An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [Central] The History Might Have Recorded Us

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: [Central] The History Might Have Recorded Us   11th January 2011, 14:34

14 Februari 1880



Dia tak pernah mengira, kakinya akan masih mampu menopang tubuh mungilnya di muka bumi ini. Dia tak pernah punya ketertarikan untuk tahu, dia akan memiliki kesempatan berada di sini. Dia tak pernah punya angan-angan, dirinya akan berbalut jubah serba hitam beraksen perak. Termasuk, menyandang salib yang tak pernah dikira seberat ini bebannya. Dia bukan orang yang mau memikirkan pada siapa dirinya di masa depan. Peduli pun tidak.

Di luar sedang badai salju. Tapi di balik dinding batu berlapis entah berapa perlindungan, dia tak perlu khawatir untuk mendengar gemuruhnya. Api kuning terang di sampingnya menari-nari sesekali, tanpa takut padam, menemaninya duduk sendiri di antara barisan rak-rak berisikan buku-buku bersampul kulit binatang. Tanpa alas.

Dingin, tapi nyaman.

Sentuhan beku lantai merayapi sekujur tubuhnya, menyusup ke dalam paru-parunya bersama udara yang dihisapnya. Sambil sepasang bening lensanya bergulir lambat menyusuri kata demi kata yang tertoreh di atas lembaran kertas berwarna kekuningan. Sesekali terlihat mengulaskan senyum tatkala menemukan bagian menarik di antara kisah fiksi di atas pangkuannya itu. Kemudian ia akan menggigil kedinginan bila udara dingin yang lebih kuat menyapu perpustakaan Black Order cabang sentra ini.

Tak apa-apa. Selagi ia memiliki hal yang begitu ditekuninya, ia mampu melupakan musim dingin yang selalu menunggunya lengah dan menghadiahinya rentetan mala. Padahal tubuhnya begitu rentan, mengingat ketidakpeduliannya terhadap kesehatannya sendiri. Bodoh? Salam kenal, dialah yang bernama Li Lian Jie.

Sementara bulan di balik awan kian meninggi --tak mungkin nampak di tengah badai macam ini, pemuda tanggung itu kian asyik membiarkan dirinya terseret dalam arus fantasi yang dihantarkan oleh kata-kata semata. Tanpa disadari, desau angin musim dingin telah mulai menyenandungkan lirik yang tak mampu menjangkau gendang telinganya. Baginya, dan bagi seorang lagi selain dia yang ada di ruangan itu.

Belum saatnya ia sadar, akan keberadaan sosok itu. Belum.



Spoiler:
 


Last edited by Li Lian Jie on 14th January 2011, 21:11; edited 3 times in total (Reason for editing : menyesuaikan timeline canon)
Back to top Go down
View user profile
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   13th January 2011, 05:15

Kesempatan kedua…

Tidakkah itu terdengar menyenangkan?

Mendapatkan kesempatan kembali bertemu dengan sosok yang kau harapkan, perasaan apalagi yang harus membuncah?

Gembira? Rindu? Ingin memeluk? Ingin bertukar kabar?

—dan itupula yang sedang dirasakan Fuchsia sekarang. Dia nyaris memekik nyaring ketika melihat figur lain ada di tempat itu. Figur yang telah lama menghilang dari kehidupannya. Jika secara normal, dia bisa langsung mendekati karena apa yang disebut rindu tersebut, Fuchia justru kebalikannya, mengacuhkan. Dia bisa apa? Apa kau pernah melihat dia tersenyum lebar sembari beloncatan nista, eh?

Dia telah terlanjur tenggelam dalam image yang sebaliknya, tak sudi memunculkan sikap kekanak-kanakannya lagi. Oh, mungkin bisa, tapi jelas bukan dengan anak yang sedang dituju sekarang —yang sedang sibuk membaca bahkan seolah sudah tidak dalam dimensi yang sama dengannya lagi. Lagipula, belum tentu ‘kan sosok itu adalah orang yang kini memenuhi pikirannya dalam sekejap itu ‘kan? Terlalu bermimpi jika berharap Fuchsia langsung mendekati walau sekedar untuk memastikan, tanpa alasan yang jauh lebih jelas dan tidak memalukan.

Dunia ini tidak semudah keliahatan, kawan. Fuchsia tahu betul hal itu, walau ini bukan tentang bertahan hidup, bukan tentang cara melawan Akuma dan semacamnya seperti layaknya pikiran orang-orang di markas ini. Ini lebih tentang perasaannya. Spesifiknya, perasaan yang mampu membuat jantung dara mungil ini berdegup, membuat wajahnya sukes memberi efek semburat rona merah sesaat. Namun, sekali lagi…

Fuchsia bisa apa?

Sejak tadi, sosok gadis dengan sweater cokelat tua dipadu syal putih tulang nampak kalut. Di antara jemari yang tengah bergerak teratur, mencari-cari buku yang entah kenapa menurutnya saat ini sulit sekali didapatkan daripada biasanya. Pikirannya terbelah menjadi dua bersama dengan guliran iris yang tak jelas kemana arahnya —antara susunan buku, atau sosok tersebut?

