An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» Free Talk
by Ravel Kohler 21st December 2015, 17:50

» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13


Share | 
 

 [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok

Go down 
AuthorMessage
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   11th October 2009, 10:11

Note: Judul thread ini dalam bahasa Magyar (Hungaria) yang artinya Serpihan Memori.

Main Charas:
Li Lian Jie
Fuchsia Scarlett

Setting: 7 tahun yang lalu, pertemuan pertama.




Lian Jie menguap lebar dan menggeliat. Ia mendorong meja dengan sebelah lututnya sementara kaki yang lain tetap berpijak pada lantai untuk menjaga keseimbangannya, selagi ia memiringkan kursinya ke belakang. Di sekitarnya, buku-buku bertebaran dan beberapa di antaranya tertumpuk tak rapi siap berjatuhan. Buku-buku itu beraneka ragam isinya. Ada ensiklopedia kedokteran, kumpulan teka-teki, pelajaran bahasa asing, dan cerita tentang kepahlawanan King Arthur--yang sedang terbuka lebar di hadapannya.

Sudah setengah hari ia mengurung diri di perpustakaan dan ia sudah mulai merasa lelah. Perutnya lapar, tapi si penjaga perpustakaan pernah sekali menegurnya ketika ia mencuri-curi kesempatan makan bakpao di sudut perpustakaan. Yah, nasib, kali ini semua makanan yang ia jadikan bekal disita habis oleh penjaga perpustakaan itu. Lian Jie ingat betul bagaimana senyum kemenangan yang jijik itu tersungging di mulutnya.

Haaaahhh... Lian Jie memandang langit-langit perpustakaan beberapa meter tingginya dari kepalanya. Perpustakaan itu sangat besar dan megah. Lihat saja lemari-lemari penyimpanan buku yang semuanya tinggi menjulang hingga ke langit-langit. Tangga-tangga tinggi disiapkan di mana-mana untuk membantu para pembaca mengambil buku yang mereka ingini. Sosok Lian Jie kecil yang kala itu berusia 7 tahun bagaikan secuil jari kelingking di tengah surga ilmu pengetahuan itu.

Ketika menelusuri tiap senti permukaan langit-langit, dalam angannya terbersit bayangan kedua orang tuanya yang pasti sedang sibuk berkutat dengan pasien dan buku-buku kedokteran. Mereka bilang mereka akan pulang lebih awal, tapi apa pernah mereka menepati janji?

Lian Jie mendengus pada buku yang tak bersalah di bawah hidungnya, meraihnya dan kembali membacanya sambil melemparkan diri ke kursinya. Rasa sakit yang panas mendadak menghujam punggungnya. Lian Jie berusaha keras menahan teriakannya sambil mementalkan dirinya sendiri ke meja. Buku-buku yang menemaninya di atas meja bergetar, nyaris kehilangan keseimbangan.

"Adudududuh..." Lian Jie berusaha menggapai tulang belikatnya yang berdenyut bertalu-talu di punggungnya, tapi ia tak berhasil menjangkaunya. Dia lupa, dia memiliki tubuh yang spesial sehingga tidak bisa menikmati kebebasan seperti yang orang lain miliki.

"Kyaa!" tiba-tiba muncul sebuah suara kecil dari arah buku-buku di sebelah kanan Lian Jie, mengagetkan Lian Jie. Masa buku bisa berteriak?

Keganjilan itu segera terjawab tak sampai sedetik kemudian. Buku-buku itu mendadak berjatuhan ke arah Li Lian Jie seperti bangunan yang sedang dipugar. Lian Jie kecil sontak mengangkat kedua tangannya untuk melindunginya dari hujan buku-buku tebal itu dan... olala.

Benda terakhir yang ditangkapnya ini terlalu besar untuk sebuah buku. Lian Jie tak bisa melihat karena matanya menghantam sesuatu yang empuk dan hangat. Namun Lian Jie bisa mendengar helaan nafas di telinganya, yang berarti... dia telah menangkap seorang manusia?

Gadis kecil itu menarik diri dari Lian Jie dengan wajah merah padam. Kacamatanya miring, rambutnya acak-acakan. Pakaiannya kotor oleh debu buku-buku tua. Belum sempat Lian Jie membuka mulutnya untuk memprotes, gadis itu telah lebih dulu melayangkan sebuah buku sangat tebal dengan sampul kulit dan menghantap samping kepala Lian Jie sambil berseru, "MESUUUUMM!"

