An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [CENTRAL]The Burdened

Go down 
AuthorMessage
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: [CENTRAL]The Burdened   12th December 2009, 23:49

Do.

Bunyi nada piano menggema di tengah kapel yang sudah kosong. Sementara itu, jari yang bertanggungjawab akan bunyi tersebut masih melekat pada tuts putih. Sang pemilik seakan meresapi produksi suara dari instrumen tersebut, karena ia tahu bahwa dirinya bisa saja dipanggil untuk menjalankan misi bahkan di tengah waktu-waktu istirahatnya sekarang.

Sosok stoik tersebut memang memilih waktu sore hari. Menurutnya, takkan ada banyak orang yang menghampiri kapel di saat banyak orang sudah kelelahan dengan pekerjaannya. Baginya, waktu ini sangat pas untuk melepaskan kepenatan bila secangkir teh hangat gagal membuatnya tenang. Suatu hal yang jarang terjadi, mengingat teh yang biasa ia minum merupakan salah satu teh berkualitas dan berfungsi untuk menenangkan aksi neural.

Apalah daya, usahanya tidak berhasil. Sekali lagi, rasa rindu terhadap mantan istrinya--sekaligus rasa bersalah yang belum kunjung hilang dari benaknya--kembali kumat dan tidak bisa ditenangkan bahkan oleh segelas cangkir teh berkualitas sekalipun. Alternatif, merupakan suatu hal yang wajar, bukan?

Butir kuning kecoklatan menangkap adanya kilauan putih, hasil refleksi dari sinar matahari yang merembes dari jendela kapel terhadapa tuts putih licin. Tangan kanannya sekarang berada di atas deretan gigi putih, dengan jari telunjuk menekan nada C... pada oktaf ke-4--nada C tengah.

Wajah masih sedatar sebelumnya, meskipun wajah tersebut mungkin hanya sekedar kedok untuk menutupi rasa kalut.

Re.

Jari tengah menekan gigi putih di sebelah jari telunjuk. Nada D pun turut terdengar, nyaring... dengan kekuatan tekanan yang diberikan oleh Ravel. Mata kecoklatan tersebut kembali bersembunyi, sementara benaknya mencari lagu yang cocok untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan. Bila teh memiliki peran dalam membuatnya tetap tenang--agar ia tidak mengamuk karena frustrasi, meskipun hal ini belum terjadi--memainkan piano merupakan salah satu jalan untuk mengekspresikan dirinya bukan dalam bentuk tulisan.

Karena Ravel Kohler tidak suka agenda tulis-menulis.

Pria berambut pirang ini menghela napas panjang, sebelum akhirya duduk di kursi. Tangan kanan perlahan bermain, diikuti oleh tangan kiri yang seakan menari di atas jajaran hitam-putih. Nada yang awalnya hanya keluar satu-satu kini terpadu, dalam sebuah alunan lagu melankolis nan getir... dipenuhi oleh keberadaan adanya kemungkinan yang ada di masa depan.

"The Burdened."


Lagu tersebut terus bermain, sementara sang pianis terlalu larut dalam permainannya hanya hingga ia tidak menyadari dengan sekitar. Kapel yang sedang kosong tersebut mungkin akan segera dipenuhi orang, setelah ada yang mendengar seseorang memainkan piano kapel.



OOC:
  • Thread ini open-for-all, dengan syarat para RPers harus mendengarkan lagu ini di sini (gunakan kombo "CTRL + F" dan ketik "The Burdened", kemudian pilih opsi file 'midi') dan mencantumkan tanggapan chara dalam pos mereka (dalam bentuk apapun, secara implisit ataupun eksplisit)
  • Sekitar seminggu setelah insiden "Volcano"
  • Lokasi di Kapel BOHQ cabang Eropa, sekitar pukul 1700.
  • Copyright SQUARE ENIX untuk lagu ini.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Lioret I. Shirogane

avatar

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   13th December 2009, 08:26

Terlalu cerah. Matahari tidak menampakan dirinya, tertutup di balik awan, tapi cahaya kemerahan masih saja terpancar dibaliknya, menerangi langit yang mulai menghitam dimakan waktu. Kadang suara burung terdengar pelan—padahal saat itu musim dingin—mungkin burung yang bermigras. Ha. Telat sekali. Sura burung..mungkin akan lebih enak didengar di pagi hari, tapi kalau cuaca dingin seperti ini tidak masalah, toh? Ia haya perlu memejamkan mata, membayangkan pemandangan pagi yang penuh salju.

Suara piano. Lio membuka matanya perlahan, setengah terpejam karena mengantuk—duduk di taman memang selalu mebuatnya mengantuk—kepala mendongak, menatap awan di langit bebas. Tampak sekali ia lebih ingin mendengarkan instrumen yang menenangkan itu daripada memainkannya. Terduduk diam. Entah ada apa di atas langit sana sampai ia terus memperhatikannya, itulah caranya, karena dia beranggapan lagu itu seperti ingin naik ke atas.

Beranjak bangkit dari tempatnya, pemuda Prancis itu berjalan ke tempat yang memiliki piano di dalamnya—apalagi kalau bukan kapel—tidak mempedulikan nasihat staf medis yang menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak bergerak karena luka yang ia dapat minggu lalu. Tapi sebagai Exorcist, apa sih masalahnya dengan luka?

Nada yang kaya dengan not 1/16 mulai terdengar, makin dekat—berarti memang di kapel. Sosok familiar duduk di kursi piano, tampak begitu menghayati, begitu meresapi.

