An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[ASIA] We Met Tonight I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[ASIA] We Met Tonight I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[ASIA] We Met Tonight I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[ASIA] We Met Tonight I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[ASIA] We Met Tonight I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[ASIA] We Met Tonight I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [ASIA] We Met Tonight

Go down 
Go to page : 1, 2  Next
AuthorMessage
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime5th November 2009, 19:32

Settings:
Time: at night
Place: Infirmary and the corridors nearby
Special Note: Invited Only




Seorang pria muda berjalan terhuyung menyusuri koridor dengan pencahayaan yang cukup buruk. Lelaki itu mengusap keringat dingin dari dahinya yang kembali basah beberapa detik kemudian sambil meraba-raba dinding koridor dan sesekali tersandung namun selalu bisa menguasai dirinya sebelum dia terjatuh. Matanya yang redup terpaku pada sebuah ruangan di ujung koridor dengan tulisan "INFIRMARY" pada pintunya, dan akhirnya tangannya mampu menjangkau gagang pintu itu dan mendorongnya ke dalam.

KRIIITT!

Suara daun pintu yang bergesekan dengan lantai batu yang belum dipoles itu membuat telinga Silverius sakit, tetapi setidaknya dia telah sampai di tempat yang hendak ditujunya dengan selamat. Dan kalau Silverius tidak terlalu lemah untuk berekspresi, mungkin dia sudah tersenyum ramah - untuk ukuran seorang antisosial - kepada dokter setengah baya yang langsung menyambutnya - dan mungkin juga kepada satu-satunya paramedis yang sedang berada di dalam Infirmary. Sebenarnya Silverius juga sedikit heran mengapa hanya ada seorang paramedis yang menemani dokter setengah baya itu, tetapi dia tidak ingin - atau lebih tepatnya tidak bisa - menanyakannya sekarang. Dia butuh diagnosa dan solusi secepatnya dan dengan begitu hal-hal remeh lainnya bisa menunggu.

"Hei, ada apa, Silverius? Siapkan dipan segera!" perintah dokter setengah baya tadi yang disusul oleh peralatan-peralatan yang biasanya digunakannya untuk memeriksa keadaan Silverius. Dan selagi satu-satunya paramedis yang ada sibuk berlari ke sana ke mari untuk mengambil barang-barang tersebut, sang dokter pun mendudukkan Silverius di sebuah bangku lalu meletakkan punggung tangannya pada dahi pria berambut hitam itu.

"Apa yang terjadi? Bukankah kau baik-baik saja beberapa jam yang lalu?" tanya sang dokter.

Silverius tidak merespon - atau lebih tepatnya, tidak bisa merespon dengan baik. Pikirannya berusaha membuka mulutnya untuk berkata, "aku sendiri tidak tahu. Efeknya terlambat. Aku baru mulai kejang-kejang beberapa menit yang lalu," tetapi yang keluar hanyalah celotehan tak bermakna. Untungnya sang dokter telah menangani Silverius sejak tahun 1866, sehingga dia sedikit banyak mengerti apa yang terjadi pada pasien setianya itu.

"Baiklah, coba buka mulutmu," pinta sang dokter sambil menarik rahang bawah Silverius dan menahan lidah Silverius dengan sebuah alat, "sekarang coba bilang, 'aaa...' bisa, kan?"

"Aaa..." Silverius bergumam dan sebuah suara serak basah terdengar dari dalam tenggorokan pria itu. Meskipun begitu sang dokter tampak cukup puas dengan suara itu - yang sebenarnya tidak jauh berbeda dari suara Silverius yang asli - dan menarik kembali penahan lidahnya.

KRIIITT!

Suara decitan pintu kembali terdengar, dan mungkin hanya Silverius yang tidak menoleh untuk melihat siapa yang baru saja membuka pintu - atau mungkin masuk ke dalam - Infirmary...


Last edited by Tek Xiao Ling on 5th November 2009, 19:38; edited 2 times in total (Reason for editing : Menambahkan setting. Menambahkan tag cabang.)
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime5th November 2009, 20:45

Ruangan pribadinya, ruangan yang kosong dan tak terisi apapun kecuali barang-barang vital untuk menunjang kehidupan. Tak ada penerangan, satu-satunya jendela tertutup rapat oleh gorden lusuh berwarna gelap. Lembab dan pengap, seolah tak mengijinkan siapapun untuk dapat bernafas di dalamnya, di udara yang seolah bertekanan lebih besar.

Blanka Ormondi Demetros, seorang wanita berusia 22 tahun. Menatap dirinya yang telanjang di hadapan cermin, rambutnya platinanya berantakan. Tatapannya kosong, seolah jiwa sang pemilik telah pergi dari jasad. Kepalanya tertunduk ke samping sementara tangannya menyusuri kulit pucat yang ia miliki, kulit pucat yang membalut posturnya yang langsing. Kulit yang tipis, yang memperlihatkan jalur peredaran darahnya, tidak terlalu terawang, namun juga tidak bisa disebut normal.

Jemari lentiknya menyusuri bagian abnomennya. Luka-luka sayatan kecil memanjang dari berbagai arah tertoreh disana, terbuka, segar. Ia dapat merasakan syaraf-syaraf tubuhnya mengalirkan impuls-impuls penanda rasa sakit. Tapi ia tidak peduli, ia sudah terlalu lama terbiasa dengan semua rasa sakit itu. Rasa sakit yang menjalar sampai ujung-ujung jari. Yang sensasinya selalu ia butuhkan lagi dan lagi... karena... ia tak pernah hidup tanpa rasa sakit.... dan tak bisa membayangkan dirinya lepas dari semua itu.

Tanpa senyum atau ekspresi apapun Blanka mengangkat belati perak yang berkilat dengan warna merah, merah gelap dan tubuhnya mulai bergetar lagi. Belati imajiner mulai menghunjam ke dasar hatinya, dan ia tak dapat menahannya. Ia tak dapat menahannya kecuali dengan satu hal...

Sayatan.

Cipratan kental merah gelap menempel di permukaan cermin, darah itu akan segera hilang... namun tidak dengan apa yang ia rasakan... tidak.






Kali ini ia berdiri di tempat yang klise, tempat yang selalu dikunjunginya . Infirmary... dan ia kesini bukan tanpa alasan. Blanka membutuhkan pengobatan untuk dirinya sendiri, tanpa pelayanan orang lain. Luka-lukanya telah tersembunyi rapat-rapat di balik seragam Exorcistnya dan terkadang ia dapat merasakan darah merembes keluar dari abnomennya sendiri. Ia membutuhkan kasa sebelum rembesan darah mulai membanjiri tubuhnya.


KRIIITT!


Pintu Infirmary terbuka, wanita berusia 22 tahun itu melenggang dengan tenang ke dalam ruangan. Tatapan lurusnya tertuju pada seorang paramedis.

"A... aku minta kain kas... lagi..." Suara yang begitu pelan terucap dari bibirnya, nyaris tak terdengar, wajahnya pun tak menunjukkan ekspresi yang sepatutnya dimiliki seseorang yang mulai merasakan rasa sakit dari bagian kulit yang terbuka.

"Maaf, Nona?" Seorang paramedis yang tak ia kenal bertanya padanya. Blanka tidak memberikan perubahan nada dan kembali meloloskan kalimatnya dengan volume yang sama seperti barusan.

"Ka... ssa..."

"Maaf, Nona? Kas-sa? Maksud anda kasa - kain kasa?" paramedis itu kembali bertanya.

Tak ada jawaban, ia rasa apa yang ia inginkan sudah cukup jelas. Ia hanya menatap lurus pada sang paramedis –yang sekarang mulai berjalan ke gudang dan menuju ke dokter jaga beberapa detik kemudian. Berbisik-bisik, dan selagi mereka berbisik-bisik rasa perih yang ia rasakan semakin menggila.

"Bagaimana mungkin? Baru saja dua hari yang lalu aku mendapat pesan kalau stok kain kasa telah ditambah " Suara sang dokter terdengar jelas, tampaknya dokter itu tidak sendirian. Pria paruh baya itu memeriksa seseorang. Seseorang yang tak ia kenal dan tak pernah ia ketahui. Maklum, baru genap sebulan wanita berambut platina itu menetap di cabang Asia.

“Maaf, nama anda siapa, ya, Nona?" tanya sang Dokter.

"Dem...tros, Blan...a Ormo...di..."

Suaranya terlampau kecil untuk dapat didengar orang, menimbulkan distorsi, hanya memunculkan beberapa penggal suku kata yang tak terlalu membantu. Namun wanita berkulit pucat itu tak akan mengulanginya dan ia juga tak ingin beramah tamah, ditambah, sekarang bukan saatnya bertindak demikian.

"Mungkin aku boleh tahu mengapa anda sangat membutuhkan kain kasa, Nona?" sang dokter kembali bertanya.

Sungguh apakah mereka ingin Blanka kembali menyayat kulitnya kembali dengan mengungkit-ungkit pertanyaan macam itu? Bisakah mereka menghargai privasi? Bahkan belatinya saja belum cukup kering.

Blanka hanya mendesis pelan, manik ambernya menatap mereka seolah-olah mendesak.

Cepat...”






Ok sy juga main kopi paste dan webe gara mainan baru itu 8DD jadi maaf y klo sy g kreatif bgt malam ini ||ORZ


Last edited by Blanka Ormondi Demetros on 5th November 2009, 21:23; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime5th November 2009, 21:19

Malam yang pantas baginya untuk istirahat sejenak, bukan?

Brian Selvatine sudah menyelesaikan segala macam tugasnya dalam menjaga infimari, dari pagi hingga sore. Memang sudah menjadi jadwalnya. Namun, untuk kali ini, bau-bau khas infirmari mampu membuatnya terlelap dalam istirahatnya--tepat di belakang meja kerjanya. Meskipun infirmari merupakan area untuk mengbati orang sakit, di sana juga terdapat beberapa meja kerja dari dokter bersangkutan, bukan?

Maka itu, ketika sepasang mata kebiruan memperlihatkan diri setelah tersembunyi beberapa lama dibalik pelupuk mata putih pucat. Hidung mencium sesuatu yang sudah terasa familiar baginya; darah. Telinganya memang tidak menangkap empat decitan pintu yang membuka dan menutup. Telinganya memang tidak dilatih untuk ketajaman, namun hidungnya cukup ampuh untuk membedakan mana ramuan yang pantas dikonsumsi dan mana yang memang berbahaya. Hubungannya dengan darah? Hei, Bria pun juga seorang petugas medis--bagaimana mungkin ia bisa melewatkan bau besi, meskipun sedikit, seperti ini?

Sontak, pria yang masih terduduk pada kursi jaga favoritnya segera berdiri. Ah, biliknya memang cukup kecil--hanya memiliki satu tembok, sementara sisanya dibatasi dengan kain gorden. Karena itu, sang pria segera menempel pada gorden terdekat. Tangan kanan menyingkap sebagian kecil gorden, sementara matanya menelusuri apa yang ada di luar biliknya. Mata biru segera menangkap keberadaan rekan staff bagian medis juga...

...dua exorcist. Hei, salah satu dari mereka tengah didiagnosis lebih lanjut. Bukan bidangnya, jadi ia akan menghampiri dokter yang tengah memeriksa exorcist pria tersebut. Ia lebih ahli dalam peracikan obat daripada diagnosis.

