An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [ASIA] We Met Tonight

Go down 
Go to page : Previous  1, 2
AuthorMessage
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime4th January 2010, 16:03

Mata hitam pria Jepang itu terpaku pada lengan kanannya yang untuk sesaat tadi sempat bergetar di atas pahanya. Tidak, pria Jepang itu tidak heran melihat kejadian tadi. Sudah biasa, baginya, untuk melihat gejala-gejala bahwa efek samping dari Innocence-nya akan kembali - yang dalam kasusnya sekarang, sangat telat; entah apa sebabnya. Dan meskipun respon Selvatine yang terlihat sedikit kesal itu bukanlah hal yang biasa diterimanya, pria Jepang itu tetap bergeming seperti patung di atas kursi besi yang didudukinya.

"Bilang itu pada tim dokter yang mengurusnya - dan mereka tidak perlu diberitahu demikian, bukan?" Selvatine yang menghilang ke ruangan lain - entah untuk apa, pria Jepang yang sedang duduk di atas kursi besi tadi tidak tahu. Silverius hanya berharap Selvatine benar-benar telah membaca laporan medisnya sehingga bisa memberikan penanganan yang tepat sebelum...

KLANG!

Suara hantaman besi menggema di dalam rongga kepala Silverius yang spontan menutupi satu telinganya tempat suara tadi terdengar keras. Untuk gejala-gejala "pemanasan" itu, entah mengapa Silverius tidak pernah bisa membiasakan diri dengannya - bahkan setelah bergelut selama 14 tahun tanpa tanda-tanda adanya obat yang benar-benar efektif untuk mengobati "penyakit" si pria Jepang. Meskipun begitu, Silverius telah hafal dengan urutan gejala-gejala pemanasan ini - bahkan cukup sadar ketika gejala-gejala itu melanda tubuhnya; pertama-tama, suara besi itu, kemudian akan disusul oleh...

Sessssh!

Ya, suara itu; suara aliran darah yang membuat belakang kepalanya terasa hangat. Dan itu berarti tidak perlu menghitung sampai 60 sampai gejala berikutnya, yang adalah...

Hei?

Suara sobekan daging yang memilukan tulang dan membutakan penglihatan Silverius dengan semburat merah kasat mata yang akan meluas dengan cepat. Selanjutnya, ya, tubuh Silverius akan mulai bergetar sampai kepada kondisi di mana pria Jepang itu diresmikan kejang-kejang hebat. Tetapi seperti halnya efek samping Silvery Ouroburos yang datang terlambat tadi, sepertinya gejala terakhir dari rangkaian "pemanasan sebelum kejang" itu juga ikut-ikutan terlambat. Dan sekali lagi, hal itu hanya hinggap sebentar di dalam benak Silverius yang tidak tahu sama sekali bagaimana caranya semua keterlambatan itu bisa muncul. Selama 14 tahun terakhir, jelas-jelas efek sampingnya selalu tepat waktu, bahkan terkadang datang lebih awal dari jadwal, tetapi tidak terlambat. Tidak pernah, sejauh Silverius bisa mengingatnya - yang juga tak lebih dari 14 tahun yang lalu.

Dan ketika topik keterlambatan efek samping Innocence-nya itu terangkat dari benaknya, benak Silverius baru mengizinkan kalimat Selvatine tadi masuk ke dalam rongga kepalanya untuk dicerna. Tidak membutuhkan satu detik untuk mencerna kalimat itu dan pria Jepang itu mengakui kebenaran kalimat Selvatine. Staf medis Markas Cabang Asia yang sudah terkenal jelas akan menangani Nona Ormondi dengan baik.

Jadi mengapa pria Jepang yang anti sosial itu berkata demikian? Bahkan si pembicara juga tidak bisa berkomentar. Mungkin Silverius akan memikirkan alasannya lagi ketika dia memiliki waktu luang untuk berpikir panjang. Yang pasti, itu bukan sekarang - saat Silverius sedang menghitung detik yang terus berlalu sampai dia merasakan gejala terakhir dari rangkaian "pemanasan menuju kejangnya."

"Dan kau, Tuan... patuh sedikit dan berbaring. Kau perlu diperiksa lebih lanjut!" suara Selvatine kembali terdengar dari ruangan sebelah. Entah apa yang dikerjakan staf medis yang satu itu sehingga dia berlama-lama di dalam ruangan itu setelah berniat mengurusi Silverius yang mungkin sebentar lagi akan mulai bergetar hebat.

Tetapi pria Jepang itu tahu, kalau apapun yang dilakukan Selvatine, pastinya bukanlah bersantai-santai. Ya, ekspresi yang sempat terlihat dan kalimat-kalimat yang diutarakan dengan cepat oleh pria berambut pirang itu jelas-jelas tidak akan muncul apabila pria bermata biru itu sedang mengaso di atas dipan. Jadi Silverius pun segera bangkit berdiri dari kursi besi tadi, dan melangkahkan kakinya yang mulai berkeringat dingin seperti halnya kedua telapak tangannya.

