An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [ASIA] Pencarian Teman Sekamar

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2
AuthorMessage
Silverius Girlani

avatar

Posts : 97
Umur : 24
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   11th November 2009, 16:37

Suasana di lorong yang biasanya sepi itu menegang. Bisa dibilang ini kesempatan yang cukup langka, apalagi melihat jumlah Exorcist yang terus bertambah seperti laron yang mendekati sumber cahaya. Dan dengan seekor ratu laron yang ikut bergabung sesaat sebelumnya, bisa dipastikan bahwa kejadian ini bisa bertambah parah.

Dan tidak perlu menghitung sampai sepuluh, Lilith sudah mengundang seekor laron lagi. Ya, maksudnya seorang Exorcist lagi. Kali ini seorang wanita berambut nyaris putih yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Wanita berkulit tipis yang menanamkan impresi yang cukup dalam pada satu-satunya pria Jepang di dalam kelompok itu. Ya, Silverius mengenal wanita itu, dan baru-baru ini telah menyalin arsip riwayat wanita yang ternyata bernama lengkap Blanka Ormondi Demestros itu.

Akan tetapi sepertinya mood Blanka sedang baik karena alih-alih melemparkan pandangan tajam kepada Lilith, malah menepuk kepala gadis berambut coklat itu dengan lembut dan berjalan melewati gadis itu tak lama kemudian... ke arah Silverius.

Silverius bisa merasakan otot-otot wajahnya menegang ketika Blanka berjalan mendekatinya. Pria Jepang itu memang baru membaca bagian awal dari riwayat wanita itu (yang ternyata sudah cukup menyedihkan) dan impresi kelam yang didapatnya semakin dalam. Mata hitam Silverius menegang ketika matanya beradu dengan iris amber Blanka. Kali ini apa yang akan dilakukannya?

"... Ezüst ..."

Ternyata Blanka malah bersuara. Entah apa artinya, mungkin sesuatu dalam bahasa Hungaria, yang sering digunakan wanita berambut nyaris putih itu untuk mengalamatkan Silverius apabila mereka bertemu. Dan fakta bahwa Silverius sampai sekarang belum mengetahui arti dari "kata sapaan" itu membuat Silverius merasa sedikit bodoh.

Entah kata yang sepertinya selalu untuk membuat Silverius mati rasa itu diucapkan Blanka sebagai pengalih perhatian semata atau tidak, yang jelas Silverius tidak menyadari ketika darah kembali mengalir lancar ke setiap ruas-ruas jarinya. Dan dibutuhkan beberapa detik bagi Silverius untuk menyadari bahwa wanita itu telah pergi meninggalkannya sambil membawa tas Lilith yang cukup besar. Heran juga Silverius bagaimana wanita yang terlihat ringkih itu bisa mengangkat tas sebesar itu.

'Yang jelas tidak akan lama,' Silverius bergumam di dalam benaknya sambil berjalan menyusul Blanka dan menyambar tangan Blanka yang terasa lebih hangat daripada saat jemarinya menyentuh tangan itu sebelumnya, dengan niat mengambil kembali tas Lilith.

"Aku saja," bisik Silverius pelan sambil menarik tas besar itu, mengabaikan pemiliknya yang sesenggukan di lantai sambil berujar kepada Jenderal barbar Cabang Asia berambut hitam yang masih memelototi semua pihak yang terlibat di sana - kecuali Lilith, dan sepertinya juga, wanita Cina yang sepertinya bernama Ye Xia. 'Hei, padahal dia yang mengeluarkan senjata tajam! Mengapa dia lolos begitu saja? Heck,' Silverius tersenyum masam mendengar pengumuman Jenderal Xiao Ling yang membebaskan kedua perempuan tadi dari hukuman.

"Gilrani, Virchow... dan terutama kau, Hehanussa..."

'Oke, sekarang giliranku,' Silverius memutar matanya dengan malas ketika Jenderal Xiao Ling kembali bersuara sambil mengambil pose yang sok.

"... Aku yakin kalian bertiga - atau paling tidak, satu dari kalian - aalah biang kerok dari keributan ini. Sekarang pilih: mau menjelaskan keadaan lalu nanti kuhukum sesuai dengan tingkat kesalahan kalian, atau tidak mau menjelaskan tapi kalian semua kuhajar sama rata?" Jenderal itu melanjutkan, yang tentu saja tidak begitu dipedulikan Silverius. Hukum saja dia, mungkin akan menjadi "pengalaman berharga" lainnya dalam riwayatnya sebagai seorang Exorcist.

Ketika Jenderal bertabiat kasar itu kembali melanjutkan, Silverius akhirnya mengetahui nama semua orang berambut hitam yang ada di lorong itu. Virchow dan Lian Jie. Sayangnya meskipun Jenderal itu juga membeberkan alasannya terlihat di lorong ini, Jenderal itu tidak menyebutkan nama wanita berambut pirang yang sedari tadi terdiam seperti patung hidup. Apakah Silverius akan menanyakannya? Tentu saja tidak. Tidak ada gunanya, sama seperti menjawab tawaran Jenderal Xiao Ling. Biarlah Virchow atau Aurelio yang berdalih sebagai pengadu, Silverius tidak begitu peduli karena rantai kembar yang mengikat kedua lengan bawahnya siap mengantarkannya ke mana saja sejauh 20 meter.

Tentu saja dia bukanlah pria iseng yang ingin menguji kecepatan lari seorang Jenderal, tetapi dia mengakui bahwa itu tawaran yang cukup bagus. Mungkin dia bisa berpindah langsung ke kantor Logistik saja?
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Gletsjers van Virchow

avatar

Posts : 215

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 20

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   11th November 2009, 16:48

"Girlani, Virchow... dan terutama kau, Hehanussa. Aku yakin kalian bertiga--atau paling tidak, satu dari kalian--adalah biang kerok dari keributan ini. Sekarang pilih; mau menjelaskan keadaan lalu nanti kuhukum sesuai dengan tingkat kesalahan kalian, atau tidak mau menjelaskan tapi kalian semua kuhajar sama rata?" tanya Xiao Ling tegas sambil menunjuk ketiga pria itu satu per satu.

Mendengar hal ini, tentu saja ia tidak mau dihukum sama rata atas perbedaan kesalahan. Apa boleh buat, semua orang di cabang Asia ini mengetahui jika berurusan dengan General yang satu ini, memiliki sembilan nyawa pun rasanya tidak akan cukup untuk menghadapinya.

"Ah... Sebelumnya saya mohon maaf karena kami telah ribut di sini..." Glace berusaha berbicara dengan sesopan-sopannya pada General Tionghoa tersebut.


"Mohon maaf..." ucapnya sekali lagi.

"Ini salah saya karena telah menanyakan hal yang tidak-tidak 'seperti darimana anda berasal' pada senior Aurelio." ucapnya.


"Saya bersedia dihukum karena perbuatan saya!" ucap Glace. Jika dilihat dari kata-katanya sebelumnya, sungguh berbeda dengan paras mukanya yang tetap tegas dan tegar, walaupun hukuman telah menunggunya.

"Yah... Apa boleh buat, hukum tebar benih..." pikirnya dalam hati sambil mengingat hukum tersebut: "Siapa yang menebar benih, ia akan merasakan hasilnya."

Selain itu, ia juga teringat akan perkataan ibu nya dulu. "Berani berbuat, berani bertanggung jawab." oleh karena itu, ia siap menerima hukumannya.

