An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegister[CENTRAL] Volcano I_icon_mini_registerLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
[CENTRAL] Volcano I_icon_minitimeby Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
[CENTRAL] Volcano I_icon_minitimeby Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
[CENTRAL] Volcano I_icon_minitimeby Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
[CENTRAL] Volcano I_icon_minitimeby Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
[CENTRAL] Volcano I_icon_minitimeby Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share
 

 [CENTRAL] Volcano

Go down 
AuthorMessage
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime7th November 2009, 23:42

((OOC:
Timeline untuk Lio, setelah Problem Solving
Pagi hari, pukul 10.00.
Closed))




Lama-lama ini merepotkan. Bukan artinya ia mengacuhkan jawaban Master Ravel begitu saja, hanya saja sesuatu yang bernama ‘perasaan pribadi’ dan ‘harga diri seorang remaja’ mengusiknya seperti setan yang menghantui pasien penyakit jiwa. Eh, dia belum sakit jiwa, jangan berpikiran macam-macam.

Sebenarnya ia sendiri heran, kenapa masalah ini menjadi begitu panjang saat pihak lawan seperti menganggap masalah ini main-main? Dahi-nya mengerut memikirkan kemungkinan bahwa ia telah berubah menjadi pemikir yang pekerjaannya hanya membuang-buang waktu secara percuma. Dan daripada memikirkan soal percintaan yang seperti perang, lebih baik memikirkan perang yang sesungguhnya. Bukan katanya, tapi kata ayahnya yang masih dia ingat sampai sekarang.

Maka dari itu dia kemari untuk mempraktikannya. Berusaha mengembalikan dirinya ke situasi pertarungan dan merupakan masalah pribadi yang lebih sulit dikalahkan dari Akuma. Persetan. Persetan. Persetan. Lebih baik dia menjadi kakek yang megurusi tujuh cucu jika otaknya campur aduk seperti ini.

Sepasang Innocence-nya dikeluarkan dari saku dibalik mantel seragamnya, mengaktifkannya menjadi sebuah senapan dengan sebuah sedotan gelembung sabun di bagian pelatuknya. Ia merunduk, membidikan L’oeil-nya ke arah pintu masuk arena yang berada sekitar 3 meter darinya. Saat ini ia tidak peduli jika ada kepala orang yang hilang.

Explosion de Savon dikeluarkan dalam satu tiupan, 5 gelembung sabun kecil seukuran kepalan tangan terbang menuju pintu masuk, menanti orang atau objek yang akan ditempatinya dan—menunggu saatnya untuk meledak.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime8th November 2009, 00:05

Apa sih sebenarnya maksud Gaby?

Pernyataan yang sangat sulit diterima masih terus terngiang di benaknya, seakan-akan Gaby baru saja mengatakannya kembali pada Shion, lagi, dan lagi, berulang-ulang kali hingga Shion hafal sendiri kalimat per kalimat yang gadis staf medical tersebut sebutkan. Apa memang seperti itu? Lalu kenapa harus dia? Awalnya semua baik-baik saja kan hingga kejadian nista itu dapat terjadi, jadi itu bukan salah Shion juga dong?

Lelah berpikir panjang, bukan tipe Shion untuk duduk tenang, melamun tidak berguna untuk memikirkan suatu masalah yang tidak jelas penyelesaiannya. Ah, sekadar menggerakkan tubuh di arena pertarungan tidak cukup buruk, mungkin bisa sedikit melampiaskan perasaan kesal bercampur aduk dengan bingung miliknya.

Jadi ia pun melangkahkan kakinya ke sana.

.....

Sampai, apa sudah ada orang? Semoga saja ya, karena mungkin orang tersebut adalah sasaran empuk Shion untuk melepaskan semua rasa di benaknya saat ini. Pintu terbuka ketika sebuah sambutan hangat mengiringi pijakan kakinya di arena tersebut. Spontan langsung menggerakkan tubuhnya ringan ke arah dimana serangan tersebut tidak dapat menggapainya.

Apa-apaan itu? Siapa yang berani.. tunggu dulu, gelembung-gelembung ini.. terasa familier di ingatannya, jangan-jangan..

"Lio! Tidak bisakah kau mengendalikan innocence milikmu sendiri?!"

Merengut kesal. Padahal baru saja pikirannya terpenuhi berbagai macam pertanyaan tidak meyakinkan mengenai dirimu tahu! Kenapa kau tiba-tiba muncul seperti ini sekarang?! Melepas cepat dua bandul salib dari gelang di tangannya dan memunculkan innocencenya berupa sabit perak besar berbandulkan tengkorak yang sekarang hinggap di kedua tangannya.

Harsch Uebermass...

Dan dalam waktu singkat mencari timing yang tepat lalu melemparkan salah satu dari dua sabit tersebut tepat ke arah sang pemuda sesama disciple dengan general yang sama. Dalam sekejap memunculkan pilar-pilar es tajam yang mulai melingkupi tubuh Lio, akankah kena? Kita lihat saja nanti.




OOC: Yoi, ayo tarung~X3
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime8th November 2009, 21:19

Bull’s Eye.

Tampaknya gelembung-gelembungnya mengenai sasaran dan sekarang menempel pada ujung rok, bahu, ujung rambut bagian kanan dan kiri, serta mata kaki kiri orang yang baru menginjakan kakinya di tanah itu. Tinggal menunggu gelembung itu meledak, atau ia berharap mereka menempel di tempat yang lebih vital agar cepat selesai. Tapi tidak mungkin ia membunuh rekannya.

"Lio! Tidak bisakah kau mengendalikan innocence milikmu sendiri?!"

Hah?

Lio mengerjapkan mata, melepaskan kedua pandangannya dari sudut bidikan senapan ke pemandangan nyata di depannya. Gadis itu, Shion, dengan gelembung-siap-meledak tampak kesal dan memarahinya. Hmph. Ia bisa mengendalikan Innocence-nya sendiri. Sebuah pertanyaan cukup bodoh oleh seseorang yang selalu berlatih bersamanya. “Harusnya kau waspada, Shion. Ini area ‘tempur’, seharusnya kau tahu itu.” balasnya sambil menyenderkan L’oeil ke bahu-nya.

Tapi secara mendadak kedua sabit—mengerikan—itu muncul dan salah satunya terbang ke arahnya. Refleks ia bergeser ke kiri untuk menghindari sabit tersebut dan membiarkannya tertancap setengah meter di belakangnya. Mendengus pelan. Lega.

Tapi...

Bukankah jarak ini terlalu mengerikan untuknya?

Sadis. Lio berusaha menghindar saat pilar-pilar es mulai mengelilinginya, berusaha melubangi tubuhnya dengan benda-benda dingin mengerikan itu. Dan untunglah ia tidak mendapatkan luka, untuk saat itu.

