An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [ASIA] Happy Birthday to You too

Go down 
AuthorMessage
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime16th January 2010, 12:05

HAPPY BIRTHDAY TO YOU TOO

Quote :
'Nona Ormondi, aku akan menemukanmu.'

18 Januari 1880

'Ya, aku akan menemukanmu, Nona Ormondi,' ulang Silverius di dalam benaknya.

Saat ini pria Jepang itu tengah berjalan cepat menyusuri koridor demi koridor, berbelok di beberapa koridor dan terus menambah kecepatan berjalannya seiring berkurangnya jarak si pria Jepang dengan tujuannya; ruang arsip.




Sesampainya di ruangan itu, Silverius segera menghampiri staf internal yang tengah membereskan beberapa arsip baru yang menggunung. Pria Jepang berambut hitam itu mengabaikan aroma kertas yang entah sudah sejak kapan tersimpan di dalam rak-rak besi dan kayu yang berbaris di belakang meja tempat staf Manajemen itu sedang mengurusi tumpukan kertas arsip lainnya.

'Ini seharusnya akan tidak lama,' ujar Silverius di dalam benaknya; menarik nafas, lalu menghembuskannya sebelum membuka mulutnya untuk bertanya, "Aku ingin melihat arsip mengenai Nona Ormondi."

"Nona Ormondi?" ulang staf internal yang kelihatan kaget dan bingung itu. Kelihatannya dia sangat terserap oleh pekerjaannya sehingga dia tidak menyadari kedatangan Silverius.

"Ya, Nona Ormondi," tukas Silverius bosan.

"Ormondi... Ormondi... Oh, maksudmu Nona Blanka Ormondi Demetros?" staf internal itu kembali bertanya, yang membuat Silverius sedikit kesal.

"Ya, ya, dia."

"Oke, tunggu sebentar," kata staf internal itu yang segera beranjak dari kursinya. Untung saja staf internal itu tidak menanyakan alasan Silverius membutuhkan arsip Nona Demetros - ya, Demetros, sekarang, setelah Silverius mengetahui nama belakang wanita berambut nyaris putih itu, meskipun jujur saja, pria Jepang itu lebih akrab dengan nama tengah Nona Demetros - karena pria Jepang itu tidak mengetahui jawaban yang tepat yang bisa menjawab pertanyaan itu. Bahkan rasanya ruang arsip bukanlah ruangan yang tepat baginya. Memang, ruangan ini sepi dan sunyi, tetapi bau tengik kertas yang memenuhi atmosfir bisa membuatmu gila apabila kau tidak memiliki pekerjaan lain.

Staf internal tadi kembali beberapa menit kemudian ketika Silverius sudah melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan sebuah map berwarna hitam dengan ukiran Rose Crucifix dan ukiran nama yang sudah tidak terlalu asing lagi bagi Silverius: "BLANKA ORMONDI DEMETROS".

Melihat nama itu, Silverius tidak bisa menahan sudut mulutnya untuk terangkat sedikit. Diulurkannya tangannya untuk mengambil map hitam itu, yang tiba-tiba semakin menjauh dari gapaian Silverius. Pria Jepang itu mengernyitkan keningnya sembari menatap staf internal yang sekarang sedang mendekap map hitam itu dengan ekspresi curiga.

"Mengapa kau membutuhkan arsip Nona Demetros, kalau aku boleh tahu?" Akhirnya pertanyaan maut itu terdengar juga.

Kali ini Silverius tidak tahu harus menjawab apa. Satu-satunya gerakan yang dibuatnya adalah ketika dia menelan ludahnya melewati kerongkongan. Apakah dia harus menggunakan Silvery Ouroburos untuk mengambil paksa map itu? Tetapi itu berarti penyalahgunaan Innocence dan Silverius malah akan terlibat masalah yang lebih panjang.

Pria Jepang itu semakin bingung ketika tiba-tiba staf internal di hadapannya tertawa lepas. Kedua mata hitam Silverius menyipit memerhatikan badan staf internal yang saking lepasnya tertawa sampai terlihat seperti kejang-kejang; untung saja staf internal itu tidak samapi memukul-pukul meja di depannya.

"Hahaha, tenang saja, aku hanya bercanda. Paling karena dia adalah rekan setimmu yang baru dan kau ingin mengenalnya lebih lanjut, kan? Ini mapnya," ujar si staf internal sembari mengulurkan map hitam itu setelah berhasil mengendalikan tawanya.

'Oh, mungkin inilah salah satu efek samping menjadi pengarsip,' Silverius menyimpulkan dengan nada sinis sambil menyambar map hitam itu dan berbalik pergi. Telinganya mungkin sudah memerah sekarang karena kesal ketika mendengar tawa staf internal di belakangnya yang kembali meledak ketika Silverius sudah berjalan agak jauh.




20 Januari 1880

Sekarang Silverius sudah berada di depan pintu kamar asrama yang katanya hanya dihuni oleh seorang wanita. Sedikit aneh, memang, mengingat perintah pembagian kamar yang telah dikeluarkan belakangan ini, tetapi setelah membaca beberapa halaman dari map hitam berukirkan nama penghuni kamar itu, rasanya hal itu masih bisa dimaklumi.

Sebenarnya apa yang menyebabkan Silverius berkunjung ke - pintu, karena dia belum masuk ke dalam - kamar itu? Dan mengapa harus pada tanggal 20 Januari, dua hari setelah Silverius meminta arsip tentang Blanka Ormondi Demetros? Tentu saja semuanya berhubungan, dan mungkin apabila Silverius membawa sebuah kado yang terbungkus rapi, mungkin semua orang yang melihatnya dapat menebak dengan akurat apa yang sebenarnya terjadi.

Quote :
... Name: Blanka Ormondi Demetros
Place and Date of Birth: Budapest, Hungary, January 20th 1857 ...

Hari ini adalah hari ulang tahun Nona Demetros, dan sepertinya sudah jelas sekarang kalau Silverius datang mengunjungi kamar Nona Demetros. Memang hadiah yang telah disiapkan Silverius tidak begitu berharga, malah tidak terbungkus rapi sama sekali - Hei, apa yang kau harapkan apabila kau mendekam di dalam markas tanpa alasan yang jelas untuk keluar? Setidaknya pria Jepang itu sudah repot-repot membuatkan hadiah untuk sang Nona, kan?

"Tok! Tok!"

Dua buah ketukan pada daun pintu kamar di hadapannya, dan Silverius pun menghembuskan nafas panjang yang sedari tadi telah ditahannya tanpa disadarinya. Semoga saja Nona Demetros ada di tempat.