Glace masih terdiam menatap General Xiao Ling. Menunggu jawaban dari General garang yang merasakan gatal di kedua punggung telapak tangannya. Sekaligus bersiaga untuk mengaktifkan innocence nya sebagai pengecoh untuk kabur secepat kilat jika tiba-tiba sang General mengaktifkan innocence nya
sebagai alat penghukum.

"Jika begitu, bukan hukuman namanya kan?." Glace bertanya dalam hati.

OOT: @Akira: Waaa... Jangan dihukum pakai mariposa ya... *ditebas*


Last edited by Gletsjers V. Virchow on 11th November 2009, 17:13; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile http://rosmana.blogspot.com
Nai Ye Xia

avatar

Posts : 32

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 18

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   11th November 2009, 17:02

"说谎者..."*

Tidak sadar mengucapkan kalimat ketidakpercayaannya pada Hehanussa dalam bahasa negara asalnya. Ternyata seorang exorcist juga tidak dididik untuk mengatur cara bicaranya ya? Kasar sekali, tapi siapa peduli, yang hanya dipikirkannya adalah bahwa Hehanussa sudah membuat rona merah di wajah sahabatnya dan itu berarti cari mati dengan jarum-jarum akupuntur milik sang gadis berkebangsaan China ini. Membunuh? Bukan hal yang sulit jika memang hal tersebut diperlukan.

Dan Ye Xia sama sekali tidak mempercayai kalimat sanggahanmu.

Sepertinya Liliru juga ingin mengucapkan sesuatu untuk menjelaskan keadaan ini, namun Ye Xia tidak begitu mendengar suaranya yang pelan, juga mungkin dikarenakan ia masih bersikeras bahwa yang salah semuanya adalah Hehanussa, jadi sepertinya kata-kata Liliru saat ini pun tidak akan merubah pendiriannya. Bahkan Ye Xia berpikir Liliru terlalu baik untuk membela orang yang telah membuatnya seperti itu.

"Tidak akan kuijinkan.."

Tidak lama kemudian, suara gebrakan membuat Ye Xia berpaling ke arah sumber suara tersebut. Melihat sosok sang general cabang Asia dengan kata-kata tegasnya seperti biasa dan juga kasar tentunya mempertanyakan kejadian yang membuat koridor yang biasa sepi lenggang seperti ini mengundang keributan besar. Ye Xia hanya terdiam dengan kalimat General yang berkebangsaan sama dengannya tersebut mengenai perihal dia tidak akan dikenakan hukuman namun harus lebih mengontrol jarum-jarum miliknya.

Ye Xia berjalan acuh, masih dengan ekspresi datar khasnya untuk mengambil jarum-jarum berharga yang sempat menancap erat di dinding dekat Hehanussa, meliriknya sesaat ketika berjalan melewatinya, tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam yang pemuda exorcist itu lontarkan pada Ye Xia tadi. Mengambil kembali dua jarum tersebut sebelum menyimpannya kembali di balik pakaian bagian bawahnya, paha untuk lebih tepatnya. Mendengus pelan seraya kembali menjauhi Hehanussa dan mendekati Liliru yang sedang bersama dengan seorang gadis exorcist dengan nama Dimetiros apalah itu kalau tidak salah.

"....tidak apa-apa?"

Menatap dengan pendar khawatir pada sahabatnya tersebut, sedangkan kehadiran yang lainnya hampir tidak ia rasakan dikarenakan semua kejadian barusan. Padahal ada Jian Je, namun exorcist rekan Eun Su tersebut juga tidak menyapanya, jadi mana Ye Xia tahu juga dalam kondisi seperti ini seperti yang baru saja dikatakan tadi.

Dan exorcist lainnya yang sepertinya akan dihukum. Kasihan juga kalau yang tidak melakukan kesalahan, general Tek Xiao Ling kan terkenal dengan hukumannya yang keras, tidak dapat dibayangkan apa yang akan mereka dapat jika masih berani melawan wanita sadis itu.




OOC: "说谎者..." = "Liar..."
Back to top Go down
View user profile
Aurelio M. Hehanussa

avatar

Posts : 28
Pemilik : S.E.H.

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 27

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   11th November 2009, 17:09

BRAKK!!

Apaan lagi sih itu?!

"HOOOI!! Ada apa ribut-ribut di lorong, HAH?! Cari mati kalian semua?!"

... Sialan.

Salah satu orang paling rese' akhirnya muncul juga. Terkejut oleh gebrakan yang terlalu mendadak itu, Lilith bahkan sampai merosot dari gendongannya. Aduh. Jenderal barbar satu ini pasti tidak akan membiarkannya pergi dari sana dengan leluasa. Doooh, kok malah jadi tambah merepotkan, sih? Dengan ekspresi kesal masih terpampang di wajahnya, Aurelio meletakkan satu tangannya di pinggang, berkacak pinggang.

Lilith kemudian ditopang oleh seorang wanita, Exorcist, berambut pucat yang tidak punya ekspresi. Siapa ya? Ah, Aurelio mana mau cari tahu, apalagi dia bule. "Gadis kecil..." whoa, Jenderal Xiao Ling bisa ramah juga, rupanya? "Aku percaya kau tidak salah. Kau juga, Ye Xia. Kamu sahabatnya, 'kan? Kamu juga bebas dari hukuman. Hanya saja, lain kali hati-hatilah sedikit dengan jarum-jarummu itu."

'Pilih kasih nih ceritanya? cibir Aurelio dalam hati. Maaf ya, tapi seingat pria Hindia-Belanda ini, ia tidak melakukan suatu kesalahan apapun tuh. Justru orang-orang di sekitarnya ini yang nampak mencari dan memperpanjang masalah.

"Girlani, Virchow... dan terutama kau, Hehanussa. Aku yakin kalian bertiga--atau paling tidak, satu dari kalian--adalah biang kerok dari keributan ini. Sekarang pilih; mau menjelaskan keadaan lalu nanti kuhukum sesuai dengan tingkat kesalahan kalian, atau tidak mau menjelaskan tapi kalian semua kuhajar sama rata?"

Terutama, katanya? Tsk. Di satu sisi, harga diri Aurelio terlalu tinggi bila ia harus menjelaskan situasi, meminta pengampunan seperti anak kecil. Tapi di satu sisi, bila ia tidak melakukannya, mau ditaruh di mana mukanya kalau bertemu Lilith nanti? Benar-benar dilematis.

"Aku menunggu jawaban kalian. Kutunggu sampai 15 detik; kalau masih belum dijawab juga, kuhajar kalian sama rata,"

Aurelio mengeluarkan senyuman asimetris, ternyata memang harus melapor, ya. Belum sempat ia angkat bicara, salah seorang Exorcist lainnya telah memulai duluan. Exorcist itu, yang mengaku setanah air dengannya. Pria berambut hitam ini memutar matanya malas, kemudian berdecak pelan, menunggu laporan macam apa yang dikeluarkan oleh pria tersebut.

"Ah... Sebelumnya saya mohon maaf karena kami telah ribut di sini... Mohon maaf... Ini salah saya karena telah menanyakan hal yang tidak-tidak 'seperti darimana anda berasal' pada senior Aurelio. Saya bersedia dihukum karena perbuatan saya!"