Perhatian mata biru segera melayang ke arah sang exorcist wanita yang tampaknya kelihatan tidak sabaran. Sang dokter yang melayaninya pun tampak... terintimidasi? Salah; bukan kata yang tepat. Sang wanita hanya memberikan penekanan urgensi bahwa ia membutuhkan kassa--secepatnya. Pria ini menghela napas panjang; mengapa beberapa rekan kerjanya harus mempersulit keadaan?

Dengan cepat, pria berambut pirang ini mengambil beberapa gulung kassa dari persediaan infirmari. Baginya, exorcist wanita yang mungkin sepantaran dengannya ini tidak akan mengacau--tidak seperti seorang disciple muda yang tampaknya mencintai kekacauan dengan sepenuh hati. Ah, kembali pada bocah itu lagi...

Tangan kanan menggenggam dua gulung kain kassa medium, melewati beberapa pihak paramedis dan dokter yang tengah menanyakan detil-detil birokrasi whatever-the-heck-it-was. Tangan tersebut segera menyerahkan kain kassa kepada sang wanita. Senyum ramah--hampir menyerupai cengiran--menghiasi wajah sang pemuda. "Ini untukmu nona. Kuharap bisa membantu."

"Selvatine! Kau tahu kalau persediaan barang harus didata secara akurat!" Dokter yang tadinya menanyakan nama dari exorcist wanita ini beserta segala macam detil dan sebagainya. Refleks, tangan kanan entah bagaimana segera menggaruk-garuk bagian kepala--meskipun tidak gatal.

"Yaaaaaaaah... anggap saja itu jatah kain kassaku, kok dibuat sulit?" Brian berdalih untuk mendiamkan dokter sok pembuat ribet. Matanya segera terarah pada sang gadis berambut platina yang... meminta kain kassa tersebut. "Hanya itu saja, nona... umm... Ormondia?"

...

Baiklah, jumlah exorcist yang ada di cabang Asia memang tidak terlalu banyak--bisa dihitung jari, setidaknya. Namun, mengapa Brian Selvatine harus memilih waktu yang sulit untuk salah melafalkan nama seseorang?
Back to top Go down
View user profile
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime5th November 2009, 21:55

Blanka tidak habis pikir. Apa susahnya memberikan kasa pada dirinya? Dia Exorcist disini dan pengobatan yang layak adalah haknya. Ya pengobatan atas luka apapun, baik yang timbul dalam pergulatannya dengan Akuma, atau karena dirinya sendiri. Yang ia tahu ia membutuhkan kasa, untuk menutupi luka-luka abnomennya, cepat, karena bisa saja Ia melakukan tindakan agresif hanya untuk mendapatkan kain putih tipis itu. Wanita Hungaria itu mungkin tak dapat disebut pendiam –karena ia lebih dari sekadar pendiam, tapi ia bisa benar-benar bertindak demikian kalau ia merasa terancam, entah dengan alasan apa.

"Ini untukmu nona. Kuharap bisa membantu."

Seseorang tersenyum padanya, seorang pria dengan rambut kuning dan senyuman hangat. Tapi apakah Blanka akan melunak dengan senyuman macam itu? Tidak, ia sudah belajar terlalu banyak dan mendapatkan bahwa senyuman tak selalu berarti indah, almarhum suaminya saja selalu tersenyum ramah saat pertama melihatnya lalu kau lihat kan sekarang apa yang terjadi pada Blanka? Bekas luka melintang di pergelangan tangan kirinya sudah menceritakan lebih dari cukup.

Wanita berambut tergerai hingga pinggang itu mengangguk pelan, anggap saja itu sbeagai ucapan terimakasih. Sungguh langka kalimat-kalimat bisa terlepas secara utuh dari bibir wanita itu serta iapun tak akan melakukannya jika tidak dalam keadaan yang mengharuskannya berperilaku demikian, dan masalah kasa ini termasuk di dalamnya. Ia menerima kasa itu dan memegangnya erat, tatapannya tertunduk ke bawah, tak mempedulikan sang dokter yang tampaknya tidak cukup iklas, setidaknya ia lebih tenang sekarang.

"Hanya itu saja, nona... umm... Ormondia?"

Blanka sadar bahwa staff medis itu salah mengucapkan namanya, walaupun demikian ia tidak mempersoalkannya. Bahkan ia tak mempersoalkan apakah pria itu mengetahui namanya. “Ya..” sekelumit kata pendek lolos dari bibirnya. Tidak ada jawaban lain yang perlu diutarakan.

Jadi apa sekarang? Apa ia harus menunggu Dokter atau staff-staff medis mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan? Tidak, ia tak akan membiarkan mereka bertindak demikian. Ia akan keluar sebelum mereka semua bertanya-tanya atau malah nekat menghalangi jalannya.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime5th November 2009, 22:35

Silverius sama sekali bergeming mendengar suara pintu yang memilukan hati itu. Katakan saja dia seorang anti sosial akut, tetapi memang begitulah keadaannya. Baginya sekarang dia membutuhkan diagnosa sang dokter secepatnya, dan mungkin beberapa racikan obat, lalu dia akan kembali ke kamarnya nanti.

"A... aku minta kain kas.. lagi..." Sebuah suara terdengar dari belakang Silverius yang sepertinya tetap tidak terusik mendengar kalimat patah-patah yang masuk ke dalam telinganya. Karena berarti sudah jelas bahwa kemampuan mendengarnya belum kembali normal sepenuhnya, dan mungkin beberapa menit lagi dia akan bisa mendengar dengan normal melihat dia mendengar sebagian dari kalimat yang diutarakan suara itu.

"Maaf, Nona?" Suara lainnya terdengar, kali ini berasal dari satu-satunya paramedis yang terlihat tadi.

"Ka... ssa..." Suara pertama mengulang permintaannya, yang masih belum bisa didengar Silverius dengan jelas.

"Maaf, Nona? Kas-sa? Maksud anda kasa - kain kasa?" si paramedis kembali bertanya, dan kali ini Silverius yakin bahwa pendengarannya sudah pulih. 'Cepat juga,' gumam Silverius sambil memeriksa inderanya yang lain. Matanya sudah bisa melihat dengan jelas dan dia sudah bisa menggerakkan jemarinya dengan leluasa.

Pendapat Silverius tadi diperkuat secara tidak langsung ketika sang dokter bertanya balik kepada si paramedis yang mengatakan kalau stok kain kasa sudah habis dan kemudian menanyakan nama seorang perempuan - yang mungkin merupakan pemilik suara pelan tadi.

"Dem...tros, Blan...a Ormon..di..."

'Nama yang aneh,' timpal Silverius. Baiklah, dia tahu bahwa namanya sendiri tidak umum, tetapi berapa banyak orang yang bernama Demtros Blana Ormon - tunggu dulu! Pendengaran Silverius telah kembali barusan, dan dia masih belum bisa mendengar dengan jelas jawaban perempuan pemilik suara kecil tadi? Sebuah kerutan terbentuk di dahi Silverius, tetapi itu masih belum cukup untuk membuatnya berpaling.

Malahan kedua mata hitam Silverius bergulir mengelilingi ruangan Infirmary dan menangkap sesosok pria berambut pirang yang mengambil beberapa gulung kasa untuk Nona Demtros - atau siapapun namanya - tadi yang langsung mendapatkan hardikan dari sang dokter. Silverius memutar matanya - yang jelas tidak terlalu terlihat karena kelopak matanya yang redup - ketika Selvatine - nama pria berambut pirang itu - merespon dengan santai dan salah melafalkan nama perempuan yang tengah dihadapinya.

'Yang benar itu Ormondi, Selvatine,' gumam Silverius dalam hati. Kedua matanya pun kembali menatap sang dokter yang kelihatannya masih tidak percaya dengan perbuatan Selvatine dan telah melupakan salah satu pasien langganannya.

"Dokter, aku rasa aku sudah baikan," kata Silverius sambil bangkit berdiri dari kursi besi dingin tempat dia didudukkan sebelumnya. Dia menggerakkan jemarinya sekali lagi dan sebuah senyum tipis yang muncul di wajahnya telah mengklarifikasikan keadaannya sekarang. Dia telah kembali prima, tanpa perawatan apapun - yang biasanya sangat jarang terjadi - dan karena tujuannya di sini ruangan ini telah selesai, maka seharusnya Silverius juga meninggalkan ruangan berbau obat ini dan kembali ke kamarnya. Dia harap teman sekamarnya masih tertidur sehingga dia tidak perlu dihujani pertanyaan sok akrab tentang dari mana dia barusan.

Silverius pun membalikkan badannya, dan matanya langsung menangkap sosok wanita berambut pirang putih panjang yang hendak berjalan keluar dengan gulungan kain kasa di tangan.

'Hmm, jadi itu wanita yang bersuara lemah tadi,' gumam Silverius di dalam benaknya, 'tapi apa peduliku? Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, demikian juga denganku,' tambah Silverius lagi sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu. Di dalam benaknya sebuah perintah telah muncul supaya dia cepat-cepat kembali ke kamarnya atau dia akan diinterogasi oleh teman sekamarnya yang terkadang sering ikut campur urusan orang lain. Dan perintah itu menggerakkan otot-otot tubuh Silverius yang telah kembali normal dengan cepat sehingga lelaki itu sampai di pintu Infirmary kurang dari beberapa detik kemudian.

Tangan Silverius yang terbungkus sarung tangan hitam terulur untuk membuka pintu Infirmary yang akan segera mendecit pada tarikan berikutnya, dan tiba-tiba Silverius kehilangan keseimbangannya. Matanya kehilangan fokus selama beberapa saat akan tetapi kakinya segera menjejak ke lantai Infirmary untuk menjaga keseimbangannya.

Anehnya, tidak terdengar suara derap boot yang menghantam lantai batu Infirmary. Tidak juga terasa permukaan batu kasar yang telah akrab ditapaki permukaan kaki Silverius. Bola mata hitam Silverius berputar untuk melihat apa yang baru saja terjadi dan wajahnya mengeras setelah mengetahui apa yang baru saja diinjaknya.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime5th November 2009, 23:55

Kali ini sesosok pria menampakkan diri, tampaknya Exorcist yang barusan ditangani oleh Dokter itu. Seorang pria yang tentu saja tak ia kenal –yang tampaknya tak peduli juga dengan kehadirannya. Exorcist berambut hitam itu hanya mengoreksi nama tengahnya yang salah diucapkan oleh Selvatine –ia dengar begitu – dan langsung berbalik menuju arah yang sama dengannya, pintu keluar-masuk infirmary.

Pria itu menghalangi jalannya, tak bermaksud begitu mungkin tapi tetap saja punggungnya yang tegap membuat Blanka harus menunda kepergiannya beberapa detik. Sampai tiba-tiba...

Pria di hadapannya ini mulai oleng.

Blanka dapat melihat kalau pria Asia itu kehilangan keseimbangannya dan pastinya posisi wanita Hungaria itu –yang cukup dekat dengan Silver – tak menguntungkan. Sebaiknya ia menghindar beberapa langkah ke belakang, mengantisipasi hal yang terburuk, namun kemampuannya menghindari malapetaka selalu mendekati nol.