Last edited by Lupus Corwin on 17th January 2010, 20:12; edited 1 time in total (Reason for editing : Memperbaiki nama Blanka Ormondi Demetros)
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime17th January 2010, 12:15

Bila Brian Selvatine tidak terlihat di sekitar infirmari, maka ada kemungkinan pria berambut pirang ini memang sedang tidak memiliki kerjaan. Seseorang mungkin akan melihatnya bertengger di sekitar ruang rekreasi, berbaring di dipan kayu ukiran ala cina, dengan kaki di atas dan kepala di bawah—sebuah tanda kebosanan.

Namun ia tidak berada di sana.

Pada kenyataannya, pemuda bermata biru dengan rambut pirang ini tidak sedang berjungkir balik di ruang rekreasi. Kakinya entah mengapa membawanya berkeliling di antara koridor-koridor asrama, tempat tinggal mereka yang bejuang melawan Akuma langsung di garis depan. Mengapa ia berkeliling? Selalu kah ada alasan untuk melakukan sesuatu? Setidaknya bagi Brian Selvatine yang lebih sering hidup bebas (dalam artian… sulit diatur namun tahu kapan harus patuh), alasan memang tidak bisa digunakan untuk segalanya.

Karena itu, janganlah seseorang heran ketika pemuda ini berjalan melewati salah satu ruangan, dengan seorang pemuda berambut hitam berdiri di depan salah satu pintu, terdiam saja di sana. Pria berambut pirang ini mungkin akan terus berjalan, melewati pemuda yang sepertinya sibuk dengan agendanya sendiri…

…kalau saja mata birunya memang tidak menangkap rasa familiaritas dari rambut hitam milik sang Exorcist tersebut (oh, siapa pula yang tidak menyadari bahwa pemuda tersebut mengenakan seragam Exorcist?). Oh, ia juga melihat sebuah kado yang terbungkus kurang rapi di tangan pemuda berambut hitam tersebut.

Hargai keberuntunganmu sekarang Brian, karena penasaran di saat seperti ini sepertinya hanya akan membawa kematian.

Tanpa peduli akan langkah yang akan ia lakukan, Brian pun berjalan mendekati pemuda tersebut. Semakin dekat posisinya, senyum pada fitur wajahnya makin mengembang… seperti balon yang perlahan-lahan diberi udara.

…Yang bisa saja meletus karena terlalu banyak jumlah partikel udara yang masuk; dalam kasus ini, terlalu bersemangat dapat membuat senyum tersebut berubah menjadi sebuah muka masam, meskipun hal tersebut tidak terlalu mungkin terjadi pada Brian.

“Ahoy, Silver!” Tanpa basa-basi dan cuek, Brian Selvatine akhirnya menyapa pemuda berambut hitam tersebut dengan nama panggilan yang ia anggap cukup layak. Oh, ia tahu bagaimana rambut hitam tersebut sempat bersimbah darah pemuda itu sendiri; tolonglah, terakhir kali ia melihat pria berambut hitam tersebut adalah ketika gejala setback dari pemakaian Innocence-nya muncul. Bukan suatu memori yang bagus di benaknya. Karena itu, untuk bertemu dengan pemuda berambut hitam dalam keadaan ini, Tuhan sepertinya cukup baik untuk memberikan mereka umur panjang bukan?

…Bicara soal umur panjang, memangnya ada yang berulang tahun?

“Itu kado ulang tahun? Oh, atau mungkin itu kado ulang tahun pernikahan? Err, keduanya ulang tahun juga sih, tapi bukankah konteksnya berbeda? Jadi, jadi?” Senyum ramah (terlalu ramah, malah) yang menempel di wajah pemuda tersebut perlahan berubah menjadi sebuah senyum usil. Oho, kejadian seperti ini langka bukan? Maksudnya, jarang-jarang ia melihat orang lain menunggu di depan pintu sebuah kamar, membawa sebungkus kado.

Mata biru bergerak, melirik atap-atap mata—sebuah tanda bahwa pria ini mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu. Kamar siapakah ini?
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime25th January 2010, 18:04

Silverius tidak bersenandung selagi menunggu pintu kamar yang tadi diketuknya bergerak terbuka, namun wajahnya semakin lama semakin menegang saja seiring berjalannya waktu. Apa yang membuat Nona Demetros tidak membuka pintunya? Apakah itu berarti Nona Demetros sedang tidak di kamar sekarang? Kalau iya, berarti Silverius telah mengambil kesalahan besar.

Menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkan semuanya dalam satu hembusan lambat, Silverius memijat kedua matanya dengan jari jempol dan telunjuknya sementara tangannya yang lain menggapai sesuatu yang tersimpan di balik rompi seragamnya.

Meskipun tangannya sudah merasakan bahwa barang itu masih utuh, pria Jepang itu tetap saja mengeluarkan barang yang dibungkus dengan kertas koran hari ini yang jelas tidak bisa dikategorikan sebagai "rapi". Mata hitamnya mencermati bentuk elips benda yang tersembunyi itu selama beberapa saat, memastikan keutuhan benda tersebut seolah-olah indera perabanya tidak cukup. Setelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa barang itu benar-benar utuh tanpa retakan di sisi manapun, pria Jepang itu akhirnya kembali menghela nafas pelan sambil memasukkan barang-terbungkus-koran-tadi-pagi itu ke balik rompinya...

"Ahoy, Silver!"

... yang ternyata sangat terlambat.

Hampir saja Silverius terlonjak karena sahutan yang tentu saja akan mengagetkan siapa saja yang sedang menunggu di depan pintu kamar orang lain tanpa bersuara. Dan bisa dibilang Silverius dapat mengingat lebih kurang suara yang menyapanya barusan. Suara seorang staf internal yang ditemuinya di infirmari beberapa hari yang lalu; Selvatine, namanya kalau tidak salah. Sungguh, dari semua orang di Markas Cabang Asia, pria berambut pirang itu adalah orang terakhir yang ingin ditemui Silverius sekarang.

Spontan Silverius berbalik. Matanya sedikit membelalak karena baru saja dikagetkan oleh staf internal yang satu itu dan dadanya terasa sedikit sesak ketika indera pelihatnya mengklarifikasi dugaan Silverius tadi. Selvatine memang berada di dekatnya, dan sebelum Silverius bisa melegakan dadanya yang rasanya semakin terhimpit saja, Selvatine sudah membuka mulutnya - yang biasanya adalah alamat buruk bagi Silverius.

"Itu kado ulang tahun?"

Oke, baru satu kalimat dan rasanya dadanya sudah diikat Silvery Ouroburos yang siap untuk melepaskan semua ikatan molekulnya dan memindahkannya ke manapun juga sejauh 20 meter. Mungkin itu adalah sebuah ide yang bagus untuk kabur dari situasi yang sangat tidak menyenangkan itu, tetapi bagaimana Silverius bisa berpikir demikian apabila sejauh ini kata-kata Selvatine selalu membuatnya pikirannya megap-megap? Apalagi kalau mengingat alasan Silverius berada di depan pintu yang tak kunjung terbuka itu, tentu saja pria Jepang itu tidak akan beranjak.