'Bah, begitu saja?' Aurelio sedikit mengernyitkan alis, tidak puas. Tampaknya ia memang harus turun tangan. "Aku juga tidak menginginkan adanya keributan, Jenderal." ia memulai dengan nada yang tegas. Kenapa 'aku', bukan 'saya'? Baginya, itu sama saja. Dia dan Xiao Ling kan sama-sama manusia, sama saja dong. Pria berusia 27 tahun ini menghela napas, bersiap melontarkan kalimat berikutnya. "Aku datang ke sini--ke koridor ini, hendak ke kantor manajemen untuk mengurusi kepindahan kamar. Tapi kemudian kulihat kedua orang ini," ia memandang Glace dan Silverius bergantian, "Entah apa yang mereka lakukan, tapi yang pasti, keadaannya tidak menguntungkan bagi Lilith... Kugendong dia dan hendak kubawa ke kantor manajemen, lalu si rambut hitam ini mulai bertanya, kuladeni." ia memandang Glace sekali lagi, seakan mengingatkan kalau interogasi terhadap dirinya belum selesai. "Seharusnya semuanya cepat selesai, tapi perempuan itu tiba-tiba saja melemparkan jarum-jarumnya ke arahku. Memangnya aku berbuat salah apa?" ia mengangkat bahunya, kemudian tatapannya kembali pada Xiao Ling. Tuh, laporan lengkap ala Aurelio Mahubessy Hehanussa. Puas?

"Katakan, Jenderal. Apa yang salah dengan niatku mengantarkan Lilith ke kantor manajemen? Aku dan dia punya keperluan yang sama, dan seingatku aku tidak mengganggu orang lain." tidak peduli, tepatnya. Karena ia hanya mempedulikan keselamatan nona Belanda satu itu. Yang lain sih, mau ngapain juga terserah. Kali ini, Aurelio melipat kedua tangannya di dada, ganti meminta penjelasan pada jenderal terbarbar se-Asia. Takut? Tidak. Kenapa harus takut kalau tidak berbuat salah?



[OOC: Webeeeeeeee |||orz]


Last edited by Aurelio M. Hehanussa on 12th November 2009, 00:47; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
Blanka Ormondi Demetros

avatar

Posts : 116
Umur : 27

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   11th November 2009, 17:52

Baru saja beberapa langkah berjalan sambil membawa tas berat milik gadis berambut tergelung rapi itu seseorang sudah menyentuh tangannya. Wanita berwajah tenang itu menoleh ke pemilik tangan barusan, siapa lagi kalau bukan Silverius Girlani. Hanya saja berbeda dengan sentuhan yang ia rasakan sebelumnya sentuhan Silverius kali ini tidak membuatnya takut atau terintimidasi. Padahal jelas-jelas pemilik rambut hitam yang acak-acakan itu seorang pria, mahluk yang memberikan kontribusi tragedi pada Blanka.

Lalu kenapa Silverius tidak membuat Blanka merasa demikian? Entahlah, hanya Blanka yang tahu. Dan mencari tahu apapun dari wanita itu selalu tidak mudah. Tanyakan pada... err Silverius Girlani –lagi? – kalau kau tidak percaya.

Blanka membiarkan tas itu berpindah ke Silverius tanpa mengatakan apapun. Ia kembali melangkahkan kedua kakinya –tanpa suara seolah-olah telapak kakinya melayang bukannya menjejak lantai batu markas Asia – menghampiri sang gadis mungil yang sekarang tampak tengah ditenangkan oleh seorang gadis Cina, dan sebelumnya juga oleh Jendral Xiao Ling –fakta ini cukup mengherankan tentunya.

Xiao Ling punya bakat menjadi ibu?

Yah pikirkan saja itu nanti.


Tanpa ekspresi yang berubah manik amber gelapnya melirik ke dua gadis barusan, lirikan terkahir tertuju pada Silverius dan sebuah tolehan ke ujung koridor tempat di mana ruangan logistik ada. Ia berharap kedua gadis itu menuju ke ruangan tersebut bersamanya dan kalau ia tak salah menangkap pria Jepang itu telah menawarkan bantuan untuk mengangkat tas. Namun tampaknya Silverius masih terlilit masalah dengan Jendral Asia itu.

Wanita berambut keperakan itu membalikkan tubuhnya pada kerumunan ramai nan ribut. Jika saja Jendral itu bertanya padanya yang mengamati kecelakaan kecil itu sedari tadi tentulah Blanka akan menyelamatkan leher semua pria itu dan lantai batu yang mereka injak sekarang dari genangan darah yang tak perlu. Tidak usah disebutkan kalau wanita dengan hawa keberadaan tipis itu malah sering melakukannya.

....maaf Jendral.....” Suara itu lolos dengan volume yang begitu tipis dan menjadi cukup mengherankan karena semua orang disana bisa mendengarnya.

....semua ini …. ha...nya kesalah....paham...an...

Dan dengan itu kalimatnya yang terputus-putus berakhir. Blanka Ormondi Demetros hanya memberikan kata kunci dari pokok permasalahan menggelikan ini. Terlalu singkat? Tidak juga sebenarnya. Kau seharusnya sudah senang bisa mendengar kata-kata bisa terucap dari bibirnya yang biasanya terkatup rapat. Begini saja sudah cukup bagus kok.

Blanka kembali membalikkan tubuhnya ke arah yang ia tuju sembari menoleh untuk sepersekian detik –sekali lagi – ke satu-satunya pria Jepang di koridor itu. Hanya ingin tahu apa pria yang masih terjerat masalah dengan Jendral berbibir merah tersebut bisa mengikuti para gadis ke ruangan logistik. Kalau tidak, mau tidak mau ia lagi yang akan membawa tas milik staff manajemen tersebut.


Last edited by Blanka Ormondi Demetros on 12th November 2009, 09:07; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   11th November 2009, 19:27

Quote :
“Maaf Jendral, i-ini semua sa-salah Lilith..”

Lian Jie mengangkat sebelah alisnya. Nada cengeng itu mengganggu telinganya. Apaan sih? Tidak perlu menangis, kan? Dasar cewek!

Mata Exorcist muda itu menusuk sosok Lilith yang menabrak sosok Exorcist lain di belakang gadis itu.

Quote :
“...Ezüst..”

Blanka, Exorcist yang menahan langkah Lilith itu bersuara. Suaranya dingin, agak menyeramkan bagi Lian Jie. Bulu kuduknya langsung meremang ketika mau tak mau ia harus mendengar suara wanita itu.

Quote :
"Aku percaya kau tidak salah. Kau juga, Ye Xia. Kamu sahabatnya, 'kan? Kamu juga bebas dari hukuman. Hanya saja, lain kali hati-hatilah sedikit dengan jarum-jarummu itu."

Sambil mendengarkan Jenderal Xiao Ling menenangkan Lilith dengan sisi lembutnya, mata Lian Jie tak bisa lepas dari Blanka. Dia mengamati gadis itu dengan perasaan takjub dan takut. Ketika ia menyambar tas besar dari tangan Girlani, Lian Jie terbelalak. Begitu cepatnya gerakan Blanka, Lian Jie membeku dibuatya. Kapan dan bagaimana tas itu bisa sampai ke tangan Blanka?

Quote :
"Girlani, Virchow... dan terutama kau, Hehanussa. Aku yakin kalian bertiga--atau paling tidak, satu dari kalian--adalah biang kerok dari keributan ini. Sekarang pilih; mau menjelaskan keadaan lalu nanti kuhukum sesuai dengan tingkat kesalahan kalian, atau tidak mau menjelaskan tapi kalian semua kuhajar sama rata?"