Pada akhirnya Fuchsia menyerah, mengambil buku sekedarnya. Kemudian, agak lama jasmaninya tak terlihat di ruang perpustakaan itu —jangan tanya kenapa! —. Ketika kembali, sebuah selimut lebar nyaris menutupi wajahnya, dan langsung begitu saja ia letakkan tepat di atas kepala pemuda belia berseragam Exorcist tersebut, tak peduli bahwa selimut tebal itu berat. Yah, anggap saja selimut itu merupakan pengganti timpukan buku yang biasanya ia lakukan.

“Kau mau mati kendinginan, huh?” Ujar Fuchsia dingin, berhasil mengendalikan perasaannya yang nyaris menguasai raga. Paras pemuda itu sangat mirip dengan figur yang dia harapkan ada. Tapi… apa benar ‘dia’?

Menghindari hal yang lebih tidak diinginkan, dara mungil itu bergerak menuju kursi yang ada di dekat sana. Membuka bukunya dengan ekspresi serius —walau yah… sesungguhnya di dalam hatinya dia masih belum sepenuhnya menuju isi buku tersebut. Lagipula, ternyata buku yang diambilnya jauh di luar dugaan.

Filozofio…




OOC: Yah, saya anggap ini (mengulang lagi) pertemuan pertama mereka. Kalau salah, silahkan IM ‘ ‘

Oh, ya, credit kata 'Filozofio', itu judul lagu dari Megurine Luka. Sepertinya sudah bisa ditebak maksudnya apa X3.



Last edited by Fuchsia Scarlet on 14th January 2011, 13:07; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   13th January 2011, 12:53

Valentine --hari kasih sayang. Seputih apapun salju menaungi kota, tak menyurutkan semangat masing-masing makhluk untuk tenggelam dalam pesta bernuansa merah hati. Menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih, membangkitkan euforia yang melebur dalam kehangatan semu di tengah udara dingin yang begitu menusuk. Lian Jie tak lupa hari macam ini tertera di kalender, sekalipun kehidupan Exorcist menyita hampir semua waktu-waktu berharganya --yang seharusnya bisa dinikmatinya sebagai seorang bocah berusia empat belas tahun.

Tetapi ia bisa mengabaikannya.

Sepasang iris kelamnya lebih suka memerhatikan deret huruf yang ditorehkan tinta hitam di atas lembaran perkamen kuno, di pangkuannya. Berisikan kisah seorang pemuda. Di tengah kemelut yang terjadi di sebuah negara bernama Camelot, ia tumbuh menjadi seorang ksatria. Berjuang bersenjatakan pedang yang khusus dibuat untuknya. Hingga gelar "King" jatuh padanya.

Ya, itu King Arthur.

Membacanya berkali-kali, tak pernah ada kebosanan menghinggapinya. Dia hafal seluruh alur kisahnya, bahkan hingga tiap detil kata-kata penyusunnya. Seolah buku cerita itu beserta seisi-isinya telah melebur ke dalam dirinya. Menyatu, bersamanya. Dan Lian Jie masih tak memiliki buku dan dongeng lain yang lebih ingin disukainya daripada satu kisah fiksi ini. Tidak, barangkali frasa yang tepat adalah, 'tidak mengizinkan' dirinya sendiri berpaling dari ulasan riwayat hidup King Arthur.

Bukan sebab ia terlalu menyukai figur peran utama. Bukan pula sebab ia berminat pada legenda itu. Ada, ada sesuatu yang lebih dari itu yang meninggikan rasa sukanya terhadap dongeng sebelum tidur itu. Sesuatu, yang tak bisa dijelaskannya sendiri melalui kata-kata. Tapi setiap kali menemukan judul buku itu di sebuah rak, dingin dan kukuh sifatnya akan mencair, bersama pandangan matanya yang menghangat. Ada kerinduan di sana akan 'dia' yang telah dibiarkannya tertinggal di masa lalunya. Dan dia tak akan bisa menahan dirinya untuk tak mencabutnya dari himpitan kawan-kawannya, kemudian membuka-buka halamannya. Beberapa menit, bahkan jam, rela ia habiskan demi meneliti kembali uraian kisahnya. Sekedar untuk memastikan, bahwa ia belum lupa. Dan saat ia menemukan bagian yang paling berkesan baginya, roman merah tipis akan terbentuk pada wajahnya.

Sebuah sentuhan dari dunia nyata membangunkannya dari keasyikannya. Disusul sebuah teguran, datangnya dari seorang gadis yang entah muncul dari mana dan sejak kapan. Kalau tak ada suara itu, Lian Jie pasti sudah menyemburkan dengusan dan gerutuan tak membentuk kata. Ia malas menanggapi, jika ia tak meminta respon lebih lanjut. Namun, suara itu nyata telah membekukan raga dan segenap jiwanya. Lebih dingin daripada tiupan badai musim dingin di luar sana.



I miss you again, like yesterday.
Won't this feeling of missing you, lessen any?
I keep thinking about you.