Sejenak ia tertegun, baru menyadari..masa kecilnya. Ia ingat lebih dari 8 tahun lalu ayahnya—yang notabene mengajarinya biola—sering memainkan lagu ini sebagai pengiring sementara ibunya bermain piano. Sangat familiar di benaknya. Ia ingat orang tuanya memainkan lagu ini setiap pagi, sementara Yae dan ia duduk di meja makan, mendengarkan.

Spontan berjalan mendekat. Duduk di bangku kapel paling depan dan paling dekat dengan piano, tidak berani mengganggu.
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   13th December 2009, 21:18

Kapel adalah tempat yang selalu membuatnya merasa seperti kembali ke rumahnya di Italia. Bagaimana tidak, ia tumbuh besar di lingkungan gereja sejak ia dilahirkan. Memang sekarang Black Order adalah 'rumah'-nya yang baru, tapi ada kalanya ia merasa rindu rumah. Ada kalanya ia merasa begitu rindu, bahkan sampai semua candaan yang diucapkan oleh sahabat terbaiknya tidak dapat melunturkan perasaan rindu itu.

Jadi, di saat ia merasa begitu merindukan rumah dan keluarganya di Italia, ia akan berjalan ke kapel, lalu duduk merenung. Atau, seperti hari ini, ia sengaja membawa biolanya untuk dimainkan di kapel sebagai pengusir rindunya akan keluarganya, akan rumahnya... dan akan kekasihnya yang sudah lama meninggal.

Ia berjalan perlahan menuju kapel, menyusuri dinding yang dingin dengan tangannya sampai ia menemukan pintu. Samar namun pasti, ia mendengar suara piano dari dalam kapel. Tidak mau mengganggu siapapun yang ada di dalam sana, ia membuka pintunya perlahan, hampir tanpa suara. Alunan lagu terdengar semakin jelas saat ia membuka pintu tersebut lebar-lebar.

Dari suara tuts yang ditekan dan alunan melodi yang dimainkan, Bianca merasa seperti terhanyut dalam suatu... penyesalan yang mendalam. Penyesalan akan apa yang sudah terjadi. Kesedihan pada apa yang terjadi sekarang. Kekesalan karena sudah gagal menghentikan sesuatu di masa lampau. Perasaan yang ingin ditumpahkan begitu saja, tapi tidak bisa ditumpahkan sembarangan. Seperti ombak besar yang menghantam tebing karang. Seperti angin ribut yang menerpa hutan. Seperti gunung berapi yang mendadak meletus...

...Seperti gejolak dalam dadanya.


Tanpa terasa, tanpa suara, air mata mengalir perlahan di pipinya; turun dari matanya, menyusuri pipinya, berkumpul di dagunya, lalu menetes di atas lantai. Ia tidak mengerti mengapa ia menangis. Ia tidak mengerti mengapa air matanya tidak mau berhenti. Yang ia tahu, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya, seiring dengan permainan piano yang dialunkan oleh sang General.
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   17th December 2009, 18:51

Selesai.

Nada terakhir yang keluar karena ketukan gigi kayu piano membuatnya tersadar pada dunia sekitar. Mata kecoklatan yang masih terpaku pada tuts-tuts putih bersih nan rapi kini mengalihkan pandangan, bersamaan dengan kepala yang kini menegak dan segera berputar. Dalam satu gerakan singkat, matanya dapat meregistrasi sosok-sosok yang sudah masuk ke dalam kapel ketika dirinya masih hanyut dalam alunan lagu.

Lioret Ifrit Shirogane segera masuk ke dalam jarak pandangnya, mengingat posisi dari pemuda tersebut yang hanya beberapa kaki dari tempatnya duduk. Dilihat dari bagaimana ia duduk fokus, sepertinya sang pemuda menyimpan rasa kagum. Sang jendral juga dapat melihat bagaimana mata hitam tersebut terlihat bersinar, menampilkan sebuah rasa yang Ravel sangat ketahui.

Nostalgia.


'Kau ingin mengingatnya, Lio?'

Seulas senyum tipis tak bermakna; gestur tersebut secara otomatis muncul, entah karena rasa geli atau rasa pahit. Mengingat; apa yang perlu ia ingat dengan lagu-lagu penyesalan seperti tadi? Apa? Kenyataan bahwa kini anaknya berada dalam tekanan mental dan dirinya, sebagai ayahnya, tidak mampu menariknya dari liang tersebut hanya karena Heidrich lebih membutuhkan peran seorang ibu?

'Kontemplasi. Selalu kontemplasi'

Mata coklat segera berpalign ke arah sosok lain; seorang pria berambut seputih salju. Bersamaan dengan pernyataan final tak bersolusi tersebut, matanya berusaha mencerna akan apa yang dilakukan oleh pria tersebut...

...menangis?

Ravel Kohler berkedip. Ia memang tahu kalau kapel merupakan tempat yang pas untuk merasa takjub, heran, dan terharu. Namun, kalau dugaannya benar, permainan pria ini sebagus itu hingga bisa membuat seseorang menangis karena haru, bukan? Oh, tunggu; itu hanya asumsi dari pria berambut pirang tersebut.

Entah mengapa, ia sendiri jadi merasa bersalah.

"...Kalian... di sini untuk berdoa?"

Sungguh, pertanyaan tersebut memang ia ajukan pada dua orang yang tengah duduk di kursi kapel. Bagaimanapun juga, kapel dari Black Order cabang Asia bukanlah milik para petinggi semata. Kalau memang kehadirannya mengganggu kedua insan ini untuk melakukan obligasinya terhadap Yang Maha Kuasa, ada baiknya ia menyingkir dari altar dan membiarkan mereka berdoa dulu.