Segalanya berputar hebat di mata Lian Jie. Dia merasakan benturan keras sekali lagi di dahinya. Berusaha keras tidak pingsan, Lian Jie mencengkeram kepalanya yang berdenyut-denyut hebat seakan mau pecah. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu mengeluarkannya kembali untuk membalas tuduhan yang tak pernah dilakukannya itu, "APAAN SIH?! KAU SENDIRI YANG JATUH KE ARAHKU! JANGAN TIBA-TIBA JATUH DAN MENYALAHKAN ORANG DONG!"

Gadis kecil itu berjengit, menciut ketakutan di bawah bentakan Lian Jie. Huh! Lian Jie mendengus tak peduli. Kepalanya pasti benjol di dua tempat. Dia terlalu malas untuk mengendalikan dirinya sendiri sekarang.

"Kalian tahu peraturan di perpustakaan ini, kan?" Penjaga Perpustakaan hadir menengahi mereka dengan sensasi horor yang kental.

Jantung Lian Jie serasa berhenti berdetak ketika mendengarnya. Dia mengangkat kepalanya, lupa akan rasa sakitnya. Dilihatnya dari sisi lain matanya, si gadis berkuncir dua itu juga mengangkat kepalanya untuk melihat sosok besar wanita tua bertampang penyihir berkacamata yang telah menghabiskan separuh hidupnya sebagai pengurus perpustakaan ini.

"Kau," dia menunjuk si gadis, tapi tetap saja Lian Jie ikut berjengit ketika dia mengeluarkan tuduhannya beserta telunjuknya. "Perpustakaan ini menyediakan kereta dorong, kenapa kau membawa buku-buku itu dengan tanganmu sendiri?! Kau jadi tak bisa berjalan menggunakan matamu, kan?!"

Gadis kecil itu semakin mengerut ketakutan dan mulai terisak.

"Dan kau!" kali ini benar-benar Lian Jie yang ditunjuk hidungnya. "Laki-laki macam apa yang membuat gadis kecil menangis?!"

Lian Jie mengerling anak perempuan itu, kaget. Lalu dia memprotes, "Tapi kan bukan saya yang membuatnya menangis!"

"JANGAN MEMBANTAH!" bentak Penjaga Perpustakaan tepat di atas hidung Lian Jie, yang memejamkan matanya erat-erat. "TAK ADA KERIBUTAN DI PERPUSTAKAAN! APA KALIAN PAHAM?!"

"Baik," Lian Jie mendengar si anak perempuan semeter jauhnya darinya itu ikut menjawab bersamaan dengannya.

Puas dengan kemenangannya, Penjaga Perpustakaan segera menghilang ke balik rak-rak buku, meninggalkan kedua anak kecil itu mematung di antara gunungan buku.





To be continued... Laughing
Back to top Go down
View user profile
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   13th November 2009, 20:40

Ahahahaa.... Aduuuh... Anakku yang satu ini memang lucuuuu~~~~ *ditabok buku*

Yang pasti penjaga perpustakaannya pengen saya gampar XDDD~~~

Araaa... saya ndak punya komen lagiiii~~ *seluruh pikiran Saya sudah Saya kasih tau di YM*. Jadiii... segini saja, yah~ Daaan... LANJUTKAN!! *plakkk!!*


Last edited by Fuchsia Scarlet on 18th November 2009, 17:50; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   15th November 2009, 10:21

[sambungan...]



Kepergian si Penjaga Perpustakaan bertampang penyihir itu mengembalikan kehangatan pelukan gedung perpustakaan di tengah musim dingin ini. Lian Jie menghembuskan nafas dengan lega. Ia tak pernah merasa lebih hidup dari ini sebelumnya.

"Maaf," si anak perempuan tiba-tiba bersuara. Nadanya dingin dan ganjil, seolah dia sendiri tak ingin punya gaya bicara yang sudah dia miliki, mungkin, sejak lahir itu. "Aku yang salah."

Lian Jie mengangkat alisnya. Wah, wah, boleh juga pengaruh si nenek sihir itu. Si Nona kecil itu langsung bersedia mengaku salah. Tapi siapa yang peduli? Lian Jie menata kembali buku-buku yang dia baca, sementara anak perempuan itu mencari-cari dan mengumpulkan bukunya sendiri di antara buku-buku Lian Jie.

"Namaku Fuchsia Scarlet," kata anak perempuan itu sambil menggerayangi buku-buku di belakang kursi Lian Jie. "Huh, kalau saja bibiku ada di sini. Bibiku sedang ambil jam istirahat sih. Err, beliau juga penjaga perpustakaan kota."