“Tampaknya es-mu ini mulai nakal ya, Shion,” dan tampak sekali ia ingin menghajar gadis itu setelah membuatnya kelimpungan selama 24 jam lebih.






((OOC: untuk deskripsi di paragraf kedua, ingatkan bahwa saia sudah membicarakan hal tersebut untuk dengan anda Smile) ))
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime11th November 2009, 17:32

Sial.

Baru saja teringat kalau gelembung-gelembung milik Lio akan meledak setelah melekat di targetnya. Hu-uh! Apa gelembung-gelembung jelek ini tidak bisa ia hilangkan? Shion pun bergerak kesana kemari, mencari cara untuk mengenyahkan benda bulat yang masih saja menempel erat pada tubuhnya. Argh! Menghabiskan tenaga saja! Bukan sifat Shion untuk melakukan tindakan tidak berguna seperti ini kan? Jadi sebaiknya ia manfaatkan selang waktu yang tersisa untuk menghajar Lio sebelum gelembung-gelembung ini meledak.

Kata-kata balasan atas pernyataan Shion bahwa Lio seperti tidak bisa mengendalikan Innocence miliknya membuat emosi dalam diri Shion semakin meluap. Shion juga tahu hal itu tanpa kau jelaskan! Yang dipertanyakan disini adalah jangan sembarangan mengeluarkan gelembung sialanmu itu pada pintu masuk dimana orang bisa masuk kapanpun!

Es.

Ya, memangnya kenapa kalau esnya nakal hah? Cih, sayang sekali dia bisa menghindari serangan pilar es milik Shion, Tapi.. hihi semua ini belum selesai Lio, perasaan kesal dan emosi yang dipendamnya sedari tadi tidak akan membuatnya puas hanya dengan melukai bagian-bagian tertentu yang tidak penting. Tapi ups, kalau sampai Lio terbunuh disini, bisa-bisa Kohler Mestre akan marah besar, jadi daripada dimarahi tidak perlu seperti itu, luka berat saja sudah cukup kan.. Lio?

Tersenyum.

"Dreifa!"

Satu kata perintah yang cukup untuk membuat pilar-pliar es miliknya yang tadinya hanya terdiri dari satu buah, karena hanya satu sabit yang dilemparkan, dalam sekejap menyebar mengelilingi tubuh sang exorcist sesama rekan generalnya tersebut dan melancarkan cabang-cabang duri di bagian tubuh utamanya.

Kita lihat saja apakah kau bisa menghindari itu... Lio?

Tersenyum kembali.




OOC: "Dreifa!" = "Menyebar!"
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime29th November 2009, 08:01

Lio terenyak sesaat. Ia kira Shion akan membalas dengan kalimat yang sama pedasnya—menyadari kerut wajah gadis itu yang tampak kesal. Mungkin. Ya, ya, selesaikan masalah dengan pertarungan, saling bunuh agar cepat selesai dan tidak ada dendam-dendaman. Bodoh itu, bukankah lebih baik setelah ini meminta maaf daripada membawa kemarahan Master Ravel sampai di neraka? Bah. Lagian ga lucu juga Exorcistdengan-pangkat-Disciple meninggal di ruang latihan. Wahahahaha, berniat jadi legenda kau, hah?

Ah ya, sudah saatnya Savon meledak. “5,” Lio memulai hitungan mundurnya—iseng sih—walaupun ia tahu persis Shion dapat melancarkan balas dendam di tengah 5 detik itu. “4,” sekalilagi, mungkin perasaannya saja, rambut pirang Shion tampak terangkat seperti medusa. Oke, imajinasinya saja, jangan dipikirkan. “3,” gadis di depannya tersenyum, “2,” mau apa dia? Lupa sarapan, bu? “1,” sepertinya ia melupakan sesuatu. “0”

"Dreifa!"

“HOLY—“ mungkin saja bersamaan dengan menyebarnya pilar-pilar es setinggi dada itu, Savon-nya sudah meledak. Tapi memangnya ia punya waktu untuk memperhatikan saat duri-duri liar menghujaninya dari depan dan mengubah warna hitam seragamnya menjadi merah? Lio, berhasil menghindari beberapa—karena ia cukup bocah, ya, ya—tapi ia tidak bisa menghindari yang lainnya. Bagian atas lengan kirinya tergores cukup dalam, juga bahu kanan dan kedua kakinya. Mungkin karena ia tidak melihat udang sial itu hari ini, ia tidak mendapat luka yang cukup membahayakan, kecuali sebuah tikaman di perut kanannya.

“Tsk!” serangan Shion memang semuanya mengurung, eh? Seperti tumbuhan—apa itu yang ada kantungnya dan mengeluarkan getah, lalu mencaplok saat terperangkap? Paling tidak Lio masih waras, ia tahu serangan Shion yang itu (melirik duri-duri di sekelilingnya dengan dendam) memang pantas membuatnya terluka parah.

Tapi bagaimana dengan Savon-nya? “Seimbang ya?” gumamnya seraya mengumpulkan tenaganya dan melompat keluar dari tiang-plus-duri es si gadis Islandia, padahal ujung-ujungnya ia tidak bisa berdiri dengan baik juga. Tapi apa buruknya? Innocence-nya kan senapan.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime29th November 2009, 18:23

Huh fjandinn! Fjandinn! Fjandinn!*

Kenapa gelembung-gelembung skíthæll* ini harus tetap menempel padanya? Bergerak kian kemari tetap saja balon menjijikkan tersebut masih tetap menempel erat pada tubuhnya. Ini semua karena pemuda di hadapannya, dan ia harus mendapatkan hal yang setimpal dengan apa yang ia lakukan padanya. Gelembung ini akan meledak lima detik lagi. Dan dengan sangat menyebalkan, seraya seakan berusaha memperingati kembali bahwa hitungan berlangsung tidak akan lama lagi, pemuda sesama disciple itu melontarkan kalimat penghitungan mundur.

Hávær!*

Tidak bisakah mulutnya diam?! Shion juga bisa menghitung sendiri tanpa perlu bantuan penghitungan darimu Shirogane! Tapi tidak apa, karena di akhir penutupan penghitungan mundur itu, ia akan mendapat suatu hadiah besar atas perlakuan ini padanya. Benar kan? Cairan pekat berunsurkan merah tersebut mulai perlahan mengalir dari tubuh pemuda berkebangsaan Perancis itu.

Tersenyum manis, polos, seakan tidak merasa bersalah sama sekali.

Tapi tentu saja hal tersebut tidak bertahan lama ketika menyadari waktu telah selesai bagi gelembung Lio untuk pecah, menjadi sesuatu yang lalu membuat ledakan di sekitar tubuhnya, melukai bahu serta mata kaki kirinya, plus, robekan di bagian ujung rok yang menghasilkan lubang cukup besar untuk membuat celana hitam pendeknya dimana bagian paha terbalut sepatu boot panjang nampak jelas terlihat.

