An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [ONE-SHOT] Mi Manchi

Go down 
AuthorMessage
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: [ONE-SHOT] Mi Manchi   22nd December 2009, 00:26

Disclaimer:
Roman Pavlovich Sintsov (c) Sacchii
Bianca Corda, 'mysterious female Exorcist' (c) Issei Akira

Sori pendek, lagi rada webe |||orz



Mi Manchi
~I Miss You~

Kesepian. Satu kata itu sudah cukup untuk menggambarkan perasaan Bianca saat itu. Sudah 2 hari penuh ia tidak mendegar candaan ataupun tawa renyah dari sahabat terbaiknya, Roman Pavlovich Sinsov. Ia memang sudah diberi tahu jauh-jauh hari bahwa Roman memang harus menjalani suatu misi bersama Finder lainnya selama seminggu, tetapi ia masih belum bisa beradaptasi dengan keadaan ‘tidak ada Roman bersamanya’.

Dan meski baru ditinggal 2 hari, Bianca sudah kalang kabut sendiri. Setiap kali ada rombongan yang pulang, ia akan bergegas menyambut mereka, lalu berjalan kembali ke kamarnya dengan lesu, karena tidak ada Roman di rombongan itu. Setiap 3 jam, ia akan berjalan ke kapel lalu berdoa rosario demi keselamatan sahabatnya itu. Malam hari pun ia pergi berdoa di kapel bahkan sampai tertidur di sana.

Di hari keempat, serombongan Exorcist dan Finder pulang dari misi. Dan seperti hari-hari sebelumnya, Bianca segera bergegas datang ke lobi utama untuk menyambut rombongan itu. Salah seorang Exorcist wanita di rombongan itu merasa heran melihat tingkah laku Bianca, yang tergesa-gesa datang menyambut mereka tapi lalu pergi begitu saja dengan langkah gontai, seolah yang datang bukanlah orang yang ia tunggu.

“Siapa Exorcist berambut putih itu?” tanya sang Exorcist wanita pada salah seorang Section Staff yang ikut menyambut rombongannya. Section Staff itu menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Exorcist itu dan mendapati orang yang dimaksud.

“Ah, itu… Namanya Bianca Corda. Mungkin tadi ia datang untuk memastikan apakah seorang Finder sahabatnya, Roman Pavlovich Sintsov, sudah pulang atau belum,” jawab Section Staff itu sambil tersenyum ramah. Exorcist wanita itu hanya bisa mengangguk pelan sambil mengikuti Bianca dengan tatapannya.

---

Saat makan siang, Bianca mengambil tempat paling sepi di ujung kafetaria. Biasanya, sambil menyantap makanannya, ia mendengarkan cerita dari Roman tentang Rusia yang selalu ia banggakan. Tetapi selama Roman pergi, ia menghabiskan makanannya dalam keheningan total. Namun khusus siang itu, seorang Exorcist wanita datang menghampiri mejanya.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Exorcist wanita itu pelan, dengan logat yang terdengar agak lucu di telinga Bianca.

“Silakan,” jawab Bianca sambil tersenyum tipis. Exorcist tadi langsung mengambil tempat di depan Bianca, dan mulai menyantap makan siangnya. Awalnya kedua Exorcist ini menyantap makan siang mereka dalam keheningan, sampai sang Exorcist wanita mulai angkat bicara.

“Tadi aku melihatmu datang tergesa-gesa untuk menyambut rombongan Exorcist dan Finder yang baru datang, tapi kamu langsung pergi tak lama setelahnya. Ada apa?” tanya Exorcist wanita itu. Bianca yang baru saja mau menyendokkan supnya langsung menghentikan gerakannya, menggantungkan sendok yang ia pegang beberapa senti di depan mulutnya. Ia lalu menurunkan lagi sendok itu ke dalam mangkuknya dengan wajah murung.

