An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[CENTRAL] Continuation I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[CENTRAL] Continuation I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[CENTRAL] Continuation I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[CENTRAL] Continuation I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[CENTRAL] Continuation I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[CENTRAL] Continuation I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [CENTRAL] Continuation

Go down 
AuthorMessage
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime27th December 2009, 08:12

((OOC: webe judul timeline setelah “Just a Stupidity”
OPEN FOR ALL TERUTAMA STAFF MEDIS. Terserah mau ngapain sih =)) asal jangan anak saya yang dimampusin
PS: Lio dating bareng Shion buat ngobatin luka tampar itu :-“ *PM kekeh Shion yang salah, tralala~**diadon*))




Come on, dia belum siap menerima resiko—menengok ke belakang—tapi terpaksa. Salah siapapun itu, tetap saja pandangan mata menyeramkan pasti terarah kepadanya. Nah, saat itu apa yang harus ia katakan? Masalahnya harga dirinya tidak cukup rendah untuk berbohong untuk mengarang alasan seperti terantuk pohon dan semacamnya. Jadi dia harus me—mengalah...pada nasib.

Pemuda itu menghela nafas pelan saat mengetuk pintu infirmari yang tertutup rapat. “Permisi,” katanya. Bagus toh dia masih punya sopan santun daripada yang masuk sembarangan tanpa mengetuk dulu? Tapi by the way, mana ada Exorcist—terutama yang luka parah karena ruangan ini digunakan untuk itu—yang mengetuk pintu dengan sabar saat ia sendiri berada di ambang kematian? Berarti Lio yang konyol dong.

Pemuda itu—merasa memang alasan tadi logis—membuka pintu dengan mendapati beberapa orang staff medis berada di sana, spontan menatap mereka, melirik Shion. “Err—ada yang punya es batu?”

Nah loh.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime27th December 2009, 11:19

Ia diam saja ketika tangannya kembali dituntun oleh pemuda itu, kecepatan langkah kaki yang digunakan Lio agak melambat kali ini, mungkin sudah sadar bahwa ritme mereka berbeda? Jadi dengan mudah Shion menyesuaikan irama langkahnya dengan langkah Lio agar tak menciptakan jarak yang terlalu jauh. Sementara itu pandangan terarah lurus ke bawah, menunduk, dengan tangan yang tidak digenggam oleh Lio masih menyentuh lembut pipinya yang memerah akibat hal tadi.

Kalau dipikir-pikir kembali, apakah kekuatan lelaki sebegitu besarnya? Ia sudah menjadi rekan kerja Lio bukan hanya sehari atau dua hari saja tapi beberapa tahun, dan ia tentunya tahu tingkat kekuatan yang dimiliki pemuda itu, kalau boleh dibilang mungkin setaraf dengannya? Di bidang lain mungkin ada yang lebih tinggi, tapi setahunya kekuatan mereka terbilang imbang bahkan bisa dibuktikan dengan hasil pertempuran mereka ketika itu. Jadi? Kenapa bisa tiba-tiba berubah seperti itu?

Rasa kemarahan mungkin.

Tiba di infirmary Shion masih tetap tak membuka mulutnya, mengedarkan pandangannya ke sekiling ruangan, apakah Gaby ada disini? Ia belum menemukannya saat ini, entahlah yang pasti rasa sakit di wajahnya yang sekarang sudah berubah warna pastinya menyebabkannya kembali memilih diam. Ah ia bukan seorang yang berteriak kesakitan dengan cengeng hanya karena terluka macam ini, di arena pertempuran pasti akan lebih parah kan? Hanya saja sepertinya untuk menarik rahang, melontarkan kalimat agak sulit, padahal tadi sempat ia lakukan. Mungkin efeknya baru datang kemudian?

Dan sekarang apa yang harus ia lakukan? Mendengar Lio bertanya mengenai es batu, dan genggaman tangannya belum dilepaskan? Ia merasa benar-benar seperti anak kecil sekarang.
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime28th December 2009, 08:20

”Es batu? Ah, sebentar,”

Tangannya menuntun Shion masuk selama menunggu, lalu mendudukan gadis itu di salah satu kursi infirmari. Hanya sekedar luka tamparan, untuk apa ranjang infirmari? Lio diam melihat Shion yang juga diam—karena pipi terhubung dengan rahang—sedikit banyak memikirkan provokasi yang begitu kasar dan kuat hingga menghasilkan kekuatan tangan yang melampaui batasnya yang biasa.

Perlukah ia memulai pembicaraan?