Tidak hanya itu, bagian ujung kiri dan kanan rambutnya jelas menghasilkan sedikit efek akibat ledakan tersebut. Menatap warna gosong dari surai pirang yang biasanya lembut dan tidak nampak jelek seperti ini. Menggenggamnya kesal. A-awas kau Lioret Shirogane! Dengan santainya ia berkata seimbang, ok seimbang katamu? Tidak, tentu saja kata seimbang tidak berlaku jika ia dilukai sekecil apapun bentuknya.

Ia perfeksionis kau tahu?

Harus memperbaiki bajunya yang robek, tidak mungkin ia biarkan ujung rok melebar yang membalut bagian dalam tubuh bagian bawahnya ia biarkan dalam keadaan robek besar seperti itu karena kemana pun ia pergi, mau tidak mau pasti pahanya yang putih mulus itu akan nampak jelas terlihat. Memangnya dia seorang perempuan murahan? Dan rambutnya yang harus dipotong untuk bagian yang rusak, kau harus membayar semua biaya itu Lio.

"Ini belum berakhir Lio!"

Menancapkan salah satu dari sabit yang tersisa di tangan kanannya ke tanah.

"Azazel's Blitzschnell!"

Menghasilkan percik kekuningan di atas tanah yang tidak lama kemudian lalu mulai menjalar ke arah yang ia fokuskan sekarang, Lioret. Dan besarnya tegangan sudah ia atur sedemikian rupa hingga menghasilkan daya kekuatan yang dapat membuat seseorang tak sadarkan diri langsung ketika ia bahkan menyentuh ujung aliran listrik. Tidak memberikan kesempatan sama sekali untuk Lio beristrahat, sebenarnya kalau bisa ia ingin meningkatkan tegangan arus listrik yang ada hingga cukup membunuh keberadaan seseorang.

Tapi ia sendiri akan mendapatkan kemarahan besar dari Ravel Mestre nanti. Jadi cukup baik hati kan Shion mengatur hal ini agar kau hanya pingsan? Lalu setelah pingsan? Mungkin Shion akan mencorat-coret wajahnya supaya ketika ia bangun yang ia dapati adalah rasa malu karena cemongan di wajahnya itu.

Namun di atas segalanya, kekuatan ini mempunyai kelemahan besar yaitu ia tidak dapat bergerak selama ia mengalirkan arus listrik ke tanah, jadi daya pertahannya sangat rentan sekarang, tapi toh tidak apa karena Lio juga pasti akan sibuk senidri untuk menghindar dari berbagai macam percikan kuning itu.

Kita lihat nanti.




OOT: Fjandinn!*: shit
skíthæll*: jerk
Hávær!*: noisy
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime30th November 2009, 17:17

Damage yang dihasilkan gelembungnya memang tidak terlalu besar untuk menghasilkan luka parah, apalagi kalau hanya menempel di ujung kulit, atau agak ke dalam seperti yang dialami gadis di depannya. Bahu dan mata kaki kiri Shion mengeluarkan cairan merah yang sama dengan yang ia keluarkan, walaupun tidak sebanyak yang ia keluarkan. Tapi ia cukup puas mendapati penampilan gadis itu yang mulai rusak—memang seharusnya begitu, kan?—karena ia tidak sabar melihat Shion versi rambut pendek.

..........

M—maksudnya bagus kan baginya untung merubah gaya rambut? JANGAN BERPIKIRAN ANEH-ANEH, WOI! Ia akan lebih senang dan akand engan senang hati untuk meledakan gelembung-gelembung lagi pada rambutnya. Shion yang berambut pendek memang lebih manis, serius. OKE, STOP! Emosi masa remaja, dasar. Alisnya naik sebelah saat pikiran tadi terlintas. Atas dasar apa juga ia mengalihkan pikiran dari pertarungan?

"Azazel's Blitzschnell!"

Waduh.

Tangan kirinya memperkuat tekanan pada luka di perut kanannya sementara tangan kanannya yang bebas menggenggam erat L’oeil. Kedua kakinya dijejakan kuat-kuat ke belakang, salto yang biasa ia lakukan berkat keahlian akrobatiknya. Kira-kira ia melakukan 3 lompatan yang memperbesar jarak 3 meternya menjadi 6 meter. Lio berhenti dalam jarak itu sementara percikan-percikan listrik menyusulnya, menonaktifkan Innocence senapannya menjadi sepasang revolver yang—sayangnya—hanya berisi 3 peluru pada masing masing revolver. Harusnya ia mengecek mereka berdua tadi. Tapi sepertinya sudah cukup.

Sekalilagi menjejakan kakinya agar dapat melompat tinggi ke belakang, dengan cepat ia menekan pelatuk seraya menyeimbangkan dirinya di udara.

“DOR!”

Cukup satu tembakan—menurutnya—untuk membuat lubang pada perut kanan gadis itu. Kalau begini benar-benar seimbang, bukan? Dan baguslah ia selamat berkat lompatan yang membawa dirinya pada jarak 11 meter. Siapa yang sudi disetrum sampai pingsan oleh Shion yang jelas sekali akan mempermalukannya? Ah—ia mengenal Shion cukup lama dan tidak sulit untuk menebak pikirannya. Satu revolver ia kembalikan pada tempatnya sementara yang satu masih ia genggam walaupun mulut revolvernya terarah ke tanah, tapi siap menembak. Spontan Lio menjilat rasa besi yang keluar dari mulutnya sementara ia sendiri terjatuh pada salah satu lututnya.

“Hei, Shion,” panggilnya, sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. “Kupikir tidak seru kalau kita bertarung tanpa tujuan begini,” katanya, memperlihatkan senyum jahilnya untuk pertama kali. “Bagaimana kalau yang kalah harus makan dengan porsi 3 kali lipat dari biasanya?” Itu sih kau yang senang, bodoh.




((OOC: Kalau Anda anggap deskripsi saia di paragraf 5 termasuk metagaming (walaupun saia tambahkan mereka lama kenal), bilang aja :3))
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime30th November 2009, 20:40

Apa ia potong saja rambutnya nanti?

Melirik tirai pirang yang sekarang sudah hampir mencapai batas paha, memang ia tidak pernah memotongnya lagi sejak terakhir kali ketika kejadian dulu yang menewaskan kedua orangtuanya. Tidak pernah memikirkan hal tersebut, dan tak pernah peduli selain hal membunuh para akuma skíthæll itu di luar sana. Tapi kalau dipikir-pikir sekarang, cukup merepotkan ya? Apa ia potong saja nanti?

Rasanya pikiran itu serasa membuatnya memenuhi permintaan seseorang, ah apa sih? Aneh-aneh saja.