“Aku… Aku menunggu kedatangan sahabatku. Dia seorang Finder, dan sedang ditugaskan untuk menjalani misi. Aku tahu ia tidak akan pulang untuk 3 hari ke depan, tapi… Aku merindukannya… entah bagaimana…” jawab Bianca pelan. Seulas senyum sedih terlukis di wajahnya, membuat Exorcist wanita yang mengajaknya mengobrol itu merasa iba.

“Finder itu… sangat berarti untukmu, ya?” tanya Exorcist itu lagi. Bianca tersenyum semakin lebar. Setitik kehangatan terpancar di balik senyumnya yang sedih. Bianca mengangguk pelan, namun yakin. Tidak perlu berpikir lama, Roman memang adalah orang yang sangat berarti baginya.

“Roman itu… bisa dibilang, dia adalah ‘kakak’ bagiku, meski sebenarnya akulah yang usianya lebih tua. Tapi aku terlalu kekanakan dan tidak berguna dibanding Roman, jadi… ya begitulah,” jawab Bianca agak tidak jelas. Sulit baginya untuk menjelaskan hubungannya dengan pria Rusia satu itu, tapi ‘saudara’ mungkin adalah kata yang paling tepat baginya.

“Hmm, pantas saja kamu merindukannya. Aku juga, punya orang yang kuanggap ayah di sini. Kalau beliau pergi misi sendirian, aku suka cemas sendiri. Terus, aku juga punya kakak sepupu, yang selalu panik kalau aku pergi keluar sendirian,” cerita Exorcist wanita itu dengan nada yang sangat tenang. Bianca yang mendengarkan jawaban dari Exorcist itu pun merasa sedikit lebih tenang. Rupanya bukan hanya dirinya yang pernah merasakan kesepian dan kecemasan semacam itu.

“Kamu sabar saja. Tinggal 3 hari lagi, ‘kan? Doakan saja keselamatannya setiap saat,” tambah Exorcist itu sambil kembali menyantap lagi makanannya dengan cepat.

---

Tanpa terasa, seminggu telah berlalu. Bahkan setelah sempat mengobrol dengan Exorcist wanita yang tidak sempat ia tanyai namanya, ia masih sering keluar-masuk kapel selama 3 hari itu. Yang berubah hanya bagaimana ia tidak pernah lagi tergesa-gesa menyambut rombongan yang baru pulang dari misi, karena ia tahu Roman baru akan pulang seminggu setelah keberangkatannya.

Pagi hari di hari ketujuh, Bianca menunggu dengan sabar di lobi utama. Sekitar pukul 9 pagi, gerbang utama dibuka, tanda adanya rombongan yang baru pulang dari misi. Dan ia bahkan tidak perlu menunggu lama sampai ia tahu bahwa sahabatnya sudah pulang.

"Bianca, aku pulang! Kamu sehat kan? Enggak diapa-apain kan? Enggak ada yang luka kan?" Sebuah sapaan yang dilanjutkan dengan serentetan pertanyaan langsung diajukan oleh Roman yang baru saja pulang dari misinya. Sepertinya pria Rusia itu juga cemas harus meninggalkan Bianca di markas. Bukan berarti ia tidak mempercayai orang lain dalam markas, ia hanya mengkhawatirkan keadaan sahabat terbaiknya itu.

Bianca tersenyum mendengar bagaimana Roman begitu mencemaskannya. Rupanya bukan hanya dirinya yang mencemaskan keadaan sahabatnya sendiri. “Aku baik-baik saja. Kamu sendiri?” balas Bianca. Tapi sebelum pria Rusia itu sempat menjawab pertanyaan Bianca, pria albino itu samar-samar mencium bau darah dari arah sahabatnya itu. “Kamu… terluka?” tanyanya lagi. Ekspresi cemas kini memenuhi wajahnya.

“Ah, ini? Cuma luka kecil, kok, tidak usah dipikirkan,” jawab Roman sambil tersenyum usil. Baginya, luka lecet di pipinya itu bukan apa-apa. Lagipula hanya terasa sedikit perih, diobati di infirmari pasti langsung sembuh. Tapi Bianca masih menunjukkan ekspresi khawatir.