Berikutnya, Jenderal Xiao Ling menunjuki ketiga Exorcist yang tersisa di lorong itu kecuali Lian Jie sendiri. Beliau berbicara degan nada kerasnya yang biasa, sekaligus membantu Lian Jie untuk mengenal mereka melalui tunjukan jari Jenderal Xiao Ling. Aah, jadi itu nama mereka. Dia sudah pernah melihat Girlani dan Hehanussa yang sudah bergabung dengan Black Order sejak lama, walau hanya sepintas-sepintas. Namun Virchow, dia baru melihatnya kali ini. Mungkin karena Lian Jie terlalu sering mengurung diri di Ruang Latihan dan kamarnya? Dia memang jarang berjalan-jalan di luar dua ruangan itu kecuali untuk urusan-urusan yang mengharuskan dia bekerja. Seperti urusan pemindahan kamar ini.

Quote :
"Dan kau, Lian Jie,"

Lian Jie berjengit kaget. Dia sengaja berdiri jauh agar tak terlibat urusan ribut-ribut di koridor itu, tetapi Jenderal Xiao Ling malah menyebut namanya. Haih, apa boleh buat?

Lian Jie menarik nafas panjang, lalu membungkuk memberi salam pada beliau.

Quote :
"Kau bantu aku sini. Uruskan kepindahan Heidrich Kohler dan Song Eun Su. Kau seniornya Eun Su, 'kan? Berbaikhatilah sedikit pada juniormu itu, dan bantu aku mengurus kepindahan kedua bocah sial itu, oke?"

Lian Jie agak kesusahan menerima semua dokumen yang dijejalkan Jenderal Xiao Ling ke tangannya yang kecil itu. Dia menatanya dan mengecek semua dokumen itu dan memastikan tak ada yang tertinggal.

Quote :
"Aku menunggu jawaban kalian. Kutunggu sampai 15 detik; kalau masih belum dijawab juga, kuhajar kalian sama rata,"

Kalimat terakhir dari Jenderal Xiao Ling membuat Lian Jie mengangkat kepalanya seketika, melupakan dokumen yang kini sudah tersusun rapi di tangannya. He? Sudah siap menghukum?




OOT: maaf kalau pada lama nunggunya ya? T^T


Last edited by Li Lian Jie on 13th November 2009, 13:27; edited 4 times in total (Reason for editing : merapikan sedikit)
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

avatar

Posts : 97
Umur : 24
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   13th November 2009, 14:28

Untungnya mood Blanka yang seedang baik ini membuat wanita itu tidak melakukan perlawanan ketika Silverius mengambil tas Lilith dari genggamannya. Dan meskipun Silverius tidak menggerakkan otot-otot wajahnya, tetapi dia yakin senyumnya yang tersembunyi terpancar dari matanya selama sekilas. Tentu saja senyum itu tidak bertahan lama, apalagi ketika sepasang mata hitam itu bertemu dengan sepasang mata Amber yang kemudian berpaling ke arah kantor logistik yang terletak tak jauh dari lorong itu.

Pria Jepang itu juga mengabaikan Ye Xia yang tengah menenangkan Lilith. Peduli amat dengan gadis Cina yang menggunakan rasa kesetiakawanan sebagai alasan untuk membahayakan nyawa orang lain itu. Seseorang juga harus mengajarkannya gadis itu sopan santun mengingat Aurelio lebih tua darinya. Entah berapa jaraknya, yang jelas lebih dari 5 tahun.

Dan Silverius memang tak perlu menghitung sampai lima untuk mendengar sebuah laporan. Pertama-tama dari Virchow, yang memberanikan diri untuk dihukum karena "perbuatannya" meskipun sampai sekarang Silverius tidak begitu mengerti perbuatan apa yang dimaksudnya. Apakah rasa ingin tahu itu salah? Rasa ingin tahu memang dapat membunuh seekor kucing, tetapi tidak seorang Exorcist, kan?

Lalu sebelum hitungan kesepuluh Aurelio sudah menyambung. Dan meskipun Silverius tidak begitu peduli akan apa yang terjadi kemudian, tetapi dia tidak menyukai kata-kata Aurelio yang mengesankan kalau Silverius dan Virchow lah yang menjadi biang kerok semua ini. Ya, itulah yang terjadi kalau bertanya kepada orang yang ikut nimbrung saja tanpa mengetahui kejadiannya dari awal. Hal yang sama tentu saja juga berlaku kepada Ye Xia yang cepat tersulut amarah.

Untungnya ada pembelaan lainnya, kali ini dari Blanka yang entah sudah mengamati kejadian tadi dari mana. Dan dengan gaya bicaranya yang biasa - terputus-putus dan pelan - wanita yang ternyata seusia dengan Silverius itu mengatakan kalau semuanya hanyalah kesalahpahaman. Ya, memang itulah yang kata yang tepat, dan sebuah senyum tersembunyi kembali muncul di balik mata pria Jepang itu.

Silverius pun menyadari kalau lagi-lagi Blanka menatapnya. Hanya sekilas, memang, tetapi Silverius telah menangkap maksud wanita itu. 'Sepertinya Blanka sudah tidak sabar untuk mengakhiri semua ini karena dia berulang kali menoleh ke arah kantor logistik,' Silverius menyimpulkan. Cukup jelas, memang, sehingga tidak dibutuhkan seorang telepatis untuk mengetahuinya. Dan melihat ketergesaan itu, Silverius hanya bisa mengurut keningnya selama sejenak, dan akhirnya turut membuka mulutnya.

"Yang dikatakan Blanka barusan memang benar. Ini semua hanya kesalahpahaman. Tadi Lilith terjatuh dan tasnya menghantam saya. Saya sudah mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri tetapi dia malah merengek. Tanyakan saja kronologisnya kepada gadis itu kalau anda tidak percaya, dan sekarang saya hendak membawakan tasnya ke kantor logistik kalau anda tidak keberatan," ujar Silverius. Tidak perlu menceritakan yang tidak perlu, karena sebenarnya yang bermasalah di sini adalah kecengengan gadis Belanda berambut coklat itu. Dan mengenai kata sapa yang dipakai Silverius tadi, jangan berpikir kalau pria Jepang itu akhirnya menunjukkan respek kepada sang Jenderal.

Dan apabila Jenderal barbar itu cukup peka, mungkin dia sudah bisa melihat kedua rantai Silvery Ouroburos telah berpendar redup. Bahkan 10 detik pun telah berlalu sekarang, dan Silverius siap melempar dirinya melewati ruang dan jarak yang membentang di antara tempatnya berdiri sekarang dan kantor logistik.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Tek Xiao Ling
Vatican Central
avatar

Posts : 330
Umur : 25
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 23

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   13th November 2009, 16:12

Setelah mendengar semua penjelasan yang ada, Xiao Ling langsung memijat-mijat kepalanya sambil menghela nafas panjang. Anak muda... batinnya pelan, melupakan bahwa mereka rata-rata berusia 20 tahun ke atas (bahkan Aurelio sendiri 4 tahun lebih tua darinya, duh). "Jadi... kalian ribut-ribut enggak jelas di sini itu hanya karena memperebutkan siapa yang mau menolong gadis kecil ini, eh? Ya ampun..." komentar Xiao Ling sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Oke, kalau begitu. Kali ini kumaafkan. Dan supaya kalian tidak bertengkar lagi soal siapa yang akan membantu nona ini, biar Ye Xia dan--" Xiao Ling mencoba mengingat lagi nama Exorcist dengan aura tipis itu, "--Ormondi. Biar perempuan dibantu perempuan. Girlani, kau bebas. Virchow, kau juga bebas," katanya lagi sambil menatap Silverius dan Glace satu per satu.