Lebih baik kita kembali pada arena pertarungan, ini sedang seru-serunya ok? Jadi siapapun tidak akan dapat menghentikan ia yang sedang melakukan hal yang tengah menarik minatnya ini. Merasakan darah segar menetes indah dari lawanmu bukanlah suatu hal yang.. menyenangkan? Hei, ia bukan seorang sado-masokis. Tapi rasanya berbeda saja kalau roh musuh yang kau lawan menghilang perlahan dari raganya tepat di hadapanmu daripada hanya sekadar menyaksikan dari jauh atas pengamatan yang perlu dilakukannya sebagai seorang disciple.

Seperti monyet..

Cocok juga Lio. Tapi sayangnya kali ini hal tersebut tidak dapat membuatnya tertawa karena lagi-lagi pemuda itu melakukan hal, sesuatu yang baru saja membuatnya tersadar bahwa batas maksimum jarak aliran listrik miliknya ini mengalir adalah sepuluh meter, yang menandakan cahaya kuning berkilat manis miliknya ini tidak dapat menggapai tubuh tersebut untuk mulai membuat proses dalam tubuhnya terhenti untuk sesaat, tak sadarkan diri.

DOR!

"Kyaaa!"

Sabit terlepas dari tangan, dengan begitu aliran listrik pun sontak terhenti.

Menyentuh perlahan noda cairan pekat merah dari perut bagian kanannya. Astaga, melamun apa dia hingga membiarkan lawannya melukai tubuhnya seperti ini? Tidak adil, ia bukan tipe yang begitu mudah terkena serangan seperti ini. Cairan miliknya tersia-siakan begitu saja akibat kecerobohannya. Dan... menatap noda di telapak tangannya. Tidak, tidak, kau sudah dapat melupakan hal itu, untuk apa hasil pelatihanmu selama ini kalau hasil akhirnya sama saja trauma yang kau alami tetap tak dapat disembuhkan?

Berdiri linglung, nampak berusaha menjejakkan kakinya erat pada tanah.

Samar-samar terdengar suara Lio, memanggil namanya dan mengajukan suatu tantangan, agat pertarungan ini terdengar lebih menarik tentunya. Tapi itu bukan syarat yang menarik! Hanya menguntungkanmu saja, Shion tidak ingin membuat berat tubuhnya bertambah langsung hanya karena memakan sesuatu yang melebihi porsi yang biasa ia lakukan.

"Tidak. Bagaimana kaliau.. yang kalah harus menuruti apa kata yang menang? 24 jam tentunya dan.. seminggu untuk lebih jelasnya?"

Menampilkan gurat sabit sinis dari balik tirai pirangnya. Suatu kepribadian asli yang tak pernah ia tunjukkan pada bahkan teman sekamarnya, terkecuali Gelvane kennari* dan Ravel Mestre, dan tentunya dengan begini hitungan tersebut terhitung bertambah dengan kenampakkan sifat aslinya, yang walau Shion sendiri sudah tahu bahwa Lio, yang sudah lama mengenalnya pasti sudha menyadari adanya kepribadian lain di dalam gadis yang nampak suci sehari-harinya.

Tanpa menunggu jawaban langsung saja satu persatu, mulai dari bagian tangan kiri hingga kanan Shion memunculkan kembali sabit-sabit mungilnya, secara cepat melemparkannya kembali ke arah Lio.

"Dreifa!"

Lagi, es duri muncul melingkari tubuh pemuda tersebut. Namun kali ini lebih banyak, dan lebih beruntun tentunya.




OOC: Ada yang aneh? Nanti ngomong aja ya.
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime30th November 2009, 22:16

Senyum timpang tampak di wajahnya saat Shion berusaha untuk berdiri tegak. Hei, Lio, jika gadis yang lebih muda 2 tahun darimu saja bisa berdiri tegak, masa kau sebagai laki-laki tidak bisa? Berdasarkan pemikiran itu—lagi—ia kembali mendorong tubuhnya ke atas, berdiri tegak dengan L’oeil kembali aktif pada sandaran tangannya dalam posisi bertarung.

“Heh,” senyum puas menggantikan senyum timpang di wajahnya. Sudah lama ia tidak puas seperti ini. Menyenangkan bukan, bertemu dengan lawan yang—menurutnya—seimbang dan bertarung habis-habisan? “Ada penawaran lain? Aku takut kalau yang menyuruh itu kamu,” siapa tahu ia disuruh menggonggong sepanjang koridor? Ha! Siapa lagi yang sudi. “Ayolah, yang tadi saja. Toh kamu tidak perlu takut gemuk kalau bertarung seperti ini setiap hari,” iya kalau setiap bertarug makan tiga kali lipat sih lain ceritanya, nak. Ngomong-ngomong, lebih baik kau serang saja dia, Lio, daripada menghamburkan nafas untuk berbicara.

"Dreifa!"


Lagi, Shion?

Langkah terbaik, pasrah. Buat apa dia menghindar kalau toh ujung-ujunnya ia kena juga? Dengan satu gerakan refleks, L’oeil ia tahan tepat di depan dadanya—melintang dari leher sampai lutut—dengan sukses—ditambah sedikit tenaga—menahan nyaris semua duri yang mengincar bagian-bagian fatalnya dari depan. Kembali rasa dingin dan perih menjalari tubuhnya saat duri (atau tonggak?) es yang tipis menembus bahu kirinya. Meringis, menahan sakit. Ia bukan seorang masokis, tapi ini menyenangkan bukan?

Dengan bahu kiri yang tidak dapat digerakan secara bebas, mulut L’oeil diletakan di bagian atas pilar-pilar es milik Shion—yang tampaknya tidak akan lebih berkembang. Tempat membidik yang bagus untuknya, sebenarnya, kalau saja bahu kirinya dapat digerakan.

“Balle d’Éclat,” gumamnya pelan. Serangkaian 3 peluru meledak dengan kekuatan destruktif yang dapat menghancurkan 5 buah batu bata meluncur cepat ke arah gadis Exorcist yang juga tampak senang di matanya. Menyerang titik yang mematikan bukanlah tipenya, maka ia membidik bagian pinggang kiri, paha kanan dan satu di tanah tepat di depannya.

Sementara kesadarannya mulai memudar karena Balle d’Éclat yang menguras staminanya dari setiap peluru yang ditembakan. Tapi tetap saja frasa itu terlintas. Menyenangkan, eh?
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime1st December 2009, 18:54

Sakit.


Ia benci terluka. Masih menahan lajur darah yang memaksa keluar dari lubang di perutnya. Tidak hanya itu tentu saja melihat mata kaki kiri dan bahunya juga menampilkan noda bercak yang sama walau tentu saja tidak separah bagian tubuh yang sedang ia fokuskan untuk tidak bertambah parah.

Tidak sudi.. kalah.