"Oh, atau mungkin itu kado ulang tahun pernikahan?"

Berhenti lagi.

'Terlalu jauh.'

Meskipun kali ini pikiran Silverius sudah bisa menyingkirkan kata "Ya" dari benaknya dan membalas dengan ketus, tetapi shock therapy dari dua kalimat sebelumnya masih menggema di dalam benak Silverius. Pria Jepang itu hanya bisa berharap kalimat Selvatine berikutnya tidak menambah rentetan serangan tak kasat mata itu.

Dan sepertinya harapannya itu dikabulkan.

"Err, keduanya ulang tahun juga sih, tapi bukankah konteksnya berbeda? Jadi, jadi?"

Kali ini Silverius sudah bisa mengendalikan emosinya lagi. Urat di keningnya pun bisa dikatakan telah mengendur setelah serangkaian tarikan dan hembusan nafas panjang dan sekarang Silverius telah kembali menjadi Silverius pendiam yang biasa.

"Bukan urusanmu," ujar Silverius, sambil memproklamasikan kalau dia telah bebas dari jerat Selvatine yang selalu ada di tempat yang "tepat". Berbalik, pria Jepang itu mengabaikan kehadiran staf internal Medis tersebut dan mengetuk pintu kamar Nona Demetros sekali lagi. Sebenarnya Silverius ingin memanggil Nona Demetros, tetapi dengan adanya Selvatine di sini, itu jelas bukan ide yang bagus.

Namun sayangnya Silverius tidak memikirkan apa yang akan terjadi apabila Nona Demetros membuka pintu sebelum Selvatine pergi; sesuatu yang lebih buruk dari tebakan-tebakan Selvatine sebelumnya. Mungkinkah awal dari neraka kehidupan Silverius dimulai dari hari yang cerah ini?
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime26th January 2010, 09:46

Siang hari yang melelahkan.

Berbaring, meringkukkan tubuh hingga posisinya mirip dengan posisi janin di dalam kandungan ibu. Mata amber itu terbuka, menerawang redup di dalam keremangan kamarnya sendir--walaupun jelas-jelas ini masih siang. Pikiran wanita berusia 23 tahun--tepat hari ini--itu kosong, ia sedang tak mengalami 'nostalgia' masa lalunya ataupun memikirkan hal-hal lainnya. Kalau ada yang mendiami benaknya saat ini maka hal itu adalah bayangan yang tak berarti apapun. Hanya kehampaan, dan begitu juga perasaan yang tersimpan di dalam dadanya. Mati rasa, mungkin.

Iris amber tersebut kemudian bersembunyi, ia memejamkan mata. Hendak terlelap untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Tok tok.

Suara ketukan di pintu?

Rona keemasan itu kembali muncul, melirik ke arah pintu kayunya dengan tatapan ingin tahu. Kira-kira siapa yang mengetuk? Dan rasanya juga sudah lama ia tak pernah mendengar suara ketukan. Ok, memang pernah. Namun biasanya pintu tersebut--atau lebih tepatnya sekitar kamarnya--hanya didatangi saat--misalnya--ada pemberitahuan misi....hei namun ia baru saja kembali dari misi beberapa hari yang lalu sehingga sekarang ia berbaring melepas lelah. ia tak pernah mendapatkan kunjungan sosial... dan tak mungkin juga rasanya seseorang datang hanya untuk mengucapkan selamat beristirahat.

Beranggapan bahwa paling-paling ketukan itu hanya berarti panggilan tugas atau masalah prosedur markas yang baru baginya ini, Blanka menegakkan punggungnya. Duduk dengan gerakan perlahan di pinggir tempat tidur, rambut panjangnya yang bergelombang terurai bebas--sedikit berantakan. Jemari kurus itu menyisir rambutnya sendiri dari bahu hingga pinggang. Selain itu.. rasanya baju tidur--hanya terusan lengan panjang berwarna marun--ini pun sudah cukup rapi untuk menemui siapapun. Ya, setidaknya ia harus memastikan kalau penampilannya ini pantas dilihat dan lebih penting lagi, tak ada noda darah.

"Ahoy--"

Sekali lagi melirik ke arah pintu saat mendengar suara yang cukup familiar di indera pendengarannya. Keheningan yang tadinya begitu terasa sekarang semarak dengan samar suara orang yang bercakap-cakap. Bukan panggilan misi, eh? ... heran.

Ia menghela nafas panjang saat mendengar pintu kayu tersebut diketok untuk kedua kalinya. Mendekati pintu tersebut, telapak tangannya meraih kunci, membuat gerakan memutar. Menimbulkan bunyi besi dan besi yang beradu cukup nyaring.

*cklek*

Kunci pertama.

*cklek*

Kunci kedua.

*cklek*

Kunci ketiga.

Tampaknya rumor triple lock itu memang benar.

Pintu pun terbuka, tak lebar. Rambutnya yang keperakan terlihat dari celah pintu dengan sorot amber yang sama seperti biasa. Ia pun dapat melihat dua pria yang ia kenal, Blanka beranjak dari dalam kamarnya begitu ia melihat siapa-siapa saja yang berdiri di luar; Silverius Girlani beserta Brian Selvatine. Entah apa yang mereka lakukan, bicarakan atau kenapa salah satu dari mereka mengetuk pintunya. Blanka sedikit berjengit, heran sekaligus tak menyangka. Lagipula ia mendapatkan impresi kalau Silverius sedikit terganggu.. kontras dengan senyum lebar pria Inggris di sampingnya.

.....

Hening, bola mata wanita Hungaria itu hanya menatap mereka bergantian sebelum sebuah rangkaian kata-kata lolos dari bibir mungilnya.

"...kalian salah kamar."

Iya salah kamar, sebuah kesimpulan yang langsung terbentuk begitu Blanka Demetros melihat penampakan dua pria itu di depan kamarnya, normal karena memang hampir semua orang tak pernah mengunjunginya untuk sebuah kegiatan sosialisasi.. dan jika ada pun paling-paling mereka salah kamar.

Untunglah Blanka tak cepat-cepat menutup kembali pintu kamarnya, yang berarti; pintu kamar nomor 14 itu mulai menutup perlahan, hampir menelan sang wanita berbalut marun itu ke keremangan kamarnya sekali lagi dan akhirnya pintu itu benar-benar tertutup dengan bunyi 'bam' pelan.

Intinya; Blanka Ormondi Demetros tak ingat hari ulang tahunnya sendiri.

...setidaknya, Silverius maupun Brian tak mendengar bunyi triple lock.