Sambil memegangi sisi kepalanya, pria Jepang itu berjalan melewati pintu kecil yang dibiarkan terbuka oleh Selvatine. Sepasang mata hitam Silverius sempat melihat sosok staf medis berambut pirang itu, sesaat sebelum...

CRASH!

... semuanya menjadi merah. Semburat inilah yang telah dinantikannya, dan ketika rasa amis menyerang indera perasanya, Silverius tahu bahwa rangkaian "pemanasan menuju kejangnya" telah selesai. Inilah tingkatan terakhir, dan tanpa menunggu perintah otak, pria Jepang itu memuntahkan cairan amis berwarna merah pekat dari dalam mulutnya ke atas lantai Infirmary yang telah dipoles putih bersih dengan cairan anti bakteri. Saat ini, panca indera Silverius mulai menghilang fungsinya. Dimulai dari matanya yang tidak bisa melihat apapun kecuali semburat merah pekat yang perlahan menghitam, dilanjutkan oleh indera pendengarannya yang terus mengaburkan suara yang dikeluarkan si pria Jepang ketika dia memuntahkan darah dari mulutnya terus menerus.

Belum berhenti, indera penciumannya malah mulai menajam, mengendus udara yang seharusnya berbau sepat obat - namun telah beralih menjadi bau amis darah - sebelum otaknya tidak dapat menahan lagi tusukan-tusukan tak kasat mata pada indera penciumannya yang turut menghilang berbarengan dengan indera perabanya yang mengubah ujung-ujung jemarinya menjadi lunak seperti agar-agar - atau makanan apapun yang memiliki wujud yang sama yang telah ditemukan pada masa itu.

Dan ketika rasa amis yang mengeringkan lidahnya mulai sirna, Silverius telah terjembab ke lantai merah, bersimbah darahnya sendiri. Saat itu, kesadarannya telah sirna dan semakin menghilang ke dalam kegelapan batin seiring rambutnya yang sehitam malam mulai merona kemerahan karena genangan darah tempat pria Jepang itu berbaring telungkup sekarang.

Satu...

Dua...

Detik-detik itu berlalu dengan cepat, bahkan lebih cepat sehingga Silverius tidak mungkin sadar akan berapa banyak waktu yang akan dihabiskannya ketika tubuhnya mulai bergetar dan mengejang hebat. Mulutnya terbuka sedikit dan terus bergerak tetapi tidak dapat dikecapnya rasa cairan yang menyentuh lidahnya. Inikah akhir dari semuanya? Mungkin, ya, karena pria Jepang itu telah sering bermain-main dengan kesatuan tubuhnya; mungkin, tidak, karena bukan baru sekali pria Jepang itu mengalami hal seperti ini. Ya, semuanya tergantung dari caramu mengartikan cahaya di ujung lorong; apakah itu pintu keluar... atau kereta?
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime5th January 2010, 17:36

Brian Selvatine sudah terbiasa dengan amisnya darah.

Karena itu, mendengar sesuatu jatuh dan menghasilkan bunyi terjerembab di lantai, Brian tidak perlu mengatakan komentar bodoh semacam “see, I told you so” tepat di muka pria yang sempat berbincang dengannya. Bunyi tumpahan cairan yang menyentuh lantai mirip dengan muntahan, hingga pada akhirnya otak Brian hampir meregistrasi informasi tersebut sebagai muntahan biasa. Ketika mata birunya mengerling ke arah pemuda berambut hitam tersebut, dan bagaimana darah miliknya tersembur, otak Brian meregistrasi ulang informasi yang lebih akurat akan apa yang ia lihat dan ia cium.

Sebelum pikiran lain muncul dalam benaknya, Brian sudah keburu membopong pemuda berambut hitam tersebut dari lantai, tidak peduli dengan darah yang mengotori baju medis putihnya. Maaf saja kalau dirinya memang kesulitan menggiring pemuda tersebut ke dipan terdekat—tidak ada waktu untuk berteriak panik agar staf medis lainnya datang membantu. Lagipula, bila ia harus berteriak sekarang, ke mana harga dirinya sebagai seorang staf medis pergi?

Agak keras, pria berambut pirang ini membaringkan Sileverius di dipan. Dilihatnya tubuh dari pemuda Exorcist tersebut; dari fiturnya yang sudah kejang-kejang, sampai warna segar yang segera meninggalkan majah—hampir sekujur tubuh malah. Matanya juga menangkap bagaimana darah di lantai mengotori seragam pemuda tersebut, dari bawah hingga atas; kaki hingga rambut. Semuanya tidak memakan lebih dari satu detik, karena Brian segera peindah ke ruang sebelah—menghampiri rekannya yang sedang tidak sibuk.

“Bantu aku di ruang sebelah! Bawa sedatif, lap basah—kau juga! Bawa medical kit tipe B. KITA PUNYA SITUASI GAWAT DARURAT BUNG!”

Bila seseorang melihat wajah Brian sekarang, mungkin terlihat kontras dengan apa yang biasa ia lihat. Wajah pucat pasi tersebut pada kenyataannya masih menyimpan control; mungkin karena kurangnya pengalaman Brian dalam menghadapi kasus-kejang-kejang seperti ini?

