernah ditujukan pada seseorang yang ia agungkan dan yang ia sayang.

IOM.

_________________
Want my Cigarette?
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 205we9s
-Maraschine...a french kiss for you-
Ang || Lint
Back to top Go down
View user profile
Líadan Ní Súilleabháin

Líadan Ní Súilleabháin

Posts : 145
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 19

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime28th October 2009, 21:23

Pusing. Panas. Mual.

Lia mulai bisa merasakan efek samping dari kebanyakan minum minuman keras. Dulu ia sempat merasakannya satu kali dan bersumpah tidak mau lagi merasakan perasaan tidak mengenakkan itu, tapi pada akhirnya ia merasakan hal itu lagi. Demi siapa lagi, eh? Shreizag Erstad Halverson? Lama kelamaan Lia jadi merasa ia sudah mengorbankan terlalu banyak hal untuk General-nya satu itu.

Pertanyaan berikutnya dilontarkan oleh Disciple dari General mesum itu. Allegra tampak sudah benar-benar mabuk, terbukti dari kata-katanya yang sudah mulai terdengar aneh.

Quote :
“I.. have never ever fallen in love with someone in Black Order~”

Lia merasa ia benar-benar mau muntah sekarang. Rasa mulas yang disebabkan oleh alkohol kini ditambah lagi dengan rasa mulas karena ia tahu bahwa ia harus minum lagi karena memang ada seseorang yang ia cintai di Black Order ini. Siapa? Tidak perlu ditanya, jawabannya sudah tergambar dengan sangat jelas di pantulan mata sang gadis, yang kini menatap lurus ke arah General-nya sendiri.

Tapi sebelum ia sempat meminum minumannya, Francis sudah angkat bicara duluan. Apa? Si General mesum itu mengaku sudah jatuh cinta pada Disciple-nya sendiri, kemungkinan besar yang ia peluk erat itu? Lia tersenyum sinis. Dunia ini sudah kacau...

Lia mengangkat gelasnya ke arah Francis, seolah mengajak pria mesum itu bersulang. "Kalau Anda jatuh cinta pada Disciple Anda, General... Saya adalah Disciple yang jatuh cinta pada General saya sendiri!!" kata Lia sambil tertawa cekikikan, lalu meminum habis seperlima isi minumannya. Sadarkah ia pada apa yang baru saja dikatakannya? Jelas tidak. Buktinya saja--

BRUK!!

--Lia langsung jatuh pingsan beberapa detik setelah macabeo itu meluncur turun dari karongkongannya. Ia jatuh ke belakang, menghantam lantai dengan bunyi agak keras. Wajahnya merah padam, akibat dari terlalu banyaknya alkohol. Mungkinkah ia akan bangun dalam waktu cepat? Mungkin... kalau ada yang menamparnya sekuat tenaga.
Back to top Go down
View user profile
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime29th October 2009, 18:49

Giliran siapa sekarang? Ressa dan Ravel sudah, berarti seharusnya... Mata biru esnya menangkap sosok muridnya yang tampak tengah bersiap untuk melontarkan pernyataan. Oh ya, gilirannya sekarang.

"Never have I ever... met my father."

Seingat yang ia bisa, sejak bayi ia sudah ada di panti asuhan tanpa mengetahui rupa ayah atau ibunya. Ia juga tak pernah tahu apa alasan suami-istri Halverson menelantarkannya di panti asuhan kecil itu, tapi yang jelas, ia memang tidak pernah bertemu ayahnya. Wajahnya saja ia tidak tahu.

Tak lama, berlanjut ke pernyataan berikutnya. Kali ini datang dari murid Francis yang tampaknya sudah mabuk.

“I.. have never ever fallen in love with someone in Black Order~”

Dahi Shreizag mengerut. Justru di Black Order inilah ia mengenal kata 'cinta' yang sesungguhnya. Di sinilah ia mendapat kasih sayang yang seharusnya. Perasaannya pada Raquel masih kuat sampai sekarang, dan lagi, memang apa yang ia rasakan pada Ressa dan Lia, kalau bukan 'sayang'? Bukankah cinta itu sama dengan kasih sayang? Ya. Setidaknya, menurut pria Norwegia satu ini. Uh oh, jangan salahkan definisi 'cinta'nya yang terlalu luas.