Tanpa disadarinya, Lian Jie telah meninggalkan King Arthur yang menjadi kesukaannya. Memancangkan perhatian pada satu-satunya figur di ruangan itu selain dirinya. Penerangan hanya sanggup menjangkau seperlima bagian ruangan, namun Lian Jie seolah tahu betul siapa yang ada di sana. Tubuh kecil, tak lebih tinggi darinya. Suara yang senada dengan miliknya. Kepang rambut belah dua. Dan caranya menghampiri tempat duduk. Menyaksikan semua itu, Lian Jie seolah dilemparkan kembali ke masa lalu. Menjemput kembali kenangannya tentang seorang sahabat --setidaknya, ia ingin menganggapnya begitu.

Tak banyak kenangan tentangnya. Tentang seorang anak perempuan bernama Fuchsia Scarlet, yang ada dalam memorinya. Namun hal itu tak melunturkan niatnya beranjak dari tempatnya duduk, membiarkan King Arthur meluncur jatuh begitu saja dari genggamannya, kemudian mendekat padanya. Jantungnya berdebar keras seolah bisa meledak karenanya. Dia tahu, dia lancang. Tapi kalau sosok di hadapannya itu bukan hantu atau fatamorgana yang muncul karena rasa rindunya, maka ia rela mendapat hadiah timpukan berpuluh-puluh kamus tebal. Seperti yang selama ini Fuchsia kecil selalu berikan padanya.

Mengayunkan tumit dalam langkah tanpa suara. Sampai yang tersisa di antara keduanya tinggal sandaran kursi. Ragu, tangannya terangkat beberapa senti meninggalkan sisi tubuhnya. Dalam pergulatan singkat antara dua pihak dalam benaknya sendiri, Lian Jie menelan ludah. Menghela napas panjang, membulatkan tekadnya.

Sekarang, atau tidak sama sekali.

Perlahan, tidak bermaksud mengagetkan, digapainya puncak kepala anak perempuan itu. Merasakan jemarinya menyusupi helai-helai lembutnya, mengusapnya. Alih alih memasang rengut kusut yang selama ini selalu mewarnai parasnya, Li Lian Jie tersenyum. Membiarkan roman tipis pada wajahnya makin merebak.

Aah, apa yang sebaiknya ia katakan?


Spoiler:
 


Last edited by Li Lian Jie on 14th January 2011, 21:42; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   13th January 2011, 22:16

Langit yang telah lama kelam disambut dengan temaram cahaya yang tidak seberapa — sudah cukup menjadi alasan dirinya beralih dari aksara rumit yang sama sekali tak memiliki makna dalam otaknya.

Tidak ada alasan untuk sang dara melanjutkan membaca walau buku itu tetap terbuka lebar menutupi wajahnya. Postur tubuh mungilnya masih tegap, menjadikannya tetap terlihat dalam posisi ‘membaca dengan serius’. Namun, sungguh dalam hati tak ada satupun huruf yang merasuki otak dan hatinya.

Bahkan jika kau merupakan sosok yang sanggup menembus paras yang tersembunyi dibalik lembaran kusam itu, yang terlihatlah hanyalah seorang bocah dengan wajah pucat yang merona merah —ekpresi yang telah lama membeku kini mencair karena api yang membumbung tinggi dalam raga. Bahkan mungkin dingin yang sebelumnya menembus sweater kini telah dilindungi oleh hal lain.

Fuchsia terlanjur memikirkan hal ke depan, menebak respon yang tidak pasti. Ya, mungkin pikirannya menolak untuk mengakui bahwa belum tentu sosok itu yang diharapkan, namun tidak dengan hatinya.

Bahkan sejujurnya kesungguhan rasa pada pemuda yang dimaksudpun sangat kontras pula antara luar dan dalam gadis mungil itu. Serba salah. Bahkan gadis itu sudah menyusun apa yang akan diucapkan nanti, bahkan kalau perlu langsung menimpuk seperti biasanya juga. Tapi, ketenangan di antara mereka masih tetap terjalin, justru membuat dalam si gadis gelisah.

Antara percaya… tidak percaya… dia atau tidak? Bagaimana kalau bukan?

Ah, lagi-lagi gelisah sendiri...

Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai dara beriris cokelat itu tak menyadari bahwa jaraknya sangat dekat dengan pemuda yang sejak tadi memenuhi pikirannya, menjadi kemelut dalam hatinya, antara nyata… dan tidak. Ketika tersentak dan menyadari realita, syarat kepalanya sudah lama merasakan sentuhan jemari yang… agak asing.

Irisnya bergulir, bersama dengan kepalanya yang mendongak tinggi. Dilihatnya paras pemuda itu dengan sejelas-jelasnya. Tidak lagi sekedar bayangan imajiner belaka. Menjadikan keputusan absolute tentang identitas laki-laki itu walau secara ekspresi sangat kontras dengan yang biasa Fuchsia lihat.

Tanpa sadar rona merah sudah benar-benar terasa menyusuri sekujur wajahnya, bahkan mungkin badannya —suhu tubuhnya jauh lebih tinggi, bahkan di kala malam musim dingin telah mencapai puncak.

“Apa yang kau— ???!!!!!”