Semuanya dapat dilihat dari gestur tubuh; Ravel Kohler hendak beranjak pergi dari tempat duduknya.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   17th December 2009, 21:16

Permainan piano dari entah siapapun yang ada di dalam kapel tersebut sungguh menyentuh. Rasanya permainan piano itu sudah menarik keluar semua emosi yang selama ini ia tumpuk dan ia kunci rapat-rapat di sudut hatinya. Bianca tidak akan sadar bahwa permainan telah selesai ataupun bahwa ia sedang menangis kalau saja orang yang memainkan piano itu tadi tidak menegurnya.

"...Kalian... di sini untuk berdoa?"

Bianca tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Dirasakannya pipinya basah. Ia baru sadar bahwa ia baru saja menangis. Sungguh luar biasa permainan orang itu, sampai pendengarnya tidak menyadari bahwa ia sudah meneteskan air mata. Dari suaranya, Bianca menilai bahwa orang yang memainkan piano itu tadi adalah pria dewasa, kemungkinan sudah cukup tua untuk punya anak. Sepertinya tubuhnya juga tinggi besar, dan dari tekanan tuts-tutsnya tadi, sepertinya orangnya juga cukup kuat berotot.

Mungkin salah, tapi mungkin juga benar. Namanya juga perkiraan orang buta, lebih banyak salahnya daripada benarnya. Dan mendengar sapaan pria itu, sepertinya ada orang lain di ruangan itu bersama mereka. Rasanya Bianca malu sendiri, bisa sampai menangis di depan umum begitu. Dengan cepat, Bianca menghapus air matanya yang masih tersisa di pipinya.

"Um... Saya bukan ingin berdoa, sih..." jawab Bianca pelan. Yaa, ia datang kemari untuk meredakan kerinduannya sedikit. Dan tentu saja, ia ingin bermain musik sedikit juga. Makanya ia membawa biolanya, 'kan?

Ia meletakkan kotak biolanya di kursi terdekat, lalu menyiapkannya pelan-pelan. Setelah ia siap, ia menengok ke arah di mana kira-kira pria yang memainkan piano itu berada, lalu tersenyum lembut. "Saya harap, Anda tidak keberatan kalau saya juga memainkan sebuah lagu. Mungkin tidak bagus, tapi... semoga tidak seburuk itu sampai merusak telinga Anda," kata Bianca, sedikit berbasa-basi.

Ekspresi wajahnya langsung berubah serius saat busur biolanya sudah siap menggesek senar biolanya. Ia menggeseknya satu kali untuk mendapatkan nada dasar yang diinginkannya, lalu memulai permainannya. Ia menumpahkan semua perasaanya pada permainan biola tersebut. Penyesalan karena ia gagal melindungi Aria. Kekesalannya pada kebutaannya yang menyebabkan ia menjadi orang yang tidak berguna. Kesedihan karena harus kehilangan orang yang paling ia cintai. Kerinduan akan keluarga yang ia tinggalkan.

Semuanya tumpah begitu saja.




Lagu yang dimainkan Bianca : The Burdened, Violin Cover (tolong abaikan saat permainan berhenti di tengah-tengah; anggap saja terus dimainkan)
Song (c) Square-Enix, played by atomickamote.
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

avatar

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   18th December 2009, 07:02

Dua tangan terlipat rapi di depan dada. Tampak terfokus mendengarkan permainan Master Ravel yang tampak mengikatnya dan menyeretnya untuk terus mendengarkan. Padahal ia tidak ingin.. Sampai sebuah siluet mengganggunya. Sebuah kotak hitam—entah terbuat dari bahan apa—tergeletak di sebelahnya, tertutup rapat. Lio menyernyitkan dahi, menatap kotak itu dengan heran.

Hingga saat permainan Master Ravel mencapai klimaks, tangannya terjulur merah kotak itu, membukanya. Lio mendengus geli. Biola. Setan macam apa yang meletakan biola di sampingnya saat ia mendegarkan lagu yang mengingatkannya pada masa lalunya? C’est absurde.

Sebuah senyum terlukis di wajahnya—senyuman sedih—saat ia mengangkat biola itu ke pangkuannya. Jarinya bergerak merasakan setiap sisinya, setiap inci biola mulus tersebut, sampai ke busurnya—di mana ekor kudanya masih rapi dan sangat terawat. Siapa orang bodoh yang meletakan biola terawat ini di tempat umum?

Matanya kembali terfokus pada permainan di depan—yang ia biarkan merasuki pikirannya dan menarik kembali masa lalunya. Tidak, tidak, ia tidak akan menangis seperti pria albino di sebelahnya.

”...Kalian... di sini untuk berdoa?"

Permainan telah selesai dan kini sang pianis menatap mereka berdua. Spontan obsidian pemuda ini mengikuti arah gerak Masternya, cepat ia menjawab, “tidak, tidak sama sekali.” Ia sendiri tidak tahu apa dia masih bisa disebut beragama atau tidak.

Lio tidak pernah berniat mengganggu permainan biola pria di sebelahnya. Maka dalam 10 detik, ia hanya memperhatikan saja, mendengarkan nada rendah yang naik menjadi lebih tinggi. Dan 10 detik itu cukup, sangat cukup untuk membuat semua rasa menyesal, memori tidak menyenangkan kembali tertarik ke permukaan.

