An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[ASIA] Shadow of the Past I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [ASIA] Shadow of the Past

Go down 
AuthorMessage
Tek Xiao Ling
Vatican Central
Tek Xiao Ling

Posts : 330
Umur : 27
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 23

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime15th November 2009, 19:24

Note : saya lagi dalam angsty-mood tingkat akut, jadinya bikin beginian. Terbuka bagi siapapun yang mau berdoa, tapi dilarang merusuh.
Timeline : 20 Januari 1880, setelah Pencarian Teman Sekamar. Pukul 7 pagi.
Location : Kapel




Pagi itu, angin dingin berhembus seperti biasa. Tapi tidak seperti biasanya, Xiao Ling mengenakan seragam Exorcist-nya yang lama; yang masih sangat rapi dan tidak dimodifikasi sama sekali. Seragam lamanya, yang hampir tidak pernah ia kenakan lagi sejak ia diangkat menjadi General 2 tahun silam. Tapi khusus hari itu, ia mengenakan seragam itu, yang berlengan panjang dan dengan celana panjang yang membungkus seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala dan tangannya. Ia pun mengenakan jubah bepergiannya, yang biasanya hanya ia pakai saat hendak menjalani suatu misi.

Tapi ia tidak sedang akan menjalani misi. Kakinya membawanya ke sebuah kapel di dalam markas. Ia membuka pintu kapel itu perlahan, lalu berjalan masuk dan mengambil tempat di barisan kanan-belakang. Ia berlutut, menelungkupkan kedua tangannya, dan menundukkan kepalanya khidmat.

"Ave María, grátia plena, Dóminus tecum
Benedícta tu in muliéribus et benedíctus fructus ventris tui, Iesus
Sancta María, Mater Dei, ora pro nobis pecca tóribus
Nunc et in hora mortis nostrae, Amen.
"

Sebuah doa singkat dalam bahasa Latin meluncur dari bibirnya. Itu adalah satu-satunya doa dalam bahasa Latin yang ia tahu, yang ia pelajari dari almarhum Master dan kakaknya sendiri, Wang Zhui Long. Ia membuka matanya perlahan, menatap altar yang berada jauh di depannya, menatap salib suci yang terpampang di belakang altar itu.

"...'salib' ini terasa semakin berat..." bisiknya pelan sambil menatap kedua punggung tangannya, pada tato kupu-kupu berwarna hitam pekat di sana.

_________________
[ASIA] Shadow of the Past Lingsiggy
"My battle, my rule. Do not protest."
-Tek Xiao Ling-


Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Back to top Go down
View user profile http://china-rollz.livejournal.com
Heidrich Kohler

Heidrich Kohler

Posts : 50
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 12 tahun

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime15th November 2009, 20:40

Bahkan bocah pengacau pun boleh berdoa, bukan?

Heidrich Kohler; 12 tahun, Troublemaker Extraordinaire, The Little Devil. Bocah ini sudah menyandang gelar tersebut seminggu sejak ia berdomisili di tanah Asia ini. Bocah ini terkenal akan kelakuannya, agar ia bisa diakui di tempat karena dia adalah dia--bukan karena figur seorang anak dari Jendral di cabang Eropa sana, atau karena mata coklat-kekuningannya mengingatkan beberapa orang akan sosok duda berambut pirang di belahan bumi barat. Apa yang ia lakukan adalah demi identitas dirinya.

Apakah dia salah? Heidrich Kohler tidak pernah memikirkannyal; bagaimanapun juga, ia masih seorang bocah--belum menjadi orang.

Sebagai seorang pengacau dengan reputasi ketat, tentunya bocah ini sedang merencanakan sesuatu yang heboh. Karena itu, siapapun yang pasti melihta bocah ini berjalan menyusuri koridor pasti akan berpikiran demikian. Padahal, dengan tatap wajah datar yang tidak seperti dirinya, Heidrich Kohler tidak memikirkan apapun yang berkaitan dengan hal tersebut. Mata coklat kekuningan hampa--sedikit merah karena air mata.

Teriakan yang terus menggema.


Kaki melangkah, terus hingga akhirnya sang bocah berdiri di tempat paling terakhir yang akan ia kunjungi di akhir minggu ini: Kapel. Tangannya membuka pintu kokoh tersebut; agak kesulitan, namun ia mampu membukanya. Gurunya tidak percuma mendidiknya tanpa ampun.

Bicara soal guurnya, mata coklat kekuningan miliknya menangkap figur seseorang tengah berdoa, di depan; Sosok gurunya.

