An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [ONE-SHOT] Ba Mhaith Liom Mo Máthair

Go down 
AuthorMessage
Leonard Chezza

avatar

Posts : 78
Pemilik : Issei Akira
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 22

PostSubject: [ONE-SHOT] Ba Mhaith Liom Mo Máthair   5th February 2010, 22:34

Note: Kelanjutan dari IHNE, dari sudut pandang Leon dan Lia.


Ba Mhaith Liom Mo Máthair
I Want My Mother


Kedua mata zamrud itu mengerjap, menyipit sedikit karena terangnya mentari pagi. Lengan mungilnya menumpu tubuhnya, berusaha untuk bangun. Tetapi rasa pusing luar biasa menghantam kepalanya, memaksanya untuk berbaring lagi dengan suara ‘bruk’ pelan. Kepala berlapis rambut pirang pucat mengangkat, mengerjapkan mata biru-hijaunya. Suara tadi sudah membangunkannya dari alam mimpi.

“Liadan?” panggil pria berdarah Inggris itu sambil menguap lebar. Dilihatnya sang adik sepupu masih terbaring di tempat tidur dengan mata terbuka, wajah kusut, dan sebelah mata memijat-mijat dahinya.

“Aku… di mana?” tanya sang gadis pelan. Rasa sakit di kepalanya mencegahnya untuk berpikir, meski hanya untuk mengidentifikasi di mana dirinya sekarang.

“Infirmari. Semalam kau mabuk sampai pingsan d kamar General Asdvadzadour. Aku mau membawamu ke kamarmu, tapi jam segitu tidak sopan kalau seorang pria berkunjung ke asrama wanita. Mau membawamu ke kamarku juga tidak sopan. Jadi kubawa kamu ke infirmari saja, biar sekalian bisa kutemani,” jelasnya pelan, sambil tersenyum lembut pada sang gadis.

Namun mata biru-hijau itu mendadak menajam. Senyum masih terulas di bibirnya, tapi satu perasaan kini membakar hatinya. Ada satu hal yang harus ia ketahui. Hanya satu itu, tidak lebih. Ia memindahkan tangannya ke atas kepala Lia, membelainya lembut.

“Lia… Coba kamu ingat-ingat, apa yang sebenarnya terjadi semalam? Bagaimana kamu bisa pingsan begitu?” tanya leon pelan, sambil mencoba mempertahankan kelembutan suaranya. Tapi sebaik apapun ia berusaha menyembunyikan perasaannya, rasa cemburu yang pekat masih terdengar dalam suaranya.

Sepasang mata hijau cemerlang itu menatap ke dalam mata biru-hijau. Lia sadar ia ingat apa yang terjadi. Ia ingat setiap kata yang ia ucapkan. Tapi ia tidak mungkin membiarkan Leon mengetahuinya. “Aku… tidak ingat…” jawabnya pelan. Leon masih tersenyum padanya, meski kadarnya mulai berkurang.

“Kamu yakin kamu benar-benar tidak ingat?” tanya Leon. Kedua bola matanya menatap tajam sang gadis, berusaha mencari tahu apa yang dikatakan hatinya. Tapi sang gadis hanya balas menatapnya dengan tatapan kosong, menyuruhnya untuk tidak ikut campur tanpa sepatahkatapun terucap. Leon memindahkan tangannya ke atas tangan Lia, menggenggamnya lembut, menyatakan persetujuannya tanpa mengatakan apa-apa.

“Aku mengerti. Kamu istirahat lagi saja,” katanya sambil kembali tersenyum lembut. Keduanya terdiam selama beberapa saat, sampai akhirnya Leon membuka mulutnya. Bukan untuk berbicara, tapi bernyanyi. Ia menyanyikan sebuah lullaby dalam bahasa Irlandia, sebuah lagu yang dulu sering dinyanyikan diam-diam oleh sang paman di tengah malam. Suaranya memang tidak sebagus suara almarhum pamannya, tapi setidaknya ia hafal setiap kata yang beliau nyanyikan.

Di luar dugaan, Lia menatapnya dengan mata membulat tidak percaya. Lagu itu, lagu yang dilantunkan kakak sepupunya itu, adalah lagu yang biasa dilantunkan sang ibu untuknya sebagai pengantar tidur. Bibir mungilnya membuka, melantunkan lagu yang sama, meski dengan nada yang lebih tinggi. Merdu suaranya, seperti suara almarhum ayahnya.

Saat keduanya selesai melantunkan nada yang terakhir, Lia tak kuasa menahan air matanya. Terlintas di ingatannya, tempat tidurnya yang keras dan sempit, yang ia pakai berdua dengan almarhumah ibunya saat beliau masih hidup. Tak terasa olehnya dinginnya rumah reyot yang ia tempati hanya berdua itu, karena ibunya ada di sebelahnya, mendekapnya erat, menghangatkan dirinya. Samar masih teringat olehnya bau roti yang baru selesai dipanggang menyambutnya di pagi hari. Teringat olehnya, kehidupannya yang sederhana namun bahagia di daerah kumuh di Irlandia.