Dokter dali balik tirai tempat Blanka dirawat terbuka, menampilkan dokter utama yang kini tampak akan mengamuk; suara keras dari Brian Selvatine memang sempat membuatnya risih, apalagi dengan keadaannya yang tengah mengobati sang Exorcist wanita sebelumnya. “Apa-apaan kamu, Selvatine! Jaga volume suaramu! Apa yang terjadi?” Dokter tersebut hanya mendesis, matanya berhadapan dengan iris biru Brian. Pada detik yang sama, mulut Brian mangap bak ikan kekurangan napas. Tak ada kata yang keluar, mungkin akibat bentakan rendah dari dokter tersebut, namun tangannya segera menunjuk ke ruang di mana Silverius berbaring; dokter tersebut dapat melihat pemuda tersebut terbaring di dipan, terima kasih karena pintu yang terbuka.

“Demi Tuhan…” dokter tersebut begumam rendah dan masuk ke dalam ruangan. Brian hendak mengikutinya, namun tangan dokter tersebut menghalangi. “Kau, tunggu di luar. Mulailah meracik ramuan yang resepnya tertulis di mejaku, atas nama ‘Silverius Girlani’.”

Brian hendak membiarkan rasa keras kepala menguasai dirinya, setidaknya untuk masalah ini. Namun, pintu yang menutup keras langsung di mukanya menutup mulutnya yang sempat mangap beberapa saat. Pengaruh refleks atau bau amis darah yang tersisa, tangannya mengepal sebelum kembali melemas. Kepala terangkat dan Brian pergi ke ruang dokter tersebut—dokter yang kini mengurus Silverius—dan tanpa sungkan menarik beberapa lembar kertas dengan nama sang pemuda berambut hitam.

Dirinya tidak berkomentar sama sekali; kepada siapa lagi ia harus berbicara? Hampir seluruh staff yang ada di sana sibuk mengurusi entah Blanka, Silv, ataupun pasien yang lain. Dia? Sebagai seorang staff medis yang baik dan salah satu peracik obat paling beruntung secabang Asia, Brian Selvatine memiliki perannya sendiri—duduk di balik meja, menambahkan berbagai macam tanaman herbal sesuai dengan apa yang tertera pada lembar resep obat untuk pemuda tersebut.

Pertama kalinya di cabang tersebut, Brian berharap ia tidak sekedar peramu obat-obatan…
Back to top Go down
View user profile
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime6th January 2010, 06:58

Sesosok tubuh yang tadinya tersembunyi selubung tirai putih ruang infirmari itu menyeruak perlahan ketika sang dokter yang menanganinya langsung meloncat menangani pasien berikutnya. Dengan telapak tangan masih menyentuh abdomen—mengelusnya pelan—wanita berambut gelombang keperakan itu terduduk di ujung dipannya. Iris ambernya menangkap sumber kegaduhan tepat di ruangan sebelah yang hanya dipisahkan oleh tirai tadi. Semuanya terjadi begitu cepat di iringi oleh teriakan gusar para staff medis dan Blanka hanya terdiam di ujung dipan untuk sementara—ya sementara karena walaupun badannya dibalut perban dari arah torso ke abdomen—sehingga kau bisa melihat kulit pucat dengan semburat jalur hijau-biru di sekitar bahunya—sang wanita beringsut perlahan ke bagian dipan yang berhadapan dengan tubuh sang pemuda yang mengejang tak karuan.

Diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun saat melihat muntahan familiar itu terciprat ke sekitarnya dari tubuh yang mulai memucat dan kehilangan suhu tubuh, berkebalikan dengan dirinya, Blanka mulai bisa merasakan kehangatan yang berasal dari deru aliran darahnya mulai kembali namun tetap saja kulitnya masih berkilau pucat dan memang tetap akan begitu kecuali dia memutuskan untuk mandi sinar matahari—berjemur—yang rasanya sangat mustahil untuk dirinya. Memperhatikan punggung-punggung putih yang berkeliaran setengah gila, meracaukan istilah-istilah medis yang tak ia tahu.

Blanka memang bisa menangani luka terbuka, lecet, sayatan atau bahkan patah tulang—setidaknya pertolongan awalnya—namun kejang-kejang adalah suatu hal yang tidak berada di jangkauannya. Wanita berusia 22 tahun itu juga sadar kalau ia ingin kembali ke kamarnya ini adalah momentum yang tepat, semuanya teralihkan oleh penyakit pemuda Asia di depannya yang baru saja kambuh... namun entah kenapa tak ia lakukan.

Menyadari ada seorang staff—dengan bercak merah gelap pada garmennya—yang melewati dirinya, menuju ke ruangan dokter dan kembali dengan beberapa lembar kertas, bibir mungilnya terbuka pelan, mengucapkan kalimat yang tertahan sedari tadi di kerongkongannya.

“Apa ia akan baik-baik saja..?” ia bertanya pada pria tersebut.masih dengan suara lemah, lembut namun terkesan dingin pada saat yang bersamaan.

Kalau saja tidak ada semua kegaduhan ini pastinya Brian bisa menangkap pancaran rasa iba dari tatapan wanita muda itu. Mungkin juga ada perasaan lain yang mengaliri tubuhnya, suatu sensasi asing yang tak dapat ia interpretasikan sendiri. Sensasi asing yang telah lama terpendam jauh di dalam nurani Blanka.