Hanya karena luka seperti ini ia tidak boleh terus mendaratkan pasrah tubuhnya di alas tanah, ya, tidak seperti Lio yang sempat terus menekuk kakinya sebelum memilih membenarkan posisinya untuk menjadi sama seperti yang dilakukannya sekarang. Menyombong? Tidak, seperti yang dikatakannya tadi, ia cukup mengenali Lio tidak hanya sedari kemarin atau lusa yang lalu, tapi lama. Kesenangan akan pertarungan eh?

--atau justru perendahan kedudukan wanita?

Kau tahu kalau harga diri laki-laki dapat terjatuh jika kalah dari perempuan? Shion dapat menganggap mungkin Lio memikirkan hal tersebut jika bukan karena pertaruhan yang mereka lakukan. Apapun itu akan sangat menyenangkan membayangkan selama seminggu, dua puluh empat jam penuh Lio adalah miliknya. Tapi, eh hei! Maksudnya disini.. berhenti berkhayal! Bukankah ia dapat melakukan apa yang ia inginkan sekehendak hati pada Lio termasuk memakaikan pakaian pinha padanya. Tidak sabar melihat pemuda sepertinya terbalut dalam renda-renda merah muda manis itu.

Hampir kehilangan keseimbangan. Saat ini ia berusaha menopang keras tubuhnya, terlebih karena pengerahan tenaganya untuk berusaha melakukan Harsch Uebermass untuk kedua kalinya, tambahan dreifa dalam jumlah besar. Staminanya sudah cukup terkuras sekarang.

Menampilkan seulas senyum ketika melihat apa yang ia lakukan membuahkan hasil. Lio nampak terluka parah, berhasil menghindar untuk bagian depan sialnya, tapi cukup puas menilik bagian bahu dan punggungnnya terlihat mulai menghasilkan kembali cairan pekat kemerahan itu.

Hancur. Penampilannya pasti sangat hebat sekarang. Robek sana-sini, boot hitam panjangnya yang juga nampak memperlihatkan lapisan kulit kemerahan di baliknya, rambut? Entahlah, rasanya tirai pirang itu sudah tak menyimpan lagi keindahan berarti, tidak seperti sebelumnya. Karena hal ini jugalah ia sangat membenci pertarungan, tapi tentu saja itu hanya sekadar kamuflase untuk menutupi keinginannya yang sebenarnya.

Tidak dapat sepenuhnya menarik nafas lega ketika mulai merasakan nyeri menjalar di bagian paha kanan sebagai titik pusatnya. Menatap tidak percaya luka baru tersebut, tapi hal itu tidak berlangsung lama jika ia tidak ingin menjadi sasaran empuk Balle d’Éclat. Jadilah kakinya mulai bergerak untuk menghindari peluru Lio yang selanjutnya, tanpa ia sadari sebuah peluru melesat ke tanah persis di hadapannya, sengaja atau tidak Shion tidak tahu, yang pasti hal tersebut membuat daya imbang tubuhnya perlahan menghilang hingga..

BRUKK!

Ia bukan tipe dengan gerak reflek lambat, tapi untuk kali ini, tubuhnya tak dapat menahan beban untuk mendarat di atas permukaan tanah arena bertarung dalam posisi telentang, bertatap muka dengan langit di atas sana. Kedua kakinya terasa lumpuh, bahunya sakit dan kedua tangannya terkulai lemas bersama surai kuning keemasan di sekelilingnya. Tak tahu harus berbuat apa. Mulai berkonsentrasi merasakan bagian mana yang diterimanya pada tembakan terakhir tadi.

Dimana? Dimana?

Tangan kiri ia usahakan bergerak, terlihat sedikit goyah, gemetar, namun di atas itu semua hal yang lebih penting adalah, dugaan terburuknya, peluru tersebut menembus bagian dadanya.

"Uhuk!"

Berusaha menahan cairan pekat yang melaju naik hingga bagian permukaan bibirnya dengan tangan kiri putih yang sudah tampak ternodai sekarang. Gawat, sejak kapan ia menjadi ceroboh seperti ini? Karena ledakan tadi, peluru yang ia perkirakan masih dapat ia hindari justru malah melesat berubah haluan. Untung tidak langsung mengenai bagian jantungnya karena daya hindar daya bertahan serangannya dalam sepersekian detik itu, tapi tetap saja berbahaya, meledak tepat di depan dadanya. Sementara itu, tubuhnya mulai merasakan dampak akan kurangnya cairan yang ia miliki dalam tubuhnya. Pandangan terlihat kabur. Kalau begini apa ia masih bisa menyerang?

Memantulkan sosok pemuda lawannya tersebut pada aquamarinenya.

Tidak boleh.

Berusaha berdiri untuk kesekian kalinya. Sabit ia gunakan sebagai bantuan tumpuan. Namun kembali terjatuh dalam posisi kaki tertekuk ke samping.

Sudah selesaikah?

Terengah-engah.
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime2nd December 2009, 10:42

Perasaan buruk? Bukan. Pikirannya memang sedang tidak tenang; itu saja.

Satu garis lurus yang tampak tidak mengenakkan siapapun yang melihatnya kini terbentuk pada wajahnya; sebuah garis lurus sepurna dipenuhi dengan rasa ketidaknyamanan mental. Satu masalah lain? Bukan--ia tidak pernah menganggap hal tersebut--apapun masalah. Tangan kanannya menggenggam sebuah amplop coklat berisi beberapa lembar kertas laporan. Lembaran kertas tersebut berhasil membuatnya miris, karena bayangan anaknya yang mengacau di markas Asia demi mendapatkan perhatian.

...atau untuk mengelak dari permasalahan?

Pria berambut pirang ini menghela napas panjang. Sepanjang perjalanannya dari kamar, koridor markas Black Order cabang Eropa terlihat lebih kosong dari biasanya. Mungkin karena masih pukul 10.00? Absurd. Pada kenyataannya, seharusnya markas cabang Eropa menjadi salah satu markas paling sibuk di antara yang lain. Perlukah ia mempertanyakan detil kecil semacam ini ketika lembaran kertas yang ada pada tangannya terlihat lebih penting dari apapun?

Pria ini menghela napas panjang. Claymore dan Innocence miliknya dengan rapi teremban di punggung. Tidak berat, namun untuk berjalan santai di daerah markas terkesan tidak praktis dan membuang tempat. Pikirannya beralih pada mereka yang memiliki Innocence bertipe parasit--tidak perlu membawa perlatan yang besar-besar, bukan?

Kepala segera menggeleng; hal yang bahkan tidak sebanding dengan pengorbanan mereka.

Matanya menerawang ke sekitar sementara kakinya melangkah dengan sendiri; otaknya sudah memberikan perintah agar kakinya bergerak ke tempat paling nyaman yang bisa ia pikirkan. Kemungkinan besar taman. Di tengah musim dingin seperti ini, mungkin keputusan ini terkesan absurd; memangnya apa yang bisa ia lihat? Hamparan salju putih tak ternoda?