Lian Jie menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh ke belakang. Sejenak, dia berpikir untuk mendiamkannya, tapi untunglah dia berubah pikiran karena anak perempuan itu sepertinya sudah menyiapkan segebung buku untuk dilemparkan lagi kepada Lian Jie.

Lian Jie yang lebih memilih kepalanya selamat, akhirnya memperkenalkan dirinya, "Li Lian Jie."

Mata Fuchsia sontak membelalak takjub, menelusuri wajah Lian Jie. Dia berdiri, melupakan buku-bukunya, dan berjalan mendekati Lian Jie untuk mengamati Lian Jie dari dekat. Ketertarikannya terhadap ciri fisik seorang Asia di mata Fuchsia mengingatkan Lian Jie akan seorang peneliti yang berhasil menemukan spesies baru.

Lian Jie berpaling kembali kepada buku-bukunya, "Hentikan."

Bukannya menurut, Fuchsia malah berjingkat mendekati Lian Jie dan mengungkapkan kekagumannya tanpa bisa menahan kegairahan dalam dirinya, "Heee, kau bukan orang Inggris, kan? Bahasa Inggris-mu bagus sekali! Dari mana asalmu? Apakah jauh sekali dari Inggris?"

Lian Jie membanting sekian banyak buku yang sudah ditumpuknya rapi ke sisi kiri meja, Susah sekali meredam kekesalannya. Dia ini bukan barang tontonan!

"Kau sudah selesai di sini, belum?" tanya Lian Jie, bermaksud mengusirnya dengan cara lembut.

Tapi Fuchsia sepertinya bebal terhadap maksud kata Lian Jie, atau malah berlagak tuli. Dia berpindah dari Lian Jie kepada buku-buku yang dibaca Lian Jie, yang sedang ditatanya di atas meja. "Waaah, kau membaca banyak sekali buku, ya? Kedokteran? Ensiklopedia? Waaaahh! King Arthur!" Sambil menyerukan judul buku yang terakhir, Fuchsia mengangkat buku bersampul biru itu tinggi-tinggi.

Lian Jie menyambarnya, "Aku sedang membacanya."

"Eh?" Fuchsia berusaha mengambil kembali buku itu dari Lian Jie. "Tapi aku dari tadi sudah mencari-cari ini! Kemarin aku belum selesai baca!"

"Memangnya itu urusanku?" Lian Jie mempertahankan bukunya. "Aku sekarang sedang baca ini. Kau tahu artinya, kan? Buku ini sedang dipinjam orang. Lagipula ini perpustakaan. Siapapun bebas membaca dan meminjam buku yang ia pilih."

"Pokoknya aku mau baca ini sampai selesai dulu!" Fuchsia meraung sambil meraih sebuah buku ensikopledia di sampingnya dan melemparkannya tepat ke wajah Lian Jie.

BUAGH! Buku itu menghantam persis hidung Lian Jie. "Aow! Sakit!"

Setelah mengaduh dan berhasil menguasai keadaan, Lian Jie tersadar bahwa dengan bodohnya dia telah melepas King Arthur. Fuchsia menari-nari kegirangan, berdansa dengan buku itu. Lalu dia menjulurkan lidah pada Lian Jie sambil berlari meninggalkannya.

Walau sebal, Lian Jie membiarkannya. Ah, toh masih banyak buku yang belum ia baca sampai selesai. Tapi untuk kali ini saja.



[To be continued...]


Last edited by Li Lian Jie on 16th November 2009, 10:25; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Konstantina Abovian

avatar

Posts : 18
Pemilik : Chief

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 24

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   15th November 2009, 12:22

Wahh, tujuh tahun yang lalu, berarti ini anak-anak masih mungil-mungil... Lucu, deh. Very Happy

Eh, Fuchsia bukannya nama belakangnya Scarlet, bukan Scarlett? ' 'a
Back to top Go down
View user profile
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   16th November 2009, 10:24

Iya, iya, Scarlett tu kebagusan! *digeplak*

Keyboardnya yang nakal!!! *goes to edit*

BWAHAHAHAHAHAHAH!!! *dilempar*
Back to top Go down
View user profile
Gletsjers van Virchow

avatar

Posts : 215

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 20

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   18th November 2009, 17:30

Wah! Masa lalu Li dengan Fuchsia? Lanjutin dong... *memohon dengan sangat a.k.a penasaran*
Back to top Go down
View user profile http://rosmana.blogspot.com
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   18th November 2009, 18:03

Quote :
Iya, iya, Scarlett tu kebagusan! *digeplak*

Wkwkwkwkwk, jangan ngubah nama orang sembarangan, dong~ "Fuchsia Scarlet" kan nama yang cantiiiik~~~ XD~~ *howeek!!*

Wkwkwkwkw, kasian Lian Jie, kena buku terus. Ndak kapok deket2 Fu? XDDDD~~~
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   3rd December 2009, 20:39

@Glace, okeeehh...
@Fu, ooooohh, ini belum seberapa lho..