Melirik sekilas ke tubuh yang separuhnya tersembunyi punggung-punggung warna putih yang berkelebatan liar—mungkin sama liarnya dengan gerakan tubuh pria yang tak ia tau namanya. Tak memedulikan rasa nyeri yang tentu saja masih terasa dari lukanya yang telah tertutup.

Dan tanpa menanti respon Brian pun ia tahu kalau ia akan menunggu Silverius hingga sadarnya kembali.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime9th January 2010, 00:47

Terguncang dan terangkat, sebelum dibaringkan dengan "hati-hati" di atas dipan yang telah disiapkan Selvatine, jelas Silverius telah melewatkan semuanya itu selagi tubuhnya kejang hebat dan panca inderanya tak cukup kuat untuk tetap aktif.

Lalu bagaimana dengan warna kulit yang kian memucat? Apakah Silverius merasakan darah menghilang dari permukaan kulitnya? Lagi-lagi tidak; seperti halnya pria Jepang itu tidak merasakan darah yang mulai mengering di berbagai bagian tubuhnya, demikian juga dengan tekstur seragamnya yang seharusnya sudah tidak nyaman dikenakan karena kebanyakan bagiannya sudah bersimbah darah.

Kemudian suara-suara yang berkumandang dalam frekuensi yang nyaris sama; pertama Selvatine, lalu dokter di bilik sebelah, terutama suara yang entah berapa besar amplitudonya mengingat perlu konsentrasi penuh untuk menangkap kata-kata - yang seharusnya bernada cemas - yang terlontar dari mulut mungil si pembicara (Ormondi, red), semuanya telah terangkum dan terkumpul di daun telinga Silverius, tetapi tidak ada impuls yang bergerak naik menuju otak si pria Jepang. Bahkan Silverius tidak mendengar nama lengkapnya disebut.

Apabila ada obat yang dimasukkan secara paksa ke dalam mulutnya, akankah Silverius merasakannya? Mungkin inilah salah satu keuntungan kejang-kejang hebat; tidak merasakan sepatnya ramuan obat yang mengalir masuk melewati lidahmu, menyusuri kerongkonganmu sampai ke lambung. Juga apabila belasan orang menampar wajahmu, menanyakan kesadaranmu, tidak akan terasa sedikitpun rasa sakit. Ya, ketika kau sedang kejang-kejang, rasanya mirip ketika kau menggunakan morfin; kau merasa tak terkalahkan, dan semuanya berlangsung sangat cepat seperti kilasan-kilasan cahaya yang diputar dengan sangat cepat seolah-olah kau adalah manusia tercepat di dunia ini, tetapi langkah hidupmu semakin dekat kepada figur yang sering digambarkan sebagai tengkorak tinggi pembawa arit raksasa yang dibalut oleh jubah panjang robek-robek yang juga sering dinamai "Grim Reaper".

Jadi, apakah Silverius Girlani akan selesai sekarang? Inikah akhir dari kisahnya?

Salahkan dewa kematian - kalau makhluk itu benar-benar ada - karena terlalu malas merenggut nyawa Exorcist dari Jepang itu, tetapi nyatanya suhu tubuh Silverius tidak menghilang sepenuhnya sekarang, malah semakin meningkat setelah jarum panjang pada jam dinding terdekat hampir menyelesaikan satu putaran sejak tubuh pria Jepang itu tumbang ke lantai yang sekarang sudah bernoda merah itu. Entah apa yang terjadi ketika Silverius masuk "mode kejang", pria Jepang itu tidak tahu, karena panca inderanya baru mulai berfungsi lagi sekarang.

Seperti halnya ketika dia memasuki "mode kejang", pemulihan dirinya juga tidak terjadi secara instan, namun bertahap. Dimulai dari menelusupnya partikel-partikel bau pada rongga hidung Silverius serta gelombang-gelombang suara yang telah dikumpulkan oleh kedua daun telinganya yang terdengar seperti dengungan lebah yang lembut, lalu rasa amis pada lidahnya yang kering dan entah sejak kapan telah menempel ke langit-langit mulutnya. Rasa amis itu juga disertai oleh rasa ngilu pada barisan gigi Silverius seperti telah menggigit sebuah benda keras, dan diikuti dengan cepat oleh tekstur kain bernoda darah yang menusuk setiap inci kulit si pria Jepang yang bersentuhan dengan sprei dipan dan seragamnya yang sudah tidak sepenuhnya hitam-putih lagi.