Tatapan mata coklat segera turun menatap lantai kosong, sementara kakinya melangkah kembali ke kursi paling belakang. Tangannya berada di kepala kursi di depannya, sementara kepala terkulai. Wajah kecilnya kini tak kelihatan, padahal bulir air mulai mengucur dari kelenjar air mata. Bukan sebuah doa formal, di mana orang lain bisa melihat dan menilai bahwa pengacau ini tengah berdoa. Hanya sebuah permintaan kecil dari seorang bocah yang menjadi saksi dari keputusan Tuhan untuk mencabut nyawa ibunya, untuk kedua kali.

Lieber Gott,
Ich weiß, ich verdiene keine Begnadigung,
aber bitte,
Geben Sie meine Mutter eine angemessene Ruhe,
weil meine Sünde ist keine Sünde,
Ich bitte dich, o Herr.*)


Teriakan ibunya yang berada dalam wujud akuma masih terngiang di kepalanya, menghantuinya dalam tidur. Takut; ia merinding.




OOC: ... Iya, saya tahu, Heidrich kurang ngacau belakangan ini.

*)Ya Tuhan,
Aku tahu aku tidak pantas mendapat ampunan,
namun tolong,
berikanlah kepada ibu ketenangan yang sepantasnya,
karena dosaku bukanlah dosanya,
aku mohon, ya Tuhan.
Back to top Go down
View user profile
Tek Xiao Ling
Vatican Central
Tek Xiao Ling

Posts : 330
Umur : 27
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 23

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime21st November 2009, 13:47

Suara pintu yang terbuka dan langkah kaki membuatnya agak terkejut. Apakah ada seseorang yang masuk ke dalam kapel itu? Spontan ia langsung berdiri dan berbalik ke arah pintu... hanya untuk menemukan anak didiknya sendiri sedang berlutut khidmat di salah satu barisan kursi. Anak itu tampak begitu tenang, begitu khidmat.

Berdoa untuk ibunya kah?

Tidak. Xiao Ling tidak akan bertanya, apalagi mengganggunya. Dan ia juga tidak akan memberitahunya kepada siapapun. Tak akan juga ia tulis dalam surat ataupun laporan perkembangan anak itu. Perkembangan teknik bertarungnya wajib dilaporkan, kenakalannya yang luar biasa juga patut dilaporkan. Tapi kelemahan, kerapuhan, dan kesedihannya? Tidak penting. Ia tidak mau membuat siapapun yang membaca laporannya merasa cemas. Tidak ada yang perlu tahu tentang segala kerapuhan anak itu. Ezekiel Wright pun tidak perlu tahu.

...meski Ravel Kohler pasti tahu, tanpa perlu dilaporkan.


Xiao Ling menghela nafas pelan. Ia sempat berpikir untuk meninggalkan saja Heidrich merenung sendirian di kapel itu. Tapi, apakah itu tindakan yang tepat? Selama ini, setiap kali bocah itu bertindak di luar kebiasaannya, Xiao Ling langsung meninggalkan anak itu sendirian untuk merenung. Ia yakin itu adalah cara paling efektif untuk mengembalikan mood anak itu... benarkah?

Dia masih 12 tahun... Masih 12 tahun, sama seperti waktu aku bergabung dengan Black Order. Sementara bagaimana aku memperlakukannya selama ini, sama seperti Zhui Long memperlakukanku yang sudah berusia 18 tahun.

Sebuah senyum miris tersungging di bibirnya. Ternyata perlu waktu selama itu baginya untuk menyadari bahwa...

...ternyata selama ini memang aku yang salah mendidiknya...

Ia berjalan perlahan ke tempat Heidrich berdoa. Ia berusaha agar jangan sampai langkahnya bersuara, karena ia tidak ingin mengganggu doa anak itu. Ia lalu duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari tempat Heidrich berdoa.

Lalu, diam. Sang jendral wanita itu tidak tahu apa lagi yang harus ia perbuat. Kekasih saja tidak pernah punya, tahu-tahu sekarang ia harus mengurusi anak orang lain. Selisih umur keduanya pun tidak cukup jauh untuk membangun perasaan semacam 'ibu dan anak'. Sekali lagi, Xiao Ling menghela nafas pelan. Mungkin memang belum saatnya ia mengambil Disciple. Tapi apa mau dikata, permintaan Ravel waktu itu terlalu menyakitkan untuk ditolak.

Aku memang tidak pantas menjadi guru ataupun orang tua bagi anak ini...

