An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [CENTRAL] I Have Never Ever!

Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4
AuthorMessage
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime26th November 2009, 21:33

Apa semuanya bisa berkembang lebih buruk lagi daripada ini?

Tentu saja jawabannya hanya satu kata; bisa.

Suara cegukan yang berusaha ia redam dengan telapak tangan terkatup di bibir mungilnya—yang tersenyum puas sambil memperhatikan korban pernyataannya yang brilian—terlepas pelan. Iris biru lembutnya tak fokus, apalagi setelah adegan penuh cinta yang dilakukan oleh General dan rekan disciplenya sendiri. Ciuman lho, dan bukan ciuman biasa. Hal yang belum pernah dilakukan—ya serius dia belum pernah menempelkan bibirnya ke bibir pria lain—oleh putri bungsu konglomerat Ceko ini.

Yah bukannya dia tidak tahu kalau selama ini Izarra memiliki seuatu kewajiban spesial yang—ia syukuri—ia tidak diharuskan melakukan kewajiban seperti melayani general kulit badak itu. Ah, tapi sebuah ciuman.... dia ingin sekali saja merasakannya. Dengar-dengar sih rasanya seperti pai lemon atau marshmallow....

Sampai kapan mau curhat?

Oke deh kembali lagi fokus ke pernyataan selanjutnya. Gadis berusia 20 tahun itu benar-benar berharap dia tidak perlu meneguk sisa seperlima bir Spanyol-nya itu. Sungguh ia sudah mabuk dan kalau tujuan permainan ini adalah untuk membuat orang terkapar karena alkohol seharusnya ia sudah tak dijadikan target sasaran kan. Lagipula ini giliran Glau—manik Allegra yang basah melirik padanya—si pria berbulu dan sesama teman seperjuangan dalam suka dan duka. Pastinya Glau tidak akan menjebak gadis lemah sepertinya kan. Sebuah senyuman di wajah merah mengem--

"I have never ever--got drunken after drink."

--pis.

“....sakra ...”

Suara desisan terlontar dari bibir mungilnya, sinar mata gadis berambut sebahu itu jelas-jelas menatap tajam pada si abu-abu sementara kedua telapak tangannya meraih badan botolnya dengan kasar, meminum tegukan terakhirnya tepat di depan wajah Glau, mengakhirinya dalam hitungan detik dan gerakan menyapu bibir basah itu dengan punggung tangan.

Oh jangan kira kau bisa lolos begitu saja Glau. Kalau kau sadar Allegra telah menarik ujung bulu flamingomu—yang sebenarnya milik Allegra juga. Sorotan biru dari wajah kemerahan itu tertuju erat pada bola mata pria di depannya... serta sebuah senyuman miring.

Apakah perlu diingatkan lagi kalau ia mabuk?

“Kau belum pernah kan?”

Pertanyaan dengan maksud yang tidak begitu jelas, yang jelas Allegra berucap pelan kalau ia juga belum pernah melakukannya. Dan jika Glau bertanya-tanya dalam hatinya semua pertanyaan itu telah terjawab.

Dengan sebuah ciuman lembut—sedikit beraroma dan berasa alkohol tentu saja—di bibir exorcist pria itu.

Allegra R. Mlynarikova, 20 tahun.

Pertama kali berciuman dengan Glaucio A. Marino, 20 tahun, rekan disciple.

Yang entah bakal dia ingat atau tidak.





sudah dapat ijin dari PM Glau. iya kan?

*sakra : sialan.
Back to top Go down
View user profile
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime4th December 2009, 14:02

Lalu menggoyang-goyangkan botol westons-nya, cairan kekuningan bergejolak di balik botol gelap semi beningnya. Berbusa, warnanya sedikit mengingatkannya pada emas--menggugah. Tak perlu bertanya ulang kalau Glaucio Marino, juga seseorang yang terobsesi akan kekayaan, suatu hal ynag sudah lama sekali tidak diraihnya. Lalu tersenyum simpul--suatu hal yang jarang-jarang bisa dilakukannya selama beberapa tahun terakhir; ia tahu kalau ekspresi seperti itu membuat wajahnya bisa bertambah bengis (dan aneh) hingga beberapa kali lipat yang biasa. Anggaplah kali ini ia tidak bisa menahan diri.

Atau memang ia sedang mabuk. Entah yang mana. Glaucio, refleks menggelengkan kepalanya sendiri atas pertanyaan yang tiba-tiba terbersit di dalam benaknya begitu saja. Ia, ia memang sedang tidak mabuk kan--efek westons, menurut sang general barbar yang sekarang mungkin juga sedang setengah tidak sadar itu memang tidak seberapa membahayakannya jika ditenggak oleh para newbie dunia mabuk-mabukan. ...Aneh. Ia memang baru pertama kali mencicip minuman seperti ini, sehingga ia sendiri tidak tahu pasti seperti apa efek mabuk--dan mana yang layak disebut mabuk atau bukan.

Dan anggaplah, menurut definisinya sendiri, saat ini ia sedang tidak mabuk. Ia juga masih bisa duduk dengan tenang, masih bisa merasakan sentuhan dan melakukan refleks, juga melihat dengan jelas. Wajah Allegra merah, sudah jelas bisa dilihatnya bahkan tanpa kacamata dan dalam keadaan mabuk sekalipun. Wajah itu tampak merengut sesaat mendengar pernyataan berikutnya, agak kesal.

“....sakra ...”

Lalu membiarkan benaknya tertawa lantang di balik salutan raga, sementara dari wujud luar si pria hanya bisa duduk sembari bersila tenang. Setengah bersiul kecil--siapa suruh telah ikut-ikutan 'menjebaknya' barusan. Allegra lakukan, maka Glaucio tinggal balas. Simpel, karena itulah ada yang namanya hukum karma.

Menggaruk-garukkan kepala kembali, sembari mengerjap-ngerjapkan mata kembali. Agak buyar; karenq efek alkohol--oh bukan, karena rabun senja. Namun masih bisa dilihatnya dengan jelas juga saat ini--salah satu general, entah yang mana--oh, yang seorang lagi selain Halverson dan Giraile. Kohler--yang diketahuinya sebagai sosok berperangai paling tenang di sini, selayaknya seperti Halverson dan sifat kebapak-bapakannya juga. Dan dia sedang--mabuk?

Tidak diragukan.

"Tidak. Belum pernah. 'Akan', kalau saja seseorang setelahmu memaksaku untuk menegak sisa dari botol ini."

"Silahkan habiskan kalau begitu, tuan--sayang kalau mubazir."
Bicaranya kelewat panjang lebar rupanya, eh? "Atau perlu diadakan ronde keduanya?"

Beringsut sedikit ke depan, mengarahkan wajahnya agak condong ke arah wajah di general itu sendiri, menatap tepat ke arah matanya yang berkabut dan kemerahan--masih mengacung-acungkan botol minumannya ke arah si pemuda berusia seperlima abad. Dengan maksud? Kembali Glaucio, refleks menaikkan sebelah alis--setelah berikutnya menyesal telah mengajukan usul yang barusan dilontarkannya dengan spontan tersebut.

Go--goblok, berharap ada ronde keduanya, bocah? Karena sesungguhnya, bisa luput dari resiko mabuk di putaran pertama saja jelas merupakan suatu nasib yang jelas-jelas baik--

“Kau belum pernah kan?”

Suara yang terlontar tak lama setelah merasakan suatu tarikan--langsung ke arah juluran benda 'aneh' yang ada di lehernya--agak paksa, membuat tubuhnya seketika mundur kembali ke belakang. Lalu disambut dengan sang sosok suara, Glaucio berikutnya menyipitkan mata untuk mampu memandangnya dengan lebih jelas--Mlynarikova, atau di sini kita sebut dengan Allegra? Suaranya serak, agak berat dibandingkan beberapa puluh menit yang lalu. Wajahnya pucat, dengan rona kemerahan alami yang timbul--ia memang tak pernah mabuk, tapi masih cukup pintar untuk mengenali bahwa ini disebabkan salah satu efek langsung dari mabuk.

"Tidak, aku lebih tangguh untuk tidak langsung mabuk dibandingkanmu--" Dan ucapannya terputus setelahnya.

...Dan tak perlu menyuruh pemuda; pemuda yang sedang shock itu; untuk bicara lebih banyak lagi. Tidak--tidak sekrang. Lalu berikutnya, apa yang dilakukannya?--oh mudah, pasrah lalu selanjutnya memilih untuk tetap tak bergeming dan membalas perlahan sentuhan lembut di bibirnya tersebut--dan itu, jelas-jelas sebuah tanda kalau anda memang sedang MABUK, tuan Marino.

Sadar untuk selanjutnya mendaratkan kedua tangan di bahu milik sang rekan disciple, mendorong untuk menciptakan sebuah jarak yang lebih jelas lagi. Terbatuk, agak menunduukan wajahnya--yang agak pucat. "Kau... Kamu..."

Seharusnya ia menciptakan semacam efek geram--marah--pada ucapannya barusan, meskipun sayangnya tak terealisasikan. Karena sikapnya barusan saja bahkan tidak mencerminkannya untuk pantas marah.
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime7th December 2009, 18:39

Ahh, keajaiban substan memabukkan itu memang tak bisa dimungkiri. Keberadaan beberapa orang malang yang meminum lebih dari batas toleransinya juga bukan hal yang janggal; bukankah Never Have I Ever sejenis permainan last man standing? Pada akhirnya, harus ada yang tumbang, dan harus ada yang berdiri sebagai pemenang.

"I have never ever--got drunken after drink."

Giraile mengangkat alisnya begitu mendengar pernyataan pamungkas lelaki berambut abu-abu itu. Ia menghela napas lega, berterima kasih pada dirinya yang mampu mengendalikan diri dari memabukkan diri. Tetapi, wanita Armenia itu harus mengakui kemungkinan itu mulai terlihat di depan mata batinnya, dan dalam hati, ia mengiyakan racauan Ravel. "Ha--Itu sesuatu yang sangat ingin kulihat, Kohler."

Memang itu alasannya membawa pria berdarah Jerman itu ke kamarnya malam ini, kan? Satu ronde telah berlalu; jarum jam kembali menunjuk pada dirinya. Tanpa disadari, giliran Giraile Asdvadzadour telah tiba. Sebelum sepatah katapun terlontar darinya, bibirnya tertarik ke satu sisi melihat tindakan impulsif Allegra kepada sesama bawahan Francis. Ia tidak mengucapkan apapun, dan beranjak dari duduknya. Dalam satu gerakan cepat, lengannya merangkul pinggang gadis asal Praha itu, menjauhkannya dari sang lelaki muda tanpa refleks secekatan normal.

