An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [AFRICA] Training

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Vanya Muller

avatar

Posts : 58
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: [AFRICA] Training   27th December 2010, 11:39

20 Februari, 1880
Ruang Latihan

---

Hup!

Siapa bilang seorang Finder tidak latihan? Di mata Vanya, Akuma sama dengan musuh yang harus dikalahkan--sebuah bentuk yang pantas untuk dibenci seumur hidupnya karena telah mengambil orang yang ia sayangi dan berusaha untuk ia jaga, baik di hati maupun di dunia fisik. Bagi soerang manusia biasa untuk bisa mengalahkan salah satunya... adalah mustahil. Semprotan darah Akuma saja bisa membunuh seseorang dalam hitungan detik (untuk beberapa orang Innocent tipe parasit... mungkin beda cerita)

Kadang ia berpikir bahwa hidupnya sekarang mungkin lebih terarah karena ia beruntung; bisa saja ketika teman-temannya mati, dialah yang dipilih Tuhan untuk hidup sampai hari ini. Bisa saja, besok Tuhan menyatakan bahwa dirinya harus menghadap-Nya. Tidak apa-apa, menurutnya, karena dengan demikian, mungkin saja ia bisa bertemu dengan pemuda itu, lagi, dan mereka akan bersama selamanya--

Tangan yang memegang pisau kini membesit udara. Tangannya kembali melakukan beberapa tusukan, kemudian kaki menendang. Pinggul diputar, hingga kakinya yang satu lagi pun mengikuti sebuah gerakan menendang yang memutar di tempat. Tangan kembali menebas udara, dan jari-jari memberikan sebuah dorongan pada pisau yang ada di tangan, hingga akhirnya bilah tersebut terbang, mengenai kusen pintu masuk.

Syukur saja area latihan memang sedang sepi. Oke, kecuali fakta bahwa baru saja ada orang masuk ke ruangan ini juga. Harusnya yang bersangkutan syok, bukan, apalagi dengan pisau terbang yang hampir mengenai target secara tak sengaja.

"...Err, ups?"

Hanya senyum canggung yang bisa terukir pada wajahnya. Bila yang muncul di sana adalah seorang jendral... astaga, apa yang akan dilakukannya?
Back to top Go down
View user profile
Abiel Nathanieth

avatar

Posts : 43
Pemilik : *nbla

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 22

PostSubject: Re: [AFRICA] Training   31st December 2010, 23:51

"Aha."

Sebelah sudut bibirnya naik perlahan, posisinya asimetris antara kiri dan kanan. Tanpa maksud tertentu. "Ketahuan."

Kecuali kalau memang mengerjai Vanya Muller bisa dikategorikan sebagai maksud tertentu—ahem. Ah. Tidak. Dia tahu Vanya bukan seseorang yang suka, ataupun bisa dikerjai. Punya kakak yang cerdas—antara kau bisa senang membanggakannya, atau justru kesulitan karenanya. Kadang ia pun gengsi, sebagai laki-laki bisa kalah cerdas dibandingkan dia yang hanya seorang wanita—ha. Lewatkan saja. Boleh?

Kedua tangannya disedekapkan ke depan tubuh. Dingin tahu, sekalipun sekarang sudah tidak lagi awal bulan. Ia tidak pernah terbiasa dengan iklim Timur Tengah—menampik fakta bahwa hanya Abiel seorang saja yang kebetulan manja dan sulit beradaptasi, atau bagaimana. Bagimanapun boleh. Mengiringi senyumnya, sebelah alisnya pun naik. Sepasang mata birunya memicing, sebelum melebar lagi lamat-lamat. Kali ini fokusnya masih sama terhadap sang wanita yang tak lain adalah rekan finder-nya tersebut.

"Dan kalau boleh aku tahu," masih dengan suara berat, lagak bicara yang sengaja ditakzim-takzimkan, pandangnya meneliti ke arah pisau yang baru saja melayang dan tertancapdi dinding tidak sampai 30 sentimeter dari bahunya. Kalau-kalau ada yang membutuhkan barang bukti (semisal...tuduhan pengrusakan ruangan?), mungkin itu bisa digunakan. "Sedang apa seorang finder berhak menggunakan ruang latihan tanpa izin, nona?"

blah. Tidak pantas.