Mungkin, memang itulah yang ia perlukan sekarang--bentuk ketenangan mental dan psikis. Ravel Kohler sudah lama tidak bemeditasi, dan pagi hari ini sepertinya dapat digunakan untuk fungsi demikian. Kakinya melangkah terus, dengan pertambahan kecepatan di setiap langkah. Dirinya sudah mengantisipasi akan keadaan demikian, hanya saja...

...banting stir; telinga pria ini menangkap bunyi keras keluar dari ruang latihan. Sekarang, matanya malah menatap pintu besi ditemani gemuruh dan teriakan yang familiar. Baiklah, bagi telinganya, mungkin bukan teriakan--lebih ke arah sebuah umpatan atau konversasi. Yang jelas, semua itu terdengar familiar. Mata kuning kecoklatan segera menyipit. Setelah insiden tersebut, mengapa mereka kini tanding bersama?

Entah mengapa, hanya satu pikiran yang sempat terbesit dalam benak pria tersebut. Wajah segera memucat sementara tangannya segera membuka pintu tersebut. Ravel tentunya menghiraukan beberapa staf medis yang ada di lapangan--melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan--dan segera ditemui dengan pemandangan... tidak mengenakkan.

Telinganya tidak mengkhianati pikiran; dua orang yang sedang bertarung tersebut memang anak muridnya. Darah membasahi bagian tubuh, dengan luka masing-masing dari mereka. Sudah berapa lama mereka bertarung seperti ini, ada satu jam kah? Dilihat dari stamina mereka yang perlahan turun, mungkin sudah agak lama... atau justru itu akibat dari darah yang terus-terusan mengucur? Shion sendiri tampak sudah agak sempoyongan karena sedikit kesulitan menjejak tanah. Di lain pihak, Lioret tampak tidak terlalu terluka...

Dahi segera mengerut.

"Cukup!" Ravel Kohler berseru. Mata coklat kekuningannya berkilat gusar; mengapa ia tidak memisahkan mereka berdua sementara? Kalau saja pria ini tahu bahwa insiden tersebut bisa membawa konklusi semacam ini, seharusnya larangan tersebut ia tanamkan lebih awal.

...Memangnya mereka bertarung karena insiden itu?

"Kau," Ravel Kohler mengacungkan jarinya pada seorang staf medis yang tengah berjaga-jaga. Wajah terlihat sedikit panik dan pucat, mungkin karena pertempuran antara dua anak didiknya. Mungkin karena itu juga, pria yang baru saja ia tunjuk tadi tidak berani menghentikan pertarungan karena saking mengerikannya. Ravel tidak melihat bagaimana pertarungan berjalan, namun ia memiliki gambaran jelas apa yang telah terjadi. "Urus luka-luka Shion." Kepala segera beralih pada Shion, sementara dirinya melanjutkan kata-katanya kembali--setidaknya untuk memotong Shion untuk melakukan pembelaan 'aku-tidak-apa' atau semacamnya.

"Aku tidak menerima komentar apapun, Shion." Penekanan nada pada nama... Ravel Kohler memiliki kebiasaan seperti ini ketika dirinya sudah mulai kehilangan kontrol. Kepala kini beralih pada Lioret. Bibir yang tadinya membentuk sebuah garis rapi kini membengkok--pertanda tidak baik.

"Dan kau, Lioret--" ada beberapa hal yang sempat terlintas dalam benak pria ini ketika bertatapan dengan mata sang pemuda; ada keinginan untuk memarahinya, bahwa ia telah keterlaluan. Di lain pihak, hal semacam ini memang sering terjadi dalam pertarungan, bukan? Ia tidak memiliki alasan jelas untuk memarahinya... atau semacamya.

"--urus lukamu juga." Ravel Kohler berujar pendek dan keras. Tidak ada kesan dingin; mungkin sekilas terkesan dingin, namun siapapun pasti sadar bahwa ada nada perhatian, bukan?

"Kalian sebenarnya ingin berlatih dengan satu sama lain, atau saling bunuh-membunuh?" Kata-kata Ravel Kohler terdengar pelan--terlalu pelan--hingga pada kenyataannya hanya dirinya yang mendengar. Ini yang namanya masalah. Bagaimana caranya, hal ini menjadi prioritas utama untuk saat ini. Heidrich Kohler masih memiliki kontrol--setidaknya, Tek Xiao Ling masih bisa menjaganya dengan baik. Kembali kepadanya sendiri, anak didiknya malah berlaku sesuatu yang menguji kontrolnya. Ada satu bagian dari dirinya bahwa segala macam yang keluar dari pikirannya... mungkin hanya berupa pendapat sepihak.

Kedua orang tersebut--Lioret dan Shion--harus berusaha sekuat mungkin bahwa mereka memang hanya sekedar berlatih... bukan saling membunuh. Kalau tidak? Yah, proposisi pada Ezekiel untuk mengirimkan salah satu ke cabang markas lain sepertinya cukup efektif. Hei, kirim anakmu dalam perjalanan jauh, maka ia akan belajar bukan?



OOC: ....silakan diidekan pembelaan masing-masing =)) *triple-shot*

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Lioret I. Shirogane

Lioret I. Shirogane

Posts : 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime2nd December 2009, 20:30

Ia dapat memastikan stamina mereka berdua memang tampak terkuras banyak—terutama dirinya—setelah tembakan Balle d’Éclat. Memalukan bagi dirinya untuk kalah dalam adu ketahanan terutama jika lawannya adalah seorang gadis, walaupun ia mengakui pertahanannya memang lemah. Tapi untuk apa ia mengasah kecepatan geraknya selama ini kalau ia tidak dapat menghindari serangan yang datang kepadanya? Lioret masih dapat berpikir secara logis dan menerima kenyataan bahwa tidak semua serangan dapat ia hindari terutama karena dia bukan monyet.

Ketahanan memang kadang berbanding terbalik dengan kecepatan. Sarung tangan hitamnya yang ternoda oleh darahnya sendiri memang bukti kecerobohannya, karena dia tidak sanggup menghindari semua serangan Shion. Tapi apa yang ia sesali, bukan, membuatnya kesal sekarang? Kenyataan bahwa stamina kecilnya dapat ia imbangi dengan sesuatu bernama kecepatan gerak merupakan satu-satunya solusi yang dapat ia temukan. Mungkin.