Ia dapat merasakan sesuatu menimpa kakinya yang hanya dilindungi oleh sepatu boot kulit dengan model hak. Ya, Silverius Girlani telah menambah daftar kemalangan Blanka Ormondi Demetros dengan sukses. Suara bertubrukan antara boot Silverius dan telapak kaki Blanka tak bisa dibilang pelan, malah begemeletukan dan terdengar sakit.

Bagi Blanka, apa yang dilimpahkan Silverius padanya tidak berarti sama sekali. Tubuhnya terbiasa dengan kemalangan-kemalangan yang lebih luar biasa daripada itu selama hampir 23 tahun.

Manik ambernya lurus menatap sosok pria yang membungkuk di depannya –dengan sepatu boot tebalnya yang masih menempel, ia tak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti ataupun bergerak mundur. Kedua telapak tangannya masih menggenggam kassa putih yang diberikan Selvatine dan kali ini sekelumit kalimat utuh akhirnya terucap.

“.....kau... sakit..” ucapnya pelan, sama sekali tak mengindahkan fakta bahwa seharusnya Silverius-lah yang bertanya demikian padanya. Bola matanya masih menyorot pria bermata gelap itu dengan cara yang sama serta tak menunjukkan reaksi apapun selain menunggu pria tersebut mengangkat sendiri sol bootnya –ia tak bisa berjalan ke luar kalau begitu kan?.

Mungkin memang benar apa yang dilakukan Girlani secara tidak sengaja tak memberikan efek yang berarti, tapi tetap saja wanita itu terkejut –tak terlihat tentunya – mendapati hal demikian. Rasa perih kembali mengalir dari abnomennya... telapak tangannya menyentuh bagian itu, tidak lembab, tapi lukanya kembali terbuka. Kali ini perubahan ekspresi tampak di paras wanita berkulit putih pucat itu, dahinya mengernyit untuk waktu sepersekian detik. Entah Silverius sempat melihatnya atau tidak dan jika pria berparas oriental itu memang melihatnya kemungkinan besar ia akan mengira ekspresi itu sebagai buah dari injakannya barusan.
Back to top Go down
View user profile
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime6th November 2009, 05:53

Sepertinya tidak ada masalah lagi.

Lagipula, dokter yang sempat melayani gadis exorcist tersebut... mengapa pula harus melalui persoalan ribet untuk urusan logistik? Baiklah, itu memang prosedurnya, namun tidak bisakah prosedur tersebut dilakukan setelah pertukaran dilakukan, untuk menghindari hal-hal yang membahayakan? Hei, ketika seseorang meminta kain kassa, berartia ada yang sedang terluka. Apa dokter ini tidak sadar akan logika sepele seperti itu?

Tangan kiri pria berambut pirang ini menggaruk-garuk kepalanya, padahal lokasi yang ia garuk terasa tidak gatal. Mata menunjukkan sorot heran--tidak ada yang bisa menangkap logikanya kah?

Suara kecil yang bahkan sayup-sayup terdengar olehnya sempat menghilangkan senyum ramah yang sempat muncul. Bukan, tidak berarti bahwa Brian Selvatine tidak menjadi seorang bermuka bastard karena tidak mendengar suara tersebut. Alih-alih, senyum ramah tersebut sedikit menipis karena merasa bersalah; dia...merasa bersalah karena tidak bisa mendengar ucapan sang nona. Suara nona Ormondia ini memang terlampau kecil--salahkah dia bila tidak mendengarnya?

"Dokter, aku rasa aku sudah baikan,"

Kepala ingin sekali berpaling untuk menghadap exorcist yang sempat dilayani oleh rekan sesama staff medis. Serius, memangnya tuan tersebut tidak mendapatkan semacam preskripsi obat atau bagaimana? Bahkan sebuah racikan vitamin sekalipun? Orang datang ke ruangan ini ketika mereka memiliki keluhan fisiologis... meskipun memang ada yang melayani keluhan psikologis. Hei, ilmu kedokteran tidak hanya untuk keluhan fisik bukan?

Belum lama, pria tersebut sudah bangkit dari dipan tempatnya diperiksa kemudian beranjak pergi melewatinya dan Blanka. Tampak sang exorcist pria sudah siap menarik gagang pintu kemudian keluar dari tempat berbau obat ini... sebelum yang bersangkutan oleng.

Sebagai seorang staff paramedis yang baik, Brian Selvatine sudah siap untuk menghampirinya dengan cepat. Bagaimanapun juga, exorcist pria tersebut datang dengan (seharusnya) dengan keadaan tidak terlalu fit, dan akan pergi tanpa resep obat... atau setidaknya multivitamin penambah tenaga. Apakah ini salah dokter yang memberikan pelayanan tidak memuaskan? Ah, namun rekan dokter yang tadi pun sudah siap untuk menarik pria bermata kemerahan tersebut kembali ke dipan.

"Astaga tuan, kau bahkan belum mendapat resep dokter atau semacamnya!" Brian mendecak kesal--satu hal yang sebenarnya hampir tidak mungkin dilontarkan seorang happy-go-lucky seperti dirinya. Namun, kalau ada satu hal yang tidak bisa ia toleransi, maka itu adalah ketika pasiennya tergesa-gesa keluar dari infirmari. Bagus kalau ia sudah mendapat saran dari dokter; exorcist yang satu ini belum mendapatkan apapun berbau itu.

“.....kau... sakit..”

Kepala segera berpaling ke arah Blanka. Namun, sebelum matanya menemukan wajah dari sang wanita, ia dapat melihat bagaimana Silverius menginjak kaki sang wanita muda--tak sengaja sepertinya. Boot tersebut seakan menempel pada kaki sang gadis. Sebelum bisa berkomentar lebih lanjut, Brian segera menarik paksa kaki yang telah menginjak nona muda ini, setidaknya sampai kaki sang gadis tidak tertimpa berat kaki dan boot.

"Ini yang terjadi kalau kau tergesa-gesa keluar dari infirmari, tuan." Brian menukas, cepat. "Bisa merepotkan orang lain."

Dahi sempat mengerut... sebelum kembali lurus; senyum ramah kembali menampakkan diri--perubahan mood yang drastis bukan? "Tolong ceritakan keluhan anda dulu. Bagaimanapun juga, seorang dokter--" sebuah lirikan tajam dan singkat pada rekan dokternya, "--tidak boleh meninggalkan pasiennya tanpa rekomendasi obat ataupun langkah-langkah yang perlu dilakukan."


OOC: Webe di paragraf terakhir Neutral *blasted*
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime6th November 2009, 15:35

Quote :
Astaga, Tuan. Kau bahkan belum mendapat resep dokter atau semacamnya!

Jangan tuduh Silverius tidak mendengar hal itu. Dia mendengar kata-kata Selvatine dengan jelas, tetapi dia sudah tidak membutuhkan resep dokter yang sepertinya terlihat terganggu dengan tingkah Selvatine barusan.

'Aku tidak apa-ap-'

Deg!

Pria itu pun kehilangan keseimbangannya. Untung saja tubuhnya masih bisa merespon dengan cukup cepat untuk menyeimbangkan postur tubuhnya kembali. Akan tetapi alih-alih derap boots yang beradu dengan lantai batu kasar, sebuah bunyi gemeletuk yang menyakitkan terdengar. Kedua mata hitam Silverius mencari tahu apa yang baru saja terjadi, dan wajahnya mengeras begitu dia mengetahui bahwa kakinya menginjak kaki Nona Ormondi.

"...kau... sakit..."

Tidak ada yang bisa berbicara dengan gaya seperti itu selain pemilik kaki yang diinjak Silverius, dan sebelum Silverius sempat bereaksi - bahkan untuk melihat wajah perempuan berambut nyaris putih itu - Selvatine sudah memindahkan kaki Silverius. Cepat tanggap, memang, pria berambut pirang satu ini - tidak seperti sang dokter yang malah terbelit dalam prosedur penggunaan inventaris logistik barusan - tetapi juga cepat berbicara.

"Ini yang terjadi kalau kau tergesa-gesa keluar dari infirmari, Tuan. Bisa merepotkan orang lain."

"Ya, bicaralah sesukamu," balas Silverius tak kalah cepatnya sambil menegakkan badannya, "dan maaf untuk yang tadi," tambah Silverius cepat tanpa memandang Nona Ormondi.

Dengan satu tangan Silverius menarik pintu Infirmary terbuka diikuti oleh suara decitan yang akrab di telinga para staff medis...

KRIIITT!

Silverius menutup satu matanya sejenak ketika suara tadi terdengar, dan mendengus pelan mendengar suara lainnya yang menyusul bunyi decitan tadi.

"Tolong ceritakan keluhan anda dulu. Bagaimanapun juga, seorang dokter tidak boleh meninggalkan pasiennya tanpa rekomendasi obat ataupun langkah-langkah yang perlu dilakukan." Suara Selvatine, tentunya, dan Silverius pun langsung merespon kalimat-kalimat Selvatine barusan.

"Kau ini staff pindahan, ya? Masak kau tidak kenal penyakitku?" Memang respon Silverius cukup ketus, apalagi mengingat Selvatine bertanya dengan sopan, tetapi seperti inilah dia. 'Kalau kau mau tahu mengenai penyakitku, tanyakan saja kepada staff medis dan dokter yang lain!' ujar Silverius di dalam benaknya.

"Periksa saja laporan kesehatanku, Dr. Selvatine. Mungkin kau..." Kalimat Silverius terhenti ketika dia berbalik untuk melihat Selvatine. Bukan, bukan dokter berambut pirang itu yang menghentikan kalimat satu-satunya pria berambut hitam di dalam ruangan itu - tetapi sosok perempuan berambut nyaris putih di hadapannya.

Silverius tidak menyangka bahwa dia ternyata berdiri sangat dekat dengan Nona Ormondi. Pria Jepang itu merasakan sebuah gelombang kejut ketika kedua mata hitamnya bertemu dengan sepasang mata amber yang mungkin sudah menatapnya sedari tadi. Gelombang kejut lainnya muncul dalam bentuk kilatan pada manik hitam Silverius yang kelam ketika dia melihat refleksi kegelapan yang kental pada mata wanita berkulit tipis itu. Dari sudut matanya Silverius bisa melihat tangan Nona Ormondi bergerak menyentuh perutnya dan wajah yang tenang dan tanpa ekspresi itu berjengit sesaat kemudian. Mata Silverius pun meredup kembali saat beberapa pertanyaan muncul mengenai penyebab ekspresi singkat tadi, akan tetapi entah mengapa pikirannya selalu teralih setiap kali dia mencoba menduga jawabannya.

"Perutmu... bermasalah?" Silverius menyerah dan mengutarakan pertanyaan utama dalam benaknya saat itu. Dia tidak bermaksud untuk meniru gaya bicara wanita di hadapannya, tetapi entah mengapa giginya seolah-olah menahan suaranya yang biasa.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime6th November 2009, 17:56

Manik Obsidian Silverius menatapnya. Penuh dengan keterkejutan, entah apa yang membuatnya begitu terkejut. Blanka tak mengatakan apapun, atau bereaksi terhadap sorot mata yang tertuju ke wajahnya. Jemari lentiknya beralih menyentuh luka di pergelangan tangan kirinya, menyembunyikannya? Entahlah ia sendiri tak mengerti tentang refleknya yang satu itu.

Keterkejutan macam apakah barusan? Bayangan seperti apa yang terrefleksi di iris matanya sehingga pria itu menatapnya sedemikian rupa...? Ataukah ia melihat hal lain?