Abiel Nicolo Nathanieth terbatuk lagi. Tangannya sudah dimasukkan ke dalam saku. Untuk mencegah supaya ia tidak membeku lebih lama tepat di depan pintu, kali ini ia melangkahkan kakinya sedikit. Masuk. Pisau? Vanya Muller, tak diragukan memang menguasai nyaris segala hal (kartu, judi, seni membujuk, bela diri), tapi masih banyak sisi yang tak diketahuinya sedikitpun. Kebanyakan wanita menganggap menyimpan rahasia sebagai sesuatu yang menarik—padahal kecenderungannya tidak selalu begitu. Laki-laki tidak akan repot-repot mempedulikannya, kecuali jika mereka memang tertarik. Dan setiap sisi baru dari Vanya yang terbuka, adalah sebuah fakta yang sangat berharga bagi seorang Abiel.

Tak penting mengapa.

Ngomong-ngomong—dia tidak diajak melakukan ini, eh?
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller

avatar

Posts : 58
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AFRICA] Training   17th January 2011, 23:23

Tidak kena. Syukurlah.

...

Eh, tapi bila yang muncul adalah Abiel, mungkin beda cerita. Mata biru miliknya menyipit––memastikan sosok yang ada di pintu itu memang pemuda tersebut. Benar. Manalagi, pemuda yang mirip dengan mantan kekasihnya dulu itu menuduhnya tidak meminta izin pada yang berkaitan akan aula latihan ini.

"Siapa bilang tanpa izin?" gadis tersebut menggeleng. Kakinya membawanya pada pemuda yang masih berdiri di pintu. Sorot biru masih terasa seakan-akan menuduhnya akan sesuatu yang ia lakukan. Well, terakhir ia ingat, ruangan ini milik bersama, dan dirinya juga sudah mendapatkan izin sehari yang lalu.

Jadi, dirinya berhak bukan?

"Aku punya izinku, Abiel," tangannya meraih pisau yang menancap di kusen pintu. Nada bicaranya penuh dengan permainan; bisa dibilang ini adalah sebuah kemajuan, karena sebelumnya ia bahkan tidak bisa berhenti membayangkan Leon von Konigswalde saat nama tersebut keluar dari mulutnya.

Grip tangannya pada pisau tersebut mengencang, bersamaan dengan gerakan menarik pisau dari posisi awalnya. Mata biru gadis tersebut sedikit menghindari Abiel; di saat ia berpikir seperti itu, mengapa ia malah menganggap Abiel, well, mirip dengan Leon? Mereka dua insan yang berbeda–semirip apapun fisik mereka.

Tsk.

"Kamu sendiri? Latihan pagi?" pertanyaan tersebut keluar ketika mata biru Vanya terpaku pada bilah pisau miliknya yang ada di tangan kanan.
Back to top Go down
View user profile
Abiel Nathanieth

avatar

Posts : 43
Pemilik : *nbla

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 22

PostSubject: Re: [AFRICA] Training   20th January 2011, 07:00

“Oh, ya? Tapi kau tidak punya izin dariku.”

srssly.

Sambil dengan sengaja melirik ke arah yang sama ke arah yang dilihat Vanya sejak tadi, entah pisaunya, atau dindingnya, atau mungkin juga pintu di mana ia mengharapkan Abiel Nathanieth untuk segera pergi, ke mana saja boleh asalkan dia bisa bertemu mata Vanya di sana. Mata Jean. Hari ini peringatan 3 tahun 3 bulan 2 minggunya meninggal, ngomong-ngomong (Abiel teliti sekali waktu menghitungnya). Tapi berapa lamapun Abiel melihatinya, tetap saja mereka tidak berpapas tatap. Nihil. Tidak, Abiel tidak sedih.

Entah sejak beberapa bulan lamanya, Vanya seperti tidak mau matanya dilihat oleh Abiel. Sejak dua puluh bulan lebih, mungkin. Ha. Abiel mungkin memang tidak mengorbankan sesuatu yang besar, tapi tetap saja, dia tidak mau usahanya dianggap sia-sia semua.

Ah ya, kita bicara sampai mana tadi?