_________________
[ASIA] Shadow of the Past Lingsiggy
"My battle, my rule. Do not protest."
-Tek Xiao Ling-


Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Back to top Go down
View user profile http://china-rollz.livejournal.com
Li Lian Jie

Li Lian Jie

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime21st November 2009, 20:12

Kapel, ya? Lian Jie tak sengaja melewatinya ketika ia sedang membaca buku setebal dua tumpukan batu bata sambil berjalan. Di depan pintu berdaun dua itu, dia berdiri tak bergeming memandangi pintunya dengan bukunya dibiarkan terbuka di tangan kirinya. Raut wajahnya berangsur-angsur terlihat sendu ketika ia teringat pada sosok yang berdiri teguh di pusat Altar. Dia sang Pencipta, Tuhan Semesta Alam. Sudah berapa lama ia melupakannya? Mungkin sejak 'malam itu'; malam di mana ia kehilangan segalanya.

Angin dingin berhembus kencang tiba-tiba, menyibak paksa halaman-halaman buku Lian Jie. Lian Jie bereaksi cepat menutup bukunya dengan debaman yang cukup terdengar oleh siapapun. Dia menghela nafas, menguatkan dirinya, kemudian melangkah mendekati pintu kokoh yang menutup itu untuk membukanya.

Namun ia menghentikan gerakannya. Untuk apa dia masuk? Apa Dia yang disebut Tuhan itu masih mau menerimanya? Tapi, apa yang mau dia urus di dalam sana? Meluapkan seluruh kemarahannya pada Tuhan?

Keluarga dan impiannya pernah terenggut darinya hanya dalam waktu kurang dari semalam. Tidak seperti donat yang bisa kauambil kembali jika kawanmu merebutnya. Lian Jie telah kehilangan banyak hal yang tak bisa dimilikinya kembali selamanya. Tak peduli seberapa keras Lian Jie berusaha menjadi kuat, tak peduli seberapa keras dia berteriak memohon pada Tuhan. Dia telah kehilangan kata-kata permohonannya, lalu apa yang akan dia lakukan di dalam sana?

Lian Jie menghembuskan nafas, Dadanya bergemuruh, matanya panas. Memikirkannya malah membuat hatinya semakin menderita, seolah ada tangan tak terlihat mencengkeram erat jantungnya.

Sesuatu di dalam Kapel terlihat dari celah sempit di antara dua pintu yang menutup. Gerakan seseorang berjalan ke arah lain yang tak bisa dilihat Lian Jie. Melihat postur tubuhnya, Lian Jie mengenali sosok Jenderal Tek Xiao Ling meski ia memakai seragam yang selama ini tak pernah dipakainya.

Setelah hatinya tenang kembali, Lian Jie mengurungkan niatnya untuk masuk. Dia menyandarkan dirinya di dinding di samping pintu masuk. Menunduk, memandangi ujung sepatunya. Apa sih yang dia lakukan? Dia tak ingin terus dihantui masa lalunya, tapi mengapa ia di sini?

Lian Jie memejamkan mata, ekspresi perih tergurat jelas di wajahnya. Di dalam benaknya, kedua orang tuanya mengangkat tangan mereka, berusaha menggapai dirinya dengan tubuh berlumuran darah.
Back to top Go down
View user profile
Heidrich Kohler

Heidrich Kohler

Posts : 50
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 12 tahun

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime3rd December 2009, 20:43

Selesai.

Heidrich mendongak. Beberapa butir air mata yang sempat mengalir saat ia berdoa... semuanya sudah hilang, habis meresap ke lengan baju. Sementara itu, bibir yang sempat melengkung membentuk huruf 'n' kini sudah manjadi sebuah garis. Tidak, bibir bocah tersebut belum melengkung untuk membentuk segurat senyum. Heidrich masih jauh dari merasa seperti itu.

Namun, harus ia akui bahwa perasaannya menjadi sedikit... lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Heidrich memang masih bocah, namun ia tahu apa rasanya lega; sesuatu yang terasa... prestis?

'Yah, awal yang baru dengan segala keheningan yang ada, bukan? Mungkin akan lebih baik jika ia mengacau sedikit--mulai dari kapel mungkin cukup brilian--'

Laju kereta pikiran segera berhenti di tempat ketika wajah kecilnya menengok... ke arah di mana Xiao Ling sekarang duduk. Wajah segera pucat; bingung, lebih tepatnya. Sejak kapan gurunya sudah pindah dari depan ruangan ke sebelahnya, tanpa sepengetahuannya pula!

".............."