Seperti refleksi kegelapan dalam dasar hatinya...?


Semua pikiran itu sontak membuat Blanka teringat sesuatu....

'Kau sumber malapetaka!'

Raungan alamarhum ayahnya bergema di benaknya. Pria yang mengantarnya ke dunia hanya untuk memberikan pengetahuan akan kerasnya kehidupan Seorang pria yang hanya bisa berlaku destruktif padanya. Seorang ayah.... yang menukarl anak gadisnya dengan sejumlah harta.

Iris matanya melebar, ia menarik nafas dalam. Genggaman atas telapak tangannya sendiri mengerat. Bersamaan dengan itu ia merasakan perih kembali merambat dari torehan merah melintang di abnomennya.

"Perutmu... bermasalah?" 

Suara itu menariknya kembali ke alam sadar, membuat semua ekspresi kelam di wajahnya memudar secara singkat, kembali ke wajah dingin dan pucat yang selalu tersemat bak topeng. Blanka hanya menatap lurus ke wajah pria itu, namun dengan tekanan yang berbeda. Sekali lagi ia tak mengatakan apapun, ataupun menunjukkan gesture yang mengisyaratkan jawaban.

Pemilik iris amber itu meremas kain kassa di genggamannya. Yang ia rasakan hanya darah yang mulai menyeruak dari pori-pori yang terbuka. Wanita Hungaria itu melewati pintu keluar-masuk dengan licin dan melangkahkan kakinya tanpa mengucap sepatah katapun pada salah seorang dari mereka, bahkan kontak mata pun tidak. Langkahnya terdengar bergema di koridor luar, sedikit tergesa-gesa. Hendak kembali ke ruangan pribadinya dan membereskan semua luka itu sendirian. Yang sekarang –tanpa melihatpun – ia tahu cairan merah kental yang mengucur dari tubuhnya telah membuat kain seragamnya tidak lagi berwarna hitam, titik-titik merah pekat mulai bermunculan....perlahan tapi pasti.

Namun tetap saja, langkah kakinya --dalam pace seperti itu sekalipun-- tak dapat dikatakan cepat.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime6th November 2009, 18:58

Kedua mata Silverius bergerak turun menatap pergerakan kecil yang dibuat oleh Nona Ormondi pada pergelangan tangannya yang terlihat kurus ringkih. Dan ketika Silverius kembali menatap kedua mata amber yang kelam itu, dia bisa mengatakan dengan jelas bahwa ada sesuatu di balik mata Nona Ormondi. Mungkin sebuah jawaban yang hendak melompat keluar tetapi tertahan oleh mulut kecil yang tertutup di dekat hidung wanita berambut nyaris putih itu. Atau mungkin kalimat putus-putus lainnya yang tidak jadi diutarakan karena Silverius mungkin menyindirnya sesaat yang lalu. Apapun itu, Silverius ingin tahu, dan apabila dia bisa mendapatkannya dengan adu mata, maka dia akan melakukannya.

Akan tetapi sepertinya Nona Ormondi tidak berniat menantang pria berambut hitam di hadapannya karena beberapa saat kemudian Nona Ormondi malah melangkahkan kakinya begitu saja tanpa bersuara menuju pintu Infirmary yang sudah dengan "baik hati" dibukakan oleh Silverius barusan. Mata Silverius bergulir mengikuti wanita itu, diikuti oleh lehernya ketika Nona Ormondi telah berjalan keluar wilayah pandangnya, dan akhirnya keluar ruangan Infirmary. Saat ini, Silverius sudah benar-benar menoleh tanpa menggerakkan satu sendi pun pada pinggangnya sehingga - jujur saja - posisinya sekarang bukanlah posisi yang enak. Akan tetapi dia masih belum bisa melepaskan matanya dari punggung wanita itu... sampai wanita itu menghilang dimakan kegelapan koridor.

KRAK!

Leher Silverius bergemeretak ketika dia mengembalikannya ke posisi semula. Silverius menggerakkan lehernya beberapa kali ke kanan dan ke kiri, lalu menghirup nafas dalam-dalam untuk melegakan tenggorokannya yang terasa tercekat beberapa saat yang lalu. Saat itulah Silverius mencium sebuah bau yang sudah tidak asing bagi indera penciumannya yang sering menghabiskan waktu di ruangan Infirmary setelah dia menjalankan misi. Bau darah. Silverius kembali memenuhi paru-parunya dengan udara dan bau yang sama menyerang sensor-sensor penciumannya. Jelas bau ini bukanlah bau yang baik untuk dicium - bahkan di dalam Infirmary. Mata Silverius menjelajahi ruangan dan menemukan jejak darah sangat dekat dengan tempatnya berdiri. Matanya langsung mengikuti jejak ceceran darah itu, yang bergerak keluar ruangan Infirmary. Dan hanya satu orang yang berjalan melewati pintu ruangan ini sejak Silverius membuka pintunya. 'Si nona bersuara lemah,' Silverius menyimpulkan hipotesisnya barusan.

"Si nona bersuara lemah," ulang Silverius, dan ketika dia mengalamatkan wanita berambut nyaris putih tadi dari mulutnya, sebuah pikiran merasuki benaknya.

'Berarti dia berdarah - oleh karena itulah dia meminta kain kasa, bukan? Apakah itu karena perutnya tadi? Atau karena pergelangan tangannya?

'Peduli amat!' Silverius menyahut di dalam benaknya untuk mengusir pertanyaan-pertanyaan yang bergantian menghujam benaknya. 'Dia berdarah - itu yang penting - dan dia yang perlu dibawa kembali ke ruangan ini!' Silverius kembali menyimpulkan. Tudinglah pikirannya yang sederhana dan tidak mau repot, tetapi seperti itulah dia. Dalam kelas-kelas teori, dia tidak pernah mendapatkan nilai yang tinggi, tetapi dia bisa mengungguli kebanyakan Exorcist-exorcist sebayanya dalam masalah kekuatan - bukan ketahanan - fisik.

Masih membisu, Silverius melangkahkan kakinya keluar. Meninggalkan ruangan Infirmary yang terang benderang ke dalam koridor yang remang-remang. Pencahayaan yang buruk ini mungkin membuat Silverius tidak bisa melihat jejak darah yang berceceran dengan jelas, tetapi dia tahu bahwa koridor ini adalah koridor lurus dan jika dia berlari cukup cepat, mungkin dia bisa sampai di akhir koridor ini tak sampai setengah menit.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime6th November 2009, 22:11

Bagi Blanka sendiri suara napasnya terdengar lebih berat, sekilas mungkin tapi tetap saja tidak biasa, dan rasa perih di kulit abnomennya semakin menjadi-jadi begitu dia melenggang ke luar infirmary.

Tampaknya memang sedikit kelewatan dengan sayatan terakhirnya.

Ia menghentikan langkah. Sorot manik ambernya merunduk, memperhatikan sisi bagian dalam telapak tangannya yang sedari tadi tertempel di perutnya, secercah rembesan merah kental dan segar mewarnai kulit pucat tersebut. Yang tanpa ia sadari darahnya telah menetes di koridor. Tetesan yang tak terlalu besar, namun tetap saja jika yang menetes itu darah siapapun tak akan menganggapnya sepele.

'... bukan saatnya mencemaskan itu...'


Wanita yang paras cantiknya tertutup oleh bayangan kelam itu kembali memfokuskan tatapan lurusnya ke ujung koridor. Ia tahu gerakan yang ceroboh hanya akan membantu lukanya semakin melebar dan begitu juga dengan volume darah yang mengalir. Tapi apa ia punya pilihan lain kecuali pergi secepatnya dari sana?

Sekali lagi Blanka menyeret kakinya untuk melangkah dengan lebih cepat, tak peduli akan rasa perih yang gatal dan menusuk. Satu gerakan ceroboh terjadi, Blanka tersandung oleh telapak kakinya sendiri dan jatuh terjerembab dengan posisi layaknya orang bersujud, salah satu tangannya menahan berat tubuh. Suara erangan terlepas, sementara noda merah pekat mulai meluas dari bagian yang sama, menimbulkan genangan beraroma nyiyir di lantai batu nan dingin itu.

'...harus...cepat kembali...'


Menahan rasa sakit adalah keahlian wanita berusia 22 tahun tersebut. Blanka meremas abnomennya untuk menahan darah yang merembes –tak peduli dengan rasa sakit yang timbul. Di koridor gelap tersebut yang terlihat jelas hanyalah warna platina terang dari rambutnya yang bergelombang.... warna terang yang janggal untuk dimiliki wanita seperti Blanka Ormondi Demetros.

Wanita yang merefleksikan kepedihan dari tiap pori-pori kulitnya.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime7th November 2009, 11:56

Ternyata meskipun panca indera Silverius telah kembali pulih, tetapi staminanya masih merepet di dalam kegelapan benaknya. Dia memang bukan seorang pelari maraton, dan karena itulah dia sedikit bersyukur memiliki Silvery Ouroburos yang bisa membawanya ke mana saja melebihi kecepatan sprinter manapun dalam jarak 20 meter. Tetapi bahkan jika dia membawa sepasang rantai perak itu, dia tidak akan berani menggunakannya sekarang - saat tubuhnya masih memulihkan diri dari efek penggunaan Innocence-nya yang entah bagaimana bisa datang terlambat.

Dan dia masih berlari mengikuti koridor lurus dengan pencahayaan yang buruk ini. Terus terang saja, rasanya seseorang harus melaporkan masalah pencahayaan ini kepada Supervisor cabang Asia. Ya, seseorang, karena Silverius cukup malas untuk melaporkan hal remeh seperti ini, apalagi ketika nafasnya sudah mulai kacau. Sebagai seorang sprinter, kecepatannya tidak berkurang, hanya saja kemampuan melihatnya lah yang mulai meredup dan kepalanya mulai berdenyut kembali. Kekurangan oksigen memang bukan sesuatu yang baik, dan pria berambut hitam itu berharap dia tidak akan kembali kejang-kejang atau pingsan sebelum dia mencapai wanita berambut nyaris putih tadi - siapa namanya? Oh, iya, Nona Ormondi.

Sepertinya harapan Silverius terkabul ketika dia mendengar suara erangan. 'Tidak jauh lagi,' Silverius menyemangati dirinya dan menambah jangkauan langkahnya. Dan tak sampai sepuluh langkah, dia mendengar suara kecipak dari lantai yang diinjaknya. Wajah pria Jepang itu kembali mengeras ketika dia melihat genangan warna merah tua samar di dekat sepatu boots-nya. Dia merasakan perutnya mulai mual ketika aroma amis darah menusuk hidungnya, tetapi dia sadar kalau dia benar-benar dekat dengan sasarannya, wanita berambut nyaris putih itu. Ya, matanya bisa melihat pantulan cahaya remang-remang pada rambut nyaris putih yang sekarang terlihat bercahaya seperti emas putih itu. Dengan perlahan Silverius mendekati sosok berambut gemerlap yang kelihatannya sedang bersujud di lantai, entah apa maksudnya.

"Hei, kau," ujar Silverius tanpa bermaksud menyapa sambil berjalan mendekati Nona Ormondi. Dia bisa merasakan gemerlap kilatan yang terpancar dari mata hitamnya ketika dia sudah berada di sebelah orang yang dikejarnya sekian belas detik yang lalu, dan dengan satu gerakan, dia menyambar pergelangan tangan kiri Nona Ormondi yang tadi disentuh sang Nona ketika mereka berdua beradu mata, yang menurut Silverius adalah tempat semua tetesan darah ini berasal.