Ia pun mendekatkan kepalanya pada telinga wanita pirang itu, mendesiskan peringatannya, "Kau kalah; mereka yang mabuk tidak boleh berpartisipasi lagi, atau mengganggu yang masih berada dalam permainan... Kau boleh bermesraan dengannya lagi setelah ia mabuk... mengerti?" Ia pun menarik tangan gadis muda itu, berniat membiarkannya berbaring di sebelah Liadan, "korban" pertama permainannya. Giraile harap gadis itu akan menurut.

"Yaa, pernyataan berikutnya," ujarnya, walau masih di tengah perjalanan bersama Allegra menuju ranjangnya sendiri, "--never have I ever..."

Matanya menelaah partisipan yang tersisa---hingga akhirnya mendarat ke sosok pria yang telah melepaskan ikat rambutnya. Senyuman predator pun menghias paras wanita berambut hitam itu. Kata-kata yang terucapkan,

"... admitted defeat to a battle."



Ada pecundang?

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1


Last edited by Giraile Arevig A. on 20th January 2010, 00:21; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime17th January 2010, 19:56

Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh Lia di atas ranjang milik Giraile, dengan perlahan agar gadis itu tak terbangun. Sudah terlalu banyak yang terjadi malam ini, dan rasanya ia tak ingin menambahnya dengan berdialog dengan gadis berambut pirang ini. Ia tidak--bukan, ia belum sanggup. Sekarangpun rasanya kepalanya terasa kosong, sekaligus berat. Seperti ada beban ratusan kilogram yang menimpa kepalanya, namun ia tidak bisa mengangkatnya dari sana.

Masih diam seribu bahasa, Shrei berpindah ke sisi tempat tidur, membetulkan posisi tidur Lia, melepas jubah yang tersemat di pundaknya, dan menyelimuti tubuh Lia dengan kain hitam panjang itu. Duduk di sisi tempat tidur, sejajar dengan tubuh gadis belia yang kini terlelap. Shrei dapat melihat wajahnya dengan jelas, wajah yang biasa ia lihat sejak satu tahun yang lalu, kini memerah akibat cairan memabukkan yang telah diteguknya sampai habis. Cairan, liquid, substan itu--baru saja menjadi sebuah kunci yang membuka peti berisi fakta yang selama ini tidak ia ketahui. Ia, yang seharusnya menjadi orang yang menjaganya, yang membimbingnya, yang menyayanginya.

Satu helaan napas berat diiringi tatapan penuh rasa tanya.

Kenapa? Dan... Bagaimana bisa?

Satu tangannya menyusuri sisi kepala Lia pelan, membelai rambut pirang dan pipinya yang kemerahan dengan jari-jari tangannya yang diselimuti sarung tangan hitam. Inikah yang sudah diperbuatnya selama satu tahun terakhir? Tanpa menyadarinya sama sekali? Masih bisakah ia memperbaikinya? "Eg veit i himmerik ei borg..." tanpa sadar suara tenor merdunya menyeruak pelan mengisi ruangan, menyanyikan suatu lagu dalam bahasa ibunya. "Ho skin som soli klåre... der er´kje synder eller sorg, der er´kje gråd og tåre..." samar, lagu bertempo lambat itu mulai terdengar. Hampir--nyaris tidak ada orang di ruangan ini yang pernah mendengar Shreizag Halverson menyanyi, barangkali bersenandung saja belum. Tapi ia--yang biasanya berbicara di depan umum saja enggan--menyanyikan lagu itu dengan lancar, tidak setengah-setengah. Hanya... terdengar sedih dan berat. Sebuah lullaby-kah?

"Der inne bur Guds eigen son, i herlegdom og æra, han er min trøyst og trygge von, hjå honom eg skal vera..." suaranya terdengar semakin jelas, namun tempo lagu tetap ia jaga sebagaimana seharusnya, tidak memedulikan apakah orang-orang di sana mendengarkan atau mengacuhkannya. Ia hanya membiarkan kalimat bernadanya mengalir keluar. Sedikit-sedikit, suara tenornya terdengar semakin keras.

Menutup kedua mata, menyembunyikan manik biru muda dari sana. "... Men visst eg veit, ein morgon renn, då dødens natt skal enda. Min lekam opp or gravi stend, og evig fryd får kjenna..." seorang pengembara yang telah melalui banyak perjalanan, lelah, namun tak berhenti mengikuti jalan yang membimbingnya. Jalan yang telah ditentukan untuknya, sejak ia memulai perjalanan, dari sini sampai tanah leluhurnya. Tuhan, senantiasa melindungi dalam perjalanan. Namun, apakah ia akan sampai tepat pada waktunya?

Larut dalam nyanyiannya sendiri, suaranya terdengar lebih pelan ketika mencapai klimaksnya. "Me takker deg til evig tid, Gud Fader, alle saman, for du er oss så mild og blid, i Jesus Kristus--"

"I have never ever--got drunken after drink."

"--Amen."

Selesai. Ia membuka mata, kemudian menarik napas panjang. Ia--muridnya, masih terbaring di sana, "... Jeg beklager." bisiknya, dengan nada penuh penyesalan. Ia tahu kalau Lia tidak mendengarnya, tapi pria Norwegia ini hanya ingin mengucapkannya. Kalimat yang juga akan diucapkannya nanti, ketika saat itu--saat pembicaraan personal dengan muridnya--berlangsung.

Kembali mengangkat kepalanya, kini ia beranjak dari sisi tempat tidur untuk mengambil botol Real Sangria yang tertinggal di sebelah Ressa. Oh ya--dia pernah mabuk, sekali, sembilan tahun yang lalu. Ketika frustrasi melanda dirinya saat kabar paling buruk terdengar olehnya. Ia sendiri tidak ingat bagaimana keadaannya waktu ia mabuk, tapi Arvid mengatakan kalau ia memang... mabuk. Soal bagaimana perangainya saat itu, Arvid tidak banyak bercerita.

Sampai di tempatnya semula, Shrei menyadari bahwa Ressa telah membuka kancing atas pakaiannya. Ah... Itu tidak baik. "Non fare nulla che possa invitare la criminalità, signorina Michelli." ujarnya datar sambil kembali mengancingkan kancing di pakaian Ressa, seperti ayah yang membetulkan dasi anaknya yang hendak berangkat ke sekolah. Ya, intinya, ia melakukan itu agar Ressa tak mengundang pelaku kriminal yang masih berada di sini. Membuka botol Real Sangrianya sekali lagi, kemudian meneguk seperlimanya. Tinggal bersisa dua perlima sekarang. Sedikit lagi.

"Never have I ever... admitted defeat to a battle."

Ronde ke dua, pernyataan kembali terucap dari sang tuan rumah. Kali ini jawabannya tidak. Menggumam pelan, ia kembali menuju sisi tempat tidur, merasa kalau muridnya perlu untuk terus dijaga. Ia duduk lagi di sana, di pinggir tempat tidur. Sudah tiba gilirannya lagi ya?

Helaan napas kembali terdengar, melirik sesaat kepada muridnya yang masih terbaring sebelum mengumumkan pernyataan darinya: "Never have I ever... met my mother." terinspirasi--barangkali, dari pernyataan yang artinya mirip, tapi yang ini tentu berbeda. Adakah yang bernasib sama dengannya?

'Mor ... Hvordan jeg savner deg så mye...'




Eg Veit I Himmerik Ei Borg

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Leonard Chezza

Leonard Chezza

Posts : 78
Pemilik : Issei Akira
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 22

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime18th January 2010, 17:19

Cemas.

Di tengah gunungan pekerjaan yang sedang ia kerjakan di tengah malam ini, Leon mendadak merasa cemas. Perasaan itu muncul tiba-tiba, seperti ada yang baru mengingatkannya tentang sesuatu yang penting. Ia mengangkat penanya dari terjemahan dokumen yang sedang ia kerjakan. Ia menandai di mana terakhir kali ia menerjemahkan, lalu menggeser dokumen itu ke sisi mejanya sebelum akhirnya berdiri, bersiap untuk keluar dari ruang kerjanya.

"Sudah mau tidur, Chezza?" tanya salah satu rekan kerjanya yang masih bekerja, Anderson. Wajahnya tampak lelah, sepertinya karena ia belum tidur selama beberapa hari ini. Yah, itulah akibatnya kalau punya Section Leader yang kurang bertanggung jawab.

"Tidak, belum. Aku hanya mau ke kafetaria, mau minta sedikit kopi dan sandwich," jawab Leon sambil tersenyum ramah pada rekannya itu.

"Hmm, di hari dingin begini kopi tidak akan berefek banyak. Pesan brandi hangat saja. Oh ya, ngomong-ngomong soal brandi, Lloyd bilang di kamarnya General Asdvadzadour sedang ada pesta minuman keras. Mungkin kau bisa minta segelas brandi kualitas tinggi darinya kalau kau beruntung," balas Anderson.

"Pes--hah? Pesta minuman keras?" Firasatnya terasa semakin tidak enak. Bagaimana tidak? Baru beberapa jam yang lalu ia memintai tolong Lia untuk mengantarkan sebotol minuman keras ke kamar General satu itu. Uh-oh, sepertinya keputusan yang dibuatnya tadi tidaklah bijaksana.

"Iya... katanya sih ada beberapa Exorcist yang ikut di sana. Katanya bahkan beberapa General pun ikutan, termasuk General Halverson yang terkenal kalem itu. Dan katanya General Karlsen juga ikutan, ckckck... Kasihan sekali wanita-wanita yang ikut pesta minuman keras itu..." komentar Anderson sambil kembali meneruskan pekerjaannya. Mendengar informasi itu, Leon menjadi semakin cemas. Ada Shreizag, kemungkinan ada Lia juga. Ya Tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan!!

Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia langsung melangkah dengan cepat ke arah kamar pribadi Giraile. Tujuannya hanya satu; memastikan bahwa Lia tidak ikut terlibat dalam apapun yang sedang dilakukan General satu itu.



Di sinilah ia sekarang, di lorong menuju kamar General yang terkenal akan kebarbarannya di seantero Eropa. Pintu kamarnya dibiarkan terbuka, menebarkan bau alkohol yang pekat ke lorong di sekitarnya. Rasanya hanya dengan mencium bau alkohol yang menguar di sepanjang lorong dan ruangan itu saja sudah cukup untuk membuat seseorang mabuk.