Menyandarkan tubuhnya di pintu sambil menghela nafas panjang. Sebenarnya wanita Hungaria itu bertanya-tanya hal apa yang mengundang mereka berdua mendekat--jika mereka tak salah kamar. Dan yang lebih penting lagi... kenapa juga rasanya ia lebih penasaran akan keberadaan Silverius. Haruskah ia keluar lagi untuk menemui pria Asia tersebut?...mungkin nanti. Setelah keadaan lebih aman terkendali, dan jika tentu saja pria berusia 22 tahun itu tidak memutuskan untuk meninggalkan pintu kamarnya begitu saja.






jangan di close beneran ya! =)) =)) *disepak*
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime9th February 2010, 17:48

*cklek*

Suara besi campuran yang bergeser sebagai sinyalir bahwa pintu kayu di hadapan Silverius itu telah tidak terkunci. Dalam hati, Silverius cukup lega bahwa itu berarti dia tidak salah memilih waktu untuk mengunjungi Nona Demetros.

*cklek*

Oke, suara besi campuran bergeser yang serupa - namun tak sama - menyusul suara besi sebelumnya, dan jujur saja, meskipun wajah Silverius tidak menunjukkan perubahan mimik yang berarti, namun pria Jepang itu cukup terkejut dengan adanya kunci kedua itu. 'Sebenarnya, berapa banyak kunci yang digunakan Nona Demetros?' Pertanyaan itu bergaung di dalam benak Silverius sementara bunyi serupa kembali menyusul tak lama kemudian. Menambah rasa penasaran dan keterkejutan Silverius tanpa perubahan ekspresi yang berarti pada wajah Silverius yang tetap datar...

Setidaknya sampai sosok yang dinantikan Silverius muncul dari balik pintu kayu yang tertarik membuka. Memang hanya mata hitamnya yang melebar, lalu diikuti oleh naiknya alis si pria Jepang ketika melihat pakaian yang tengah dikenakan wanita yang hari ini berusia 23 tahun itu; terusan sederhana berlengan panjang berwarna marun (marun asli, karena Silverius tidak mencium "parfum khas" wanita Hungaria itu) dengan rambut yang digerai bebas. Benar-benar sebuah pemandangan yang tidak akan kau lihat sehari-hari apabila kau bersanding dengan wanita berambut nyaris putih itu, karena biasanya rambutnya akan tertutup oleh tudung hitam yang dijahit menyatu dengan seragamnya. Ditambah dengan tidak adanya pisau berhiaskan miniatur Iron Maiden, rasanya Silverius seperti menemui seorang wanita biasa yang sedang berulang tahun yang ke-23.

"... kalian salah kamar."

Belum selesai Silverius mencermati sosok wanita bermata amber di hadapannya, Nona Demetros sudah undur dari hadapannya. Dan Silverius yang masih "belum bisa bergerak" hanya bisa menyaksikan terdorongnya pintu itu hingga sebuah bunyi "bam" berkumandang di telinga Silverius.

Entah mengapa Silverius tidak bereaksi terhadap kejadian barusan. Dia yakin dia tidak salah kamar - apalagi setelah memastikan sendiri kalau orang yang ingin ditemuinya berada di tempat yang tepat. Maafkan responnya yang lambat dan sederhana, tapi Silverius hanya mengetuk pintu kayu itu sekali lagi...

"Saya tidak salah kamar, Nona Demetros." Yea, dengan tambahan kalimat itu saja, berharap wanita Hungaria itu akan membukakan pintunya sekali lagi. Oh, ya, jangan lupa tambahkan kalimat berikutnya: "Saya ada di sini untuk menemui Anda."


Sorry, lama banget and kalo rada OOC --a
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime9th February 2010, 18:33

"Bukan urusanmu,"

Bila seseorang mau berkomentar bagaimana seorang insan akan terdiam mendengar pernyataan tersebut, yah... bisa dikatakan hal tersebut tidak pernah bisa diberlakukan pada pemuda berambut pirang yang seakan melanggar garis kenormalan manusia. Baiklah, mungkin tidak seekstrem itu; setidaknya Brian Selvatine terlalu lugu (atau justru bodoh)--lihat saja wajahnya yang kini menunjukkan sebuah seringai, alih-lih diam membisu.

Ingin mendiamkan pemuda ini? Bukan dengan cara itu, Tuan.

"Hee? Ayolah, aku bisa melihat bagaimana raut mukamu itu berubah." Seringai masih menempel, sementara mata birunya melirik pintu yang ada di dekat mereka; kokoh. Hanya satu pintu itu yang memisahkan dirinya (mereka lebih tepatnya) dengan siapapun yang ada di dalam kamar. Itu pun juga, kalau memang sang tuan kamar ada di tempat.

Kepala berpaling, mata biru menatap merah, dan seringai berubah menjadi senyum usil. "Jadi, jadi... siapa yang ulang tahun?"

"...kalian salah kamar."


Ia bahkan tidak mendengar bagaimana kunci kamar paling terdekat dari mereka terbuka--bunyi yang mungkin lebih keras dibandingkan dengan suara wanita yang cukup familiar di telinganya. Ini kah bukti bahwa informasi datang dengan berbagai macam bentuk dan dapat dibedakan antara yang penting dan yang sampah?

Pemuda berdarah Inggris ini hanya bisa berkomentar "Ah--" sebelum kata-katanya dipotong oleh bunyi pintu yang menutup... cukup keras untuk menghasilkan bunyi bedebam yang lumayan keras. Alisnya? Keduanya beradu karena heran. Jadi kamar tersebut milik wanita yang ia temui beberapa hari lalu?

"Saya tidak salah kamar, Nona Demetros. Saya ada di sini untuk menemui Anda."

Oh, ternyata Silverius Girlani, Exorcist kalem yang bisa menjadi cukup bebal bila berada di infirmari--daerah kekuasaannya? kurang lebih--memang memiliki alasan berada di depan kamar milik Blanka--

--yang berarti, ini hari ulang tahun nona itu?

"Ayolah, Blanka! Pria yang satu ini sudah berusaha keras untuk berdiri di depan pintu untuk mengakui perasaannya~!"

...

Katakanlah Brian Selvatine memang memiliki pola pikir yang cukup unik; bisa dikatakan, pemuda satu ini memang lugunya bukan main. Tanda persahabatan--atau mungkin sekedar ramah tamah--mungkin bisa disalahartikan bila pelakunya adalah dua orang pria-wanita. Entah sampai kapan ia bisa hidup dengan prilaku seperti itu, tak ada yang tahu...

...atau, mungkin ia bisa dibunuh di tempat oleh seorang pemuda berambut hitam dengan mata semerah rubi setelah komentar tersebut.




OOC: ....*ngakak*
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime10th February 2010, 23:34

Mungkin kalau Silverius cukup ekspresif, keningnya sudah mengerut ketika Selvatine kembali berujar sambil menunjukkan seringainya yang jujur saja, cukup mengesalkan hati pria Jepang berambut hitam itu, apalagi ketika dia menanyakan siapa yang berulang tahun hari ini. Oh, sepertinya semua perihal tata krama yang dipraktekkan oleh orang-orang di Barat itu hanyalah omong kosong. Silverius telah mengatakan kalau itu bukan urusan Selvatine, tapi pria Inggris itu tetap mendesak pria Jepang itu tanpa alasan yang jelas. Namun biarlah semuanya itu tak digubrisnya secara langsung, karena dia berdiri di depan pintu kamar Nona Demetros yang telah kembali menutup bukan untuk bercengkrama dengan seorang staf Medis.