Yang terbukti salah ketika Silverius mengamati pergelangan tangan ringkih. Memang dia menemukan sebuah bekas luka melintang, tetapi bekas luka itu sudah tertutup, menyisakan sebuah garis keputihan pada permukaan kulit Nona Ormondi yang tipis. Secercah emosi mewarnai wajah Silverius dalam bentuk kerutan pada dahinya ketika pria Jepang itu menatap wanita berambut nyaris putih itu. Kebingungan melanda Silverius ketika dia tidak menemukan asal tetesan darah tadi. Apakah dia salah orang? Tidak, dia yakin dia tidak salah orang.

"Kau... di mana lukamu?" Suara Silverius terdengar aneh dengan campuran kekhawatiran dan ketidakpeduliannya yang biasa, tetapi dia tidak begitu peduli. Entah mengapa dia merasa perlu mengetahui jawabannya dari mulut mungil wanita yang sedang menjadi pusat fokusnya sekarang. Mungkin pria Jepang itu akan menemukan jawabannya apabila kedua matanya tidak menatap dalam-dalam kepada sepasang mata amber gelap itu.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime7th November 2009, 15:22

Wanita Hungaria berusia 22 tahun itu terduduk di atas lantai batu yang dingin. Sebelah tangan menekan abnomen, pelupuk matanya mengernyit bersamaan dengan serangan sinyal-sinyal sakit ke sekujur tubuhnya. Ia menghela udara malam dalam-dalam, berusaha mengatur laju napasnya. Entah kenapa sebuah senyuman terulas di bibir pucatnya begitu ia melihat cairan merah gelap membasahi permukaan lantai batu, dan telapak tangannya sendiri. Senyuman yang miris, manik ambernya yang redup menyiratkan campuran emosi yang tak dapat dimengerti. Pedih, sakit, sesal. Perasaan-perasaan macam itulah yang bercampur aduk. Menciptakan manifestasi yang hanya terdapat di sosok wanita ringkih bernama Blanka.

"Hei, kau,"

Blanka terkesiap, dan langsung menoleh ke asal suara. Sosok pria yang tadi telah berdiri tepat di dekatnya dan tampaknya menyadari genangan darah yang menetes dari tubuhnya, menyesali keputusannya untuk berhenti sejenak di koridor gelap tersebut.

Ia masih bisa mentolerir penguntit tapi tidak dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan pria Jepang itu selanjutnya. Menyambar pergelangan tangannya dan memperhatikan torehan putih melintang di sana, penuh rasa ingin tahu serta menatap matanya lekat-lekat.

Sontak iris mata wanita itu melebar, napasnya mulai berpacu lebih cepat.

Blanka benar-benar tak menyukai ini, sangat.

"Kau... di mana lukamu?"

Kali ini ia tak dapat tinggal diam, pria yang bahkan tak ia ketahui namanya itu telah terlalu jauh melangkah ke dalam teritori pribadi Exorcist wanita itu, namun ia tetap tak mengatakan apapun. Blanka menarik pergelangan tangannya, tanpa sengaja menampar punggung tangan Silverius –yang menggenggam pergelangannya erat – dengan cukup kencang. Membuat pola basah berwarna merah tercetak di punggung tangan pria itu serta kembali berusaha menegakkan punggungnya –membelakangi Silverius, perlahan tapi pasti. Gerakan yang sekali lagi membuat syaraf-syarafnya kembali mengirimkan sensasi gatal menyakitkan.

Tangannya yang sedikit bergetar menarik tudung berwarna hitam –bagian dari seragam Exorcistnya, membenamkan visualisasi rambutnya yang berpendar keperakan. Mengisyaratkan kalau sang pemilik innocence berwujud Iron Maiden itu tidak ingin diganggu lebih jauh lagi.

Dengan sebelah tangan tertempel di abnomennya ia mulai berjalan walaupun dengan tertatih, tak mengindahkan keberadaan Silverius di balik punggungnya, juga tak mempedulikan titik-titik merah gelap yang kian melebar. Satu hal yang wanita itu mengerti dengan baik ialah aliran emosinya yang sekarang lebih terasa dibandingkan luka-luka yang ia miliki dan akan berakibat fatal jika dibiarkan atau dipancing meluap.

In case you don't know,

Her passive-aggresiveness can be devastating....






last sentence taken from the song Everything by: Alanis Morisette
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime9th November 2009, 19:10

"Kau... di mana lukamu?"

Pertanyaan itu terasa menggema selama beberapa saat di koridor gelap itu sebelum menguap laksana embun yang mencair ditimpa cahaya mentari; entah karena jawaban yang ditunggu tak kunjung tiba, atau karena luapan emosi yang cukup padat yang mengisi atmosfir lembab koridor tersebut.

Dan ketika pertanyaan itu menguap, Silverius dikagetkan oleh sebuah tamparan pada punggung tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Nona Ormondi yang berhiaskan sebuah bekas luka keputihan, seperti bekas usaha bunuh diri. Pemilik pergelangan tangan yang kurus itu memanfaatkan kesempatan itu dan menarik kembali pergelangan tangannya, lalu segera menegakkan tubuhnya dan berbalik membelakangi pria Jepang yang tadi berbuat lancang kepadanya.

Tentu saja Silverius tidak beranggapan demikian. Bahkan seorang Jenderal pun jarang mendapatkan respek dari pria Jepang itu. Baginya itu adalah sebuah tindakan yang cukup wajar mengingat semua yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Pria Jepang itu melihat wanita berambut nyaris putih itu menarik tudung hitam dari seragamnya sehingga rambutnya yang kemilau keperakan itu perlahan-lahan menghilang ditelan kegelapan temporer itu. Ya, temporer, karena Silverius berniat untuk menyibakkan tudung itu dan membalikkan tubuh Nona Ormondi. Tidak bermaksud kasar, tetapi seharusnya seorang wanita yang baik menjawab pertanyaan, kan? Silakan uji kemampuan intrepetasi Silverius, kalau dia mau, tetapi setidaknya jawab saja. Apa salahnya mengatakan, "di sini," atau, "di sana?"

Akan tetapi sepertinya wanita itu memang menjawab - tanpa membuka mulutnya sedikitpun. Jawaban itu tercantum dengan jelas pada noda darah yang tampak pada punggung tangan Silverius yang ditampar Nona Ormondi beberapa detik yang lalu. Mata Silverius mengamati noda darah itu selama beberapa saat, sementara pikirannya memindai memorinya untuk menemukan jawaban yang tidak tersurat itu.

Ketika pikiran pria Jepang berambut hitam itu menemukan jawabannya, tubuhnya langsung bereaksi. Digenggamnya bahu wanita bertudung hitam di hadapannya dengan niat hendak membalikkan tubuh Nona Ormondi. Silverius telah menemukan jawabannya, memang, tetapi pria Jepang itu hendak memastikan apakah dugaannya benar atau salah. Mata hitamnya yang biasanya terlihat redup melebar ketika cahaya remang-remang yang ada menunjukkan sebuah noda yang agak terang pada bagian perut Nona Ormondi. Bagaimana dia tidak ngeri melihat noda sebesar itu? Apalagi ketika sebuah dugaan bahwa luka itu masih terbuka dan mengeluarkan darah!

"Ikut aku ke Infirmari, sekarang!" ujar Silverius dengan nada yang sama anehnya dengan nada bicaranya yang sebelumnya. Memerintah, tetapi terdengar sedikit menggelikan dengan campuran kelembutan dan rasa cemas. Tetapi pria Jepang itu tidak memedulikan hal itu sekarang, yang penting adalah seorang Exorcist terluka - cukup parah - di hadapannya, dan itu berarti Exorcist itu perlu dibawa ke Infirmari.

'Oh, apakah dia berpikir dia bisa mengobati lukanya sendiri... hanya dengan kain kasa?!' Silverius meludah di dalam benaknya.

Dan tanpa basa-basi lagi, Silverius menarik tangan wanita itu, yang entah mengapa mulai terasa dingin di kulit Silverius yang sepertinya sudah pulih total. Pria Jepang itu berharap Nona Ormondi tidak akan melawannya kali ini, atau mungkin dia akan mengambil langkah drastis.



Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime10th November 2009, 01:58

Seharusnya wanita Hungaria itu sudah bisa pergi dari koridor lembab itu secepatnya. Ya, jika saja dia tidak merasakan sentuhan pada bahunya yang membuatnya terpaksa menoleh. Sentuhan itupun memiliki intensitas yang cukup untuk membuat siapapun berbalik. Dan siapa lagi yang dapat menyentuhnya disana selain pria yang sama.

Blanka mengerutkan alisnya, ditangkapnya iris mata pria itu tidak menatap langsung ke wajahnya seperti tadi, gerakan matanya liar, tampak mencari-cari sesuatu dan berhenti dengan tatapan janggal saat Silverius melihat bagian yang mengalir dan merembes merah.

Ok, sudah cukup usaha mencari taunya. Sekarang kau sudah mengetahui muara semua genangan di lantai jadi tolong lepaskan dia...

Atau sebaliknya,

"Ikut aku ke Infirmari, sekarang!"

Sebuah tarikan di tangan terasa, tampaknya pria asing itu benar-benar akan menyeret Blanka ke ruangan barusan. Bagi Blanka tindakan itu adalah tindakan agresif yang tak ia perlukan, tindakan yang membuat dirinya merasa terancam. Manik amber miliknya yang mengilat melebar menatap Silverius , bibir wanita itupun terbuka tipis. Ia mendesis pada Silverius sebuah kalimat utuh akhirnya lolos.

“Ka-kau, hentikan...!” dua kata barusan keluar dengan nada suara yang lebih keras daripada yang terdengar di infimary -- beserta penakanan pada suku kata terakhir. Ekspresi Blanka pun mengeras, menatap sosok pria di depannya dengan geram. Blanka menggigit bibir bawahnya sendiri.

Ikut ke infirmary? Yang benar saja Silverius kau pikir kau sedang berbicara pada siapa? Pada wanita yang akan berkata iya begitu saja dan pasrah? Tidak, kamu salah, setidaknya Blanka Ormondi Demetros yang sekarang tidak akan menurut seperti sapi yang dicolok hidungnya.

Blanka tidak mau bergeming. Ia berusaha menarik lengannya, dengan lengan satunya masih menyentuh abnomen. Dan jika itu belum cukup sekarang pun ia berontak, menarik dirinya ke arah yang berlawanan. Kuku jemari Blanka yang lentik menancap dan menggores tangan Silverius secara tidak sengaja, meninggalkan jejak berbentuk lengkung sabit berwarna kemerahan.





Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime10th November 2009, 19:14

"Kau ini staff pindahan, ya? Masak kau tidak kenal penyakitku?"

Brian Selvatine yang tadi berdiri dengan sigap kini hanya menggaruk-garuk kepala. Ah, sudah keberapa kali ia mendapat teguran semacam ini? Beberapa kali tentunya. Biasanya, laporan ini diselipkan dengan sebuah percobaan tindak kekerasan. Namun, selalu saja ada yang bisa mengihindarkannya dari masalah--mungkin hal tersebut juga berlaku sekarang? Tergantung bagaimana caranya ia melihat juga.