Ia lalu mengarahkan tatapannya ke arah Aurelio. Nah, orang yang satu ini tidak akan lepas begitu saja. Peduli setan pria itu berusia jauh lebih tua daripadanya. Yang punya kedudukan tinggi di organisasi itu Xiao Ling sendiri, toh? Kalaupun Aurelio mau protes ke Shindou, Xiao Ling bisa menyiapkan 'Surat Keterangan Kelakuan Buruk' Aurelio kapanpun ia mau. "Nah, untukmu, Hehanussa 'si-Pangeran-Hitu-Lama'... Aku menghargai kebaikan hatimu untuk membantu nona satu itu, tapiiiii~ Aku sudah terlalu sering mendengar keluhan dari Section Staff terutama di Management Section yang mengurus bagian dapur. Nah, KHUSUS untukmu, akan ada hukuman." Xiao Ling tersenyum lebar, penuh dengan sikap sinister. Oh ya, ia senang menghukum orang. Tapi sepertinya mematahkan satu-dua tulang orang macam Aurelio itu tidak akan membuatnya jera, jadi...

"Hukumanmu adalah, membantu tukang cuci piring dan tukang pel di dapur selama sebulan, terhitung mulai besok pagi," kata Xiao Ling tegas, dengan senyum sinister yang semakin lebar.

"Kurasa itu saja dariku. Lian Jie, tolong urus kepindahan Eun Su dan Heidrich; aku mengandalkanmu. Ye Xia, Ormondi, tolong bantu nona itu mengurus pemindahan kamarnya. Girlani, Virchow, kalian langsung urus pemindahan kalian; jangan kebanyakan ribut-ribut. Hehanussa, mulai besok pagi aku akan mengirimkan sebuah Golem untuk mengawasi apakah kau menjalani hukumanmu dengan benar." General berdarah Cina itu lalu berbalik, siap untuk pergi. Tapi ia terhenti di tengah jalan, lalu menengok sekilas ke arah gerombolan orang itu.

"Satu hal lagi; aku tidak terima protes atas hukuman yang kuberikan. Terserah saja kalau mau protes, tapi belikan aku sebotol sake plum untuk setiap protes yang mau kalian ajukan," pesannya singkat namun tegas, sebelum berbalik lagi dan berjalan dengan cepat ke arah kamar pribadinya. Masih banyak dokumen penting yang harus ia urus.

[OUT]

_________________

"My battle, my rule. Do not protest."
-Tek Xiao Ling-


Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Back to top Go down
View user profile http://china-rollz.livejournal.com
Lilith Odilia van Ersteed

avatar

Posts : 25

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 17

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   13th November 2009, 17:22

Dua tepukan lembut di kepala dari dua orang yang berbeda. Satunya dari seorang wanita yang entah muncul darimana dan satunya lagi dari seorang General kawakan yang selama ini ia kira sesadis seperti yang desas-desus itu bicarakan. Tapi ternyata tidak, diam-diam General Xiao Ling memiliki hati yang lembut. Dan rasanya Lilith bisa mengerti kenapa murid wanita itu masih dalam usia yang sangat belia, pastinya wanita berambut cepak itu menyukai anak-anak kecil kan?

Lilith benar-benar serius berpikir demikian.

Uh sudah terlalu lama ia diam di lantai begitu saja, setelah menjawab dan mencoba meyakinkan Ye Xia kalau ia tak apa-apa Lilith pikir ini saatnya ia harus angkat bicara namun ternyata Silverius sudah menyelanya terlebih dahulu.

"Yang dikatakan Blanka barusan memang benar. Ini semua hanya kesalahpahaman. Tadi Lilith terjatuh dan tasnya menghantam saya. Saya sudah mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri tetapi dia malah merengek. Tanyakan saja kronologisnya kepada gadis itu kalau anda tidak percaya, dan sekarang saya hendak membawakan tasnya ke kantor logistik kalau anda tidak keberatan,"

Masih dalam posisi terduduk di lantai koridor ia mengangguk pelan, mengabaikan atau mungkin tak menyadari adanya kalimat yang seharusnya bisa dikategorikan sebagai ejekan padanya. Gadis Belanda itu menegakkan punggungnya perlahan sambil berdiri pelan. Manik biru gelapnya menatap Aurelio dengan takut-takut. Sungguh ia merasa tak enak telah melibatkan pria asal Hindia-Belanda itu.Apalagi tampaknya General wanita di hadapannya itu berniat menjatuhkan hukuman karena kelakuan Aurelio pada staff dapur.

Umm hei Lilith juga staff dapur kok, dan Aurelio baik sekali pada Lilith....

Jadi ia harap walaupun Aurelio dihukum, hukumannya tidak begitu berat.

"Hukumanmu adalah, membantu tukang cuci piring dan tukang pel di dapur selama sebulan, terhitung mulai besok pagi,"

Uh-oh...


Lilith menolehkan wajahnya ke Aurelio, jelas-jelas cemas. Ia tahu kalau Blanka dan Ye Xia lalu Silverius (?) sudah menunggunya namun ia tak bisa meninggalkan Aurelio begitu saja. Manik biru beningnya menatap Aurelio dengan wajah khawatir.

'Semoga Aurelio tak membenci Lilith....'
Back to top Go down
View user profile
Gletsjers van Virchow

avatar

Posts : 215

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 20

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   15th November 2009, 09:38

Quote :
"Anak muda... Jadi... kalian ribut-ribut enggak jelas di sini itu hanya karena memperebutkan siapa yang mau menolong gadis kecil ini, eh? Ya ampun..."
komentar General Xiao Ling sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Glace hanya diam mendengarnya.

Quote :
Oke, kalau begitu. Kali ini kumaafkan. Dan supaya kalian tidak bertengkar lagi soal siapa yang akan membantu nona ini, biar Ye Xia dan----Ormondi. Biar perempuan dibantu perempuan. Girlani, kau bebas. Virchow, kau juga bebas,"
"Syukurlah..." pikir Glace dalam hati. Jika tidak, mungkin akan ada pertumpahan darah di koridor ini. Glace pun sedikit merasa lega walaupun entah sadar atau tidak, ia masih bersiaga untuk mengaktifkan innocence-nya.

Quote :
"Nah, untukmu, Hehanussa 'si-Pangeran-Hitu-Lama'... Aku menghargai kebaikan hatimu untuk membantu nona satu itu, tapiiiii~ Aku sudah terlalu sering mendengar keluhan dari Section Staff terutama di Management Section yang mengurus bagian dapur. Nah, KHUSUS untukmu, akan ada hukuman."
Lanjut General Xiao Ling.

Quote :
"Hukumanmu adalah, membantu tukang cuci piring dan tukang pel di dapur selama sebulan, terhitung mulai besok pagi," kata Xiao Ling tegas, dengan senyum sinister yang semakin lebar.

"Bersabarlah saudaraku!" ucap Glace pada Aurelio. Ia tidak peduli walaupun aurelio membencinya karena ia keturunan Belanda. Ia hanya berharap suatu hari Aurelio bisa menerimanya.

Glace kembali menatap gadis mungil yang bernama Lilith tadi sebelum ia hendak bergegas pergi untuk mengurus perpindahan ke kamar barunya. Ia terlihat sangat cemas begitu mendengar hukuman untuk Aurelio.

-------------------------------------------------
OOT: maaf kebanyakan quote, saya lagi kena flu berat Uhuk!
Back to top Go down
View user profile http://rosmana.blogspot.com
Blanka Ormondi Demetros

avatar

Posts : 116
Umur : 27

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   16th November 2009, 18:26

Jelas tampaknya kalau Silverius tidak dapat mengikutinya ke ruangan Logistik bersama gadis-gadis support service yang ada di koridor itu. Blanka memandang lantai batru di bawahnya dengan tatapan lurus yang biasa sebelum ia kembali mengangkat wajahnya untuk melihat situasi sekarang ini. Kelihatannya gadis mungil dengan rambut bergelung itu masih ingin menyampaikan satu-dua hal ke pria berkulit sawo matang yang ribut itu.