Pemuda itu menghela nafas, matanya terpejam dan ia berdiri. Jujur saja itu bukan kemauannya—dapat dikatakan tubuhnya bergerak sendiri. Tangan kirinya menggenggam ekor biola yang (biolanya) ia letakan di bahu kiri. Otaknya seperti tidak berpikir, semuanya kosong. Hanya ada film tak bersuara saat orang tuanya memainkan lagu ini..setiap hari..dan perlahan suara instrumen itu mulai terdengar.

Perlahan busur biolanya ia gesekan, memainan nada yang sama dengan nada di sebelahnya. Lagu yang mengemban semua penderitaan, terbebani. Lioret Ifrit Shirogane, membenci lagu ini.

—yang membuatnya tidak menyadari, sebuah air mata mengalir di pipinya.
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   18th December 2009, 17:52

'Sepertinya tidak.'

Dilihatnya insan-insan yang menanggapi pertanyaannya; masing-masing dari mereka menyatakan bahwa dirinya tidak datang ke kapel untuk berdoa. Lantas, mengapa mereka berada di sini? Matanya sempat kembali, tertuju pada objek hitam besar yang baru saja ia mainkan. Mungkinkah mereka datang karena serangkaian nada yang beruntai keluar dari senar piano?

Pria ini tidak sadar telah menahan napasnya, hingga akhirnya hembusan udara keluar dari hidung dan mulut; sebuah helaan napas. Tentu saja mereka akan tertarik pada bunyi dentang piano, kemudian penasaran`akan siapa yang tengah memainka instrumen tersebut. Alasan yang wajar, karena mereka masih merupakan insan berwujud manusia.

Rasa pernasaran itu wajar.

Senyum tampak singkat pada wajahnya. Setidaknya, air mata yang sempat jatuh dari mata wang pria berambut putih tersebut bukanlah karena dia--baiklah, mungkin bukan karena dia... namun karena lagunya. Mengapa perasaan bisa menjadi sesuatu yang sulit bila datang di saat yang salah?

"Saya harap, Anda tidak keberatan kalau saya juga memainkan sebuah lagu. Mungkin tidak bagus, tapi... semoga tidak seburuk itu sampai merusak telinga Anda,"

Alis naik, penasaran dengan figur pria berambut putih tersebut ketika ia menarik alat musiknya dari kotak dan memainkannya. Pun dengan Lioret yang juga mengikuti langkah dari pria berambut putih tersebut. Apa yang membuatnya heran adalah... bagaimana keduanya memainkan lagu yang sama, dengan kecepatan sama, namun slaing melengkapi antara nada satu dengan yang lain...

...tanpa ia sadari, dirinya sudah terenyak di kursi piano. Tangan kirinya sudah mulai melompat-lompat pad tuts piano, sementara tangan kanan masih terasa kaku; keraguan seakan menyelimuti...

..hingga akhirnya, kedua tangannya menari.

Melodi yang mereka hasilkan bukanlah sebuah kontemplasi pribadi--setidaknya, bukan hanya untuknya sendiri.



OOC: Hasil akhir lagu: "The Burdened", CC:FFVII OST. (c) Square Enix

@Akira dan Lio: langsung skip ke ending lagu juga boleh...

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   19th December 2009, 21:25

"Bianca, kamu tahu tidak mengapa satu orkestra bisa memainkan satu lagu yang sama dengan harmonisnya, padahal mereka terdiri dari begitu banyak orang yang memiliki pikiran yang berbeda-beda?"

"Umm... karena ada dirigennya?"

"Bukan! Dirigen pun manusia yang punya pikiran sendiri, lho!"

"Jadi mengapa dong?"

"Karena... Hati semua pemainnya tersambung menjadi satu, menjadi sesuatu yang kita sebut 'harmoni'..."


---

Bianca tidak pernah menjadi anggota orkestra karena ia sangat tidak percaya diri pada kemampuan musiknya. Tapi Bianca sudah beberapa kali menghadiri berbagai konser dari berbagai orkestra, jadi Bianca mengerti bagaimana indahnya sebuah orkestra itu. Lagu yang mereka mainkan sama, variasi nada cukup berbeda, instrumen yang mereka mainkan bervariasi, orang-orang yang memainkannya semuanya berbeda, tapi keseluruhan orkestra tersebut bisa menyatukan hati mereka, membentuk suatu harmoni yang luar biasa indahnya, yang bisa menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.

Ia tidak sadar bahwa ada orang lain yang ikut memainkan biolanya. Ia juga tidak sadar bahwa si pemain piano yang tadi pun ikut memainkan pianonya lagi. Yang ia sadari hanyalah getaran perasaan yang ia rasakan terasa semakin besar, seakan ada sesuatu yang memperbesarnya. Ia dapat merasakan bagaimana jantungnya berdetak lebih cepat seiring dengan gesekan biolanya, seiring dengan nada-nada yang ia mainkan.

Saat lagu hampir berakhir, barulah ia sadar bahwa ia tidak bermain sendirian. Ia hanya bisa tersenyum tipis menyadari hal itu, sampai nada terakhir ia gesekkan di biolanya. "Terima kasih sudah menemani saya bermain. Maaf permainan saya jelek, ehehe..." kata Bianca sambil menggaruk pipinya dan tertawa agak kaku.