"Ayolah, Blanka! ..."

Atau setidaknya, sampai Selvatine kembali berujar. Kali ini langsung memanggil nama staf operasional yang baru saja menutup pintu itu. Sungguh, rasanya Selvatine adalah orang Inggris palsu bagi Silverius. Tunggu dulu, dari mana seorang pria yang mengalami amnesia total setelah pindah dari tempat yang mengalami seklusi penuh dapat mengetahui mengenai adat istiadat orang Barat? Silakan lihat riwayat Exorcist satu ini, karena dia dibesarkan oleh seorang pria blasteran Inggris-Italia, Antonio Girlani. Untuk ini Silverius masih mengingatnya, tapi itu cerita lain, sekarang kita membahas kondisi pria Jepang itu menghadapi dua orang yang sangat berbeda. Selvatine yang terlalu suka ikut campur dan Nona Demetros yang terlalu tidak peduli. Kepada yang pertama, Silverius hanya memutar matanya, sedangkan kepada yang kedua, Silverius masih menunggu responnya dengan... grogi.

"Pria yang satu ini sudah berusaha keras untuk berdiri di depan pintu untuk mengakui perasaannya!"

Oh, sekarang telinga Silverius benar-benar panas mendengar kalimat lanjutan Selvatine, ditambah dengan tekanan tambahan imajiner pada dada Silverius yang mendidihkan plasma darah Silverius hingga pria Jepang itu langsung mengayunkan tangan kirinya ke arah dada kiri si staf Medis, menghantamnya dan mendorongnya ke dinding di sisi lain koridor.

"Diam!" hardik Silverius. Suaranya dingin dan serak juga mengancam, dan kalau staf Medis itu mengira Silverius sedang bercanda, mungkin dia bisa melihat dalam-dalam ke iris sehitam obsidian Silverius yang sepertinya dapat memercikkan bara kapan saja karena terisi amarah dan kekesalan yang berlipat di bawah naungan alis yang bertaut. Bahkan dari mimik wajah Silverius sekarang, seharusnya Selvatine tahu kalau dia seharusnya tidak mengatakan hal tadi, atau hal apapun lagi, bahkan lebih baik lagi; pergi.

Lagipula siapa yang ingin mengakui perasaannya? Dan perasaan apa yang ingin diakui oleh Silverius, kalau jawaban pertanyaan semi-retoris tadi adalah pria Jepang itu sendiri? Memangnya ada apa di antara kedua staf operasional yang sama-sama pendiam itu? Sungguh, jelas tidak ada apa-apa di antara mereka. Bagaimana dengan hadiah ulang tahunnya, tanyamu? Bukankah normal bagi seseorang untuk memberikan hadiah di hari ulang tahun orang lain?

Oh, mungkin Silverius lupa kalau dia tidak pernah memberikan hadiah ulang tahun kepada siapapun pada hari ulang tahun siapapun. Ya, siapapun, bahkan kepada pengasuhnya sendiri dulu, Antonio Girlani, yang sekarang entah bagaimana kabarnya.

Dan sekarang, bagaimana dengan wanita berusia 23 tahun yang begitu beruntung untuk mendapatkan hadiah ulang tahun pertama dari Silverius? Akan terbukakah pintu itu bagi pria Jepang berambut hitam itu?
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Brian Selvatine

Brian Selvatine

Posts : 27

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24 tahun

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime12th February 2010, 23:42

Ada sesuatu yang mendorongnya, karena punggungnya kini menghantam tembok dingin koridor. Senyum yang sempat terplester di wajahnya segera berubah menjadi sebuah garis tipis--alis mata pemuda tersebut beradu, sementara mata kirinya setengah tertutup karena rasa kaget. Yah, bila bukan karena guncangan tersebut, otaknya tidak akan refleks mencari alasan mengapa punggungnya sakit bukan?

Ah, tangan pemuda berambut hitam tersebut yang menghantamnya.

Garis bibir miliknya perlahan menudut, kemudian membantuk sebuah senyum... sedikit sinis, namun masih terlihat usil. Ah, dirinya kali ini berada pada masalah, ya? Pedulikah dirinya? Kapan seorang Brian Selvatine bisa melihat dirinya berada pada masalah, hm?

"Ambil sisi baiknya--setidaknya dengan sedikit kekacauan, kau bisa berhadapan dengan nona Blanka." Mata biru menantang, tidak ciut bahkan ketika melihat mata berselimut kekesalan; tidak takut... atau justru memang tidak tahu.

Tangannya segera menyingkirkan tangan Silverius, sementara keduanya refleks membersihkan baju--mengepak-ngepakkan debu noneksisten dari bahunya. Keduanya segera kembali ke kantong baju, sementara senyumnya perlahan hilang. Kepala berpaling ke arah pintu kamar Blanka, kemudian terarah pada Silverius. Terdiam sejenak, seakan teringat akan sesuatu; matanya sempat melirik ke langit-langit koridor.

Senyum lagi; kali ini bukan seringai usil.

"Just remembered something. Have somewhere to be for the moment. Good luck for the present--whatever that is."

Pemuda itu membalikkan tubuh, memunggungi Silverius sementara dirinya mulai berjalan menjauh, kembali ke arah infirmari untuk mencium bau antiseptik yang memnuhi ruangan.

Entah bagaimana, senyum yang tadi muncul kini hilang. Mata birunya menyipit; mengapa hal yang perlu ia ingat harus berhubungan dengan pekerjaan?

[OUT]
Back to top Go down
View user profile
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime17th February 2010, 01:05

Bunyi berdebam itu terdengar begitu nyaring, sedikit bergema di telinganya... bunyi pelan memang. Namun cukup memberikan kebisingan di kamar yang selalu tenang, mencerminkan pemiliknya yang senang berdiam seribu bahasa. Jemari wanita berusia 23 tahun itu melepaskan kenop pintu kamarnya walaupun ia tak jua beranjak dari sana. Mengharapkan sesuatu kah? ...jangan katakan kalau akhirnya Blanka benar-benar mengharapkan sesuatu. Tidak. Ya, tidak setelah 23 tahun--walau ia sendiri tak sadar akan usianya--ia memendam jauh-jauh semuanya.

Desahan udara dingin mengalir dari sela bibirnya, masih merasakan keingintahuan akan kemunculan kedua pria itu... dan perasaan ingin tahu yang lebih besar lagi akan seorang pemuda beriris obsidian, yang tampaknya masih berdiri di lorong luar.