Menguatkan hati, ia berjalan ke depan kamar sang General. Bau alkohol tercium semakin kuat seiring langkahnya, sampai akhirnya ia benar-benar berdiri di ambang pintu ruangan yang ditujunya itu. "Permisi, General Asdvadzadour," sapanya sebagai permulaan. Mata biru-hijaunya menelusuri ruangan sekilas, menemukan bahwa info yang didapatkannya sepertinya tidak salah. "Saya Leonard Chezza dari Diplomatic and Communication Section. Saya ingin bertanya apakah di sini ada Disciple dari General Halverson, Liadan Ni Sui--"

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, matanya sudah menangkap sosok yang ia cari. Gadis berambut pirang pucat, yang kini terkulai lemas di tempat tidur sang tuan rumah, diselimuti oleh kain hitam yang pastinya adalah milik seseorang yang duduk di sebelah tempat tidur itu... Shreizag Erstad Halverson.

Cemas. Cemburu.

"General..." Suaranya gemetar. Matanya menatap lurus ke arah Shrei, meski kata-kata yang akan ia ucapkan sebenarnya ditujukan pada Giraile, "...apa yang sudah Anda lakukan pada Lia?"
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime20th January 2010, 00:48

"Cih." Frase yang dilontarkan Shreizag, hanya modifikasi kecil dari pernyataan muridnya sendiri, membuatnya wajib meneguk seperlima botol Brandy de Jerez lagi. Ia telah meminum satu... dua... tiga... kini, empat per lima bagian mirasnya. Giraile rasa dirinya pun akan mabuk bila menghabiskan brandi itu hingga tetesan terakhir. Ugh.

Belum sempat mulut botol bersentuhan dengan bibir, sosok yang dikenalnya memasuki ruangan. Telunjuknya menyentuh bibir tipisnya, seraya pikirannya memanggil kembali identitas pria beriris biru-hijau itu. 'Ah.'

"...apa yang sudah Anda lakukan pada Lia?"

Berjalan perlahan, bersusah-payah agar tidak sempoyongan akibat pengaruh alkohol, Giraile menghampiri staf Diplomatic & Communication itu. Mengikuti arah pandangnya, mata amber jenderal itu tertuju pada Shreizag--dan pada saat itu juga, ia mengerti apa yang tengah terjadi. Wanita itu tertawa, merasa jenaka. Ia menepuk pundak lelaki pirang itu, berusaha mengalihkan perhatiannya. "Oi--Chezzzza?"

Tampaknya suaranya mulai kabur akibat alkohol, walau kesadarannya masih belum terjamah. Giraile menarik kedua ujung mulutnya ke atas, mendekatkan wajahnya pada Leonard. "Dia," ia mengintip Shreizag dari pinggir matanya, "tidak melakukan apa-apa. Begitu pula dengan yang lain. Gadis itu sendiri yang meminta ikut berkecimpung dalam permainan orang dewasa." Ia mendengus. "Anggap saja pengalaman baginya."

Matanya berpindah ke sosok Liadan, yang terbaring pada ranjangnya--tidak sadar diri, tampaknya? Akhirnya, Giraile mengembalikan tatapannya ke pendatang baru di ruang pribadinya. "Kau bisa mengangkutnya kembali ke kamarnya?" Ia rasa Abisak yang ber-stand by dalam proksimitas dekat bisa memberikan bantuan pada Leonard. Giraile berjalan, tidak sungkan menggoda dengan bisikan begitu melewati telinga pria muda itu, "Anggap saja ucapan terima kasihku untuk Remy Martin tadi, hm?"

Mengingat keberadaan botol yang terbuka di genggamannya, Giraile pun meneguk seperlima isinya. Woah. Apakah hanya bayangannya, atau ia telah menabrak sesuatu tanpa menyadarinya? Gambaran yang ditangkap matanya, selain diduplikasi, juga menjadi samar-samar. Namun, tidak sulit menemukan sosok jenderal yang menggerayangi muridnya sendiri itu. "Hei, Karlsen!!! Giliranmu, cepat sana!" Sebelum ia sepenuhnya mabuk, Giraile ingin melihat yang mabuk dulu, minimal.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ingressa Michelli

Ingressa Michelli

Posts : 77
Umur : 27
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime21st January 2010, 11:29

Dengan tenang Ressa menutup matanya, berupaya menahan diri untuk tidak mabuk. Dia tidak mau rekornya kali ini dinodai oleh permainan bodoh semacam ini. Tidak! Ressa harus bertahan.

Sayup-sayup ia mendengarkan apa yang terjadi di sekitarnya. Ehm, Allegra dan Lia sudah terkapar, namun Giraile dan Halverson tampaknya bahkan kuat untuk melaju ke ronde berikutnya.

"Eg veit i himmerik ei borg...Ho skin som soli klåre... der er´kje synder eller sorg, der er´kje gråd og tåre..."

Apa itu suara Halverson? Ressa perlahan membuka matanya, mengamati pria es itu dari tempatnya sendiri. Dengan penuh kasih sayang Shrei membelai rambut Lia dan menyanyikan lagu untuknya.

"Caro mio," katanya pada Shrei, "Forse vuoi anche mi cantare." Ya, mungkin Halverson berminat untuk menyanyikan sesuatu dalam bahasa Italia untuk Ressa juga. Mungkin tidak sekarang, mungkin setelah ia mabuk, tapi siapa yang peduli?

"Der inne bur Guds eigen son, i herlegdom og æra, han er min trøyst og trygge von, hjå honom eg skal vera...Men visst eg veit, ein morgon renn, då dødens natt skal enda. Min lekam opp or gravi stend, og evig fryd får kjenna... Me takker deg til evig tid, Gud Fader, alle saman, for du er oss så mild og blid, i Jesus Kristus--"

Baiklah, Shrei tidak mendengarkan. Tapi nanti, suatu hari nanti, Ressa pasti akan membuat pria ini menyanyi lagi.

"I have never ever--got drunken after drink."

"Amen."

Jawaban yang bagus, Halverson. Kini Shrei berjalan mendekati Ressa, atau mungkin sebenarnya yang dituju adalah botol Sangria-nya. Tapi tampaknya Shrei melihat sesuatu yang aneh pada dirinya, karena Shrei kemudian mendekati Ressa dan...

"Non fare nulla che possa invitare la criminalità, signorina Michelli."

Shrei mengancingkan kembali kancing bajunya yang sengaja Ressa lepas. Pasti Shrei tidak mau Ressa jadi korban pelecehan seksual untuk kedua kalinya.

"Halverson, che cosa criminalita?" kata Ressa perlahan. "Nyanyianmu yang indah tadi itu perbuatan kriminal, karena diucapkan dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti."

Rayuan? Tentu saja bukan. Ressa hanya bisa bersandar di pundak Shrei sekarang sementara Shrei menenggak 1/5 isi botolnya lagi. Jadi Shrei bisa mabuk? Wow, Ressa tidak menyangka.

"Never have I ever... admitted defeat to a battle."

Tentu saja jawabannya tidak. Ada di battle saja Ressa belum pernah, apalagi mengaku kalah. Baiklah, sekarang giliran Shrei. Apa yang kira-kira akan dikatakannya? Shrei kembali ke posisi sebelumya -- tempat tidur Lia dan Allegra. Tampaknya dia sedang mencari inspirasi.

"Never have I ever... met my mother."

Kenapa harus ini? Dengan kesal Ressa membuka botol miras miliknya dan menenggak kembali seperlimanya. Ressa menatap tajam pada minuman jahanam yang kini tinggal tersisa seperlimanya lagi. Ressa menyibak rambutnya, dan mulai mengepang sebagian darinya. bagian depan yang kiri, lalu yang kanan.

Ah, apakah ia mulai kehilangan kesadarannya?

"...apa yang sudah Anda lakukan pada Lia?"

"Dia, tidak melakukan apa-apa. Begitu pula dengan yang lain. Gadis itu sendiri yang meminta ikut berkecimpung dalam permainan orang dewasa. Anggap saja pengalaman baginya."

"Kau bisa mengangkutnya kembali ke kamarnya? Anggap saja ucapan terima kasihku untuk Remy Martin tadi, hm?"


Baiklah. Kalau Leonard bisa membawa Lia pergi, mungkin Shrei akan kembali duduk di dekat Ressa. Itu kabar baik, karena Ressa benar-benar sedang butuj tempat untuk bersandar -- secara literal.

-----------------------------

OOC: botol Ressa tinggal seperlima isinya.. Hii, bentar lagi mabok nih..
satu lagi: Halverson, nyanyian yang barusan itu baru diterjemahkan ke bahasa Norwegia tahun 1905 lho..

_________________
Even forever is such a short time to live.. -- Ingressa Michelli

I love you because I know no other way. -- Pablo Neruda

Spoiler:
 


...like THE ELF that lives forever
Back to top Go down
View user profile http://sereisa.multiply.com
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime21st January 2010, 16:04

Sang Section Leader memintanya bernyanyi dalam bahasa negara asalnya, Italia. Bukannya tidak pernah atau tidak mau, tapi rasanya, ia memang akan banyak bernyanyi malam ini... Oh, apakah belum ada yang bilang bahwa Shreizag Halverson akan banyak bernyanyi bila ia mabuk? Sebentar lagi akan ada buktinya. Karena, ia mulai merasakan efek-efek dari minuman keras itu sekarang.

Masih duduk di pinggir tempat tidur yang kini penghuninya bertambah satu--Allegra--kepala pria Norwegia ini bertumpu pada satu tangannya, mencoba menstabilkan dirinya sendiri dari pengaruh cairan yang tengah mencoba menguasai dirinya tersebut. Mulai pusing dan tidak bisa berpikir jernih? Ya, itu salah satunya.

Bukannya mendapatkan ketenangan untuk membuatnya merasa lebih baik, satu-satunya pintu keluar-masuk di ruangan itu terbuka, dan menampilkan sesosok pria berambut pirang. Shreizag mengintip dari ujung matanya; oh, tamu baru rupanya.

"General... apa yang sudah Anda lakukan pada Lia?"


Justru itu yang hendak kutanyakan padamu, Leonard Chezza.

Dingin dan datar, pria berambut putih itu menatap lurus pada pemuda di hadapannya. Melakukan apa? Jangan bercanda, memangnya ia telah melakukan apa? Kalau ada orang yang harus dituduh untuk itu, bukankah ada tersangka yang lebih tepat?