Speechless--atau lebih tepatnya, bingung mau berkomentar apa. Bagaimanapun juga, mendapati orang lain memandanginya setelah ia.. bangkit dari rasa bersalah merupakan hal yang tidak biasa. Mata sesekali berkedip, menyimak reaksi apa yang akan dikeluarkan gurunya setelah sadar bahwa anak muridnya menyadari bahwa matanya berair--

--dan dengan pikiran seperti itu, Heidrich pun menyeka matanya sekali lagi. "Tidaaaak, aku tidak menangis nenek tua!"

...Hening digantikan pekik. Hei, memangnya gurunya sempat berkomentar tentang keadaannya?
Back to top Go down
View user profile
Tek Xiao Ling
Vatican Central
Tek Xiao Ling

Posts : 330
Umur : 27
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 23

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime4th December 2009, 13:03

Oh, rupanya Heidrich sudah selesai berdoa. Ditatapnya wajah anak itu, yang entah bagaimana, tampak jauh lebih dewasa sekarang. Sisa-sisa air mata masih tampak samar-samar di kedua manik kuning-cokelatnya. Sekilas, benar-benar sekilas, ia tampak persis seperti ayahnya, Ravel Kohler. Mengerjap pelan, Xiao Ling mendapati Heidrich menatapnya balik dengan tatapan... horor? Memang ada apa di wajahnya sampai muridnya itu menatapnya sedemikian rupa?

"Tidaaaak, aku tidak menangis nenek tua!"

Mau tertawa atau memarahi anak itu, Xiao Ling tidak tahu. Tapi yang jelas, sebuah senyum melengkung di bibirnya. Bukan senyum sinis yang biasa ia layangkan saat ia marah, tapi sebuah senyum yang hampir tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain. Bagi Heidrich pun, itu pasti pertama kalinya ia melihat Xiao Ling tersenyum seperti itu. Senyumnya kali itu adalah sebuah senyum lembut, dengan ekspresi wajah yang jauh lebih tenang dan lunak daripada biasanya.

"Aku percaya, kok. Aku tahu kamu anak yang kuat," balas Xiao Ling tenang. Ia lalu menatap lagi ke arah altar, meski pandangannya menerawang jauh melewati altar itu.

"Selama ini, aku tidak pernah menceritakannya padamu, tapi... kurasa tidak ada salahnya aku memberitahukannya padamu sekarang..." kata Xiao Ling pelan, memulai kisah panjangnya. Ya, ia berniat untuk menceritakan kepada anak didiknya tentang seperti apa dirinya dulu. Ia sudah mengetahui seluk-beluk masa lalu anak itu, jadi rasanya agak tidak adil kalau ia tidak pernah menceritakan apapun tentang dirinya kepada Heidrich.

"Dulu, waktu aku pertama kali bergabung dengan Black Order, aku adalah anak perempuan yang lemah dan cengeng. Setiap malam, aku selalu menangis sendirian di kamarku. Aku selalu merindukan 'keluarga'-ku di panti asuhan tempatku tinggal dulu, dan aku juga takut Innocence yang ditanamkan dalam tubuhku ini suatu hari menolakku dan membunuhku..." Tatapannya sendu, mengingat kembali hari-harinya yang sudah lama berlalu. Selemah itukah dirinya dulu? Tak pernah terbayangkan, melihat dirinya yang sekarang.

"Tapi kemudian aku mendapatkan teman, lalu mendapatkan Master juga. Aku merasa jauh lebih baik setelahnya. Tidak ada lagi tangis di tengah malam, karena aku tahu aku harus menjadi lebih kuat demi orang-orang yang kusayangi di sini." Seulas senyum kembali terlukis di wajahnya.

"Dan... yaah, bisa dibilang aku ini durhaka. Salah seorang sahabat pertamaku, dan juga satu-satunya Masterku... Mereka berdua, akulah yang membunuhnya." Tragis. Miris. Memang bukan dirinya yang membunuh kedua orang itu secara langsung, tapi perasaan bersalah karena tidak mampu menyelamatkan keduanya membuat ia merasa seperti pembunuh yang sebenarnya. Ekspresinya berubah, campuran antara sedih dan menyesal, serta marah pada dirinya sendiri.

"Meskipun sekarang akulah yang mendidikmu, Heidrich, tapi kuharap kamu jangan menjadi pembunuh sepertiku. Jadilah orang yang bijaksana seperti ayahmu, dan lemah lembut seperti ibumu..." Xiao Ling mengacak rambutnya sendiri perlahan, lalu menyisir poninya ke belakang dengan jemarinya. "Jangan jadi pembunuh berdarah dingin seperti aku..."