----------------------------------------------------------


[Lanjutan]

Beberapa jam sudah berlalu semenjak matahari terbenam. Bulan sudah tinggi, semua orang seharusnya sudah terlelap tidur dibuai mimpi indah. Salju di luar sudah semakin tebal tapi langit tak puas-puasnya menaburkan butir-butir salju kecil ke Bumi. Tak ada angin yang bertiup, tapi udara benar-benar dingin. Jendela hanya bisa memperlihatkan warna putih di mana-mana dan cahaya lampu redup di lampu jalan yang berdiri dengan jarak tiga atau empat meter jauhnya.

Lian Jie kecil masih bekerja di dapur, mengelap piring-piring sisa makan malam sendirian. Tangan kecilnya bergerak pelan dari satu piring ke piring lainnya. Matanya memandang sebuah titik tak jelas di kejauhan di luar jendela. Pikirannya melayang ke masa beberapa jam yang lalu, ketika ia asyik memasak makan malam bersama ibunya yang cantik. Ibunya cekatan sekali dalam memotong bahan-bahan makan malam sementara Lian Jie mengaduk sup di panci. Mereka mengobrol tentang banyak hal disertai tawa. Tak lupa, Lian Jie bercerita tentang seorang gadis kecil yang ia temui di perpustakaan tempatnya menghabiskan waktu selama orang tuanya bekerja seharian. Meski Lian Jie mati-matian membantah bahwa gadis itu bukan temannya, sang Ibu tak henti-hentinya menggodanya. Teman mana sih yang tega melemparnya dengan buku? Lian Jie kesal sekali kalau mengingatnya.

Kalaupun gadis itu bersikap baik padanya, Lian Jie juga tak tahu apakah ia akan menyebutnya sebagai "teman". Sejauh ini, Lian Jie tak pernah punya teman. Di kampung halamannya malah lebih parah---tak ada yang mau mengajaknya berbicara. Kalau Lian Jie sedang berjalan-jalan sendiri, hanya sekedar lewat di antara anak-anak seusianya, tak ada yang menyapanya. Mereka justru saling berbisik, bahkan ada yang terang-terangan menyebutnya "kutukan". Tak jarang ada yang melemparinya dengan batu atau gumpalan tanah liat. Bisnis kedokteran kedua orang tuanya di sana juga tak berjalan mulus. Mungkin itulah sebabnya mereka sering berpindah-pindah tugas, hingga mereka sampai ke Inggris ini. Lian Jie tak tahu, ia tak pernah bertanya pada ibu, apalagi ayahnya.

Makan malam juga diselimuti kehangatan sementara di luar salju turun dengan lebat. Lian Jie akrab sekali dengan sang Ibu yang telah lebih dulu pulang sebelum ayahnya. Mereka memang sama-sama bekerja sebagai dokter, tapi sang ayah terpaksa harus menunda kepulangannya karena ia dilibatkan dalam rapat wajib tim dokter rumah sakit tempat beliau bekerja. Kemudian ketika sang ayah pulang, suasana kelam langsung meliputi suasana. Lian Jie tak begitu paham apa yang mereka bicarakan di kamar pribadi mereka, tapi senyum bahagia yang Ibu ulaskan tadi menghilang tak berbekas. Sementara Ibu mengantarkan piring makan malam Ayah ke kamar, Lian Jie membereskan dapur.

Lian Jie meletakkan piring terakhir ke tempatnya, seraya menghembuskan nafas panjang. Dia melemparkan serbet sembarangan ke meja, kemudian melompat naik ke meja. Ia sengaja berdiam diri di sana sejenak sembari menggosok-gosokkan tangannya ke gelas susu panasnya yang tadi belum dihabiskan. Matanya menunduk mengamati bayangannya sendiri yang tampak samar di permukaan susu putih itu.

Ayah tak pernah memberikan kehangatan bagi keluarga. Kedatangannya selalu melunturkan semua kebahagiaan antara dia dan ibunya. Mungkin karena sang Ayah sangat jarang berada di rumah bersama mereka, ya? Kalau diingat-ingat, Lian Jie memang tak pernah benar-benar menghabiskan waktu bersama ayahnya. Terakhir kali berada bersama orang tuanya dalam satu ruangan, keduanya justru malah terkesan seperti guru dan murid. Seperti tradisi keluarga Mandarin lainnya, setiap keluarga menuntut memiliki penerus. Lian Jie dipersiapkan menjadi dokter seperti ayah dan ibunya. Namun kegiatan belajar bersama itu sudah berlalu seminggu yang lalu.