"Dia, tidak melakukan apa-apa. Begitu pula dengan yang lain. Gadis itu sendiri yang meminta ikut berkecimpung dalam permainan orang dewasa. Anggap saja pengalaman baginya."

Bagus, Giraile telah mewakilkan dirinya untuk menjawab. Bagus--karena, bila ia yang harus menjawab, bisa saja jawaban yang keluar bukan murni dari pikirannya, namun jawaban yang telah terkontaminasi racun bernama 'Real Sangria'.

"Kau bisa mengangkutnya kembali ke kamarnya? Anggap saja ucapan terima kasihku untuk Remy Martin tadi, hm?"

Hmm, terdengar seperti pangeran yang hendak menyelamatkan putri dari kastil penyihir jahat. Seperti legenda Norwegia zaman Medieval yang dituangkan dalam sebuah balada, Åsmund Fregdegjeva. Bibir Shreizag tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman sedikit sarkastik. Tunggu--Shreizag tidak pernah menampakkan senyum sarkastik begitu, ya kan? Walaupun kedua mata biru mudanya hanya memandangi lantai dengan tatapan nanar, namun bibirnya mulai terangkat dan mengeluarkan suara pelan. "... Dæ va Irelands Koning, han talar til sine Mænd, qenn vi reise til Trolleboten, og hente min Søster heim... Aa her ingen Dagen..."

Bukan berarti ia bisa membiarkan sang putri pergi dan diambil begitu saja.



Spoiler:
 

[OOC: @ Ressa: Yes I know, aslinya Jerman kan? Anggap saja si Shrei nerjemahin sendiri ke Bahasa Norwegia, ok ok ok? :-" *digebukkin*
OOC lagi: Ok, I'm hiatus now, slow paced ya... =w= Maaf rada webe abis ngerjain laporan *plak*]

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice


Last edited by Shreizag E. Halverson on 21st January 2010, 23:36; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Leonard Chezza

Leonard Chezza

Posts : 78
Pemilik : Issei Akira
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 22

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime21st January 2010, 18:56

Satu tepukan di pundak yang dirasanya agak keras menyadarkannya dari pikirannya yang sempat melayang. Dan barulah ia sadar, ia sudah mengatakan kalimat tadi pada orang yang salah. Mengapa? Jelas, karena orang yang sebenarnya ingin ia tanyai adalah orang yang tadi menepuk bahunya.

"Oi--Chezzzza?"

Bau orang mabuk. Didekati General ini saat ia sedang tidak mabuk saja ia tidak sudi, apalagi kalau sedang mabuk begini. Kalau saja Giraile tidak melanjutkan kalimatnya, mungkin Leon sudah buru-buru minggir. "Dia tidak melakukan apa-apa. Begitu pula dengan yang lain. Gadis itu sendiri yang meminta ikut berkecimpung dalam permainan orang dewasa. Anggap saja pengalaman baginya."

Mendengar hal itu, Leon tidak tahu mau berekspresi seperti apa. Lia sendiri yang mau? Kacau. Berarti sebagian kesalahan ada padanya, karena sudah membuatnya semakin fasih berbahasa Inggris DAN menyuruhnya mengantarkan minuman keras ke kamar seorang General pemabuk yang juga dekat dengan General-nya sendiri. Tahu begini aku saja yang pergi. Kalau hanya Giraile dan Shreizag, aku pasti bisa menolak. Tapi kamu? Oh, Lia, maafkan aku...

"Kau bisa mengangkutnya kembali ke kamarnya? Anggap saja ucapan terima kasihku untuk Remy Martin tadi, hm?"

Hahaha, lucu. Jadi setelah ia memberikan sebotol minuman keras pada Giraile, hadiahnya adalah Lia yang sedang mabuk? Rasanya ia ingin menangis saja. Tetapi seperti kata pepatah, 'Kau menuai apa yang kau tanam', inilah konsekuensi yang harus ia tanggung. Sebuah senyum sinister tersungging di bibirnya. "Baiklah, General. Saya akan membawa Lia sekarang. Terima kasih atas kemurahan hati Anda," katanya dengan nada manis yang dibuat-buat.

Ia lalu berjalan ke arah tempat tidur, menyingkirkan kain hitam yang menutupi tubuhnya, lalu mengangkatnya dengan kedua tangannya. Kepala gadis itu terkulai lemas ke bahunya, dan Leon hanya bisa menatapnya dengan tatapan miris. Berat tubuh Lia hampir tidak terasa di kedua lengannya, tapi melihat bagaimana Lia sampai pingsan karena mabuk membuat hatinya terasa begitu berat.

Merasa tidak sopan kalau ia membiarkan jubah Shrei tergeletak begitu saja, ia memungutnya dengan hati-hati, lalu berjalan ke arah pria Norwegia itu. Namun saat ia ingin mengembalikannya baik-baik, ia justru 'disambut' dengan senyum sarkastik, dan sebuah kalimat dalam bahasa Norwegia, bahasa yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya.

"... Dæ va Irelands Koning, han talar til sine Mænd, qenn vi reise til Trolleboten, og hente min Søster heim... Aa her ingen Dagen..."

Apapun artinya, Leon rasa itu adalah sebuah sindiran, atau celaan, atau hinaan. Entahlah. Mungkin saja pujian, tapi saat itu ia tidak merasa demikian. Menarik ujung bibirnya dengan paksa untuk membentuk sebuah senyuman, ia malah memberikan sebuah senyum sinis pada pria berambut putih itu. "Ní féidir liom a thuiscint focal amháin a rá agat, Ginearálta..." katanya pelan, dengan nada yang begitu dingin. Ia yakin General itu pasti mengerti bahasa Irlandia, toh ia juga terkenal karena kepandaiannya dalam berbagai bahasa, 'kan? Bersama dengan kalimat itu, Leon menjatuhkan kain hitam yang tadi dipegangnya begitu saja; membiarkannya jatuh ke lantai. Ia merasa sia-sia sudah berniat baik pada General satu itu.

"General Asdvadzadour, kami pergi dulu. Selamat malam," ucapnya pelan pada sang tuan rumah, sebelum berjalan meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Satu hal yang ingin ia lakukan keesokan paginya; menanyai Lia tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.

[Leon & Lia - OUT]
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime22nd January 2010, 15:49

Menutup mulutnya dengan satu tangan, wanita Armenia itu terkikik, mendapatkan respon yang diduganya dari lelaki pirang itu. Sejak kapan Giraile terkikik, yang lebih feminim ketimbang terkekeh, sesuatu yang lebih sering dilakukannya? Sejak sistem syarafnya terkontaminasi larutan memabukkan itu, tampaknya. Dengan seperlima mirasnya tersisa, Giraile mulai mendekati batasannya.

Ada sesuatu yang janggal dengan Shreizag. Dalam kondisi biasa, mungkin ia telah menyadarinya, terutama dengan insiden yang dibuahkan oleh permainannya. Namun, Giraile yang hanya berjarak seperlima-isi-botol dari kemabukan total tidak cukup empatik untuk menghibur temannya (walau dengan caranya sendiri). "Bwahaha! Duduk sana, Shrei! Ayo kita main!" Pelampiasan keresahan pada alkohol, walau jelas-jelas tidak baik, tetap populer di semua penjuru dunia, kok. Kamar Giraile tidak terkecuali.

Oh iya, permainan. "Ahhh!!! Karlsen, kau terlalu lama!" Ia mengayun-ayunkan botol Brandy de Jerez dengan liar di udara. Tuan rumah ingin permainan terus berjalan, segera. Tidak sabar--sifat yang melekat pada Giraile bahkan saat dia sepenuhnya sadar diri. "Sudah, ah! Kau saja, Kohler!" Tidak konsisten dengan aturan sendiri--sifat yang hanya dimilikinya saat mabuk. Matanya, yang mulai melihat pemandangan buram, tidak menatap langsung Ravel Kohler, namun botolnya jelas-jelas menunjuk ke pria Jerman itu. Manja; sifat bawaan mabuk yang lain. "Ayo cepaaaaaaaaaat..."




[OOT: Njel minta giliran Ncis diskip =w=b]

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime22nd January 2010, 15:57

"--never have I ever... ------- --feat to a b--tle."

Tunggu, tadi dia bilang apa?

Kening pria tersebut mengerut, sementara otaknya kini mengutuk pendengarannya yang mulai kacau karena alkohol. Atau pad predikatnya, otaknya juga kini mulai membuatnya kisruh? Apa yang dikatakan jendral wanita garang tersebut tidak dapat diproses oleh otaknya, sungguh.

Satu hal yang membuatnya kesal, jujur. Oh, kalau kesal begini lidahnya ingin mencoba sesuatu yang enak; apel pasti akan terasa seperti surga. Kebetulan, salah satunya tengah berada di botolnya. Tanpa segan-segan pun, Ravel Kohler mengeuk habis botol miliknya--sisa duaperlima Calvados yang masih mendekam dalam botol--semuanya hanya karena lidahnya sedang ingin.

Botol miliknya habis, di luar perhitungan.

"Giraaaaile, ngomonglah lebih jelaas... Ich verstehe dich nicht!" Ravel sepertinya sudah setengah sadar (kapan pula pria ini bisa mendesis keras seperti ini kecuali pada pertarungan). Suara-suara semacam pintu yang terbuka dan nyanyian Shreizag sudah terdengar sebagai dengungan di telinganya. tak usah jugalah ia mendengarkan pernyataan dari pria berkebangsaan Norwegia itu, toh botolnya juga sudah tak berisi. Segala indranya sudah dikendalikan alkohol, sungguh.

Mata kuning kecoklatan tersebut kini kehilangan fokus sebentar, sebelum akhirnya terfokus pada helaian rambut putih milik Shreizag. Sayangnya, Ravel tidak berada dalam kondisi yang memungkinkan hingga kepalanya meregistrasi orang tersebut tersebut sebagai rekan sesama jendral satu markas.

"....Weisse Frauen...?" Mata sempat berkedip beberapa kali, namun ilusi akan seorang wanita berambut putih inkarnasi peri dari Alfheim seakan sudah menempel pada pria berambut putih tersebut. 'Apa yang dilakukan wanita itu di Midgard?' adalah pertanyaan yang sempat melewati benak pemuda tersebut.

...mungkin ia perlu mendapatkan semacam petuah dari peri tersebut? Atau pemberkahan?

Di saat yang sama, pria ini ambruk, kepalanya bertemu dengan lantai. Kesadarannya masih menempel; setidaknya biarkan ia terbaring dan mengalami delusi untuk beberapa saat.