"Periksa saja laporan kesehatanku, Dr. Selvatine. Mungkin kau..."

Bicara soal laporan kesehatan, itu ide yang bagus. Mengapa ia tidak kembali ke biliknya dan membaca laporan kesehatan milik pemuda tersebut? Dengan demikian, ia tidak perlu merasa sakit hati dengan nada ketus semacam itu. Yap, ide cemerlang yang bisa meluncur dari kepala bermarga Selvatine ini. Biarlah dokter lain yang mengurus mereka berdua--toh mereka memang lebih berpengalaman darinya kan?

"Arrrgh! Terserahlah!"

Baiklah, dokter ini mungkin memiliki tingkat intelejensi yang tinggi, meskipun tidak mampu menandingi tingkat keberuntungannya yang entah dari mana. Sayangnya, kemampuan observasinya tidak setinggi itu--pria ini sudah keburu melesat pergi dari tempat mereka berdiri--kembali ke biliknya--dan tidak menyadari bahwa wanita berambut pirang tersebut (Blanka) juga tengah sakit--parah mungkin?

Yang jelas, ia akan berada di biliknya sampai memang ada yang memanggil.



OOC: @Blanka dan Silv: Anggap Brian sudah di dalam bilik kerjanya lagi di saat perbincangan kalian berdua =w= *shot*
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime11th November 2009, 00:21

Kesunyian kembali menyelimuti koridor gelap itu ketika "perintah" Silverius barusan kembali menguap ditelan kegelapan, dan sepertinya Silverius sudah mulai terbiasa dengan aura sunyi yang dipancarkan wanita berambut nyaris putih yang tangannya sekarang tengah ditarik pria Jepang berambut hitam tegak itu. Ya, Silverius bertekad untuk membawa Nona Ormondi ke Infirmari. Alasannya? Mudah saja, karena ada orang terluka - parah - di sini, dan orang itu cukup bebal untuk tidak menyerahkan lukanya untuk diobati di Infirmari dan berniat mengobati lukanya sendiri.

"Ka-kau, hentikan...!"

Otot-otot Silverius rasanya kram selama sepersekian detik ketika akhirnya Nona Ormondi kembali bersuara. Pria Jepang itupun berbalik untuk melihat wanita berambut nyaris putih itu, dan sedikit terkejut melihat kilatan pada mata Amber kelam wanita itu. Baru kali ini wanita itu menunjukkan ekspresi geram seperti itu, dan sepertinya kali ini wanita itu benar-benar serius.

Begitu juga dengan Silverius.

Dan ketika Silverius merasakan wanita berambut nyaris putih itu membenamkan kukunya selama sesaat ke tangannya supaya pria Jepang itu melepaskan pegangannya, pria Jepang itu langsung meraih bahu Nona Ormondi dengan tangannya yang bebas, lalu menarik wanita itu mendekat ke arahnya dengan cepat, mendekapnya supaya wanita itu tidak bisa berontak lagi.

'Apa yang salah dengan wanita ini? Apakah aku berniat jahat?' Silverius mengeluh di dalam benaknya, namun lagi-lagi mulutnya mengeluarkan kalimat lain. "Sudah, ikut saja!"

Pria Jepang berambut tegak itu pun mulai berjalan ke arah Infirmari. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat cahaya terang yang menelusup dari sisi-sisi pintu Infirmari yang sedikit terbuka, dan seharusnya tidak membutuhkan waktu lama untuk melintasi koridor ini. Silverius hanya berharap Nona Ormondi tidak melakukan tindakan aneh yang tak terduga lainnya selama pria Jepang itu membopong wanita berambut nyaris putih itu. Memang sedikit berat, apalagi karena sepertinya Silverius menyeret Nona Ormondi, tetapi setidaknya lebih cepat daripada membiarkan Nona Ormondi berjalan sendirian - yang terbukti cukup lambat mengingat bagaimana Silverius dengan cepat bisa menyusulnya.

Selagi membopong Nona Ormondi, tanpa sadar kedua mata Silverius kembali melirik wanita yang sejengkal lebih pendek darinya itu. Melihat tudung yang menyelimuti kepala wanita itu, rasanya Silverius ingin menarik tudung hitam yang mengganggu itu, tetapi diurungkannya niatnya karena dia tidak ingin Nona Ormondi menganggapnya sebagai sebuah pelecehan seksual. Dialihkannya lagi kedua mata hitamnya ke cahaya terang di ujung koridor yang semakin lama semakin mendekat, dan entah mengapa sesuatu di dalam diri Silverius tidak menyukainya.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime11th November 2009, 18:56

Tidakkah pria bermanik obsidian itu mengerti bahwa ia hanya ingin ditinngalkan sendirian. Dianggap tak pernah ada atau bahkan tak pernah hidup. Sebuah keinginan yang cukup sederhana... baginya. Dan tampak sekali pria itu sama sekali tidak mengindahkan apa yang ia inginkan.

Karena sekarang Blanka sudah mendapatkan dirinya berada di dekapan Silverius.

Di dekapan pria...


Sontak iris matanya melebar menatap ke wajah pria itu—rasa terkejut Blanka membuatnya tak dapat mendengar apa yang diucapkan pria muda tersebut. Bibir Blanka bergetar begitu juga dengan tubuhnya yang berbobot sedikit lebih ringan daripada seharusnya. Suara rintihan getir keluar dari bibirnya, sementara aliran napasnya kacau, terengah-engah.

Satu-satunya pria yang pernah dan hanya mendekap dirinya untuk memberikan sentuhan yang tak terlupakan seumur hidupnya.

Ia takut...


Dan setetes cairan bulat kemilau bergulir dari bola mata kelam itu.

Blanka sontak mendorong tubuh Silverius menjauh, matanya yang basah menatap pria itu dengan begitu emosional. Karena yang ia lihat bukanlah sosok pria berumur 22 tahun yang baru ia temui di Asia, namun sosok orang lain yang selalu menghantuinya –dan memang sosok yang dimaksud sudah tewas di tangannya sendiri.

Seorang pria dengan senyum miring terrefleksi di benaknya.


Tubuhnya yang terbalut pakaian hitam yang satu bagiannya seolah dicelup darah itu berbalik. Ia hanya ingin pergi menjauh, jauh dari siapapun. Wanita Hungaria itu memaksakan langkah cepat yang ia harapkan dapat membawanya pergi. Kain yang menghalangi warna rambutnya itupun lolos karenanya.

Hanya perlu beberapa langkah kemudian untuk membuat luka-luka abnomennya benar-benar terbuka lebar. Suara erangan sakit terlepas dari bibir yang memucat. Blanka tersungkur dengan darah yang merembes deras –yang sekarang pun ia tahu luka itu terlalu besar untuk ia tangani sendiri – namun tidak menghalanginya untuk beringsut pelan. Membuat jejak darah yang terseret.

Parasnya yang redup menoleh ke pria yang barusan mendekapnya. Hanya ada satu kata yang mampu melukiskan air mukanya; ketakutan. Tampak buliran-buliran bening terlepas, turun dari pelupuk mata dan menggenang di pinggir wajahnya sebelum menetes dengan sempurna ke lantai batu yang sekarang berwarna merah, bercampur dengan genangan darah serta rasa sakit yang saat ini membuatnya mati rasa.

Ia tahu ia tak dapat berontak lagi, dan hanya dapat bersiap menahan apapun yang akan datang kemudian.

Ataukah hal yang ia dapatkan sekarang akan berbeda...?
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime11th November 2009, 22:27

Kedua Exorcist itu merayap di bawah naungan cahaya remang-remang. Perlahan tapi pasti, Silverius bisa melihat pintu Infirmari semakin mendekat. 'Ayo, sedikit lagi,' kata Silverius kepada dirinya sendiri. Tak disangkanya dengan membawa serta seorang Nona Ormondi langkahnya menjadi selamban ini.

Dan di saat Silverius berpikir Nona Ormondi akan menurut saja, tiba-tiba wanita berambut nyaris putih itu mendorongnya menjauh. Spontan saja Silverius langsung berbalik, dan untuk sesaat, Silverius bisa melihat secercah cahaya yang terpantul pada sepasang mata Amber yang selalu menarik perhatiannya itu, sebelum wanita itu berbalik dengan cepat dan kembali melangkah menjauhi pintu Infirmari. Silverius hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita itu, tetapi dia tidak melakukannya.

Pria Jepang itu bergeming selama beberapa saat, mengamati bagaimana tudung kepala yang ingin dilepasnya tadi meluncur menuruni kepala Nona Ormondi dengan sendirinya. Rambut nyaris putih yang indah itu kembali bersinar keperakan...

Sebelum sebuah erangan terdengar dan wanita berambut keperakan itu terjatuh ke lantai. Dan bahkan saat wanita itu sudah tersungkur, ternyata semangatnya untuk menjauhi Infirmari - atau Silverius - masih membara, dibuktikan dengan gerakan yang dibuat wanita itu. Beringsut pelan, meninggalkan jejak darah lainnya yang lebih besar.

'Jangan bilang lukanya bertambah parah.'

Dan kalimat itu benar-benar menghujam raga Silverius. Secara literal, karena kakinya seolah-olah telah dipaku sedalam-dalamnya ke lantai batu koridor gelap itu sampai kedua kakinya terasa sakit.

Akan tetapi di saat sebuah pikiran memaku raga pria Jepang itu, tubuhnya tak mau tinggal diam. Kedua mata hitam Silverius yang tak berkedip melihat sosok wanita berambut nyaris putih di hadapannya beringsut pelan, menyeret tubuhnya yang ringkih dengan meninggalkan jejak darah yang semakin lama semakin lebar saja, mengirimkan sinyalir-sinyalir non-syaraf yang menorehkan sebuah kikir pada jantungnya. Bergerak seirama dengan gerakan otot Nona Ormondi, kikir itu terus merobek jantung Silverius selapis demi selapis.

Dan sebelum jiwanya dapat menetralkan pemberontakan itu, Silverius sudah berpindah tempat. Tidak sulit untuk mengejar Nona Ormondi yang kecepatannya tidak bisa dibandingkan dengan Silverius. Hanya beberapa langkah, dan mungkin apabila Silverius tidak berhenti di tempat, dia sudah bisa berdiri di depan Nona Ormondi.

Tetapi tolehan wanita berambut nyaris putih itu membuatnya patuh. Topeng datar yang selalu terpasang di sana telah hilang, dan Silverius bisa melihat kegelapan yang menghantui wanita itu dengan sangat jelas. Tetapi yang paling menguasainya adalah bulir-bulir bening yang mengalir menuruni pipi wanita itu. Sungguh, Silverius tidak bermaksud menakuti - apalagi melukai - Nona Ormondi. Dia hanya ingin yang terbaik untuk wanita itu. Sebuah penanganan yang handal dari staf medis Markas Cabang Asia yang sudah terkenal ke seluruh Markas Cabang Black Order yang lain. Apakah itu salah?

Akan tetapi bulir-bulir air mata itu benar-benar meruntuhkan Silverius. Dia merasakan tangannya mulai bergetar, semakin lama semakin keras. Apakah ini berarti efek samping penggunaan Silvery Ouroburos akan datang lagi? Tapi kali ini dia tidak menggunakan Innocence itu. Bahkan membawanya pun tidak. Kalau begitu, apa ini?

