An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [AFRICA] The Damsel Plead

Go down 
AuthorMessage
Freja Vladislava

avatar

Posts : 19
Pemilik : DPNK

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 24

PostSubject: [AFRICA] The Damsel Plead   22nd March 2010, 18:27

Private Room
January, 09.15 AM



Pagi yang indah untuk membersihkan kamar kan? Itulah mengapa sekarang ini wanita Denmark berusia 24 tahun itu berdiri di atas bangku, lap basah di tangan kanan, beserta kain tipis yang membelit setengah bagian wajahnya agar ia tak menghirup debu tanpa sengaja. Ia sudah mengatakan pada si pria berkebangsaan Rusia yang berbagi kamar―dan hidup―dengannya untuk membiarkan Freja merapikan kamar mereka―walaupun sebenarnya kamar mereka belum begitu kotor. Toh, perkerjaan merapikan, dan mengatur adalah kewajiban seorang istri yang baik kan? Dan tentu saja karena Freja adalah istri yang baik―minus keahlian memasak―akan memastikan bahwa setiap sudut kamar yang mereka tempati bersih dan mengkilap sehingga saat suaminya kembali dari bekerja ia dapat mengistirahatkan urat syarafnya dengan nyaman disertai secangkir the hangat dan cemilan ringan.

Sungguh istri yang manis si Freja ini...

Garis-garis tipis muncul di keningnya saat Freja melihat tumpukan debu yang ada di atas lemari, untung saja ia melilitkan kain di hidung dan mulutnya. Kalau tidak pasti ia sudah bersin-bersin tak karuan. Ia memang tak pernah akrab dengan debu dan itu termasuk salah satu alasan mengapa ia selalu senang kerapian dan keindahan. Namun, belum saja ia berhasil membersihkan apa pun sorot mata birunya telah menangkap sesuatu yang teramat mengerikan! Oh, apa itu yang berbentuk oval, berwarna coklat mengkilat, dan memiliki antena? Kecoak tentu saja. Ya, kecoak, salah satu hal yang dibenci Freja melebihi kebenciannya terhadap debu.

Menyadari keberadaan serangga itu pelupuk matanya melebar, Freja terkesiap dan melengking pelan penuh kejijikan. Serangga coklat itu membuat keseimbangan tubuh wanita ini lenyap, Freja tersandung kakinya sendiri dan... melayang jatuh ke lantai di bawahnya dengan bunyi berdebam serta erangan kesakitan. Bukan, bukan efek peraduan tubuhnya dan lantai keras yang membuatnya mengerang kesakitan begitu lantang, melainkan rasa perih yang menjalar dari pahanya. Oh, tampakanya secara tak sengaja Freja menarik taplak meja bundar di dekatnya saat ia terjatuh, meja yang selalu ia hiasi dengan vas bunga.. yang sekarang pecahannya menembus rok panjangnya, menancap di lapisan daging paha kiri. Tak begitu dalam untungnya namun tetap saja lebih dari cukup untuk membuat wanita satu ini panik―siapa yang tak panik jika ia melihat pecahan kaca menancap di kulit?―apalagi saat ini tak ada seorang pun di kamarnya...

Freja meringis kesakitan, kaki kirinya sakit, dan semakin terasa sakit setiap ia berusaha menggerakannya. Untung saja ia masih bisa mendengar suara langkah kaki di luar, ya, ia butuh pertolongan, dan lebih baik lagi jika pemilik langkah kaki itu adalah suaminya yang saat ini―seharusnya―berada di infirmari. Semoga saja siapapun yang melintas di depan pintu kamar mendengar suara gaduh dan rintihan kesakitan wanita Skandinavia tersebut...





Open for all, pintu g dikunci kok jadi langsung terjang saja ya =w=b

orz udah lama g nulis jd kacau gini orz
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller

avatar

Posts : 58
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AFRICA] The Damsel Plead   25th March 2010, 06:31

Curiousity kills the cat.

Yah, Vanya Muller memang bukan tipikal orang yang suka mengutip kata-kata orang lain dan menerapkannya dalam kehidupannya--maksudnya bukan berarti ia tidak mau, namun keburu lupa akan kata-kata terkenal yang dikatakan oleh siapa karena apa. Sungguh, bila ia ingat, mungkin ia justru akan menerapkan kebijaksanaan lama terhadap kehidupannya.

Tapi, ungkapan tersebut--bahwa rasa ingin tahu dapat membunuh--selalu menempel di otaknya.

Karena itu, ketika ia mendengarkan erangan saat dirinya melewati salah satu ruangan pribadi staf, Vanya Muller tidak bisa merasa banyak kecuali... yah, ingin tahu. Siapa pula yang menyangka di pagi hari ini sudah ada saja suara erangan-erangan--

Vanya menampar pipinya--'Gak mungkin jam segini udah ada yang 'begituan' Vanya!' pikirnya keras, berusaha mengeliminasi garis pikiran yang mengantarkannya pada asumsi tersebut. Namun dengan begitu, apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu itu?