"Saya tidak salah kamar, Nona Demetros."

Jadi, bolehkah nona berpostur ramping itu kembali mengharapkan sesuatu?

Masih tak mengucapkan apapun pada jeda yang diciptakan Silverius pada kalimatnya.Kali ini pertanyaan-pertanyaan kembali muncul di dalam benaknya, yang kebanyakan diawali dengan kata; 'mengapa'.

"Saya ada di sini untuk menemui Anda."

.....

Paras itu mendongak perlahan dari tatapan nanarnya ke arah lantai, sedikit keterkejutan terpancar dari sinar amber. Jemari ramping itu kembali meraih kenopnya. Setidaknya ia berniat memutar kenop itu sampai...

"Ayolah, Blanka! Pria yang satu ini sudah berusaha keras untuk berdiri di depan pintu untuk mengakui perasaannya~!"

Sahutan keras tersebut seolah mengunci persendian lengannya. Mengakui? Ada apa lagi dengan itu? Kerutan kecil tercetak di dahi wanita Hungaria tersebut saat pertanyaan-pertanyaan serupa menghampiri benaknya. Dan, tak bertahan lama karena ia dialihkan oleh suara hardikan yang tak lama kemudian disusul oleh bunyi benturan... yang dengan janggalnya membuat suasana kembali tenang.

Ah tunggu, tidak benar-benar tenang rupanya. Wanita berambut nyaris putih itu dapat menangkap suara pelan--dari Selvatine nampaknya--yang kemungkinan besar ditujukan pada pria berparas oriental. Setelah itu ia tak menangkap adanya suara apapun lagi--kecuali langkah kaki yang menjauh, dan sebelum keheningan kembali merayap Blanka memutar pintu kenopitu perlahan.. hingga pintu yang tadinya memisahkan kedua orang tersebut menampakkan celah yang cukup lebar sehingga Silverius bisa melihat sosok wanita yang berbalut garmen berwarna merah tersebut, serta sorot amber yang berpendar--masih dengan ekspresi normalnya--pada pemuda berambut cepak tersebut.

"...ada apa?" suara dengan intensitas desibel rendah itu lolos dari bibir Blanka. telapak tangannya masih tertempel di daun pintu, berdiri di sana sembari menanti jawaban dari Silverius.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime28th March 2010, 19:05

Silverius berusaha menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan nafas memburu. Pada dasarnya memang dia adalah orang yang tidak menyukai orang-orang yang kasar, dan dia juga menjaga dirinya untuk tetap fokus pada tujuan dari setiap aktivitas yang dikerjakannya. Hanya saja, sepertinya dia tidak bisa menjadi dirinya yang benar-benar dirinya ketika berhadapan dengan staf internal berambut pirang yang satu ini, yang malah mengeluarkan senyum usil. Tentu saja ekspresi Silverius yang sedikit tertekuk tidak berubah, hanya saja darahnya yang sedang didihkan - dengan ketidaktahuan Selvatine, sepertinya - tadi telah bertambah derajat Celcius-nya.

Entah hendak membela diri atau bagaimana, Selvatine membuka mulutnya. Ditambah dengan tatapan yang cukup menantang, mungkin kalau Silverius berkepribadian seperti salah satu Jenderal di Markas Cabang Asia, maka tangannya akan bergerak dan menghantam sisi wajah Selvatine.

Sayangnya Silverius tidak bereaksi, sehingga Selvatine dapat dengan mudah menyingkirkan tangan Silverius dan "membersihkan" pakaiannya yang mungkin sedikit kotor karena sempat bersentuhan dengan dinding Markas Cabang Asia. Sebenarnya Silverius cukup terkejut ketika Selvatine menyingkirkan tangannya, namun lagi-lagi emosi itu tidak terekspresikan di wajahnya yang masih sedikit tertekuk. Alih-alih membalas senyum Selvatine - yang sudah tidak begitu usil lagi - pemuda Jepang itu hanya meliriknya dengan tatapan tajam, dan membiarkan staf medis itu pergi meninggalkan tempat ini tanpa harus memikirkan kata-kata tambahan yang mungkin bisa dilontarkan Silverius di sela-sela waktu yang tersisa.

Dan mungkin karena tidak ada bunyi besi campuran yang bergeser seperti ketika Nona Demetros membuka pintu untuk pertama kalinya, Silverius cukup terkejut - yang lagi-lagi hanya membuat wajahnya tampak lebih keras sedikit - ketika suara Nona Demetros memecah keheningan yang sertamerta muncul ketika Selvatine pergi. Wanita itu menanyakan akan apa yang terjadi dan perlahan Silverius menoleh untuk melihat wanita berambut nyaris putih itu.

Seperti seorang kritikus seni yang mengamati berbagai karya seni rupa di dalam sebuah galeri, kedua mata hitam Silverius menatap Nona Demetros lekat-lekat; kembali mengukur dan membandingkan, serta berusaha melihat dengan lebih teliti detil-detil pada sosok wanita berambut nyaris putih di hadapannya. Pertama-tama dari kepala tentunya; rambut yang berkilau ditimpa cahaya dari jendela kecil di latar belakangnya, dan dilanjutkan ke daerah wajah; mulai dari sepasang mata amber di bawah alis yang berwarna nyaris putih pula, kemudian turun ke hidung, sebelum ke mulut, berbelok dari dagu ke sisi wajah yang dibayang-bayangi oleh rambut pirang platina yang digerai lurus, sebelum akhirnya menyapu pakaian terusan berwarna merah itu dengan tempo yang lebih cepat daripada saat mengamati detil-detil pada bagian-bagian yang tidak tertutup garmen merah marun itu. Entah berapa lama waktu yang terlewat dalam keheningan, Silverius tidak menghitungnya; bahkan sampai ketika pikirannya mengingatkannya akan pertanyaan Nona Demetros yang langsung mengeringkan tenggorokan dan kerongkongannya.

Sebagai efek samping, tentu saja pria Jepang itu berdeham pelan beberapa kali dan menelan ludah untuk sekedar membasahi kerongkongannya. Jelas bukan solusi yang efisien sehingga untuk beberapa saat, Silverius hanya bergantian menatap dinding yang mengapit pintu tempat Nona Demetros berada, sebelum naik ke langit-langit dan turun ke sepatu bot yang dikenakan Silverius. Tuntutlah kepasifan Silverius dalam berekspresi, tetapi bahkan pria Jepang ini tidak bersuara sama sekali. Menutup jalan keluar untuk sinyalir-sinyalir kegugupan yang mungkin masih bisa dilihat dari mata hitam pria Jepang itu, sampai akhirnya mulutnya terbuka untuk mengatakan...

"[color=silver]Err...[/silver]"

Itu saja? Sepertinya masih ada lagi.