Sedikit kopi-paste. Sudah selesaikah? Senyum puas yang lemah kembali terbentuk di wajahnya mendapati Balle d’Éclat tepat sasaran atau paling tidak mengenai lawan. Obsidiannya yang mulai meredup menangkap bayangan gadis yang berjarak kurang lebih 11 meter di depannya, dengan sebuah luka baru pada paha kanan dan bagian dada. Harus ia akui refleks gadis itu hebat untuk mencegah terjadinya ledakan tepat di depan dada yang dapat membunuhnya. Padahal kalau Shion tidak tejatuh, ia masih bisa mendapatkan luka di pinggang yang ia targetkan daripada di bagian lain yang lebih vital. Ah—dia jatuh karena tembakanmu yang ‘meleset’ kan, Lio? Entah apa yang ia pikirkan saat itu, menembak salju di depan kaki Shion. Mungkin hanya untuk mengagetkan gadis itu seperti yang telah terjadi sekarang, atau karena dirinya sendiri sudah tidak kuat untuk terus memusatkan serangannya pada satu titik.

"Cukup!"

Sepatah kata yang dikeluarkan oleh pita suara yang familiar, sama familiarnya seperti bahasa Inggris di telinganya. Seorang pria dengan usia yang akan mencapai kepala 4, menggagalkan usaha keras kepalanya mengangkat kembali L’oeil yang telah kembali dinonaktifkan menjadi sepasang revolver. Dari sudut matanya, ia menangkap gerakan masternya yang seakan sedang menegur seorang staf medis. Apalah itu, ia tidak peduli. Perhentian pergerakan yang terlalu lama justru membuat sarafnya kembali merasakan sakit. Setiap darah hangat yang keluar di atas kulitnya, rasa perih pada setiap goresan yang ia terima.

Perlahan Lio menggerakan kakinya yang mulai mati rasa untuk membawa dirinya keluar dari ‘penjara es berduri’ di sekelilingnya. Kembali cairan merah itu keluar saat ia berhasil melepaskan diri dari tonggak tipis es yang menembus bahu kirinya, menimbulkan kembali rasa nyeri dan lemas pada bagian itu. Disarungkan kembali kedua revolver (Innocence) dalam sabuknya dan kembali menggunakan tangan yang bebas untuk menekan luka pada bagian perutnya, yang paling tidak akan mengurangi rasa sakitnya.

“Hahaha, kalau bisa ya, Master,” ucapnya pelan menanggapi perkataan keras dari Master Ravel yang kini menatap obsidiannya. Mungkin seharusnya ia berterima kasih tidak mendapat semprotan dari pria itu, dan juga karena perkataannya barusan. Kalau ia sempat, kalau sempat.

Tapi kenyataannya tidak sempat. Kembali Lio terjatuh pada lututnya, di atas salju putih yang berubah merah karena darah yang menetes. Bagaimanapun ia memang tidak dapat menahan perih yang menjalari tubuhnya, mungkin dia memang monyet. Terserahlah.

Semua orang di sana mungkin dapat mendengar bunyi pelan yang tercipta saat tubuh pemuda Prancis itu terjatuh ke atas salju, diam tidak bergerak. Melihat darah yang merembes dengan cepat pada salju di sekelilingnya, mungkin orang akan mengira ia akan meninggal jika tidak dirawat dalam selang waktu sekian menit. Dan mungkin saja hal itu dapat terjadi.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir

Shion R. Herleifursdóttir

Posts : 85
Umur : 23

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime3rd December 2009, 17:35

Tidak bisa.

Pandangannya mulai pudar, rasanya ia tidak akan bertahan lama jika meneruskan dalam kondisi seperti ini terus-menerus. Tapi, harga diri yang dimilikinya juga menuntutnya untuk tidak menghentikan pergerakan yang ia miliki sekarang. Tidak sudi kalah, walau begitu cairan pekat kemerahan itu sudah mulai mengalir dengan deras, takkan terhentikan semudah itu walau tangan sudah ia fokuskan seutuhnya untuk dapat menghentikan arus tersebut. Yang penting sekarang adalah bagian depan tubuhnya, walau paha kanan dan bagian tubuhnya yang lain sudah menunjukkan batas terakhir yang mereka miliki, sama halnya dengan kondisi staminanya sekarang.

Tapi ia tidak mungkin menghentikan apa yang seharusnya ia lakukan apalagi ketika melihat L’oeil milik Lio mulai bergerak mengikuti keinginan si empunya yang masih mempunyai keinginan sama seperti dirinya, apakah itu dapat dijadikan alasan untuknya agar dapat kembali berdiri dan mengaktifkan kembali Kaistern Seirei miliknya? Hendak melakukan hal tersebut ketika sebuah suara yang tak asing terlontar membahana di seluruh arena bertarung tersebut.

"Kohler... Mestre"

Memantulkan sosok seorang pria yang merupakan tempat pengabdiannya sekarang. Nampak sangat gusar dari guratan-guratan di wajahnya. Tentu saja menilik apa yang sedang dilakukan murid-murid asuhnya. Tapi Shion tidak peduli, selama ia tak dapat menggapai kata 'kemenangan' ia tidak akan pernah berhenti. Itu semua dilakukannya juga demi kebanggan kau, Kohler Mestre, dan tentu saja Gelvane Kennari. Ia tidak ingin mengecewakan ayah angkatnya yang sekaligus merupakan ayah kandung dari seorang Siegfried yang sudah dianggapnya layaknya kakak laki-laki sendiri.

Kalimat perintah berikutnya pada seorang staff medis untuk mengurus luka-luka yang dimilikinya sekarang hampir membuatnya bermaksud menggagalkan niat penuh perhatian tersebut sampai ketika sebuah pertegasan kata-kata, dirinya yang dipanggil, tahu bahwa Mestrenya tidak menerima sebuah perbantahan sama sekali membuatnya mengunci rapat bibir mungilnya. Sedikit menggigitnya paksa, hampir menimbulkan efek berupa goresan luka kembali pada sisi tepiannya, itu semua dilakukannya akibat rasa kesal, tidak menerima apa yang dilontarkan secara tidak langsung oleh Mestrenya.

Ia kalah eh?

Mendengar kalimat titah kembali agar Lio mengurus sendiri lukanya. Sebuah tanda keterkejutan nampak jelas di wajahnya. Berhenti melakukan kegiatan pelampiasan rasa kesal pada bibir miliknya dan membiarkan staff medis tersebut sudah hampir mencapai tahap memeriksa luka Shion. Tidak. Ini tidak benar. Melangkahkan kakinya perlahan, menjauhkan dirinya dari sang staff medis tersebut. Menimbulkan ekspresi tanya baru kepada staff malang yang tidak ada sangkut pautnya pada kejadian ini.

"Kohler Mestre Lio juga terluka, kenapa hanya..."

Menatap dalam pendar meminta jawaban--sekarang.

Apa karena rasa kepercayaan.. bahwa anak didiknya yang satu itu mempunyai kemampuan yang melebihi apa yang dimilikinya sekarang? Apa hal tersebut masih berlaku ketika pemuda sesama rekan disciple yang berada pada general yang sama itu terjatuh tak berdaya di atas selimut putih ternodakan merah tua, warna darah yang menandakan betapa parah luka yang ia miliki. Sama saja dengan Shion kan?