Dahi mengerut, mata biru menyipit; perlahan, gadis tersebut membuka pintu yang memisahkan seseorang--entah siapa, Vanya tidak kenal siapa ada di kamar mana--dengannya. Pintu terbuka dengan mudahnya, tanpa kunci dan pernak-perniknya yang lain. Gadis ini menghela napas lega untuk beberapa saat--setidaknya ia tidak perlu aneh-aneh sekarang, karena orang yang melakukan... ehm... 'hal tersebut' selalu mengunci pintu.

Pintu tidak terbuka lebar, karena Vanya ingin juga memastikan bahwa erangan tersebut memang bukan hanya bayanganna. Ketika mata birunya menyapu isi ruangan, gadis ini berhenti; di lantai, ia bisa melihat seorang wanita meringis, sepertinya karena kesakitan.

Vanya Muller adalah seorang Finder--sidekick Exorcist. Tentu saja ia tahu siapa yang terluka karena sesuatu... appun itu.

"Fraulein!" Serunya, langkah kakinya dengan cepat menutup jarak antara Freja dan Vanya. Mata birunya dapat melirik pecahan vas tersebar di mana-mana. Dahi gadis ini mengerut--matanya juuga dengan segera melihat pecahan kaca yang menempel pada paha wanita tersebut. Sepertinya tidak terlalu dalam.

"Ah." komentar pendek; kepalanya berpaling ke sana kemari, mencari obat P3K bisa memabntunya dalam keadaan seperti ini. "Nona punya kotak obat? Aku bisa mengeluarkannya asal ada kapas dan alkohol."

Hei, Vanya itu Finder. Ia tentu punya pengetahuan pertolongan pertama--sudah diajarkan dalam latihannya.
Back to top Go down
View user profile
Vodete Vladislav

avatar

Posts : 14
Pemilik : S.E.H.

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 32

PostSubject: Re: [AFRICA] The Damsel Plead   25th March 2010, 20:18

Sebetulnya Vodete Vladislav bukanlah seorang pria yang pelupa. Tapi namanya juga manusia, tak luput dari kesalahan. Seharusnya ia sedang berjaga di infirmari saat ini, namun map berisikan data-data pasien yang sedang ditanganinya tertinggal di kamarnya. Oh ya, tadi malam ia baru menganalisa kembali penyakit-penyakit yang diderita pasiennya, melakukan diagnosis banding sesuai hasil pemeriksaan... dan hal semacamnya.

Dan tadi pagi, ia bangun agak terlambat karena, ehm... Yah, pokoknya, karena keterlambatan itulah membuat dirinya lupa akan map berwarna hijau yang ia tinggalkan di meja semalam. Dan sekarang, ia sedang dalam perjalanan kembali ke kamarnya untuk mengambil map itu. Alisnya berkerut ketika melihat pintunya tidak tertutup, dan sungguh, pemandangan yang ada di dalam sana bukanlah apa yang ingin dilihat olehnya...

"Astaga! Freja!!" pekiknya ketika melihat darah mengalir dari paha istrinya. Dengan langkah lebar dan cepat, ia segera mendekat dan merangkul wanita Skandinavia itu, ekspresi wajahnya yang semula tenang berubah menjadi luar biasa cemas. "Demi Tuhan, apa yang terjadi?!" mata hijaunya menganalisa keadaan Freja, sebuah pecahan kaca menancap di paha kirinya, tidak terlalu dalam, tetapi buruk bila dibiarkan. Dan lain lagi ceritanya kalau yang terluka seperti itu adalah istrinya sendiri!

"Bertahanlah sebentar, sayang--ah! Nona, bisa tolong ambilkan kotak P3K yang ada di atas lemari itu?" meminta bantuan dari seorang wanita berambut pendek di sana, karena dirinya sendiri sedang sibuk memindahkan Freja ke atas tempat tidur, dengan perlahan-lahan tentunya.

"Kenapa kamu bisa begini...?" panik, keringat dingin mulai mengucur dari dahinya sementara satu tangannya menggenggam tangan Freja erat. Oh, baru terluka seperti ini saja Vodete Vladislav sudah panik setengah mati, bagaimana kalau hal yang lebih buruk terjadi? Tidak, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Mulai sekarang juga, ia harus lebih berhati-hati dan melindungi istrinya dari marabahaya setiap saat. Berlebihan? Tidak, begitulah tabiatnya yang memang protektif, over malah.