Tak terkontrol, Fuchsia seolah merasa benar-benar terlihat seluruh dalam isi hatinya, membuatnya merasa sebagai figure yang paling memalukan di dunia ini. Berlebihan memang, tapi begitulah yang terpancar dari gesture bahkan aura jika bisa dilihat. Tanpa sadar, begitu saja secara spontan seperti bisanya, tangan kanannya menggenggam buku di dekatnya dengan erat, mencoba untuk memukulkannya pada pemuda itu.



Last edited by Fuchsia Scarlet on 15th January 2011, 04:36; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   13th January 2011, 23:25

'Apa yang ia lakukan?' Kaupikir apa yang sedang ia lakukan, Nona?

Ia tahu. Ya, ia hafal betul karakteristik kawan masa kecilnya itu. Begitu lekatnya, seolah telah menyatu bersama aliran darahnya, mengisi tiap napas kehidupannya. Sudah diduganya, pasti akan ada sesuatu yang melayang menghantam puncak kepalanya. Mendapati kenyataan tak menghianatinya, Lian Jie membuat senyum 'ah-memang-kau-rupanya'.

Dia bersyukur, kau tahu. Kalau ada seorang yang kehilangan segalanya dalam hitungan semalam, tak mungkin ia tak mengharap dunia menyisakan sesuatu untuknya. Setidaknya, memberi alasan cukup bagi kakinya untuk dapat kukuh menopang tubuhnya di muka bumi ini. Juga ujung pencarian atas jawaban pertanyaan yang selama ini menghantui benaknya.

Tidak dalam bentuk memori. Jangan. Lian Jie bukan seorang bocah yang sanggup bertahan dalam bayang-bayang masa lalu kelamnya. Dia rapuh. Lepas dari penampilannya yang sok kuat, dia tak lebih dari seorang bocah yang tengah menginjak masa remaja.

Kau tahu bagaimana rasanya?



The more I try to sort through it all, the more the tears come.
Even when I try to steal it, the memories spread into
different memories through the tears that I shed.
It makes me cry so painfully.



Diangkatnya tangannya yang lain, menahan luncuran buku yang lurus-lurus diarahkan padanya. Mudah, tahu kenapa? Lian Jie bukan anak berusia tujuh tahun berbungkus tubuh ringkih seperti separuh hidupnya yang lalu. Dia telah tumbuh, dalam langkahnya menjadi seorang pemuda. Dia juga telah belajar, untuk menghadapi sesuatu yang lebih daripada timpukan buku. Akuma --iblis. Dan itu tak menjadikannya terlampau lengah hingga bisa menerima serangan Fuchsia, yang terkuat sekalipun.

Kecuali ia membiarkan.
Tapi ia tak membiarkan.


"Buku apa lagi yang kaubaca?" Membungkuk di atas siluet mungil tubuh sang hawa, satu-satunya kawan baginya di tengah kesunyian malam seistimewa ini. Membiarkan suaranya melembut, khusus untuk malam ini saja.

Dibukanya lembaran demi lembaran buku yang telah berada dalam kuasanya itu. Mengernyit, ia tak mengenal bahasa di dalamnya. Tahu sekalipun, ia tak merasa bisa meresapinya. Berusaha membaca pun tidak. Dia tak berharap Fuchsia akan menjelaskan isinya, dia tak mau dengar. Iris kelamnya begitu bersemangat merayapi satu dua hal yang tak begitu ingin dilihatnya. Dan dalam kemalasan tak beralasan itu, Lian Jie membiarkan buku itu jatuh meninggalkan jemarinya. Bunyi debamnya menggaung memenuhi rongga telinganya, mengisi kesunyian dalam sela-sela rak tinggi menjulang yang menjadi sangkar kedua insan itu.

Diraihnya hadiah lain dari dara mungil di hadapannya ini --dia membawanya, ya. Selimut-- tebalnya cukup untuk menghangatkan diri dari sentuhan udara dingin yang membekukan, besarnya cukup untuk melindungi dua orang anak-anak sebaya mereka. Dibenggangnya, kemudian dalam satu gerakan mulus tanpa perintah jelas dari otaknya, Lian Jie menangkupkan selimut itu bersama dirinya di dalamnya. Melepaskan napas hangatnya di samping telinga Fuchsia, mengintip sekilas rona merah yang gagal tersamarkan oleh kapasitas cahaya yang sebetulnya tak seberapa.

Yah, bukannya Fuchsia memang selalu begitu jika berhadapan dengannya?

Tetap saja, ada sebuah pertanyaan di dalam kepalanya, muncul sebagai teka-teki. Mudah saja kelihatannya, tapi cerebralnya serasa lumpuh. Tak mampu memikirkan apa jawaban tepat dan alasan yang mampu menjelaskan.

Apa yang dia lakukan?

Ya, apa yang dia lakukan?

"Kau mau mati kedinginan, huh?" Mengembalikan kata-kata tadi kepada tuannya yang sejati.
Back to top Go down
View user profile
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   15th January 2011, 05:15

Buku Filosofi yang baru beberapa detik berniat ia luncurkan di hadapan pemuda itu, degan cepat ditangkap begitu mudah. Fuchsia tersentak kaget. Ya, dia tahu, bahwa tidak selamanya timpukan yang ia lemparkan akan ‘mendarat’ dengan mulus. Tapi, tetap saja… ada hal yang membuatnya seolah tertarik dalam sebuah kenyataan yang… sedikit tidak terduga… Banyak hal yang berubah… tapi juga tidak… Membingungkan.