Xiao Ling lalu kembali menatap anak didiknya itu dengan wajah yang serius, menandakan bahwa apa yang baru saja ia ucapkan bukanlah main-main.

_________________
[ASIA] Shadow of the Past Lingsiggy
"My battle, my rule. Do not protest."
-Tek Xiao Ling-


Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Back to top Go down
View user profile http://china-rollz.livejournal.com
Li Lian Jie

Li Lian Jie

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime4th December 2009, 18:00

Setelah lama berpikir, akhirnya Lian Jie mendapatkan keputusannya. Dia menegakkan badannya, meninggalkan pintu kapel sebagai sandarannya. Bersamaan dengan itu, semua kenangan akan masa lalunya tersapu dari imajinasinya. Digenggamnya buku yang sedang dibacanya lebih erat dari sebelumnya. Keyakinan terpancar di wajahnya, namun bukan keyakinan yang dia sukai.

Kemudian dia berbalik menghadapi pintu kapel dan mendorongnya terbuka. Sebenarnya Lian Jie tidak mengharapkan ada orang yang akan melihatnya berdoa atau memaki, tapi kenyataan jarang sesuai dengan harapan.

Kalau Lian Jie tidak melihatnya dua kali, Lian Jie tak akan sadar wanita itu adalah Jenderal Xiao Ling. Dan satu lagi adalah Disciple beliau si bocah nakal Heidrich Kohler. Tapi masa bodoh dengan mereka berdua.

Lian mengambil tempat duduknya di deret bangku yang paling belakang, paling dekat pintu. Lalu di sana, dia berdoa, memejamkan matanya, menundukkan kepalanya, menyilangkan jari sambil menopang dahinya yang berat dan penat.
Back to top Go down
View user profile
Heidrich Kohler

Heidrich Kohler

Posts : 50
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 12 tahun

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime4th December 2009, 22:35

Senyum.

Mulut Heidrich menganga; ia pasti bermimpi. Gurunya jarang tersenyum semacam begitu. Bagaimanapun juga, senyum yang biasa ada pada wajah wanita tersebut... yah, katakan saja biasanya senyum dengan nafsu membunuh, atau senyum maniak bahwa ia akan menghabisi siapapun yang berani mengganggunya. Oh, tunggu... bocah ini bahkan belum pernah melihat nenk tua itu tersenyum, dengan cara yang begitu... manis? Tek Xiao Ling tidak mungkin melakukan hal paling absurd.

Namun di sanalah gurunya duduk, tersenyum.

'Tuhanku, apa sebentar lagi kiamat? Aku masih mau hidup...'

Tidak tahunya, sebelum komentar dapat keluar dari bibir bocah tersebut, Tek Xiao Ling mulai...meracau? Bukan, lebih tepatnya mendongengkannya sebuah cerita murni kejadian--kisah masa lalu dari gurunya yang belum diketahui oleh sang bocah. Sebenaranya, semua ini terdengar seperti pengakuan di telinga Heidrich. Kalau saja Tek Xiao Ling tidak menyatakan rasa bersalahnya--karena telah, secara tidak langsung, membunuh master dan temannya--mungkin bocah ini sudah kepikiran untuk mengusili gurunya sendiri. Sedikit blackmail bukanlah hal yang salah, bukan?

Sesuatu terasa mencekat dadanya. Rasa bersalah? Sejak kapan ia jadi sering merasa bersalah ketika mendengarkan cerita orang lain? Tidak pernah; boro-boro mendengarkan, yang mau membagi cerita tentang dirinya masing-masing pun tidak ada. Reputasinya sebagai seorang troublemaker memang patut disalahkan sebagai penyebab tersebut. Tidak apa, karena dengan demikian sang bocah tidak perlu berurusan dengan masalah orang lain.

Ia sudah cukup lelah karena permasalahannya sendiri.

Gurunya mengacak-acak rambut. Pembunuh? Heidrich Kohler tidak pernah mau membunuh; mengusil memang sering, namun membunuh? Bocah ini tidak suka mengambil nyawa. Itu bukan kekuasaannya, bukan kodratnya, bukan haknya. Ia membunuh akuma, karena ia tahu siapapun yang telah memanggil roh tersebut--roh dari yang sumber energi akuma--pasti juga merasa kepedihan yang sama sepertinya; sebuah kekecewaan yang meluap dan rasa bersalah tiada akhir.