Bagaimanapun juga Blanka bukanlah wanita yang senang mencampuri urusan orang lain, jadi setidaknya apapun yang hendak mereka sampaikan satu sama lain selesai dengan cepat. Ia tak dapat meninggalkan gadis itu begitu saja, ia dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Jendral Wanita barusan kepada orang-orang di koridor tersebut yang jelas-jelas menitahkan sang wanita Hungaria untuk mengantar mereka ke ruangan logistik. Satu hal lagi yang menyebabkan tindakannya saat ini adalah kewajiban moral.

Blanka merapatkan punggungnya ke dinding koridor, kedua tangannya saling bertautan di depan-bawah abnomennya. Iris amber gelapnya kemudian menoleh pada Silverius –yang berada tidak begitu dekat dengannya – untuk sejenak beradu pandang dengan obsidian sang pria yang sepantaran dengannya tersebut sebelum memindahkan sorot matanya ke tas berbahan karpet yang masih saja dibawa pria berwajah timur itu setelah ia juga mendengar perintah wanita satu lagi yang baru saja pergi dari koridor.

Jadi sebaiknya Silverius menyerahkan tas itu pada Blanka atau mengikuti gerai rambut bergelombang itu menuju ruangan Logistik. Toh Xiao Ling mengatakan pria itu bebas kan?





Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile
Aurelio M. Hehanussa

avatar

Posts : 28
Pemilik : S.E.H.

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 27

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   17th November 2009, 00:19

Hayo, mana reaksi dari Jenderal galak yang katanya akan menghukum semua Exorcist di sini sama rata? Atau jangan-jangan laporan Aurelio tadi sudah cukup membuktikan ketidakbersalahannya? Pria ini mengeluarkan senyum miring lagi.

“....maaf Jendral.....”

Ha? Suara dari mana, tuh? Aurelio menolehkan kepalanya, mencari asal suara sayup-sayup tersebut. Yang didengarnya tadi sepertinya cukup nyata, bukan halusinasinya.

“....semua ini …. ha...nya kesalah....paham...an..."

Oh, rupanya dari cewek bule yang tadi. Kenapa sih dengan suaranya? Ngomong saja kok susah. Yang lebih penting, apa yang dikatakan wanita berambut pucat itu benar adanya, kesalahpahaman. Mungkin saja semua yang di sini memang salah memahami situasi, termasuk Aurelio sendiri. Omong-omong, soal salah memahami sih, harusnya cewek jarum dan jenderal garang itu dong yang ditunjuk sebagai pelakunya? Ck, perempuan memang gampang sekali salah paham ya?

"Yang dikatakan Blanka barusan memang benar. Ini semua hanya kesalahpahaman. Tadi Lilith terjatuh dan tasnya menghantam saya. Saya sudah mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri tetapi dia malah merengek. Tanyakan saja kronologisnya kepada gadis itu kalau anda tidak percaya, dan sekarang saya hendak membawakan tasnya ke kantor logistik kalau anda tidak keberatan,"

Oke, rambut hitam, kau menjelaskannya dengan cukup baik. Tapi, hei, caramu menjelaskan kok kurang enak didengar sih? Seakan ini semua salah Lilith. Sangat tidak gentleman, bung.

Sekarang mata Aurelio kembali tertuju pada Xiao Ling, menunggu reaksi yang bersangkutan, toh, mereka bertiga sudah melapor dengan versi masing-masing. Wanita Cina itu memijat-mijat kepalanya dan menghela napas; belagak tua? Peh, Aurelio lebih tua empat tahun, dan sekalipun ia tidak pernah sok-sok tua begitu. Umur boleh bertambah, tapi jiwa harus tetap muda, dong.

"Jadi... kalian ribut-ribut enggak jelas di sini itu hanya karena memperebutkan siapa yang mau menolong gadis kecil ini, eh? Ya ampun..."

Oh ya, ya ampun.

"Oke, kalau begitu. Kali ini kumaafkan. Dan supaya kalian tidak bertengkar lagi soal siapa yang akan membantu nona ini, biar Ye Xia dan Ormondi. Biar perempuan dibantu perempuan. Girlani, kau bebas. Virchow, kau juga bebas,"

Aku gimana?

"Nah, untukmu, Hehanussa 'si-Pangeran-Hitu-Lama'... Aku menghargai kebaikan hatimu untuk membantu nona satu itu, tapiiiii~ Aku sudah terlalu sering mendengar keluhan dari Section Staff terutama di Management Section yang mengurus bagian dapur. Nah, KHUSUS untukmu, akan ada hukuman. Hukumanmu adalah, membantu tukang cuci piring dan tukang pel di dapur selama sebulan, terhitung mulai besok pagi,"

Auman singa bagai guntur di siang hari.

"APA--" mata hitam pria Hindia-Belanda tersebut membelalak lebar, sedangkan mulutnya menganga beberapa senti, sebagai reaksi penolakan yang memang, agak berlebihan.

Kayaknya si Aurelio sekarang turun jabatan jadi cleaning service, nih.

Ha! Cuci piring dan mengepel katanya? Apa kata saudara-saudaranya di Maluku sana kalau mendengar sang pangeran... turun derajat dengan tidak terhormat seperti ini? Urat kemarahan di dahi Aurelio sudah berkedut hebat, kedua tangannya gemetar, dan mulutnya siap meluncurkan makian eksplisit kapan saja. Tapi ia tidak melakukannya. Oh ya, tidak. Kalau tidak ada dia di sini, barangkali Aurelio sudah mengamuk hebat dari tadi.

"Hehanussa, mulai besok pagi aku akan mengirimkan sebuah Golem untuk mengawasi apakah kau menjalani hukumanmu dengan benar. Satu hal lagi; aku tidak terima protes atas hukuman yang kuberikan. Terserah saja kalau mau protes, tapi belikan aku sebotol sake plum untuk setiap protes yang mau kalian ajukan,"

Jadi yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah memandangi wanita itu dengan tatapan membunuh, sambil mengumpat dalam hatinya. Perlukah ia santet sang jenderal, seperti apa yang sering dilakukan dukun-dukun di kampung halamannya untuk mengusir penjajah? Ah, Aurelio tidak serendah itu. "Tssskk," ia mencibir, jelas-jelas kesal luar biasa atas hukuman yang diberikan oleh Xiao Ling. Hanya sebulan, Aurelio, hanya sebulan.

"Bersabarlah saudaraku!"

Sekali lagi Aurelio memberi tatapan dingin pada Glace, memperingatkan Exorcist satu itu agar tidak mendekatinya lebih lanjut. Mau keturunan kek, darah murni kek, namanya Belanda ya sama saja semua. Sabar juga ada batasnya, bung. Dan sayang sekali batas kesabaran Aurelio Hehanussa lebih tipis daripada orang lain pada umumnya.

Mata hitam pria berusia 27 tahun ini mencari keberadaan Lilith, dan mata merekapun bertemu. Setidaknya... Di dapur, kau akan lebih sering bertemu dengannya kan, Aurelio? Yah, kedengarannya tidak buruk.