Ah, tapi melihat reaksi pemuda di dekatnya yang nampak sudah begitu familiar dengan tindakan sang dara, bukankah semua telah menjadi pasti? Tak perlu diragukan, dan harus Fuchsia akui.

Li Lian Jie. Bocah menyebalkan yang kini telah berubah…

Dalam sekejap, buku itu meluncur jatuh, menimbulkan suara keras yang mungkin mampu menimbulkan gaung yang memenuhi seluruh perpustakaan.Tak ayal Fuchsia terbelalak kaget. Walau bukan buku dongeng, tetap saja rasanya tidak etis menjatuhkan buku yang tadi tengah dipegangnya, menjadi miliknya walau sesaat.

”Ap— Apa-apaan kau ini?! Seenaknya saja!” Omel Fuchsia gamblang setelah sebelumnya terdiam shock agak lama. Baru saja irisnya bergulir galak ke arah figure pemuda bersurai hitam tersebut, tiba-tiba saja ada sesuatu yang ditangkupkan padanya —selimut miliknya yang tadi ia serahkan pada laki-laki itu.

Tubuh gadis kecil itu seolah kaku dalam sekejap, dengan wajah masih terlihat merona merah, sulit untuk dihilangkan. Dia bisa merasakan telinganya menyentuh udara yang berbeda dengan sangat jelas, nafas Lian Jie. Jantungnya seolah mau meledak. Situasi ini sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, berbeda saat mereka masih pertama kali bertemu. Walau sejujurnya, Fuchsia tidak mengerti apa yang berbeda itu.

”Huh? Apa?!” Begitu saja Fuchsia menoleh dengan nada ketus begitu mendengar pernyataan pemuda tersebut, kata-katanya yang meluncur persis sama dengan yang dikatakan Fuchsia tadi. Lupa jika mereka saat ini benar-benar dalam jarak yang sangat dekat, tidak memperhitungkan bagaimana jika menoleh nanti.
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   15th January 2011, 11:37

Lian Jie tak mengerti.

Satu. Mengapa ia harus bertindak sampai sejauh ini? Membiarkan dirinya terbungkus dalam selubung yang sama. Menikmati kehangatan yang sejak awal tak dibutuhkannya. Terlebih, bersama seorang yang kemunculannya begitu menyihirnya. Jemarinya begitu kencang meremas tepian selimut, seolah tak ingin melepasnya meski musim dingin nanti berganti semi.

Dua. Apakah ini benar tubuhnya yang beraksi sendiri, ataukah ada suatu dorongan kuat dalam dirinya? Absurd. Kalau selimut itu menghalangi embus napasnya, untuk tahu siapa insan muda yang berani mendekati figur hawa di hadapannya ini, Lian Jie mampu merasakan hangat napas gadis rambut eboni itu membelai wajahnya. Kata-kata yang terhantar bersamanya, getol memainkan gedang telinganya. Dan yakinlah ia, bahwa tak ada manusia lain selain dirinya dan hawa muda di hadapan.

Tiga. Seberapa berartinya sosok di masa lalu itu baginya? Kalau kau mengalami apa yang juga dialami oleh remaja muda ini semasa bocahnya, mungkin kau akan mengerti. Bahkan hingga beberapa malam yang bagimu hanya malam-malam biasa dan tak berarti, Lian Jie masih menyaksikan detik-detik saat segenap bagian dari dirinya runtuh dalam sekejap. Tak ada manusia yang bisa memprediksi kapan kematian akan datang menjemput, karenanya semua selalu berpikir bahwa mereka akan selalu bersama-sama. Lian Jie termasuk di dalamnya. Maka bayangkanlah saat ia harus kehilangan semuanya dalam satu waktu.

Sekarang, mengetahui ada yang masih tersisa dari masa lalunya. Berdiri utuh, di hadapannya. Ia dapat melihatnya tumbuh layaknya insan hawa belia lainnya. Merasakan lagi getar suaranya yang menggetarkan atap sampai telinganya nyaris tuli. Menyentuh tiap senti raganya, jika ia diizinkan. Masih Fuchsia Scarlet yang dulu. Yang nama juga sosoknya pernah mengendap dalam memorinya.

Bagaimana kau akan mengira dirinya bersikap kukuh dingin layaknya tak terjadi apa-apa?



All I can do is regret, because all I ever did was receive.
But I'm afraid you'll forget me because I've never gave you anything.


Dadanya sakit. Ada tangan tak terlihat yang memelintir nadi-nadinya. Membakar segenap isi rongga dadanya. Menggoreskan roman tipis pada wajah sang pemuda. Sudah sedekat ini jarak di antara keduanya. Tak pernah disangkanya, ia akan bisa sampai di sini pada akhirnya.

Apa kau ingat, dulu ia tak pernah bisa menembus meriam buku sang bibliomania.