Mata hitam milik gurunya bertemu dengan mata kuning kecoklatan. Ada sesuatu yang dalam di balik hitamnya bola mata tersebut--sesuatu yang baginya terlalu kompleks untuk dijelaskan. Jangan bebankan berat tambahan pada pundaknya, karena ia juga belum mengerti--karena itulah, Heidrich Kohler... hanya bisa mengalihkan pandangan mata dari gurunya.

Rasa bersalah. Tapi mengapa ia merasa bersalah?

Absurditas.

"...Maksud guru apa sih? Kalau memang berdarah dingin, kenapa pakai bicara sama aku segala?" Heidrich ngedumel. Affeksi dari gurunya, ditambah dengan sebuah pengakuan bahwa beliau sudah menjadi hal yang di luar sebuah kenormalan merupakan komposisi penting yang berbenturan dengan logika kecil miliki. Irrasional; bagaimana mungkin seseorang berdarah dingin bisa berbicara dengan bijaksana pada seorang bocah? Jawabannya hanya satu--tidak mungkin.

Matanya segera beralih pada tangannya sendiri. Jari tangan kanan mengulum jari tangan kiri, berulang kali. Bosan; ia butuh pelampiasan--sebuah kekacauan.
Back to top Go down
View user profile
Tek Xiao Ling
Vatican Central
Tek Xiao Ling

Posts : 330
Umur : 27
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 23

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime5th December 2009, 00:17

"...Maksud guru apa sih? Kalau memang berdarah dingin, kenapa pakai bicara sama aku segala?"

Xiao Ling menghela nafas panjang. Salah lagi. Ucapannya mungkin terlalu berat untuk bocah berumur 12 tahun seperti Heidrich. Salahkan siapapun yang memintanya menjadi guru bagi Heidrich. Ia belum cukup tua untuk mendidik anak, dan tidak cukup muda untuk memahami jalan pikirannya. Ia memang pernah berusia 12 tahun, tapi setelah ia melewati usia itu, ia sudah tidak ingat lagi bagaimana rasanya menjadi anak-anak berusia 12 tahun.

Kali ini tawa renyah lolos dari mulutnya, setengah menertawakan dirinya sendiri. Rasa-rasanya ia belum meneguk setetespun arak ataupun sake hari itu, tapi mengapa ia menjadi kacau begitu? Oh ya, hari di mana ia mendoakan roh sahabat dan masternya. Mengingat kedua orang itu, pikirannya sering menjadi kacau sendiri.

"Kau dan Kohler--" Ia hampir lupa bahwa Heidrich juga 'Kohler', "--maksudku, Ravel... Kurasa kalian berdua cukup mirip. Yaah, kalian 'kan ayah dan anak, wajar saja mirip." Meracau lagi? Mungkin. Kalau setelah itu Heidrich mengendusnya untuk memastikan apakah Xiao Ling baru saja mabuk-mabukan, ia tidak akan heran.

"Kamu pasti bingung ya, kenapa aku meracau hari ini?" tanya Xiao Ling sambil terkekeh pelan. Sekali lagi, ia mengacak rambutnya yang memang sudah acak-acakan. "Tenang saja, aku belum minum arak ataupun sake hari ini. Aku tidak mabuk." Ia lalu bersandar pada kursi, membiarkan kepalanya menengadah ke langit-langit dengan tangan kirinya menutup wajahnya.

"...aku juga tidak mengerti, kenapa di atas semua orang, aku meracau di hadapanmu..." gumamnya pelan.

Mengapa? Jawabannya sederhana.
Karena sebenarnya, di atas semua orang, ia ingin meracau di depan pria bermata kuning-cokelat itu.
Ya, ia ingin meracau di hadapannya, lalu mungkin menangis di pelukannya.

Tapi hal itu terlalu bodoh dan aneh. Kenapa pula harus pria itu di atas semua orang. Ia mendengus keras, menertawakan dirinya sendiri lagi. Ia butuh sebotol sake plum saat ia kembali ke kamarnya. Harus.

_________________
[ASIA] Shadow of the Past Lingsiggy
"My battle, my rule. Do not protest."
-Tek Xiao Ling-


Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Back to top Go down
View user profile http://china-rollz.livejournal.com
Li Lian Jie

Li Lian Jie

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime5th December 2009, 08:21

Lian Jie boleh saja terlihat sedang menunduk seperti sedang berdoa. Memang, tadi dia sudah niat berdoa. Tapi kok jadi kehilangan konsentrasi gara-gara dua orang yang ada di sana selain dirinya itu, ya? Lian Jie mengeluh dalam hati. Lagipula mendengar percakapan berakrab-akrab ria seperti ibu dan anak itu membakar hatinya. Bukannya sebal, bukan pula karena trauma masa lalu, Lian Jie hanya kehilangan konsentrasi dan kehilangan niatnya untuk berdoa sekaligus. Memang, ini sebuah masalah yang dari dulu sudah dialami Li Lian Jie---dia tidak bisa berdoa kalau ada orang lain di sekitarnya. Dia jadi tak bisa fokus.