Setelah mendapatkan perlengkapan yang diinginkannya, Vodete segera menangani luka di paha Freja. Dengan super hati-hati dan cekatan ia menangani luka itu, bersama dengan asistensi dari wanita berambut hitam yang belum dikenalnya. Tak lama, sebuah perban sudah terbalut dengan rapi di sana, hei, ia seorang dokter, kalau cuma begini sih, keciiiiil.

"Kamu tidur saja dulu, ya, jangan turun dari tempat tidur atau banyak bergerak. Biar aku yang menjagamu di sini sampai lukanya sembuh." yang artinya, ia tidak akan pergi ke mana-mana sampai beberapa hari ke depan, mengawasi istrinya setiap detik. Satu tangannya membelai rambut Freja lembut, sementara satu tangannya kembali menggenggam tangan Freja erat, dan wajahnya masih cemas. Yakinlah, rona itu tak akan hilang sampai Freja sembuh, begitu juga dengan konsentrasinya, pasti tidak akan maksimal. Untung saja kompetensinya sebagai dokter tidak berkurang drastis karena panik...

"Omong-omong," ia menolehkan kepalanya, menemukan sosok Vanya di sana, "... Nona siapa, ya?" lanjutnya canggung, baru menyadari kalau ia tidak mengenal wanita Jerman yang mungkin saja tahu apa yang baru saja terjadi pada istrinya. Kalau sedang panik, kadang orang yang paling kalem sekali pun bisa berubah menjadi konyol.



Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile
Freja Vladislava

avatar

Posts : 19
Pemilik : DPNK

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 24

PostSubject: Re: [AFRICA] The Damsel Plead   26th March 2010, 20:45

Masih meringis sambil menahan perih, iris biru itu menatap ngeri pada pecahan kaca yang menempel di pahanya, dan sekarang warna cerah rok itu sudah dibasuhi oleh rona merah yang cukup akrab--berhubung profesi si wanita--namun tetap saja Freja tak pernah senang melihat tetesan merah itu. Karena kebanyakan darah bukanlah pertanda baik kan? Apalagi darah yang keluar dari celah kulit miliknya sendiri--kecuali darah perawan mungkin--dan jujur saja, ia merasa ngeri.

"Fraulein!"

Sontak menoleh pada asal suara, kedua iris bening milik wanita berusia 24 tahun itu menangkap sosok wanita muda yang sesekali ia temui di markas ini. Tampaknya Freja cukup beruntung, ia tak perlu berlari ke infirmari dengan pecahan kaca tertancap di paha kirinya untuk mendapatkan pengobatan--sebenarnya sih bisa saja dia mengobati luka itu sendiri berbekal kotak p3k yang selalu tersedia di suatu tempat dalam kamarnya. Namun, tetap saja dia ingin seseorang membantunya.

Senyuman lemah tersemat di wajah eloknya. Kali ini Freja--yang masih berada di lantai bisa sedikit merasa lega. Telapak tangannya mengusap paha kiri, suara ritmis erangan lemah lolos dari bibirnya setiap kali ia menyentuh kulit di sekitar daerah naas tersebut. Oh ya, tolong hati-hati, pecahan vas bisa saja terinjak tanpa sengaja.

"Nona punya kotak obat? Aku bisa mengeluarkannya asal ada kapas dan alkohol."

Wanita berkebangsaan Denmark itu menoleh pada Vanya, saat ini ia sudah siap memberikan jawaban--kemungkinan besar nada suaranya akan berpadu dengan rintihan atau semacamnya--jika saja...

"Astaga! Freja!! Demi Tuhan, apa yang terjadi?!"


...ia tak mendengar suara suaminya yang memekik keras.

"Sa-sayang?" spontan memanggil pria Rusia itu dengan nada bicara yang meninggi di akhir kata. Ia tau pria yang berbagi kamar dengannya tersebut tak akan senang disuguhi pemandangan seperti ini. Dan benar saja, Vodete langsung mendekat, merangkul tubuhnya yang sedikit gemetar. Freja sendiri membalas rangkulan itu dengan mencengkeram lengan sang suami, ia begitu lega melihat pria itu ada di dekatnya sekarang sampai-sampai suara yang tadinya didominasi oleh erangan sakit itu sekarang menjadi isakan pelan.

Takut?

Bukan, memangnya suaminya itu apa sampai ia bisa ketakutan? Lagipula mana mungkin ia mau dinikahi pria yang membuatnya ngeri. Ia hanya merasa lega, sangat lega. Tidak kurang dari itu, namun bisa saja lebih. Memang paha kirinya masih terasa ngilu setiap bergerak, namun saat ini setidaknya ia tahu seseorang yang ia butuhkan ada tepat di depan matanya--ia bahkan bisa mencium aroma wewangian musk dan kayu-kayuan yang ia pilihkan untuk sang suami--sehingga ia tak perlu merasa takut.

Freja yakin ia berada di tangan yang tepat.