Silverius menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Indera penciumannya bisa mengenali bau amis darah yang mencemari udara segar yang agak lembab di koridor berpenerangan buruk ini, dan rasanya lututnya benar-benar goyah sekarang.

Akan tetapi alih-alih jatuh berlutut, Silverius malah berjalan. Sangat tenang, sehingga mungkin orang yang melihatnya bisa menganggap Silverius sudah kerasukan. Tetapi pria Jepang itu tidak akan menyangkal. Ya, jelas ada yang merasuki dirinya saat ini. Dia tidak tahu apa itu, tetapi dia tahu kalau itulah sebabnya dia merendahkan badannya - setengah berlutut - sehingga matanya sejajar dengan mata Nona Ormondi. Dan yang merasuki dirinya itulah yang menggerakkan satu tangannya dengan lembut untuk menghapus bulir-bulir air mata yang mengalir dari mata Amber yang terlihat semakin kelam itu. Jelas penyebabnya adalah kekurangan darah, tetapi lagi-lagi Silverius tidak mengutamakan itu.

Dia telah mengabaikan rasionalitas dengan menatap ke dalam sepasang mata Amber itu dan mengelus pipi wanita pemilik sepasang mata Amber itu... atau mungkin sebagian rasionalitasnya karena tangannya yang lain bergetar hebat sambil mencengkram lantai batu koridor gelap ini.

Sungguh, pria Jepang itu tidak ingin mengalami semboyan "nikmat membawa maut," tetapi sepertinya ada sesuatu yang masih mengganjal di sini. Dan sesuatu yang lain, yang merasuki dirinya, menyimpulkan kalau wanita berambut nyaris putih di hadapannya akan terus melawan sampai masalah itu selesai.

'Bahkan akan kutunggu sampai fajar merekah...'


Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime12th November 2009, 17:29

Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima kemungkinan yang terburuk.

Tapi tidak dengan yang satu ini.

Blanka dapat merasakan sentuhan lembut jemari pria itu pada pipinya yang dingin. Membelai kulit pucat tersebut dengan perlahan. Yang harus ia akui; tak pernah ada yang membelai wajahnya seperti itu kecuali ibunya yang sekarang berada di Budapest. Tak tahu mengapa namun sentuhan tersebut memiliki efek yang tak ia duga. Sensasi hangat yang asing merayap di hatinya. Ya asing, karena ia sudah lupa akan adanya perasaan macam itu. Serta ia tak tahu kenapa ia tidak melawan lagi kali ini.

Seolah semua ketakutannya diangkat oleh tangan-tangan magis yang tak kasat mata.

Ia hanya mampu membalas sebuah tatapan dalam yang dilayangkan obsidian tersebut lekat-lekat, hendak menembus apa yang selama ini ditutupi amber gelapnya yang sekarang masih lembab, memantulkan wajah pria itu di bola matanya.

Sentuhan itukah yang memberikannya perasaan macam ini? Atau tatapan lembut pria Jepang itu, bahkan mungkin keduanya.

Napas wanita berusia 22 tahun tersebut mulai teratur begitu juga dengan tubuhnya yang gemetar. Entah kenapa dia mendapatkan impresi bahwa pria di depannya itu tak akan menyakitinya... ya entah kenapa. Ketegangan di pelupuk matanya meredup, digantikan sorot mata yang begitu berbeda. Teduh menatap Silverius, sambil membiarkan pria itu menyapu genangan yang menganak sungai di kedua sisi wajahnya.

Matanya kembali mengerjap begitu ia rasakan darah mengalir lagi dari abnomennya. Ia menahan rintihan kesakitan tersebut dengan telapak tangan tertempel di sumbernya. Bola mata Blanka terbuka kemudian dan langsung melirik ke satu-satunya ruangan yang menjadi sumber cahaya koridor gelap tempat mereka berada. Ia pun tahu bahwa ia tak akan bisa menangani luka selebar ini sendirian.

Telapak tangannya yang bebas menyentuh lantai batu. Berusaha mengangkat dirinya sendiri. tanpa sengaja dalam upaya mencari pijakan Blanka menyentuh lengan atas Silverius. Wajah wanita dengan paras kelam itu merunduk, namun bibir tipisnya terbuka kecil saat memperhatikan cetakan merah yang mengecap di seragam pria berambut hitam tersebut; cap darahnya.

.... maaf... bajumu kotor...

Heran, kenapa dia lebih mengkhawatirkan noda di baju pria itu daripada lukanya sendiri. Padahal jelas-jelas darah mengalir dari sana dan wajahnya pun semakin memutih.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime13th November 2009, 22:08

Silverius masih mengelus pipi Nona Ormondi, membersihkan bulir-bulir air mata yang masih mengalir. Dan ketika Silverius merasakan badannya mulai menghangat, akhirnya bulir-bulir air mata itu berhenti meluap. Apakah emosi wanita berambut nyaris putih di hadapannya sudah stabil atau tidak, Silverius tidak tahu pasti, yang jelas Silverius bisa melihat horor yang terpancar dari sepasang mata Amber itu telah menguap. Sedikit den sedikit, seirama dengan setiap belaian lembut jemari Silverius yang terbungkus sarung tangan hitam dan tarikan nafas wanita berambut nyaris putih yang terdengar sangat jelas di telinga pria Jepang itu.

Dan entah berapa detik yang terasa begitu lama hingga sepertinya perang suci yang menyatukan keberadaan kedua Exorcist itu telah berakhir telah terbuang ketika mata hitam Silverius beradu dengan mata Amber yang sepertinya telah menemukan kembali cahayanya. Melihat paras bermata Amber di hadapannya itu, sebuah dorongan motivasi yang kuat mulai mengalir kembali di dalam pembuluh darah Silverius. Dan entah sesuatu yang merasuki dirinya tadi, atau diri Silverus sendiri, yang bertekad untuk melindungi sorot mata yang tidak pernah dirasakannya sepanjang 12 tahun hidupnya beberapa saat kemudian.

Untuk sejenak saja, mungkin pria Jepang itu telah menyunggingkan senyumnya. Otot-otot wajahnya terasa aneh setelah sekian lama dia tidak tersenyum, tetapi sebuah perasaan yang menghangatkan jiwanya membuatnya tetap tersenyum.

Tetapi waktu tidak berhenti untuk siapapun, termasuk kedua insan Exorcist berseragam hitam ini. Dan dalam sekejap, senyuman dan belaian Silverius berhenti ketika tatapan dari iris Amber tadi berubah. Tentu saja rasa sakit yang terlihat dari balik mata wanita berambut nyaris putih itu dapat diduga melihat banyaknya darah yang sudah mengalir keluar dari daerah perut Nona Ormondi. Dan seketika itu juga jiwa Silverius berhasil meraih kembali kendali atas tubuhnya yang sempat dirasuki oleh entitas asing. Pria Jepang itupun segera berdiri dengan perlahan, takut melakukan tindakan tiba-tiba yang mungkin dapat menakuti Nona Ormondi lagi - meskipun sampai kira pria Jepang itu mengetahui kegelapan apa yang mendasari horor yang tersirat dari tatapan Nona Ormondi entah berapa menit yang lalu.

Tanpa menunggu lama, Nona Ormondi juga ikut berdiri. Tangannya menggapai-gapai, dan sebelum Silverius menawarkan bantuan, tangan ringkih bernoda darah itu menyentuh pundak Silverius yang terbungkus seragam Exorcist-nya serta sebuah rompi hitam, meninggalkan bekas darah yang menyerupai telapak tangan Nona Ormondi yang entah mengapa malah menundukkan wajahnya dan meminta maaf kepada Silverius.

"Tidak apa-apa," balas Silverius cepat. Kedua mata hitamnya mengamati wajah wanita berambut putih yang kian memuncat itu, berpindah ke bagian perutnya yang bersimbah noda darah yang berbau anyir, lalu kembali menatap wajah Nona Ormondi. Kening pria Jepang itu mengernyit sedikit ketika dia mempertimbangkan kembali kemampuan mobilitas Nona Ormondi yang rasanya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

"Sini, biar kubantu," ujar Silverius sambil berbalik dan membungkukkan badannya. Kedua tangannya terulur ke belakang, dan mendekap kaki yang Nona Ormondi yang maju ke tengah-tengah kedua tangan itu. Puas juga hati Silverius melihat wanita itu akhirnya merelakan dirinya untuk diperiksa. 'Ya, tinggal membawanya saja ke Infirmari,' gumam Silverius pada dirinya sendiri.

"Perutmu akan sedikit sakit," Silverius mengingatkan Nona Ormondi yang sekarang sudah bersandar pada punggungnya. Pria Jepang itu hanya bisa berharap dia bisa membawa wanita berambut nyaris putih itu ke Infirmari tanpa menimbulkan banyak guncangan, tetapi ternyata berat wanita itu sangat ringan, mungkin hanya sekitar setengah berat si pria Jepang ditambah sedikit.

Setelah memastikan wanita itu tidak akan terjatuh, Silverius mengangkat tubuhnya sedikit lebih tinggi sehingga wanita Nona Ormondi bisa dengan leluasa melingkarkan lengannya di atas pundak Silverius; lalu pria Jepang itu mulai melangkah. Langkah pertamanya memang sedikit berat, tetapi dia tidak akan menyerah sekarang - setelah semuanya sudah sangat dekat.

Dan mungkin pria Jepang itu tidak menyadari kalau keningnya mulai berkeringat lagi.

You know the closer you get to something, the tougher it is to see it.



OoC: Telah mendapatkan izin untuk menggerakkan karakter Blanka
credits to Inoue Joe
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime15th November 2009, 13:09

Something is going on…

Dan itulah yang menyebabkannya bertengger di punggung lebar Silverius dengan tenang.

Setelah empat tahun sejak saat itu, malam inilah kali pertama ia membiarkan tubuh seorang pria begitu dekat dengannya. Membiarkan pria asing itu menyentuh kulitnya, membelai lembut buliran air mata yang menggenang di wajahnya, serta membiarkannya membawa wanita Hungaria itu, menggendongnya di belakang.

Blanka memang tak mengatakan apapun, ataupun bereaksi pada perkataan Silverius yang mengingatkannya akan rasa sakit di abnomennya. Sungguh sebenarnya ia tak perlu berkata demikian, Blanka mengerti dengan baik kapan saja ia harus bersiap dengan rasa sakit yang akan menyerang indera perasanya.

Dalam hatinya kata terimakasih terucap lemah.

Hanya perlu beberapa langkah –yang terasa ribuan – untuk menggapai pintu Infirmary, melewati beberapa genangan merah kental yang anyir. Namun alih-alih mengalungkan lengannya di leher pria itu, Blanka menyandarkan dahinya pada tengkuk Silverius. Tanpa alasan tentunya, kepala wanita berambut panjang tergerai keperakan itu mulai terasa berat. Kekurangan darah? Mungkin demikian, mengingat sekarang warna lantai batu koridor itu penuh dengan corak yang berasal dari luka di abnomennya yang mulanya tidak begitu lebar. Napasnya yang terdengar melemah di telinga Silverius memberitahukan semuanya.

Blanka tak mendengar apa saja yang dikatakan para staff di infirmary begitu melihat kedatangannya yang mengejutkan –dalam banyak arti. Wanita berusia 22 tahun itupun hanya mengerjapkan matanya yang redup beberapa kali, mengintip dari balik tengkuk Silverius –dan pemandangan di matanya juga tak terlihat jelas –. Tampaknya terjadi keributan dari syuara-suara yang mulai meracau, ya bagaimana tidak terjadi keributan kecil saat seseorang datang sambil membawa wanita yang terluka –cukup parah – di balik punggungnya.