Bergerumul dengan pikirannya yang tak disukainya, Lian Jie akhirnya menengadahkan kepalanya, memandangi langit-langit kapel. Bukunya dia buka kembali dan dia tangkupkan di atas wajahnya. Dia akan menunggu mereka berdua keluar, barulah dia akan benar-benar berdoa. Sementara ini, biar dia diam dulu.
Back to top Go down
View user profile
Heidrich Kohler

Heidrich Kohler

Posts : 50
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 12 tahun

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime11th December 2009, 19:10

Meracau?

Astaga, gurunya memang benar meracau. Apa yang sebenarnya gurunya pikirkan hingga akhirnya gurunya memutuskan untuk meracau tepat di hadapannya? Apakah ada sesuatu yang salah? Mungkinkah orang yang duduk di sebelahnya ini memang sudah dibunuh oleh akuma entah di mana, hingga akhirnya akuma tersebut menyamar menjadi diri gurunya?

Impossible. Improbable. Undefined. Irrevocable--

Tangan kanan entah mengapa langsung menampar pipinya sendiri. Apa yang ia pikirkan? Guru yang telah mendidiknya tidak mungkin mati oleh akuma. Pikiran macam apa itu?

"Tenang saja, aku belum minum arak ataupun sake hari ini. Aku tidak mabuk."

Tangan segera tersilang di depan dada, sementara dahi segera mengerut. Pipi menggembung dan mata kuning kecoklatan tersebut menyipit. Saat gesturnya berubah, Heidrich Kohler sudah bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di depan kursi. Posisinya memang kurang mengenakkan, apalagi dengan bahunya yang menyenggol kursi depan.

Oh, gurunya pasti sudah mabuk. Ya, pasti Tek Xiao Ling meminum beberapa gelas sake, kemudian datang ke sini dan secara tidak sadar mengaku bahwa ia tidak mabuk. Peh, seakan ia percaya? Maaf saja, Heidrich tidak percaya.

Sesuatu dalam pikirannya seakan mengatakan bahwa... gurunya tengah bermelankoli. Tentu saja, pikiran ini segera hilang dari benaknya. Sejak kapan Xiao Ling dapat bermelankoli? Baginya, gurunya merupakan sosok kuat, independen, dan... entah... menyebalkan?

"...Nenek tua, kau tidak salah minum obat kan?"

Dalam benaknya, terbersit figur dari Brian Selvatine. Mungkin memang ada saatnya ketika pria muda tersebut... kehilangan keberuntungannya. Itu juga, kalau apa yang ia asumsikan benar. Dengan demikian, ini akan menjadi bukti kalau Heidrich pun dapat mengusili orang paling beruntung se-Black Order.
Back to top Go down
View user profile
Tek Xiao Ling
Vatican Central
Tek Xiao Ling

Posts : 330
Umur : 27
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 23

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime11th December 2009, 20:57

Dilihatnya bagaimana anak didiknya itu tampak... tidak percaya bahwa wanita yang sekarang sedang duduk bersamanya adalah Tek Xiao Ling yang asli. Oke, mungkin kalau ada orang lain selain bocah itu, mereka akan berpikir demikian juga. Beberapa mungkin akan langsung pergi memanggil dokter karena mengira ia sedang demam tinggi, atau mengambilkan air karena mengira ia sedang mabuk berat. Tapi tidak, Xiao Ling tidak demam, apalagi mabuk. Ia sadar seratus persen.

"...Nenek tua, kau tidak salah minum obat kan?"

Salah minum obat? Jenius, nak. "Tidak, kok. Aku minum obat yang biasa," jawab Xiao Ling ringan. Sebentar... benarkah yang ia minum pagi itu adalah obat yang biasa. Seharusnya iya. Yang meramu sama. Botolnya sama. Gelas yang ia pakai sama. Airnya pun sama. Ya, rasanya tidak ada yang salah.

Lalu, mengapa ia meracau?

"...Heidrich... Kalau kau berniat mengacau, tolong jangan sekarang, oke?" Karena ia ingin sekalian mabuk betulan. Dan panjang urusannya kalau anak didiknya satu itu sampai membuat ulah saat ia sedang tidak bisa menanganinya dengan kepala dingin. Bisa-bisa satu markas hancur seketika, ugh.