Vodete berbicara--atau lebih tepatnya berteriak?--pada wanita muda yang juga memasuki ruangan, dari matanya yang berbayang pun ia tahu air muka Vodete bukan air muka yang baik. Ketahuilah, setiap kali suaminya itu menampilkan gelagat demikian karenanya ia jadi merasa bersalah, sangat bersalah.

"Kenapa kamu bisa begini...?"

Namun alih-alih menjawab pertanyaan Vodete, Freja malah semakin terisak.Ia merasa bodoh, pecahan kaca itu bersarang di tubuhnya karena kecerobohannya sendiri--dan kecoak sialan itu tentu saja--dan karena kebodohannya itu ia merepotkan mereka semua. "Ma-maaf... aku tersandung saat membersihkan atas almari pakaian," jeda sejenak, Freja hampir saj amengatakan kalau ia melihat kecoak di atas sana, untungnya wanita berambut pirang itu sadar kalau mungkin saja reaksi suaminya akan bertambah gahar jika mendengar laporan yang menyebutkan salah satu hal yang paling dibencinya itulah yang menyebabkan ia sekarang berbaring dengan cipratan darah di tempat tidur.

Mungkin akan ia beritahukan nanti saja.

"Kamu tidur saja dulu, ya, jangan turun dari tempat tidur atau banyak bergerak. Biar aku yang menjagamu di sini sampai lukanya sembuh."

"Tunggu suamiku, kau tidak perlu seperti itu. Ini hanya... luka kecil." ucap Freja sembari menampilkan senyum lemah. Dari tadi bermacam-macam hal melintas di pikirannya, dan untungnya semua itu mengalihkan semua rasa sakit--ia bahkan tak tahu kapan suaminya itu menyibak rok panjangnya--jadi tahu-tahu saja luka itu sudah diperban rapi. Vodete kembali berbicara pada sang wanita muda, ia mengucapkan ungkapan terimakasih tulusnya pada Vanya dari sisi ranjang.

Jadi apa sekarang?

Luka sudah dibalut sempurna--berkat jasa Tuan Vladislav--walaupun ia belum bisa menggerakkannya secara bebas, suaminya pun sudah ada di dekatnya.

Tapi yah itu, kamarnya kembali berantakan. Lebih berantakan malah daripada sebelumnya dengan semua kelopak tube rose yang berserakan, meja terguling, air tumpah, dan pecahan kaca yang harus segera dibersihkan. Sunguh, Freja Vladislava tak dapat menahan diri untuk menghembuskan nafas panjang--dan jenis erangan lainnya--sekali lagi.
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller

avatar

Posts : 58
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AFRICA] The Damsel Plead   4th April 2010, 09:54

Ada yang datang.

Yah, mendengar langkah kaki terhentak di koridor, Vanya tentu saja menengok ke arah pintu. Ada kemungkinan orang lain lewat, kemudian ia bisa meminta tolong. Eh, bukannya dirinya tidak berpengalaman atau bagaimana, hanya saja bila ada tangan yang lebih sigap mampu mengatasi masalah ini, mengapa tidak?

Baru mau memanggil, namun pintu yang ia lirik sudah terbuka. Seorang pria datang, dengan raut wajah yang sama paniknya dengan sang wanita (tidak, bukan Vanya) segera datang, mengucapkan sesuatu pada istrinya. Vanya sempat menyingkir, sebelum pria tersebut membopong istrinya ke tempat tidur, juga berusaha untuk menenangkan istrinya.

Yah, keamanan lebih dulu bukan? Lagipula, seakan dirinya akan berguna di ruangan ini; pria tersebut sudah keburu menyelesaikan apa yang harusnya dikerjakan Vanya, dengan lebih rapi malah. Satu keadaan darurat terselesaikan, karena itulah gadis ini tersenyum.

"Omong-omong... Nona siapa, ya?"

"Eh? Saya?" Jarinya menunjuk ke dirinya sendiri. Jujur saja, Vanya memang belum pernah bertemu dengan pasangan suami-istri langsung di cabang yang sama. Setahunya, mereka (para pasangan) datang sendiri, kemudian berkomunikasi dengan pasangannya melalui surat.

"Vanya Muller, Finder." Jawabnya lugas, tangannya yang menunjuk diri segera turun. Gadis ini tersenyum kecil; menunjukkan ramah tamah memang harus bukan? "Saya sedang berjalan di koridor ketika... umm... istri anda tadi mengeluh."

Mata birunya turun sedikit, pipinya memerah. Bila tringat bagaimana asumsinya tadi bisa salah kaprah... ah, sudah... biarkan saja itu.
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: [AFRICA] The Damsel Plead   

Back to top Go down
 
[AFRICA] The Damsel Plead
Back to top 
Page 1 of 1

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Incomplete Tales-
Jump to:  
Forumotion.com | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Create a forum on Forumotion