Terakhir, seiring dengan terbukanya mata Silverius, semua inderanya mulai kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Bayangan-bayangan putih-abu-abu mulai mengambil wujud kepala dan badan para staf medis, dan suara-suara yang tengah dikumandangkan mulai terdengar lebih jelas dan teratur di telinga Silverius. Tidak hanya itu, tanpa kesulitan Silverius melepaskan lidahnya dan berdeham serak beberapa kali sembari mengecap rasa amis darah yang entah sudah sejak kapan melekat di lidahnya. Gerakan otot sederhana itu tidak berhenti sampai di situ, tetapi dilanjutkan oleh sebuah tarikan nafas dalam yang mengisi rongga hidungnya dengan berbagai macam bau-bauan - yang kebanyakan tercium seperti besi - dan rongga dadanya penuh dengan udara. Dan ketika mulutnya menghembuskan karbon dioksida dan gas-gas lainnya yang tidak diperlukan tubuh, Silverius mampu menggerakkan jemarinya; sedikit demi sedikit, dan dilanjutkan ke siku dan lengannya. Saat nafasnya melambat hingga menyamai tempo teratur orang normal, Silverius sudah bisa merasakan seluruh tubuhnya, terbaring di atas dipan dingin yang tidak begitu nyaman ditiduri setelah ternoda darah; terbalut seragam Exorcist tak berlengan dengan jubah panjang yang telah bernoda di mana-mana.

Tetapi pria Jepang itu belum bangkit, bahkan belum membuat gerakan yang berarti dari tempatnya terbaring sedari tadi, kecuali menggeser kepalanya sedikit sehingga dia bisa melihat semua orang yang berada di dalam infirmary; orang-orang berjas medis putih yang tak mau ketinggalan memiliki noda berwarna merah darah serupa dengan seragam Silverius sekarang, juga ramuan obat dan berbagai perlengkapan medis di sekitar mereka. Dengan cepat mata hitam Silverius berpindah dari satu staf Medis ke staf Medis lainnya, mengenali wajah mereka satu per satu - terutama wajah Selvatine yang berambut pirang sendiri di antara kepala-kepala berambut hitam atau coklat - dan berhenti pada sesosok siluet di balik tirai yang telah sedikit tersingkap. Siluet itu tak lagi berbaring seperti informasi terakhir yang bisa diberikan oleh memori Silverius, tetapi tegak, entah duduk atau berdiri pria Jepang itu tidak bisa menebak dengan tepat dengan adanya tirai itu. Yang jelas itu berarti kondisi wanita yang berada di balik tirai itu telah membaik, dan untuk itulah, Silverius menghembuskan nafas lega sembari menyunggingkan senyum lemah sekuatnya. Sekali lagi, Silverius melupakan kondisinya yang baru pulih dari kejang-kejangnya.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime9th January 2010, 10:47

Ada kalanya bukan, ketika seorang staf medis terpaku diam dan dirinya lebih dari apa dirinya sekarang? Semua manusia juga demikian—dan Brian Selvatine juga seorang manusia normal yang kebetulan menjadi staff medis bagian peracik obat-obatan.

Bila saja… ia bisa lebih dari itu.

Pemuda berambut pirang ini mendadak diam. Tangannya yang memegang kemasan obat milik Silverius (Oh, Selvatine memang cekatan dalam membuat obat bukan?) menghentikan kegiatannnya—berhenti, seakan-akan ada definisi waktu sudah kehilangan arti. Tidak pernah dalam hidupnya ia berangan-angan untuk menjadi sesuatu yang lebih, karena baginya meracik obat-obatan adalah bidang kesukaannya. Dunia bedah-membedah dan soal internis tidak menarik baginya. Sekarang, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa pengobatan secara internis… merupakan sesuatu yang ia dibutuhkan banyak orang; sesuatu yang tidak ia suka.

“Apa ia akan baik-baik saja..?”

Waktu seperti berputar kembali, karena pemuda berambut pirang ini kini berpaling ke arah suara gumaman—milik wanita itu jelas. Bila saja pemilik suara tersebut tengah duduk di tempat, kemudian beristirahat dengan tenang layaknya pasien yang baik, Brian Selvatine tidka mungkin membelalak ke arah wanita tersebut.

“Nona, sebaiknya anda juga beristirahat terlebih dahulu. Soal pemuda itu, yah…” Tangan kirinya menggaruk-garuk onggokan pirang yang ada pada kepalanya. Mata yang membelalak tersebut kini, setidaknya, berubah menjadi sorot mata yang lebih baik. Sikap bersemangatnya masih ia simpan baik-baik; tentang hal itu, memang sudah ada pada diri Brian sejak kecil. “Sejauh yang aku tahu, dia sudah lama mengalami hal ini.” Brian berhenti sejenak. Kepala sempat menunduk ke lantai; hal-hal semacam itu... hal-hal yang pasti mengekori Exorcist dengan tipe Innocence parasit akan terus menjadi beban, baik fisik maupun mental. Seperti pasien yang menderita penyakit kronis—hampir tak ada harapan untuk sembuh.

“Tenang saja. Bila ia bisa menahan kesakitan tersebut sampai sejauh ini, tentunya ia masih bisa bertahan terus bukan? Lagipula…” Senyum optimis kembali terpampang pada wajahnya. “…rekan-rekanku sudah biasa menanganinya juga.”

Mata biru menangkap bagaimana tirai dibuka, menampilkan kumpulan figur berbaju putih; rekan-rekan staff medisnya. Di balik salah satunya adalah Exorcist berambut hitam yang ia anggap bebal dalam menaati nasehat kelompok mereka. Salah satu dari rekannya menyingkir, agar wajah pasien tersebut kini dapat dilihat jelas—setidaknya, bagi Brian dan Blanka. Ia dapat melihat bagaimana mata merah tersebut bergerak dan bagaimana bibir tersebut melengkung untuk membentuk senyum.