"[color=silver]Ini... ini untukmu,[/silver]" tambah Silverius sambil mengeluarkan hadiah yang terbungkus koran tadi pagi. Jemarinya meneliti bentuk barang yang dibungkusnya itu dengan hati-hati dan perlahan sehingga tidak terlalu terlihat, lalu memaksakan sebuah senyum yang malah terlihat sedikit aneh karena hanya sudut mulutnya saja yang terangkat sehingga senyumnya terlihat seperti tanda kurung siku tutup yang diputar 90 derajat searah jarum jam.

Setelah yakin telur kaca yang menyimpan cairan berwarna kemerahan yang cukup kental di dalamnya itu masih utuh tanpa retakan yang berarti, Silverius akhirnya bisa mengangkat lebih banyak dari garis mulutnya untuk menampilkan sebuah senyum yang lebih rasional untuk dikategorikan sebagai senyum yang cukup ramah dan berkata, "Ini untukmu." Kembali ke suara datarnya yang biasa.

Sepertinya jalan yang ditempuh pria Jepang ini masih panjang.



Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime5th April 2010, 23:50

"Err..."

Err..?

Entah sadar atau tidak, iris Blanka yang berkilatan dengan nuansa amber semakin memperhatikan si pemuda. Heran? Mungkin, ia punya beberapa alasan kuat untuk memiliki perasaan seperti itu. Pertama tentu saja kedatangan tak biasa, kunjungan sosial yang tak biasa, keramaian yang tak biasa di depan pintu kamarnya—yang konon sudah terkenal akan ‘hawanya’ yang cukup berbeda—serta... seorang pemuda dengan ekspresi timpang di wajahnya yang entah kenapa tak juga beranjak dari ambang kamarnya.

Mau tak mau, Silverius, tatapan Nona Ormondi melekat ke wajah orientalmu. Memperhatikan tiap guratan dan kerutan yang muncul di kulit wajahmu, masih dengan tatapan nanarnya yang—seringnya—membuat orang lain merasa tak nyaman.

"Ini... ini untukmu," ucap pemuda berambut hitam itu dengan senyum janggal di wajahnya.

Pandangannya beralih ke ‘sesuatu’ yang dibawa Silverius, sesuatu yang dibungkus secara kurang rapi dengan kertas Koran ala kadarnya. Sekilas tatapan Blanka melunak, menatap bergantian antara Silverius dan bungkusan yang ia bawa sebelum kemudian wajah Eropa timur-nya disaput keheranan, kali ini pun ia tak dapat mendengar Silverius mengulang kalimat barusan.

Ya, Blanka Ormondi Demetros keheranan. Hingga tanpa sadar ia melepaskan tangan dari pintu kamarnya, bahkan tubuhnya pun lebih condong ke depan untuk mendapatkan citra yang lebih jelas. Terpandu dengan rasa ingin tahu, jemari langsingnya tampak hendak menyentuh barang tersebut. Namun kali ini jemarinya berhenti tepat di tengah ruang kosong antara dia dan Silverius, karena tampaknya kesadaran wanita berusia 23 tahun ini telah kembali.

Menengadah, menatap pemuda berusia 20-an tersebut dengan heran—ekspresi heran yang hanya dimiliki oleh Blanka tentunya. Celah bibirnya kembali terbuka perlahan, meloloskan suara lirih berdesibel rendah ke sang pemuda.

“Ini untuk apa..?”

...dan ada apa?, batinnya.

Kali ini rasanya Blanka mulai merasa janggal, perasaan janggal yang selalu ia dapatkan jika ia melupakan sesuatu. Hanya saja ia tak dapat mengingat apa yang ia lupakan, bukannya ia amnesia atau apa tentunya. Blanka Ormondi hanya berusaha mengubur kenangan yang tak ingin ia kenang—beberapa berhasil, sisanya belum—dan rupanya ingatan akan hari ini tak sengaja terseret ke dalam kuburan memori sel abu-abunya.

Jadi, untuk apa bungkusan itu, Silverius Girlani?
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime25th April 2010, 17:30

Mata hitam Silverius kembali berpindah obyek. Meninggalkan wanita berambut nyaris putih di hadapannya, kedua matanya perlahan-lahan mengikuti tangan wanita itu yang mulai terulur mendekati telur kaca yang telah dibungkusnya dengan kertas koran tadi pagi. Tunggu, telur kaca? Ya, telur kaca.

Masih berada dalam genggaman Silverius, telur kaca ini berisi cairan merah agak kental dengan sedikit sisa udara yang akan bergerak ke arah sebaliknya apabila telur ini diputar ke atas atau ke bawah. Bahkan ditambah dengan hiasan kastil bergaya oriental di dalamnya, telur kaca ini tetaplah sederhana. Tidak ada ukiran emas meliuk-liuk yang menghiasi sisi luarnya, tidak ada serpihan berkelap-kelip yang melayang di dalam cairan merah itu. Sederhana dan memang tidak begitu mahal. Apa yang kau harapkan dari seorang misionaris?

Kembali mengikuti tangan Nona Demetros yang terulur, mungkin tanpa Silverius sadari, sudut-sudut mulutnya mulai bergerak naik... meskipun dengan cepat membentuk garis lurus lagi ketika tangan itu berhenti terulur. 'Ada apa? Apakah ada yang salah? Apakah Selvatine itu muncul lagi?' Berbagai macam pertanyaan berkelebat di dalam benak Silverius, namun tatapan matanya tetap terpaku pada tangan yang terbuka itu.

"Ini untuk apa... ?"

Pertanyaan itu menyentakkan benak Silverius, meskipun tidak ada respon yang berarti yang muncul pada tubuh Silverius kecuali ditariknya telur kaca terbungkus kertas koran itu.

'Untuk apa, tanyamu?' Silverius berpikir, 'apakah kau tidak ingat... tidak, itu tidak mungkin. Tapi... itu mungkin saja. Silverius, kau seharusnya malu terhadap dirimu sendiri.'

Berbarengan dengan munculnya kesimpulan itu, tangan Silverius kembali bergerak; kali ini langsung meletakkan hadiah ulang tahunnya dalam genggaman Nona Demetros sebelum memantapkan genggaman wanita itu agar telur kaca itu tidak jatuh dengan sedikit belaian pendek pada jemari wanita berkulit pucat itu.

"Ini untukmu," Silverius kembali berbicara dan tidak begitu peduli apabila dia mengulangi kata-katanya sebelumnya karena pria Jepang itu segera memutar badannya kembali ke koridor di mana Selvatine pergi sebelumnya, dan melangkahkan kakinya.

Apa? Sampai di sini saja, kah, Silverius?

Sayangnya, ya. 'Bukankah aku sudah menunaikan tugasku dengan baik?' Silverius berpikir, 'apalah gunanya apabila dia tidak ingat...'

Ya, jangan berhenti di sana, Silverius. Lanjutkan.