"I... have never met an elf."

Oh? Sepertinya bagian dari otaknya memang belum KO sepenuhnya. Buktinya, ia sendiri masih seperempat sadar akan sekitarnya (setidaknya, apa yang tengah mereka lakukan... oh, bersama peri putih itu juga lagi). Pria berambut pirang ini masih tergeletak di atas lantai, suaranya mungkin hanya sekedar bisikan.




OOC:
  • Ich verstehe dich nicht = Aku tak mengerti maksudmu
  • Weisse Frauen = White Lady; Roh yang dikaitkan dengan mitologi Norse lama dan memiliki alegasi dengan Alfheim, dunia para light elves (bagian dari 'surga').


Botol Ravel habis karena kesalahan tersebut, okay? =w= *digeplak*

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime24th January 2010, 00:02

[OOC: Lupa nulis kalo Shrei sebenernya nyanyi *plak* Well, he's going to sing and dance a lot after this... *kicked out*]




"Ní féidir liom a thuiscint focal amháin a rá agat, Ginearálta..."

Gan focal amháin, eh?


Nyanyian memang bukan untuk dimengerti, tapi dinikmati. Pria Norwegia ini menghentikan kalimat bernadanya ketika murid perempuannya dibawa pergi oleh pemuda berambut pirang, kakak sepupunya. Cih. Kalau saja kepalanya tidak terasa berat seperti sekarang, barangkali ia sudah mencegahnya pergi, atau apalah. Apa saja yang bisa membuat rasa kesalnya hilang. Rasa kesal pada dirinya sendiri.

Kepalanya yang tadi sedikit terangkat untuk melihat kepergian muridnya kini tertunduk lagi. Mata biru muda yang sekarang tampak lebih sayu dari sebelumnya membentur lantai, menatap jubah hitamnya yang tergeletak begitu saja di sana. Alisnya yang tipis itu bertautan, dan di dalam hatinya, ada sesuatu yang sedang bergejolak; suatu perasaan tidak mengenakkan. Dan Demi Tuhan, sungguh ia ingin melampiaskannya.

Alis tipis itu semakin menukik tajam, dan ekspresi dinginnya telah berubah menjadi masam. Pria berambut putih ini berdiri, menatap jubah hitam di bawahnya dengan tatapan yang tak bisa dideskripsikan. Kemudian, tanpa diduga oleh siapapun di sana--bahkan dirinya sendiri bila sedang waras--ia menginjak kain itu--yang biasanya setia menghangatkan punggungnya setiap hari--keras-keras, seperti orang yang ingin meremukkan kecoak yang menyebalkan. Tak cukup dengan satu injakan, ia mengulanginya lagi dengan lebih intens, menginjak dan menekan tanpa ampun dengan sepatu bersol tebalnya itu.

Golem peraknya, yang masih setia bertengger di pundaknya terlihat sedikit ketakutan melihat kelakuan tak wajar dari pemiliknya. Tangannya yang mungil itu menggenggam baju Shreizag lebih keras, sementara kedua sayapnya menutup, takut ikut terlempar karena sikap agresif tuannya itu.

... Shreizag Halverson sudah mulai kehilangan akal sehatnya.

Menghembuskan napas keras setelah puas membuat jubahnya kotor dan tak layak lagi untuk dipakai, ia jadi merasa haus. Pelampiasan memang perlu tenaga ekstra. Diambilnya botol Real Sangria yang terdapat di sampingnya, lalu menenggak isinya, menyisakan beberapa mililiter. Jangan ingatkan ia tentang permainan yang sedang dilakoninya, akal sehatnya sudah menolak untuk ikut campur. ... Atau ia lupa? Ah, yang mana juga sama saja.

"I... have never met an elf."

Ah... Suara apa tadi? Samar-samar ia dapat mendengar seseorang berbicara, yang sepertinya masih ada sangkut pautnya dengan acara akbar malam ini. Ya sudahlah, ia sudah tidak begitu peduli lagi. Beranjak dari tempatnya berdiri setelah melempar botol itu asal ke atas tempat tidur, Shreizag berjalan menuju Ingressa duduk, kemudian mengulurkan satu tangannya, "Tu dici che vuoi che io a cantare in italiano, non è vero?" rupanya ia hendak memenuhi permintaan Ressa untuk bernyanyi dalam Bahasa Italia, namun apa arti uluran tangan dan... sebuah senyum yang tersemat di wajahnya itu?

"Già dell’alba vicina... L’aure percorritrici, I venticelli amici Fomentano cortesi..." suara tenornya mulai menyanyikan bait pertama dari Gli amori d'Apollo e di Dafne, sebuah lagu opera gubahan komposer Francesco Cavalli di abad ke-17 yang lalu. Tuhan memang segala-galanya karena masih memberikan pria ini kemampuan intelegensia yang patut dibanggakan, sehingga ia masih sanggup bernyanyi dengan lirik dan nada yang benar, walau, perilakunya tak ubah seperti pemain teater kondang. Sama sekali bukan Shreizag Halverson yang biasanya.

Mengajak sang wanita Italia untuk berdiri, dan memintanya untuk berdansa beriringan dengan lagu yang dinyanyikannya, pria Norwegia ini sudah bisa dibilang mabuk, walau belum total. "Questa è l’ora felice... Da me più favorita, In cui godo vedere... Dentro a un dormir profondo, La natura sopita..." percaya tidak kalau ia akan menghabiskan malam ini dengan bernyanyi dan berdansa?

Percayalah.

Paling tidak, sampai ia kehabisan tenaga dan terbaring lemas nanti.

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime24th January 2010, 14:24

Huaa...?
Menggeliat di tempat tidur dengan tatapan mata tak fokus--sedikit basah --buih-buih alkohol tampak meletup dari bibir gadis kelahiran Praha tersebut diselingi pekik suara cegukan.Terlalu komikal memang, namun menggambarkan dengan baik keadaan jasmani dan rohani gadis yang memiliki iris baby blue itu.

Gadis yang sekarang meringkuk di salah satu sudut ranjang Giraille itu tak dapat menangkap apa saja yang terjadi sedari tadi.Ia memang melihat semua kejadian di ruangan itu. Ia masih dapat mengingat bahwa Giraile lah yang menaruhnya ke atas sini bersama dengan gadis yang tak begitu ia kenal-- Allegra melirik ke tempat di sampingnya yang lapang--yang telah pergi entah sejak kapan. Hanya sekelebat memang, dan kejadian lainnya pun ia tak tahu pasti.

Uuuh... rasanya kepala Allegra berat sekali, iris birunya dapat menangkap kalau segalanya tampak semakin tak terkendali di indra pencitraannya. Allegra beringsut pelan ke pinggir ranjang, mencoba menegakkan punggungnya--yang akhirnya tak dapat benar-benar tegak. Di saat itulah matanya menangkap sebuah botol minuman keras lainnya, salah satu koleksi Giraile tentunya. Telapak tangan Allegra meraih botol minuman itu, memutar-mutarnya dengan wajah ling lung. Jika saja Giraile tidak sibuk bermain tentunya ia akan menangkap basah Allegra.. apalagi botol yang ia pegang itu ialah botol..

... co... com.. apa ini? Arh!

Commander.

Salah satu brandy favorit Giraile.

Botol kaca tersebut berada di pelukan sang gadis, saat itu sorot mata Allegra kembali tertuju pada pusat keramaian. Apalagi barusan telinganya menangkap suara 'bruk' si Kohler yang tumbang ke lantai. Mengikik pelan pada sang General yang kemudian mengigaukan--karena ia bersuara setelah pingsan--pernyataan selanjutnya.

"I... have never met an elf."

"Alle pernah!"

Suara lengkingan ceria itu terdengar bersamaan dengan bunyi tutup botol yang terbuka, langsung dipisahkan dengan tangan kosong Allegra. Oh, tampaknya efek alkohol itu membuat Allegra lupa kalau ia sudah diseret keluar dari arena bermain dan tak boleh turut ikut kembali. Fufufu~ namanya juga orang mabuk jadi dimaklumi saja kan? Iya seharusnya dari awal Giraile sudah memperkirakan kalau orang-orang mabuk tak pernah tunduk pada peraturan, bagaimana bisa jika berjalan lurus saja mereka tak mampu.

Dan Allegra juga tak pernah melihat Elf...

Mengangkat botol Commander tinggi-tinggi, cairan dalam botol itu meluap sebagian, menetes ke bawah, sebelum Allegra benar-benar meneguknya dengan cepat dan berakhir dengan hanya menyisakan setengahnya langsung.

"Kyahahaha~"

Meloncat dari pinggir kasur ke lantai kamar Giraile dengan riang, mengikik riang saat ia melihat General Halverson berdansa dengan wanitanya. Ia dapat melihat General Kohler telah teler di lantai... kemudian Giraile... Francis... Izarra... lalu...

"Syalku!"

Suara lengkingan terlepas dari bibir mungilnya, secara spontan ia berjalan lincah ke syalnya--yang tersemat pada Glaucio. Meloncati seonggok tubuh yang terkapar di lantai dan menarik syalnya dari leher Glau tanpa mengurangi kekuatannya--bagaimana bisa jika dalam keadaan sadar saja ia sudah begitu destruktif--jika Glau mengeluarkan jeritan atau semacamnya tentu saja Allegra tak dapat mendengarnya.

"Hhihihi Glau~~ curang ah kalau kau belum mabuk jugaaa. Sini minum, minum!"

*plash*

Allegra menuangkan sisa Commander ke pada Glaucio, bukan ke gelas, membuat sang pemuda berambut keabuan tersebut basah. Sekali lagi tawa riang terlepas ke ruangan. Gadis berusia 20 tahun itu mengangkat botol. tetes terakhi alkohol itu jatuh di pipinya. Lihat, tak ada lagi Commander yang tersisa.

"Wah hebaaat Komandan kau menghabiskannya! Kyahahahhaha~"
Back to top Go down
View user profile
Glaucio Marino

Glaucio Marino

Posts : 88
Pemilik : *nbla
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime27th January 2010, 19:57

Pemuda itu memang cukup realistis. Ia mengaku tak percaya adanya cinta yang rill, meskipun percaya-percaya saja cinta biasa yang lebih banyak bacotannya seperti yang dikatakan orang benar adanya. Ia toh memang belum pernah mengalami, meskipun dalam hatinya pernah terbersit pikiran semacam menikah hanya pada satu wanita seumur hidupnya setelah menyelesaikan ‘karir’—dengan cara yang lebih layak—lebih dahulu. Orang yang seharusnya lebih layak pada apapun yang Glaucio berikan sebagai segala sesuatu ‘yang pertama’, bahkan bagi laki-laki itu sendiri. Entah itu perhatian yang pertama kali ia berikan dengan tulus pada orang lain, atau kasih sayang, materi, atau ciumannya juga… Menggelikan, ia ingat satu kata itu sampai berikutnya memutuskan untuk menghentikan khayalannya. Dan yang pertamanya itu… Jelas-jelas bukan, atau setidaknya tidak pernah terbersit untuk diberikan kepada seorang Allegra Růžena Mlynarikova begitu saja.