“Silahkan,”

Seorang staff medis perempuan yang tadi menyambut mereka akhirnya member sekantung es batu, masih beku, sepertinya langsung dari pendingin. Lio—menerima es batu itu—mengangguk berterima kasih kepada wanita yang masih berada di sana. Mata kehijauannya menyelidik, untuk apa pemuda ini—dan gadis yang sekarang duduk itu—dengan es batu? Jemari keputihan di dagu yang sama putihnya, berusaha melihat sesuatu..

“Tempelkan ini di pipimu,” katanya seraya menyerahkan sekantung dingin itu kepada Shion. Simpel saja, ia tidak pernah belajar cara mengobati orang, kalau dia yang melakukan bisa kacau, kan?

”Astaga!”

Staff itu memekik, reksi yang wajar bagi Lio untuk ikut terlonjak, justru saat pemuda itu sedang berusaha tenang. Menelan ludah.

”Kenapa pipimu, Nona?”

Seorang staff medis, sangat perhatian, terlalu perhatian, sampai terlalu..cepat ikut campur. Memang itu tugasnya sih, yah. (sigh)




((OOC: itu NPCnya gw yang gerakin aja ya 8D *pengentestinguhuk*
Godmod dengan ijin GodMod, seperti biasa.))
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime28th December 2009, 08:58

Tak lama kemudian menyadari tubuhnya dituntun oleh Lio menuju salah satu kursi infirmary, mendudukkannya disana. Ia hanya menurut saja, kalau memberontak dan ada tangan salah sasaran nanti lalu mengenai pipi bekas tamparan ini bisa gawat. Bukannya mau menyembuhkan malah semakin memperparah. Keheningan mulai tercipta kembali, ingin sih memulai pembicaraan tapi kok rasa perih di wajahnya semakin menjadi-jadi ya? Hingga es batu yang diminta Lio diserahkan oleh seorang petugas mesdi perempuan.

"Terimakasih.."

Lirih.

Tak terlalu dapat mengeluarkan suara yang besar. Menerima uluran tangan Lio dengan es batu di dalamnya, lalu perlahan mulai menempelkannya secara hati-hati di wajahnya. Sensasi dingin, sentuhan yang pertama sempat membuatnya terlonjak, lumayan enak juga mengingat bekas tamparan tadi rasanya agak panas, tapi pedih juga ia rasakan sekarang. Perlahan ia mulai menempelkannya sesuai ritme yang ia tentukan secara bergantian. Tak mungkin mengompresnya terus, dingin.

Sebuah pekikan yang spontan membuatnya menatap sang staf medis, menyadari sepertinya Lio juga sempat terlonjak akibat hal barusan. Sepertinya takut akan sesuatu, apa? Menanyakan kenapa wajahnya bisa seperti ini. Ia bisa saja mengatakan perihal sebenarnya tapi apa itu tidak akan membawa dampak bagi pemuda ini? Apa justru ekspresinya tadi dikarenakan takut Shion akan membicarakan fakta sebenarnya? Tapi itu semua juga bermula dari mulutnya, yang berarti di memprovokasinya duluan.

"Tidak apa-apa, hanya.. jatuh dan menabrak keras dinding"

Alasan yang masuk akal tidak?

Setidaknya berharap agar perbuatannya tak membawa masalah bagi kakaknya tersebut.
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime28th December 2009, 09:25

Huh?

Ada perasaan lega karena Shion sepertinya mengerti maksud kepanikannya tadi dan fakta bahwa gadis itu membelanya dengan mencari alasan lain yang sebenarnya kurang logis. Tapi tetap saja perasaan risihnya tidak bisa hilang, mungkin karena merasa agak ber—ber—tidak bertanggung jawab atas perbuatanya yang bukan kesalahannya meskipun sedikit banyak dilakukan olehnya? Dan alasan emnabrak tembok itu—sepertinya jawaban yang sangat salah jika ditujukan pada staff medis yang sepertinya tahu banyak itu.

”Menabrak tembok?” (mendengus) ”Tidak mungkin menghasilkan bekas seperti itu—hanya karena tembok, Nona,” satu pendapat lagi, keras kepala. Seakan staff medis itu mendesaknya untuk mengatakan kejujuran—dan dengan mudahnya mendeteksi kebohongan yang ada.

“ Sebenarnya..” menghela nafas, bagaimanapun ia laki-laki, yang harus menghadapi semuanya termasuk resiko yang telah ia ciptakan sendiri—sekali lagi, yang salah bukan dia—dan siap untuk dihajar. Kodrat. Ya. “ Itu tanganku,” melambaikan tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan hitam dengan pasrah.

Wanita itu tampak menghela nafas, menarik tangan kanan yang dilambaikan pemuda itu. Dan sebuah tamparan di tanganpun mendarat. ”Jangan kasar terhadap kekasihmu dong,”

...