Lian Jie meneguk susunya sampai habis dan melompat turun dari meja untuk mencuci gelasnya. Saat itulah, sang Ayah secara tak terduga muncul di ambang pintu dapur dengan wajah kakunya yang kini tampak lebih banyak keriputnya. Sudah lama sekali sejak beliau tidak berlatih Tai Chi bersama Lian Jie karena kepadatan jadwal kerja.

"Bersiaplah," kata pertama ayahnya itu membuat Lian Jie mencelos, "lusa kita akan naik kapal ke Perancis."

Datang juga, pengumuman kepindahannya. Lusa, ya? Lian Jie mengangguk sebagai tanda persetujuannya, disertai sebuah gumaman, "Baik."

Bersamaan dengan menghilangnya sang Ayah ke dalam kegelapan di koridor, Lian Jie menghela nafas. Tanpa disadarinya, tangannya berhenti di dalam ember air dengan gelas masih di tangannya. Matanya kembali menerawangi salju di balik jendela. Dia sudah terbiasa mendengar pengumuman pindah tempat itu, tapi mengapa malam ini dia merasa ada sesuatu yang lain bergerumul di dalam hatinya?

Aaahh, dia belum selesai membaca King Arthur.


[BERSAMBUNG...]
Back to top Go down
View user profile
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   13th December 2009, 23:55

Quote :
Dia sudah terbiasa mendengar pengumuman pindah tempat itu, tapi mengapa malam ini dia merasa ada sesuatu yang lain bergerumul di dalam hatinya?

Aaahh, dia belum selesai membaca King Arthur.


GUBRAK!!!

Buwahahahahaahah~~~ =))

Fuchsia udah blushing2 di belakang tuuuh tadinyaaa~~~ XDDDD~~~

*ditimpuk kamus 1000 halaman*


Jadi tambah penasaran~~ Lanjut~ Lanjuut~
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Li Lian Jie

avatar

Posts : 346
Pemilik : LLJ
Poin RP : 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Asia
Umur: 14

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   20th December 2009, 19:39

[Lanjut~]

Hari ini, seperti biasanya salju menumpuk di jalanan sampai membenamkan kakinya hingga mata kaki ketika dia berjalan menuju perpustakaan ini tadi. Walau sudah dibungkus dengan sepatu boot, masih saja kakinya serasa membeku. Salju, juga, masih terus turun sedikit demi sedikit seperti biasanya. Sedangkan di dalam perpustakaan, bocah kecil bernama Li Lian Jie itu juga masih membenamkan diri ke dalam puluhan buku-buku tebal seperti hari-hari biasanya. Hari ini nyaris tidak ada perubahan dalam kehidupan monoton Li Lian Jie, kecuali satu.

Lian Jie menjatuhkan buku sains ke mejanya dan merengut, memandangi satu makhluk kecil yang sedang cengengesan sendiri sambil membaca King Arthur. Berkuncir dua dan pipinya bersemu merah; siapa coba yang tak kenal dengan Fuchsia Scarlet? Anak perempuan itu kalau sudah membaca, pasti langsung tenggelam di dalamnya. Yah, menghayati sih boleh, tapi kan tidak perlu sampai bergerak-gerak terbakar situasi sampai menggetarkan semua buku-buku Lian Jie yang tidak disusun dengan amat. Secara dia kan asal comot dari raknya.

Menghela nafas panjang, risih, Lian Jie menggerutu, "Kenapa kamu di sini sih?"

Entah sebenarnya dengar lalu mengabaikannya, atau memang tidak mendengar perkataan Lian Jie, Fuchsia masih saja menekuni King Arthur. Bara amarah Lian Jie tersulut seketika. Dengan sengaja, dia menyentil sampul novel tebal itu walau kemudian harus menahan sakit di ujung-ujung jarinya, setidaknya Fuchsia akhirnya mengangkat matanya dari sana. Tampang seperti seekor banteng yang siap menyeruduk kain merah--kain merahnya itu, ya, Li Lian Jie.

"Kalau ada orang lagi ngajak omong, kau bisa menjawab dia kan?" Lian Jie tak gentar dengan sorot mata Fuchsia.