Menyimpulkan itu, ia membuka tutup botol Reál Sangria, dan kembali meneguk seperlimanya. Sensasi liquid itu segera menyebar ke seluruh tubuhnya, walau, hal itu belum cukup untuk membuatnya mabuk. Hei, toleransi terhadap alkohol tinggi, ingat?

"Hic. Jatuh cinta? Sekarang aku jatuh cinta dengan—hic—discipleku."

Oh ya. Nyaris saja Shrei lupa memerhatikan reaksi para peserta lainnya. Ergh, Francis, kau benar-benar gila--jatuh cinta pada Disciple sendiri? Dunia ini semakin kacau sa--

"Kalau Anda jatuh cinta pada Disciple Anda, General... Saya adalah Disciple yang jatuh cinta pada General saya sendiri!!"

... Hah?

Shreizag menoleh dan menyipitkan matanya pada sang sumber suara. Tadi yang bilang begitu itu... Lia? Muridnya? Serius?

Dahi makin mengerut, menunjukkan ekspresi tidak percaya yang terlihat jelas.

... Dan apa yang ia katakan tadi? Apakah Tuhan memang sengaja membuat malam ini tidak terlupakan, dengan segala kejutan yang terjadi di dalamnya? Setelah mendapati fakta bahwa ia tak becus menjaga Lia, kini... Muridnya... Lia sendiri jatuh cinta padanya, dan ia tidak sadar? Oh, Tuhan.

Shreizag, kau... Polos sekali. Berapa sih umurmu?

Terlepas dari cara Lia mengatakannya--sambil tertawa cekikikan--itu sudah cukup membuat Shrei makin shok dan... bingung. Orang bilang, orang yang mabuk akan mengeluarkan sifat dan perangai aslinya. Jadi seharusnya... Apa yang dikatakan Lia adalah benar adanya. Baik, itu cukup membuatnya tambah tak berkutik. Lihat saja bagaimana sikap diamnya seolah terkena segelnya sendiri--

BRUK!!

--sampai ia tersadar oleh suara dentuman keras, yang berasal dari benturan tubuh muridnya dan lantai yang dingin. "Lia...!" cukup konflik batinnya, pria Norwegia ini langsung melesat ke sebelah Lia dan merangkul tubuhnya. Satu tangan menopang punggung sang gadis Irlandia, sementara satu tangannya memegang pipi yang sudah berwarna merah padam itu. Ekspresi khawatir terlihat jelas di wajahnya, sama seperti bagaimana ia menatap sosok di tangannya sekarang. "Tim, tolong ambilkan air. Cepat." titahnya pada golem perak tanpa melepaskan pandangannya dari sang murid. Yah, semoga saja Timcanpi mampu membawa segelas air dengan gigitannya yang kuat.

Dengan gerakan lembut, tangannya yang tadi memegang pipi Lia kini bergerak ke atas; menyingkirkan sebagian rambut yang menutupi wajah gadis bermata hijau tersebut. Manik biru esnya menatapnya dalam-dalam, iapun berbisik pelan, "Hva har jeg gjort...?"




Eugh, webe. Intinya mah Shrei teh... Ya gitu lah. *gajelas*

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime4th November 2009, 19:17

Baiklah, ia sudah menghabiskan seperlima isi botolnya. Tentu, tidak ada masalah baginya meneguk minuman kelas atas itu, rasanya memang sebanding dengan nilainya--hanya saja, ia tidak ingin menghabiskan isi botolnya sebelum beberapa orang yang dijadikannya target tumbang.

"Never Have I ever saw someone so much alike with whoever you love."

Rambut ikal, mata coklat tua, proporsi standar, memang pada dasarnya penampilannya pasaran. Tetapi, siapa lagi yang akan mengenakan kohl sama taatnya dengan mengenakan ekspresi datar yang khas itu? Giraile yakin, dia tidak ada duanya di dunia ini. Dunia ini memang kekurangan orang baik.

... Itupun, jika Giraile bisa menganggap dia sebagai orang yang dicintainya, dan mengakuinya. Bisakah?