...

...

Sori?

“M—maksudmu?” sejak kapan juga mereka menjadi sepasang kekasih? Ngaco. Tapi wanita itu hanya mendengus, mengalihkan perhatiannya pada Shion. Sentuhan halus di tangan gadis yang sedang menggenggam kantung es batu, seraya bertanya, “enakan?” tersenyum keibuan.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime28th December 2009, 11:01

Tak terpikirkan kembali alasan macam apalagi yang harus diutarakannya, ia hanya tidak ingin memperbesar masalah jika bisa. Walau begitu, memang salah jika kita berbohong di depan pakarnya, gadis staf medis yang sudah menatap curiga dan mendengus berkata bahwa luka seperti ini bukanlah seperti luka alasan yang diutarakan Shion. Yah, terserahlah, sama-sama sakit ini baginya yang manapun kok. Memilih untuk melanjutkan kembali kegiatan pengompresan itu. Diam, takkan berkata yang sebenarnya walau dipaksa sekalipun.

Tapi ternyata pelakunya malah mengaku duluan. Dan adegan tamparan mendarat di tangan Lio yang melambai. Menatap tajam gadis staf medis tersebut, berani benar ia melakukan hal tersebut tepat di hadapannya. Tidak bisa begitu.

"Anda tidak berhak memukulnya, saya duluanlah yang memulai"

Berdiri tepat di hadapan gadis staf medis itu, tak takut untuk memberikan sebuah perlawanan. Tapi kalimat staf medis tersebut selanjutnya sukses membuatnya langsung kembali terdiam. Bongkah es batu masih bersentuhan dengan kulit wajah putihnya yang berubah warna menjadi memerah. Kekasih? Tidak salah tuh? Bahkan Lio sendiri sepertinya tidak mengerti apa maksud gadis-yang-seenaknya-mengklaim-seperti itu.

"Kekasih? Darimana kau mendapatkan dugaan tersebut?"

Masih menatap tajam. Tak menerima apa yang terjadi tadi, kalau itu seseorang yang lain tentunya tidak akan dipedulikan, tapi ini Lio. Rona merah hampir menjalar untuk sesaat ketika mendengar istilah itu tadi, tapi dengan mudah langsung kembali menghilang secepat rona merah tadi muncul, tidak mungkin kakak-adik menjadi sepasang kekasih kan? Pikiran polos yang membuatnya teguh tak mempedulikan arti kekasih barusan.

"Ya.. terimakasih.."

Menolak kehadiran tangan lain yang mengelus lembut tangannya, senyum keibuan. Ia tidak pernah merasakan senyum seperti itu karena tak pernah melihat sosok seorang ibu yang meninggal ketika ia dilahirkan. Bahkan kata keibuan saja tak dapat ia pahami, ia hanya mempercayai ayahnya, Gelvanekennari, dan Kohler Mestre sebagai orang yang dihormati, dengan Lio sebagai tambahan sekarang. Tapi untuk orang terakhir tentunya takkan diperlihatkan mengingat harga diri yang ia miliki.

Apakah nyaman berada di palungan ibu?
Senyumnya yang lembut.
Hanya khayalan semata.
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime6th January 2010, 19:37

” Ahaha, maaf,”

Lio hanya bisa diam saat Shion memprotesi staff medis yang menampar tangannya. Seketika menaikan satu alis, hei—tamparannya terlalu keras ya sampai otak gadis Islandia itu bergeser? Biasanya ya, biasanya Shion malah akan—kau tahulah—tertawa (mungkin) mengejeknya dan sejenisnya. Bahkan dia sendiri yang nyaris membunuh Lio beberapa minggu lalu kenapa justru dia yang protes hanya karena sedikit teguran? Ah ya, ah ya, tenanglah, nak.

Dan sejujurnya ia bisa merasakan aura Shion agak—menajam, kesannya tidak suka karena perkataan si staff medis yang hanya tertawa kecil mendengar perlawanan gadis 16 tahun itu. Tersinggung? Mungkin. Mungkin Shion memiliki gebetan yang bahkan tidak ia ketahui, yang jelas lebih pantas darinya.

” Kelihatannya seperti itu. Maaf kalau saya salah,”

Staff medis itu kembali menjawab sambil tersenyum—senyum natural yang tampaknya ditempel di wajahnya sejak kecil. Sementara dia, sebagai satu-satunya lelaki di sana tidak berkutik menghadapi dua perempuan di depannya.

Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya lagi, sejak tadi ia terus menatap kedua gadis itu dengan heran sampai sebuah pertanyaan yang sejak tadi tersangkut di tenggorokan akhirnya terlontar keluar, “ otakmu tidak bergeser kan, Shion?” Kuharap tidak, sih.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime25th February 2010, 21:49

Sekali ia tidak suka ya tidak suka, tidak ada yang boleh membantahnya bukan? Ia hanya tidak menyukai jika seseorang yang sudah ia anggap keberadaannya diperlakukan bukan atas kehendaknya, sudah sifatnya seperti itu dan patut disyukuri jika kau merupakan salah satu orang yang dianggap seorang Shion karena gadis muda ini tak akan sembarangan memilih orang, mungkin tak berlebihan jika ia tak pernah sungguh-sungguh menjalin relasi dengan siapapun bahkan untuk ukuran teman sekamar atau partner kerja. Hubungan yang ia pilih tak sedangkal itu, sampai saat ini saja berapa orang yang termasuk di antaranya masih masuk dalam hitungan lima jari.

Sederhana saja, karena hubungan manusia itu tak kekal, bahkan sangat rapuh.

Dan dia termasuk orang yang menganut prinsip bahwa relasi hubungan bukanlah sesuatu yang amat penting. Ia juga tahu bahwa ia masih makhluk sosial, yang tak akan dapat hidup tanpa kehidupan lain di sekitarnya, bayangkan saja jika Gelvane kennari tak mengurusnya ketika itu dan ketika Sigfried bahkan tak mengindahkan keberadaannya. Ia tak akan menjadi seperti yang ada sekarang ini bukan? Walau dari segi mental tentu saja dirinya bahkan tak kalah labilnya dengan seorang gadis cilik yang mudah terguncang dengan kenyataan yang memutar penuh apa yang dipahaminya selama ini.

Bahkan ketika menyadari sebuah sosok keibuan itu, ia tetap tak bergeming pada tatapan tajam dan sikap dingin yang masih dipilihnya. Tentunya ia juga lahir dari rahim seorang perempuan, tapi tidak, selama ini yang mengasuh dan membantunya adalah lelaki, Shion sudah lupa apakah itu yang disebut kasih terhadap Ibu. Bah, tak terbayangkan jika kelak ia benar-benar mendapatkan seorang pasangan yang akan bersanding di depan altar putih suci nantinya, ia sama sekali tak cocok untuk menjadi seorang yang berpredikatkan hal macam tersebut. Setidaknya hal itu masih cukup jauh untuk dipikirkan, memangnya sekarang ini juga ia mempunyai orang yang disukai?

Entah kenapa sebuah kerlingan kecil tertuju pada sosok pemuda tersebut. Tidak, tidak, naif sekali berpikir bahwa dialah orangnya. Bukankah Lio sendiri juga hanya menganggap Shion hanya sebagai adik belaka? Dan ya, rasa ketidak sukaannya ketika staf perempuan itu melakukan sesuatu terhadap Lio tidak lain juga karena rasa seorang adik yang tak suka kakak lelakinya diperlakukan macam begitu kan? Mungkin malah terlalu buta, padahal hanya sentilan kecil di tangan, apalagi si staf juga sebenarnya bukan menyalahkan si gadis exorcist belia ini.

"Yea, kelihatannya seperti itu, sama sekali bukan.."

Menyangkal. Namun pita suara terasa tercekik ketika mengatakannya. Ah sudahlah Lio sendiri juga tak akan suka dengan anggapan yang baginya tidak penting itu kan? Bahkan ketika acara pengompresan masih terus berlanjut dengan si staf perempuan yang masih tersenyum lembut, sayangnya masih membuat Shion bergeming dengan kekeras kepalaannya. Mendengus dan mengernyit ketika mendengar lontaran pertanyaan selanjutnya dari Lio yang benar-benar tidak sopan.

"Maaf?"

Menatap.

"Oh ya mungkin saja tamparan itu terlalu keras hingga membuat otakku bergeser, haha, lucu sekali, sayangnya kemampuanku masih setara denganmu Lio", tak bermaksud mencari pertengkaran walau pada akhirnya malah berujung pada hal yang serupa. Ah, apa kejadian di lorong harus kembali terjadi lagi untuk kedua kalinya? Suasana hatinya sekarang benar-benar aneh, semua juga berasal dari peristiwa pertarungan itu, sepertinya efeknya masih terbawa sampai sekarang.

Ia harus pergi sejauh mungkin dari orang-orang kalau perlu.

—untuk mengembalikan emosinya.
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime3rd June 2010, 20:49

Jujur saja ia kurang paham.

Lio teringat apa yang dikatakan Master-nya sendiri beberapa saat lalu dan jujur saja ia setengah-setengah—paham dan tidak. Tidak bisa juga ia menyangkal bahwa saat gadis staff itu menebak hubungan mereka, Lio sedikit menelan ludah dan ia benar-benar berharap—demi Akuma kawin—tidak ada yang menyadari tindakannya. Bagusnya kedua gadis itu tampaknya sedang asyik satu sama lain dan ia sebagai satu-satunya yang bergender berbeda tidak bisa menyela.