Namun jika kau berharap pria Jepang itu akan berbalik lalu berteriak atau menghampiri wanita Hungaria itu dan mengatakan kalau telur kaca barusan adalah hari ulang tahunnya, kau salah besar; karena alih-alih melakukannya, langkah kaki Silverius tidak pernah berhenti, bahkan ketika kata-kata barusan terlintas di dalam benaknya pun Silverius tidak berhenti. Semakin lama, semakin menjauh. Hilang dari pandangan? Oh, tergantung bagaimana kita melihatnya, bukan?
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros

Blanka Ormondi Demetros

Posts : 116
Umur : 29

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime12th May 2010, 09:01

Telur kaca...?

Melihat bentuk oval itu kedua iris sang wanita tampak memandanginya tanpa bisa menyembunyikan perasaan ingin tahu yang melintas di pikirannya. Iris amber wanita Hungaria tersebut memperhatikan bagaimana cairan di dalam kaca tersebut berpindah ketika Silverius menggerakkannya. Cairan merah yang seolah menyelimuti kastil kecil di dalamnya yang tampak begitu ringkih.

...tapi cukup untuk membuatnya tersihir.

"Ini untukmu,"

Dan belum sempat wanita berusia 23 tahun itu mengatakan sesuatu ia sudah merasakan tekanan di telapak tangannya yang kosong, yang sekarang telah mengenggam telur kaca yang dijejalkan oleh pria oriental tersebut. Memang tak satu katapun terucap dari bibirnya tapi itu tidak berarti bahwa ia tak merasakan apa pun. Beribu tanda tanya mengalir di benaknya atas rentetan hal yang tak ia duga.

Saat inilah ia merasa bahwa ia memang melupakan sesuatu... sesuatu yang seharusnya diingat siapapun, sesuatu yang se-esensial laiknya namanya sendiri. Dan begitu ia bisa menarik semua benang memorinya, ia tersentak kuat dalam batinnya.

“Tunggu, Girlani.” Blanka menatap lurus pada punggung pria tersebut, kali ini topeng dingin yang biasa menyelimuti dirinya luntur dan suaranya saat memanggil pria tesebut pun bukan suara dingin pelan yang familiar itu. Suara itu memang masih kalem, namun terdengar tegas dengan volume yang cukup lantang... yang kemudian disusul oleh kalimat bernada lunak dari sang wanita yang sekarang menggenggam erat telur kaca tersebut.

“...dari mana? Dari mana kau bisa tahu?” suara wanita itu bergetar. Blanka menatap punggung pria itu dengan air muka yang belum pernah ia tampilkan sebelumnya, luapan yang tercampur aduk antara keterkejutan dan rasa ingin tahu. Yang entah kenapa malah terpancar dengan lembut.

Banyak, banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan pada pria itu hingga ia tak yakin harus mulai dari mana...
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani

Silverius Girlani

Posts : 97
Umur : 26
Pemilik : Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime26th June 2010, 01:55

Satu kata - apabila nama belakangnya tidak dihitung - yang menghentikan langkah jiwanya; memaku kedua kakinya pada lantai batu sehingga tidak bergerak lagi untuk membawa badannya lebih jauh lagi dari kawasan asrama wanita; tempat yang seharusnya tidak dikunjunginya. Dan untuk beberapa saat langkah Silverius memang terhenti, sampai sebuah pikiran kembali menggerakkan otot-otot kaki pria Jepang itu untuk kembali melangkah...

...yang dihentikan lagi oleh sebuah fragmen pertanyaan yang dilanjutkan dengan pertanyaannya sendiri.

"...dari mana? Dari mana kau bisa tahu?"

'Tidak mungkin dari membaca arsip biografimu, kan?'

Untung saja hari ini Silverius tidak mengikatkan Silvery Ouroburos pada kedua lengannya sehingga ketika kedua lengannya bergetar pelan, tidak terdengar suara perak bergemerincing. Masih membelakangi wanita yang baru saja memanggilnya dengan volume yang jarang didengarnya keluar dari wanita berambut nyaris putih itu, Silverius menundukkan kepalanya sedikit dan menutup matanya. Lubang hidungnya mengembang-mengempis berusaha menahan gejolak yang mengalir cepat memenuhi pembuluh darahnya, meskipun yang mungkin terlihat dari tempat wanita itu berdiri adalah tangan Silverius yang bergantian mengepal dan membuka.

Sebuah pikiran mengusulkan Silverius untuk pergi ke Infirmari, dan mungkin pria Jepang itu sudah beranjak apabila pertanyaan tadi tidak bergema dalam benak Silverius.

"Aku hanya... tahu." Akhirnya Silverius menjawab meskipun dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya ataupun berpaling untuk menatap Nona Ormondi yang mungkin tengah menatap lambang Traverse Cross pada punggung seragam Exorcist Silverius. Tidak sopan, pasti itulah komentar Antonio kalau pria tua itu ada di sana - demikianlah Silverius teringat, meskipun pikiran itu langsung menghilang ketika dia merasakan angin dingin berhembus menuruni tulang punggungnya. Tidak ada Antonio di sini, hanya ada dia dan... Nona Ormondi.

Silverius pun membuka matanya. Sebagai seorang laki-laki dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri; dan percaya atau tidak, sekarang dia sudah memulainya. Karena itulah gerakan berikutnya yang terlihat adalah menghadapnya Silverius kepada Nona Ormondi. Sekali lagi pria Jepang itu menatap wanita berambut nyaris putih di hadapannya lekat-lekat, meskipun kali ini sesuatu menahannya untuk menatap wanita itu lebih lama lagi dan mendorong mulutnya yang rasanya sangat kering untuk membuka...

'Selamat ulang tahun ke-23.'

...karena pria Jepang itu sudah tidak dapat menahannya lagi. Dengan langkah cepat pria Jepang itu bergerak mundur sebelum akhirnya berbalik dan mengambil langkah lebar sebelum melesat dalam pacu lari, benar-benar meninggalkan wanita Hungaria itu di koridor sendirian. Sengaja mengambil jalur yang biasanya sepi, meskipun dia sempat menabrak beberapa staf Black Order yang lewat, Silverius dengan cepat mencapai kamarnya dan melempar dirinya ke atas ranjang pertama yang dilihatnya - tidak peduli apakah itu ranjangnya atau ranjang Aurelio - dan membenamkan mulutnya pada bantal kapuk di atas ranjang itu sebelum melepaskan semuanya dalam 5 kata:

"SELAMAT ULANG TAHUN KE-23!"


END
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Sponsored content




[ASIA] Happy Birthday to You too Empty
PostSubject: Re: [ASIA] Happy Birthday to You too   [ASIA] Happy Birthday to You too I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[ASIA] Happy Birthday to You too
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» A birthday treat- The SPRITE MUSEUM!
» Wezan Alryk
» HAPPY FIRST ANNIVERSARY LADY FRIENDS!!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com