Dan Brian? Yah, tangannya sekarang sudah di pinggang—bersama dengan senyum super optimistiknya. “See, I told you so!




OOT: IM kalau saya salah deskrip atau ada masalah Neutral and yeah, it's short... but we love shorties, don't we? *shot*
Back to top Go down
View user profile
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime9th January 2010, 15:33

Mendapatkan pandangan terbelalak sebagai balasan dari sang staff medis yang nampaknya masih saja memperhatikan detil kalau abdomennya seolah-olah berlubang padahal belum serta belum juga nyaris berlubang. Namun tentu saja Blanka tak mengindahkan nasehat bijaksana Brian, ia memang jarang mendengarkan orang lain jika menyangkut masalah yang satu itu.

Ia sudah kenyang.

Iris amber itu menatap lurus ke arah sang pemuda—masih dengan mimik seperti ‘itu’ yang memang sering melekat di parasnya—ia tampaknya semakin lama semakin membaik dan saat ocehan Brian berhent, merekam fakta kalau penyakit Silverius adalah penyakit kambuhan, sang wanita Hungaria mengeluarkan suara dalam satuan desibel yang rendah.

“…aku tak apa-apa Selvatine--” kalau tidak salah dengar pria itu bernama Selvatine kan? Dan begitu Blanka mengakhiri kalimatnya ia tersadar kalau sang pria berambut hitam di seberang ranjangnya itu telah siuman. Tatapan—yang entah kenapa terkesan lembut—teralamatkan padanya, begitu pula dengan sebuah sunggingan senyum di paras Silverius. Selvatine sendiri tampak begitu puas dan senang begitu melihat pemuda Asia itu pulih.

Ia membalas tatapan itu, iris matanya sedikit melebar yang mungkin menandakan kelegaan atau heran dengan maksud sorot mata serta senyuman sang pemuda. Mungkin jika saja wanita bermahkota keperakan itu tak mengalami kepahitan yang tertatah permanen—sampai saat ini—ia telah membalas senyuman Silverius. Namun bagi Blanka yang sekarang senyuman itu telah punah. Bahkan ia sudah tak tau kapan terakhir sebuah senyuman terlukis dari bibirnya.

Merundukkan pandangan dan menarik tirai putih yang sekali lagi menghalangi tatap-pandang mereka—Silverius tepatnya. Membenahi seragam hitamnya dan lagi-lagi kulit pucat bersemburat jalur peredaran darah yang memang selalu ia sembunyikan—terkadang ada saja yang melihatnya dengan risih—kembali tertutup rapat.

Setelah sang pria siuman ia tak punya alasan lagi berada di sini kan? Tak memperhitungkan luka dirinya sendiri tentu saja. Lagipula ia telah merasa lebih baik, setidaknya ia bisa berjalan ke kamarnya sendiri untuk beristirahat lebih lanjut.

Menghembuskan nafas panjang sebelum menjejakkan telapak kakinya yang putih ke lantai infirmary, memasang ankle boot berwarna hitam dengan rapi, dan menegakkan tubuhnya, bersiap meninggalkan infirmary walaupun dengan telapak tangan yang tetap melingkari bagian tubuhnya yang terluka. Tanpa mengindahkan semua nasihat Selvatine atau juru medis lainnya. Hanya ucapan terimakasih lemah yang keluar dari sela-sela bibirnya selain itu ia meneruskan langkahnya ke pintu keluar-masuk.

Langkah demi langkah… melewati bilik infirmarynya dan ranjang pesakitan Silverius. Hampir, karena tiba-tiba ia menghentikan langkah tepat di sana. Menoleh hening pada sang pemuda dan menatapnya… disusul dengan sebuah pertanyaan dari suara yang kekurangan emosi.

“….siapa namamu?”

Setelah itu; hening.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime9th January 2010, 16:27

"See, I told you so!"

Impuls syaraf pendengaran Silverius tidak terlambat menghantarkan kalimat Selvatine barusan, hanya saja seluruh indera Silverius yang lain terus memecah konsentrasi Silverius dengan berbagai hal baru yang dirasakannya. bagaimana para staf Medis mulai bergerak ke sana ke mari mempersiapkan prosedur standar yang juga sering diterimanya apabila dia "kumat", juga bau darah yang menodai dipan dan lantai serta entah berapa bagian jas dokter para staf Medis, semuanya terasa baru bagi Silverius yang mulai mengambil alih tubuhnya lagi. Terutama ketika kepalanya yang masih condong ke arah Exorcist wanita berambut nyaris putih yang ternyata sedang duduk di atas dipan.

'Perutnya... sudah baikan, kah - sehingga dia bisa duduk seperti itu?' tanya Silverius di dalam benaknya tanpa melunturkan senyum lemah yang masih terpasang di wajahnya.