"Mau gimana lagi? Kan hari Sabtu, jadi perpustakaannya penuh," jawab Fuchsia, sama merengutnya dengan cowok pendek di depannya itu. Memang tidak lebih pendek darinya, tapi di antara anak cowok yang pernah ditemuinya, Lian Jie itu termasuk kecil. "Bibiku saja sampai harus ikut kerja sama sama si Tante Sewot itu." Siapa Tante Sewot? Bayangan Lian Jie langsung tertuju pada petugas penjaga perpustakaan yang galak, yang kemarin memarahi mereka berdua.

"Makanya," tangan Lian Jie menunjuk persis mejanya sembari ia menegaskan nada bicaranya untuk berkata, "kenapa di sini? Kau kan bisa duduk di mana saja! Kau juga bisa ikut menemani bibimu kalau kau mau!"

Aneh! Fuchsia itu cewek yang aneh!--Begitu pikir Li Lian Jie. Wajah anak perempuan itu makin memerah saja mendengar pertanyaan Lian Jie. Baru ketika Lian Jie tak merasakan penurunan suhu yang drastis, anak itu menyadari bahwa pipi Fuchsia bukannya bersemu karena kedinginan. Anak itu memberikan semacam pemerah pipi di kedua pipinya. Tak hanya itu, dia bahkan berdandan!

Lian Jie mengangkat alisnya, "Kamu... dandan, ya?"

Tak habis pikir, tak tahu apa yang salah dengan kata-katanya, Lian Jie mendapat timpukan buku super tebal dari Fuchsia yang wajahnya merah padam seperti akan menangis. Tak hanya itu, Fuchsia bahkan melemparkan apa saja yang bisa dijangkaunya, meruntuhkan susunan buku-buku yang sejak awal meang tidak stabil. Buku-buku itu abruk dengan suara keras seperti gemuruh petir di siang hari, menimbun kedua anak itu bersama-sama. Untunglah si Tante Galak itu sedang terlalu sibuk untuk menegur mereka.

Yang berhasil menyembulkan kepalanya pertama kali ternyata Fuchsia. Anak perempuan itu terbatuk karena menghirup debu, kemudian berhasil menyeruakkan banyak buku dan berdiri seraya mengibaskan bajunya. Dua detik berikutnya, muncullah punggung Lian Jie yang disertai suara batuknya, yang juga karena menelan debu. Melihat kemunculan cowok itu lagi, Fuchsia inginnya bisa mengomel panjang lebar seperti biasanya, tapi entah apa yang terjadi pada mulutnya, tak satupun ujarannya membentuk kata-kata.

Lian Jie duduk. Dia tidak segera berdiri seperti yang sudah dilakukan Fuchsia. Jangan tanya lagi apa yang dirasakan anak laki-laki itu sekarang. Jawabannya sudah jelas tergambarkan dari kesunyian yang dia berikan dan tak adanya minat untuk dibantu Fuchsia berdiri. Dia mengabaikan setiap tarikan tangan kecil anak perempuan itu, bahkan hingga ekstrim mengibaskannya. Keheningan yang suram dan pekat menyelimuti mereka. Untungnya tak banyak orang yang peduli dan memandangi mereka.

"Hei, kau marah, ya?" Fuchsia takut-takut menanyainya. Meski gemetar dan lirih, Fuchsia yakin pasti masih bisa terdengar.

Lian Jie meraup sejumlah buku ke dalam pelukannya dan menaikkannya lagi ke atas meja. Namun gerakannya mendadak kaku dan aneh. Fuchsia mengawasi anak laki-laki itu berusaha duduk di kursi, meninggalkan buku-buku yang berserakan di lantai. Li Lian Jie menunduk memandangi lututnya sendiri.

"A-ada yang sakit, ya?" tanya Fuchsia, kali ini dia benar-benar merasa bersalah. Sedingin dan segalak apapun seorang Fuchsia Scarlet, rupanya pintu hatinya masih bisa terketuk.

"Tidak apa-apa, aku cuma istirahat sebentar," anak laki-laki itu terengah. Kemudian dia mulai lagi mengumpulkan buku-buku tanpa menghiraukan Fuchsia yang berdiri di sana, tertekan mentalnya karena kesalahan yang telah dibuatnya. Memang gara-gara dia, kan, buku-buku Lian Jie berjatuhan.

Tak mau diam saja tanpa melakukan apapun untuk menebus kesalahan, Fuchsia turut membantu Lian Jie menyusun kembali buku-buku ke atas meja. Namun kali ini, Lian Jie lebih menggunakan otaknya. Dia memindahkan beberapa tumpukan buku dan menyusunnya ulang untuk mengurangi energi potensial, sekaligus seperti membuat dinding antara para pengunjung perpustakaan lain dengan mereka berdua--eeeh, seharusnya untuk Lian Jie seorang saja, tapi apa boleh buat karena Fuchsia bersikukuh ingin ikut. Dan tentu saja, ukuran dinding ini hanya berlaku untuk ukuran anak-anak. Orang dewasa yang mau mengintip karena tubuh mereka lebih besar pun tak masalah.