"Oh ya, nama saya Bianca Corda. Boleh saya tahu nama... Anda berdua?" tanya Bianca. Benar 'kan selain dirinya hanya ada 2 orang? Atau ada lebih?
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

avatar

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   22nd December 2009, 08:32

Sedikit banyak terkejut. Sekian banyak—sekian kali—ia telah mendengar lagu ini dimainkan leh orang tuanya, tapi kenapa ia baru tahu kalau nadanya yang paling tinggi bisa sangat menyayat? Entah sudah berapa menit berapa detik ia—mereka—bermain dan pendengarannya menangkap suara piano kembali mengalun, mungkin itu Master-nya.

B oktaf ke-3, A oktaf ke-3, G oktaf ke-3, F kres oktaf ke-3, dan E oktaf ke-3. Oktaf ke-3 yang semuanya hamper menyayat otak, pendengaran, sampai perasaannya. Terserah kau mau katakana dia berlebihan atau apa, tapi memang begitulah kenyataannya. Dan faktanya, kau baru akan mengerti mengapa ia bertingkah begini jika kau memainkan lagu ini dengan—optimal.

Ia tidak merasakan ia bernapas, tapi pemuda itu menghela nafas pendek saat piano mulai mengalunkan bagian penutupnya. Membuka mata dan menyingkirkan biola dari bahu kirinya.

’Basah?’

Refleks ia menyentuh pipinya, mendapati wilayah yang ia sentuh memang basah oleh..air mata. Padahal ia tidak ingat menangis saat bermain tadi. Kaget, tentu saja, siapa yang tidak malu menangis di depan orang?

"Terima kasih sudah menemani saya bermain. Maaf permainan saya jelek, ehehe..." perhatiannya teralih ke arah sumber suara di sampingnya, si pemuda albino tadi, yang sekarang mengenalkan diri sebagai Bianca Corda.

“Lioret Shirogane,” tersenyum bersahabat pada orang bermata tertutup di depannya. Mari kita tebak, sipit atau buta?

“Permainanmu bagus, siapa yang mengajarimu?”
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   22nd December 2009, 22:20

Dilihat bagaimana muridnya juga mengikuti alur dari lagu tersebut. Bagaimana mata kuning kecoklatan tersebut menerawang pada dua figur yang sudah memainkan biola dengan sangat akuratnya, hingga pada akhirnya pria tersebut malah teringat pada sebuha kejadian pada masa lalunya. Memori tersebut terasa seperti angin awal pada musim gugur--kering seusai panas, namun terasa desperasinya.

Meskipun matanya menerawang ke arah pria berambut putih tersebut, dan salah satu muridnya, tangannya tidak pernah lepas dari tuts piano.

Tidak, bahkan di akhir dari lagu yang cukup menyayat hati, Ravel Kohler tidak pernah melepaskan jarinya dari gigi putih tersebut. Mata coklatnya merefleksikan sesuatu yang jauh; memori akan dirinya bersama dengan Heidrich dan Nicola, bermain bersama--

"Oh ya, nama saya Bianca Corda. Boleh saya tahu nama... Anda berdua?"

“Lioret Shirogane. Permainanmu bagus, siapa--"




"Oh! Permainan yang indah sekali! Hmm.. hmm... Namamu?"

"Ah, aku... Kohler. Ravel Kohler."

"Aku Nicola~ It's a pleasure to meet you, Herr!"


... Nicola...?




Dalam satu gerakan kesal, pria ini menekan seluruh tuts yang ada pada jangkauan jarinya dengan keras. Jarinya ia biarkan menekan tuts-tuts tersebut dalam beberapa waktu, sebelum akhirnya kembali bergerak kembali, membentuk satu lagu kembali. Suara mereka tiada lagi terdengar, karena Ravel Kohler...

...mungkin sudah tersesat dalam jaring-jaring kontradiksi.

-- "Burden of Truth" --




OOC: Ya, memang Ravel Kohler tidak mengacuhkan kalian semua Neutral *shot*

Lagu yang dimainkan adalah "Burden of Truth", (c) Square Enix.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   25th December 2009, 00:48

“Lioret Shirogane. Permainanmu bagus, siapa yang mengajarimu?”

Mendengar pertanyaan dari pemuda bernama 'Lioret' ini, Bianca tersenyum tipis. Ia ingin menyangkal bahwa permainannya yang tadi itu bagus. Ia merasa bahwa permainannya sama sekali tidak bagus, bahkan jauh dari kata 'layak diperdengarkan untuk orang lain'. Tapi kalau ada yang bilang 'bagus', ia tidak akan berkomentar lagi.

"Terima kasih atas pujiannya. Permainan Anda juga benar-benar bagus. Saya masih harus belajar lebih tekun lagi," balas Bianca. "Tentang yang mengajari saya, dulu saya punya seorang--"

Kekasih. Tunangan. Belahan jiwa.
Nanyiannya menyejukkan bagaikan embun pagi.
Jemarinya bagaikan menari saat ia bermain musik.
Malaikatnya, yang telah kembali ke sisi Sang Pencipta.
"--kenalan yang kebetulan adalah anggota orkestra di kota tempat tinggalku dulu. Salah satu anggota orkestranya yang mengajariku, karena katanya biola lebih mudah dibawa-bawa daripada harpa," jelas Bianca dengan nada yang sangat tenang, meski sebersit bayangan masa lalu sempat terlintas di benaknya.

Lalu, suara dentingan piano lagi. Sepertinya orang yang satunya lagi tidak mau membuang-buang napas bahkan untuk menyebutkan namanya saja. Suara dari tuts-tuts piano yang ia tekan terdengar lebih kuat daripada sebelumnya, dan entah bagaimana juga terdengar lebih sedih. Tapi kali ini, tidak ada setetespun air mata yang mengalir di pipi pria albino ini. Ia justru mempertanyakan dalam hatinya, siapakah gerangan orang yang memainkan piano itu, sampai bisa menciptakan rangkaian melodi yang begitu sedih dan menyayat hati.