Oh ralat, wanita itu yang ‘memberikan’langsung padanya.



“Konyol.”

Satu facepalm.

Dan wajah itu sekarang kelihatan mulai bisa untuk mengendalikan perasaan dan kembali netral. Setidaknya sekarang kembali ke keadaannya yang semula… Cukup pucat jika dibandingkan dengan wajahnya yang agak memerah sebelumnya (iya, betul; aneh betul kenapa bisa terjadi), meskipun tetap saja lebih pucat daripada wajahnya di hari-hari yang biasa. Efek samping alcohol pada hakikinya justru membuat orang yang menenggaknya jadi memiliki wajah merah merona seperti… Kohler. Atau Súilleabháin. Jendralnya mungkin, sangat mungkin, malah sudah gila sekarang.

Efek sampingnya berbalik pada Glaucio, barangkali. Pemuda itu masih duduk, bersila di karpet seperti tadi meskipun yang sekarang tidak setegap sebelumnya. Agak dipaksakan malah, mengingat pandangannya sudah tidak sepenuhnya terfokus lagi; meskipun nyatanya ia masih bisa melihat keadaan sekitar dengan baik. Seorang staf anonim yang masuk lalu seolah menuduhkan yang macam-macam pada general Giraile akan apa yang telah ia lakukan pada gadis pirang itu—anak itu sudah dewasa kan? Jangan menimpalkan keadaan dan resiko pada orang lain kalau begitu. Lalu mereka berdua pergi. Kohler semakin tak terkendali. Maraschine, Izarra sepertinya juga masih belum bisa lepas dari jeratan bujuk rayu-plus-ciumnya Karlsen sampai sekarang. Bahkan Michelli yang lagaknya kalem itu saja hanya menyisakan seperlima bagian isi botolnya. Mungkin satu-satunya yang masih cukup stabil hanya Halverson.

Allegra sendiri ada di sudut sana, setelah pada akhirnya bisa dipisahkan oleh Giraile. Sekilas kelihatan tak berdaya, meskipun Glaucio sendiri meragukan bahwa gadis itu tengah dalam sepenuhnya keadaan tak bisa apa-apa. Daya tahan gadis itu cukup besar. Euh. Entahlah, Glaucio tak yakin apa keputusannya untuk merasa tak menyesal atas keadaan gadis itu memang tepat. Toh seharusnya memang ada beberapa pihak lain yang merasa sama menyesalnya. Glaucio, pertama. Dan mungkin seorang lagi, seorang yang lebih sering menyuruhnya untuk beristirahat jika migrain itu kambuh daripada cari angin malam di luar sembari bersantap alcohol, jika ‘dia’ memang tahu. …Dan entah untuk dasar apa dia harus menyesal.

Syal bulu itu terasa begitu berat di bahunya, menutupi helai abu-abu tipis di baliknya. Terlalu lelah untuk melepasnya.

Never have I ever... admitted defeat to a battle."

Mangut-mangut pemuda itu, tanpa bermaksud melakukan apapun.

"Never have I ever... met my mother."

Lalu tanpa gairah ia berbalik menuangkan seperlima kembali isi botolnya, menenggaknya dengan lebih mudah seolah-olah jus biasa. Waktu memang membiasakan, mungkin.

"I... have never met an elf."

Do others have?

Padrone—bangkitlah sedikit. Anda kelihatan agak memalukan.”

Tanpa bermaksud merendahkan maupun mengejak orang yang jelas-jelas tingkatannya lebih tinggi tersebut, ia sadar bahwa orang mabuk sama sekali tidak punya kesadaran untuk melakukan apapun kecuali tidak disuruh secara agak keras. Tidak ada tuangan kali ini, berarti ia sudah menenggak 3/5 gelas… Sisa dua kali kesempatan lagi berarti. …Bisakah?

“Err, general—“ berbicara langsung ke arah Giraile kali ini, "Bolehkah aku hanya ikut satu round? Yang berarti seharusnya aku boleh keluar sekarang; dari tadi—ada… Sedikit urusan.”

Alasan yang bagus, setidaknya untuk mencegah dirinya untuk lebih linglung daripada ini. Mungkin ia memang memerlukan kacamata dan obat migrainnya di kamar…

"Hhihihi Glau~~ curang ah kalau kau belum mabuk jugaaa. Sini minum, minum!"

…Di luar hujan? Kelihatannya atapnya bocor. Ah, rambutnya basah. Wajahnya juga. Dan rasanya sepat agak manis ketika dijilat.

*plash*

Dan kini ia basah kuyup, tepat setelah menyadari bahwa rekan kerjanya yang terkasih itulah yang telah melakukannya.



“…ASDFGH ERGH, JAGA KELAKUANMU! KAU PIKIR MENTANG-MENTANG KAMU YANG MELAKUKANNYA AKU JADI TAK BISA MARAH? KAU MENGGANGGU YANG LAIN JUGA! Adfje%*^#@!!?”

Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan setelah beberapa minggu terakhir, lepas kendali. Mungkin alkohol memang telah merangsang emosinya. Mata yang semula tertuju tajam itu melunak setelah menyadari mata gadis itu ada tepat di depannya, seiring pandangannya kembali mengabur setelah itu. Kepalanya berdenyut sementara sekujur pipinya lengket sekali.

Facepalm yang kedua.

Kembali menyadari posisinya yang refleks berdiri sambil mengepal tangannya, lalu terduduk kembali, lemas—setelah lupa untuk kembali menyadari bahwa rata-rata orang mabuk tak punya kesadaran yang layak dipergunakan. Glaucio mengatur napas kembali, menenangkan sesuatu—ia memang sering sekali marah, kecuali pada beberapa orang tertentu. Jarang sekali seperti ini, memang.

“Seseorang, antar dia kembali ke kamarnya. Atau aku yang akan mengerjakannya.”

WB hu'uh ==a


Last edited by Glaucio A. Marino on 28th January 2010, 15:37; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime28th January 2010, 11:34

Sekali lagi, Giraile terkikik, menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Shreizag tampaknya sudah mulai terpengaruh Real Sangria-nya; Giraile tidak kecewa, tidak setiap hari jenderal berwajah batu itu akan menampilkan pertunjukan dengan senyuman dan langkah dansa yang menawan, diiringi nyanyian. JACKPOT, terutama setelah Ravel Kohler, dengan bodohnya, menenggak habis Calvados-nya. Dasar maniak apel.

"GYAHAHAA KALIAN SEMUA BODOH--"

Plashhhh.

"…ASDFGH ERGH, JAGA KELAKUANMU! KAU PIKIR MENTANG-MENTANG KAMU YANG MELAKUKANNYA blabla bla..."

Suara si bocah berambut abu tidak tergiang di kepalanya, yang mulai merasa nyeri mendengar teriakan pekiknya. Namun, begitu ia sendiri menyadari tindakan sebenarnya yang telah dilakukan oleh Allegra, mata ambernya membelalak lebar, sembari ia beranjak dari duduknya. "Gadis sinting! Itu bukan brandi yang murah, tahu!"

Berusaha menghampiri Allegra tanpa berjalan sempoyongan, tempo hentakan botnya pada lantai menjadi lebih lambat dari biasanya--apa boleh buat. Menggertakkan gigi, tanda kegeramannya, Giraile mendorong gadis Ceko itu ke arah Glaucio, yang telah dengan demikian baiknya demi keselamatannya sendiri menawarkan untuk membawa gadis mabuk itu ke kamarnya (baiklah, murid dari Francis itu tidak benar-benar menawarkannya, tetapi Giraile biasa menerjemahkan perkataan sesuai keinginan). "Ah, sudahlah! Sana pulang!" Ia tidak ada dendam pribadi terhadap Glaucio--hanya pada gurunya, kok. Melihat generasi muda tumbang sebelum para pendahulunya agak meresahkan, terutama setelah hasratnya melihat Shreizag dan Ravel melakukan sesuatu yang konyol telah terpenuhi.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ingressa Michelli

Ingressa Michelli

Posts : 77
Umur : 27
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23 tahun

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime30th January 2010, 12:49

Ah, suara-suara apakah yang didengarkan Ressa? Selain suara lagu yang melantun dari bibir Halverson, semuanya terasa bagaikan dengungan lebah yang mengitari bunga-bunga di padang rumput. Bunyi-bunyi dengan frekuensi tidak jelas sama sekali tidak membuat Ressa merasa lebih baik, atau lebih tepatnya lebih sadar.

Kepala Ressa sudah benar-benar pening sekarang. Tampaknya efek 4/5 isi botol Pedro Ximenez sudah mulai dirasakannya. Ah, hati Ressa terasa berbunga-bunga sekarang, menigngatkannya akan memori yang terasa begitu jauh, memori yang dia miliki sewaktu dia masih muda..

Seolah-olah dirinya sudah tua saja.

Kepangan-kepangan yang dikerjakannya sudah selesai sekarang. Tanpa mempedulikan apapun kata Shrei nanti, Ressa merenggut jubah hitam Shrei yang tergeletawk di lantai, sekalipun Shrei tengah menginjak-injaknya. Ya, mungkin minuman beralkohol dengan suatu cara yang misterius bisa menambah tenaga seseorang, atau mungkin itu hanya Ressa yang terlalu bersemangat.

"Hentikan itu Halverson," katanya sembarangan. "Berisik."

"I... have never met an elf."

Suara itu..rasanya suara Kohler. Entah kenapa suara itu terasa begitu jauh. Peduli amat! Jauh ataupun tidak, Kohler telah mengucapkan pernyataan yang sama sekali tidak valid, setidaknya menurut Ressa.

"General," katanya, menatap tajam Kohler dengan kedua matanya. "Pernyataanmu itu tidak benar. Bukannya kau sudah pernah mengenalku, yang adalah seorang elf-lady yang telah hidup selama beribu-ribu tahun?"