Tidak bisa, selama ia seratus persen tidak mengerti bahan pembicaraan mereka.

Itu sih sudah lewat, ya. Sudah menjadi sejarah dan gadis staff itu sudah meminta maaf. Mungkin otak Shion memang bergeser karena tanggapannya yang—yang—begitulah. Oke, Lio bukan pujangga atau filsafat, jangan memaksanya mengungkapkan sesuatu yang—yang—blah! Kau tahu sendiri, well—

“Oh, maaf. Otakmu memang sudah bergeser dari awal ya. Hahaha!” sengaja, biarkan. Ya, ya, suasana yang DIAM-DIAM SAJA SAMPAI SELESAI sangat membosankan—kau tahu? Lagipula Lio suka hal jujur—lebih sering bohongnya, sih—nah, sekarang dia jujur berarti tidak dosa dong, ya? “Dan sejak kapan kemampuan kita tidak setara?”

Tanpa ia sadari, staff medis itu melangkah mundur—mungkin.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime3rd June 2010, 22:36

Haruskah ia senang—

—atau marah?

Memangnya kenapa kalau hubungan mereka terlihat seperti kakak-adik, atau malah seperti kekasih? Tak ada harapan lebih, pastinya pemuda ini juga menganggap tak lebih selain predikat sebagai seorang kakak, melihat gadis kecil yang perlu dikasihani di hadapannya—dan sebagainya. Dikasihani? Mengernyit. Entah kenapa ia sangat membenci kata seperti itu, membuat masalah saja, Shion masih kecil katamu? Huh, kita lihat nanti, hanya karena lebih muda saja. Cih, karena itu ia benci usia terlampau muda. Dan sebaiknya—kita sudahi saja permainan rumah-rumahan konyol ini. Tak menyangka dapat membela seseorang yang sempat kau anggap sebagai seorang kakak lelaki?

Yang benar saja.

Sendirian juga tak masalah.

Ia juga benci staf yang memperlakukannya dengan baik. Ah ya, semua orang akan dengan senang hati tentunya diperlakukan dengan penuh keramahan seperti itu, tapi tidak dengan dirinya. Hanya membuat lemah, tidak menyadari dampak dari perbuatan tersebut nantinya. Ayahnya yang meninggal dengan meninggalkan memori tidak perlu berupa kasih sayang. Tinggal disini tentunya tak akan memerlukan hal macam itu, ia yakin akan hal tersebut. Kasih sayang membuahkan kekuatan? Tak pernah mendengar hal tersebut dari kamusnya, biar saja. Emosi eh? Sesuatu yang berkecamuk, padahal terbiasa hanya tersenyum atas semua perasaan kemanusiaan tersebut.

Kembali lagi, lucu sekali.

"Itu sindiran Lio?", maaf dia sudah tak ada minat untuk tersenyum lagi sekarang. Semua kejadian hari ini sudah benar-benar membuatnya muak. Awalnya memang sempat mereda, terutama pada saat Lio membawanya kemari. Tapi tidak setelah candaan dangkal, perlakuan seorang perempuan sok tahu padanya dan—berujung ke hal seperti ini.

"Maaf saja kalau otakku sudah bergeser, aku tak akan pernah menginjak tempat ini, dan itu berarti tak akan pernah bertemu denganmu", kali ini berdiri, memilih duduk terus-menerus hanya membuat pegal, sandiwara diakhiri sekarang juga. Harusnya itu yang ia lakukan sejak semula.

"Bukankah menyenangkan? Kau tidak akan pernah bertemu gadis sepertiku, dan ya, dan aku pun tidak akan pernah bertemu pemuda sepertimu", fuh. Hell, kemampuan kita tidak setara? Lihat dari hasil pertarungan ketika itu? "Hmph, kaulah yang pingsan duluan ketika itu Lio, bukan aku", kali ini tersenyum, ya~ senyum mengejek khusus untukmu, Lio tersayang. Tak tahukah kau bahwa Shion akan dengan senang hati ditampar untuk kedua kalinya jika kejadian tadi kembali terulang sekarang?

"Mau menamparku lagi?", pandangan tajam. Tidak direspon seperti yang tadi dilakukan? Kita lihat saja nanti. Sementara itu tak menggubris staf wanita yang mulai terlihat panik akan suasana yang mulai tercipta sedemikian rupa untuk sebuah perdamaian kembali retak kini. Sudah terlanjur, sekalian saja dijatuhkan sekalian. Kh, inikah yang ia inginkan?