Ia bangkit dari kursinya, menyapu seisi kapel dengan pandangannya. Ternyata ada seorang lagi yang duduk di sana. Tidak, Xiao Ling pun tidak berniat untuk mengganggunya. Ia tidak suka diganggu saat sedang ingin menyendiri, maka ia pun tidak akan mengganggu orang lain.

"Oh ya, hari ini tidak ada latihan. Anggap saja hari ini hari libur. Tapi besok, jadwal seperti biasa," kata Xiao Ling tenang, lebih tenang daripada biasanya. Ia lalu melangkah keluar dari kapel tanpa suara, tanpa menengok lagi ke belakang. Tujuannya hanya satu; kamarnya. Ia ingin menikmati sake plumnya yang tinggal sebotol. Setelah itu, tidur nyenyak, sebelum memulai latihan pagi di hari yang normal keesokan harinya.

[OUT]

_________________
[ASIA] Shadow of the Past Lingsiggy
"My battle, my rule. Do not protest."
-Tek Xiao Ling-


Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Back to top Go down
View user profile http://china-rollz.livejournal.com
Heidrich Kohler

Heidrich Kohler

Posts : 50
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 12 tahun

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime5th January 2010, 23:34

...Aneh?

Heidrich kecil adalah salah satu orang yang paling sulit diatur secabang Asia. Karena itu, kenyataan bahwa bocah ini terpaku di tempat ia berdiri, terheran-heran melihat gurunya yang seakan sudah kehilangan arti hidup, seperti suatu pertanda bahwa kiamat makin mendekat. Heidrich Kohler jarang berpikir dalam, apalagi mengenai gurunya... dan tentang dirinya...

...atau tentang ayahnya?

Tangannya segera tersilang kembali, sementara alis mulai berpadu. Fenomena macam apa tadi, yang terjadi pada dirinya? Semakin keras bocah ini berpikir, semakin bingung dirinya. Hanya satu pikiran yang tersisa: Tek Xiao Ling memang sedang mabuk saat berbicara dengannya tadi... atau Brian Selvatine akhirnya melakukan kesalahan dalam peracikan obatnya.

...dan Heidrich menghela napas panjang. Mulut segera membentuk sebuah senyum usil. Tentunya, gurunya pasti bercanda bukan? Masa' mau meminta pembuat onar paling top se-Asia untuk cuti mengusil selama satu hari? Absurd; saat seperti ini harusnya bagus untuk mengacau.

Dengan pemikiran tersebut di kepala, Heidrich Kohler meninggalkan ruangan. Jangan ganggu dirinya, kalau memang ingin mendapat balasan berupa sikap usil--Heidrich dengan senang hati akan melakukannya.

Nah, mulai dari mana? Mungkin mengacau di koridor kamar para staff. Kedengarannya... bagus, bukan?

[OUT]
Back to top Go down
View user profile
Li Lian Jie

Li Lian Jie

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime22nd January 2010, 10:45

Baiklah, sudah sepi.

Tidak ada orang.

Lian Jie membuka buku yang tadi digunakannya untuk berpura-pura tidur. Namun rupanya, tanpa berpura-pura tidur pun tak ada yang menyadari keberadaannya. Lian Jie tak peduli, toh dia memang tidak menarik perhatian mereka dan memang tak ingin diperhatikan.

Dilemparnya buku 'curian' dari Ruang Santai itu ke bangku Kapel ketika ia menata duduknya dan menyilangkan semua jarinya. Memejamkan mata, meresapi suasana sepi dan hening di sekitarnya, dia pun mulai berdoa dalam hati dan pikirannya.

全能的上帝,
当然,你已经知道为什么我在这里
我恨我自己不能恨你
你把所有的事情给我,但我不能恨你
如果你是万能的,因为他们说,
然后给我力量,让您的信任


Lian Jie membuka mata sipit khas bangsa Asia-nya itu perlahan. Hati kecilnya mengakui, tadi itu bukan doa yang pantas untuk dipanjatkan pada Tuhan. Tapi siapa peduli?

Lian Jie beranjak sambil meraih bukunya dan berjalan keluar Kapel. Makan pagi nanti dia hanya akan mengambil beberapa menu dan memakannya di Ruang Latihan. Dia tidak berencana pindah kamar ke Ruang Latihan kok. Hanya, dia tidak tahan suasana ramai.




[OUT]
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




[ASIA] Shadow of the Past Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Shadow of the Past   [ASIA] Shadow of the Past I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[ASIA] Shadow of the Past
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» ur past *poem*

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com