Senyum manis mengambang di bibir Ressa, seolah-olah dirinya memang seorang makhluk immortal yang telah menyaksikan dunia berubah dalam jangka waktu yang demikian lama. Ressa jelas-jelas sudah kehilangan kesadarannya.

"Tapi tidak sepertimu, Kohler," katanya lagi sambil membuka botol minumannya yang kini tinggal tersisa seperlimanya, "Aku adalah wanita yang jujur, dan aku akan minum lagi. Waes hael, gentlemen."

Dengan kalimat itu ia mengangkat tinggi-tinggi botol minumannya, bersulang, dan menghabiskan isinya.

"Giliranku sekarang kan?". Dengan senyum licik Ressa mengucapkan kalimat pernyataannya. "I have never killed anyone."

Masih dengan perasaan melayang, Ressa membiarkan matanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Namun ia langsung terkesiap begitu melihat uluran tangan seseorang. Ressa mendongak, dan melihat mata es sang jendral Norwegia, dan tunggu, dia tersenyum!

"Tu dici che vuoi che io a cantare in italiano, non è vero?"

Itu memang benar, tapi...

"Già dell’alba vicina... L’aure percorritrici, I venticelli amici Fomentano cortesi..."

Tanpa menunggu jawaban Ressa, Shrei menyanyikan baris pertama lagu klasik Italia. Pria ini bersungguh-sungguh -- atau sungguh-sungguh mabuk.

Entahlah, pikiran Ressa tidak cukup berfungsi untuk menolak ajakan Shrei. Dengan spontan Ressa menggenggam tangan Shrei, dan berdiri.

"Cavalli?" katanya, memastikan lagu yang sedang Shrei nyanyikan. "Mi piace."

Dengan suara lirih ia ikut menyanyikan lagu itu.

"Questa è l’ora felice... Da me più favorita, In cui godo vedere... Dentro a un dormir profondo, La natura sopita..."

Berbahagialah, Shrei, setidaknya kau punya teman untuk berbagi ke-tidaksadar-anmu.

_________________
Even forever is such a short time to live.. -- Ingressa Michelli

I love you because I know no other way. -- Pablo Neruda

Spoiler:
 


...like THE ELF that lives forever


Last edited by Ingressa Michelli on 4th February 2010, 14:17; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://sereisa.multiply.com
Abisak Avedisian

Abisak Avedisian

Posts : 77
Pemilik : Chief
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 25

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime1st February 2010, 22:54

Masuk, tidak, masuk, tidak, masuktidakmasuktidakarghhhhh.

Konflik batin berkecamuk dalam benak seorang Abisak Avedisian, yang tidak bisa mengeluarkan tekad cukup kuat untuk menggerakkan sepasang kakinya. Ia sudah mendapatkan instruksi yang jelas dari Giraile: bila dirinya mulai merasa ada sesuatu yang janggal dari wanita Armenia, itu tandanya ia harus mengintervensi. Dan ya, ia merasa ada sesuatu yang SANGAT janggal begitu mendengar suara terkikik Giraile.

Bila boleh jujur, dari awal acara ini sudah berbau mencurigakan dan terlampau janggal, bila tidak mau dibilang berpotensi membuahkan hal-hal yang tidak diinginkan. Walau ia berhasil menahan diri dari mengintip langsung (oh, Abisak tahu dirinya tidak akan ingin melihat sekumpulan orang--tidak ada satupun berjabatan kurang dari Disciple--mempermalukan diri sendiri), ia kurang-lebih bisa menerka apa yang tengah terjadi. Ya, kehancuran.

'Tenang, belum ada hal yang benar-benar aneh...' Namun, begitu ia mendengar suara nyanyian seorang pria Norwegia, dan pernyataan yang berhubungan dengan elf dari seorang Ravel Kohler, Abisak tahu gilirannya telah tiba. Memberanikan diri, ia memasuki lokasi... dan...

"Astaga." Giraile; apakah pengaruh buruk wanita itu sedemikian kuatnya hingga semua orang bermartabat ini terpengaruh?! Melawan akal sehatnya, ia berjalan mendekati Giraile, yang masih didampingi botol Brandy de Jerez-nya. Mengintip jumlah yang tersisa, Abisak yakin wanita Armenia itu telah meminum melebihi standarnya. "Nona, Anda mabuk?"

Pertanyaan berikutnya: bagaimana seorang janitor tidak berdaya seperti dirinya menangani orang mabuk sebanyak ini? Dunia benar-benar kejam.
Back to top Go down
View user profile
Shreizag E. Halverson
Vatican Central
Shreizag E. Halverson

Posts : 580
Umur : 27
Pemilik : S.E.H.
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime4th February 2010, 00:30

Perasaannya seperti di awang-awang sekarang.

Bagaimana tidak? Dengan langkah-langkah teratur--tidak begitu teratur, sebenarnya--dan berirama, serta nyanyian merdu yang didendangkan dari bibir kedua sejoli malam itu, membuat dirinya seakan tenggelam dalam keadaan yang ia buat sendiri. Terutama ketika ia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, membuat segalanya berjalan begitu saja, sesuai kemauannya--yang sudah tidak dapat dikendalikan. Golem peraknya? Masih setia berpegangan erat di pundaknya, tenang saja.

Satu tangannya masing menggenggam tangan Ressa, sedangkan satu tangannya yang lain ada di pinggang wanita Italia itu, menjaga jaraknya agar mereka tak terpaut begitu jauh. Hanya, kepalanya yang didominasi warna putih itu tertunduk, menjadikan pundak Ressa sebagai alasnya.

Dan nyanyian pun harus terus dilantunkan sampai akhir. "Uscite in varie forme... Immagini gioconde, e strane forme, E all’addormito mondo... Portate in sogni lieti... Metamorfosi mille, e mille segni, E l’uomo frale a indovinar s’ingegni..." suara tenornya terdengar samar, sampai akhirnya hilang sepenuhnya di penghujung lagu. Selesai, ini lagu yang terakhir.

Trakk

Ia menundukkan kepalanya ke bawah, mencari asal suara beling yang berpadu dengan lantai itu. Ahh, botol Real Sangria-nya. Sejak kapan ada di situ? Kebetulan sekali, tenggorokannya kering karena bernyanyi tadi. Mengambil botol yang hampir kosong itu perlahan, pria Norwegia ini membuka tutupnya dan meneguk isinya sampai habis tak bersisa. Kali ini, ia sadar dengan efek alkohol itu sepenuhnya. Kepalanya terasa sangat berat, kelopak matanya hampir menutupi iris biru muda dari sana.

Melangkah sempoyongan pada Ressa, yang kini telah berada di tepi tempat tidur, Shreizag sudah tidak dapat menahan berat tubuhnya sendiri. "La ringrazio per la splendida cantare e ballare... Signorina Michelli..." tak lupa ia mengucapkan terima kasih atas nyanyian dan dansa yang telah dilakoni dengan cukup baik dengan mereka berdua, lengkap dengan senyumnya yang jarang terlihat. Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, keseimbangannya hilang, membiarkan sebagian berat tubuhnya bertumpu pada sang wanita Italia, sebelum akhirnya tubuh mereka berdua terhempas di atas tempat tidur.

"Facciamolo nuovamente... Un giorno..." dan setelah suara lirih berupa kalimat ajakan untuk melakukan hal yang sama suatu hari nanti--kemungkinan besar tidak akan terjadi--kedua matanya benar-benar tertutup. Ambruk.

Shreizag Erstad Halverson, ini adalah kali kedua ia mabuk sampai tak sadarkan diri.


Spoiler:
 

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
A. Růžena Mlynarikova

A. Růžena Mlynarikova

Posts : 120
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime6th February 2010, 22:45

Ahhh menyebalkan kenapa Glaucio ingin mereka cepat-cepat keluar dari permainan sih.. kan mereka belum menghabiskan... dua botol. Iya, masih banyak botol lainnya kok! Masa' mau berhenti sampai di sini? Nanggung ahh!

Memang berpikir demikian, namun kali ini tangan mungilnya--yang berkekuatan menakjubkan--mencengkeram pergelangan tangan Marino. Iya, kalau Allegra harus keluar ia ta mau keluar sendiri, pemuda berambut abu itu harus menemaninya. Entah Glaucio mau menurut atau tidak--bukankah seharusnya ia yang diseret?--tapi kok susah banget sih berjalan lurus?Uuuh, semua sosok disana pun saat ini telah berubah menjadi bayang-bayang--kebanyakan--berwarna hitam, seperti hantu saja.

Ok, Allegra tahu pintu keluar di sebelah sana, ia hanya tinggal berjalan saja... pelan, perlahan, tegak, lurus... yang tak mungkin bagi seorang gadis dalam keadaan mabuk. Sehingga, jangan salahkan dia kalau di tengah-tengah perjalanannya ia merasa ujung tumitnya terantuk sesuatu.

Huee?

Merunduk ke arah ujung sepatunya--masih dengan tatapan tak fokus dan wajah merah--dan menemukan bahwa ia menendang... apa ini? Labu Halloween? Jack O Lantern? Kuning begini... Halloween kan masih lama, gimana sih? Paraah ah.

Reflek menggeser letak labu itu dengan ujung tumitnya (baca: ditendang lebih dari satu-dua kali) dan akhirnya menyerah sambil melenguh kesal karena labu itu tak mau menyingkir. Jadi, ia loncati saja deh kepala Jack itu. Hup, dan tubuhnya telah berada di ambang pintu, melenggang ke luar sambil cegukan.

"Hei kamu!" melengking pada bayangan entah siapa (Abisak) "nih buat kamu!" menjejalkan botol Commander kosong ke Abisak malang sebelum benar-benar membiarkan pendar pirang rambutnya menghilang di ujung koridor. Langkah gontai, semoga saja ia tak terantuk tembok atau nyasar.

Amin.

.....yang Allegra sama sekali tak tahu, Labu Halloween yang ia tendang itu adalah kepala kuning si Kohler--mungkin berbekas biru-ungu sekarang, memar.




[Allegra : OUT]

Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central
Giraile Arevig A.

Posts : 258
Pemilik : Chief
Poin RP : 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime6th February 2010, 23:10

Usai mendorong Allegra ke arah rekan murid Francisnya, Giraile dalam kondisi hampir-sepenuhnya-mabuk sudah tidak memikirkan masalah Commander yang disia-siakan itu. Terus terkikik, ia menonton Shreizag yang memberikan pertunjukan gratis dengan Ingressa yang dalam kondisi sama mabuknya. Wanita Armenia itu pun melepaskan tawaan terbahak-bahak melihat pria Norwegia yang menghabiskan isi botol Real Sangria-nya. Tentu, begitu mendengar pernyataan Ingressa, Giraile tidak memiliki pilihan kecuali melakukan hal yang sama. Woahh, kepalanya benar-benar terasa ringan sekarang. "Ngikikiiikk... Dasar toloool, kikikikiiiii--"

"... N--a... mabuk... mabuk... mabuk--

Ngiiiiik...