"Tidak pernah," ujarnya bangga, tutup botol tetap terpasang rapat pada botolnya. Hanya itu, Ravel Kohler? Ingressa Michelli, yang terpaksa meneguk alkoholnya (wauw, bagaimana ia melewatkan pelecehan yang baru saja dilakukan Francis terhadap temannya ini? Awas, ya), meneruskan.

"I have never ever physically abused any of my subordinates."

Abisak? Tidak, secara teknis, ia bukan bawahan dari dirinya. Giraile mengusap dagu, mencoba mengingat siapa yang bisa menjadi bawahannya. Exorcist didikannya, dan Orion. Ia mungkin agak... keras terhadap anak didikannya, tetapi tidak hingga bisa dianggap abuse, kan? Mungkin ia sudah berusaha melakukan sesuatu yang benar-benar membahayakan nyawa Orion, tetapi keberuntungan lelaki Siberia itu selalu menyelamatkan dirinya. Tampaknya, keberuntungan Orion juga menyelamatkan dirinya di sini. "Aku kecewa mengucapkannya, tetapi, tidak."

Pernyataan berikutnya pun dilontarkan oleh salah satu dari Disciple wanita yang mulai mendekati batas toleransi alkoholnya, Liadan. Tetapi, ia sendiri sudah mengatakan bahwa tidak boleh ada yang keluar dari permainan--tidak ada pengecualian. Allegra terus bermain dengan tangguh juga, walau tampaknya kondisinya sama parahnya. "Never have I ever... met my father."

Kasihan. Perasaan simpatik melintas dalam hatinya untuk sesaat, namun tidak berkelangsungan. Ia sendiri sempat memiliki satu set keluarga penuh; itulah yang membuatnya lebih menyakitkan ketimbang tidak mengenal ayah dari awal. Ia tersenyum kecil. Paling tidak, ia bisa berpuas diri dengan pengetahuan bahwa dirinyalah yang membebaskan roh ayahnya dari nasib naas menjadi Akuma. "Pernah." Dalam satu tegukan panjang, ia pun menghabiskan seperlima isi botolnya lagi. Hanya tiga-perlima tersisa-- apakah dirinya bisa bertahan?

Ia menghela napas lega, sebelum mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Tampaknya, pernyataan itu cukup "menusuk" Ravel, yang meneguk seperlima isi botolnya lagi. Target berikutnya, Francis, juga melakukan tindakan yang sama. Ohh, minimal, tampaknya misinya akan sukses. Yang disayangkannya hanyalah betapa penuhnya botol Real Sangria seorang partisipan permainannya.

“I.. have never ever fallen in love with someone in Black Order~”

Bisakah Giraile menganggap dia sebagai orang yang dicintainya, dan mengakuinya? Bisa. Tidak perlu banyak oceh kali ini; wanita asal Armenia itu meneguk Brandy de Jerez-nya dengan kasar--kali ini, dirinya yang merasa agak "tertusuk" oleh pernyataan dari pelontarnya, yang tampaknya menganggap pernyataan bersangkutan sepele. Shreizag juga meneguk isi botolnya mendengar pernyataan ini, tetapi Giraile yang sendirinya merasa gusar tidak sempat mempertanyakan hal ini dalam hati.

"!!!" Gusar, ia gusar, tetapi tidak mungkin ia tidak melihat tindakan cabul Francis. Ia menegok botol tequila pria itu; tindakan wajar dari seorang pria mabuk, terutama setelah melihat rendahnya kesopanannya sebelum mabuk. Hampir saja ia memuncratkan cairan emas yang memasuki mulutnya, namun refleks tangannya cukup baik untuk menahan hal itu dari terjadi. Lalu, Giraile harus bersyukur dirinya sempat menelan sebelum melihat Liadan mengarahkan gelasnya pada jenderal lelaki itu--berarti, ia tidak perlu menyemburkan isi mulutnya mendengar: "... Saya adalah Disciple yang jatuh cinta pada General saya sendiri!!"