Tidak tahu.




((OOC: Maaf uda lama ga mainin Shion, ada yang aneh? Maklumkanlah B-) *plak*))
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime6th June 2010, 08:26

Wahahaha. Perang lagi, kan?

Namanya juga manusia, kadang-kadang bisa jadi baik,kadang-kadang stress sendiri, kadang-kadang bertengkar, adu mulut, kadang-kadang akur. Kalau dia dan Shion, bagaimana normalnya? Mungkin yang seperti ini, yang bertengkar. Bukan yang cium-ciuman, peluk-pelukan (kalau peluk-pelukan, belakangan jadi sering), atau gombal-gombalan. We are human, not lovebirds. Bukan berarti Lio tidak menyukai hubungan mereka, ia menikmatinya entah sebagai kakak adik, teman sesama Exorcist atau Disciple dari Master yang sama.

Mungkin perasaan ‘suka’ yang ia rasakan hanya sebatas sebagai teman atau saudara, tapi instingnya berkata tidak mungkin. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Melanjutkan perdebatan ini dan merusak semuanya—sejujurnya ia senang dengan ini, malah—atau meminta maaf dan mengklaim semua yang ia katakana hanya lelucon. Pilihan kedua tidak seperti Lio, jujur saja.

Pemuda asal Prancis ini hanya tertawa mendengar Shion. Mungkin Shion akan mengiranya aneh, secara tidak langsung mengatainya dan justru ia akan semakin marah. Tapi tidak—Lio menganggap itu lucu untuk saat ini, nampaknya kali ini ia sedang tidak mood untuk berdebat mengenai apa yang sudah lalu. Dan mengenai pertarungan saat itu—

“Tapi tampaknya “luka” yang didapat lebih besar milikmu ya?” masih mempertahankan senyumnya yang tidak biasa. Tangannya terjulur menyentuh ujung-ujung surai pirang gadis yang lebih muda darinya, seharusnya lebih panjang dari itu. “Maaf soal yang ini.”
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime30th June 2010, 12:45

Why?

Pertanyaan pertama.

How?

Pertanyaan kedua.

Dan perlukah ditambahkan dengan—what?

Andaikan pria yang mengasuhnya semenjak ia kecil ada disini—bisakah seorang Shion mencurahkan isi hatinya yang terlampau labil akhir-akhir ini? Padahal sebelumnya ia masih dapat mempertahankan semua emosi tersebut, bahkan topeng palsu yang selalu dipakainya, masih tetap terjaga kestabilannya. Lioret Ifrit Shirogane, pemuda yang telah membuat segalanya menjadi seperti ini. Dendam? Menggigit bibir bagian bawahnya. Ia hanya seorang gadis enam belas tahun yang tak pernah diajari kasih sayang secara tulus. Gelvane menekankan hal tersebut walau ia tak paham. Seperti seorang anak kecil yang tak tahu cara mengungkapkan perasaannya selain hanya dengan mengeluarkan emosinya seperti itu.

Salah keluarganyakah? Meninggalkan ia begitu tiba-tiba. Dan ya, demi surainya yang menjadi setengah sekarang—ia bahkan tak pantas menyalahkan keluarganya. Awal dari segalanya, tak mengerti kapan akan mencapai kata akhir. Hubungan yang tak ia mengerti. Bersama Allegra sama dengan teman, ia juga tak mengerti. Karena hal seperti itu hanya untuk kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain kan? Lalu apa arti saling ketergantungan itu? Andaikan seseorang dapat menjelaskannya. Kohler Mestre? Dia terlalu sibuk dengan Lio—anak didik kesayangan eh?

Emosi membuatnya selalu menyalahkan.

Hello? Kenapa pemuda itu malah tertawa? Mengejek? Sayangnya di hadapan ia sekarang tawa tersebut tak lebih dari sebuah konotasi negatif baginya. Masih menggigit bibirnya, kali ini lebih kuat hingga permukaan kulitnya mulai memerah dan menghasilkan setetes cairan merah yang membuktikan betapa kuatnya ia berusaha menahan emosi yang dulu tak pernah sulit ia kendalikan.

Surainya—

PLAKK!

"Jangan menyentuh—ku", menampar tangan yang menyentuh ujung surainya. Maaf? Maaf karena apa? Atas segalanya? Ia tidak mengerti. Hanya membutuhkan waktu untuk mengatasi semua ini, jika memang bisa. Apa yang harus ia lakukan? Hanya terduduk kembali di kursi yang sama dengan tangkupan kedua tangan pada wajahnya.

Menangis?

Tidak.

Karena airmata sudah menghilang dalam dirinya sejak hari itu.