Bibirnya mencebik, sebelum ia mengayun-ayunkan lengannya dengan liar. "Aaahhh, berisiiik!" keluhnya, layaknya seorang anak perempuan manja yang tidak dibelikan mainan yang diinginkannya. Ia mengepalkan tangannya, jauh lebih lemas dari biasanya. "Huuuh... ini, terimalaaaah..." Tentu, jalur yang ditempuh tonjokannya pun berliku-liku, dan hanya menumbuk dada sosok berambut gelap yang tidak dikenalnya itu dengan pelan.

"Uff... aku capeek... aku mau tidur... zzttt..." Kedua mata ambernya terpejam, kepalanya yang bertumpu dagu pada pundak pria berwajah samar itu menunduk lemas. Siap untuk dibuai ke dunia mimpi, demi meniadakan dengungan menyebalkan yang memenuhi kepalanya. Dan dengan itu, ia menjatuhkan badannya pada sosok yang lebih pendek darinya itu.

Brukk. Ia dapat merasakan tekstur karpet kamarnya, namun Giraile tidak peduli dengan pilihan tempat untuk beristirahat malam itu. Ia hanya ingin... tidur.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Abisak Avedisian

Abisak Avedisian

Posts : 77
Pemilik : Chief
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 25

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime6th February 2010, 23:29

"Aduuuh... Aku harus bagaimana..." Bergumam pada diri sendiri tidak berguna, Abisak tahu itu. Minimal, ia bisa melampiaskan sedikit kekesalannya, seraya dirinya memegang dahinya yang mulai merasa pening, tanpa sedikitpun mencicipi cairan memabukkan yang baunya tertangkap indera penciumannya. Giraile, yang sebelumnya mengeluarkan tawaan aneh, tidak menghiraukan ucapannya lebih dari wajah yang menampilkan ketidaksenangan. 'Hei, aku sudah cukup baik ini, Nona Giraile... euhh...'

Mata hazelnya membelalak sesaat, mendengar kalimat yang jelas-jelas menyuarakan tantangan berkelahi dari wanita gahar itu, namun langsung berakomodasi normal melihat gerakan Giraile yang meliuk tidak menentu. "Konyol. Saking mabuknya, engkau bahkan tidak bisa memukulku dengan benar... hahaha." Tampaknya ada baiknya juga bertemu dengan wanita Armenia ini saat mabuk. Mungkin ia bisa menyindir dan mengeluarkan unek-unek dalam hati terdalamnya dengan leluasa. Ia tertawa pelan, membayangkan prospek yang begitu menyenangkan itu, oho--

"Hei kamu!"


"Ha--mphh!"


Tampaknya, selalu ada karma untuk membalas pemikiran keji.

Entah apa yang terjadi, namun Abisak menemukan sosok gadis yang bergerak entah ke mana, tertutupi oleh sosok berambut abu yang diajak paksa bersamanya, menghilang dari pandangan, dan suatu botol brandi bermerek familiar menjejali mulutnya. Kosong, dengan pengecualian beberapa tetesan keemasan. Ia mengeluarkan botol Commander itu dari mulutnya, yang membuatnya lengah selama beberapa detik--jangka waktu yang cukup bagi Giraile untuk tiba-tiba bersandar pada dirinya.

"Oi, oi, Nona, kau berat. Jangan--UWAAAA!!!"

"... capeek... aku mau tidur..."


Sungguh, ia sudah mulai kesal. Terutama, karena ia yang menerima tumbukan lebih keras terhadap lantai Kamar Nomor 2 yang, walau berkarpet, cukup menyakitkan. "Capek? Aku juga capek, mengurus hal yang bukan urusanku. Minggirrr..." Tentu, ia tahu ucapannya tidak akan mencapai telinga Giraile. Oleh karena itu, ia berusaha, dengan tenaga minimnya, untuk menggerakkan badan bongsor wanita itu. Upaya tidak membuahkan hasil. Setelah beberapa menit berjuang dengan sia-sia, sebagai satu-satunya yang masih sadar diri dalam ruangan, Abisak menghentikan engahan kelelahannya. Ia memejamkan mata, menahan napas yang telah dihirupnya, berusaha menenangkan diri...


... dan ia langsung membuka matanya lebar, yang sama berlaku untuk mulutnya. "SESEORANG, TOLOOOOOOOOONG!!!" Pintu kamarnya terbuka, kan? Abisak harap demikian, agar seseorang dapat mendengar lolongannya.
Back to top Go down
View user profile
Ariel Archer

Ariel Archer

Posts : 49
Umur : 26
Pemilik : Al2SiO5
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime7th February 2010, 07:01

Gerutu.

Dengan langkah cepat, seorang Section Leader bidang komunikasi itu menggumamkan hal-hal dari mulutnya dengan cepat. Sesekali pria itu membetulkan posisi kacamatanya. Bukan berarti tidak nyaman, hanya saja tangannya sudah refleks untuk melakukan hal itu. Kasarnya, kebiasaan unik.

Ariel Archer yang bermuka cemberut itu mengomel. Dirinya seringkali dilarang untuk melarikan diri dari kantornya oleh anak buahnya yang satu itu. Rigel sendiri sekarang ke mana? Bah, Ariel juga ingin jalan-jalan santai daripada dipusingkan oleh tumpukan jurnal, proposal, dan lainnya yang tak ada habisnya!

Ariel mengalihkan pandangan ke arah kanan. Negatif. Kiri? Negatif juga.

Ehm, sebenarnya cukup banyak juga staf diplomatis lainnya. Mulai dari Capello yang senior, Halcyone, Asterope, dan lainnya. Lalu, kenapa dirinya perlu pusing-pusing mencari satu orang staf? Yah, alasannya sudah jelas, bukan? Lupakan saja alasan-alasan di atas, Ariel hanya ingin jalan-jalan!

”SESEORANG, TOLOOOOOOOOOONG!!!”

Suara teriakan terdengar dari arah lorong. Ada apa?

Ariel mempercepat langkahnya dan berhenti dalam sekejap setelah melihat apa yang terjadi. Fuh, mengagetkan saja. Rupanya ada yang sedang main gendong-gendongan di sana. Tepatnya, si tukang bersih-bersih Arcturus dan si jenderal galak Regula. Ariel rasanya masih bisa mengingat tragedi yang terakhir. Sungguh tidak beruntung untuk bertemu dengan wanita itu lagi.

”Berisik! Jangan main-main di sini!” teriak Ariel galak pada Arcturus yang tampak kepayahan. Tak ada rasa simpati sedikit pun pada staf itu.

Baru alkohol terasa menyengat hidung Ariel dari dalam kamar milik jendral. Mereka sedang mabuk-mabukkan, eh.

Tunggu, dulu. Mereka sedang minum-minuman keras, begitu? Kenapa tidak mengajak sang section leader??!

””Cih, dasar onggokan orang payah,” gerutunya cukup keras. Dirinya sebenarnya sangat ingin minum-minum di musim dingin seperti ini. Hanya saja tak ada waktu yang cukup luang. Mana bisa minum-minum saat sedang mencuri-curi waktu begini. Dan saat para jenderal itu minum-minum, mereka tidak mengajak Ariel.

Lihat saja nanti, saat Tuan Supervisor melihat laporannya atas kejadian ini. Hah, jangan harap kalian selamat. Suruh siapa tidak mengajak! Fuh, mau bilang Ariel tukang lapor pun, tak ada pengaruhnya pada Ariel.

””Arcturus! Cepat bereskan itu!” perintah pria berkacamata itu pada Arcturus yang sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya sedikit pun dengan acara maksiat itu. Omelan Ariel semakin keras, langkah kakinya pun semakin cepat. Argh! Jangan bilang Rigel juga ikut-ikutan acara itu! Seperti petir, Ariel langsung pergi tanpa bekas dari lorong itu.

””Sial!”

[OUT]



Nyuhuuu numpang lewat, sesuai pesan bu chip! Geje memang, saya tahu…

_________________
β// Truth
Words don’t hurt, but the realism in it does
Back to top Go down
View user profile
Abisak Avedisian

Abisak Avedisian

Posts : 77
Pemilik : Chief
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 25

[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime19th February 2010, 22:20

Ia berusaha mengangkat kepalanya, mendengar suara derapan kaki di luar pintu Kamar 2. Bibirnya membentuk senyuman; mungkinkah ia akan diselamatkan sekarang? Siapapun tahu bahwa dirinya tidak akan mampu mengangkut orang sebanyak ini ke kamarnya masing-masing, terutama ketika ia tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari bongkahan yang menimpanya saat itu. "Ah, ya! Bisa tolong--"

"Berisik! Jangan main-main di sini!"

Bloody hell, haruskan pria itu yang menemukannya dalam kondisi seperti ini? Ia berusaha mencari kata-kata untuk membela diri, namun bau alkohol yang menusuk membuatnya sulit berkonsentrasi, dan ia menerima omelan Ariel mentah-mentah. Terserah pria itu mau mengatakan apa, asal ia sudi membebaskan Abisak dari tempat mengerikan alias kamar Giraile ini. Matanya hanya bergulir, menunggu saat Ariel akan menyingkirkan badan bongsor Giraile dari atasnya, namun...


Apa, bersihkan INI?

Frasa penuh rasa tidak percaya itu terlintas dalam pikiran Abisak, yang tertegun dengan mulut melongo lebar. Tangannya berusaha menggapai sosok Ariel yang telah menghilang begitu saja, namun tiada gunanya. "... Keparat."


'Sekarang, bagaimana?'


Sekali lagi, ia berusaha menyelip keluar dari "jeratan" Giraile, yang Abisak rasa sudah sangat sangat cukup melatih ototnya. Gagal. Abisak menghela napas keras; tampaknya, ia harus menetap, menunggu kedatangan kesempatan menyingkirkan diri. Untuk saat ini, ia harus rela berpasrah diri.
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




[CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   [CENTRAL] I Have Never Ever! - Page 4 I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[CENTRAL] I Have Never Ever!
Back to top 
Page 4 of 4Go to page : Previous  1, 2, 3, 4

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com