“Lukanya… di sebelah mana?” tanya Bianca sambil mengulurkan tangannya. Tanpa banyak bicara, Roman meraih tangan pria itu dan meletakkannya di pipi kirinya, sedikit di bawah matanya, tempat lukanya berada. Bianca meraba pipi pria itu perlahan, dan secara tidak sengaja juga menyentuh lukanya. Roman berdesis pelan sambil meringis kesakitan saat Bianca menyentuh bagian itu. Rupanya sakit juga kalau disentuh.

“Sakit, ya? Maaf, aku tidak sengaja…” kata Bianca saat ia mendengar desisan Roman, masih dengan ekspresi khawatir yang sama. Tapi belum sempat Roman berkomentar apapun, ia sudah dikejutkan oleh air mata Bianca yang bergulir perlahan di pipi pria albino itu. Seketika itu juga, Roman langsung diliputi perasaan kaget dan bingung. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya itu mendadak menangis.

“Lhooo, kamu kenapa? Kok nangis? Ada yang sakit?” tanya Roman cepat. Bianca menggeleng keras, membuat Roman semakin bingung dan tidak mengerti tentang apa yang membuat sahabatnya menangis seperti itu.

“Aku… aku hanya…” Bianca mengusap air matanya, berusaha untuk tidak terlihat kekanakan, meski air matanya masih tetap mengalir dengan deras. “Aku hanya kangen padamu, Romaaaan,” isaknya sambil terus berusaha menghapus air matanya. Roman membelalakkan matanya kaget mendengar jawaban Bianca yang… begitu sederhana, namun tulus. Pria Rusia itu tersenyum lembut, lalu mengusap-usap kepala Bianca lembut.

“Aku juga kangen padamu, Bianca,” balasnya ringan. Ia lalu tersenyum lebar dan berkata dengan riang, “Aku pulang, Tovarishch.”

[END]
Back to top Go down
View user profile
Roman Sintsov

avatar

Posts : 40
Pemilik : S.E.H.

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Eropa
Umur: 24

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mi Manchi   22nd December 2009, 00:45

AKIRA, KAMU NGGAK SALAH POST DI ALLO INI? *ditabok bolak-balik*

Err, oke, saya jadi senyum-senyum sendiri nih, haha. :">

... YAOI! *dibejek*

Wuih, persahabatannya kerasa kental banget nih ya~ Emang tuh dua sahabat lengket :"> kok terakhirnya nggak dipeluk? *dihajar* Dan kayaknya saya tau siapa Exorcist wanita misterius itu :-" Jadi kepikiran, kalau Roman yang ditinggal Bianca jadinya seheboh apa ya... Hmm...

Kalau dari sisi penulisan, memang lebih simpel dari biasanya, tapi feel-nya sudah tersampaikan kok =w=b Thank you for making such eye candy for me who currently frustated about making the rules =)) *kicked*
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda

avatar

Posts : 121
Pemilik : Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mi Manchi   22nd December 2009, 01:13

YAELAH, ROMANCA ALLO BARU KETEMU GITU, MAU NULIS APAAN? NANTI KALO UDAH LEBIH 'HOT' LAGI SAYA BIKININ DEH *digorok*

Yaah, saya emang demen menulis secara 'langsung tapi tidak langsung' *apa pula ini* *disodok* Roman ditinggal Bianca? Mungkin bakalan bolak-balik gangguin kantor administrasi atau supervisor supaya dikasih izin buat ikut dalam misi yang sama *dibejek*

Selamat berjuang membuat peraturan, semoga sukses =w=/
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Mi Manchi   

Back to top Go down
 
[ONE-SHOT] Mi Manchi
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Vexen *The Guy Who Gets Shot By An AirSoft Gun And Makes A Big Deal About It*
» Gazzy X Nudge One-shot
» Work In Progress Oneshot (RATED M, to warn)
» dual 15 shot revolver type flintlocks
» The home of Team Aqua Shot (Chloe, Sakura and Kyoya)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Non-Roleplay :: Exhibition Room :: Literature Exhibit-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com