Entah bagaimana ia berhasil meloloskan diri dengan licin dari gendongan Silverius, berjalan dengan langkah kaki yang terseok ke salah satu bilik ruangan dan berhenti di dipan infirmari, duduk di pinggirnya. Seharusnya seseorang berinisiatif menutup tirai bilik pasien karena untuk menangani lukanya Blanka harus membuka pakaian exorcist yang menutupi kulitnya rapat-rapat.

Jujur dalam keadaan kritis begini, ia bisa merasakan darah mengalir, mulai menimbulkan beberapa noda di infirmari dan tubuhnya mendesak penanganan medis secepatnya. Ia tidak peduli seseorang atau dua orang melihat torehan luka dan lebam yang tersebar, jalur hijau-kebiruan yang terlihat dari lapisan kulitnya yang sedikit lebih tipis, atau mulai berkomentar serta menginterogasi asal semua luka itu.

Ia hanya akan menutup bibir tipisnya rapat-rapat.

Dan di saat kekalutan ruangan kecil itu berlangsung, ujung-ujung jarinya sudah merayapi balutan pakaian, siap meloloskan kapanpun ia mau namun sebelum itu ia melirik ke Silverius dengan rona pucatnya, berharap bahwa setidaknya pria itu memalingkan pandangannya.
Back to top Go down
View user profile
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime15th November 2009, 20:04

Bunyi laci yang menutup, diiringin dengan kertas-kertas yang berhamburan entah ke mana seakan memenuhi infirmari. Di saat seperti ini, seharusnya Brian Selvatine sudah mendapat sebuah teguran baik-baik dari staf medis yang ada. Atau mungkin konsekuensinya yang lebih parah... adalah berhadapan dengan jarum-jarum seorang gadis Cina, itu juga kalau ia memang sedang minat. Namun, apakah pikiran tersebut muncul dalam benak pria berambut pirang ini? Tidak, karena kata-kata Silverius Girlani mengenai penyakitnya masih terngiang di benak.

Bunyi laci yang menutup sekali lagi, sementara tangan kanannya kini tidak vakum dari beberapa lembar kertas. Beberapa di antaranya ada yang bertuliskan nama seorang Exorcist muda berambut hitam--Exorcist sama yang keluar dari infimari beberapa saat lalu, kalau saja Brian tahu. Senyum merekah; setidaknya, di antara tumpukan arsip yang belum sempat dikeluarkan bagian seksi manajemen untuk diarsipkan, ada beberapa yang memang tidak perlu dimasukkan ke dalam gudang. Mata biru melirik ke arah satu sudut kertas dengan nama "Silverius Girlani" di kepala kertas; sebuah laporan kesehatan milik Silverius.

Bagaimana cara ia tahu nama pemuda yang tadi? Hei, bukan hanya dirinya yang menjadi staf medis di infirmari tersebut. Tentunya rekan-rekan dokternya ada yang tahu, bukan?

Baru saja tangannya hendak membaca lembar pertama, bau besi seakan menusuk penciumannya--darah. Mata segera menyipit sementara Brian mencoba memperkirakan sebesar apa luka pasien yang baru saja datang ke infirmari, dengan mencium bau darah yang menusuk. Kening mengerut sementara tangannya dengan segera menaruh lembaran laporan kesehatan milik Silverius, sementara dirinya membuka bilik kerja. Kepala segera berpaling pada sumber bau darah.

Blanka.

Merinding? Brian Selvatine, seberapapun kekanakan dirinya, sudah belajar untuk tenang di saat genting seperti ini. Ia juga tahu bahwa di saat seperti ini, peran yang dimilikinya tidak banyak. Dia bukan dokter bedah, ataupun dokter bagian menutup luka (Brian bisa melihat bagaimana darah merembes dengan entengnya dari luka nona Exorcist tersebut; pasti luka besar). Brian Selvatine tidak bisa dikatakan sebagai dokter; apoteker, mungkin lebih pas. Ia spesialis di bagian obat-obatan dan ramuan, bukan penutupan luka.

Karena itu, pria ini hanya bisa membantu rekan-rekan dokternya menarik sang gadis ke tempat tidur perawatan bersama dengan dokter dan perawat yang menjinjing berbagai macam antiseptik dan ramuan (beberapa di antaranya merupakan racikan Brian), sementara dirinya menutup tirai yang memisahkan pasien dengan pengunjung. Ruang perawatan tersebut--sebuah wilayah infirmari yang terbilang luas dan terbagi-bagi oleh tirai di antara tempta tidur pasien--kini dibiarkan tertutup oleh sebuah tirai besar

Seperti sulap; ketika tirai tersebut dibukan, mungkin nona Exorcist tersebut akan berdiri dengan wajah berona segar, sehat sejahtera tanpa kekurangan darah. Mungkin. Yang memisahkan hal tersebut dari pemuda yang menunggu adalah Brian dengan tirai tersebut.

Brian Selvatine, dengan segala keceriaannya yang pelan-pelan musnah karena bau darah. Bagaimanapun juga, seberapa kebal dirinya terhadap bau darah, Brian Selvatine tidak pernah menyukai bau yang bisa membuatnya muntah tersebut.

"...Pada akhirnya, satu gulung kain kassa tidak cukup ya?"

Manusia juga bisa bermelankoli; bila siapapun mengira bahwa Brian Selvatine tidak bisa berbicara dengan nada grim, mereka salah besar. Dokter yang tadi sibuk menyikapi tugas masing-masing kini sibuk mengurus nona Exorcist tersebut. ...dan Girlani, yah... pemuda berambut pirang ini memfokuskan pandangannya pada figur Exorcist yang namanya tercantum pada lembaran kertas laporan kesehatan.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime16th November 2009, 22:43

Koridor remang-remang itu berlalu dengan cepat, seolah-olah seseorang menekan tombol "Fast Forward." Ya, waktu memang tidak menunggu siapapun, atau berhenti untuk apapun. Kenal lelah, kah, anak kecil berjubah hijau itu? Silverius kira tidak.

Dan setelah bunyi mendecit yang menyakitkan telinga, akhirnya Silverius kembali ke ruangan terang benderang berbau obat itu. Sedari tadi yang dikhawatirkannya adalah apakah Nona Ormondi masih bisa bertahan sampai ke Infirmari atau tidak, dan setelah dia duduk di sebuah kursi di dekat pintu, rasa lega yang melesak di dadanya rasanya tak terbendung. Tak terbayang bagaimana jadinya apabila suara tarikan dan hembusan nafas yang semakin lama semakin melemah tadi menghilang ditelan kegelapan. Mungkin pria Jepang itu akan mengalami trauma untuk pertama kalinya.

Dan selagi keributan kecil di ruangan Infirmari tengah berlangsung setelah Nona Ormondi mendadak turun dari gendongan Silverius, pria Jepang itu menyandarkan punggungnya pada dinding Infirmari yang terasa sejuk di punggungnya. Bagaimana dengan noda darah yang akan tercetak di dinding putih itu? Oh, kau pikir Silverius peduli? Pria Jepang itu seharusnya sudah mulai merendam dan menggosok rompinya yang sudah bersimbah darah itu - terutama jika dia ingin lambang Traverse Cross yang berada di bagian belakang rompinya tetap berwarna putih.

Apakah pria Jepang itu tidak mengikuti Nona Ormondi yang berjalan terseok-seok ke sebuah bilik? Ternyata tidak; pria Jepang itu tetap duduk di atas kursinya sambil memijat kedua matanya dengan lembut. Ruangan itu memang dipenuhi bau anyir sekarang, tetapi bukan itulah yang membuat Silverius mual dan berkeringat dingin sekarang.

"... Pada akhirnya, satu gulung kain kasa tidak cukup, ya?"

Terdengar suara di balik kelopak mata Silverius yang menutup, dan ketika kelopak itu membuka ketika dua buah jemari yang memijatnya dengan lembut berpindah tempat, Silverius dapat melihat Selvatine menatapnya. Apakah staf Medis itu sudah memeriksa catatan kesehatannya? Silverius tidak begitu peduli; akan tetapi begitu rasa mualnya mulai terasa benar-benar mengganggu, akhirnya pria Jepang itu mengalihkan pandangannya kepada pria berambut pirang itu.

"Hei, kau sudah membaca catatan medisku? Sepertinya... efeknya akan kembali," ujar Silverius dengan suaranya yang entah sejak kapan menjadi benar-benar serak. Ya, tidak begitu berbeda jauh dari suaranya yang normal, sih, hanya sedikit kering.

"Dan tangani wanita itu dengan baik. Dia kehilangan banyak darah..." Kalimat Silverius menghilang dengan sendirinya ketika pikirannya kembali bekerja dengan normal. Dia telah sampai di ruangan yang ditujunya dan seharusnya dia tinggal menyerahkan nasib Nona Ormondi kepada para staf Medis yang sudah diakui kehebatannya itu. Lalu mengapa? Apakah dia akhirnya benar-benar peduli? Oh, hanya Tuhan yang tahu.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime23rd November 2009, 18:20

"Hei, kau sudah membaca catatan medisku? Sepertinya... efeknya akan kembali,"

Mata yang menyipit, kening yang mengerut, dan urat kepala yang tertarik; pertanda bahwa pria ini panik? Salah besar. Seorang staf medis tidak boleh panik ketika pasiennya sepertinya menunjukkan keadaan degradatif. Bagaimanapun juga, seorang staf medis harus mampu menghadapi keadaan semacam ini dengan kepala dingin. Namun...

"AARRGH! Kenapa pasien-pasien macam kalian ini susah diurus sih?! Mana tenang-tenang saja lagi menyampaikan hal sevital ini!?"

Baiklah, Brian Selvatine mungkin tidak setenang kelihatannya.

Pria ini segera melesat menuju dipan terdekat (yang sebenarnya berada di ruangan lain) supaya dapat digunakan kalau-kalau pemuda berambut hitam tersebut ambruk. Dengan gaya bicara semacam itu, pria ini tahu bahwa Silverius Girlani bukanlah orang yang akan panik; sebuah hal yang natural, bahkan terlalu biasa.

...terlalu biasa.

"Dan tangani wanita itu dengan baik. Dia kehilangan banyak darah..."

Brian mungkin ada di ruangan lain, namun suara Girlani masih dapat ia dengar. Lagipula, dengan pintu kecil terbuka sebagai pemisah antara ruang tunggu dengan ruang perawatan (nomor dua), bagaimana mungkin pria berambut pirang ini bisa melewatkan suara Silverius?

"Bilang itu pada tim dokter yang mengurusnya--dan mereka tidak perlu diberitahu demikian, bukan?" Brian membalas cepat sementara dirinya selesai membenahi ruang perawatan darurat. "Dan kau, tuan... oatuh sedikit dan berbaring. Kau perlu diperiksa lebih lanjut!"

...Panik? Bukan, Brian hanya peduli berlebihan; itu saja. Lebay? Sejak kapan Brian Selvatine tidak lebay?
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




[ASIA] We Met Tonight Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[ASIA] We Met Tonight
Back to top 
Page 1 of 2Go to page : 1, 2  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com