Sementara Lian Jie melepaskan mantelnya, Fuchsia berlagak sok acuk walaupun dalam hatinya dia ingin sekali memeriksa keadaan cowok itu. Memalingkan muka dari anak laki-laki yang sedang melepaskan pakaiannya selapis demi selapis ke arah buku-buku di sampingnya, Fuchsia mengerahkan segenap kekuatan pikirannya untuk berkonsentrasi membaca semua judul buku yang ada di tumpukan dinding buku itu. Kamus Ilmu Aljabar, Pengantar Musik untuk Pemula, Merlin si Penyihir Sakti, Apa yang Langit Katakan Padamu, Sun Tzu; Fuchsia melongo. Lian Jie membaca segala jenis buku? Ilmu berhitung, musik, dongeng, strategi perang...

"Hei cewek sadis, kalau kau memang mau bantu aku, ke sini dong," suara ketus Li Lian Jie memutuskan konsentrasi Fuchsia.

Gelagapan, Fuchsia segera berpaling ke menghadapi Li Lian Jie lagi dan makin gelagapan ketika melihat anak laki-laki itu bertelanjang dada. Tangannya sigap meraih sebuah buku lagi (yang untungnya tipis) dan melemparkannya ke arah Lian Jie sambil gagap berkata, "Ap-ap-ap-apa-apaan... ka...?"

"Mikir apa sih kau?" Lian Jie menelengkan kepala, membiarkan buku itu melewati atas kepalanya. Hah! Dia mujur kali ini! "Aku juga tidak suka minta bantuanmu! Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian!" Dia menunjuk untaian kain perban putih yang meliliti punggung dan dadanya, serta bahunya. Penampilannya benar-benar mirip seperti orang baru saja selesai operasi jantung. "Perbannya kendor," ucapnya dengan wajah merah padam, "kau bisa membetulkannya, kan? Kalau tidak bisa, aku bisa mengajarimu caranya."

"Enak saja!" bantah Fuchsia, keras. "Anak perempuan harus bisa ikat perban dong!" Dia berjalan mantap maju mendekati Li Lian Jie, "Aku bisa kok. Tidak usah kau ajari!"

Meski begitu katanya, Lian Jie tetap saja berkomentar panjang lebar tentang cara mengudar perban itu yang keliru, termasuk ketika membebatkannya kembali. Sampai sewot sendiri ketika Fuchsia ikut melilitkan perban itu, menyatukan tangannya dengan tubuh Lian Jie. Hampir satu jam mereka berdebat hanya demi alasan membetulkan ikatan perban Li Lian Jie.

Tapi ada kalanya Fuchsia juga hanya tertegun karena melihat apa yang ternyata ada di balik perban itu. Bukan bekas sayatan pisau bedah mengingat pada masa itu operasi jantung memang belum ada, bukan pula bekas luka yang memberikan cacat pada bagian lain tubuh Lian Jie. Memang ada cacat, tapi cacatnya itu pasti sudah dideritanya semenjak dia lahir. Keras dan hitam seperti batok kelapa yang warna hitamnya seperti warna busuk yang memualkan; itulah tulang belikat Li Lian Jie yang tumbuh di luar badannya. Fuchsia nyaris pingsan karena mual ketika pertama kali melihatnya.

"Kau juga merasa jijik, ya?" tanya Lian Jie, suram, ketika menyadari gerakan tangan Fuchsia terhenti.

Pucat pasi, Fuchsia menguatkan dirinya, "E-enggak kok! Yang kayak gini sih sudah sering lihat di buku!"

Lian Jie nyengir lemah, "Nggak usah pura-pura. Kalau mau ngomong sesuatu, ngomong saja. Aku sudah biasa mendengar... kata-kata orang tentang badanku ini."

Fuchsia terdiam. Tangannya gemetar, tapi selang beberapa menit, getaran itu menghilang dan dia kembali melanjutkan latihannya membebat badan Lian Jie. "Aku juga punya rahasia. Kalau orang dengar, mereka pasti akan ketawa. Mana mungkin aku bisa mengejekmu kalau aku sendiri juga sedang menyimpan rahasia."