"Tuan Lioret, apakah Anda mengenal siapa yang memainkan piano itu?" tanya Bianca pelan. "Permainannya mengesankan, tapi... menyedihkan. Rasanya seperti pemain piano itu pernah kehilangan sesuatu dalam hidupnya; sesuatu yang sangat besar," tambahnya pelan. Masih terus didengarnya nada-nada yang mengalun dari piano tersebut, yang seolah mengajak pendengarnya untuk bersama-sama tenggelam dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Tapi kita harus bisa terus maju, 'kan?
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

avatar

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   25th December 2009, 18:13

Bagus sekali punya kenalan seorang pemain orkestra. Pemuda itu hanya tersenyum timpang mengingat ia belum pernah melihat perpaduan permainan musik semacam orkestra, ia hanya pernah melihat ayah dan ibunya berduet..piano dan biola, meskipun kakak perempuannya dapat bermain piccolo, tapi ia tidak begitu ingat sosok berambut hitam panjang yang berusia 7 tahun lebih tua darinya pernah mengiringi permainan ayah dan ibunya. Karena permainan mereka selalu penuh..perasaan sampai Yae—kakaknya—tidak berani menginterupsi.

Kakaknya dulu seorang pemain piccolo yang hebat, seingatnya, tapi tidak pernah masuk ke dalam orkestra di Prancis—ia ingat karena kakaknya lebih sering berada di rumah—walaupun gadis remaja itu jugalah yang berperan mengajarkan not balok kepada Lioret yang masih kecil.

Ironisnya, wajahnya saja pun tidak ia ingat.

“Pasti orang itu hebat, ya,” karena anggota orkestra pasti menguasai alat musik. Bunyi tuts piano yang ditekan dengan kasar mengurungkan niat bicaranya. Kepalanya menoleh cepat ke piano di mana Ravel Kohler yang tampaknya belum kembali ke dunianya memainkan lagu lain dengan penuh...emosi meskipun tekanan nada dari forte ke piano itu membuatnya terkagum, saking akuratnya.

Ia menyadari, nada yang dimainkan sama dengan nada yang mereka mainkan tadi—dengan biola dan piano masing-masing, tapi lebih keras. Rasa penyesalan yang kesal, lebih berat dengan permainan nada jangkauan bass.

"Tuan Lioret, apakah Anda mengenal siapa yang memainkan piano itu?”

“Ravel Kohler, General Ravel Kohler,” jawabnya, tanpa mengalihkan pandangan kepada Bianca meskipun mengangguk setuju pada kalimat yang mengikuti pertanyaannya tadi, “tidak ada yang bisa bermain seperti itu kalau tidak kehilangan sesuatu yang berharga...” berhenti sebentar, kembali tersenyum timpang, “—kecuali kalau permainan itu hanya akting.”

Tapi yang ini asli, Lio tahu persis.
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   25th December 2009, 23:34

“Ravel Kohler, General Ravel Kohler.”

Ya, Tuhan. YA, TUHAN. Ia, Bianca Corda, seorang Exorcist buta yang bahkan merasa bahwa dirinya tidak pantas disebut 'Exorcist' itu baru saja... menginterupsi permainan salah seorang General di cabang itu. Ia langsung bingung sendiri, pucat pasi, karena pengalamannya mengatakan bahwa berurusan dengan General itu tidak akan berakhir dengan baik.

“Tidak ada yang bisa bermain seperti itu kalau tidak kehilangan sesuatu yang berharga... kecuali kalau permainan itu hanya akting.”

Bianca terdiam, wajahnya berubah serius. Ia tahu benar, untuk menciptakan nada-nada sedalam itu, tidak mungkin pemainnya 'hanya berakting' kehilangan sesuatu yang berharga. Ia pasti pernah kehilangan sesuatu, entah itu orang tuanya, sahabatnya, hewan peliharaannya, atau...

...belahan jiwanya
"...akting ataupun bukan, aku yakin perasaannya yang tertuang dalam permainannya ini bukan bohongan..." gumamnya pelan. Ya, ia yakin perasaan itu bukanlah bohongan, karena ia tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang sangat berharga, dan bagaimana musiknya berubah karena hal itu.
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   29th December 2009, 10:48

Demi Tuhan.

Terkadang pria berambut pirang ini heran sendiri ketika tangannya bergerak dalam sebuah.. atau bagaimana masa lalunya bisa membuat lubang pada hati dan pikiran. Kemudian, hasil dari luka tersebut mengubah bentuk dari hal-hal yang ia coba untuk ekspresikan. Ravel Kohler dapat merasakan bbetapa menggelikan fakta tersebut.

Meski demikian, semua hal tersebut--semua hal yang sempat bernaung pada pikirannya sepersekian detik di saat tangannya menekan tuts piano--sudah terjadi, dan berlaku pada hatinya. Tinggal menunggu hingga akhirnya--kalau memang ada--seseorang yang mungkin dapat mengisi kekosongan tersebut.

Namun sebelum itu...

Tangannya berhenti bermain, menyadari bahwa dirinya sudah sampai di penghujung lagu. Pendengarannya menajam, sadar bahwa tidak ada suara biola yang mengikuti permainannya. Apa Lioret tidak pernah mendengar lagu tersebut? Bibirnya tidak menyunggingkan senyum, bahkan ketika asumsi tersebut memenuhi pikirannya; lagu tersebut memang bukanlah lagu yang sering diperdengarkan. Lalu, bagaimana dengan Exorcist (ya, Ravel Kohler memang pernah mendengar seorang Exorcist berambut perak dalam pasukan mereka) yang... sempat berbincang dengan anak muridnya tersebut?