Ih, emo banget D: Peace ah, oke? Oke? *dibakar guling*











Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime30th June 2010, 13:53

Apa?

Marah?

Dari jarak yang begitu dekat ini, ia merasakan aura gadis itu makin gelap, dirundung kemarahan—mungkin—atau ia katakana saja segala bentuk yang negative. Lio hanya menebak, ngomong-ngomong. Perasaan jelek itu banyak; dendam, mungkin? Marah? Ia marah karena Lio menjahilinya? Tidak mungkin—bukankah hal iseng sering ia lakukan dan gadis itu tidak pernah semarah ini?

Lio sudah terbiasa, ya, sudah sangat terbiasa. Sekian tahun mereka bersama—sebagai rekan, tentunya—memalukan sekali kalau ia tidak hafal gerak gerik Shion, kan? Shion yang agak negatif meski sikapnya selalu ceria dan agak-agak manja, Shion yang seperti menderita trauma karena kehilangan keluarga. Shion yang kuat—atau pura-pura kuat? Shion yang polos dan kadang tampak seperti bayi di hadapannya.

Tapi semua itu sama-sama sebuah individu, gadis berusia 16 tahun bernama Shion Rasselleane Herleifursdóttir.

Suara pintu ditutup dan ia menyadari staff medis yang tadi keluar dari ruangan, mungkin ingin memberi kesempatan bagi mereka untuk menyelesaikan masalah ini berdua saja. Lain kali ia akan berterima kasih pada staff medis itu—kalau ingat.

PLAKK!

Lio hanya menghela nafas, menyingkirkan tangannya sendiri yang baru disingkirkan si gadis dan kini kedua pandangannya tertuju pada sosok yang terduduk di kursi, dengan tangan pada wajah yang tertunduk. Menangis? Tidak—seorang Shion tidak pernah menangis. Buktinya? Ia tidak pernah melihat Shion menangis—itu cukup menjadi bukti, kan? Di saat seperti ini tidak ada yang salah karena keduanya sama-sama benar dan keduanya sama-sama bersalah. Shon bersalah karena membuat Lio bingung dan Lio bersalah karena saat ini—

—ia tidak mengerti gadis itu.

Maka di saat itu ia menundukan tubuhnya hingga sedikit lebih tinggi dari posisi Shion yang terduduk. Kedua tangannya perlahan kembali terjulur, menyingkirkan kedua tangan yang menutup wajah gadis itu, pada saat yang bersamaan tangan kanan yang tadinya memegang tangan Shion ia lepaskan dan berpindah untuk secara perlahan menaikan dagu gadis itu—

—untuk menghadapnya.

Dan kemudian sebuah ciuman.

Lagi.

Yang berasa darah karena bibir si gadis yang terluka. Dan Lio yakin—setelah ini mungkin sebuah tamparan yang justru akan melayang padanya. Tapi ia tidak peduli.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime30th June 2010, 19:58

Sebenarnya siapa yang salah?

Entah dirinya yang memang hanya bisa meluapkan emosi secara brutal seperti ini—atau Lio yang seakan tak pernah berusaha memahaminya. Jujur saja ia masih tidak mengerti apa perasaan suka, menjalin kasih hingga akhirnya bersama berdiri di hadapan altar putih, di bawah naungan persetujuan Yang Maha Kuasa. Ia tidak tahu bagaimana kedua orang tuanya bertemu. Bagaimana Faðir bisa mengalami rasa jatuh cinta pada Móðir dan bagaimana mereka akhirnya memutuskan untuk menikah hingga melahirkan seorang Shion. Apakah seharusnya ia tak usah terlahir di dunia ini? Dengan mengorbankan nyawa sang Bunda disertai dengan kematian anggota keluarganya yang terakhir setelahnya.

Ia membawa malapetaka.

Wajah masih belum mengeluarkan niat untuk dihadapkan pada sang pemuda. Sementara itu wajah bekas tamparan tadi kembali terasa perih, terutama karena cairan merah juga mengalir dari bibirnya. Haruskah ia gigit lidahnya sendiri juga untuk mengakhiri semua ini? Samar-samar mendengar langkah kaki menjauh, entahlah yang pergi adalah Lio yang menjadi masalah utama baginya disini—atau staff wanita sok tahu tadi. Ia tahu perempuan itu hanya berusaha baik padanya, sayang sekali Shion tak mengenal kasih seorang Ibu. Kalau tidak airmata pun tak akan mustahil ia jatuhkan karena akhirnya dapat mengalami hal yang terus dicarinya selama ini.

Dicarinya?

Apa yang dicarinya?

Balas dendam?

.....