Mungkin ia tidak menyemburkan isi mulutnya, tetapi pernyataan itu cukup untuk membuatnya menjatuhkan botol brandi yang telah tertutup rapat. "Lia...!" Terdengar teriakan penuh kecemasan yang jarang dijumpainya dari Shreizag. Giraile tentu tidak akan bertindak sebagai tuan rumah yang tak bertanggung jawab. Ia bangkit dari duduknya, menghampiri Shreizag yang merangkul badan kecil muridnya.

"Ia sudah mabuk. Biarkan dia istirahat di ranjangku." Ia pun menunjukkan letak tempat tidurnya kepada lelaki berambut putih itu; ia rasa, Shreizag tidak akan semudah itu menyodorkan Liadan pada dirinya, biarkan saja pria itu mengangkut gadis Irlandia itu sendiri. Giraile kembali ke posisinya. Satu, dua, tiga tumbang? Itu hal wajar. Bagaimanapun juga, the show--atau, lebih tepatnya, the game must go on.

Hanya diperlukan satu pertanyaan pamungkas untuk mengakhiri ronde pertama, yang sudah membawa korban. "Abu-abu, giliranmu."

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ingressa Michelli

Ingressa Michelli

Posts : 77
Umur : 27
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime6th November 2009, 13:56

Ressa memandang efek yang ditimbulkan oleh pernyataannya pada para 'korban'. Ressa tahu benar bahwa Shrei akan lolos dengan mudah. Demikian pula gadis-gadis manis yang tidak punya anak buah di Black Order. Tapi...

Masa sih Francis dan Giraile tidak kena? Ayolah, apa mereka tidak sadar apa saja yang sudah pernah mereka perbuat pada anak buah mereka? Giraile misalnya. Berapa kali ia melatih Orion habis-habisan? Rasanya sering. Dan yang terutama, Francis. Sadarkah dia bahwa sexual abuse yang dia lakukan pada para disciplenya harusnya dihitung? Ah, sudahlah, mungkin memang salahnya tidak mendefinisikan dengan tepat apa yang sebenarnya ia maksudkan.

Ressa melirik Lia, yang sekarang sudah hampir tumbang. Dan Allegra, ia jelas-jelas sudah tamat riwayatnya. Ah, sudahlah, yang penting dia dan Shrei masih bertahan.

"Never have I ever... met my father."

Oh, dear. Dia kena sekarang. Shrei, jelas aman, dan dia..

"I'm glad I have met him."

Ressa mengambil kembali botolnya dan menenggak kembali seperlima isinya. Ah, panas. Sekarang Ressa sudah bisa mulai merasakan tubuhnya sedikit terbakar. Mmmhh.. Padahal biasanya 1 botol belum cukup untuk membuatnya mabuk. Ressa melirik makhluk-makhluk di sekitarnya yang tampaknya berbahagia melihat kejatuhannya... atau mungkin itu hanya perasaannya saja.

"I have never ever fallen in love with someone in Black Order~"

Ah, sudahlah, lebih baik dia tidak minum kali ini. Rasanya Ressa yakin orang-orang di sekitarnya merasa bahwa cinta yang dimaksud adalah jenis cinta bentukan sang Cupid bodoh yang dengan polosnya menembak sasaran acak dengan panah kecilnya. Tapi... tunggu sebentar. Kenapa ya, Shrei di sebelahnya tampak begitu yakin meminum seperlima dari Sangria-nya? Apa yang kira-kira ada di otaknya?

"Hic. Jatuh cinta? Sekarang aku jatuh cinta dengan—hic—discipleku. Ciumannya manis."

Dasar General kurang ajar!! Ressa kini membuka kancing lehernya. Ah, lega rasanya. Memang itu tidak mengurangi bobot dendam Ressa pada Francis, tapi setidaknya menurunkan suhu tubuhnya.

"Kalau Anda jatuh cinta pada Disciple Anda, General... Saya adalah Disciple yang jatuh cinta pada General saya sendiri!!"

Ya Tuhan, Lia.. Ressa langsung mengarahkan wajahnya pada Shrei. Tunggu! Kenapa bukan pada Lia? Karena Ressa lebih mengkhawatirkan Shrei daripada gadis imut yang kini mabuk berat. Sabarlah, Shrei. Ressa tahu apa yang akan terjadi pada Shrei kali ini. Mungkin hal yang terjadi akan membuatnya lebih rentan terhadap pengaruh alkohol? Siapa tahu?