Kalau ada yang bisa membuatnya kenal siapa dia malam ini, maka itu adalah sikap apatisnya terhadap kata protes dari sang dara. Dia mendengarnya berkali-kali, tapi tak membuatnya gentar dan mengambil langkah menjauh. Tidak akan. Tidak untuk kedua kalinya.

Ya, dulu pernah ada jarak yang begitu jauh di antara ia dan Fuchsia yang sebagian besar dibuatnya oleh sugestinya sendiri. Seperti 'Cewek menyebalkan' dan 'mana mungkin aku bisa suka sama anak bawel macam dia'. Kekuatan kata-kata selalu lebih kuat daripada pagar besi sekalipun. Memberinya rasa enggan membuat langkah mendekat. Padahal dalam lubuk hatinya, ia selalu bermaksud yang sebaliknya.

"Dulu, di pelabuhan --ada yang pernah mau kukatakan," kenangan masa lalunya berhamburan dalam kepalanya, bersama tingkat kerinduan yang memuncak hingga menyesakkan, "tapi aku batalkan."

Masih terasa getir lidahnya, seperti baru kemarin saja kejadiannya. Saat sebelum kepergiannya meninggalkan London, tujuh tahun lalu. Dia berhasil mengabaikan panggilan kapal di tengah jadwal padat yang harus dilaluinya, tapi dia gagal mengutarakan hal yang sebetulnya paling ingin diberitahukan pada kawan masa kecilnya itu. Sebuah hal yang paling membuatnya penasaran menantikan respon anak perempuan itu. Bagaimana jika ia mengatakannya? Tapi malah, yang berhasil diluncurkan mulutnya, benar-benar kalimat yang sama sekali tak ada hubungannya. Dan itu meninggalkan penyesalan dalam kalbu sang bocah.

Dia dulu bodoh sekali.

"Sebenarnya," menelan ludah, membiarkan keheningan menyela selama agak lama, selagi batinnya benar-benar disiapkan --menarik lepas sepasang lensa bantu lihat yang menjadi sekat antara iris kelamnya dan milik sang bibliomania angkuh, "aku tidak membencimu."

Tebak sendiri apa maksudnya.

Dan entah sejak kapan, jarak di antara keduanya makin rapat. Dan terhapus pada akhirnya, oleh keberanian indera bicara sang pemuda demi menyelesaikan apa yang tujuh tahun lalu tak mampu dilaksanakannya. Dia tahu, dia lancang. Tapi dia seorang pemuda. Dan tak ada buku yang saat ini bisa diraih tangan mungil gadis dalam rengkuhannya ini, kan?



I love you, I, I love you
These words have become a habit
and these words are among the many I've learned from you.
I sit around alone mumbling to myself like a fool.


Aah, napasnya hangat.

Dalam waktu yang begitu langka ini, izinkanlah ia meninggalkan sikap tinggi hatinya. Izinkanlah es abadi dalam dirinya mencair. Izinkanlah dia menunjukkan apa yang selama ini disembunyikan di balik tiap sifat kerasnya. Izinkanlah ia melepaskan sejenak beban pada bahu-bahu rapuhnya. Ia ingin beristirahat.

Selagi kesempatan emas dibentangkan lebar-lebar di hadapannya.
Back to top Go down
View user profile
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   18th January 2011, 21:37

Seperti potongan puzzle yang hilang, dan ia pun telah kembali. Fuchsia memang tidak memiliki masa lalu sekelam para anggota Black Order. Tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk yang berhubungan dengan Akuma selain mendengar dari para Exorcist maupun yang pernah memiliki hubungan dengan musuh organisasi ini. Bisa dibilang, hidupnya sempurna dalam konteks tak pernah memiliki masalah berarti.

Namun bukan berarti Fuchia tidak perah memiliki rasa kehilangan. Ada bagian dalam dirinya yang kosong, menguap dalam sekejap dan membeku. Tidak ada seorangpun yang bisa mengisinya, kecuali seorang bocah yang selama ini sudah sekian lama ia anggap sebagai rival. Figur yang tak pernah bisa akur dengannya sejak dulu. Namun justru menjadi yang paling dirindukan. Pertemuan yang hanya sekejap, namun membekas menjadi garis puzzle hatinya —yang kemudian dibawa pergi.

Dan sekarang semua itu kembali dalam sekejap. Entah apakah ini adalah keberuntungan semata, atau malah justru menjadi sebuah bencana tak terduga.

Sejujurnya, dia tidak mengharapkan hal ini terjadi, sejak beberapa menit berlalu. Jika kembali menilik ke belakang, memperlihatkan kronologis bagaimana sang dara mungil itu ada di sini, alasannya tak lebih hanya karena sebuah rutinitas yang normal ia jalankan —sebagai gadis kutu buku biasa, sebagai section staff biasa. Lalu tiba-tiba begitu saja, orang ini muncul. Mengubah pandangan gadis itu seratus delapan puluh derajat. Terlebih ketika harus menerima kenyataan bahwa sosok yang dia lihat ini bukanlah orang biasa —setidaknya di dalam pandangannya. Menjadikan Fuchsia pun turun terbawa arus yang berbeda, sedikit demi sedikit mengubah tindak-tanduknya.