Ia tidak pernah mengerti, dan tidak bermaksud mengerti apabila kenyataan yang menunggunya adalah sebuah kepahitan. Sebuah kenyataan bahwa Mestrenya tersebut nyata lebih menyayangi Lio dibandingkan dirinya. Iri hati? Mungkin hal tersebut sudah menguasai dirinya. Tapi bukan itu yang ia butuhkan. Ia hanya ingin diakui, dan untuk hal tersebutlah ia melakukan semuanya sampai pada saat ini. Apa hal tersebut masih tidak cukup? Munafik? Mungkin juga. Dulu hal seperti itu sama sekali tidak akan mengusik pikirannya, tidak seperti yang dialaminya sekarang. Ia tidak pernah mempedulikan hal konyol macam itu yang hanya membuatnya berpikir dan berpikir lagi sementara jawaban yang akan diterimanya tidak akan pernah ada.

Sungguh kecewa.

Perasaannya selama ini dalam sekejap seperti runtuh, layaknya sebuah kepercayaan penuh yang dikhianati. Padahal ia tahu Kohler Mestre melakukan hal tersebut karena mengkhawatirkannya juga, namun entah setan apa yang merasukinya saat ini hingga hatinya tertutup oleh sebuah kabut kebencian. Menundukkan kepalanya, menatap salju putih, sama seperti hari itu, hari ketika orangtuanya terbunuh. Kenapa ia masih hidup? Sebuah pertanyaan yang membuatnya hampir kehilangan ego sebagai seorang manusia. Dan nyatanya sekarang ia hidup untuk membalaskan apa yang para monster-monster itu perbuat pada keluarga yang ia miliki satu-satunya.

Melangkahkan kakinya perlahan untuk keluar dari tempat tersebut. Luka separah apapun tak dapat dirasakannya sekarang, ia hanya ingin keluar, dari sini, dari segala hal yang membuat sisi buruk pikirannya kembali mengalir. Darah yang mengalir ia biarkan begitu saja, seperti mayat hidup eh? Dalam keadaan normal mungkin ia akan mentertawakan apa yang terjadi padanya sekarang. Tapi seperti kejadian dulu, ia kembali merasakan perasaan hampa, tak tahu harus berbuat apalagi, dan berakhir dengan pemberhentian kakinya di ambang pintu.

Melayangkan aquamarinenya kepada sosok Mestrenya tersebut.

"Apakah.. hidupku adalah suatu kesalahan?"

Bisikan tak terdengar, walau begitu, mungkin nampak jelas bagi seseorang yang dapat membaca arah pergerakan bibir yang melengkungkan kata-kata tersebut. Dan hal tersebut mungkin berlaku pada orang seperti Mestrenya. Setelah itu pun tanpa menggubris apa yang akan ia dapatkan setelah sebuah ketidakpatuhan ini, gadis berkebangsaan Islandia itu melenggangkan kaki lemahnya hingga sosoknya hilang di kejauhan.

Kenapa ia hidup?


[OUT]




OOC: Angsty mode on, maaf kalau tidak jelas. Kasih tahu saja kalau ada yang salah.
Back to top Go down
View user profile
Ravel Kohler
Vatican Central
Ravel Kohler

Posts : 152
Umur : 27
Pemilik : masamune11
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime5th December 2009, 09:36

Ravel tetap diam, bahkan ketika kedua muridnya kini jatuh dalam kegelapan, secara literal. Dia memang jago bertahan, namun medis bukanlah salah satu hal terbaiknya. Kalaupun anak didiknya memang luka parah, biarkanlah pihak medis yang mengurus mereka. Ia dapat melihat bagaimana beberapa staf medis berkumpul mengelilingi Lioret--semuanya hanya karena delikan dari mata kuning kecoklatan--dan mencoba memberikan perawatan darurat.

Latihan ini... mungkin hanya sekedar 'friendly battle' yang perlahan berubah menjadi pertempuran saling bunuh. Tidak ada batasan, eh? Pria berambut pirang ini menghela napas panjang; Shion dan Lioret, sejauh pengetahuannya, memang sudah sering mengalami waktu cekcok. Hanya saja, terakhir kali ia cek, mereka tidak sampai dalam langkah di mana... ya, seperti saat ini. Apakah ada setan yang bekeliaran di ruang latihan ini, hingga akhirnya salah satu dari mereka tergoda untuk membunuh satu sama lain?

Mata coklat kekuningannya memindai muridnya yang gadis--wajah mulai pucat karena kehilangan darah. Beberapa staf medis memang membantunya untuk pergi dari tempat. Satu tim tersebut mendampingi Shion untuk pergi ke infirmari, agar ia bisa dirawat dengan intensif. Seharusnya ia bisa diam di tempat, tak bergidik ketika mata kuning kecoklatannya bertatap dengan mata aqua milik sang gadis...

...apalah dikata, ia tetap bergidik.

"Apakah.. hidupku adalah suatu kesalahan?"


Dan gadis itu pun pergi, menghilang dari pandangan. Dahi pria ini mengerut; murka dan marah? Mungkin inilah perasaan yang muncul setelah melihat bagaimana Shion bisa jatuh pada status depresi sedemikian rupa. Kalau ada satu hal yang ia tidak suka dan tidak pernah ia ajarkan... adalah bagaimana cara menghargai nyawa--apapun, dari nyawa orang lain hingga nyawa sendiri. Suatu hal yang waras dan wajar.

...meskipun, pada akhirnya...

"...Tolong urus luka-luka Shirogane. Juga, tolong agar ruangan mereka di infirmari di pisah." Nada penuh geraman. Absurd; sejak kapan murid-muridnya menjadi di luar kendali seperti ini?

Tangan kiri segera memijit kepala; siapa dia hingga berani bicara kontrol? Kontrol atas diri sendiri saja sudah sulit dalam beberapa waktu ini. Sesuatu telah bergerak, dan Ravel Kohler tahu bahwa itu adalah sisinya yang tak menyenangkan--sisi pembantai dingin.

Ia sangat tahu bahwa sikap agresif takkan membantunya dalam mengendalikan perasaan tersebut.

Karena itu, pria ini hanya bisa menghela napas panjang sebelum melangkah keluar. Mungkin ia akan langsung berjalan menuju infirmari, sambil membaca ulang laporan yang ia terima dari Tek Xiao Ling... kembali mengenai anaknya. Apa yang bisa ia lakukan? Mungkin dengan sembari menunggu mereka berdua membuka mata di infirmari, Ravel akan memiliki waktu untuk berpikir.




--FIN

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Sponsored content




[CENTRAL] Volcano Empty
PostSubject: Re: [CENTRAL] Volcano   [CENTRAL] Volcano I_icon_minitime

Back to top Go down
 
[CENTRAL] Volcano
Back to top 
Page 1 of 1

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Jump to:  
Forum free | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com