_________________
Even forever is such a short time to live.. -- Ingressa Michelli

I love you because I know no other way. -- Pablo Neruda

Spoiler:
 


...like THE ELF that lives forever
Back to top Go down
View user profile http://sereisa.multiply.com
Izarra O. Maraschine

Izarra O. Maraschine

Posts : 28
Pemilik : jingsgirl
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 25 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime8th November 2009, 05:43

Tak bisa banyak mencerca, sekalipun kabur—sia-sia.

Andai wanita dua puluh lima tahun ini bisa melihat beberapa momen ke depan yang mungkin saja bisa terjadi, niscaya, Izarra yakin seratus lima puluh persen. Dia tidak akan datang kemari. Menyesali sesuatu? Tidak. Hanya saja satu yang paling ia sesalkan adalah mengapa ia harus tersesat kemari. Terakhir kesempatan muncul ia bisa keluar dari sini—dan mendapat sebuah pengaminan dari General Asdvadzadour, membuat perempuan ini seakan mendapat lampu hijau dari majikan pemilik ruangan. Izarra mengangguk, tangannya baru saja bertumpu pada lututnya untuk bangkit dan segera angkat kaki dari sini, namun usahanya gagal. Generalnya tidak menginginkannya mundur dari tempat ini.

“Tuan, hentikan.”—perlawanan verbal, sekalinya didukung dengan tindakan. Izarra berusaha keras menyingkirkan amitan tangan sang general yang sekarang mengamit pinggangnya. Ini membuatnya amat tak nyaman. Akan tetapi, mau bagaimanapun dia cuma seorang perempuan yang tidak punya daya dan upaya lebih dari seorang pria—tidak, tidak, tidak. Ia masih belum mau menyerah. Sedari tadi lakunya tak tenang hanya karena ingin melepaskan diri. Menyebalkan, lagi—bisa lepaskan, tuan?

Permainan masih berlanjut, dimana satu persatu pelaku yang turut dalam permainan ini mulai jatuh dalam keadaan mabuk sedikit demi sedikit. Bahkan Marino dan Allegra, keduanya yang sedari tadi tampak bergulat ketika giliran mereka tiba menenggak sebotol minuman keras sembari saling melontarkan pernyataan untuk menjatuhkan satu sama lain. Ergh, jujur saja Izarra tak bisa toleran, mau bagaimana lagi, dan jadilah mengapa ia merasa tidak bisa berlaku nyaman di sini. Kepalanya mendongak, masih tak tenang bertingkah untuk bisa melepaskan diri, dihadiahi sebuah keterkejutan.

Sesaat sensasi basah dan terasa aneh menempel di mulutnya, membuat kedua manik hazel Izarra terbelalak lebih lebar, dan baru menyadari bahwa sang general mencium bibirnya, membuatnya makin berontak hebat. Kedua tangannya mendorong agar sosoknya menjauh, namun tetap tak bergeming. Sampai kemudian sebuah cairan mulai masuk dan terteguk ke dalam mulutnya—generalnya mencekokinya dengan minuman keras. “Stop—eghh!”

Lalu tautan kedua bibir itu berakhir, Izarra langsung menghapus bekas cairan yang tercecer di sekitar mulutnya. Matanya agak berkaca, ia tidak berbicara sedikitpun. Menatap sang general yang masih sibuk tak mempedulikannya, Izarra cuma bisa mencaci. Terlebih ketika mulutnya meracau tentang sesuatu yang bernama cinta, jatuh cinta-thingy.

Percaya cinta?

Perempuan ini sejak berumur dua belas tahun tidak lagi bisa percaya. “Kupikir anda tidak memiliki perasaan seperti itu, tuan.” tandasnya tanpa sadar, meluncur begitu saja dari mulutnya.
Back to top Go down
View user profile
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime12th November 2009, 19:11

Orang mabuk; kini tak jauh beda dan sama mengerikannya dengan orang gila. Mereka yang kehilangan kewarasan, kehilangan kemampuan untuk berpikir logis-rasionalis dan menggunakan otak secara normal. Tidak berpikir panjang, berarti melakukan segalanya dengan spontan--tanpa memperhitungkan apapun termasuk resikonya, bagi yang membahayakan diri sendiri maupun juga orang lain sekalipun. Taruhan, Allegra sendiri pasti tak sadar kalau tindakannya barusan--mampu membunuh seorang Glaucio.