Ravel Kohler berdeham; untuk pertama kalinya, pria berambut pirang ini memotong pembicaraan antara dua pemuda yang tampaknya sedang berbincang.

"Mohon maaf bila permainanku mengganggu. Saya tidak bermaksud demikian."

Singkat, jelas, dan menghadap kedua orang yang ada di kapel. Anehkah bila melihat seorang jendral setaraf Ravel meminta maaf karena permainannya? Atau justru... karena ia tahu bahwa seberapa indahnya sebuah permainan pasti akan terdengar menyedihkan bila refleksi hatinya tidak baik?

Tangannya kembali bergerak.

Melody of Agony




OOC: Melody of Agony (c) Square Enix

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Lioret I. Shirogane

avatar

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   6th January 2010, 19:37

“Kenapa?” tanyanya, menatap si pemuda berambut putih yang seketika berubah pucat seperti warna rambutnya. Lio tidak akan mengerti karena pemuda Prancis ini bahkan tidak pernah merasakan—atau tepatnya tidak pernah MENCOBA merasakan—untuk menghormati seorang superior secara ekstrim bahkan sampai mengukur jenjang kekuatan mereka (karena mereka Exorcist).

Ia hanya mengangguk, tidak mengusahakan satu kata pun terucap dari mulutnya. Matanya terpaku pada sosok Bianca sebelum telinganya kembali menangkap melodi yang mengalun. Ia bukan pemusik yang baik, belajar biola pun otodidak dengan sedikit arahan ayahnya. Sebenarnya tidak cukup pantas baginya untuk menilai suatu musik—menilai apa yang terkandung di dalamnya—dan lebih mendengarkan apa yang hatinya katakana saat mencerna musik itu.

Si pianis menoleh pada mereka, meminta maaf karena permainannya..mengganggu? Sejak kapan? Génial” jawabnya, tersenyum tipis. Tapi kali ini sebuah lagu kembali dilantunkan. Seperti yang telah dikatakan; dia tidak bisa menilai sampai ke dalam, tapi kau tahu apa yang ia rasakan saat mendengar permainan piano bertempo cepat-cepat-lambat-jadi-cepat? Lagu itu cocok untuk suasana...panas. Marah, mungkin?

“Menurutmu?” bertanya pada Bianca, mengharapkan penilaian yang lebih baik darinya.




((OOC: "Génial" = "Awesome"
Harusnya judulnya diganti jadi Ravel's Piano Recital))
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   9th January 2010, 17:11

Bohong besar kalau permainan General tersebut mengganggu. Yang ada permainannya tadilah yang mengganggu. Sebuah lagu kembali dimainkan, dan sekali lagi ia tidak berani untuk mengangkat biolanya. Bukan tempatnya untuk mengganggu permainan siapapun. Bukan tempatnya untuk mengganggu emosi siapapun.

“Génial. Menurutmu?”

Pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Jawabannya sudah pasti. "Luar biasa..." bisiknya pelan. Melodi yang dimainkan sekilas terdengar timpang, namun kalau didengarkan lagi dengan seksama, memang permainan nadanya seperti itu. Seperti perasaan manusia yang terkadang timpang, namun tetap indah dengan caranya sendiri.

"Sepertinya... sebaiknya saya segera mohon diri. Saya sudah tidak ada kepentingan di sini lagi," katanya pelan. Pernyataan tersebut sebenarnya salah, karena sejak awal ia memang tidak punya kepentingan di sana. Dengan gerakan pelan, ia mengembalikan biolanya ke dalam kotaknya, lalu menyampirkannya di bahunya.

"Saya permisi dulu. Terima kasih," ucapnya pelan dan penuh hormat sambil menunduk pelan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya. Ia lalu melangkah keluar dari kapel itu, kembali ke kamarnya dengan perasaan yang terasa lebih ringan.

[OUT]
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   14th March 2010, 11:21

Ia mendengar decit pintu tertutup.

Ravel Kohler pun segera membuka mata. Jemarinya berhenti mengetukkan tuts piano, sementara mata kuning kecoklatannya hanya bisa menangkap hitam putih tuts-tuts piano. Lupa di mana dirinya berada, namun pria ini segera sadar bahwa dirinya masih berada di dalam markas, tepatnya di kapel. Sementara itu, dirinya memang tengah memainkan piano--lagu yang sering dimainkannya berdua bersama dengan Nicola--

--tangan Ravel hanya memijit kepalanya beberapa saat. Bagaimana bisa ia membawa-bawa mendiang istrinya sekarang? Beliau memang ada untuk dikenang, namun hanya dengan satu lagu yang bisa menyeretnya ke tepi melankoli...

Pria ini menyeka beberapa helai pirang yang menjuntai. Sedingin apapun keadaan, sepertinya bermain piano dengan tenaga yang luar biasa cukup membuat orang dapat mengeluarkan keringat berlebih (setidaknya dari kepala). Dirinya harus berganti pakaian, sebelum ia mulai terkena gejala-gejala hipotermia karena telah berbasah-basahan.

...Ah, tadi siapa yang sudah keluar?