Begitu pula saat ini…

Iris cokelat yang senada dengan surai tak rapi itu, hanya bisa memandang lurus figure pemuda yang kini jaraknya terlalu dekat dengan sang dara. Bahkan walau tertutupi oleh lensa tipis yang selalu menghiasi, tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Tubuhnya seolah kaku, dan pita suaranya putus sejenak, terdiam. Membiarkan sosok bertitel Lian Jie tersebut mengeluarkan nadanya sendiri.

Tujuh tahun… itu jelas bukan waktu yang sebentar. Pertemuan pertama mereka yang hanya beberapa hari, ternyata memberikan pengaruh hingga sejauh ini. Bahkan hingga saat-saat detik terakhir mereka akan sepenuhnya berpisah, Fuchsia tetap menyimpan setiap memori hingga detik akhir tersebut. Ya, dia masih ingat janji yang dalam sekejap ingkar. Ucapan yang batas untuk diperdegarkan, membuat sang bunga penasaran, membekukan sudut hatinya yang kosong begitu saja. Ya, katakanlah pemuda itu telah begitu lama membawa keping hati sang dara, dan menghilang dengan mudahnya.

—dan dengan bodohnya Fuchsia masih tetap menunggu?

Iya, menunggu… tanpa memperhitungkan jika ia apa yang ditunggunya membuahkan hasil yang tidak diharapkan. Ketika takdir dengan usil kembali mempertemukan, Fuchsia justru tak dapat melakukan apa-apa. Hanya terdiam bak patung. Namun ia sadar, ia bukan patung. Karena dia masih bisa melihat dengan jelas, paras oriental sang pemuda , bahkan ketika irisnya tak dapat melihat dengan jelas karena lensa-nya telah dilepas dengan mudah, tanpa mampu gadis kecil itu mengambilnya kembali.

Itukah yang dulu ingin diucapkan? Itukah yang seharusnya ia dengar dulu?

Fuchsia masih belum memberikan ekspresi yang berarti. Semua terlalu cepat untuk dicerna. Bahkan kini bibirnya memiliki alasan untuk tetap terkunci rapat, tertahan oleh hal lain. Entah sejak kapan, bahkan tanpa sebuah kacamata, Fuchsia bisa melihat dengan jelas paras pemuda itu. Begitu dekat, terlalu dekat malah.

Ketika jarak kembali terlihat, rona merah di wajah Fuchsia semakin menjadi. Gemetar, tak tahu harus berbuat apa. Fuchsia tak bisa beranjak pergi —tidak mau. Apakah harus pasrah dengan keadaan saat ini? Ketika penantian panjang itu akan berakhir?

“Dasar bodoh…” Ujar sang darah lirih, sulit mengakui akan seharusnya jawaban yang layak untuk diberikan. Namun tidak ada perlawanan yang berarti dari dara itu. Bahkan tubuhnya sudah terlalu lemas untuk menerima segala hal yang terjadi barusan. Dibiarkan kepalanya bersandar pada pundak sang pemuda, menyembunyikan wajahnya yang kini tampak mempelihatkan Fuchsia yang lemah. Buliran air mata entah sejak kapan mulai turun, namun tidak… ia tidak mau pemuda itu tahu, walaupun kodratnya sebagai kaum hawa tidak menentang hal tersebut, “Aku sudah capek menunggu tahu!“

’Menunggu pernyataan itu sejak dulu…’



Last edited by Fuchsia Scarlet on 13th February 2011, 07:49; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   19th January 2011, 20:55

Lian Jie bukan seorang yang mampu mengekspresikan apa yang ia rasakan tanpa bayaran. Bocah itu telah melihat kegelapan yang amat pekat. Hingga tak pernah terbesit baginya untuk berharap cahaya itu suatu saat akan mampu dilihatnya. Seumur hidupnya, memutuskan untuk bertarung tanpa tujuan yang berarti. Barangkali --sejujurnya-- ia terus menempa dirinya dalam kekosongan, adalah caranya untuk meminta perhatian dunia. Bahwa ia masih ada.

Yakinkah?

Bocah itu membiarkan kepalanya meraih kemiringan beberapa derajat saat surai eboni mendekat padanya, bersandar padanya. Dalam keheningan yang menyusup di antara keduanya selama beberapa detik itu, Lian Jie harus mengakui bahwa ia tak nyaman. Jantungnya menggedor-gedor rongga dadanya. Salib perak yang disandangnya itulah saksinya. Dan bersama Fuchsia yang kini mejatuhkan diri ke dalam rengkuhan sang pemuda, timbul pertanyaan dalam benaknya: apakah Fu bisa mendengarnya?

Masih tak percaya seutuhnya, segalanya terlalu absurd. Beberapa kali bocah remaja itu mengira dia hanya sedang tenggelam dalam salah satu mimpinya. Berkali-kali pula ia terbangun, kenyataan menghianati. Hangatnya sentuhan napas Fuchsia adalah bukti bahwa ia tak sedang tertidur. Dia sadar sepenuhnya. Dan yang ada di hadapannya tanpa jarak, berdiri begitu rapat, bukan pula rekayasa imajinasinya. Dan dalam kegelisahan yang melilit itu, sebuah pertanyaan baru muncul dan membelenggunya: apa yang seharusnya ia lakukan kemudian?