Tetapi perhatian Silverius kembali teralih ketika Nona Ormondi membalas senyumnya dengan cara yang sangat tidak biasa, karena indera penglihatan dan nalar Silverius mencerna sinyalir-sinyalir dari wanita di hadapannya itu sebagai wujud rasa heran, meskipun Silverius juga tidak mengharapkan wanita yang tidak pernah tersenyum itu melontarkan senyum kepadanya yang baru saja kejang-kejang hebat beberapa detik yang lalu.

'Setidaknya, jangan pergi dulu, Nona Ormondi...'

Sayangnya wanita berambut nyaris putih itu malah melakukan yang sebaliknya. Mata Silverius melebar perlahan melihat Nona Ormondi turun dari dipan dan mengenakan kembali sepatunya setelah menghela nafas panjang yang dilanjutkan dengan langkah-langkah yang tidak begitu panjang mengingat perutnya baru ditangani oleh para staf Medis sejak Silverius masih duduk dengan tenang, menantikan gejala-gejala "pemanasan menuju kejangnya", dan hanya berkedip sesekali ketika mencanangkan kedua manik hitamnya kepada sosok yang sebentar lagi akan melewati dipannya...

... dan berhenti.

Lebih bagus lagi; menoleh...

... dan bertanya, "siapa namamu?"

Sungguh, Silverius bukanlah orang yang bodoh, tetapi kali ini, meskipun impuls syarafnya telah menghantarkan pertanyaan Nona Ormondi, nalarnya masih belum bisa mencerna dua kata singkat itu dengan baik. Mulut yang terbuka sedikitpun tidak terbuka untuk menjawab, tetapi karena termangu. Matanya yang masih terpaku kepada sosok wanita berambut nyaris putih itu akhirnya mengerjap tiga kali dan nalarnya langsung mencerna pertanyaan Nona Ormondi dengan cepat.

'Siapa namamu?'

Tidak ada maksud yang tersembunyi di sana, itu jelas, hanya pertanyaan sederhana yang entah mengapa memerlukan waktu yang lama untuk menghasilkan jawaban yang juga dengan jelas telah diketahui oleh pemuda bernama Silverius Girlani itu; hanya tinggal mengucapkannya, dan entah mengapa itu membutuhkan waktu yang lama meskipun mungkin otaknya telah mengirimkan impuls ke otot-otot artikulatornya untuk mengucapkan:

"Silverius Girlani."

Dua kata lainnya yang hanya sedikit lebih panjang dari dua kata yang diutarakan wanita berambut nyaris putih di hadapannya itu, namun entah mengapa bisa memberikan ekspresi lega yang tidak jelas asalnya, namun sangat menentramkan dan melegakan dada Silverius yang entah sedari kapan berhenti mengambang dan mengempis teratur.

"Silverius Girlani," ulang pria Jepang itu lagi. Ya, itu namanya.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime9th January 2010, 20:52

Butuh waktu lebih dari sedetik bagi Silverius untuk menjawab pertanyaan yang terlalu mudah itu dan di dalam hati Blanka bertanya sendiri. Apa mungkin pertanyaannya kurang jelas sehingga ia harus mengulangnya? Tentunya bukan kali pertama seseorang merasa kalau suaranya terlampau kecil untuk didengarkan dan atau mungkin efek kejang-kejang penyakitnya merambah ke otak. Bisa saja peredaran darah yang menuju ke organ sel abu itu terhambat dan setaunya hal itu cukup dapat menyebabkan keterlambatan proses pikir.

Ia hampir saja menyebutkan pertanyaannya sekali lagi sebelum ia mendengarkan suara yang akhirnya terlepas dari bibir Silverius.

"Silverius Girlani."

Silverius?

Blanka tak berpaling, tetap menatap lurus pria itu dan belum juga mengucapkan sepatah kata pun. Dan tak berselang lama ia bisa mendengar pria itu mengulang kalimat yang sama.

"Silverius Girlani,"

Kali ini sorot mata wanita Hungaria itu menunjukkan sesuatu yang lain. Sekilas lebih bersahabat, ya setidaknya Blanka merasakan keingin-tahuan akan nama sang pemuda dan tidak lebih dari itu—setidaknya sampai saat ini.

Silver… perak? Ya perak, atau yang dalam bahasa ibunya berarti…

Ezüst…?”

Wanita kelahiran Budapest tersebut mengalamatkan kata asing itu pada pemuda Silverius dengan suaranya yang dingin namun juga lembut, kontradiktif namun nyata. Entah pria itu mengerti arti kata tersebut atau tidak Blanka tetap melanjutkan apa yang harus ia ucapkan dan memang ingin ia ucapkan dengan nada signature-nya.

“…terimakasih,”

Ya itu saja cukup bagi Blanka, cukup untuk sebuah permulaan…

Tak mengucapkan namanya sebagai balasan—Silverius tidak dan belum sempat bertanya kan—ia menyingkirkan sorot amber itu dari sang pemuda dan berjalan kembali ke arah semula. Membuka daun pintu yang berderit sumbang dengan telapak tangan yang bebas. Rambut bergelombang wanita berusia 22 tahun itu melambai lembut sebelum benar-benar ditenggelamkan gelapnya ruang koridor.