Ia menghela napas panjang, kemudian berjalan mendekati gadis Belanda itu. Matanya masih tak lepas dari manik biru milik sang gadis, namun perlu diakui ekspresi Aurelio tidak sekesal yang tadi. "Ayo," ajaknya, "sudah terlalu lama kita di sini, kalian juga mau mengurus kepindahan kamar kan?" pindah dari Lilith, ia memandangi semua yang hadir di sana satu persatu. Ia kembali lagi pada Lilith, dengan canggung ia menepuk kepala gadis itu, kemudian beranjak menuju kantor manajemen.

Setelah beberapa langkah ia tidak mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya, pria Hindia Belanda ini berbalik, "Hei, ayo! Ngapain kalian diam saja? Ayo jalan!" titahnya seperti seorang bos. Tunggu, sejak kapan Aurelio jadi peduli dengan orang lain? Padahal biasanya ia adalah pria yang hanya memikirkan dirinya sendiri; lalu kenapa juga ia peduli soal ikut atau tidaknya orang-orang di sana? Well, bisa dipastikan kalau pria ini sedikit berubah.




[OOC: Kok si Aurel jadi sarkas gini ya? ' ' *ditabok*]
Back to top Go down
View user profile
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   17th November 2009, 08:11

Percakapan terus berlanjut di antara para pencari ribut di lorong itu. Lian Jie membeku selama sejenak untuk memperhatikan situasi. Walau resikonya, ia bisa saja terlibat kerusuhan yang bakal menghancurkan terowongan (mungkin).

Quote :
"Hukumanmu adalah, membantu tukang cuci piring dan tukang pel di dapur selama sebulan, terhitung mulai besok pagi,"
Hm, hukuman yang sebetulnya sudah sangat ringan, kalau kita tahu betul bagaimana karakter Tek Xiao Ling.
Quote :
"APA--"
Jangan, kalau mau selamat, sebaiknya jangan membantah.

Quote :
"Lian Jie, tolong urus kepindahan Eun Su dan Heidrich; aku mengandalkanmu."
Ah, Jenderal Xiao Ling sudah menyampaikan perintah yang sama untuk sekitar kedua kalinya padanya. Saatnya untuk pergi duluan.

"Baik," Lian Jie mengangguk patuh, kemudian memutar tumitnya.

Berjalan ke arah Logistik dengan data-data milik dua Exorcist lain di tangannya, Lian Jie melangkah dengan tegap lewat di antara para Exorcist yang semuanya berbadan lebih tinggi darinya. Bahkan dibandingkan Lilith, tinggi badannya masih berselisih 6 cm dengan Lian Jie yang lebih pendek.

Quote :
"Bersabarlah, Saudaraku!"
Lian Jie mengerling sedetik pada Exorcist keturunan Hindia Belanda yang menyerukan kalimat itu tepat ketika Lian Jie sedang melewatinya. Kalimat penghibur yang tak berguna. Kalau Lian Jie berada dalam posisi Aurelio pun ia tak akan merasa terhibur sama sekali. Sebaliknya, kalimat itu justru terdengar sebagai ejekan semata.

Langkahnya semakin mantap ketika akhirnya dia bisa melepaskan diri dari mereka semua. Logistik sudah di depan mata.


OOT: webe @,@


Last edited by Li Lian Jie on 20th November 2009, 20:32; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

avatar

Posts : 97
Umur : 24
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   17th November 2009, 20:26

Satu demi satu kepingan puzzle informasi ini mulai tersusun. Dimulai dari laporan heroik Virchow, yang segera disambung oleh sang Pangeran Hitu Lama, dan kemudian akhirnya seorang wanita - Blanka - meskipun hanya beberapa patah kata, lalu diakhiri oleh Silverius sendiri; tentu saja komentar dari gadis Cina yang cepat naik darah tadi sepertinya tidak diperlukan - mengingat dia baru datang dan merupakan salah satu sumber masalah di lorong ini.

Untungnya Jenderal Xiao Ling tidak memperpanjang masalah itu dan membebaskan Silverius - dan semua orang di sana kecuali Aurelio - tak lama kemudian. Dan sebagai respon dari kata-kata sang jenderal, Pria Jepang itupun menonaktifkan Silvery Ouroburos - meskipun niatnya untuk menggunakannya bisa dibilang masih belum reda.

Dan ketika Silverius melihat Blanka membuat kontak mata dengannya lagi, pria Jepang itu tahu kalau sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini. Peduli apa dengan Aurelio yang berteriak ketika Jenderal Xiao Ling memberikan hukuman kepadanya, yang penting semua masalah ini selesai, kan? Bahkan tidak perlu diperintah Aurelio, Silverius pun akan segera berjalan ke arah kantor Logistik.

Ya, ke sanalah pria Jepang itu sekarang berjalan sambil membawa tas berbahan karpet milik Lilith. Dan kalau dipikir-pikir lagi, mengapa pria Jepang itu harus pergi ke kantor Logistik selain untuk mengantarkan tas besar itu? Hmm, mungkin dia akan segera pergi ketika dia sudah meletakkan tas besar itu di tempat tujuannya. Dalam perjalanannya, sekali lagi Silverius melirik wanita berambut pirang di balik setelan pembantu itu. Apakah wanita itu juga tidak ingin turut serta ke kantor Logistik? Atau wanita yang kalau tidak salah baru bergabung itu malu meminta pertolongan dari orang-orang ini?

'Dasar gengsi,' Silverius membatin sambil mencengkram lengan atas wanita itu. "Kau ikut atau tidak?" tanya satu-satunya pria Jepang di lorong itu.

Bahkan pertanyaan itu tidak perlu dijawab karena si penanya melangkahkan kakinya tak lama kemudian. Sepertinya semua orang sudah tidak sabar untuk mengurus kepindahan kamarnya. Semua orang... kecuali Silverius, mungkin.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Milenka K. Lyova

avatar

Posts : 15
Pemilik : Issei Akira

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Asia
Umur: 18

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   17th November 2009, 20:52

Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, semua ribut-ribut di lorong itu berakhir. Milenka merasa luar biasa bersyukur tidak ada yang menyadari kehadirannya sampai semua keributan itu berakhir. Kalau sampai ada yang menyadari kehadirannya, mungkin ia akan terlibat masalah juga.

Gadis berdarah Rusia ini baru saja mau melangkah ke Kantor Logistik saat ia merasakan cengkraman yang agak keras di lengan atasnya. "Kau ikut atau tidak?" Pertanyaan yang diajukan pria Jepang itu sepertinya tidak perlu dijawab lagi, karena yang bersangkutan sudah langsung menggeret Milenka bersamanya.

Menanggapi hal ini, Milenka hanya bisa menghela nafas panjang. Dasar orang-orang berdarah panas... batinnya pelan.
Back to top Go down
View user profile
Lilith Odilia van Ersteed

avatar

Posts : 25

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 17

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   17th November 2009, 21:34

Mendapatkan tepukan lembut di kepalanya membuat mimik gadis ini terlihat lebih ringan, setidaknya sorot maniknya yang cemas itu sekarang menatap sang pria Hindia-Belanda dengan lembut. Paras manisnya mendongak, “maaf ya Aurelio... Aurelio boleh marah sama Lilith tapi tolong jangan benci Lilith ya...” pintanya dengan suara yang lembut dan sinar mata yang berkaca-kaca.

Ah tapi bukan saatnya kan berlama-lama disini sambil melempar pandangan ke wajah satu sama lain dengan mesra. Dan saat gadis berusia 17 tahun itu menyadari tindakannya—serta menyerapi kalimat yang barusan dia lontarkan—semburat merah bermunculan di pipinya yang mungil.