Dan ia hanya berakhir mematung. Padahal ia punya sepasang tangan yang seharusnya bisa ia perintah. Dan sosok yang paling dinantinya dalam keputusasaan itu kini begitu nyata, ada. Dia bisa memeluknya, kalau ia mau. Dia bisa kembali memeriksa kehangatan yang memberitahunya bahwa ada kehidupan tersimpan dalam raga hawa muda itu. Tapi Lian Jie tak melakukan apa-apa.

Apa yang ia tunggu?

Segalanya terlalu aneh. Dimulai dari dirinya, yang seolah telah lupa siapa jati dirinya sesungguhnya. Tenggelam begitu saja dalam warna aura yang begitu pekat mengisi atmosfer, terseret berbagai macam perasaan tak menentu. Dan yang paling merasakan dampaknya, adalah dadanya.

Sang dara bersuara. Dia tahu, itu bukan kalimat penolakan terhadap kelancangan yang barusan diperbuatnya. Dan sekonyong-konyong dirinya mengerti, tentang ketidaknyamanan dan kegelisahan yang dirasakannya malam ini, padahal ia tengah menghadapi orang yang paling lekat mengisi petak memorinya terhitung tujuh tahun yang lalu.

Euforia.

Ya, ledakannya hebat sekali sampai membakar sekujur tubuhnya dalam kebekuan, terasa sampai ke ubun-ubun. Fatamorgana, ia tahu --tapi efeknya begitu kuat mengaliri tiap sel darahnya, mengsi tiap sendinya yang ngilu diterpa udara musim dingin. Roman tipis pada wajahnya semakin terlihat pekat.



I'm sorry truly, truly, I'm sorry.
I'm even sorry that these words are so late
But I'm waiting here for you shamelessly
Will you by chance come back tomorrow?



Jemarinya menyusup ke jemari lain yang bukan miliknya --menaut. Lebih ramping, lebih mungil. Milik sang dara. Kemudian menariknya, sambil sepasang irisnya merefleksikan gadis itu sepenuhnya. Ada terlalu banyak yang mendesak diungkapkan. Begitu luar biasa jumlahnya, sampai dongeng semalaman penuh rasanya tak mampu mengutarakan seluruhnya.

Satu langkah mundur. Dua langkah. Lian Jie tak melepaskan sedikitpun pandangannya dari gadis itu. Begitu pula genggamannya.

Ikut aku.

Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   13th February 2011, 12:21

Fuchsia menghela nafas panjang. Bukan desahan kecewa seperti ekspresinya yang biasa ia lontarkan. Lebih tepatnya, ada sebuah kelegaan di dalam sanubari. Lingkaran zona ‘aman’ yang biasa membentuk dinding beku dalam setiap tindak-tanduk sang dara, seolah runtuh untuk saat ini.

Keajaiban dari Santa Valentine, eh?



Mungkin…

Hhh… Rasa nyaman begitu saja menyusupi. Menjadikan Fuchsia nyaris tak bergeming dari posisinya yang sekarang. Membiarkan kepalanya yang bermahkota surai cokelat eboni bersandar pada pundak sang pemuda. Bahkan sejak sekian detik berlalu, tidak ada perlawanan khusus yang Fuchsia terima karena tindakannya yang tidak biasa tersebut. Padahal bisa saja pemuda itu mendorongnya, bisa saja menacaci maki dirinya seperti bisa, menggerutu, atau apa saja hal-hal negatif yang dengan mudah membuat Fuchsia menjauh. Tapi pada kenyataan, tidak ada yang terjadi sepanjang Fuchsia tahu. Hanya sunyi… hanya ketenangan…

Kedua kelopak matanya terbuka sayu tatkala jemarinya bertaut pasrah dengan jemari Lian Jie. Ah, entah sejak kapan jemari pemuda itu kini jauh lebih besar daripada yang dulu, walau tetap saja kurus. Begitu pula dengan pundaknya yang kini lebih lebar, berbeda sekali. Bertahun-tahun telah lewat, menjadi segalanya berubah dengan pasti.

Kepalanya kembali tegap, memandang lurus ke arah Lian Jie etelah yakin air matanya telah terhapus dengan sempurna. Beberapa saat kemudian, sebuah tarikan halus secara paksa menjadikan Fuchsia mengikuti langkah-langkah pemuda itu. Sebuah pemikiran lain mengacaukan euforia yang dirasakan sang dara sejak tadi.

”Mau kemana?” Tanya sang dara memecah keheningan. Tidak seketus biasanya, jujur antara kebingunan dan tersusupi sedikit rasa takut, entah Fuchsia sendiri tak tahu mengapa. Namun pada kenyataan, toh, dia tak berniat sedikitpun melepas tautan yang ada. Terlalu takut untuk kembali kehilangan.
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Sponsored content




PostSubject: Re: [Central] The History Might Have Recorded Us   

Back to top Go down
 
[Central] The History Might Have Recorded Us
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Zuko's History
» Mocha Te's History (WIP)
» Konohagakure History
» Hogwarts, A History?
» Kirigakure History

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Branches :: Central Branch-
Jump to:  
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forum