"Tssk, ya--ya."

Syal bulu-buluan seperti itu; norak--jika dipikirkan oleh seorang Glau yang masih dalam kondisi mampu berpikir. Satu gelas Westons membuat dirinya mabuk? Ya, tentu tidak--tidak, satu gelas tidak akan cukup untuk membuat siapapun termasuk pemula dalam peminum minuman keras seperti ini langsung mabuk dengan cepat. Memilih menurut; sekalipun itu membuat harkatnya sebagai pemuda gagah berani dan enggan ditindas wanita hancur dalam sepersekian detik. Kalau syal bulu landak... Memang, siapapun tahu kalau itu mustahil untuk dilakukan sang rekan disciple--tapi kalau dia memang sedang mabuk? Siapa yang bisa jamin kalau Allegra Mlynarikova tidak akan main bunuh-bunuhan? Bahkan ia pun tidak berani menentang macam-macam; atau kematiannya akan datang cepat malam ini--dengan meggenaskan. Dan memalukan.

Allegra, minum lagi. Cegukan lagi. Lalu bicara lagi. Tepat setelah gadis itu melepaskan telapak tangannya dari pipi si pemuda rambut abu--yang bahkan belum sempat berekspresi apapun, selain menampakkan kekejutan di wajahnya. Yang bahkan belum sirna sebelum si wanita pirang itu menyatakan pernyataan 'aku-belum-pernah' berikutnya.

“I.. have never ever fallen in love with someone in Black Order~”

Bahkan menambahkan efek 'kejut'nya.

Sial baginya, ia hanya jadi satu-satunya yang masih mampu berpikiran waras diantara orang-orang tidak waras lainnya dalam lingkaran. Izarra? Berat untuk melupakannya, tapi terpaksa--mengingat bukan tidak mungkin wanita yang bersangkutan akan mabuk sebentar lagi setelah dicekoki oleh.... "Hic. Jatuh cinta? Sekarang aku jatuh cinta dengan—hic—discipleku." asdfghjklqwerty. Semoga besok hari ia masih mampu untuk mengakui Francis Karlsen sebagai generalnya. Melirik tajam ke arah sang rekan disciple rambut gelap tersebut--wajahnya tampak agak kemerahan, dan kacau--memberi semacam signal dengan menunjuk pintu keluar, dan keluar sesegera mungkin--sebelum acaranya semakin panas, dan mumpung Francis masih belum sepenuhnya waras.

Dan tak mujur pula baginya--Glaucio, jadi satu-satunya yang masih belum mabuk . Suillebhain--bahkan sudah mulai terkapar; rupanya dibalik segala pengakuan bahwa 'ia pernah mencium orang lain, juga pernah tidur bersama orang berlawanan jenis' si pirang itu masih punya sisi bocah. Long live, semoga Tuhan memberkatinya--tak bisa bersimpati lebih banyak, menyaksikan kedua general itu kembali sibuk dengan si gadis yang mukanya tampak memerah itu. Ini permainan--yang kalah, yang keluar, yang menyingkir dari medan. Tanpa perlu segala pembelaan lebih lanjut.

Dan amat-sangat-habislah-keberuntungannya ketika pernyataan seperti itu yang terlontar. Tertawa garing, satu-satunya yang bisa dilakukan si pemuda--mengacuhkan segala euforia 'cinta oh cinta' di penjuru ruangan. Dia.... Harus minum juga? Tidak, kelihatannya tidak yakin juga--atau memang iya? Tidak juga, memangnya ia pernah melakukan apa yang Allegra sebut tidakpernah itu? Tidak pernah--pernah? Maka kelopak bunga terakhir tersisa, memilihkan jawabannya.

"Abu-abu, giliranmu."