Lian Jie mengerjap. Wow, komentar yang benar-benar di luar dugaan. Lupa dengan bebatannya yang belum sempurna, Lian Jie memutar badannya dengan bersemangat dan menghadapi Fuchsia, "Yang benar? Kau juga punya rahasia? Kau kan sudah tahu rahasiaku, sekarang giliranmu ngomong apa rahasiamu!"

Untuk kesekian kalinya dalam sehari ini, wajah Fuchsia memancarkan semburat merah dan dia kembali garang seperti biasanya. Dia menampar belakang kepala Lian Jie kuat-kuat sampai Lian Jie menghadap kembali ke posisi yang seharusnya (membelakangi Fuchsia). "Aku nggak akan jawab kalau kamu yang tanya!"

Membalut luka seseorang sudah bukanlah pekerjaan yang sulit bagi Li Lian Jie. Dengan percaya diri, dia bisa memberikan instruksi-instruksi pada Fuchsia. Seharusnya instruksi Lian Jie tadi sudah cukup untuk mempermudah pemula seperti Fuchsia, kan? Tapi sejam kemudian, dua orang itu justru malah terengah-engah, menempel di jendela yang sedikit terbuka. Lian Jie harus mengatur nafasnya setelah berkali-kali serasa dijerat oleh Fuchsia. Heran, anak perempuan sepertinya bisa punya kekuatan sekuat itu, ya? Pantas saja semua bekas lemparan buku oleh tangan Fuchsia selalu menghasilkan memar dan lebam. Sedangkan Fuchsia capek karena tenaganya diforsir untuk membalas omelan Lian Jie.

Untungnya, besok Lian Jie tidak akan bertemu dengan cewek berkekuatan luar biasa itu lagi. Teringat dengan percakapan semalam, Lian Jie merasakan datangnya sensasi dingin merayapi dadanya. Ya, mungkin untuk selamanya ia akan bisa berjupa Fuchsia lagi. Di satu sisi, dia senang juga karena tak akan ada orang yang melemparinya buku. Tapi, di sisi lain, pikiran kanak-kanaknya menerpanya. Fuchsia adalah satu-satunya orang yang bersedia bicara dengannya. Dia menerima keberadaannya apa adanya. Bagaimana reaksinya kalau Lian Jie memberitahunya bahwa besok ia akan meninggalkan Inggris?

"Heh, cewek..." Lian Jie membuka mulutnya.

"Namaku Fuchsia! Aku sudah memberitahumu, kan!" gerutu Fuchsia, sebal.

Lian Jie mengabaikannya. Baru saja dia akan mengatakan kabar yang mungkin akan diterima Fuchsia sebagai kabar buruk, penyampaiannya itu diselamatkan oleh suara piano dari arah luar perpustakaan. Meski sayup-sayup, Lian Jie yakin betul itu suara piano. Nada ini... cantabile--memberikan kehangatan di tengah dinginnya udara musim dingin.

"...hari ini bibimu kerja lembur, kan?" miris hatinya begitu tahu bukan kalimat itu yang seharusnya diucapkan.

Heran, Fuchsia mengangkat alis. Pandangan mata sombong dan meremehkan, khas dengan pribadi sok pintar anak perepuan itu. "Ya, kenapa?"

Lian Jie menunjukkan wajah yang selama ini dia sembunyikan. Cengiran lebar kanak-kanak yang polos dan lugu, "Ayah ibuku juga pulangnya terlambat. Malam ini, kita main, yuk? Ada tempat yang mau aku datangi. Kau mau ikut?"



[BERSAMBUNG]
(OOC: @Fuchsia, no offense :3)
Back to top Go down
View user profile
Fuchsia Scarlet

avatar

Posts : 166
Pemilik : Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 13 tahun

PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   24th December 2009, 19:34

AKKKKKKKKKKHHH!!!!!!!! NGGAK TERIMAAAAAA!! KENAPA DIPOTONG DI ADEGAN YANG BIKIN PENASARAAANNNN???????!!!!!!!!!!


*kabur sebelum dibejeg*




Wuah, Lian Jie senyum... =////w////=
Back to top Go down
View user profile http://www.eri-diary93@gmail.com
Sponsored content




PostSubject: Re: [IN-PROGRESS] Memória Szilánkok   

Back to top Go down
 
[IN-PROGRESS] Memória Szilánkok
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Uchiha, Dākunaito "work still in progress"
» Work In Progress Oneshot (RATED M, to warn)
» Late Bloomer (fic in progress)
» Hyuuga Kyo (work in progress)
» Work in progress!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Non-Roleplay :: Exhibition Room :: Literature Exhibit-
Jump to:  
Create a forum on Forumotion | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Forumotion.com