Ia melirik ke sekitar, yang tampak hanya beberapa Exorcist serta seorang gadis yang berpakaian mirip pelayan walaupun tampaknya ia bukan Section Staff seperti dirinya. Suara Aurelio-lah yang menyadarkannya untuk kembali melangkah, “ah, umm.. maaf ...” ucapnya pelan sembari menuju ruangan logistik dan tidak lupa melirik ke Ye Xia, memastikan kalau gadis itu juga akan berjalan bersama kelompok active support. Asal kalian tahu saja ya dikelilingi exorcist sebanyak ini membuat Lilith gugup. Walaupun dari sudut pandang orang ketiga, dua gadis itu terkesan dikawal oleh sekumpulan bodyguard level berat.

Untung saja jarak ke ruangan logistik tidaklah jauh. Dalam hitungan satu-dua menit gadis ini telah mencapai ambang pintu ruangan tersebut begitu juga dengan rombongan yang bersamanya. Lilith berlari kecil ke Silverius yang membawa tasnya, “tolong taruh di dalam saja, aku akan meminta tolong staff logistik lain....” ucapnya lemah, terdengar tak yakin namun ia juga tidak mau membuat pria bermata gelap itu kerepotan terus.

Beberapa detik kemudian pandangannya telah berpindah ke Nona Exorcist yang tadi ia tabrak. Memang wanita—yang tampaknya tidak berminat untuk masuk ke dalam ruangan logistik—itu terlihat cukup muram. Namun tampaknya memang raut wajahnya selalu seperti itu. Gadis asal Negeri Kincir tersebut melemparkan senyuman ramah dan bertanya dengan hati-hati pada Blanka, kedua telapak tangannya menarik apron rimpel yang ia kenakan.

“Anda tidak mengurus kepindahan ruangan juga... uhh, Nona?”

Namun yang bersangkutan hanya melemparkan pandangan lurus sebelum menggeleng pelan danberjalan dengan langkahnya yang biasa--tak pernah cepat--ke arah berlawanan tanpa mengucapkan sepatah katapun pada mereka atau Silverius yang berada di dekatnya. Dan tindakan Blanka itu hanyamembuat Lilith kebingungan.

"....apakah Lilith menyinggung Nona Exorcist itu Silverius?" tanya Lilith pada pria itu sambil memperhatikan punggung Blanka yang perlahan semakin menjauh sebelum terkesiap pelan begitu menyadari adanya hal yang lebih penting untuk dikerjakan. Ia menoleh pada pria Jepang itu dan mengucapkan terimakasih atas segala kebaikan hatinya (?)sambil sedikit menundukkan kepala--entah siapa yang mengajarinya kebiasaan timur itu--dan berjalan masuk ke ruangan logistik dengan tergopoh-gopoh.


[Lilith : OUT-into the Logistic Room-]




Spoiler:
 


Last edited by Lilith Odilia van Ersteed on 18th November 2009, 13:55; edited 1 time in total (Reason for editing : menambahkan bagian Blanka dan adanya kesalahan penulisan.)
Back to top Go down
View user profile
Nai Ye Xia

avatar

Posts : 32

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 18

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   20th November 2009, 18:30

Sudah tidak ada urusan lagi disini kan?

Menatap teman sekamarnya yang juga mulai berjalan menuju ruangan logistik. Hehanussa sudah mendapatkan hukuman sesuai kewajaran, yeah, entah kenapa Ye Xia masih menganggap sang pangeran hitu itu bersalah walau sudah mendengar penjelasan dari mulut sahabatnya sendiri. Keras kepala? Memang, lalu? Dan kalaupun ia yang membuat masalah duluan memangnya kenapa? Bukankah yang membuat keributan paling awal sehingga lorong ini menjadi ramai adalah penyeban utamanya? Ye Xia hanya melengkapi sisa yang kurang sedikit ramai kan?

Berdarah panas bukan sifat aslinya.

Dia tidak pernah naik pitam secepat itu kau tahu. Berdarah dingin adalah prinsipnya, karena memang tidak diperlukan hal-hal yang bersifat naik secepat itu hanya karena masalah sepele, tapi tidak, tidak bisa jika itu menyangkut seorang sahabat di depan matanya. Tipe setia kawan huh? Terlalu baik hingga kau mudah sekali untuk diperlakukan seperti dahulu oleh kakak-kakak perempuanmu yang lain.

Tapi masih lebih baik daripada berdiam, pura-pura tidak tahu.

Semasa bodoh, yang penting sekarang adalah keluar dari sini. Tidak bagus menghirup udara konflik semacam ini terus-menerus. Ah, hiburan, ingin sekali Ye Xia melakukan sesuatu pada jarum-jarumnya sekarang. Mungkin setelah ini ia akan menemui Eun Su, mencobanya sekali lagi.

Dan ia pun melangkahkan kakinya pergi acuh tak acuh.

[OUT]
Back to top Go down
View user profile
Gletsjers van Virchow

avatar

Posts : 215

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 20

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   20th November 2009, 20:29

"Bersabarlah saudaraku!" ucap Glace.

Namun, justru tatapan dingin dengan nafsu membunuh dari Aurelio yang ia dapat. Kelihatannya ia sangat tidak senang Glace berada di dekatnya, walaupun ada sesuatu yang memisahkan.

"Ma-maaf..." ucapnya. Berharap agar Aurelio tidak terlalu membencinya.

"Kalau begitu, saya juga permisi..." ucapnya pada orang-orang di sana setelah sebagian dari mereka pergi. Kelihatannya semua menuju arah yang sama, Kantor Logistik.

Baru saja Glace hendak melangkahkan kakinya, seorang disciple melewatinya. Ia tampak mengerling. Mungkin karena kata-kata penghibur Glace pada Aurelio terkesan mengejek baginya? Hanya dia yang tahu.

Kemudian, Glace pun melangkahkan kakinya menuju kantor Logistik. Satu hal yang sejak tadi terlupakan olehnya. SIAPA YANG MAU SEKAMAR DENGANNYA?
Back to top Go down
View user profile http://rosmana.blogspot.com
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   20th November 2009, 21:24

Lian Jie mendengar derap langkah kaki mengikutinya di punggungnya. Mereka pasti sudah memutuskan untuk mengakhiri konflik konyol itu. Di sudut hati Lian Jie, dia tak suka mendengar suara langkah mereka. Hatinya bergejolak di dalam dadanya, dia ingin sekali bisa secepatnya mendapat kamar baru dan tidur.

Tapi bisakah dia tidur dengan nyenyak? Seingat Lian Jie, dia sama sekali tak pernah bisa tidur nyenyak semenjak kejadian 'itu'. Melihat tampang si Kakak berwajah oriental selain dirinya tadi pun Lian Jie seperti menemukan cerminan dirinya. Apa semua Exorcist di sini bisa tidur nyenyak, ya?

Lian Jie mempercepat langkahnya, semakin cepat, kemudian dia berlari memasuki Ruang Logistik. Kertas dokumen pemberian Jenderal Xiao Ling berkibaran di tangannya.

[OUT-into the Logistic Room]
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: [ASIA] Pencarian Teman Sekamar   

Back to top Go down
 
[ASIA] Pencarian Teman Sekamar
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 2Go to page : Previous  1, 2
 Similar topics
-
» 110422 SOSHI GO TO INDONESIA ON MARCH 2012!!
» Shield Use
» Girls' Generation 1st Asia Tour "Into The New World" Live Album Information
» Preorder and Information - Girls' Generation The 1st Asia Tour : Into The New World DVD

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Branches :: Asian Branch :: Dormitory-
Jump to:  
Forumotion.com | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forum