Tunggu--jadi, dia harus minum? Dan pikirkan olehnya pernyataan yang tepat. Yang menjebak, yang menjerumuskan orang-orang mabuk itu lebih jauh--hingga Glaucio bisa keluar dengan mudah sebelum malam ini berakhir. ...Oke, bingo. Belum habis keheningan yang timbul, selang satu detik ketika putra sulung Amadeus Marino itu menuangkan seperempat isi gelasnya--pasrah untuk apapun yang terjadi. Dan hanya berselang sepersekian detik, ketika tegukan terakhir untuk gelas itu kandas--lalu diam di tempat sembari membacakan pernyataan berikutnya.

"I have never ever--got drunken after drink."

Lalu hening. Ketika rona kemerahan yang sempat muncul sebagai reaksi pertama si tubuh dengan alkohol tersebut berakhir; berhasil menetralisir rasanya. Tidak, baru dua gelas--tidak cukup untuk membuatnya mabuk. Belum. Satu tatapan tajam tertuju ke arah Allegra, tersenyum simpul--hal yang hampir tidak pernah dilakukannya sebelumnya. tebak siapa yang menang, ha.
_________________
panjang maaf ngaret *kabur*
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime19th November 2009, 06:05

“I.. have never ever fallen in love with someone in Black Order~”

Kening mengerut.

Tangan kanan ini menyentuh leher botol dan menuangkan isi dari calvados lagi. Piikirannya mulai serasa buyar; sudah gelas ke berapakah ini? ke-3? Mengapa pandangannya jadi sedikit kabur? Ah, pengaruh alkohol berlebihan? Ravel Kohler hampir menumpahkan isi Calvados keluar dari gelasnya. Itu semua karena ia sendiri tidak sadar bahwa gelasnya sudah penuh, sampai ke tepi kepala. Dilihat dari bagaimana agak teledornya jendral ini dalam menuangkan isi Calvados, pria ini tidak sadar bahwa ia baru saja menuangkan... yah, lebih sedikit dari seperlima gelas. As if he cares?

....

Dengan kondisi seperti ini, siapa yang peduli?

"I have--" Tangan kiri mengucek-ngucek mata, sementara tangan kanan memaksa masuk cairan pada gelas tersebut. Ketika satu gelas sudah habis, tatapan mata kuning kecoklatan tidak sekuat awalnya--berkabut.

Tinggal duaperlima terakhir--kurang lebih? Gelas terakhir memang melebihi kuota standar bukan? Lalu, mengapa ada titik hitam yang menempel di dekat Asdvadzadour? Nyamuk? Ah, atau serangga besar yang berusaha menghisap darah? Atau mungkin, Heidrich Kohler baru pulang ke Eropa dan membuat kekacauan ini--

"...."

Tangannya yang kosong menepuk kepalanya keras--baru tigaperlima gelas dan pandangannya sudah kabur? Baiklah, bagaimana ia bisa bertahan menghabiskan satu botol? Setelah gencatan tersebut, mata kuning kecoklatan mencoba untuk fokus pada apapun--siapapun! Mulai dari botol masing-masing peserta, hingga murid Shrei... yang baru saja ambruk.

"I have never ever--got drunken after drink."

...Pernahkah ia mabuk?

"Tidak. Belum pernah. 'Akan', kalau saja seseorang setelahmu memaksaku untuk menegak sisa dari botol ini." Ravel Kohler meracau.

.....

Tunggu, Ravel Kohler tidak pernah meracau.

Bila dilihat dari bagaimana posisinya sekarang, pria ini tengah memajukan tubuh ke depan, menyangga kepalanya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang mulut botol dan mengacung-acungkannya pada Glaucio. Mencoba menjebaknya, eh? Jangan harap; Ravel Kohler taat pada agama.

...sayangnya, predikat tersebut tidak akan hancur pada permainan ini. Oh, dan pernyataan si pria berambut abu-abu tersebut mungkin akan menjadi 'ada benarnya' setelah permainan ini selesai. Lagipua, siapa yang akan mengakui dirinya tidak mabuk, padahal wajah dari jendral ini sudah terlihat terlalu merah, sementara penglihatan juga tidak memberikan servis yang... memuaskan.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Sponsored content




[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 3 I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[CENTRAL] I Have Never Ever!
Back to top 
Page 3 of 4Go to page : Previous  1, 2, 3, 4  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com