Pada siapa? Untuk sesaat dirinya merasa sangat tidak berguna. Dia yang tidak mempunyai tujuan hidup sama saja dengan kehampaan yang tiada akhir kecuali dilenyapkan langsung bersamaan dengan jiwa yang dimilikinya. Ruang Infirmary itu—menyimpan pisaukah? Walau sepersekon berikutnya merasakan keberadaan tubuh yang mendekatinya, sedikit menggeser letak kursinya karena tak ingin lebih dekat dengan siapapun yang berusaha mengurangi jarak tersebut. Tangan terasa digenggam, meronta, ia tak ingin memperlihatkan wajahnya yang cukup pucat sekarang ini. Namun tentu saja, tenaganya tidak ada, menyebabkan genggaman tersebut lebih kuat untuknya mengalihkan pandang karena tidak mau menatap sosok yang ternyata adalah Lio tersebut.

"Pergilah", bisikan lirih.

Tak menduga bahwa tindakan selanjutnya yang ia dapat adalah tarikan pada dagunya dengan rasa yang menghapus sepercik darah di bibirnya. Sentuhan yang dulu pernah ia rasakan, dengan orang yang sama juga. Berusaha mendorong, dengan kepala yang dimundurkan ke belakang untuk menghalau ciuman tersebut. Satu tarikan untuknya mundur dan dorongan lainnya didukung dengan kaki untuk membuat jeda di antara mereka.

"....", mengusap bibirnya.

"Apa maksudmu melakukan hal tersebut?", wajah masih tertunduk. Tak menyangka. "Tak cukup puas dengan tamparanmu padaku tadi?", karena sesungguhnya pria tentunya tak akan mengerti bahwa tindakan seperti itu hanya membuat sang wanita bertambah sedih.


Last edited by Shion R. Herleifursdóttir on 11th July 2010, 22:43; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime5th July 2010, 09:19

Kenapa?

Lio mundur setengah langkah, mengikuti jarak yang diciptakan Shion dengan dirinya. Pemuda itu menghela nafas pendek, matanya menatap Shion dengan tanda tanya. Lio bukan orang yang mudah marah, setidaknya ia masih sabar kecuali dalam beberapa hal dan itu jarang terjadi. Ditatapnya wajah sang gadis yang pucat, yang kemudian mengeluarkan pernyataan yang membuatnya menyadari semuanya.

Semuanya.

Pemuda 18 tahun ini bergerak resah. Mungkin ia salah, mungkin ia memang seenaknya. Kini pandangannya bukan pandangan yang menyiratkan orang yang penuh pertanyaan. Namun penyesalan. Ia menggeleng. Dalam hati meminta maaf tapi dari mulut tidak bisa keluar—sulit mengucap kata ‘maaf’, memang.

Lio mendekat, tidak peduli kalau setelah ini ia akan ditendang dengan kaki ramping di depannya. Tangan diletakkan di atas kepala gadis itu, menepuknya pelan, “karena kau satu-satunya gadis yang paling kusayangi. Makanya jangan bilang aku akan merasa beruntung kalau tidak bertemu gadis sepertimu.”

Melangkah melewati Shion—mungkin seharusnya ia keluar sekarang. “Beristirahatlah.”

[OUT]
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime11th July 2010, 22:52

Lalu?

Apalah kata-kata itu—tidak berguna untuk yang sekarang hm, Lio?

Kenapa? Tak ada lagi kalimat lain selain—kau gadis yang kusayangi sebagai adik sendiri. Memangnya apa yang kau harapkan selain hal macam itu Shion? Dirinya masih tidak ingin menatap wajah sang murid didik dengan predikat master yang sama. Karena ia sendiri yang mengusirnya pergi. Dan kenyataannya? Ia pergi tuh. Beristirahat. Tersenyum. Bagaimana caranya ia melakukan hal seperti itu dalam kondisi seperti ini, bodoh? Tak mempedulikan tatapan yang melayang ke dalam dirinya di ruangan itu.

Dua kali.

Ketika pertempuran waktu itu, dan sekarang. Ah sudahlah, ia sudah mulai muak dengan semua ini. Berdiri dari peraduannya. Kompres es ia letakkan di salah satu meja yang kiranya paling dekat dengan koordinat tempatnya berdiri sekarang ini. Terima kasih? Tidak, ia hanya ingin berbaring di tempat tidur kamarnya dan melupakan segala yang telah terjadi kali ini. Dan mungkin—akan lebih bagus kalau ia hilang ingatan sekalian.

Amin.

[OUT too]
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




[CENTRAL] Continuation Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Continuation   [CENTRAL] Continuation I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[CENTRAL] Continuation
Back to top 
Page 1 of 1

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Forum create on Forumotion | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com