Vanya menanyainya apa tujuannya berada di sini. Kalau dijawab tidak ada tujuan, rasanya tidak mungkin—Vanya pasti akan mendesaknya untuk menjelaskan lebih lanjut. Padahal kalau memang itu kenyataannya kenapa Abiel berada di sini? Dia cuma kebetulan lewat, berpapasan dengan ruang ini, lalu memperhatikan suara-suara yang menunjukkannya tidak sedang dalam keadaan kosong, lalu melongok. Begitu saja. Sama sekali tidak kepikiran untuk latihan atau apa—Vanya pasti akan meledekinya kalau tahu Abiel kurang olahraga. …err, tidak. Vanya mungkin tidak sampai hati kalau meledekinya. Paling tidak ia hanya menyimpannya di dalam hati karena tidak mau melukai hati lawan bicaranya. Abiel percaya diri sekali. Masalah terbesarnya, Abiel jadi penasaran tentang apa yang disimpan Vanya dalam hati.

…mungkin tidak ada. Belum. Mengingat Abiel saja belum menjawab apa-apa.

Si keturunan Yunani tersebut mengangkat bahu, menyunggingkan senyum timpang. Tidak mau jadi penasaran, lantas dia memilih mengalihkannya ke arah pembicaraan yang lebih aman. “Aku? Mencarimu.”

Antara bercanda dan tidak.

“Penasaran kenapa kau hanya berlatih sendiri dan tidak mengajakku.” Kenyataannya Abiel saja baru tahu Vanya sedang berlatih saat ini. Menyeimbangkan fisik dengan pikiran? “Aku kan bisa jadi partner bermain yang seimbang.”

Kita tunggu saja, apakah Vanya akan menyanggahnya dengan melarangnya menggunakan istilah `bermain` alih-alih `latihan.
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller

avatar

Posts : 58
Pemilik : masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AFRICA] Training   20th January 2011, 23:18

“Oh, ya? Tapi kau tidak punya izin dariku.”

"Pardon?" celetuknya, wajah kini sepenuhnya terarah pada Abiel. Pertama, Leon tidak pernah bersikap seperti itu–sesuatu yang membuat dirinya tenang. Satu lagi pertanda konkrit bahwa Abiel bukanlah Leon.

"Memangnya sejak kapan kau menjadi pemilik ruang latihan ini?" alis sebelah naik, sudut bibirnya membentuk sebuah senyum timpang. Mungkin ia sedikit menikmati permainan macam ini, eh? "Ayolah, kita berdua Finder, bukan staf pendukung administrasi dan sebagainya~"

Matanya kembali beralih pada pisau yang ada di tangan. Jemari dengan lincah mengelus bilah pisau. Ah, kapan terakhir kalinya ia membersihkan pisaunya, ia sudah lupa. Dan bicara tentang pisau, memangnya mengapa Abiel ada di tempat ini?

“Aku? Mencarimu.”


"E-eh?" Jangan heran bila ia mukanya sedikit–catat, sedikit–bersemu merah. Habisnya, bukan jawaban macam itu yang ia tunggu, meskipun Abiel mungkin menjawabnya dengan nada agak datar. Atau... hei, apa pemuda itu baru saja meldeknya?

“Penasaran kenapa kau hanya berlatih sendiri dan tidak mengajakku. Aku kan bisa jadi partner bermain yang seimbang.”

"B-begitukah?" Vanya menjawab cepat, sedikit lega bahwa Leon memang benar-benar mencarinya, bukan sekedar meledeknya. Ya maaf saja, Leon biasa mengatakan hal yang sama jauh sebelum Abiel datang dalam hidupnya. Wajar bukan, bila ia sedikit kaget. Meski demikian, satu helaan napas setidaknya berhasil membuat Vanya tenang, meski sedikit. Lebih baik daripada sama sekali, bukan?

Vanya berdeham, tanda bahwa dirinya mulai bisa mengendalikan diri. "Boleh saja. Tapi... apa kau yakin?"

Mulut membentuk senyum kecil. Tangannya melempar pisau ke udara, sebelum menangkap dan menodongkannya ke wajah Abiel. "I won't hold back, you know."

Vanya serius tentang ini.
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: [AFRICA] Training   

Back to top Go down
 
[AFRICA] Training
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Psyche [Training]
» Continuing Training
» Husband training (tag: Kev, Leslie)
» Training the Kanabo
» A Seeker of Training

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Branches :: African - Middle East Branch-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forum