“Aku… aku mau pulang…” keluhnya di sela-sela tangisnya. Ia ingin pulang, kembali ke kampung halamannya, ke tanah kelahirannya. Persetanlah dengan kehidupan yang nyaman di negara kelahiran sang ayah. Di saat seperti ini, yang ia inginkan adalah pelukan hangat dari sang ibu. Persetanlah dengan sosok ayah yang sudah lama ia cari, dan keluarga palsu yang dimilikinya di markas itu. Yang ia butuhkan dan inginkan sekarang adalah ibunya, ibu kandungnya, yang telah lama meninggal.

Tak tahan melihat kondisi adik sepupunya, Leon mengangkat tubuh gadis itu dan memeluknya erat. Disandarkannya kepala sang gadis ke dadanya. Sebelah tangannya menumpu punggung gadis mungil itu, sementara tangannya yang satu lagi ia letakkan di atas kepalanya. Lia masih terisak pelan sambil meremas kemeja sang pemuda.

“Lia… kamu sudah pulang. Di sinilah rumah dan keluargamu,” bisik Leon pelan untuk menenangkan saudara perempuannya itu. Tapi Lia menggeleng pelan dalam pelukannya, menolak jawaban yang Leon berikan. Markas Black Order Cabang Utama bukanlah rumahnya, dan anggotanya bukanlah keluarganya. Semuanya hanyalah bayangan kebahagiaan semu yang menutupi peperangan yang mempertaruhkan nyawa banyak orang. Ia tidak butuh rumah palsu, keluarga palsu, dan kedamaian palsu.

“Aku mau pulang… aku mau máthair…” isaknya semakin keras. Satu kalimat yang meluncur keluar dari mulut gadis itu membuat Leon tertegun. Selama ini, tak pernah sekalipun Lia menyebut-nyebut ibunya di hadapan siapapun. Tapi pagi itu, setelah malam yang nista itu, Lia menyebut ingin bertemu dengan ibunya. Pastinya ada sesuatu yang salah. Sangat salah.

“Lia…” Ia melepaskan pelukannya dari sang gadis, lalu kembali membaringkannya di atas tempat tidur. “Tidurlah…” bisiknya lembut. Diusapnya air mata yang masih tersisa di pipi gadis itu, lalu dikecupnya dahi sang gadis. Ia membelai rambutnya lembut sambil tersenyum ramah padanya. “Tidurlah…”

Saat sang gadis kembali terlelap dan ia berjalan meninggalkan infirmari, ada satu hal yang ia tanamkan dalam-dalam di ingatannya; besok ia harus menemui seseorang. Ya, orang itu, yang pasti tahu segalanya tentang apa yang terjadi semalam. Ia harus bergegas membuat janji dengan orang itu, sebelum ia harus tenggelam dalam tugasnya lagi.
Back to top Go down
View user profile
Chief Supervisor
Admin


Posts : 418

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Ba Mhaith Liom Mo Máthair   6th February 2010, 14:31

SEKUEEEEEEEEEL!!! Saya mau tahu Leon mau ketemu sama siapa, sama Shrei, Jirel, (Abisak?) atau dua-duanyaaa... Laughing

Ini salah satu karya terbaikmu, Nona. Saya suka penggambaran atas kehidupan Lia yang dulu sederhana, benar-benar penuh dengan kebahagiaan dari hal-hal kecil yang simpel, dan atmosfer sedihnya benar-benar terasa.

Kritik... ya, rasanya pergantian sudut pandang antara Leon dan Lia agak membingungkan... kadang saya harus mikir ulang dulu sebelum tahu ini yang lagi berpikir Leon apa Lia Unsure

_________________
Name? My name is not important. My job is.
Back to top Go down
View user profile http://blackorder.web.id
Tek Dai Fong

avatar

Posts : 78
Pemilik : Agito
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 23

PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Ba Mhaith Liom Mo Máthair   6th February 2010, 17:05

Mau tau Leon ketemu sama siapa? Tunggu aja tanggal mainnya... *disepak* Dan terima kasih atas pujiannya, saya tersanjung Embarassed *dihajar beneran*

Perubahan sudut pandang, ya... Saya masih harus banyak belajar di sana, apalagi kalau mau membuat cerita dengan sudut pandang banyak karakter |||orz Saya akan berjuang lebih keras =w=7
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: [ONE-SHOT] Ba Mhaith Liom Mo Máthair   

Back to top Go down
 
[ONE-SHOT] Ba Mhaith Liom Mo Máthair
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Vexen *The Guy Who Gets Shot By An AirSoft Gun And Makes A Big Deal About It*
» Gazzy X Nudge One-shot
» Trick Shot Gun Magic done W.I.P.
» Work In Progress Oneshot (RATED M, to warn)
» dual 15 shot revolver type flintlocks

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Non-Roleplay :: Exhibition Room :: Literature Exhibit-
Jump to:  
Free forum hosting  | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com