Dalam hati ia merasakan dorongan yang membuatnya menghentikan langkahnya di tengah koridor, melirik sumber cahaya dari arah sana. Namun bukan kemilau itu yang memaku telapak kakinya… bukan itu. Melainkan…

Felejtsd el azt.

Menepis apapun yang melintas di benaknya, sekaligus keraguan yang sempat terbesit sambil bergeleng pelan dan melanjutkan langkahnya kali ini dengan lebih cepat. Tetes-tetes cairah merah tua di koridor tadi telah tiada tanpa bekas—tampaknya seseorang baru saja membersihkan itu—namun kesan yang diberikan pemuda yang tersenyum padanya tadi tidak akan menguap dengan cepat.

Membekas di memorinya.

Tak ingin ia lupakan.

Walaupun sekarang wanita itu menolak untuk menyadarinya…



[Blanka OUT]





Arghh selesaii... silahkan Silv post bwt closing atau Brian.

Thanks for this nicely written RP all =D

*Felejtsd el azt : Forget it

Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime10th January 2010, 23:19

Quote :
Silverius Girlani.

Namanya tidak menggema di ruangan Infirmary, dan rasanya tidak begitu banyak orang yang merespon percakapan super pendek antara kedua Exorcist itu, tetapi entah mengapa Silverius dapat merasakannya menggema di rongga telinganya, seolah-olah dia mendengarnya dari balik pegunungan.

Tetapi diabaikannya salah satu efek samping dari kejang-kejangnya barusan ketika Silverius melihat respon yang tersirat dari wanita yang tadi menanyakan namanya; sebuah tatapan yang lebih bersahabat dibandingkan dengan tatapan lurus yang tegas menusuk yang sering sekali - kalau tidak selalu - ditampilkan oleh sepasang mata amber itu, serta sebuah kata yang tidak dimengerti si pria Jepang yang masih terbaring di atas dipan kotor itu.

"Ezüst... ?"

Berusaha mencerna arti kata itu, kening Silverius yang berkeringat mengerut. Bahkan mengingat volume suara Nona Ormondi yang membutuhkan konsentrasi lebih untuk mendengarnya, Silverius sendiri tidak begitu yakin dia mendengar kata yang tepat. Mungkinkah indera pendengarannya yang bisa mendengar pertanyaan wanita berambut nyaris putih di hadapannya tadi kembali memburuk? Rasanya tidak mungkin.

Masih berusaha mencerna arti kata yang tersusun oleh dua buah "fonem" itu, Silverius tidak bisa melewatkan sepercik nada lembut yang terdengar di balik dinginnya intonasi Nona Ormondi. Bagaimana tidak? Dia sudah menghabiskan setengah malam ini mengejar, mencoba berbicara, membopong, dan berbagai macam wujud interaksi sosial lainnya, dengan Nona Ormondi yang namanya juga tidak begitu jelas terdengar ketika mereka bertemu di Infirmary untuk pertama kalinya tadi. Dan dari sepercik nada itulah Silverius yakin kalau kata yang didengarnya tadi bukanlah sebuah makian. Entah apa fungsinya, Silverius juga tidak begitu mengetahuinya, tetapi kemungkinan besar itu bukanlah kata yang akan kau ucapkan ketika kau sedang marah.

Atau sampai di situlah buah pikiran Silverius ketika Nona Ormondi kembali bersuara.

"... terimakasih."

'Tung-'

yang segera disusul oleh suara mendecit yang tidak pernah disukai Silverius.

KRIIIITTT!

Tidak ada waktu untuk menutup telinganya ketika pintu Infirmary mendecit terbuka, bahkan Silverius tidak berpikir untuk menutup telinganya tadi ketika matanya terpancang pada pintu Infirmary, tempat terakhir dia melihat Nona Ormondi malam ini. Kepalanya masih miring dan matanya belum berkedip sama sekali ketika sebuah dorongan untuk bangkit berdiri dan kembali mengejar wanita berambut nyaris putih itu; sangat kuat, seperti maut, perasaan itu mendorong dan berusaha menggerakkan anggota-anggota gerak Silverius, tetapi kali ini, ketika para staf Medis sedang menjaganya tetap di atas dipan sembari menjalankan prosedur rutinnya seusai kejang-kejang, pria Jepang itu hanya bisa menyerah dan tetap berbaring di atas dipannya. Sebuah hembusan nafas panjang yang terdengar seperti sebuah penyesalan dan kepasrahan keluar dari mulut Silverius dan pria Jepang itu menutup matanya.

Bahkan dia belum sempat mengklarifikasikan nama lengkap wanita yang baru saja menghilang ke dalam koridor gelap di balik pintu tadi, karena hanya nama belakangnya lah yang Silverius yakin telah didengarnya dengan baik.

'Nona Ormondi, aku akan menemukanmu.'






THE END





Dengan ini, "We Met Tonight" secara resmi selesai. Nice to have roleplayed with you all.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Sponsored content




[ASIA] We Met Tonight - Page 2 Empty
PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   [ASIA] We Met Tonight - Page 2 I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[ASIA] We Met Tonight
Back to top 
Page 2 of 2Go to page : Previous  1, 2

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com