Kepalanya bepaling. Pandangan segera terarah pada pemuda yang menjadi anak didiknya; Lioret Ifrit Shirogane, pemuda yang cukup handal dalam bermain alat musik. Melihatnya berdiri di sana--tepat di tempat duduk yang ada di kapel--membuatnya sedikit menebak apakah ia di sana untuk berdoa... atau justru tertarik mendengar alunan lagu yang tidak sengaja dirinya tumpahkan. Pria ini hanya menarik senyum tipis--tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena ia tidak pernah bermain lagu untuk ditonton.

Lagipula, setelah satu lagu yang dibawa pemuda itu--pemuda yang sepertinya sudah pergi meninggalkan ruangan duluan--tangannya seakan ingin bermain sendiri. Ia hanya bermain karena ia mau--atau lebih tepatnya, karena jari-jarinya mau.

"Jujur saja, itu lagu yang pahit."

Satu pernyataan yang sebenarnya tidak terlalu bermakna besar--dirinya tahu jelas bahwa lagu-lagu yang ia bawakan merupakan lagu-lagu yang biasa ia mainkan bersama degan Nicola. Sebelum lidahnya mulai berdosa karena mengatakan kebohongan, lebih baik ia menyatakan hal tersebut--sekecil apapun--sekarang.

Mata kuningnya melirik ke arah pintu ruangan untuk beberapa saat, kemudian ke fitur Lioret. Ia menunggu komentar; bukan kali pertama Lioret mendengar gurunya bermain piano, namun baru kali ini ia memperdengarkan lagu yang biasa dibawakan bersama istrinya. Tentunya, tak salah bukan bila ia ingin mendengar pendapat anak didiknya tentang hal ini?

Ah, andai saja Shion juga mendengarnya; ia ingin komentar juga dari anak tersebut. Yang jujur tentunya.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Lioret I. Shirogane

avatar

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   19th March 2010, 15:20

Senyum tipis sedikit tertarik di kedua ujung bibirnya. Menatap pemuda di sebelahnya dengan tatapan jujur yang dalam artiannya "setuju" sebelum ia melambai sedikit kepada sosok yang kemudian meninggalkan kapel. Seandainya ia bisa bertemu chief supervisor Black Order ini, palingan ia mengusulkan membentuk grup orkestra anggota Black Order. Konyol. Tapi, well--mungkin ia ada benarnya juga.

Mungkin ia memang banyak mendengar permainan piano Master-nya. Sejak 8 tahun lalu hingga sekarang--bahkan tidak perlu ditanya bagaimana, ia agak hafal dengan gaya permainannya. Familiar? Itu wajar. Dan komentarnya selalu sama. Perlukah ia berkomentar kali ini? Bersikap acuh, mendudukan dirinya lagi pada kursi kapel, dan jelas ekspresinya datar--menunjukan ketidaksetujuannya.

"Kalau pahit kenapa dimainkan?" sesuatu yang tidak bisa dihubungkan dengan logika dan ego, mungkin gerak reflek. Kalau Master-nya bertanya balik, ia tidak akan menyangkal.




Sori aneh. Feel nyerodot.
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
avatar

Posts : 152
Umur : 26
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   24th March 2010, 07:54

Mendengus.

Bukan, pria ini tidak mendengus karena tidak suka dengan pertanyaan anak didiknya sendiri. Mungkin daripada mendengus, gestur tubuh yang diberikan pria ini cenderung lebih... chuckling? Entah, Ravel Kohler sepertinya terjepit antara heran dan kaget.

"Siapa yang menetapkan bila lagu-lagu yang perlu dimainkan harus bersifat menyenangkan? Ah, atau hangat? Tidak ada bukan?" Sebuah senyum--sedikit mirip sengiran bila dibandingkan dengan wajah Ravel Kohler pada umumnya--menghiasi fitur wajahnya. Pada akhirnya pria ini memang hanya bermain sesuai dengan perasaannya--kebetulan saja Lioret sedang mendengarkan sisinya yang memang sedang ingin meringis karena takdir yang ia jalani.

Tangan mengelus tuts-tuts piano. "Kejeniusan Mozart tidak hanya terletak pada lagunya yang cenderung upbeat, namun juga pada nada-nada melankolis yang dihasilkan oleh jarinya pada selembar kertas. Jadi... kukira tak ada salahnya memainkan lagu-lagu bernada melankolis seperti tadi."

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Lioret I. Shirogane

avatar

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   27th March 2010, 22:40

"Pemainnya, dong. Kan dia yang merencanakan mau memainkan lagu apa," ujarnya, nyaris terbahak dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk pelipis kanan langsung ke bagian otak. Lio hanya agak geli, sebuah pernyataan serius dari sang Master keluar begitu saja dan tentunya ia tidak berniat menanggapi lebih selain satu kalimat itu.

Larinya ke Mozart. That mozarella guy yang lalu menyangkut nada melankoli. Ia tersenyum simpul, mengangguk samar tampak ingin mengeluarkan statement selanjutnya; "menurutku bermain musik sama dengan menumpahkan suasana hati," yang artinya lagu yang dimainkan menggambarkan suasana hati. Secara normal, kecuali orang itu dipaksa bermain.

Tapi gak tau juga deh ya, dia kan pemula. Wakakakak.
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: [CENTRAL]The Burdened   

Back to top Go down
 
[CENTRAL]The Burdened
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Community Central: Welcome to Camp Half-Blood!
» MALKOIR --- Spike Corner Central
» New Beginnings Showcase - Manehattan Central
» [Official] Face Claim List!
» Supernatural: Legacy Central Thread

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Incomplete Tales-
Jump to:  
Create a forum on Forumotion | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com